• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Deskripsi Wilayah

3. Kondisi Sekolah

Komunitas Alkarim ini dilakukan berpangkal dari majelis taklim.

d. Karimart. Karimart merupakan mini-market yang dikelola oleh Koperasi Alkarim yang melayani kebutuhan sehari- hari santri dan masyarakat sekitar.

e. Peternakan. Saat ini telah berjalan peternakan sapi, kambing, ayam, bebek, dan ikan dalam skala yang sangat kecil. Peternakan hanya perlu modal tambahan untuk dapat berkembang lebih besar.

f. Pertanian. Saat ini di atas lahan Pesantren telah ada puluhan batang pohon kelapa. Di masa depan akan dikembangkan pertanian sayur mayur terutama untuk memenuhi kebutuhan penghuni pesantren.

maupun non akademik.

3. Visi, Misi dan Tujuan Pondok AL-Karim Kota Bengkulu a. Visi Pondok AL KARIM Kota Bengkulu

Terwujudnya pendidikan dasar yang menjadi landasan kokoh bagi pertumbuhan potensi siswa yang berakhlak mulia, cerdas emosional, berintelektual dan memahami IPTEK serta memiliki kemapuan berbahasa asing berdasarkan al-qur’an dan sunnah.

b. Misi Pondok Pondok AL KARIM Kota Bengkulu 1. Penanaman Akhlak Al Karimah

2. Pembelajaran metode aktif, inovatif, efektif dan menyenangkan

3. Bimbingan Tahfiz AL-Qur’an

4. Penguasaan komunikasi dalam tiga bahasa : Indonesia , Arab Dan Inggris.

c. Tujuan Misi Pondok AL KARIM Kota Bengkulu.

Sejalan dengan visi dan misi Misi Pondok AL KARIM Kota Bengkulu mampu memiliki keunggulan–keunggulan khusus:

1) Mampu menciptakan lingkungan yang bersih, indah nyaman dan kondusif terhadap pendidikan dan pembelajaran.

2) Terbentuknya kultur madrasah dengan membiasakan perilaku- perilaku Islami.

3) Mampu menjadi madrasah yang berprestasi dan menjadi pilihan utama masyarakat.

4) Mampu mengembangkan kurikulum yang diberlakukan secara kreatif

5) Mampu mengembangkan kemampuan dan kinerja tenaga kependidikan.

6) Mampu menciptakan inovasi pembelajaran sehingga KBM berjalan efektif dan efisien.

7) Mampu melaksanakan penilaian secara berkelanjutan.

8) Mampu meningkatkan perolehan nilai diatas standar kelulusan nasional.

9) Lulusan dapat melanjutkan pada jenjang madrasah favorit dan berkualitas.

10) Tersedianya seluruh sarana prasarana yang dibutuhkan hingga perangkat multimedia dan berbasis IT.

11) Terciptanya budaya baca yang semakin meningkat.

12) Mengoptimalkan fungsi bimbingan konseling.

13) Memiliki sistem manajemen dan job deskripsi organisasi yang jelas.

14) Mengoptimalkan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan mutu madrasah baik secara fisik maupun non fisik, akademik dan non akademik dengan kerjasama saling menguntungkan.

4. Data Pendidik, Tenaga Kependidikan, Peserta Didik Pondok Al-Karim Kota Bengkulu.

Adapaun data mengenai pendidikan dan tenaga kependidikan Pondok AL KARIM Kota Bengkulu dapat dilihat melalui table berikut :

Tabel 4.1

Jumlah Guru dan Karyawan Pondok AL Karim

No Nama Guru NIY Jabatan

1 Toyibah,S.Pd 2.009.011.19890513 Kepala Sekolah

2 Carizi Dassa 2.011.011.19890217 Kor.Lab.Wali Kelas VIII 3 Helmi Juita,S.Pd 2.024.015.19920128 Kepala Sekolah SMA

4 Herman Sohardi,S.Pd 1.025.015.19920628 Waka Kurikulum Wali Kelas XII 5 Lesmita,S.Pd 2.013.012.19690610 Ka Perpustakaan

6 Oty Damitri,S.Pd 2.021.01419920111 Waka Kurikulum Wali Kelas IX 7 Astri Lestari,S.Ip 2.018.014.19919122 Kepala Tata Usaha

