BAB I PENDAHULUAN
E. Kerangka Teori
2. Profesional Pengawas Madrasah
dan kepala dengan selalu memperhatikan prinsi-prinsip pelaksanaan pengawasan sebagaimana dikemukakan di atas.
2. Profesional Pengawas Madrasah
a. Memiliki keterampilan yang mendasar pada pengetahuan teoritis, yaitu professional diasumsikan mempunyai pengetahuan teoritis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bias diterapkan dalam praktik
b. Memiliki aosiasi professional, yaitu badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, dengan maksud meningkatkan status para anggotanya dan mengatur organisasinya senidiri tanpa campur tangan pemerintah. Organisasi profesi adalah perkumpulan yang berbadan hokum yang didirikan dan diurus oleh profesi tertentuk untuk mengembangjkan profesionalitas anggota profesi tersebut c. Pendidikan yang ekstensif, yaitu sebagai profesi yang prestisius
memerlukan pendidikan formal di perguruan tinggi
d. Ujian kompetensi merupakan pintu masuk dan pemeliharaan kompetensi yang harus dimiliki seseorang sesuai dengan tuntutan profesi
e. Pelatihan instsitusional, yaitu pelatihan yang bertujuan untuk mendapat pengalaman praktis sebelum menduduki profesi tertentu dan meningkatkan keterampilan melalui pengembangan profesional sesuai dengan tuntutan kompetensi pada profesi tersebut
f. Lisensi/sertifikasi, yaitu pengakuan secara formal atas profesi dari lembaga atau institusi yang telah ditetapkan
g. Otomoni kerja, yaitu profesi tertentu memiliki hak mengendalikan kerja dan pengetahuan teoritis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar
h. Kode etik yang ditetapkan bagi para anggota profesi dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan
i. Layanan publik dan altruism, yaitu diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dan dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan public sesuai dengan layanan professional yang diberikannya
j. Status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para profesi tertentu sebagai pengakuan terhadap layanan professional yang mereka berikan bagi subjek dan sasaran keprofesiannya.34
Kata profesi secara harfiah berasal dari istilah “profession” yang berarti pekerjaan”35. Sedangkan pengertian secara terminologi” profesi diartikan sebagai pekerjaan mentalitas yang menuntut keprofesionalan dalam bidangnya dengan membutuhkan pendidikan yang sesuai dengan bidang masing-masing, karena pada hakikatnya profesi adalah
34 Zainal Aqib, Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran, (Surabaya : Indan Cendekia, 2002), 58
35 John M.Echols dan Hassan Shadly, Kamus Inggris Indonesia an English –Indonesia Dictionary (Cet.XIV;Jakarta:PT.Gramedia Pustaka, 2000), h.449.
sebuah pekerjaan yang menekankan pada mental, bukan pada pekerjaan manual”36. Profesi tertentu akan memberikan layanan sesuai dengan objek dan sasaran kerjanya, manakala dilaksanakan secara professional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, professional adalah profesionalisme yang berasal dari kata profession yang bermakna berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualitas dari seseorang yang professional.
Berdasarkan kajian beberapa referensi, ditemukan ciri-ciri profesional, di antaranya adalah keinginan untuk selalu :
a. Menampilkan perilaku yang mendekati kemampuan ideal.
Seseorang yang memiliki profesional yang tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan;
b. Meningkatkan dan memelihara imajinasi profesi melalui perwujudan perilaku professional;
c. Mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya;
d. Mengejar mutu dan cita-cita dalam profesi: Profesional ditandai dengan kualitas rasa bangga dan percaya diri akan profesi yang diampunya.37
Istilah “profesional” diadaptasikan dari istilah bahasa Inggris yaitu Profession yang berarti pekerjaan atau karier. Tafsiran Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (Edisi Empat) tentang definisi profesional sebagai:
1. Yang terkait dengan bidang profesi (seperti hukum, medis, dan lainnya);
36 Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan (Cet.l; Bandung: CV.Pustaka Setia, 2002), h.21.
37 Zainal Aqib, Profesionalisme Guru dalam, 146
2. Berbasis kemampuan atau keterampilan yang khusus untuk melaksanakannya, efisien, dan memperlihatkan kemampuan tertentu;
3. Melibatkan pembayaran dilakukan sebagai mata pencarian, mendapatkan pembayaran;
4. Orang yang mengamalkan (karena pengetahuan, keahlian, dan keterampilan) suatu bidang profesi;
5. Mmemprofesionalkan menjadikan bersifat atau kelas profesional.38
Profesional adalah “kegiatan atau profesi yang membutuhkan pendidikan profesi karena berhubungan dengan keahlian tertentu.”39 Dalam ensiklopedia manajemen kata profesional diartikan sebagai
“suatu jenis tugas, pekerjaan atau jabatan yang memerlukan standar kualifikasi, keahlian dan tingkah laku tertentu”40. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “professional itu menuntut pengabdian penuh dengan totalitas pada pekerjaan atau profesi yang dijalani”41. Artinya bagi seorang pengawas sekolah dan guru, harus dituntut professional dalam peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri, terlebih lagi dalam praktembya sehari-hari di lembaga pendidikan.
