• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI MIRA SEPTIANA.pdf - Repository IAIN Bengkulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI MIRA SEPTIANA.pdf - Repository IAIN Bengkulu"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

MELALAUI PELAKSANAAN SHALAT SUNNAH DI PONDOK AL-KARIM KOTA BENGKULU

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Dan Tadris Institut Agama Islam Negeri Bengkulu Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd) Dalam Bidang Ilmu Tarbiyah

Oleh Mira Septiana NIM. 1711210146

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU

TAHUN 2021

(2)

vi

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

vi ABSTRAK

Mira Septiana, NIM 1711210146. “Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Aqidah Siswa Melalui Pelaksanaan Sholat Sunnah Di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu ”, Skripsi: Program Studi Pendidikan Agama, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, IAIN Bengkulu. Pembimbing 1. Dr. Suhirman, M.Pd. Pembimbing 2. Adi Saputra, M.Pd

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui penanaman nilai nilai pendidikan aqidah siswa melalui shalat sunnah (sunah rawatib) dan untuk mengetahui faktor yang mempengarui kurang nya kesadaran siswa terhadap shalat sunnah (sunnah rawatib) di Pondok Al Karim Kota Bengkulu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2021 dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini di lakukan dengan teknik pengumpulan data, dengan menggunakan wawancara kepada guru dan siswa di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu. Adapun hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa penanaman nilai- nilai pendidikan akidah dengan sholat sunnah rawatib yang diterapkan oleh guru melalui kegiatan-kegiatan yang ada di pondok mulai dari bangun tidur, seperti melaksanakan sholat malam, shalat lima waktu secara berjama’ah, dan pelajaran-pelajaran yang ada di Pondok Al Karim yang mengajarakan tentang akidah Islam kepada para siswa setiap harinya. Faktor- faktor yang mempengaruhi mereka untuk mengerjakan sholat sunnah rawatib yaitu tidak adanya niat dari hati, sering kali bermain-main dalam mengerjakan sholat sunnah rawatib, tidak di biasa kan nya mereka melaksanakan sholat sunnah rawatib sehingga ketika guru mereka tau maka para siswa diberikan sanksi yang setimpal. Siswa diberikan sanksi jera oleh guru berupa membersihkan kamar mandi, mushola sekolah. Ketika mengulanginya lagi maka pihak sekolah akan memberi surat teguran pertama dan memangil orang tua untuk menasehati anaknya. Guru berusaha dengan sekuat tenaga menanamkan nilai-nilai pendidikan aqidah kepada siswa agar mereka dengan kesadaran sendiri melaksanakan sholat sunnah rawatib dan bisa merasakan manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari.

Kata Kunci: Penanaman Nilai-Nilai, Pendidikan Aqidah, Sholat Sunnah

v

(10)

vi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayahNya sehingga skripsi yang berjudul “Penanaman Nilai Nilai Pendidikan Akidah Siswa Melalui Pelaksanaan Shalat Sunnah Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu” ini bisa diselesaikan dan untuk mendapatkan gelar sarjana S1 di Program Studi Pendidikan Agama Islam ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Pada kesempatan kali ini penulis selaku mahasiswi yang melaksanakan tugas akhir ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M. Ag, M. H, selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu yang telah menyediakan fasilitas guna kelancaran penulis dalam menuntut ilmu.

2. Bapak Dr. Zubaedi, M.Ag, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Tadris (FTT) yang telah banyak memberikan bantuan di dalam perkuliahan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ibu Nurlaili, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Tarbiyah dan Tadris yang telah banyak membantu dalam melancarkan semua urusan perkuliahan penulis

selama ini.

vi

(11)

vii

Islam dan Pembimbing II, yang selalu memerikan motivasi dan arahan yang membangun dalam penyelesaian proposal ini.

5. Bapak Dr. Suhirman, M.Pd selaku Pembimbing I yang senantiasa sabar dan telah meluangkan waktu, tenaga, dan pemikiran dalam memberikan bimbingan, dan petunjuk serta motivasi nya kepada penulis dalam menyelesaikan proposal ini.

6. Bapak dan Ibu Dosen IAIN Bengkulu yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan bagi penulis sebagai bekal pengabdian kepada masyarakat, agama, nusa dan bangsa.

7. Pimpinan dan Staf perpustakaan IAIN Bengkulu yang telah memberikan fasilitas baik itu berupa referensi atau literatur yang lainnya.

8. Seluruh Civitas Akademik yang telah mendidik, memberikan nasehat serta mengajarkan ilmu ilmu yang bermanfaat kepada mahaiswa

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya dan mudah-mudahan kehadiran skripsi ini dapat menjadi daya dorong bagi para pembacanya agar terus bersemangat untuk menambah ilmu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bengkulu, Agustus 2021

Mira Septiana NIM.1711210146

(12)

viii

HALAMAN DEPAN ... i

PERSEMBAHAN... ii

MOTTO ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 12

C. Batasan Masalah... 12

D. Rumusan Masalah ... 13

E. Tujuan Penelitian ... 13

F. Manfaat Penelitian ... 13

BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori ... 15

1. Pengertian Akidah ... 15

2. Teori Penanaman Nilai Nilai Pendidikan Akidah ... 16

3. Nilai Nilai Pendidikan Akidah ... 21

(13)

x

B. Konsep Pelaksanaan Shalat Sunnah ... 26

1. Pengertian Shalat Sunnah ... 26

2. Macam Macam Shalat Sunnah ... 27

3. Manfaat Shalat Sunnah ... 30

C. Shalat Sunnah Rawatib ... 30

1. Pengertian Shalat Sunnah Rawatib ... 30

2. Niat Shalat Sunnah Rawatib ... 32

3. Praktik Shalat Sunnah Rawatib ... 33

4. Ketentuan Shalat Rawatib ... 34

5. Waktu Shalat Rawatib ... 34

6. Adab Shalat Rawatib ... 36

7. Keutamaan Shalat Rawatib ... 36

D. Hubungan Nilai Nilai Pendidikan Akidah Dengan Shalat Sunnah Rawatib ... 37

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 40

B. Setting Penelitian ... 42

C. Waktu Penelitian ... 42

D. Subjek Dan Informan Penelitian ... 43

E. Sumber Data ... 43

F. Teknik Pengumpulan Data ... 44

G. Uji Keabshan Data ... 46

(14)

x

A. Deskripsi Wilayah ... 50

1. Deskripsi Wilayah Penelitian ... 50

2. Sejarah Sekolah ...50

3. Kondisi Sekolah ... 58

4. Visi, Misi dan Tujuan Al Karim Kota Bengkulu ... 59

5. Data Pendidik, Tenaga Kependidikan, Peserta Didik Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu ... 61

B. Hasil Penelitian ... 63

1. Penanaman Nilai Nilai Pendidikan Akidah Melalui Shalat Sunnah (Sunnah Rawatib) Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu... 63

2. Faktor yang mempengarui Kurang nya Kesadaran Siswa Terhadap Shalat Sunnah (Sunnah Rawatib) Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu ... 66

C. Hasil Pembahasan ... 68

1. Penanaman Nilai Nilai Pendidikan Akidah Melalui Shalat Sunnah(Sunnah Rawatib) Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu... 68

2. Faktor Yang Mempengarui Kurang nya Kesadaran Siswa Terhadap Shalat Sunnah (Sunnah Rawatib) Di Pondok Al Karim Kota Bengkulu ... 73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 80

(15)

x

Daftar Pustaka ... 82 Lampiran ... 88

(16)

xii

Tabel 4.1 Jumlah Guru ... 53 Tabel 4.2 Jumlah Murid... 54 Tabel 4.3 Sarana Prasarana... 54

(17)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Pedoman Wawancara 2. SK Pembimbing 3. Surat Izin Penelitian 4. Surat Selesai Penelitian 5. Kartu Bimbingan

6. Dokumentasi Kegiatan Penelitian

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan satu pilar kehidupan masa depan bangsa yang bisa di ketahui sejauh mana bangsa tersebut dalam menyelenggarakan pendidikan nasional. Dalam UUD 1945 di sebutkan bahwa mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengusahakan dan menyelengarakan satu pendidikan nasional yang mampu meningkat keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak dalam rangka mendasarkan kehidupan bangsa Pendidikan merupakan investasi atau bukan instrument yang sangat berharga bagi masyarakat.

