BAB I PENDAHULUAN
E. Kerangka Teori
1. Konsep Dasar Pengawas Madrasah
Eksistensi pengawas madrasah dinaungi oleh sejumlah dasar hukum. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 merupakan landasan hukum terbaru yang menegaskan keberadaan pejabat fungsional tersebut. Selain itu Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 dan Peraturan menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara Nomor 118 tahun 1996 (disempurnakan dengan keputusan nomor 097/U/2001) merupakan menetapkan pengawas sebagai pejabat fungsional yang permanen sampai saat ini.
Orang yang bertugas melakukan pengawasan madrasah disebut pengawas madrasah. Pengawas madrasah adalah “Guru Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan fungsional pengawas satuan pendidikan yang tugas, tanggungjawab dan wewenangnya melakukan pengawasan akademik dan manajerial pada madrasah”.16
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 143/
2014, juga dinyatakan bahwa :
Pengawas sekolah adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis
16 Menteri Agama Republik Indonesia, Peraturan Agama Republik,2.
pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah, dasar, dan menengah. Dengan tugas pokok adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional Guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas pengawasan didaerah khusus17
Sedangkan “Pengawas Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah adalah Pengawas Sekolah yang mempunyai tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh dalam melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah”18
Jadi, pengawas yang dimaksud di sini adalah tenaga profesional yang dalam melaksanakan tugasnya dan tanggungjawabnya membantu para pengelola dan pelaksana pendidikan, guna memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran di madrasah. Hal itu dapat dicapai melalui langkah-langkah yang sistematis agar dapat diterima secara lebih efektif.
b. Tugas dan Tanggungjawab Pengawasan
Dari definisi pengawas madrasah di atas, maka dapat dipahami bahwa tugas dan tanggungjawab pengawas adalah untuk memimpin, membantu, membimbing, dan membina para pengelola dan pelaksana pendidikan yang berorientasi kepada individu manusia, dan memusatkan perhatiannya kepada proses peningkatan keterampilan masing-masing guru, sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan keguruannya.
17 Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI., Nomor 143 Tahun 2014 tentang Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah Dan Angka Kreditnya, 1 dan 7
18 Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI., Nomor 143 Tahun 2014 tentang Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan, 6
Secara operasional tugas dan tanggungjawab konkrit dari kegiatan pengawas pendidikan adalah membantu guru agar dapat lebih mengerti, menyadari tujuan-tujuan di sekolah, dan fungsi sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, kemudian membantu guru agar mereka lebih mengerti, menyadari kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi para siswanya, supaya dapat membantu siswa itu lebih baik lagi; melaksanakan kepemimpinan efekif dengan cara yang demokratis dalam rangka meningkatkan kegiatan-kegiatan profesional di madrasah, dan hubungan atara staf yang kooperatif untuk bersama-sama meningkatkan kemampuan masing-masing.
Dalam peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2012 pada Bab II Pasal 3 ayat 1 dinyatakan bahwa “pengawas madrasah mempunyai tugas melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada madrasah”19
Sedangkan tanggung jawab pengawas madrasah dalam peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2012 dirinci pada Bab III Pasal 5 ayat 3 sebagai berikut :
a. Memberikan masukan, saran dan bimbingan dalam penyusunan pelaksanaan dan evaluasi program pendidikan dan/atau pembelajaran kepada Kepala Madrasah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota atau Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi.
b. Membantu dan menilai kinerja Kepala Madrasah serta merumuskan saran tindak lanjut yang diperlukan.
c. Melaksanakan pembinaan terhadap pendidik dan tenaga kependidik an di madrasah, dan
d. Memberikan pertimbangan dalam penilaian pelaksanaan tugas, dan penempatan Kepala Madrasah serta guru kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.20
19 Menteri Agama Republik Indonesia, Peraturan Agama Republik, 3
20 Menteri Agama Republik Indonesia, Peraturan Agama Republik, 4
Pandangan lain juga diperoleh penjelasan tentang tugas kongkrit dari pengawasan atau disebut juga supervisi pendidikan adalah:
1. Membantu guru-guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan.
2. Membantu guru-guru dalam membimbing pengalaman belajar murid-murid.
3. Membantu guru-guru dalam menggunakan sumber-sumber pebgalaman belajar.
4. Membantu guru-guru dalam menggunakan metode-metode dan alat- alat pelajaran modern.
5. Membantu guru-guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid- murid.
6. Membantu guru-guru dalam hal menilai kemajuan murid-murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri.
7. Membantu guru-guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru-guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka.
