Perawat adalah seseorang yang telah diakui oleh pemerintah sebagai lulusan pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan. Keperawatan adalah praktik yang memberikan perawatan kepada orang yang sakit atau dalam keadaan sehat, baik itu individu, keluarga, kelompok, atau komunitas. Contoh pelayanan profesional yang berada di bawah payung pelayanan kesehatan adalah keperawatan.
Layanan keperawatan diberikan kepada individu, keluarga, komunitas,
dan kelompok orang lain yang sehat dan sakit serta mengacu pada pengetahuan dan praktik profesi keperawatan (Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 2014).
2.3.2 Peran dan Fungsi Perawat 2.3.2.1 Peran Perawat
1) Peran sebagai care giver
Sebagai care giver, perawat berperan penting dalam memberikan layanan keperawatan dengan memanfaatkan proses keperawatan, khususnya terkait dengan kebutuhan dasar manusia pada setiap pasien untuk membuat diagnosa keperawatan yang memungkinkan dilakukannya intervensi dan implementasi keperawatan. tindakan yang tepat untuk diberikan sesuai dengan kebutuhan tersebut, yang selanjutnya akan dilakukan dan dievaluasi untuk peningkatan kesehatan.
Pemberi asuhan keperawatan melakukan tugas-tugas yang berkisar dari langsung ke kompleks.
2) Peran sebagai advokat klien
Sebagai advokat, perawat dapat membantu dalam membela dan menjaga hak pasien selain membantu klien dan keluarga dalam mendapatkan informasi dari pemberi pelayanan atau sumber lain. Pasien memiliki hak atas perawatan dengan kualitas terbaik, serta hak atas privasi, akses untuk memperoleh informasi terkait penyakit, dan kebebasan untuk mengambil keputusan dan hak untuk mendapatkan kompensasi atas kelalaian petugas.
3) Peran edukator
Peran perawat sebagai edukator adalah membantu pasien untuk belajar lebih banyak tentang kesehatan, termasuk informasi tentang gejala penyakit dan instruksi yang diberikan, guna meningkatkan kemampuan klien untuk mengubah perilakunya setelah menerima pendidikan kesehatan.
4) Peran koordinator
Perawat sebagai koordinator memiliki peran untuk memberikan arahan, rencana serta membantu memberikan pilihan layanan kesehatan agar layanan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan klien.
5) Peran kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dilakukan dengan berdiskusi kepada sejawat baik dokter, ahli gizi, fisioterapis dan lain-lain terkait dengan kondisi klien dan perawatan lanjutan yang diberikan agar sesuai dengan yang diperlukan klien.
6) Peran konsultan
Peran perawat adalah memberikan nasihat tentang masalah atau asuhan keperawatan terbaik untuk diberikan kepada pasien. Fungsi ini dilakukan berdasarkan permintaan informasi dari klien dan tujuan dari pelayanan keperawatan yang ditawarkan.
7) Peran pembaharu
Perawat sebagai pembaharu berperan dalam membuat rencana, kerjasama, dan perubahan yang terencana dan terorganisasi. dengan berpedoman pada metode pemberi layanan asuhan keperawatan untuk meningkatkan kualitas mutu layanan (Hidayat, 2015).
2.3.2.2 Fungsi Perawat 1) Fungsi independen
Merupakan fungsi yang dikerjakan perawat secara mandiri sehingga tidak tergantung pada orang lain. Perawat menjalankan tugasnya sendiri, membuat keputusan dan bertindak dengan cara yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis yaitu salah satu kebutuhan manusia yang
paling mendasar, seperti oksigenasi, cairan dan elektrolit, nutrisi, aktivitas, dan lain-lain, kemudian pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan aktivitas, dan lain sebagainya.
2) Fungsi dependen
Fungsi perawat untuk menggantikan tugas dari perawat lain untuk mengerjakan tindakan atau pekerjaan yang dilimpahkan.
Biasanya, perawat primer akan meneruskannya ke perawat pelaksana atau perawat spesialis akan meneruskannya ke perawat umum.
3) Fungsi interdependen
Fungsi ini dilakukan oleh kelompok tim yang saling bergantung. Peran ini dilakukan ketika layanan diberikan yang memerlukan kolaborasi, seperti ketika pasien dengan penyakit kompleks membutuhkan asuhan keperawatan. Apalagi saat memberikan tindakan pengobatan yang memerlukan pemantauan reaksi obat yang diberikan, kondisi seperti ini tidak bisa ditangani sendiri oleh tim perawat dan harus melibatkan tim lain, seperti dokter atau lainnya. (Hidayat, 2015).