Pendidikan yang di butuhkan oleh masyarakat adalah pendidikan yang bisa mengantrakan perubahan yang sangat berarti dalam masyarakat tersebut.

Dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Penddidkan Nasional di sebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan islam merupakan bimbingan dan asuhan peserta didik agar setelah menerima bimbingan dan asuhan terhadap, para peserta didik agar mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama islam. Lebih

1

(19)

khusus nya pendidikan akidah peserta didik mampu menerima, memahami, menghayati juga menjadikan agama tersebut sebagai suatu pandangan hidup nya demi keselamatan dan kesejateraan hidup di dunia maupun di akhirat.

Karena proses pendidikan diselengarakan untuk meningkatkan ibadah amal sholeh dan meningkatkan akhlakul karimah serta memupuk jiwa agama dan berupaya menanamkan rasa cinta kasih kepada Allah, menanamkan etikat dan kepercayaan yang benar dalam jiwa, agar menjadi orang yang bertakwa, membiasakan dan membimbing peserta didik untuk berakhlak mulia serta memiliki adat kebiasaan yang baik. Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran sehingga siswa mampu memahami apa yang disampaikan oleh pendidik.

Pendidikan islam juga untuk mengembangkan potensi manusia baik lahir maupun batin agar terbentuknya pribadi muslim seutuh nya. Pendidikan islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaan nya yang dapat mengangkat derajat kemanusian nya sesuai kemampuan dasarnya dan kemampuan ajaranya.

Pendidikan islam untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan kejiwaan, akal, pikiran, kecerdasan dan perasaan serta pancaindra. Oleh karna itu pendidikan islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia baik spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, keilmuan, bahasa, baik secara individu

(20)

maupun kelompok, serta mendorong aspek aspek kearah kebaikan dan pencampaian kesempurnaan hidup.1

Di dalam pendidikan Islam itu haruslah terwujud kan hubungan seseorang yang harmonis dengan Allah, manusia dan alam semesta. Ketika hubungan itu dapat terlaksanakan maka tujuan hidup merupakan sumber tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan Islam pada intinya merupakan penjabaran dari tujuan hidup manusia di muka bumi. Hakikat manusia ini ialah memproleh keridhaan Allah. Dan tujuan akhir pendidikan islam ialah manusia yang di ridhai oleh allah, yaitu manusia yang menjalan kan peranan idealnya sebagai hamba dan khalifah Allah secara sempurna.2

Fungsi keberadaan pendidikan Islam bagi umat islam yaitu mengembangkan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitar dan mengenai kebeseran ilahi, membebaskan manusia dari segala anasir yang dapat merendahkan martabat manusia fitrah manusia baik yang datang dari dalam dirinyaa maupun dari luar, mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memujudkan dan memajukan kehidupan maupun sosial.3

Untuk itu pengolahan pendidikan Islam dalam kehidupan harus benar benar sejalan dengan ajaran islam, dengan merujuk kepada dua landasan utama yaitu kitab suci al-qur’an dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

1 Haidar putra daulay, Pendidikan islam dalam perpektif filsafat Jakarta: PT Kencana, 2014 hlm 11-12

2 Oemer Mohammad al-taumy al saibaniy, Filsafah al tarbiyah al islamiyah diterjemahkan oleh Hasan Lunggunang dengan judul falsafah pendidikan islam Jakarta: Bulan Bintang, 1979 hlm 405

3 Achmadi, Ideologi pendidikan islam (Cet. I Yogyakarta: Pustaka pelajar 2005) hlm 36

(21)

Banyak ajaran ajaran atau nilai nilai pendidikan yang di kandung kedua sumber pegangan dalam pendidikan sumber tersebut, baik menyangkut hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungan nya.4

Sumber utama pendidikan Islam adalah kitab suci Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Sementara pendapat para sahabat dan ulama muslim sebagai tambahan. Maka sebagai disiplin ilmu, pendidikan Islam bertugas pokok mengilmiakan wawasan atau padangan tetang kependidikan yang terhadap sumber-sumber pokok nya dengaan bantuan dari para sahabat ulama.

Mengenai pentingnya, Islam sebagai agama rahmatan lilamin, mewajikan untuk mencari ilmu pengetahuan melalu pendidikan di dalam maupun diluar pendidikan formal.

Bahwa Allah mengawali menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan Rasulnya, Muhammad SAW untuk membaca dan membaca, dan dalam arti yang sangat luas, dengan belajar pula manusia dapat mengembangkan pengetahuannya sekaligus memperbaiki kehidupannya.

Betapa pentingnya belajar, sebagaimana firman Allah SWT: Q.S Al- Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:























4 Abudin Nata, Manajemen pendidikan, mengatasi kelemahan pendidikan islam C.1:Bogor Kencana 2005 hlm 1

(22)









































Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu,"

maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan."5

Berdasarkan ayat di atas menjelaskan betapa pentingnya belajar, karena Allah telah berjanji akan meningkatkan derajat orang-orang yang belajar (berilmu). Jadi dalam konteks ini pendidikan sangatlah penting untuk dilakukan apa lagi pendidikan islan yang sejatihnya mejadi pedoman bagi umat untuk berperilaku. Jadi dapat disimpulkan tujuan akhir pendidikan islam merupakan aplikasi nilai-nilai islam yang di ujukan dalam pribadi peserta didik dengan konsep pendidikan silam. Pendidikan Islam di harapkan mampu mewujudkan nilai-nilai pendidikan islam dalam pribadi peserta didik sehingga mampu menghsilkan lulusan intelektual yang berkualitas. Prosesi perkembangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat ternyata sering kali

5Al-Qur’an Terjemahan Kementrian agama RI, Surat Mujadalah ayat 11 (Surabaya: Fajar Mulya 2015), hlm 544

(23)

terjaadi kehilangan Ruh Al-Tarbiyyah- Nya, sehingga usaha semangat untuk mengedepankan pendidikan terhadap masyarakat dibanding yang lain nya perlu mendapatkan perhatian dan solusi terbaik, lebih-lebih masyarakat yang belum dapat menikmati layarnya pendidikan formal.

Manusia menurut Islam adalah manusia yang menghargai akal dan makhluk Allah yang paling mulia, yang terdiri dari jiwa dan raga dan masing- masing mempunyai kebutuhan tersendiri. Manusia adalah makhluk yang di ciptakan allah dengan kelebihan di berikan akal dan berperan melakukan berbagai aktivitas melakukan dalam kehidupan baik dan manusia makhluk rasional sekaligus mempunyai hawa nafsu kebinatangan, ia mempunyai organ-organ kognitif semacam hati (qalb), akal, kemampuan kemampuan fisik, intelektual, pandangan kerohanian, pengalaman dan kesadaran.

Manusia adalah makhluk yang memiliki kelengkapan jasmani dan rohani.

Dengan kelengkapan jasmani, ia dapat melakukan tugas yang memerlukan dukungan fisik dan dengan kelengkapan rohaninya ia dapat melaksanakan tugas tugas yang memerlukan tugas tugas yang memerlukan dukungan mental. Selanjutnya kedua unsur terdapat berfungsi dengan baik dan produktif maka perlu di bina dan di beri bimbingan. Dalam hubungi ini pendidikan amat memegang peranan yang amat penting.6

Dengan berbagai macam potensi tersebut, manusia dapat menyempurnakan kemanusiaannya sehingga menjadi pribadi yang dekat

6 Abudin Nata, Filsafat Pendidikan islam (Cet III: Jakarta Logos Wacana Ilmu, 1997) hlm 35

(24)

dengan Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dapat pula menjadi makhluk yang paling hina karena dibawa oleh kecenderungan hawa nafsu dan kebodohannya. Oleh karena itu, pendidikan yang pertama kali diajarkan dalam Islam adalah pendidikan tentang ketauhidan atau aqidah. Seperti yang tertera dalam Alquran tentang hal yang pertama kali diajarkan Luqmanul Hakim kepada anaknya untuk tidak menyekutukan Allah.