8 Ana Novitasari,S.Pd 2.023.015.19919122 Waka Kesiswaan,Wali kelas XI 9 Tony Hidayati,M.Pd 2.017.014.19900507 Waka Kesiswaan Wali Kelas VII 10 Medi Ariansyah,S.Pd 1.026.017.19910505 Waka Sapras,Wali Kelas X

11 Wela Susana,S.Pd - Guru

12 Hayatri Wualnadari,S.Pd - Guru

13 Ayu Purnama Asri,S.Pd - Operator

14 Fatanah Lala Utami,S.Pd - Staaf Tata Usaha

15 Sandi Firdaus - Koordinator Piket

16 Reza Novia,S.Pd - Guru

Sumber : Dokumentasi Tata Usaha Tahun 2021

Tabel 4.2

Data Jumlah Peserta didik Pondok Al-Karim Kota Bengkulu

No Siswa Ruang Belajar Jumlah

1 Kelas VII 2 Perempuan : 1orang.

Laki-laki : 8 orang.

2 Kelas VIII 2 Perempuan : -

Laki-laki : 14 orang

3 Kelas IX 2 Perempuan : -

Laki-laki : 24 orang

Sumber : Dokumentasi Tata Usaha Tahun 2021 Tabel 4.3

Jumlah Dan Kondisi Bangunan Pondok Al-Karim Kota Bengkulu

No Nama Bangunan Jumlah

1 Ruang Belajar 6

2 Masjid 1

3 Ruang Kepala Yayasan 1

4 Gedung Serba Guna ( Aula ) 1

5 Gudang 1

6 Laboratorium 1

7 Ruang Guru 1

8 Ruang Kepala Sekolah 1

9 Ruang Tata Usaha 1

10 Ruang Perpustakaan 1

11 Kantin 1

12 Toilet Siswa 2

13 Toilet Guru 1

14 Kamar Asrama Ustad 1

15 Kamar Asrama Ustazah 1

16 Kamar Asrama Putra 2

17 Kamar Asmara Putri 1

Sumber : Dokumentasi Tata Usaha Tahun 2021 C. HASIL PENELITIAN

1. Penanaman nilai-nilai pendidikan aqidah siswa melalui sholat sunnah rawatib di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu

Dari hasil wawancara yang telah dilaksanakan pada tanggal 12 juni2021 Pukul 09.45 WIB di Pondok Al-karim Kota Bengkulu bersama Kepala Sekolah Ibu Toyibbah menjelaskan

“Penanaman nilai nilai pendidikan akidah yang diterapkan melalui sholat rawatib dengan cara melaksanakan kegiatan yang ada di pondok al karim. Kegiatan sholat sunnah rawatib diwajibkan bagi setiap siswa seperti kegiatan-kegiatan yang ada dipondok mulai dari bangun tidur, seperti melaksanakan sholat malam, shalat lima waktu secara berjama’ah, dan pelajaran-pelajaran yang ada di pondok Al Karim yang mengajarakan tentang akidah islam kepada para santri setiap harinya”52

Guru mengajarkan kepada siswa agar selalu mengerjakan sholat malam seperti sholat tahajud, tidak meninggalkan sholat fardu serta memperbanyak mengerjakan sholat sunnah seperti sholat rawatib dimana kita mengetahui bahwa sholat ini sebagai sholat penyempurna sholat fardu untuk menambah amalana dan pahala kita. Dalam menerapkan sholat ini banyak sekali kendala yang dihadapi guru yang ada di Pondok Al-karim

52 Wawancara Kepada Ibu Toyyibah Kepala Sekolah Pondok Al Karim Kota Bengkulu

seperti halnya background siswa yang ada dipondok karena sebagian anak ada yang berasal dari desa dan berbagai daerah yang memiliki latar belakang yang berbeda. Selain itu ada sebagian anak yang sudah terbiasa melakukan sholat didalam keluarganya dan ada yang memang jarang sekali melaksanakan sholat.

Program shalat rawatib di terapkan di pondok al karim ini di laksanakan karna di tekankan bahwa dalam pendidikan harus ada pembiasaan, dan pembiasaan ini karna adanya dasar program yang di adakan dan dengan demikian bahwa kesadaran santri melaksanakan shalat rawatib berbeda beda. Keaktifan siswa tidak mudah terbentuk begitu saja, guru juga harus ber upaya penuh untuk membentuk keaktifan siswa dalam ibadah shalat sunnah rawatib. Dan di simpulkan bahwa keaktifan siswa tidak lepas dari peran guru dengan melalui cara agar siswa aktif dan mempunyai kesadaran dalam melaksanakan shalat sunnah rawatib. Salah satu cara adalah dengan ikut terjun langsung membimbing santri yang ada di pondok al karim kota bengkulu.