2.3.3 Definisi Keperawatan Gawat Darurat
Keperawatan gawat darurat merupakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada individu untuk semua rentang usia yang memiliki masalah kesehatan baik yang bersifat aktual maupun potensial, baik fisik ataupun emosional, yang membutuhkan pemberian tindakan lebih lanjut.
Keperawatan gawat darurat menggarisbawahi pada asuhan dengan kasus yang mengancam nyawa dan berisiko menimbulkan kecacatan. Ciri khas dari praktik keperawatan gawat darurat adalah implementasi proses keperawatan yang diberikan kepada pasien dari segala usia yang memerlukan stabilisasi dan atau resusitasi untuk berbagai penyakit atau
cedera (Kurniati et al., 2018). Perawat gawat darurat adalah perawat yang mempunyai kualifikasi dengan kompetensi level 1 dan terverifikasi yang mampu bekerja merawat pasien atau kelompok pasien di UGD tanpa diawasi secara langsung. Mereka dapat melakukan penilaian pasien awal, memberikan perawatan pasien (tetapi bukan diagnosis), dan bekerja di ruang resusitasi. (Crossley & Hammett, 2017).
2.3.4 Standar Perawat Emergensi
Perawat gawat darurat secara umum harus mempunyai standar kompetensi, diantaranya yaitu:
2.3.4.1 Mempunyai sertifikat CPR.
2.3.4.2 Mempunyai sertifikat Advanced Cardiac Life Support (ACLS).
6-12 bulan sebelum bekerja pernah melakukan pelatihan ACLS atau belum memiliki sertifikat ACLS dalam rentang 2-6 bulan setelah bekerja.
2.3.4.3 Mempunyai sertifikat Trauma Nurse Core Course (TNCC).
Pelatihan TNCC dapat diikuti oleh perawat baru dalam rentang 12 sampai 18 bulan.
2.3.4.4 Mempunyai sertifikat Emergency Nurse Pediatric Course (ENPC) dan Pediatric Advanced Life Support (PALS) dalam rentang 12-18 bulan.
2.3.4.5 Mampu menggunakan alat gawat darurat di IGD.
(University of Wisconsin Hospital and Clinics Emergency Department 2016 dalam Ringu (2017))
2.3.5 Level Perawat Emergensi
Perawat gawat darurat menurut Emergency Nurse Association (ENA) dibagi menjadi 2 level yaitu:
2.3.5.1 Perawat level 1
Dalam 3 bulan pertama, perawat akan mengenali ruang gawat darurat dan bekerja dalam suatu tim untuk merawat pasien dan
diawasi oleh perawat senior. Perawat juga akan memahami prosedur operasional dan berbagai kondisi pasien. Di level 1, perawat akan mulai mengembangkan kompetensinya dan praktik keperawatan yang baik untuk seluruh sektor. perawat juga akan menyadari keterbatasan dirinya dan belajar untuk meminta bantuan serta nasihat bila diperlukan (Crossley & Hammett, 2017). Selama enam bulan, perawat berpartisipasi dalam berbagai pengaturan sebagai bagian dari tim pemberi asuhan yaitu saat merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi perawatan khusus pasien. Praktik keperawatan yang baik, kerjasama lintas sektoral, dan capaian kompetensi khusus merupakan domain dari praktik klinis di level 1 (Crossley & Hammett, 2017).
Jangka waktu untuk mengelola pasien yang ditugaskan dalam pengaturan yang berbeda berkisar antara 12 bulan hingga 2 tahun.
memiliki keterampilan yang diperlukan untuk melakukan asesmen awal pasien dan secara tepat melakukan triase pasien yang membutuhkan asuhan keperawatan darurat untuk anak-anak atau kelompok usia tertentu. Menyelesaikan praktik keperawatan yang baik, mampu bekerja lintas sektoral, dan memiliki kompetensi klinis khusus di level 1. mampu membimbing anggota staf yang kurang berpengalaman dan membimbing mahasiswa keperawatan (Crossley & Hammett, 2017).
2.3.5.2 Perawat level 2
Perawat level 2 mampu memimpin kelompok pasien dan memberikan perawatan berbasis bukti yang komprehensif karena mereka telah menyelesaikan tahap pengembangan perawat level 1. Mampu membimbing dan mengawasi siswa dan staf perawat yang kurang berpengalaman. Mampu mengembangkan pemahaman yang menyeluruh tentang bidang minat dan mampu berkomunikasi dengan sejawat dengan cara yang efektif, seperti
manajemen operasional (perawat darurat), spesialis pendidikan (praktisi pendidik), dan spesialis klinis (praktisi perawat darurat) (Crossley & Hammett, 2017).
