BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.6. Teknik Analisis Data
Maleong mendefenisikan analisis data sebagai proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan kerangka kerja (Kriyantono, 2008: 163).
Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi.
Untuk studi kualitatif, jumlah informan dan individu yang menjadi informan dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. Orang-orang yang dapat dijadikan informan adalah orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian, orang-orang dengan peran tertentu dan tentu saja mudah untuk diakses.
Untuk teknik analisis data dalam etnografi komunikasi, baik Hymes maupun Seville-Troike tidak menjelaskan bagaimana teknik analisis data nya. Bagi etnografi komunikasi menemukan hubungan antara komponen komunikasi sudah merupakan analisis data yang utama, karena berdasarkan itulah pola komunikasi itu dibuat. Selain itu, analisis juga dapat dilakukan pada komponen kompetensi komunikasi, untuk mengetahui pengaruh dari aspek sosiokultural terhadap pola komunikasi yang sudah ada.
Pada dasarnya proses analisis data dalam etnografi berjalan bersamaan dengan pengumpulan data. Ketika peneliti melengkapi catatan lapangan setelah melakukan observasi, pada saat itu sesungguhnya ia telah melakukan analisis data. Sehingga dalam etnografi, peneliti bisa kembali lagi ke lapangan untuk mengumpulkan data, sekaligus
melengkapi analisisnya yang dirasa masih kurang. Hal ini akan terus berulang sampai analisis dan data yang mendukung cukup. Dengan kata lain, proses pengambilan data dalam penelitian etnografi, tidak cukup hanya sekali.
Tahap analisis data sebenarnya terdiri dari upaya-upaya meringkaskan data, memilih data, menerjemahkan, dan mengorganisasikan data. Dengan kata lain, upaya mengubah kumpulan data yang tidak teroganisir menjadi kumpulan kalimat singkat yang dapat dimengerti oleh orang lain. Upaya ini mencakup kedalaman pengamatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, menemukan regularitas dan pola yang berlaku, dan mengambil kesimpulan yang dapat menggeneralisasikan fenomena yang diamati.
Dan teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah seperti yang dipaparkan oleh Creswell, yaitu:
1. Deskripsi
Deskripsi menjadi tahap pertama bagi etnografer dalam menuliskan laporan etnografinya. Pada tahap ini etnografi mempresentasikan hasil penelitiannya dengan menggambarkan secara detil subjek penelitiannya itu. Gaya penyampaiannya kronologis dan seperti narator. Ada beberapa gaya penyampaian yang lazim digunakan, diantaranya menjelaskan day in life secara kronologis atau berurutan dari seseorang atau kelompok masyarakat, membangun cerita lengkap denga alur cerita dan karakter-karakter yang hidup di dalamnya, atau membuat seperti cerita misteri yang mengundang tanda tanya orang yang membacanya kelak. Misalnya dengan menjelaskan interaksi sosial yang terjadi, menganalisisnya dalam tema tertentu, lalu mengemukakan pandangan-pandangan yang berbeda dari para informan. Dengan membuat deskripsi, etnografer mengemukakan
latar belakang dari masalah yang diteliti, dan tanpa disadari merupakan persiapan awal menjawab pertanyaan penelitian.
2. Analisis
Pada bagian ini, etnografer menemukan beberapa data akurat mengenai subjek penelitian, biasanya melalui tabel, grafik, diagram, model, yang menggambarkan subjek penelitian. Penjelasan pola-pola atau regularitas dari perilaku yang diamati juga termasuk pada tahap ini. Bentuk yang lain dari tahap ini adalah membandingkan subjek-subjek yang diteliti dengan subjek lain, mengevaluasi subjek dengan nilai-nilai yang umum berlaku, membangun hubungan antara subjek penelitian dengan lingkungan yang lebih besar. Selain itu, pada tahap ini juga etnografer dapat mengemukakan kritik atau kekurangan terhadap penelitian yang telah dilakukan, dan menyarankan desain penelitian yang baru, apabila ada yang akan melanjutkan penelitian atau akan meneliti hal yang sama.
3. Interpretasi
Interpretasi menjadi tahap akhir analisis data dalam penelitian etnografi.
Etnografer pada tahap ini mengambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan.
Pada tahap ini, etnografer menggunakan penjelasannya, untuk menegaskan bahwa apa yang ia kemukakan adalah murni hasil interpretasinya (Kuswarno, 2008: 67-69).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini memaparkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti pada bulan Februari hingga Mei 2011, dengan melakukan observasi serta wawancara mendalam pada mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 yang ada di Kampus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Setelah mendapat persetujuan judul skripsi ini dan melakukan seminar proposal, maka peneliti kemudian melakukan observasi ke tempat yang menjadi lokasi penelitian, sembari mengurus surat izin penelitian di lokasi penelitian yaitu Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Peneliti tidak hanya melakukan observasi pasca seminar proposal, tetapi pra seminar proposal pun, peneliti juga telah melakukan observasi awal.