Disinilah urgensi aqidah dalam pendidikan Islam, yaitu sebagai dasar dari semua proses pendidikan. Kata aqidah dalam kamus-Qaamuusul Muhiith dan alal- aqdu ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan atau apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti baik itu benar ataupun salah. Abdullah Abdul Hamid.

Pendidikan aqidah berfungsi menanamkan keimanan pada diri anak sebagai bekal kehidupannya di masa depan. Keimanan adalah modal utama untuk mengembangkan apa yang disebut Howard Gardner sebagai Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient) yang menjadi salah satu dari ragam kecerdasan majemuk 5 Tim Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, Konsepsi Pengembangan Kurikulum Inovatif Penerapan Pembelajaran Berbasis Alam Pendidikan Anak Usia Dini Formal Dan Nonformal.7 Kecerdasan spiritual tidak boleh dianggap remeh

7 (Jakarta: Filsafah Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional 2005 )

(25)

dalam kehidupan. Ia berfungsi sebagai semacam life-skill (kecakapan hidup) untuk membangun kehidupan berkualitas. Howard Gardner.

Secara terminologi aqidah dapat diartikan sebagai perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya, dan harus sesuai dengan kenyataannya yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

Salat sunah rawatib adalah salat sunah yang mengiringi salat fardu. Salat sunah rawatib yang dikerjakan sebelum salat wajib disebut salat qobliyah, sedangkan salat sunah rawatib yang dilakukan setelah salat wajib disebut salat bakdiyah. Salat sunah rawatib berfungsi sebagai penyempurna jika terjadi kekurangan dalam salat fardu seseorang. Salat fardu sendiri hukumnya wajib bagi muslim. Salat fardu ini pula yang menjadi amalan pertama yang dihisab dalam Hari Perhitungan. Oleh karenanya, menunaikan salat sunah rawatib sangat dianjurkan. Diriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bersabda,

"Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat fardu. Itu pun jika sang hamba menyempurnakannya. Jika tidak, maka disampaikan, “Lihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan

(26)

(salat) sunah?” Jika memiliki amalan salat sunah, sempurnakan amalan salat fardu dengan amal salat sunahnya. Kemudian, perlakukanlah amal-amal fardu lainnya seperti (dalam kasus salat) tadi." (H.R. Ibnu Majah).

Jumlah Rakaat Salat Sunah Rawatib Salat sunah rawatib dalam sehari semalam total terdiri dari 22 rakaat, yang terbagi ke dalam lima waktu salat fardu. Syekh Zainuddin Al-Malibary "Disunahkan salat sunah 4 rakaat sebelum salat asar, 4 rakaat sebelum zuhur dan setelahnya, 2 rakaat setelah magrib dan disunahkan menyambung 2 rakaat ba’diyah magrib dengan salat fardu, dan tidak hilang keutamaan menyambung 2 rakaat ba’diyah magrib sebab melakukan zikir ma’tsur setelah salat fardu.8 "Kemudian setelah isya 2 rakaat yang ringan, begitu juga 2 rakaat sebelum salat isya jika tidak sibuk menjawab azan. Apabila di antara azan dan iqamat ada waktu luang untuk mengerjakan 2 rakaat sebelum isya, maka dapat dikerjakan. Jika tidak, maka diakhirkan (setelah salat isya), dan dua rakaat setelah subuh."

Berdasarkan Observasi awal tanggal 25-28 Febuari 2021 yang dilakukan dengan Kepala Madrasah, peneliti menemukan beberapa masalah, di antara nya siswa masih banyak yang lalai dalam melaksanakn shalat dan masih banyak santri yang kurang kesadaran dalam melaksanakan shalat sehingga mereka sering mencari alasan untuk tidak melaksanakan shalat.

Nilai nilai di pesantren sebagai sebuah keyakinan dan budaya, di mana hal hal itu biasa nya selalu nampak dalam kehidupan seharian pesantren.

Sehingga pesantren di harapkan dapat secara baik mempersiapkan para santri

8 Fathul Muin Syarh Qurrotil ‘ Ain bin Muhimmatid-Din Pendidikan Islam (hlm 158-159)

(27)

menjadi anggota yang mengartikulasikan ajaran islam dan mengamalkan nilai nilai. Dengan demikian nilai nilai pesantren sebagai pola pikir yang menentukan prilaku pesantren dan sebagai tata nilai yang merupakan gambaran prilaku dalam mewujudkan tujuan pesantren dapat terlaksanakan dengan sebaik baik nya. Untuk itu peran pesantren agar terwujud dengan baik dalam bentuk pembiasaan pembiasaan kehidupan pesantren. Dimana pembiasaan itu secara keseluruhan merupakan aturan aturan yang telah di sepakati.

Sehingga di lakukan secara berulang ulang dan akan menjadi kebiasaan dan perbuatan itu menjadi mudah untuk di laksanakan sebagai motivasi yang timbul dengan sendiri nya dari santri. Kebiasaan bangun pagi dan shalat di awal waktu dan berjama’ah akan dapat mengikis rasa malas dan lalai terhadap shalat dan mendekatkan diri kepada allah, Kebiasaan mengahafal al-qur’an akan membuat suasana damai dan melembutkan hati yang keras dan gelisah.

Kebiasaan menuntut ilmu akan mengikis kebodohan dalam diri pribadi.

Untuk itu nilai nilai di pesantren sudah di terapkan seperti akhlak karimah yang di jadikan ukuran kelayakan santri dan memiliki tatanan nilai yang di atur agama, ibadah untuk mendisplikan santri, membaca al qur’an agar santri lancar dan benar dalam mengetahui bacaan yang tepat terhadap al qur’an, dan melaksanakan shalat wajib serta hafalan surat yang di tentukan dan pilihan serta di praktekan dalam kehidupan sehari hari.

(28)

Untuk itu nilai nilai ini di terapkan di pesantren setiap hari untuk melatih anak anak tetapi ada juga nilai nilai yang tidak di terapkan oleh para siswa di pondok pesantren dan para siswa terkadang melaksanakan dan kebiasaan yang wajib nya saja sehingga di utama kan yang wajib nya saja dengan tata tertib yang benar seperti nilai nilai yang ada di pesantren, Nilai nilai yang kurang di pondok pesantren ini terkadang membuat para siswa malas dan lalai tehadap shalat sunnah sehingga shalat sunnah terkadang sedikit siswa yang melaksanakan dan mengerjakan.

Berdasarkan realita yang terjadi di pesantren, masih banyak siswa yang lalai dalam melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah yang mana seharusnya sebagai seorang siswa pondok mereka harus lebih rajin dalam melaksanakan shalat. Karena mereka tahu wahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, dan dengan mereka melaksanakan shalat maka hidupnya akan tenang. Oleh karna itu peneliti melakukan penelitian ini dengan judul penanaman nilai nilai pendidikan akidah siswa melalui pelaksanaan shalat sunnah di pondok al karim kota bengkulu.

Penelitian ini di awali dengan observasi awal pada Tanggal 25 Febuari 2021 hingga 28 Febuari. Beberapa tahapan yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini telah dirangkum dibawah ini:

a. Koordinasi dengan pihak sekolah pada Tanggal 24 Febuari 2021

(29)

b. Melakukan penelitian pertama pada tanggal 25 kemudian mengkonfirmasi terhadap informan agar bersedia menjadi objek penelitian dilakukan pada Tanggal 25 Febuari 2021.

c. Melakukan wawancara awal kepada informan agar mendapatkan data yang valid mulai dari Tanggal 25-27 Febuari 2021.

d. Pengumpulan data wawancara yang didapatkan dari Tanggal 25-27 Febuari 2021.

e. Melakukan pengecekan kebenaran informasi kepada informan dari tanggal Tanggal 26-27 Febuari 2021.

f. Pengumpulan data dokumentasi yang dibutuhkan untuk bukti penelitian dari Tanggal 27 Febuari 2021

g. Pada Tanggal 27 Febuari 2021Pengecekan ulang semua data hingga selesai penelitian pada tanggal 28 Febuari 20219

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah di atas, terdapat identifikasi yaitu:

1. Sebagian siswa yang malas serta lalai dalam melaksanakan shalat sunah seperti shalat sunah rawatib di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu.