8. Membantu guru-guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya.
9. Membantu guru-guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber masyarakat dan seterusnya.
10. Membantu guru-guruagar waktu dan tenaga guru tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan sekolah.21
Dalam Permendibud Nomor 143 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah Dan Angka Kreditnya, dijelaskan tentang rincian tugas pengawas sekolah sebagai berikut :
1. Menyusun program pengawasan 2. Melaksanakan pembinaan guru
3. Melaksanakan pembinaan kepala sekolah
4. Memantau pelaksanaan standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, dan standar penilaian
5. Memantau pelaksanaan standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar sarana dan prasarana, dan standar pembiayaan
6. Melaksanakan penilaian kinerja guru
7. Melaksanakan penilaian kinerja kepala sekolah
8. Melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan pada sekolah binaan
21 Piet Suhartian dan Fran Mataheru, Prinsip & Tehnik Supervisi Penddikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1981), 24
9. Mengevaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan tingkat provinsi/ kabupaten/kota
10. Menyusun program pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGBK dan sejenisnya
11. Menyusun program pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah di KKKS/MKKS dan sejenisnya
12. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru
13. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah
14. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan kepala sekolah dalam menyusun program sekolah, rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi dan manajemen
15. Mengevaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru 16. Mengevaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan professional kepala
sekolah
17. Membimbing Pengawas Sekolah Muda dalam melaksanakan tugas pokok
18. Membimbing Pengawas Sekolah Madya dalam melaksanakan tugas pokok
19. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru dan kepala sekolah dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) dan atau penelitian tindakan sekolah (PTS)
20. Melaksanakan tugas pengawasan di daerah khusus
21. Pengembangan Profesi (menyusun karya tulis ilmiah dan/atau Penerjemahan/ penyaduran buku dan/atau karya ilmiah di bidang pendidikan formal/ pengawasan dan/atau membuat karya inovatif. 22
Selanjutnya menurut Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengawas Madrasah dan Pengawas Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah. Pengawas PAI pada sekolah, yaitu
Mempunyai tugas melaksanakan pengawasan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah. Pengawas PAI mempunyai fungsi melakukan penyusunan program pengawasan PAI, pembinaan, pembimbingan dan pengembangan profesi guru PAI, pemantauan penerapan standar nasional PAI, penilaian hasil pelaksanaan program pengawas, dan pelaporan pelaksanaan tugas pengawas.23
22 Permendibud Nomor 143 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah Dan Angka Kreditnya, 14
23 Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pengawas Madrasah dan Pengawas, 3
Beberapa tugas dan tanggung jawab pengawas madrasah sebagamana dikemukakan para ahli di atas dan ketentuan pemerintah menunjukkan betapa berperannya pengawas dalam rangka memberikan bimbingan bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran di madrasah baik bagi kepala madrasah maupun bagi guru yang bertanggungjawab terhadap kegiatan pendidikan dan pengajaran di madrasah.
c. Fungsi Pengawas
Di samping tujuan, pengawas dilakukan berdasarkan fungsi- fungsi yang telah ditetapkan. Berikut ini dipaparkan beberapa fungsi dari kegiatan pengawas. Daryanto dalam Administrasi Pendidikan menjelaskan bahwa fungsi pengawas yaitu: “1) menjalankan aktifitas untuk mengetahui situsi administrasi pendidikan, sebagai kegiatan pendidikan di sekolah dalam segala bidang; 2) menentukan syarat-syarat yang diperlukan untuk menciptakan situasi pendidikan di sekolah; dan 3) menjalankan aktivitas untuk mempertinggi hasil dan untuk menghitung hambatan-hambatan”.24
Rifa’i menjelaskan fungsi pengawas meliputi tujuh kegiatan, yaitu:
1. Pengawas sebagai kepemimpinan
Pengawas sebagai pemimpin mendapat kepercayaan guru-guru dan mempunyai pengaruh terhadap mereka. Sehingga dengan pengaruhnya dapat memimpin guru-guru ke arah tujuan yang akan dicapainya, yaitu peningkatan kemampuan mereka, sebagai pengawas yang berpengaruh ia berusaha agar nasehatnya, sarannya dan jika perlu perintahnya dituruti oleh guru-guru.
