• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Disiplin Kerja

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 47-58)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Konsep Disiplin Kerja

Dari 2 ahli yang dirujuk terkait indikator kepemimpinan tersebut, maka dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan indikator kepemimpinan menurut Anoraga (2004), untuk mengetahui bagaimana Kepemimpinan pada Kantor PT PLN (Persero) ULP Kalebajeng Kabupaten Gowa.

“kedisiplinan artinya jika karyawan selalu datang serta pulang tepat pada waktu yang telah ditentukan perusahaan, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, serta dapat patuh terhadap semua peraturan perusahaan serta norma sosial yang berlaku.”

Menurut Rivai & Jauvani (2014), “disiplin kerja merupakan suatu alat yang digunakan para manajer dalam berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk dapat mengubah suatu perilaku serta sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran serta kesediaan dari seseorang untuk mentaati semua peraturan perusahaan serta norma-norma yang berlaku”.

Disiplin menurut Siswanto (2005:291) “merupakan suatu sikap menghormati, menghargai, patuh, serta taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik tertulis ataupun tidak tertulis dan sanggup dalam menjalankannya serta tidak mengelak untuk menerima sanksi jika ia melanggar tugas serta wewenang yang telah diberikan kepadanya”. Sutrisno (2016:89) menyatakan “disiplin merupakan perilaku seseorang yang sesuai dengan peraturan, prosedur kerja yang ada atau disiplin ialah sikap, tingkah laku, serta perbuatan yang sesuai dengan peraturan organisasi atau perusahaan baik tertulis ataupun tidak tertulis”.

Menurut Siagian (2003:305), berpendapat bahwa “pendisiplinan pegawai adalah bentuk dari pelatihan yang berusaha memperbaiki serta membentuk pengetahuan, sikap, maupun perilaku pegawai/ karyawan sehingga para pegawai dapat secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para pegawai/ karyawan yang lainnya.” Sutrisno dalam

Mirnawati, (2019:16) menyatakan bahwa “disiplin merupakan sikap hormat yang ada dalam diri karyawan terhadap peraturan dan ketetapan perusahaan, yang menyebabkan ia menyesuaikan diri dengan sukarela pada peraturan dan ketetapan perusahaan.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah sikap, tingkah laku, dan kesediaan karyawan dengan sukarela untuk menaati peraturan, prosedur kerja, dan norma-norma sosial yang berlaku dalam suatu perusahaan. Disiplin yang baik mencerminkan besarnya tanggungjawab seseorang terhadap tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Hal ini akan mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan organisasi.

2. Tujuan Pembinaan Disiplin Kerja

Menurut Siswanto (2005: 292), maksud dan sasaran dari disiplin kerja ialah terpenuhinya beberapa tujuan, secara umum tujuan utama pembinaan disiplin kerja yaitu demi kelangsungan perusahaan sesuai dengan motif perusahaan yang bersangkutan, baik hari ini maupun hari esok. Berikut, tujuan rinci mengapa pembinaan disiplin kerja perlu dilakukan oleh manajer yaitu :

a. Agar tenaga kerja menepati segala peraturan serta kebijakan ketenagakerjaan maupun peraturan dan kebijakan perusahaan yang berlaku, baik tertulis maupun tidak tertulis, serta melaksanakan perintah dari manajer;

b. Dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya serta mampu memberikan pelayanan maksimum terhadap pihak tertentu yang berkepentingan dengan perusahaan sesuai dengan bidang pekerjaan yang diberikan kepadanya;

c. Dapat menggunakan dan memelihara sarana dan prasarana, barang dan jasa perusahaan dengan sebaik-baiknya;

d. Dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku pada perusahaan;

e. Tenaga kerja mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sesuai dengan harapan perusahaan, baik dalam jangka waktu yang pendek ataupun jangka yang panjang.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja

Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan karyawan atau pegawai suatu organisasi/ perusahaan, diantaranya ialah menurut Hasibuan (2014:

194) yaitu:

1. Tujuan dan kemampuan

Tujuan serta kemampuan berpengaruh terhadap tingkat disiplin karyawan.

Adapun tujuan yang ingin dicapai harus jelas serta ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti pekerjaan yang dibebankan kepada karyawan harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki karyawan bersangkutan, agar dia bekerja bersungguh-sungguh dan berdisiplin baik untuk mengerjakannya.

2. Keteladanan pimpinan

Teladan pimpinan berperan penting dalam menentukan kedisiplinan karyawan, karena sosok pimpinan dijadikan sebagai teladan dan panutan oleh bawahan. Sebagai pimpinan maka harus memberi contoh yang baik, seperti berdisiplin baik, jujur, adil, serta sesuai kata dan perbuatan. Dengan adanya teladan dari pimpinan yang baik, maka tentu kedisiplinan bawahan akan ikut baik pula. Tetapi jika teladan dari pimpinan yang kurang baik atau kurang berdisiplin, maka para bawahan juga akan kurang disiplin.