2. Kurangnya motivasi dan kurang nya kesadaran dalam melaksanakan shalat sunah seperti shalat sunah rawatib pada siswa di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu.

3. Kurangnya penanaman nilai nilai pendidikan akidah terhadap siswa di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu.

9 Data Observasi Awal Di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu

(30)

4. Sebagian siswa yang tidak mengikuti peraturan tata tertib yang di tetapkan oleh di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan Identifikasi masalah di atas, terdapat batasan masalah yaitu pada penanaman nilai nilai pendidikan akidah melalui pelaksanaan shalat sunah rawatib pada siswa kelas 1 di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu yaitu : 1. Penanaman nilai nilai pendidikan aqidah siswa melalui shalat sunnah

sunah (sunah rawatib) di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu

2. Faktor yang mempengaruhi kurang nya kesadaran siswa terhadap shalat sunnah (sunah rawatib) di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah terdapat rumusan masalah yaitu :

1. Bagaimana penanaman nilai nilai pendidikan aqidah siswa melalui shalat sunnah sunah rawatib di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu?

2. Apa saja faktor yang mempengaruhi kurang nya kesadaran siswaterhadap shalat sunah rawatib di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah terdapat tujuan peneliti yaitu :

1. Untuk mengetahui cara menanamkan nilai nilai pendidikan aqidah siswa melalui shlat sunnah (sunah rawatib) di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu 2. Untuk mengetahui faktor yang mempengarui kurang nya kesadaran siswa terhadap shalat sunnah (sunnah rawatib) di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu

(31)

F. Manfaat Penelitian a. Manfaat Praktis

a) Penelitian ini diharapkan bisa memberikan nilai nilai tentang aqidah dalam meningkatkan shalat sunah rawatib di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu

b) Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi aktual bagi pihak-pihak yang menaruh perhatian terhadap upaya meningkatkan kecerdasan spiritual siswa, sehingga dapat menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan kedepan.

b. Manfaat Teoritis

a) Untuk memperkaya khazanah dan memberikan masukan yang bermanfaat untuk penanaman nilai nilai pendidikan aqidah terhadap siswa melalaui pelaksanaan shalat sunah rawatib di Pondok AL-Karim Kota Bengkulu dan meningkatkan kesandaran terhadap siswa

b) Memberikan manfaat bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan sebagai sumbangan literatur untuk Pendidikan Agama Islam (PAI) sehingga membantu bagi penelitian selanjutnya.

(32)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Pengertian Aqidah

Akidah menurut bahasa berarti keyakinan. Menurut istilah kebenaran yang dapat di terima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah oleh manusia di dalam hati serta di yakini dan keberadaan nya secara pasti dan segala sesuatu dengan kebenaran itu.

Sumber aqidah adalah al-qur’an dan sunnah.10 Artinya apa saja yang di sampaikan oleh allah dalam al-qur’an dan oleh Rasullah dalam Sunnahnya wajib di imani dan di yakin kan serta di amalkan.

Setiap manusia memiliki kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan untuk menjadi pedoman menentukan yang benar dan mana yang baik. Keyakinan tidak boleh bercamput sedikit pun dengan keraguan dan aqidah harus mendatangkan ketentraman jiwa, artinya lahir nya seseorang bisa saja meyakin kan sesuatu akan tetapi hal itu tidak akan mendatangkan ketenangan jiwa. Seseorang tidak akan bisa meyakin kan sekaligus dua hal yang bertentangan.

Istilah lain tentang aqidah yaitu : Iman, tauhid, ushuluddin, ilmu kalam, fikih akbar. Ruang lingkup pembahsan aqidah adalah : pertama

10 Haitamy el jaid, kuliah aqidah islam dan lembaga pengamalan islam ( Surabaya : PT Bina Ilmu Ofset ) hlm 2-3

15

(33)

ilahiyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan allah seperti wujud allah serta nama nama dan sifat allah, kedua nubuwat yaitu pembahsan tentang segala sesuatu yang pembahasan nya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan rasul termasuk pembahasan kitab kitab allah dan mujizat, ketiga ruhaniyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan metafisik seperti malaikat dan jin serta iblis, ke empat sam’iyyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa di ketahui lewat dalil naqli berupa al-qur’an dan sunnah seperti alam bazrah, akhirat dan azab azab kubur serta surga neraka dan tanda tanda kiamat.11

2. Teori Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Akidah

Dalam era otonomi daerah dan disentralisasi pendidikan, perwujudan pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education) telah membaur dan menjadi gerak langkah para pendidik dan tenaga kependidikan di seluruh wilayah Indonesia, walaupun dalam perwujudannya masih dalam pencarian bentuk yang sesuai dengan kondisi daerah dan pola dasar pengembangan pendidikan kota masing- masing. Undang-undang Pendidikan Nasional menyuratkan tentang pendidikan berbasis masyarakat yang didalamnya disebutkan bahwa Pendidikan Berbasis Masyarakat adalah Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh dan untuk

11 Haitamy el jaid, kuliah aqidah islam dan lembaga pengamalan islam (Surabaya : PT Bina Ilmu Ofset) hlm 4-6

(34)

masyarakat.

Konsep tersebut sangat mendukung dan merupakan pilar penyangga pengembangan pendidikan anak usia dini baik di Kelompok Bermain maupun di Taman Kanak-kanak, namun belum tentu konsep pendidikan berbasis aqidah dapat dilaksanakan kalau kebutuhan masyarakat menganut nilai-nilai budaya yang berbeda dengan Islam.

Pengembangan pendidikan Kelompok Bermain maupun di Taman Kanak- kanak sangat membutuhkan pemberdayaan peran serta masyarakat baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan dan evaluasi berbagai penyelenggaraan program pendidikan maupun dalam penyediaan sumber daya pendukung pengadaan keberlangsungan program pendidikan, sehingga daya serap lembaga pendidikan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak terhadap anak kelompok umur 4-6 tahun secara bertahap dapat ditingkatkan. Di samping itu, penerapan konsep pendidikan anak usia dini tersebut, kalau tidak didasari dengan aqidah akan menjadi gersang dan akan melahirkan anak didik besar kepala, sehat jasmani namun buta hati nurani.

Pendidikan dalam arti luas berarti sebuah proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilannya untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik. Nilai tersebut mencakup nilai-nilai religi, kebudayaan, sains dan teknologi, seni, dan keterampilan, yang ditransformasikan dalam rangka mempertahankan bahkan kalau perlu

(35)

mengubah kebudayaan yang dimiliki masyarakat Uyoh Saadullah.8 Di dalam Islam, M. Yusuf Qardhawi memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaniahnya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam bertujuan untuk menyiapkan manusia hidup lebih baik dalam keadaan apapun.

Sementara itu, Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai satu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam, diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Manusia menurut Islam adalah makhluk Allah yang paling mulia, yang terdiri dari jiwa dan raga dan masing-masing mempunyai kebutuhan tersendiri. Manusia adalah makhluk rasional sekaligus mempunyai hawa nafsu kebinatangan, ia mempunyai organ-organ kognitif semacam hati (qalb), akal, kemampuan-kemapuan fisik, intelektual,pandangan kerohanian, pengalaman dan kesadaran. Dengan berbagai macam potensi tersebut, manusia dapat menyempurnakan kemanusiaannya sehingga menjadi pribadi yang dekat dengan Tuhan.