Pada saat observasi awal, peneliti hanya melakukan observasi di kantin Fakultas Teknik yang berada di sebelah gedung Departemen Teknik Kimia saja, hal ini peneliti lakukan karena peneliti belum mempunyai surat izin penelitian. Di lingkungan kantin, peneliti yang di temani oleh seorang teman mahasiswa pribumi dari kampus tersebut melihat pemandangan yang sebelumnya sudah dapat di prediksikan. Terlihat kumpulan mahasiswa pribumi di satu meja, dan kumpulan mahasiswa etnis Tionghoa di meja lainnya. Peneliti mulai menanyakan kepada teman yang mendampingi peneliti, apakah hal seperti ini memang setiap hari terjadi? Teman tersebut menjawab,
“Iya, etnis Tionghoa di Fakultas Teknik ini bukannya sombong, mereka ramah-ramah, tetapi karena mereka memang memiliki komunitas yang banyak, jadi mereka tentunya akan mengutamakan kelompok etnisnya, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka juga sering berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi”.1
Pada observasi selanjutnya, setelah mendapatkan surat izin penelitian dari Fakultas Teknik, barulah peneliti mulai berani untuk melakukan observasi ke ruangan kelas. Di ruangan kelas, peneliti melihat banyak mahasiswa etnis Tionghoa yang berkelompok dengan teman se-etnis nya bahkan sampai di luar kelas, dan ada juga beberapa berbaur dengan mahasiswa pribumi. Pada observasi ini, peneliti juga menanyakan jumlah mahasiswa etnis Tionghoa kepada mahasiswa-mahasiswa etnis Tionghoa dari setiap departemen yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010, karena memang bagian kemahasiswaan dari Fakultas Teknik itu sendiri tidak mempunyai data seperti itu. Peneliti juga sekaligus menanyakan kesediaan seorang mahasiswa untuk menjadi informan pertama dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini, peneliti berhasil mewawancarai 11 (sebelas) orang informan penelitian. Sesuai dengan teknik snowball, awalnya yang menjadi informan penelitian adalah hanya 1 orang, atau yang disebut dengan informan pertama. Kemudian dari informan pertama lah peneliti berhasil mendapatkan informan kedua untuk di wawancarai, begitu pula seterusnya sampai peneliti merasa data penelitian yang di dapat sudah jenuh dan tidak ada sesuatu yang baru yang di dapat dari penelitian tersebut, dan akhirnya penelitian berakhir pada informan kesebelas.
Pelaksanaan dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam, tentunya juga dengan melakukan pendekatan terhadap informan penelitian. Penelitian (wawancara) tidak hanya dilakukan di lingkungan kampus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara saja, tetapi juga dilakukan di coffe shop, dan di tempat futsal. Tetapi sebagian besar wawancara memang dilakukan di lingkungan
Peneliti membuat suatu karakteristik informan yang tujuannya untuk membantu peneliti menemukan sejumlah kemungkinan terkait hubungan karakteristik informan dengan kesadaran atau pemahaman identitas etnis dan pengalaman serta kompetensi komunikasi antarbudaya. Karakteristik informan yang ditentukan peneliti adalah: Usia, jenis kelamin, departemen/stambuk/semester, asal daerah, agama, dan pekerjaan orang tua. Tentu peneliti harus menemukan temuan yang dapat dijadikan kesimpulan nantinya mengenai apa sebenarnya yang berpengaruh pada kedua hal tersebut, dan pada akhirnya peneliti harus mampu menemukan jawaban “Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara”.
IV.1 Latar Belakang Informan Penelitian
Pada tahap ini, peneliti merangkup hasil pengamatan wawancara yang telah dilakukan kepada 11 orang informan penelitian. Kemudian peneliti mendeskripsikan secara jelas latar belakang dari kesebelas orang informan penelitian berdasarkan karakteristik informan yang telah di dapat.
Berikut adalah hasil pengamatan wawancara dan pendeskripsian terhadap latar belakang informan berdasarkan karakteristik informan penelitian yang dirangkum dalam tabel berikut ini:
IV.1.1 TABEL LATAR BELAKANG INFORMAN PENELITIAN
INFORMAN 1 JASINDA (XIN ER) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Jasinda, lahir di Medan pada 22
Agustus 1991. Saat ini ia sedang duduk di bangku semester IV, Departemen Teknik Kimia, angkatan 2009.