3. Balas jasa

Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan karyawan, karena balas jasa dapat memberikan kepuasan serta kecintaan dari karyawan terhadap perusahaan atau pekerjaannya. Jika karyawan semakin baik dalam mencintai pekerjaannya, maka kedisiplinan mereka juga akan semakin baik.

4. Keadilan

Keadilan ikut mendorong terwujudnya disiplin dari karyawan, karena ego serta sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Seorang manajer yang baik dan cakap dalam kepemimpinannya akan selalu bersikap adil kepada bawahannya, hal ini karena dia menyadari bahwa keadilan yang baik akan dapat menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Apabila keadilan yang dijadikan sebagai dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman.

5. Waskat (pengawasan melekat)

Waskat ialah tindakan nyata serta paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan karena dengan waskat ini, berarti atasan harus aktif serta secara langsung mengawasi perilaku, moral, gairah kerja, serta prestasi kerja dari bawahannya. Hal ini berarti bahwa seorang atasan harus selalu ada/hadir ditempat pekerjaannya, supaya dapat mengawasi langsung dan memberikan petunjuk kepada bawahannya jika ada yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaannya.

Jadi, waskat ini menuntut adanya kebersamaan aktif antara atasan dengan bawahan dalam mencapai tujuan perusahaan. Waskat efektif untuk merangsang kedisiplinan dan moral kerja karyawan, karena karyawan merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk, pengarahan dan pengawasan dari atasannya.

6. Sanksi/hukuman

Sanksi/ hukuman memberikan peranan penting dalam memelihara kedisiplinan karyawan. Dengan sanksi/hukuman yang semakin berat karyawan akan semakin takut untuk melanggar peraturan-peraturan dari perusahaan dan sikap serta perilaku karyawan yang tidak disiplin akan berkurang. Berat ringannya sanksi/hukuman yang diterapkan akan ikut mempengaruhi baik/buruknya kedisiplinan karyawan. Sanksi hukuman harus diterapkan berdasarkan pertimbangan yang logis, serta masuk akal dan dapat diinformasikan secara jelas kepada semua karyawan atau pegawai. Sanksi hukuman seharusnya tidak terlalu ringan, namun bukan

berarti juga terlalu berat sehingga dapat mendorong atau mendidik pegawai untuk lebih disiplin.

7. Ketegasan

Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan dapat mempengaruhi kedisiplinan karyawan perusahaan. Pimpinan harus berani dan tegas bertindak untuk menghukum sikap karyawan yang tidak atau kurang disiplin sesuai dengan sanksi/hukuman yang telah ditetapkan atau diberlakukan. Pimpinan harus berani bertindak tegas dalam menerapkan hukuman yang indisipliner agar disegani serta diakui kepemimpinannya oleh para bawahan. Dengan demikian pemimpin tersebut akan dapat memelihara kedisiplinan karyawan perusahaan.

8. Hubungan kemanusiaan

Hubungan kemanusiaan yang harmonis diantara seluruh karyawan akan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan. Seorang manajer ataupun pimpinan harus berusaha menumbuhkan suasana hubungan kemanusiaan yang cocok serta mengikat, vertikal, dan horizontal diantara semua karyawannya. Jika tercipta suatu hubungan kemanusiaan yang baik serta harmonis, maka ini diharapkan dapat terwujud lingkungan serta suasana kerja yang nyaman. Sehingga kondisi seperti ini diharapkan mampu memotivasi disiplin kerja yang baik pada suatu perusahaan.

Adapun menurut Singodimejo dalam Mirnawati (2019:17-18) faktor- faktor yang mempengaruhi disiplin pegawai adalah:

a. Besar kecilnya pemberian kompensasi

Besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin.

b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan di dalam perusahaan

Keteladanan pimpinan sangat penting sekali, karena didalam suatu lingkungan perusahaan, para karyawan pasti akan selalu memperhatikan bagaimana pimpinannya mampu dalam menegakkan disiplin pada dirinya.

Pimpinan harus memberikan contoh yang baik kepada bawahan agar bawahannya menirukan sikap positif dari pimpinannya.

c. Ada atau tidaknya aturan pasti yang dijadikan pegangan

Pembinaan suatu disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan, bila tidak adanya aturan tertulis yang pasti untuk bisa dijadikan sebagai pegangan bersama.

d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan

Bila ada karyawan yang melanggar disiplin, maka perlunya ada keberanian pimpinan dalam menentukan suatu tindakan yang sesuai dengan pelanggaran yang telah dibuatnya

e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan maka perlu adanya pengawasan yang akan mengarahkan karyawan agar bisa melaksanakan pekerjaan dengan tepat serta sesuai dengan yang telah ditetapkan.

f. Ada atau tidaknya perhatian kepada karyawan

Seorang karyawan atau bawahan tidak hanya puas dengan pemberian

kompensasi yang tinggi, serta pekerjaan yang menantang, tetapi mereka juga butuh perhatian yang lebih dari pimpinannya sendiri. Pimpinan yang berhasil akan memberi perhatian yang besar kepada para karyawan akan dapat menciptakan disiplin kerja yang baik, karena ia bukan hanya dekat dalam arti jarak fisik, tetapi juga mempunyai jarak dekat dalam artian jarak batin.

g. Diciptakannya suatu kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya suatu disiplin. Kebiasaan-kebiasaan positif itu antara lain:

1. Saling menghormati, bila bertemu di lingkungan pekerjaan.

2. Melontarkan pujian sesuai dengan tempat serta waktunya.

3. Sering mengikut sertakan karyawan dalam pertemuan-pertemuan, apalagi pertemuan yang berkaitan dengan nasib serta pekerjaan mereka.