Tetapi sebaliknya, ia dapat pula menjadi makhluk yang paling hina karena dibawa oleh kecenderungan hawa nafsu dan kebodohannya.11 Oleh karena itu, pendidikan yang pertama kali diajarkan dalam Islam adalah pendidikan tentang ketauhidan atau aqidah. Seperti yang tertera dalam Alquran tentang hal yang pertama kali diajarkan Luqmanul Hakim kepada

(36)

anaknya untuk tidak menyekutukan Allah. Disinilah urgensi aqidah dalam pendidikan Islam, yaitu sebagai dasar dari semua proses pendidikan.

Pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan atau apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti baik itu benar ataupun salah. Abdullah Abdul Hamid. Secara terminologi aqidah dapat diartikan sebagai perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya, dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

Tetapi aqidah tidak boleh hanya dipahami sebagai keyakinan pada Rukun Iman saja, yaitu iman pada Allah, malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul- rasulnya, hari akhir, dan qadla-qadar saja, tetapi aqidah juga harus dipahami sebagai bagaimana kita menjalankan semua yang telah diperintahkan oleh Allah dan beribadah kepadanya, serta bagaimana menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam aqidah yang kita yakini.

Karena aqidah akan menuntun kita untuk senantiasa taat pada Allah, dan yakin bahwa aturanNya adalah benar. Maka dari sinilah konsep pendidikan harusnya ada. Pendidikan bertujuan untuk mewujudkan insan-

(37)

qualified sementara kosong moral, tapi insan-qualified Iptek.

Dari segi IQ anak didik harus dirangsang terus untuk semakin meningkatkan pengetahuan dan keahliannya, dari segi emosional mereka menjadi orang-orang yang senantiasa mampu mengendalikan diri mereka dan memiliki daya juang yang tinggi, dan dari segi spiritual mereka adalah orang-orang yang senantiasa beraktivitas dengan menjadikan aturan Islam sebagai standarnya. Anak-anak didik harus diberikan pemahaman bahwa dalam kehidupan ini ada yang menciptakan yaitu Allah, yang juga senantiasa memberi perlindungan, menyayangi, dan mengawasi mereka. Dan mereka juga harus senantiasa tunduk dengan aturanNya. Sehingga dalam menjalani pendidikanpun mereka akan menjadi sosok-sosok yang cerdas dan ber Imtaq yang tangguh dalam menjalani hidup dan mampu memberikan kreatifitas mereka untuk masyarakat. Menjadi sosok yang kreatif, inovatif, percaya diri, dan yang lebih penting lagi senantiasa tawakkal dan istiqamah.

Pendidikan berbasis aqidah adalah sebuah pendekatan religi terhadap pendidikan, yang artinya suatu ajaran religi dari agama tertentu dijadikan sumber inspirasi untuk menyusun teori atau konsep-konsep pendidikan yang dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan pendidikan. Ajaran religi yang berisikan kepercayaan dan nilai-nilai kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode, bahkan sampai pada jenis-jenis pendidikan.

(38)

Pendidikan bukan hanya bertujuan menciptakan manusia-manusia cerdas di bidang sains dan teknologi, cerdas di sisi intelektualitasnya, tetapi juga harus mampu menumbuhkembangkan sikap dan semangat keagamaan yang terbuka (inklusif), karena keduanya tidak dapat dipisahkan.

Keduanya diharapkan dapat 3. Nilai Nilai Pendidikan Akidah

Nilai nilai pendidikan akidah secara umum adalah keyakinan secara mendalam dan benar lalu merealisasikan dalam perbuatan. Sedangkan akidah dalam agama islam berarti percaya sepenuh nya kepada ke Esa- an allah, di mana allah pemegang kekuasaan tertinggi dan pengatur segala apa yang ada di sejagad raya. Aqidah di ibarat kan sebagai pondasi bangunan sehinggah akidah harus di rancang dan di bangun terlebih dahulu di banding bagian bagian lain nya.

Aqidah harus di bangun dengan kuat dan kokoh agar tidak mudah goyah yang menyebabkan bangunan menjadi runtuh. Bangunan yang di maksud disini adalah islam yang benar, menyeluruh dan sempurna.

Aqidah merupakan misi yang di tugaskan allah untuk semua Rasul-Nya dari pertama sampai dengan terakhir. Aqidah tidak dapat berubah karna pergantian nama, tempat, atau karna perbedaan pendapat suatu golongan.12

Berbicara menegani akidah tentunya tidak lengkap tanpa adanya akhlak. Akhlak adalah wujud realisasi dan aktualisasi diri dari akidah seseorang. Dengan nilai akidah yang benar akan mendorong seseorang

12 Kasmali,Sinergi Implementasi Antara Pendidikan Akidah dan Akhlak menurut Hamka, hlm 270

(39)

dengan jalan yang benar untuk menjalankan ibadah kepada allah dan melakukan perbuatan yang baik. Dari segi pembahasan, akidah membahas tentang Tuhan, baik dari zat, sifat dan perbuatan. Nilai adalah taksiran, sifat sifat (hal-hal) yang penting di anggap perlu atau yang berguna bagi kemanusian yang dapat mendorong manusia mencapai tujuan nya. Nilai dalam bahasa arab di sebut al-Qimah atau al-Taqdr.13

Nilai adalah alat yang menunjukan alasan dasar bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih di sukai secara sosial di bandingkan cara pelaksanaan nya keadaan akhir tertentu lebih di sukai secara sosial di bandingkan cara pelaksanaan nya keadaan akhir yang berlawanan. Nilai memuat element pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik atau di inginkan.14

Pendidikan pada hakikat nya adalah suatu perwujudan nilai –nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Bhasa pengertian nilai yang di maksud adalah sifat sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusian.15 Secara definitif, moral adalah nilai –nilai yang bertanam dalam kepribadian seseorang “ nilai nilai tersebut adalah ada yang bersifat agama maupun semua nilai-nilai yang ada di masyrakat.16

13 Anas Sudion, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2005) hlm 1

14 Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi BukuI, (Jakarta: Salemba Empat, 2007 hlm 146 15 Akmal Hawi, Perkembangan Pemikiran Pendidikan Dalam Islam, (Palembang, IAIN Raden Fatah Press, 2006) hlm 79

16 Nurlaili, Kualitas Guru Agama Abad XXI (Palembang: Tunas Gemilang Pres 2012) hlm 40

(40)

Nilai merupakan suatu sifat atau tujuan dari kehidupan seseorang atau segolongan sedemikian rupa sehinggah orang yang bersangkutan mempunyai hasrat agar sifat atau tujuan ini harus berlaku.17 Dari pendapat di atas maka nilai dapat di artikan makna yang terkandung di dalam suatu hal yang bersifat positif atau baik sehinggah untuk dapat menilai tersebut harus mengikuti tuntunan atau mengikuti alur untuk mencapai nilai tersebut.

Pendidikan Islam sebagai proses transfer pengetahuan, transfer metode dan transfer nilai nilai.18 Secara Filosofis, nilai sangat terkait dengan masalah etika. Etika juga sering di sebut filsafat nilai yang mengkaji nilai-nilai moral sebagai tolak ukur tindakan dan perilaku manusia dalam berbagai aspek kehidupan nya. Dalam konteks etika pendidikan dalam islam maka sumber etika dan nilai-nilai yang penting adalah Al-Qur’an dan Sunah.19

Nilai adalah bagian yang penting atau berguna sebagai tolak ukur tindakan atau perbuatan manusia. Dari penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa nilai adalah suatu hal yang di anggap memiliki makna, baik makna negatif, makna positif, baik atau buruk dan benar atau salah.