Perempuan yang pada Agustus nanti akan genap berusia 20 tahun ini, mempunyai nama Tionghoa yang di berikan oleh kedua orangtuanya. Xin Er, merupakan nama Tionghoa yang sudah ada pada dirinya sejak ia lahir.
Namun, nama Indonesia tetap menjadi nama utama yang ia gunakan, baik itu dalam akte kelahiran, pergaulan di luar maupun di rumah. Untuk penggunaan nama Tionghoa sendiri, ia mengatakan bahwa nama Tionghoa tersebut hanya akan digunakan jika ia menikah ataupun meninggal nanti. Xin Er sendiri menurutnya mempunyai arti yaitu hati matahari ataupun cahaya matahari.
Konon katanya, kedua orangtuanya menginginkan ia selalu bersinar menerangi setiap orang dimanapun dan pada saat apapun ia berada.
Jasinda merupakan etnis Tionghoa yang lahir dan besar di Medan. Selama kurang lebih 19 tahun hidup di Indonesia, khususnya di Kota Medan, membuat ia merasakan bahwa Medan adalah kampung halamannya. Ia tidak pernah mempunyai anggapan bahwa ada negara lain yang menjadi kampung halaman. Anggapan akan adanya negara lain seperti RRC, Taiwan, Hongkong dan lain sebagainya sebagai kampung halaman, pernah dirasakan oleh kakek dan neneknya karena orangtua dari keduanya memang berasal langsung dari sana. Namun, hal tersebut tidak bagi Jasinda dan kedua orangtuanya. Ini disebabkan Jasinda dan kedua orangtuanya sudah berada di Medan sejak lama.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Jasinda
adalah agama Buddha. Kedua orangtua dan adiknya juga beragama Buddha.
Akan tetapi ia juga mempunyai keluarga yang beragama Kristen.
Hubungan antara mereka yang beragama Buddha dengan keluarga yang bergama Kristen sangat baik, tidak pernah adanya pandangan negatif
Pekerjaan ayah dari Jasinda adalah seorang pegawai swasta, dan ibunya seorang wiraswasta. Ayahnya adalah seorang pegawai swasta di salah satu perusahaan asuransi di daerah lubuk pakam, yang mana ia tidak dapat mengatakan nama perusahaan tersebut dikarenakan alasan tertentu, dan ibunya seorang wiraswasta di bidang catering.
utamakan adalah prinsip ke-etnisaan, yaitu etnis Tionghoa dalam keluarga.
INFORMAN 2 MIMI R.G (LI ZIA) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Informan kedua pada peneliti ini adalah
seorang perempuan yang juga berkuliah di semester IV, Departemen Teknik Kimia stambuk 2009. Mimi Regina Gunawan, lahir di Medan, 12 Februari 1991. Perempuan yang lahir 20 tahun silam ini mempunyai nama Tionghoa, Li Zia, yang mana ia tidak mengetahui apa makna dari nama Tionghoa nya tersebut, karena memang tidak
mempunyai arti apa-apa. Ia mengambil kesimpulan bahwa nama-nama
Tionghoa sama halnya dengan nama- nama orang pribumi lainnya, ada juga yang tidak mempunyai arti meskipun namanya terdengar bagus.
Mimi lahir dan besar di Medan. Ia tidak pernah tinggal ataupun menetap di suatu kota ataupun negara lain dalam waktu yang lama. Anggapan perihal negara lain sebagai kampung halaman tidak pernah ia fikirkan meskipun ia berfikir bahwa ciri-ciri fisik yang ada pada dirinya memang lebih cocok berada di negara-negara seperti China, dll. Namun anggapan seperti itu tentunya hanya sebatas anggapan saja.
Pada kenyataannya ia adalah warganegara Indonesia beretnis Tionghoa. Jadi, Indonesia adalah kampung halamannya, bukan negara lain yang penduduknya mayoritas Tionghoa.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Mimi merupakan seorang Tionghoa
yang beragama Kristen Protestan.
Terlahir dalam keluarga Tionghoa yang bergama Kristen, tidak membuat ia merasa asing dengan etnis Tionghoa yang umumnya beragama Buddha.
Keluarga inti yang dimilikinya juga beragama Kristen Protestan, dan keluarga lainnya juga banyak yang beragama Kristen mupun Buddha.
Ayah dari Mimi adalah seorang wiraswasta, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang hanya di rumah untuk mengurus suami dan anak-anaknya. Ayahnya seorang wiraswastawan di bidang perbengkelan.
Menjual kebutuhan-kebutuhan sepeda motor, becak, maupun mobil, serta melayani service kendaraan.
