• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Interpersonal

Dalam dokumen SMPN SE (Halaman 48-56)

BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teoritis 1. Kinerja Guru

4. Komunikasi Interpersonal

menempatkan diri pada posisi pihak lain, (5) melakukan tindakan yang saling menguntungkan.

d. Hassan (1989:123) mengemukakan bahwa komunikasi dalam organisasi diartikan sebagai upaya untuk meniadakan kesenjangan sehingga pihak- pihak yang dilibatkan menjadi dekat satu sama lainnya, maka hakikatnya adalah komunikasi untuk saling mengakrabkan.

e. Samovar (2010:17) mengemukakan bahwa komunikasi merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan social. Hubungan dengan orang lain mengalami perasaan diterima, disayang, dan bahkan diatur.

Walaupun cara menyatakan perasaan dan emosi berbeda dalam setiap budaya, semua orang secara alamiah atau melalui ajaran, memiliki kebutuhan akan komunikasi dan interaksi dengan orang lain.

Sutrisno (2010:42) menjelaskan komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian energi dari sutu tempat ke tempat yang lain yang disampaikan oleh orgaisme berupa pesan yang dilakukan satu sistem untuk mempengeruhi sistem lain, maka pada dasaryakomunikasi adalah penyampaian dan penerimaan suatu pesan baik verbal maupun non verbal. Dalam suatu sekolah komunikasi organisasi berlangsung antara Kepala sekolah dengan guru, antara guru sesama guru, antara guru dengan tata usaha, antara guru dengan murid, guru dengan orang tua murid, murid dengan murid dan lain sebagainya.

Menurut Bacal (2001:83) kinerja akan berfungsi secara efektif bila antara perencanaan dan evaluasi terjadi komunikasi yang terus menerus. Komunikasi dalam kinerja yang berlangsung secara terus menerus merupakan proses berbagi informasi mengenai kemajuan kerja, kendalanya dan permasalahan yang potensial serta kemungkinan solusi dari permasalahan tersebut. Maka dapat dikatakan

komunikasi merupakan proses dari sebuah dialog yang menghubungkan perenanaan dengan evaluasi kerja.

Wiryanto (2004:50) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang. Muhammad (2005: 82) menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Cangara (2010: 29) mengungkapkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antara komunikator dengan komunikan yang arus baliknya bersifat langsung.

Selanjutnya Devito (2001: 30) menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal adalah “the progess of sending and receiving messages between two persons, or among a small group a small group of persons, throught one more channels, distorted by noise, with some effect and some immediate feedback”.

Maksudnya, komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau sekelompok kecil orang melalui satu saluran atau lebih, terganggu karena kebisingan, dengan beberapa efek dan umpan balik langsung.

Easterbrooks (2000:54) menjelaskan tentang banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi proses komunikasi termasuk keahlian dalam berkomunikasi dengan lawan bicara. Sedangkan Nelson (2004:542) menyatakan bahwa komunikasi berpengaruh terhadap kinerja dan penentuan pemilihan karir masa depan serta sikap dalam menentukan keputusan.

Berlond (dalam Johannessen, 1996) mengungkapkan bahwa komunikasi antar pribadi yaitu pertemuan tatap muka dalam situasi social, interaksi yang dilakukan melalui pertukaran isyarat verbal dan non verbal yang saling berbalasan. Devito (2001) mengungkapkan bahwa komunikasi antar pribadi diartikan sebagai proses penyampaian berita yang dilakukan oleh seorang dan diterima orang lain sama halnya dengan umpan balik segera.

Dari beberapa pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa komunikasi interpersonal itu adalah komunikasi yang terjadi secara langsung antara satu orang dengan orang lainnya dengan umpan balik yang dapat dirasakan langsung.

Rathel (2008 : 67) menyatakan bahwa komunikasi antar pribadi sangat penting karena dapat memberikan hal manfaat dalam peningkatan kinerja umpan balik dari guru. Hal ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari tetapi juga belaku dalam berorganisasi. Umpan balik kinerja dapat ditingkatkan melalui komunikasi yang positif maupun komunikasi yang negatif. Namun demikian komunikasi yang positif lebih efektif dan efesien dibandingkan komunikasi yang negatif. Dan kecakapan ini akan berkembang kepercayaan dan hubungan yang tulus diantara orang perorang dalam tubuh organisasi tersebut. Hal ini akan menumbuhkan kerja sama dan dapat menimbulkan efektifitas organisasi.

Kesuksesan dalam hubungan dan komunikasi antarpribadi tidak tergantung pada kecerdasan mental dan IQ yang tinggi. Karena hal ini lebih bergantung kepada kecerdasan praktis, kepekaan, logika dan kematangan emosi yang merupakan kunci sukses untuk menerapkan komunikasi yang baik dengan orang lain.

(Neuschel, 2008:5)

Kekhasan betuk komunikasi yang menempatkan manusia sebagai unsur penting dalam organisasi haruslah diwarnai oleh sikap dan pola komunikasi yang bijak. Sikap, dalam hal ini lebih mengekspresikan bagaimanamanusia diletakkan pada posisi yang terhormat, dan dipandang berharga. Oleh karena itu selama proses komunikasi berlangsung perlu diperhatikan norma dan etika komunikasi (Rosidah, 2009:80).