17 Ali Nurdin dkk, Pendidikan Agama Islam ( Jakarta : Universitas Terbuka, 2011)hlm 1

18 Ahmad Tantowi,Pendidikan Islam Di Era Tranformasi Global ( Semarang:PT Pustaka Rizki Putra,2009) hlm 22

19 Said Agil Husin Al-Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Dalam Sistem Pendidikan Nasional, ( Ciputat : Ciputat Press, 2005) hlm 3

(41)

4. Macam- Macam Penanaman Nilai Nilai Pendidikan Aqidah

Adapun macam-macam nilai menurut Robins Stepen P adalah sebagai bertikut :

a. Nilai Material : Yang di maksud nilai material adalah jumlah pengetahuan yang di ajarkan, semakin lama akan semakin banyak yang di dapat

b. Nilai Formal : Nilai Formal adalah niali pembentukan yang berkaitan dengan daya serap atas pengetahuan yang telah di terimanya.

c. Nilai Fungsional : Ialah Relevansi pengtahuan dengan kehidupan sehari –hari

d. Nilai Esensial : Nilai Hakiki seperti ajaran agama Islam20

Sedangkan Ali Nurdin dkk berpendapat, nilai nilai terbagi menjadi dua, Pertama nilai-nilai yang bersifat asasi atau absolut. Nilai ini tidak mengalami perubahan oleh zaman dan waktu. Kedua, nilai-nilai yang bersifat isntrumental, karena berupa alat saja sehinggah lebih cenderung untuk berubah. Jika ia di ganti dengan alat yang lebih baik makaia berubah dan berganti sama sekali.21

Neong Muhadjir dalam ilmu pendidikan dan perubahan sosial teori pendidikan pelaku sosial kreatif membagi nilai-nilai menajdi dua macam berakitan dengan fungsi pendidikan. Yakin inilah dan nilai ilahiah pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat. Nilai nilai insniah merupakan

20 Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Akasara 2008) hlm 192-195

21 Ali Nurdin dkk Pendidikan Agama Islam, Op. Cit hlm 42

(42)

nilai nilai yang melalui para rasul seperti taqwa, iman, adil dan sebagainya.

Selanjutnya berhubungan dengan pengertian pendidikan islam adalah proses tranformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai nilai pada diri anak. Nilai-nilai tersebut yang di maksud nilai-nilai ilahi dan nilai- nilai insani.22

a. Nilai Ilahi adalah mempunyai dua jalur : pertama nilai yang bersumber dari sifat sifat allah yang tentang dalam AL-Maul Husna sebanyak 99 nama yang indah. Kedua Nilai yang bersumber dari hukum hukum allah, baik berupa hukum linguistik-verbal (qurani) maupun verbal (kauni)

b. Sedangkan nilai insani merupakan nilai yang terpancar dari daya cipta, rasa manusia yang tumbuh untuk memenuhi kebutuhan peradaban manusia.

Dapat di pahami macam-macam nilai secara garis besar umum terbagi menjadi dua yakni nilai absolut yang berasal dari Tuhan berupa ajaran yang di turunkan melalui wahyu, dan nilai nilai adat merupakan hasil kesepakatan manusia.

Aqidah tidak dapat berubah karna pergantian nama, tempat, atau karna perbedaan pendapat suatu golongan.23 Berbicara menegani akidah tentunya tidak lengkap tanpa adanya akhlak. Akhlak adalah wujud realisasi dan aktualisasi diri dari akidah seseorang. Dengan nilai akidah

22 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Hamzah, 2011) hlm 229-30

23 Kasmali, Sinergi Implementasi Antara Pendidikan Akidah dan Akhlak menurut Hamka, hlm 270

(43)

yang benar akan mendorong seseorang dengan jalan yang benar untuk menjalankan ibadah kepada allah dan melakukan perbuatan yang baik.

Dari segi pembahasan, akidah membahas tentang Tuhan, baik dari zat, sifat dan perbuatan. Kepecayaan dan iman yang kuat Tuhan tersebut memberikan landasan untuk mengarahkan amal perbuatan yang di lakukan oleh manusia, sehinggah perbuatan yang di buat manusia itu akan terwujud semata mata karna allah.24

B. Konsep Pelaksanaan Shalat Sunnah 1. Pengertian Shalat Sunnah

Shalat adalah menurut bahasa, sholat adalah doa. Sedangkan menurut istilah syariat, pengertian solat adalah ibadah yang terdiri dari bacaan bacaan khusus yang di awali dengan takbir kepada allah dan di akhiri dengan salam.25 Sholat sunah adalah shalat yang dianjurkan untuk dilaksanakan namun tidak diwajibkan sehingga tidak berdosa bila ditinggalkan dengan kata lain apabila dilakukan dengan baik dan benar serta penuh ke ikhlasan akan tampak hikmah dan rahmat dari Allah yang begitu indahSholat merupakan rukun islam yang kedua setelah dua kalimat syahadat. Allah mewajibkan Nya melalalui nabi muhammad penutup para nabi pada malam Mirojd di langit, berbeda dengan syariat yang lain. Hal Ini menjadi bukti dan dan keagungan dalam kedudukan allah yang tinggi di sisi-Nya.

24 Muhammad Assorudin Al Jumhuri, Aqidah Akhlak Asas Tauhid dan Asas Islmiyah PT Unggul Pebri Hastanto (Jakarta: 2019) hlm 9-14

25 Ust. Abdurahhim Hamdi M, Ag Kitab Suci Paduan Shalat hlm 6-7

(44)

Allah SWT setiap hari merintahkan untuk sholat setiap hari kepada hamba nya, tentu banyak manfaat nya dan luar biasa, apa lagi untuk manusia sebagai pelaku utama yang di muliakan oleh Allah di bandingkan dengan hamba lain nya. Shalat adalah kewajiban yang harus di penuhi manusia yang sudah baligh dan cukup umur, selama masih bisa menghirup udara selama itu pula sholat yang wajib di kerjakan dan di laksnakan nya demikian lah penting nya kedudukan dalam sholat.

2. Macam-Macam Shalat Sunah a. Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib adalah sholat sunnah yang dikerjakan mengiringi sholat fardhu. Waktu mengerjakannya sebelum atau sesudah sholat wajib lima waktu. Shalat sunnah rawatib ada 22 rakaat yaitu empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelah nya, empat rakaat sebelum asar, dua rakaat sebelum maghrib dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat sebelum shalat isya dan dua rakaat setelah nya, dua rakaat sebelum subuh.

Keutamaan shalat sunnah rawatib pertama shalat adalah sebaik baiknya amalan, kedua akan meninggikan derajat di surga, ketiga menutup kekurangan dalam shalat wajib, keempat rutin mengerjakan shalat sunnah rawatib 12 rakaat dalam sehari akan di bangunkan rumah di surga. Waktu pelaksanaan shlat sunnah rawatib yang mengikuti shalat wajib. Pemisah antara sunnah rawatib dan shalat wajib dengan

(45)

keluar masjid. Di sunnah kan meninggalkan shalat sunnah rawatib saat berpergian kecuali sunnah sebelum subuh.

b. Sholat Dhuha

Sholat sunnah ini dikerjakan pada waktu matahari naik kira- kira sepenggalah sampai matahari agak tinggi dan agak kepanasan.

Kira-kira pukul 07.00-11.00, jumlah rakaat boleh 2, 4, 6, dan paling banyak 12 rakaat.

c. Sholat Tahiyatul Masjid.

Sholat Tahiyatul Masjid adalah sholat sunnah dua rakaat.

Sholat ini dilakukan pada saat masuk masjid sebelum duduk.

d. Sholat Istikharah

Sholat Istikharah yang dilakukan sehari-hari kita sering dihadapkan pada pilihan yang harus kita putuskan. Untuk mendapatkan kemantapan putusan kita disunnahkan sholat istikharah dua rakaat. Setelah sholat istikharah hendaklah membaca tahmid dan sholawat Nabi SAW. Sholat istikharah adalah sholat sunnah yang dilakukan untuk mengambil keputusan.

e. Sholat Istisqa’

Sholat istisqa’ adalah sholat sunnah yang ditunaikan untuk memohon kepada Allah agar diturunkan air hujan. Hal ini karena kekurangan air akibat kemarau panjang.