Pasal 7 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas sebagai berikut;
(1) memiliki bakat, minat; (2) panggilan jiwa dan idealisme;
memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang
38 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2007), 873
39Departemen Agama RI. Profesionalisme Pengawas Pendais, Dirjen Bimbaga Islam, Jakarta, 2003. h.83.
40 David B.Guralink, Webster’s New World Dictionary of the American Language, Second College Edition (Williem Collins World Publishing Co, Inc, n.d), h. 1134.
41 Nurdin, Muhammad. Kiat menjadi Guru Profesional, Cet.I; Yogyakarta: Presma Sophie,
2004. h.120.
tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan keprofesionalan; (6) memperoleh pengahsilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.42
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahawa pengawas professional adalah tenaga kependidikan yang membutuhkan kualifikasi kompetensi tertentu, seperti kecakapan marjerial, kecakapan akademik, dam kecakapan penilaian yang berasaskan kemampuan keahlian melalui pendidikan profesi kepengawasan.
2. Kriteria Pengawas yang Profesional
Seorang pengawas yang professional harus memiliki kecakapan dalam tiga hal, yaitu “kualifikasi, kompetensi, dan sertifikat pendidik.” 43. Kriteria pengawas yang profesional telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang kriteria yang harus dimiliki oleh seorang guru dan pengawas sekolah. Kriteria pengawas profesional dapat klasifikasikan sebagai berikut.
a. Kualifikasi Pengawas Sekolah/ Madrasah.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal 1 poin 9 tentang kebijakan guru dan dosen dijelaskan bahwa seorang guru dan dosen harus memiliki kualifikasi akademik. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan adalah “jenjang pendidikan keahlian
42 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
43 Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI no.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen( Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h.4.
sesuai dengan bidang, jenjang, jenis, dan satuan pendidikan di tempat pengabdian”44. Hal ini pun berlaku pula bagi calon pengawas dan pengawas sekolah, karena jenjang profesi pengawas sekolah adalah jenjang bertahap yang dimulai dari profesi guru atau dan jabatan kepala sekolah.
Kualifikasi pengawas Madrasah dan Pengawas PAI pada Sekolah memiliki kualifikasi sebagaimana yang tercantum pada Bab V Pasal 6 Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2012 sebagai berikut :
a. Kependidikan minimal S.1 atau diploma dari perguruan tinggi terakreditasi;
b. Berstatus sebagai guru bersertifikasi pendidik pada madrasah atau sekolah;
c. Memiliki pengalaman mengajar paling sedikit 8 tahun sebagai guru madrasah atau guru PAI di sekolah, yang dalam Peraturan Menteri Agama RI Nomor 31 Tahun 2013 sebagai pengganti Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2012 berbunyi memiliki pengalaman mengajar paling sedikit g (delapan) tahun sebagai Guru Madrasah atau Guru PAI pada Sekoiah atau 4 (empat) tahun sebagai Kepala Madrasah atau Kepala Sekoiah.
d. Memiliki pangkat minimum Penata Golongan Ruang III/c;
e. Memiliki kompetensi sebagai pengawas yang dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi Pengawas;
f. Berusia setinggi-tingginya 55 tahun;
g. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan setiap unsurnya paling rendah bernilai baik dalam 2 tahun terakhir, dan
h. Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang dan atau tingkat berat selama menjadi PNS.45
Berdasarkan Peratura Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah
44 Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI no.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen., 84.
45 Menteri Agama Republik Indonesia, Peraturan Agama Republik, 5
pada Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal (TK/RA) dan sekolah dasar (SD/MI), dinyatakan bahwa kualifikasi pengawas adalah : a) Berpendidikan minimum S1 atau D-IV dari perguruan tinggi
yang terakreditasi.
b) 1) Guru TK/RA bersertifikat pendidik sebagai guru TK/RA dengan pengalaman kerja minimum delapan tahun di TK/RA atau kepala sekolah TK/RA dengan pengalam kerja 4 tahun,untuk menjadi pengawas sekolah TK/RA. 2) Guru SD/MI bersertifikat pendidik sebagai guru SD/MI dengan pengalam kerja minimum delapan tahun sebagai guru SD/MI atau kepala sekolah SD/MI dengan pengalam kerja 4 tahun untuk menjadi kepala sekolah SD/MI
c) Memiliki pangkat minimum piñata, golongan RUANG III C d) Berusia setinggi-tingginya 50 tahun sejak diangkat sebagai
pengawas satuan pendidikan
e) Memenuhi kompetensi sebagai pengawas satuan pendidikan yang dapat diperoleh melalui uji kompetensi dan atau pendidikan dan pelatihan fungsional pengawas, pada lembaga yang ditetapkan pemerintah
f) Lulus seleksi pengawas satuan pendidikan.”46
Berdasarkan Peraturan pemerintah di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa seorang pengawas madrasah harus memenuhi kualifikasi pendidikan dan profesi keahlian sebagai prasyarat dasar menjadi pengawas sekolah. Kualifikasi pengawas madrasah mulai dari jenjang pendidikan, pengalaman kerja, pangkat golongan, kursus dan diskusrsus kepengawasan, intelegensi, dan keprofesionalan pengawas sekolah sangat dibutuhkan oleh sekolah/madrasah binaan di sekolah masing-masing. Tanpa pengawas madrasah yang professional, maka mustahil madrasah bisa berkembang dengan baik.