2.3.6 Kualifikasi dan kompetensi perawat IGD
Standar minimal pelayanan IGD di Indonesia memuat persyaratan perawat IGD beserta klasifikasinya yaitu sebagai berikut:
2.3.6.1 Perawat Pelaksana Kualifikasi:
Perawat yang bersertifikat keperawatan gawat darurat dasar 2, harus memiliki pendidikan Diploma 3 Keperawatan, pengalaman klinis minimal 2 (dua) tahun, dan pengalaman klinis berbasis rumah sakit minimal 1 (satu) tahun..
Kompetensi yang harus dimiliki:
1) Dapat melakukan pengkajian dasar, survei primer dan survei primer.
2) Dapat melakukan triase dan re-triase.
3) Dapat melakukan asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada pasien meliputi; melakukan pengkajian, menentukan diagnosa, membuat perencanaan, melakukan implementasi, membuat evaluasi dan rencana tindak lanjut.
4) Dapat melakukan tindakan keperawatan pada kasus life saving seperti melakukan resusitasi dengan atau tanpa alat dan stabilisasi keadaan pasien.
5) Dapat mengetahui terapi definitif.
6) Dapat menerapkan aspek legal etik.
7) Dapat berkomunikasi secara terapeutik kepada pasien/
keluarga,
8) Dapat melakukan kerjasama tim,
9) Dapat membuat dokumentasi/pencatatan dan pelaporan.
2.3.6.2 Ketua Tim (Penanggung Jawab Shift)
Seorang perawat yang bertugas mengarahkan staf keperawatan untuk melakukan asuhan keperawatan kepada pasien di ruang gawat darurat dan yang melapor kepada kepala ruangan gawat darurat.
Kualifikasi Ketua Tim IGD Level I dan II
1) Pendidikan D3 Keperawatan yang telah memiliki pengalaman bekerja di IGD sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan telah memiliki sertifikat keperawatan gawat darurat dasar 2.
2) Pendidikan Ners yang telah memiliki pengalaman bekerja di IGD satu tahun dan telah memiliki sertifikat keperawatan gawat darurat dasar 2.
Kompetensi yang harus dimiliki:
1) Mempunyai keterampilan sebagai perawat pelaksana,
2) Dapat melakukan pengelolaan dalam pemberian layanan asuhan keperawatan,
3) Dapat mempertahankan kualitas mutu asuhan keperawatan, 4) Dapat melakukan triage.
Kualifikasi Ketua Tim IGD Level III dan IV:
1) Pendidikan D3 Keperawatan yang telah memiliki pengalaman bekerja di IGD 5 (lima) tahun dan telah memiliki sertifikat keperawatan gawat darurat dasar 2 dan telah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan tingkat lanjut lainnya.
2) Pendidikan Ners yang telah memiliki pengalaman bekerja di IGD 3 (tahun) tahun dan telah memiliki sertifikat keperawatan gawat darurat dasar 2 dan telah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan tingkat lanjut lainnya.
3) Pendidikan S2 Keperawatan yang telah memiliki pengalaman bekerja di IGD 1 (satu) tahun dan telah memiliki sertifikat keperawatan gawat darurat dasar 2 dan telah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan tingkat lanjut lainnya.
Kompetensi yang harus dimiliki:
1) Mempunyai keterampilan sebagai perawat pelaksana.
2) Dapat membuat pengelolaan layanan asuhan keperawatan.
3) Dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
2.3.6.3 Kepala Ruang IGD:
Kepala unit gawat darurat merupakan perawat yang bekerja di IGD dan memiliki wewenang untuk mengelola layanan keperawatan di IGD dan berada di bawah arahan direktur utama rumah sakit.
Kualifikasi Kepala Ruangan IGD level III dan IV:
Kepala ruangan harus memiliki minimal gelar profesi keperawatan, pengalaman minimal 3 (tiga) tahun di ruang gawat darurat sebagai perawat pelaksana, minimal 2 (dua) tahun pengalaman menjadi ketua tim, dan telah menyelesaikan pelatihan Dasar Keperawatan Darurat 2. Serta pelatihan darurat lanjutan lainnya dan pelatihan manajemen.
Kompetensi yang harus dimiliki dan dibuktikan dengan sertifikat:
1) Mampu menjadi ketua tim,
2) Dapat memberikan jaminan kepada rumah sakit bahwa tenaga keperawatan yang bekerja merupakan perawat yang kompeten,
3) Dapat melakukan koordinasi dan pengorganisasian terhadap seluruh kegiatan keperawatan gawat darurat dan bencana, 4) Dapat membuat rencana dan tindak lanjut layanan
keperawatan serta layanan gawat darurat (Ringu, 2017).
2.4 Konsep Instalasi Gawat Darurat