(46)

f. Sholat Hari Raya (Id)

Sholat Hari Raya dalam Islam ada dua yakni sholat Idul Fitri pada 1 Syawal tahun Hijriah dan Sholat Idul Adha 10 Zulhijjah tahun Hijriah.

g. Sholat Sunnah Gerhana

Sholat sunah gerhana dikerjakan saat terjadi gerhana bulan maupun gerhana matahari. Jumlah rakaatnya adalah dua rakaat.

h. Qiyamul Lail (Sholat Tahajud, Tarawih, dan Witir)

Bangun malam atau sering dikanal dengan istilah (qiyamul lail) untuk menunaikan sholat malam adalah satu-satunya sholat sunnah yang diperintahkan langsung dalam Al Quran. Sholat ini merupakan sholat terbaik sesudah sholat wajib. Sholat malam disebut sholat tahajud karena sebelumnya didahului dengan tidur. Disebut sholat tarawih karena ditunaikan pada malam bulan Ramadhan.

Disebut witir karena jumlah rakaatnya ganjil. Semua sholat qiyamul lail dilakukan pada malam hari. Jumlah rakaat sholat tahajud ada 11 rakaat. Pengerjaannya bisa 2 rakaat, 4 rakaat, kemudian sholat witir 3 rakaat.

(47)

i. Sholat sunnah safar

Sholat sunnah safar dilakukan ketika seseorang akan menunaikan bepergian atau ketika datang bepergian. Jumlah rakaat yakni dua rakaat.26

3. Manfaat Shalat Sunnah

a. Akan menutupi kekurangan sholat wajib b. Di hapuskan dosa dan di tinggikan derajat nya c. Menjaga dari perbuatan keji dan mungkar d. Menambah kedekatan pada allah

e. Menambah pahala C. Shalat Sunah Rawatib

1. Pengertian Shalat Rawatib

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu (shalat fardu).27 Shalat rawatib adalah shalat sunnah dua rakaat atau

empat rakaat, tetapi pelaksanaannya tetap dua rakaat satu salam, yang dilaksanakan sebelum atau sesudah shalat wajib lima waktu, dilaksanakan secara munfarid (sendiri-sendiri) tidak berjam’ah dan cara pelaksanaan nya seperti melaksanakan shalat biasa dua rakaat.28

Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa yang shalat dua belas rakaat pada siang dan malam, akan dibangunkan baginya rumah di surga.”

26 Ust. Abdurahhim Hamdi M.Ag, Ust Kalilurahman Al-Mahfani S.Pd Kitab Suci Panduan Shalat hlm 20-28

27 Ahmad Sultoni, Panduan Salat Lengkap dan Praktis: Wajib dan Sunnah Disertai Dzikir dan Doa Sehari-hari (Yogyakarta: Media Firdaus, 2017), 133.

28 Mukhammad Maskub, Tuntunan Shalat Wajib dan Sunat, Ala Aswaja; Disertai Dalil AlQur‟an/Hadits (Kebumen: Mediatera, 2016), 466.

(48)

Ummu Habibah berkata: ”Saya tidak pernah meninggalkan shalat rawatib semenjak mendengar hadist tersebut” Anbasah berkata, “ Saya tidak pernah meninggalkan nya setelah mendengar hadist tersebut dari Ummu Habibah”. Amru bin Aus berkata, “saya tidak akan pernah meninggalkan setelah saya mendengar hadist tersebut dari Anbasah”. An’uam bin salim berkata “saya tidak pernah meninggalkan setelah mendengar hadist tersebut dari Amru Bin Aus ”( H.R Muslim).29

Berdasarkan hadist di atas, dapat di simpulkan bahwa shalat rawatib yaitu shalat sunnah yang pelaksanaannya mengiringi shalat lima waktu, baik itu shalat sunnah qabliyah (sebelum shalat wajib) maupun ba‟diyah (sesudah shalat wajib) yang dilakukan secara munfarid. Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu yang lima. Dikerjakan sebelum mengerjakan shalat fardhu atau sesudahnya.

Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat fardhu disebut shalat sunnah qabliyyah, sedangkan yang dikerjakan sesudah shalat fardhu disebut shalat sunnah ba’diyyah. Hukum mengerjakan shalat sunnah rawatib adalah sunnah yaitu bila dikerjakan mendapat pahala, apabila ditinggalkan tidak berdosa.30

Shalat sunnah rawatib ada dua macam, yaitu Shalat Sunnah Rawatib Muakkad. Shalat sunat rawatib muakkad adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan (diutamakan) oleh Nabi Muhammad Saw. untuk

29 Ibnu Watiniyah, Tuntunan Lengkap Salat, Doa, dan Zikir (Jakarta: Kaysa Media, 2016), 175.

30 Harianto Oghie, Buku panduan Fikih/Kementerian Agama,- Jakarta : Kementerian Agama 2016 hlm 17

(49)

dikerjakan. Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad. Shalat sunnah rawatib ghairu muakkad yaitu shalat sunnah yang kurang dianjurkan (kurang diutamakan) oleh Nabi Muhammad Saw. untuk dikerjakan.31 2. Niat Shalat Sunnah Rawatib

Niat shalat sunnah rawatib muakkad, yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk dikerjakan, sebagai berikut:

a. Lafadz niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat qabliyyah Dzuhur.

Artinya : “Aku niat shalat sunnah dua rakaat sebelum Dzuhur karena Allah Ta’ala.”

b. Lafadz niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat ba’diyyah Dzuhur

Artinya : “Aku niat shalat sunnah dua rakaat sesudah Dzuhur karena Allah Ta’ala.”

c. Lafadz niat shlat sunnah rawatib ba’diyyah Maghrib

Artinya : “Aku niat shalat sunnah dua rakaat sesudah Maghrib karena Allah Ta’ala.”

d. Lafadz niat shlat sunnah rawatib ba’diyyah Isya’.

Artinya : “Aku niat shalat sunnah dua rakaat sesudah Isya’ karena Allah Ta’ala.”

e. Lafadz niat shlat sunnah rawatib qabliyyah Shubuh.

Artinya: “Aku niat shalat sunnah dua rakaat sebelum Shubuh karena Allah Ta’ala.”32

31 Harianto Oghie, Buku panduan Fikih/Kementerian Agama,- Jakarta : Kementerian Agama 2016 hlm 18-19

32 Harianto Oghie, Buku panduan Fikih/Kementerian Agama,- Jakarta : Kementerian Agama 2016 hlm 20-21

(50)

3. Praktik Shalat Sunnah Rawatib

Melaksanakan shalat sunnah rawatib sebaiknya dibiasakan setiap hari sejak kecil supaya menjadi kebiasaan yang baik dalam hidup kita dan terbiasa melakukan hal-hal yang sunnah.

Gerakan dan bacaan shalat sunnah rawatib sama dengan shalat fardhu kecuali bacaan niatnya. Adapun tata cara mengerjakan adalah sebagai berikut:

• Niat sesuai dengan waktunya, qabliyyah atau ba’diyyah.

•Takbiratul ihram dilanjutkan dengan membaca surah al-Fatihah, kemudian membaca surah pendek. Pada umumnya pada rakaat pertama membaca surah al-Kafirun, dan surah al-Ikhlas pada rakaat kedua.

• Kemudian ruku’, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, sujud yang kedua, kemudian berdiri melanjutkan rakaat kedua.

• Rakaat yang kedua caranya sama dengan rakaat pertama. Setelah sujud kedua,dilanjutkan dengan tasyahud akhir, kemudian salam.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan shalat sunnah rawatib, yaitu:

1. Shalat sunnah rawatib dikerjakan secara munfarid (sendiri-sendiri).

2. Bacaan shalat sunnah rawatib tidak dinyaringkan.

3. Shalat sunnah rawatib qabliyyah dikerjakan sebelum iqamat.

(51)

4. Tempat melaksanakan shalat sunnah rawatib sebaiknya bergeser sedikit dari tempat shalat fardhu.33

4. Ketentuan Shalat Rawatib

Sesuai dengan namanya, hukum shalat rawatib adalah sunnah.