INFORMAN 3
KRISNAWATI (GOH LIE YUNG) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Krisnawati, mempunyai nama
Tionghoa, Goh Lie Yung. Lahir di Medan, 1 April 1991. Perempuan yang sekarang ini juga masih duduk di semester IV Departemen Teknik Kimia, stambuk 2009 ini, juga mengaku bahwa ia dan kedua orangtuanya tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa yang ia punya. Untuk penggunaan nama Tionghoa sendiri, nama Goh Lie Yung tersebut hanya ia gunakan ketika berada di rumah dan pada saat ia menikah ataupun meninggal nanti.
Krisna lahir dan besar di Medan, meskipun ia pernah tinggal selama setahun di Belitung ketika berusia 4 tahun, tetapi ia merasa bahwa Medan tetap menjadi kota kelahiran dan kota tempat ia di besarkan. Ia juga tidak mempunyai anggapan perihal kampung halaman di negara lain selain Indonesia.
Anggapan seperti itu diakuinya memang ada pada beberapa orang, tetapi bukan untuk dirinya. Kunjungan ke luar negeri seperti negara-negara dengan etnis Tionghoa, hanya dilakukan atas dasar liburan saja, tidak ada perasaan pulang kampung, karena ketika disana ia juga merasakan adanya perbedaan dengan penduduk-penduduk di negara tersebut. Jadi anggapan perihal Indonesia sebagai kampung halaman adalah benar, karena ia lebih mengenal dan lebih terbiasa dengan hal-hal yang berbau Indonesia.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut ataupun yang
sudah ada pada dirinya sejak ia lahir adalah agama Buddha, sama seperti mayoritas etnis Tionghoa pada umumnya. Kedua orangtuanya juga beragama Buddha. Ia juga mempunyai keluarga yang beragama Kristen, akan tetapi mayoritas keluarga besarnya beragama Buddha.
Ayah Krisna adalah seorang wiraswasta, begitu pula dengan ibunya.
Keduanya merupakan wiraswasta dalam bidang perbengkelan. Keduanya menjual sparepart ataupun alat-alat sepeda motor dan sejenisnya yang juga melayani service kenderaan tersebut.
INFORMAN 4
JOHN THEDY (YONG AN) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Jhon Thedy, yang biasanya di panggil
John ini, lahir di Medan, pada 11 Desember 1992. John merupakan mahasiswa semester II, Departemen Teknik Sipil, stambuk 2010. Seorang anak laki-laki yang mempunyai nama Tionghoa, Yong An. Dalam hal ini, John juga tidak mengetahui apa makna dari nama Tionghoa yang ia sandang.
Nama Tionghoa hanya ia gunakan pada saat di rumah saja. Meskipun demikian, ia mempunyai rasa kebanggaan terhadap nama Tionghoa yang dimilikinya.
Jhon berasal dari Medan, lahir dan besar di Medan, dan hanya mengetahui Medan sebagai tempat satu-satunya ia berasal. Jadi, tidak ada anggapan tempat lain ataupun negara lain sebagai kampung halaman, dan tidak pernah ada tradisi pulang kampung yang ia lakukan ke negara-negara tertentu.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama Buddha adalah agama yang di
anut oleh John sejak ia terlahir ke dunia ini. Kedua orangtuanya juga beragama Buddha, begitu pula dengan satu orang kakak dan satu orang adiknya. Ia juga mempunyai keluargan yang beragama Kristen dan Islam, meskipun hanya minoritas. Kehidupan sosialisasinya dengan keluarga yang berbeda agamapun diakuinya sejauh ini baik- baik saja.
Kedua orangtua John berprofesi sebagai wiraswasta di bidang kuliner. Keduanya membuka usaha rumah makan Chinese di daerah Guruh Pattimpus Medan.
INFORMAN 5
RUDI KIRANA (ZHENG HAO) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Rudi Kirana, mahasiswa semester II di
Departemen Teknik Sipil stambuk 2010 ini, lahir di Medan, 23 Mei 1992. Laki- laki berusia 19 tahun ini mempunyai nama Tionghoa, Zheng Hao yang artinya mulia. Penggunaan nama Tionghoa juga berada pada urutan kedua setelah nama Indonesia yang ia sandang. Ini dikarenakan ia lahir di Indonesia, yang memang mengharuskan menggunakan nama-
nama Indonesia untuk memudahkan segala hal.
Rudi lahir dan besar di Medan, dengan kata lain ia berasal dari Kota Medan.