Pada Tanggal 14 Juni Jam 08.30 saya mewawancarai Ustazah Aisyah, dimana beliau menjelaskan bahwa:

“Guru yang ada di pondok al-karim selalu mengajarkan kepada santri agar mengerjakan shalat fardu setiap waktu dan membiasakan melaksanakan sholat sunnah rawatib. Siswa dibiasakan untuk mempunyai kesadaran diri dalam melakasanakan ibadah shalat. Kesadaran ini lah nantinya menjadi acuan yang penting agar siswa menjadi lebih aktif dan terbentuk nya kesadaran dalam melaksanakan dan terbiasa mengerjakan shalat fardu dan

sholat sunnah rawatib dalam kehidupan sehari hari.”53

Hal senada juga disampaikan oleh guru kelas yang menyatakan:

“Ibadah shalat dapat di laksanakan dengan baik didukung dengan berbagai faktor pendukung lainnya yaitu peran guru yang sangat penting sebagai penunjang kemajuan siswa dalam melaksanakan ibadah shalat. Dukungan dan peran guru dalam membimbing, mengarahkan siswa dalam mengerjakan sholat sunnah rawatib yang harus di perhatikan dengan baik agar tercapai tujuan yang di harapkan semua santri yang ada di pondok al-karim dan bisa memenuhi kewajiban dalam melaksanakan shalat sunnah rawatib.”54

Guru Kelas ibu Ayu Juga menyampaikan bahwa:

“Guru memberikan program shalat sunnah rawatib di Pondok Al Karim agar dapat untuk melatih anak anak agar dapat terbiasa dan mendisplin kan dan kemajuan siswa untuk mempunyai kesadaran diri dalam melakasanakan ibadah shalat ”55

Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Oty yang menyatakan:

“Guru juga menerapkan nilai pendidikan aqidah sangat susah jika anak tidak terbiasa melaksanakan sholat fardu, apalagi membiasakan anak untuk melaksanakan sholat sunnah rawatib.

Maka kami perlu membimbing mereka secara perlahan dan sangat sabar terhadap anak dimana pun dan maksimalkan dulu sholat wajib membiasakan siswa terlebih dahulu bahwa sholat itu sangat penting yang merupakan tiang agama”56

53 Wawancara Kepada Ustaza Aisyah Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu

54 Wawancara Kepada Guru Kelas Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu

55 Wawancara Kepada Ibu Ayu Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu

56 Wawancara Kepada Ibu Oty Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu

2. Faktor –Faktor yang mempengaruhi kurangnya kesadaran santri terhadap shalat sunnah rawatib

Berdasarkan hasil wawancara peneliti bersama guru beliau menjelaskan banyak sekali kendala yang dihadapi guru yang ada di Pondok Al-karim saat menanamkan nilai-nilai pendidikan aqidah pada siswa melalui sholat sunnah rawatib seperti halnya background siswa yang ada dipondok karena sebagian anak ada yang berasal dari desa dan berbagai daerah yang memiliki latar belakang yang berbeda. Selain itu ada sebagian anak yang sudah terbiasa melakukan sholat didalam keluarganya dan ada yang memang jarang sekali melaksanakan sholat.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Wulan yang menyatakan:

“Kami sebagai guru dalam menerapkan nilai pendidikan aqidah sangat susah jika anak tidak terbiasa melaksanakan sholat fardu, apalagi membiasakan anak untuk melaksanakan sholat sunnah rawatib. Bagi siswa yang masih lalai dalam mengerjakan shalat harus dengan penangan khusus seperti menegur dan memberikan arahan yang baik bagi siswa. Selain itu kurangnya kesadaran siswa dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib sehingga lalai akan kewajiban sholat yang akan dikerjakan”57

Selain itu ada juga faktor lain yang dapat mempengaruhi kurangnya kesadaran santri terhadap sholat sunnah rawatib yaitu factor internal dan factor eksternal.

Sebagaiman yang dijelaskan oleh Ibu Wela yang menyatakan:

“Pertama, faktor internal dimana merupakan factor yang muncul

57 Wawancara Kepada Ibu Wulan Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu

dari dalam diri seseorang seperti proses pemahaman dan pengamalan ibadah seseorang seperti motivasi dan kebutuhan.