2. Pengawas sebagai inspeksi
Setiap administrasi memerlukan inspeksi, antara lain kontrol, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sampai di mana ketentuan-ketentuan
24 Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,2001),hal.179-180.
yang telah ditetapkan itu dijelaskan. Inspeksi juga merupakan titik tolok untuk selanjutnya diteruskan dengan kegiatan-kegiatan pengawasan.
3. Pengawas sebagai peneliti
Fungsi ketiga dari pengawas ini merupakan kelanjutan dari hasil inspeksi, yaitu untuk memperoleh data yang lebih lengkap, lebih obyektif dan relevan, sehingga dapat ditemukan sebab-sebab yang menghambat jalan dan hasilnya belajar.
4. Pengawas sebagai latihan dan bimbingan
Latihan dan bimbingan bagi pengawas dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian akan memberikan kemungkinan untuk memberikan latihan kepada guru-guru sebagai usaha meningkatkan kemampuan keprofesionalan guru sesuai dengan kebutuhan.
5. Pengawas sebagai sumber dan pelayanan
Seorang pengawas merupakan sumber nasihat, petunjuk, pengetahuan, dan ide. Hal ini berarti sebagai sumber informasi yang dapat memberi tahu di mana dan bagaimana memperoleh sumber yang diperlukan.
6. Pengawas sebagai koordinasi
Kemampuan dan kebutuhan guru masing-masing berlainan, baik bakat, perhatian, minat, lingkungan hidup serta latar belakang pendidikannya, akan tetapi meskipun kemampuan dan kebutuhan mereka berlainan, semua guru harus tetap menyadari bahwa mereka bekerja untuk tujuan yang sama, yaitu keberhasilan pendidikan dan pengajaran di sekolah.
7. Pengawas sebagai evaluasi
Kegiatan pengawas dalam mengevaluasi dimaksudkan untuk mengetahui apa yang telah dilaksanakan oleh guru dalam situasi dan kondisi tertentu untuk mencapai kegiatan belajar mengajar yang maksimal, dengan cara ini diharapkan dapat diketahui kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya, sehingga faktor-foktor apa yang telah mendorong atau menghambat dalam usahanya.
Pelaksanaan evaluasi dalam supervisi berbeda dengan evaluasi dalam ujian dan inspeksi. 25
Swearingan dalam Piet A. Suhartian dan Fran Mataheru mengemukakan 8 fungsi pengawasan atau supervisi, yaitu
1)mengkoordinir semua usaha sekolah, 2) melengkapi kepemimpin an sekolah, 3) memperluas pengalaman guru-guru, 4) menstimulir usaha-usaha yang kreatif, 5) memberian fasilitas dan penilaian yang terus-menerus, 6) menganalisis siatuasi belajar mengajar, 7) mem berikan pengetahuan/skill kepada setiap anggota staf, dan 8) membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.26
25 M. Rifai, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Jemmar,1992), .48-54.
26 Piet Suhartian dan Fran Mataheru, Prinsip & Tehnik Supervisi, 26
Jika fungsi disinonimkan dengan tugas pengawas atau supervisor, maka menurut Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 21 Tahun 2010 Pasal 5 disebutkan Tugas Pokok Pengawas Sekolah adalah
Melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantuan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.27
Berdasarkan fungsi pengawas sebagaimana pendapat para ahli di atas diperoleh pemahaman bahwa pengawas madrasah dituntut untuk melaksanakan fungsi kepengawasan baik ketika melaksanakan fungsi kepengawasannya sebagai kepemimpinan, sebagai inspeksi, sebagai peneliti, sebagai pelatih dan pembimbing dan juga sebagai penilai.