Rudi mempunyai kakek dan nenek yang masih menetap di daratan China. Rudi pernah mengunjungi kakek dan neneknya disana, meskipun pernah pergi ke dartana China dan mengunjungi neneknya, tetapi ia tidak mempunyai anggapan bahwa China itu adalah kampung halamannya. Ia menganggap Kota Medan dan Negara Indonesia lah kampung halamannya, karena ia lahir dan besar di Indonesia.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Rudi adalah
agama Buddha, begitu pula dengan kedua orangtua nya serta kedua adiknya. Rudi tidak mempunyai keluarga di luar agama Buddha. Semua keluarganya sepengetahuannya semua beragama Buddha.
Ayah Rudi bekerja sebagai seorang wiraswasta dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Ayahnya merupakan guru matematika di SMA Sutomo Medan. Sebagai etnis Tionghoa yang berprofesi sebagai seorang guru memang sedikit jarang terdengar. Ia mengatakan bahwa ayahnya memang senang dengan dunia eksakta, ditambah dengan jenjang pendidikan ayahnya yang seorang Sarjana dalam bidang pendidikan matematika, menjadikan ayahnya memang harus menjadi seorang guru.
INFORMAN 6
MICHAEL (THEO SIAN UN) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Theo Shian Un, merupakan nama
Tionghoa dari informan keenam, Michael. Michael lahir di Medan, pada 19 Januari 1992. Saat ini ia duduk di semester II, Departemen Teknik Elekto, stambuk 2010. Laki-laki berusia 19 tahun ini tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa yang ada pada dirinya.
Nama Indonesia adalah nama yang lebih sering ia gunakan, baik itu di rumah, sekolah, kampus, maupun dalam lingkungan pergaulan.
Menjadi warganegara Indonesia, lahir dan besar di Kota Medan, awalnya tidak membuat Michael mempunyai fikiran akan identitas kenegaraannya.
Terlahir sebagai etnis Tionghoa di Indonesia, ia tidak membuat anggapan bahwa ia adalah bagian dari negara- negara di daratan China tersebut. Ia hanya menganggap Medan lah sebagai kota kelahirannya, karena ia lahir dan besar di Medan, dan kedua orangtuanya juga berada di Medan. Tetapi belakangan ini, ia juga mempunyai keinginan untuk dapat menjadi bagian dari penduduk-penduduk yang ada di daratan China. Alasannya adalah karena kenyamanan dalam berteman yang lebih ia dapatkan dengan seetnis.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Michael terlahir sebagai seseorang yang
beragama Buddha dari kedua orangtua yang juga beragama Buddha. Seluruh keluarga besarnya mayoritas juga beragama Buddha, meskipun ada beberapa yang beragama Kristen.
Michael hidup dalam keluarga yang berprofesi sebagai wiraswasta.
Ayahnya seorang pedagang elektronik dan ibunya seorang pedagang pakaian di pasar petisah Medan.
INFORMAN 7
SUSANTO SALIM (KEN LIE) Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin,
Usia, Departemen/Stambuk/Semester
Latar Belakang Asal Daerah Susanto Salim, lahir di Medan, 21
November 1992. Susanto merupakan mahasiswa semester II, Departemen Teknik Industri, stambuk 2010. Susanto juga mempunyai nama Tionghoa, yaitu Ken Lie. Tetapi, sama seperti kebanyakan informan sebelumnya.
Susanto juga tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa yang ia sandang.
Nama Tionghoa sendiri ia gunakan ketika ia bersekolah di SMA yang mayoritas siswanya adalah Tionghoa.
Nama Tionghoa juga ia gunakan dalam lingkungan keluarga. Keluarga, khususnya kedua orangtuanya selalu memanggilnya dengan nama Ken Lie.
Medan adalah kota kelahiran dari Susanto. Selama kurang lebih 18 tahun di Medan, ia juga mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi bagian dari penduduk di negara-negara daratan China. Namun hal tersebut hanyalah sebatas keinginan. Ia masih lebih menganggap Indonesia lah negaranya. Susanto juga masih mempunyai saudara di daratan China, yaitu di RRC, namun ia mengatakan bahwa mereka hanyalah saudara jauh yang tidak begitu dekat dengan keluarga mereka. Jadi, tidak ada tradisi pulang kampung yang ia dan keluarganya lakukan, karena kampung halamannya adalah Kota Medan, Indonesia.
Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Susanto
beserta keluarga besarnya adalah agama Buddha. Ada juga beberapa keluarga yang beragama Kristen, namun ia mengatakan keluarga tersebut adalah keluarga jauh.
Ayah dan Ibu dari Susanto berprofesi sebagai wiraswasta. Ayahnya seorang pedagang elektronik dan ibunya membuka salon kecantikan.