Dimana seorang siswa dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib itu harus ada niat yang berasal dari dalam diri sendiri yang mampu menggerakan pelaksanaan sholat tersebut dan menjadikan suatu kebutuhan bagi hidupnya. Kedua yaitu eksternal yang berasal dari lingkungan sosial. Dimana lingkungan sosial dapat memperngaruhi kesadaran siswa dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib. Jika mereka dikelilingi dengan lingkungan yang taat ibadah secara otomatis sudah terbiasa melaksanakan ibadah sholat tersebut, jika tidak akan susah untuk melaksanakan pembiasaan sholat sunnah”

Begitu juga yang disampaikan oleh ibu Fatanah yang menyatakan:

“Seorang siswa dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib itu harus ada niat yang berasal dari dalam diri sendiri seseorang seperti motivasi dan kebutuhan yang mampu menggerakan pelaksanaan sholat tersebut dan menjadikan suatu kebutuhan bagi kehidupannya”58

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa siswa yang berada di Pondok Al-Karim pada saat guru ingin menerapkan penanaman nilai pendidikan aqidah banyak sekali mengalami hambatan dan rintangan baik itu dari siswanya sendiri maupun ada faktor-faktor lain yang menjadi pendukung kurang kesadaran dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib dalam kehidupan sehari-hari.

58 Wawancara Kepada Ibu Fatanah Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu

D. PEMBAHASAN PENELITIAN

1. Penanaman nilai-nilai pendidikan aqidah siswa melalui sholat sunnah rawatib di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu.

Dalam UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003, dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.59 Adapun menurut Ahmad D. Marimba sebagaimana yang dikutip oleh Suwarno pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.60

Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani dan rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan yang mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu

59 UU No 20 Tahun 2003 SISDIKNAS (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm 3

60 Suwarno, Pengantar Pendidikan (Jakarta: Rineka cipta, 2007), hlm 129

kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita- cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan mereka. Pendidikan sebagai salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional, dijadikan andalan utama untuk berfungsi semaksimal mungkin dalam upaya meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, dimana iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi sumber motivasi.

Sedangkan akidah secara etimologis berasal dari bahasa arab:

‘aqada-ya’qidu-uqdatan-wa’aqidatan. Artinya ikatan atau perjanjian, maksudnya sesuatu yang menjadi tempat bagi hati dan hati nurani terikat padanya.61 Secara terminologis akidah adalah sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya, sehingga menimbulkan ketenangan jiwa dan menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keraguan.62

Akidah sebagai ketentuan- ketentuan dasar mengenai keimanan seorang muslim adalah merupakan landasan dari segala perilakunya, bahkan sebenarnya akidah merupakan pedoman bagi seseorang berperilaku di muka bumi. Oleh karena itu akidah tidak hanya berfungsi landasan secara pasif, karena akidah tidak hanya merupakan ukuran (standar) untuk mengukur perilaku seseorang itu sesuai atau tidak, akan tetapi akidah itupun merupakan titik tolak untuk seseorang berperilaku.

Berdasarkan beberapa pandangan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan akidah adalah segala bentuk usaha

61 Rosihon Anwar, Akidah Akhlak (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hlm 13

62 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik Dan Masyarakat (PSAPM), 2003), hlm 306

pendidik yang diberikan melalui proses pendidikan yang berkaitan dengan keimanan seseorang yang menjadi pedoman dalam hidupnya. Pendidikan akidah ini memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang yang dapat dilihat dari sikap hidupnya yang terbentuk dari dasar Islam, baik cara berfikir, budi pekerti, tindak tanduknya dalam berbagai kegiatan dan caranya mencapai tujuan hidupnya.

Pendidikan akidah merupakan penanaman akidah yang harus diberikan kepada anak sejak dini.Karena akidah ibarat dasar atau fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, harus semakin kokoh fondasi yang dibuat. Kalau fondasinya lemah bangunan itu akan cepat ambruk. Tidak ada bangunan tanpa pondasi.

Dengan didasari akidah yang telah tertanam kuat di dalam jiwa, maka selanjutnya akan melandasi pengetahuan anak dalam segala aspek kehidupan. Dengan proses bimbingan dan arahan, maka segala potensi yang ada pada anak terutama akidahnya, akan memberikan kepercayaan dan keyakinan yang kuat dalam hati sebagai pegangan dan landasan hidup.