Yang jika dalam melaksanakan fungsinya dalam berbagai peran di atas, maka dapat dipastikan kepala madrasah dan guru dapat memperlihatka keberhasilannya dalam pengembangan lembaga dimana mereka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
d. Prinsip Pelaksanaan Pengawas
Kegiatan pengawas pendidikan dilaksanakan demi membantu guru-guru dalam usaha mengembangkan suasana pembelajaran yang lebih baik. Pelaksanaan pengawas yang menyangkut kegiatan pengawas pendidikan punya landasan yang tetap dan jelas sehingga terarah pada pencapaian tujuan. Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan pengawasan di lingkungan pendidikan ialah “bagaimana cara mengubah
27 Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, 5
pola pikir yang bersifat otokrat menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif”.28
Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi mana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu pengawasan harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif. Dengan demikian, maka prinsip pengawasan yang dilaksanakan adalah:
1) Prinsip ilmiah (scientific), yang mencakup unsur-unsur :
a. Sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu.
b. Obyektif, artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata, bukan tafsiran pribadi.
c. Menggunakan alat (instrumen) yang dapat memberi informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
2) Prinsip demokratis
a. Menjunjung tinggi azas musyawarah.
b. Memiliki jiawa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
3) Kooperatip
Maksudnya seluruh staf sekolah dapat bekerja bersama, mengembangkan usaha bersama dalam “mencipta”kan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
4) Konstruktip dan kreatip
Membina inisiatip guru serta mendorongnya untuk aktip menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat mengembangkan potensi-potensinya.29
Di samping prinsip-prinsip pelaksanaan pengawas sebagaimana dikemukakan di atas, juga diperoleh penjelasan perinsip pelaksanaan pengawas yang bersifat positif dan negatif. Dimaksudkan dengan prinsip
28 Piet A. Suhertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,2000),hal.20.
29 Piet Suhartian dan Fran Mataheru, Prinsip & Tehnik Supervisi, 30-31
positif adalah “prinsip-prinsip yang patut kita ikuti, sedangkan yang dimaksud dengan prinsif negatif yang merupakan larangan bagi kita”30.
Rincian dari prinsip-prinsip pelaksanaan pengawasan yang positif dan negatif lebih lanjut dinyatakan sebagai berikut :
1. Prinsip-prinsip positip
a. Supervisi atau pengawasan harus dilakukan secara demokratis dan kooperatip.
b. Supervisi atau pengawasan harus dilakukan dengan kreatif dan konsruktif.
c. Supervisi atau pengawasan harus dilakukan dengan scientific dan efektif.
d. Supervisi atau pengawasan harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru.
e. Supervisi atau pengawasan harus berdasarkan kenyataan.
f. Supervisi atau pengawasan harus memberi kesempatan kepada supervisor atau pengawas dan guru-guru untuk mengadakan self evaluation.
2. Peinsip-prinsip negatip
a. Superpisor atau pengawas tidak bersikap otoriter.
b. Supervisor atau pengawas tidak boleh mencari kesalahan pada guru-guru.
c. Supervisor atau pengawas bukan inspektur yang ditugaskan untuk memeriksa apakah peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi yang telah diberikan dilaksanakan atau tidak.
d. Supervisor atau pengawas tidak boleh menganggap dirinya lebih dari guru-guru oleh karena jabatannya.
e. Supervisor atau pengawas tidak boleh terlalu banyak memperhati kan hal-hal kecil dalam cara-cara guru mengajar.
f. Supervisor tidak boleh lekas kecewa, bila ia mengalami kegagal an.31
Memcermati prinsip-prinsip pelaksanaan pengawasan di atas, diperoleh pemahaman bahwa seorang pengawas dituntut untuk memiliki pemahaman dan ketrampilan dalam melakukan berbagai tugas dalam upaya memberikan perubahan dalam bentuk peingkatan pada guru-guru
30 Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Bina Aksara, 1982), 42
31 Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi, 42-44
dan kepala dengan selalu memperhatikan prinsi-prinsip pelaksanaan pengawasan sebagaimana dikemukakan di atas.
2. Profesional Pengawas Madrasah