b. Kompetensi Pengawas Madrasah.
46 Departemen Pendidikan Nasional, Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanal RI, Nomor 12 Tahun 2007, Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), 3-4.
Kompetensi adalah instrumen penting yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mendukung tugas-tugas yang diemban dengan professional. Instrument ini bisa berupa “keterampilan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang harus dipelajari, dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh seseorang.”47
Terkait dengan kompetensi yang harus dimiliki, maka salah satu pedoman bagi pengawa madrasah berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2012 Bab VI Pasal 8 bahwa kompetensi pengawas madrasah yang harus dimiliki adalah : a. Kompetensi kepribadian;
b. Kompetensi supervisi akademik;
c. Kompetensi evaluasi pendidikan;
d. Kompetensi penelitian dan pengabdian, dan e. Kompetensi sosial.48
Lebih lanjut dinyatakan dalam Peraturan Menteri Agama di atas tentang penjabaran dari masing-masing kompetensi pengawas madrasah sebagai berikut :
1. Kompetensi kepribadian, adalah sebagai berikut : a. Memiliki akhlak mulia dan dapat diteladani;
b. Memiliki tanggungjawab terhadap tugas;
c. Memiliki kreatifitas dalam bekerja dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan tugas jabatan;
d. Memiliki keinginan yang kuat untuk belajar hal-hal yang baru tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan terknologi dan seni yang menunjang tugas pokok dan tanggungjawab, dan
47 Departemen Pendidikan Nasional. Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru
dan Dosen, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009). 84.
48 Menteri Agama Republik Indonesia, Peraturan Agama Republik, 5
e. Memiliki motivasi yang kuat kerja pada dirinya dan pada pihak-pihak pemangku kepentingan.
2. Kompetensi supervisi akademik, adalah sebagai berikut : a. Mampu memahami konsep, prinsip, teori dasar, karaktristik
dan perkembangan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
b. Mampu memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karaktristik, dan perkembangan proses pembelajaran/
bimbingan tidap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah.
c. Mampu membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah berlandaskan standar isi, standar kompetensi kompetensi dan kompetensi dasar dan prinsip- prinsip pengembangan kurikulum;
d. Mampu membimbing guru dalam memilih dan mengguna kan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
e. Mampu membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
f. Mampu membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboraturium dan/atau di lapangan untuk mengembangkan potensi siswa pada tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
g. Mampu membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembang an atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah, dan
h. Mampu memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah.
3. Kompetensi evaluasi pendidikan, sebagai berikut :
a. Mampu menyusun kriteria dan indicator keberhasilan pendidikan dan pembelajaran/bimbingan Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
b. Mampu membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
c. Mampu menilai kinerja Kepala Madrasah, guru, staf Madrasah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung
jawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
d. Mampu memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaik an mutu pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembang an atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah;
e. Mampu membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran/
bimbingan tiap bidang pengembang an atau mata pelajaran di Madrasah dan/atau PAI pada sekolah, dan
f. Mampu mengelola dan mengalisis data hasil penilaian kinerja kepala, kinerja guru dan staf Madrasah.
4. Kompetensi penelitian dan pengembangan, sebagai berikut : a. Mampu menguasai berbagai pendekatan jenis dan metode
penelitian dalam pendidikan;
b. Mampu menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti, baik untuk keperluan tugas pengawasan maupun untuk pengembangan karir;
c. Mampu menyusun propesi penelitian pendidikan baik proposal penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif;
d. Mampu melaksanakan penelitian pendidikan yang bermanfaat bagi tugas pokok dan tanggungjawabnya;
e. Mampu mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif;
f. Mampu menulis karya ilmiah dalam bidang pendidikan dan/atau bidang kepengawasan dan memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan;
g. Mampu menyusun pedoman panduan buku dan/atau modul yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan di Madrasah dan/atau PAI sekolah, dan
h. Mampu memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya di Madrasah dan/atau PAI sekolah.
5. Kompetensi social, sebagai berikut :
a. Mampu bekerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, dan
b. Aktif dalam kegiatan oragnisasi profesi pengawas satuan pendidikan dalam rangka mengembangkan diri.49