Dengan pendidikan akidah tersebut, semestinya seseorang dalam bertingkah laku harus didasari atas kepercayaan dan keyakinan itu juga.

Pendidikan akhlak dapat diartikan sebagai proses pendidikan yang berkaitan dengan budi pekerti, tingkah laku, perangai atau adat istiadat yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan akhlak ini akan mampu mengawal dan memandu perjalanan hidup manusia agar selamat dunia dan

akhirat. Untuk itu akhlak yang baik harus dijadikan hiasan yang paling berharga dalam setiap pribadi muslim yang akhirnya dapat menghiasi segala tingkah lakunya.

Dalam garis besarnya nilai-nilai pendidikan akhlak dapat dibagi menjadi dua. Pertama adalah akhlak terhadap Allah atau Khaliq, dan kedua adalah akhlak terhadap makhluk. Akhlak terhadap makhluk dibagi menjadi dua yaitu: pertama, akhlak terhadap manusia yang meliputi akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad SAW), akhlak terhadap orang tua, akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap keluarga, akhlak terhadap tetangga, dan akhlak terhadap masyarakat. Kedua, akhlak terhadap bukan manusia (lingkungan hidup).63

Dari hasil wawancara yang telah dilaksanakan pada tanggal 12 juni 2021 di Pondok Al-karim Kota Bengkulu maka penanaman nilai- nilai pendidikan akidah dengan sholat sunnah rawatib yang diterapkan oleh guru melalui kegiatan-kegiatan yang ada dipondok mulai dari bangun tidur, seperti melaksanakan sholat malam, shalat lima waktu secara berjama’ah, tahfizh, menghafal al-qur’an, dan pelajaran-pelajaran yang ada di pondok Al Karim yang mengajarakan tentang akidah islam kepada para santri setiap harinya.

Guru mengajarkan kepada santri agar selalu mengerjakan sholat malam seperti sholat tahajud, tidak meninggalkan sholat fardu serta memperbanyak mengerjakan sholat sunnah seperti sholat rawatib dimana

63Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, hlm 36

kita mengetahui bahwa sholat ini sebagai sholat penyempurna sholat fardu untuk menambah amalana dan pahala kita. Dalam menerapkan sholat ini banyak sekali kendala yang dihadapi guru yang ada di Pondok Al-karim seperti halnya background siswa yang ada dipondok karena sebagian anak ada yang berasal dari desa dan berbagai daerah yang memiliki latar belakang yang berbeda. Selain itu ada sebagian anak yang sudah terbiasa melakukan sholat didalam keluarganya dan ada yang memang jarang sekali melaksanakan sholat.

Kami sebagai guru dalam menerapkan nilai pendidikan aqidah sangat susah jika anak tidak terbiasa melaksanakan sholat fardu, apalagi membiasakan anak untuk melaksanakan sholat sunnah rawatib. Kita membimbing mereka secara perlahan dimana maksimalkan dulu sholat wajib membiasakan siswa terlebih dahulu bahwa sholat itu sangat penting yang merupakan tiang agama islam untuk manusia menjalankan kehidupannya sehari-hari. Jika sholat wajib ditinggalkan akan berdosa, dan ketika mereka sudah terbiasa mengerjakan nya barulah kita mengajarkan sholat sunnah yang lain sebagai penyempurna sholat. Selain itu juga kami sebagai guru meyakinkan siswa bahwa manfaat dari mengerjakan sholat sunnah rawatib itu banyak sekali seperti lebih memberikan keyakinan kepada mereka bahwa semakin banyak mengerjakan sholat sunnah rawatib keimanan dan ketakwaan kepada sang pencipta itu bisa lebih kuat dan kokoh, melatih kedisiplinan siswa jika aqidah sudah tertanam dalam diri mereka pasti kedisiplinan itu tertanam

juga dalam diri para siswa tanpa harus dikomandoi oleh guru dalam melaksanakan sholat.