4. Memberi tahu jika ingin meninggalkan tempat ke rekan kerja dengan menginformasikan kemana serta untuk urusan apa walaupun kepada bawahan sekalipun.

4. Indikator Disiplin Kerja

Menurut Soejono (2000:67), ada beberapa indikator pada disiplin kerja pegawai, yaitu:

1. Ketepatan waktu

Pegawai dikatakan disiplin dalam bekerja, jika salah satunya ialah memiliki ketepatan waktu yang baik seperti datang ke kantor tepat waktu, teratur dan tertib atau berdasarkan waktu yang telah ditentukan, kemudian pulang juga sesuai waktu yang telah ditentukan. Jika pegawai memiliki

ketepatan waktu dalam bekerja maka dapat dikatakan telah memiliki kedisplinan yang baik dalam bekerja.

2. Menggunakan peralatan kantor dengan baik

Pegawai atau karyawan dalam suatu perusahaan, perlu menanamkan sikap hati-hati ketika menggunakan peralatan kantor serta tidak menyalah gunakan peralatan tersebut. Jika karyawan dapat menggunakan peralatan kantor dengan baik maka hal tersebut dapat dikatakan bahwa seseorang telah memiliki disiplin kerja yang sudah baik sehingga peralatan kantor juga terjaga dan terhindar dari kerusakan.

3. Tanggung jawab yang tinggi

Pegawai harus memiliki rasa atau sifat tanggung jawab yang tinggi seperti senantiasa menyelesaikan tugas atau pekerjaannya berdasarkan prosedur dan kemudian bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya. Sehingga dapat pula dikatakan telah memiliki disiplin kerja yang baik berdasarkan tanggung jawab yang tinggi. Adapun reward yang diberikan oleh perusahaan terhadap pegawai yang disiplin yaitu kenaikan peringkat.

4. Ketaatan terhadap aturan kantor

Ketaatan terhadap aturan kantor disini maksudnya ialah bagaimana para karyawan atau pegawai, menaati aturan yang telah ditetapkan seperti menggunakan seragam kantor yang sesuai, menggunakan tanda pengenal atau identitas, menyampaikan atau membuat keterangan izin jika tidak masuk kantor, serta bekerja dengan tidak melanggar aturan pada perusahaan atau kantor tersebut. Hal tersebut menjadi cerminan dari

disiplin yang tinggi. Adapun sanksi bagi pegawai atau karyawan yang tingkat kehadirannya kurang disiplin atau bahkan tidak disiplin yakni pengurangan jatah cuti serta penurunan penilaian pada indeks kinerja terhadap pegawai yang bersangkutan.

Adapun menurut Rivai dalam Yapentra (2017), ada lima indikator yang dapat digunakan untuk mengkaji disiplin kerja pegawai dalam suatu organisasi yaitu sebagai berikut:

1. Kehadiran. Kedisiplinan diukur oleh indikator yang paling dasar, karyawan yang sering datang terlambat atau pulang lebih cepat biasanya memiliki kedisiplinan yang rendah.

2. Ketaatan pada peraturan kerja. Karyawan yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang ditetapkan oleh perusahaan.

3. Ketaatan pada standar kerja. Hal ini bisa dilihat melalui besarnya tanggung jawab karyawan terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya.

4. Tingkat kewaspadaan tinggi. Dalam bekerja karyawan hendaknya melakukan tugas dengan waspada, ketelitian, serta penuh kehati-hatian dan melakukan tugas dengan efektif dan efisien.

5. Bekerja etis. Bersikap baik dan sopan ke masyarakat/ pelanggan maupun kerekan kerja merupakan salah satu bentuk wujud disiplin kerja karyawan, sehingga jika terjadi tindakan yang tidak etis atau tidak sopan merupakan suatu bentuk tindakan indisipliner.

Dari 2 ahli yang dirujuk terkait indikator disiplin kerja tersebut, maka dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan indikator dari disiplin kerja menurut Soejono (2000:67), untuk mengetahui bagaimana disiplin kerja pegawai pada Kantor PT PLN (Persero) ULP Kalebajeng Kabupaten Gowa.

5. Bentuk-Bentuk Disiplin Kerja

Menurut Handoko (2001:208-209) ada dua tipe kegiatan pendisiplinan, yaitu sebagai berikut:

a. Disiplin Preventif

Disiplin Preventif merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendorong karyawan agar mengikuti berbagai standar serta aturan, sehingga penyelewengan-penyelewengan bisa dicegah. Sasaran pokoknya ialah mendorong disiplin diri diantara karyawan.

b. Disiplin Korektif

Disiplin korektif adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut.

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 47-58)

Dokumen terkait