Komunikasi tatap muka antar guru diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru menempatkan dirinya dan memahami diri guru lain dalam lingkungan sekolah. Hal ini menurut Goodman (2006:6) menjelaskan bahwasanya komunikasi yang terjadi secara manual dengan tatap muka sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan dan kepekaan guru. Dengan cara demikian tidak akan menimbulkan rasa rendah diri terhadap rekan kerja lainnya. Herbert (2013:114) menjelaskan untuk meningkatkan kinerja guru dapat melalui beberapa komunikasi antara lain : (1) communication strategy, (2) communication action plan, and communication support.

Selain dari pada itu komunikasi antar pribadi yang terjalin positif dengan baik di sekolah dapat menanggulangi terjadinya konflik antara guru, dan dapat membantu guru meningkatkan kemampuan siswa dan manajemen guru di kelas, hal ini dijelaskan oleh Rathel (2008) :

Teachers’ increased use of positive communication behaviors with students may be an especially helpful tool in increasing students’

performance to and teachers’ classroom management.

Selanjutnya Gintings (2010) menyebutkan bahwa dalam konteks belajar dan pembelajaran komunikasi merupakan sarana penting bagi seorang guru dalam menyelenggarakan proses belajar dan pembelajaran dimana guru akan membangun pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan.

a. Klasifikasi Komunikasi Interpersonal

Menurut Effendi (1991:77) komunikasi interpersonal dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu:

- Komunikasi diadik (dyadic communication)

Yaitu komunikasi yang berlangsung antara dua orang, jadi dalam proses komunikasi itu pelakunya dua orang, yang seorang adalah komunikator dan seorang lagi komunikan.

- Komunikasi triadic (triadic communication)

Yaitu komunikasi yang berlangsung antara tiga orang, yang terdiri dari seorang komunikator dan dua orang komunikan.

Dengan klasifikasi di atas dapat disimpulkan bahwa, komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang hanya berlangsung antara seorang komunikator dengan paling banyak dua orang komunikan.

b. Ciri-ciri komunikasi interpersonal

Effendi (1991:78), mengemukakan ada tiga cirri-ciri komunikasi interpersonal yaitu :

- Komukator dapat mengetahui kerangka referensi komunikan secara penuh dan utuh. Karena komunikasi seorang atau dua orang, maka komunikator mengetahui diri komunikan segalanya kalau perlu secara

rinci, komunikator bisa mengetahui pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, hobi, aspirasi dan lain sebagainya.

- Komunikasi berlangsung dialogis, berbentuk percakapan, tanya jawab, sehingga komunikator dapat mengetahui segalanya mengenai diri komunikan seperti diterangkan di atas. Oleh karena komunikasi berlangsung dialogis pula, maka komunikator bisa mengetahui reaksi komunikan terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya yang menentukan proses komunikasi yang tengah dilangsungkan.

- Komunikasi berlangsung tatap muka (face-to-face), saling berhadapan dan saling menatap, sehingga komunikator dapat menyaksikan ekspresi wajah, sikap dalam bentuk gerak-gerik (gesture), dan lain- lain yang merupakan umpan balik niverbal (non-verbal feedback) dalam proses komunikasi yang seang berlangsung. Mengerutkan dahi, menggelang-gelengkan kepala, mencibirkan bibir, senyum, mata melotot, garuk-garuk kepala, mengetuk-ngetukan jari pada meja, bahkan berdiam diri pada komunikan merupakan umpan umpan balik inverbal yang bisa berarti penting dalam proses komunikasi yang kesemuanya merupakan isyarat bagi komunikator untuk mempertahankan atau mengubah gaya komunikasinya.

Sedangkan Liliweri (1997:13) mengemukakan 8 ciri komunikasi antarpribadi yaitu: spontanitas, tidak mempunyai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu, terjadi secara kebetulan,

mengakibatkan dampak yang disengaja atau tidak disengaja, kerap kali berbalas-balasan, hubungan bebas dan bervariasi, harus membuahkan hasil, dan menggunakan lambang-lambang.

Komunikasi interpersonal, dinilai ampuh untuk mengubah sikap, opini atau perilaku komunikan. Dan itulah pula kelebihan komunikasi interpersonal dibandingkan dengan dimensi-dimensi komunikasi lainnya. Memang, kalau ada kelebihan, ada juga kekurangan atau kelemahannya. Kelemahannya ialah memerlukan waktu yang lama, jika komunikator dalam hal ini pemimpin politik atau pemimpin-pemimpin lainnya, hendaknya mengubah sikap, opini atau perilaku komunikan yang banyak jumlahnya.

Dalam hubungan ini, komunikasi interpersonal biasanya dilakukan dengan teknik komunikasi persuasif, sedangkan teknik komunikasi informative dipergunakan kalau menghadapi khalayak yang banyak jumlahnya atau menggunakan media. Oleh karena itu pula, komunikasi interpersonal hanya dipergunakan untuk mempersuasi orang-orang tertentu saja, yang mempunyai pengaruh dan mempunyai jajaran atau pengikut yang banyak, sehingga kalau ia berhasil diubah sikapnya, opininya, atau perilakunya, atau bahkan ideologinya, maka jajarannya atau pengikutnya berubah pula.

c. Faktor-faktor komunikasi interpersonal

Engkoswara (2010:202) menjelaskan efektivitas komunikasi interpersonal dapat terjalin dengan baik dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu

saling percaya, sikap suportif, dan sikap saling keterbukaan. Faktor lain yang menunjang meliputi persepsi pribadi, self image, dan self esteem, menyusul rasa empati, dan simpati yang menonjol dalam komunikasi interpersonal.

Dalam dokumen SMPN SE (Halaman 48-56)