Selain mewawancarai guru saya sebagai peneliti juga menanyakan kepada para siswa yang berada di Pondok Al-Karim penanaman nilai-nilai pendidikan aqidah yang diterapkan pihak sekolah kepada mereka. Menurut beberapa orang siswa yang telah saya wawancarai di Pondok Al-Karim penerapan yang biasanya mereka lakukan yaitu para siswa sering melaksanakan sholat sunnah rawatib disekolah. Mereka melaksanakannya sebelum jam pelajaran dimulai secara bergantian pergi kemushola yang ada disekolah. Mereka biasa melaksanakannya setiap hari untuk menyempurnakan sholat fardu. Para siswa merasakan banyak sekali manfaat yang didapatkan ketika melaksanakan sholat sunnah rawatib, contohnya seperti ketika belajar mereka dapat menangkap penjelasan materi pelajaran dari guru dengan mudah. Seringnya para siswa melaksanakan sholat sunnah rawatib juga bisa mengontrol prilaku siswa kepada guru untuk bertingkah laku lebih sopan, santun dalam bertutur kata ataupun perbuatan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya kesadaran santri terhadap sholat sunnah rawatib.

Pemahaman yang dimiliki oleh siswa dan pengamalan yang dilakukannya bukan merupakan perkara yang serta merta dilakukan tanpa adanya permulaan atau diakibatkan oleh beberapa faktor yang kemudian mejadikan orang faham dan mengamalkan suatu hal dalam menerapkan

pelaksanaan sholat sunnah rawatib.

Dari hasil wawancara yang peneliti temukan bahwasannya ada beberapa factor yang mempengaruhi proses penerapan penanaman pendidikan aqidah melalui sholat sunnah rawatib yaitu pemahaman dan pengamalan ibadah siswa itu sendiri. Dimana kurangnya pemahaman siswa terhadap bagaimana tata cara pelaksanaan sholat sunnah rawatib membuat mereka tidak tau fungsi dari sholat sunnah rawatib tersebut dan manfaat dari sholat sunnah rawatib yang dikerjakannya. Selanjutnya pengamalan ibadah yang dimiliki tersendiri oleh siswa,dimana mereka sangat jarang melaksanakan sholat sunnah rawatib itu dirumah saat tidak berada di sekolah. Maka dari itu mereka tidak terbiasa melaksanakan ibadah sholat sunnah rawatib.

Ketika mereka masuk dan belajar dipondok pasantren Pondok Al- Karim siswa diharuskan melaksanakan sholat sunnah rawatib. Para guru membiasakan para siswa melaksanakan sholat yang mana merupakan kewajiban bagi umat islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk ibadah kepada Allah swt untuk lebih mendekatkan diri dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap sang pencipta. Pembiasaan yang diterapkan oleh guru yang ada di Pondok Al-Karim sebagai cara agar siswa tau kewajiban yang harus mereka kerjakan.

Selain itu adanya juga faktor lain yang dapat mempengaruhi kurangnya kesadaran santri terhadap sholat sunnah rawatib yaitu factor internal dan factor eksternal. Pertama, faktor internal dimana merupakan

factor yang muncul dari dalam diri seseorang. Factor internal yang dapat mempengaruhi proses pemahaman dan pengamalan ibadah seseorang seperti Motivasi. Motivasi disini keadaan internal yang ada pada seseorang untuk mendorong atau berbuat sesuatu serta mempengaruhi keinginan seseorang terhadap objek tertentu. Motivasi disini contohnya seperti seseorang untuk memahami dan mengamalkan ibadah shalat. Motivasi ini dapat timbul dari diri seseorang seperti rasa senang terhadap objek atau kegiatan tertentu, sehingga dari rasa senang tersebut seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu demi memenuhi rasa senangnya.

Selain itu yang bisa mempengaruhi kesadaran seseorang dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib untuk penanaman nilai pendidikan aqidah yaitu Kebutuhan yang ada didalam diri seseorang akan suatu hal yang memungkinkan timbulnya keinginan untuk memahami dan menjalankan suatu objek tersebut. Kebutuhan merupakan dorongan yang didasari oleh tujuan yang hendak dicapai. Jika dalam diri individu memiliki kebutuhan ini, mereka akan mencari sumber informasi yang mampu memenuhi kebutuhan mereka ataubahkan akan mengamalkannya.

Keingintahuan yang besar akan objek tertentu mengakibatkan seseorang tertarik dan berminat untuk mengikuti, memahami dan mengamalkan suatu kegiatan demi terpenuhinya kebutuhan tersebut.

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi penanaman nilai pendidikan aqidah yaitu : Faktor eksternal dimana faktor di luar individu yang ikut mempengaruhi timbulnya pemahaman dalam diri seseorang serta

Dokumen terkait