Macam macam shalat rawatib ada dua, yaitu sunnah muakkad (sangat dianjurkan untuk dikerjakan) dan ghairu muakkad (tidak terlalu dianjurkan/ditekankan untuk dikerjakan).34

Sunnah muakkad adalah shalat sunnah yang sering dikerjakan oleh Rasulullah SAW. dan jarang sekali ditinggalkan oleh beliau. Sunnah ghairu muakkad adalah shalat sunnah yang jarang dikerjakan oleh Rasulullah SAW. dan sering ditinggalkan oleh beliau.

5. Waktu Shalat Rawatib

a. Bilangan Rakaat Shalat Rawatib Muakkad

Shalat rawatib muakkad adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Berikut ini adalah yang termasuk dalam shalat rawatib muakkad:

 2 rakaat qabliyah dhuhur

 2 rakaat ba‟diyah dhuhur

 2 rakaat ba‟diyah maghrib

 2 rakaat ba‟diyah isya‟

33 Harianto Oghie, Buku panduan Fikih/Kementerian Agama, Jakarta: Kementerian Agama 2016 hlm 23-24

34 Fahmi Kurniawan, Buku Panduan Praktis Shalat Lengkap: Wajib dan Sunnah Plus Zikir dan Doa Mudah Dipahami, Belajar Shalat Fardhu dan Sunnah Jadi Mudah! (tt: Checlist, 2016), 142.

(52)

 2 rakaat qabliyah shubuh.35

Hal ini sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW. di dalam sabdanya:

“Saya menghafalkan 10 rakaat (shalat sunnah) dari Nabi SAW. yaitu dua rakaat qobliyah (sebelum) dhuhur, dua rakaat ba‟diyah (sesudah) dhuhur, dua rakaat ba‟diyah (setelah) maghrib di rumahnya, dua rakaat ba‟diyah (setelah) isya‟ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat shubuh.”(H.R. Imam Bukhari dan Muslim)

b. Bilangan Rakaat Shalat Rawatib Ghairu Muakkad

Shalat rawatib ghairu muakkad adalah shalat sunnah yang tidak begitu diutamakan atau tidak dianjurkan untuk dikerjakan.

Shalat rawatib ghairu muakkad mempunyai keistimewaan dan keutamaan yang besar sebagaimana yang sunnah muakkad, namun tidak sebesar atau seutama yang sunnah muakkad.

Adapun yang termasuk dalam bagian shalat rawatib ghairu muakkad adalah:

 2 rakaat qabliyah dhuhur

 2 rakaat ba‟diyah dhuhur

 4 rakaat qabliyah ashar

 2 rakaat qabliyah maghrib

 2 rakaat qabliyah isya.36

35 Sayuti, Tuntunan Shalat Rawatib-Dilengkapi Dengan Do‟a-Do‟a Pilihan, Arab- Indonesia (tt: Sangkala, tth), 7.

(53)

6. Adab Shalat Rawatib

Adab melaksanakan shalat rawatib adalah sebagai berikut:

a. Shalat rawatib tidak didahului adzan dan iqomah.

b. Shalat rawatib dilakukan secara munfarid atau sendiri.

c. Shalat rawatib boleh dikerjakan di rumah, di musholla, atau di masjid.

d. Bacaan tidak dinyaringkan dan dilakukan setiap dua rakaat satu salam.

e. Nabi Muhammad SAW. sering berpindah tempat dari tempat shalat fardlu sebelum melakukan shalat rawatib.

Beberapa adab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat rawatib paling utama itu adalah dikerjakan di dalam rumah. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. di dalam sabdanya yang artinya:

“Shalatlah kamu di rumahmu, sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat fardlu.”

7. Keutamaan Shalat Rawatib

Ada beberapa keutamaan dalam melakukan shalat rawatib, di antaranya:

a. Menyempurnakan shalat fardlu.

b. Menambah kebaikan/pahala.

c. Dicintai Allah SWT.

d. Doa yang kita panjatkan cepat dikabulkan oleh Allah SWT.

36 Sayuti, Tuntunan Shalat Rawatib-Dilengkapi Dengan Do‟a-Do‟a Pilihan, Arab- Indonesia (tt: Sangkala, tth), 28

(54)

e. Terhindar dari siksa api neraka.

f. Mengandung beberapa hikmah yang tidak terkandung pada ibadah- ibadah yang lain.37

D. Hubungan Nilai Nilai Pendidikan Akidah Dengan Shalat Sunnah Rawatib

1. Hubungan Nilai Akidah Dengan Shalat Sunah Rawatib

Sebagai Dzat yang maha mencipta, Allah Tahu akan kekurangan hamba hamba nya. Karna itu, dia senantiasa membuka ruang bagi mereka untuk memperbaiki dan menutupi kekurangan tersebut. Demikian halnya dalam urusan shalat fardu. Tahu akan kekurangan shalat farduh yang mereka lakukan, dia mensyariatkan shalat sunnah pengiringannya.

Itu lah shalat sunnah rawatib, salah satu hikmah nya adalah sebaagi penambal untuk penyempurna kekurangan yang mungkin selalau terjadi di dalam nya. Pada hal, setiap muslim tau bahwa amal shalat fardu adalah amal hamba yang pertama kali di hisab, sebagai mana yang di jelaskan dalam hadist riwayat Abu Hurairah berikut ini. Dalam riwayat tersebut, Muhamad SAW besabda :

Seseungguh nya amal hamba yang pertama kali di hisab pada hari kiamat adalah shalat fardu. Itupun jika sang hamba menyempurnakan nya.

Jika tidak, maka di sampaikan “ Lihat lah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (shalat) sunah ?” Jika memiliki amalan shalat sunnah,

37 Sayuti, Tuntunan Shalat Rawatib-Dilengkapi Dengan Do‟a-Do‟a Pilihan, Arab- Indonesia (tt: Sangkala, tth), 30

(55)

sempurnakan amalan shalat fardu dengan amal shalat sunnah nya.

Kemudian, perlakukan lah amal amal fardu lain nya seperti tadi.”

(H.R Ibnu Majah). Hadist Ini mencakup semua jenis shalat sunnah, termasuk shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah yang mengiringi shalat fardu. Dengan demikian betapa penting nya amalan shalat sunnah. Begitu pula shalat sunnah rawatib. Sampai sampai imam Ar-Rafi’i, pengikut mazhab safi’i, orang yang bisa meninggalkan shalat sunnah rawatib layak di tolak kesaksian nya, karna di anggap menyepelekan sunnah.

Imam Ar-Rafi’i menyebutkan dalam pembahasan tentang muruah bahwa orang yang biasa meninggalkan shalat sunnah rawatib, tasbish rukuk, dan sujud layak di tolak kesaksian nya karna di anggap menyepelkan sunah. Ini jelas bahwa melalaikan diri untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perkara sunnah menyebabkan di tolak nya kesaksisan walapun tidak ada dosa di dalam nya.38 Jumlah Rakaat shalat sunah rawatib memang beragam, mengingat banyak nya riwayat tentang nya. Ulama Syafi’i membaginya menjadi dua golongan yaitu ada yang muakad, ada yang gairul muakad. Yang muakad berjumlah sepuluh rakaat sisa nya gairul mu’akad.

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang di arahkan untuk mematangkan potensi fitrah manusia, agar setelah tercapai kematangan itu, yang mampu memerankan diri sesuai dengan amanah

38 Ibnu Hajar al haitami, Al jawazir an iqtirafil-Kba’ir, 1987 percetakan pertama, jilid 2, hlm 318

Gambar

Foto 1 “Lingkungan Sekolah”.
Foto 2 “Kondisi Lingkungan Sekolah”
Foto 4 “Peneliti Bersama Siswa-Siswi Pondok Al-Karim Kota Bengkulu”
Foto 5 “Siswa-Siswi sedang Istirahat di Pondok Al-Karim Kota Bengkulu”
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini terjadi pada informan dua dan tiga , ketika anak tersebut mengalami cacat tubuh dan anak terlalu bergantung pada orang dewasa (Solihin, 2004). Hal ini di dukung