• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wilayah Berdaulat Indonesia 81

Dalam dokumen pengelolaan pencemaran laut di indonesia (Halaman 88-91)

B. Kedaulatan Indonesia Terhadap Wilayah Perairan

2. Wilayah Berdaulat Indonesia 81

Wilayah merupakan atribut yang nyata dari kenegaraan dan dalam wilayah geografis tertentu yang ditempatinya, suatu negara menikmati dan melaksanakan kedaulatan.145 Kedaulatan territorial dapat didefinisikan sebagai “hak untuk bertindak disitu, dengan mengecualikan negara lain, fungsi-fungsi suatu negara”.146 Kedaulatan territorial suatu negara meliputi: lapisan tanah sebelah bawah, Air (laut) beserta isinya, tanah di bawah air (landas kontinen), pantai dengan batas tertentu, seperti perairan territorial,147 dan ruang udara di atas benua serta wilayah perairan (laut).

Salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi keberadaan suatu negara adalah adanya wilayah.148 Faktor wilayah merupakan salah satu sendi esensial bagi eksistensi suatu negara, artinya tanpa wilayah suatu negara tidak akan ada.149 Secara umum dapat dikatakan bahwa wilayah suatu negara terdiri dari wilayah darat, perairan (laut), dan udara. Namun

144 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, (Bandung:

Binacipta, Buku I, Bagian Umum, Cetakan I, 1976), hlm. 91.

145 Rebecca.M. Wallace, Hukum Internasional, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1993), hlm. 95.

146 Ibid.

147 Perhatikan Pasal 3, Konvensi Hukum Laut 1982 yang menyatakan bahwa lebar laut territorial adalah 12 mil laut.

148 Perhatikan Ketentuan Pasal 1, Montevideo Convention on Rights and Duties of States, 26 Desember Tahun 1933.

149 Dimyati Hartono, Hukum Laut Internasional: Yurisdiksi Nasional Indonesia Sebagai Negara Nusantara, (Jakarta: Binacipta, 1983), hlm. 10

79

kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua negara wilayahnya terdiri dari ketiga matra tersebut. Beberapa negara yang terlingkung oleh wilayah daratan negara lain (land-locked countries), misalnya: Cekoslowakia, Hongaria, Laos, Luxemburg, San Marino, Swiss, Bolivia, Paraguay yang semuanya tidak mempunyai wilayah perairan (laut). Negara Indonesia dilihat dari segi territorialnya adalah suatu negara yang memiliki ketiga matra wilayah tersebut, bahkan faktor alami menunjukkan bahwa wilayahnya mempunyai corak dan tata gambaran yang bersifat khusus sebagai gugusan kepulauan atau sebagai satu kawasan nusantara.150 Dalam perbandingan seluruh luasnya antara matra wilayah darat dengan laut, maka laut sebagai matra wilayah negara menduduki tempat sebagai bagian yang besar.

Dewasa ini, wilayah negara yang berwujud perairan (laut) merupakan unsur penting bagi suatu negara utamanya Negara Kepulauan mengingat peranan laut bagi kehidupan dan kelangsungan hidup umat manusia yang menyangkut berbagai aspek, seperti: aspek ekonomi, politik, hukum, budaya, dan pertahanan keamanan.

Bagi Negara Republik Indonesia sebagai negara kepulauan maka wilayah lautnya disamping mempunyai fungsi penting bagi kelangsungan hidup penduduknya juga wilayah laut yang terletak di antara pulau-pulaunya merupakan alat pemersatu dari penduduk ribuan pulau tersebut. Kiranya sangat tepat bila dikatakan tata geografis wilayah laut dari gugusan pulau-pulau Indonesia memiliki kepentingan-kepentingan dan keadaan-keadaan khusus yang hendak dilindungi. Hal ini didasarkan bahwa Negara Republik Indonesia yang wilayah lautnya memiliki luas sangat besar, bahkan empat kali lebih luas daripada wilayah daratannya, sehingga dapat dikategorikan sebagai Negara Kepulauan. Pasal 47 Konvensi

150 Ibid.

80

Hukum Laut 1982, menetapkan syarat bagi suatu negara dikatakan sebagai Negara Kepulauan yaitu: a. Rasio wilayah darat dan air, antara 1:1 dan 9:1; b. Panjang maksimum garis pangkal adalah 100 mil, kecuali untuk 3% dari jumlah garis- garis pangkal yang ada dapat mencapai sampai 125 mil; c.

Tidak boleh memotong atau memisahkan laut territorial negara lain dari laut lepas atau zona ekonomi eksklusif (ZEE); dan d.

Harus memberi akomodasi bagi kepentingan-kepentingan negara tetangga yang wilayahnya dipisahkan oleh perairan kepulauan yang terbentuk tadi.151

Dengan demikian, faktor wilayah dari suatu negara khususnya yang berwujud perairan (laut) merupakan hal penentu dalam menjalankan kekuasaan hukum di laut (yurisdiksi) sebagai pelaksanaan kedaulatan suatu negara.

Yurisdiksi dimaksud di sini adalah baik yang menyangkut hukum pidana maupun hukum perdata.

Memperhatikan ketentuan Pasal 2 Konvensi Chicago 1944, menyatakan:

“For the purposes of this Convention the territory of a State shall be deemed to be the land areas and territory waters adjacent there to under the sovereignty suzerainty, protection or mandate of such State”.152 Wilayah (territory) yang dimaksud dalam Pasal 2 tersebut di atas, adalah wilayah negara yang berupa daratan, perairan (dalam hal ini ialah laut territorial, perairan kepulauan, maupun perairan pedalaman) dan udara. Dengan demikian kedaulatan negara Indonesia secara lengkap meliputi: wilayah daratan, perairan (laut) dan udara dalam bentuk 3 (tiga) dimensi yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya.

Mengingat ada pengakuan oleh Masyarakat Internasional terhadap Konsep Negara Kepulauan yang

151 Perhatikan ketentuan Pasal 47, Konvensi Hukum Laut 1982.

152 Ibid.

81

diajukan Indonesia dan dituangkan secara yuridis melalui ketentuan Bab IV Pasal 46 sampai dengan 54 Konvensi Hukum Laut 1982 untuk mengakomodasikan kepentingan pelayaran internasional melalui pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan (right of archipelagic sea lanes passage) di wilayah perairan Indonesia, maka Pemerintah Indonesia menetapkan alur-alur laut kepulauan sesuai ketentuan Pasal 53 KHL 1982 di kedaulatan wilayah perairan Indonesia. Untuk di Selat Malaka sebagai selat yang digunakan untuk pelayaran internasional sesuai ketentuan Pasal 34 Ayat (1) dan (2) KHL 1982, pelayaran dan penerbangan bagi kapal dan pesawat negara asing dijamin haknya dengan adanya hak lintas transit (right of transit passage) sesuai ketentuan Pasal 38 Ayat (1) dan (2) KHL 1982.

Dengan demikian, penetapan ALKI di wilayah perairan Indonesia untuk keperluan lintas bagi kapal dan pesawat negara asing dengan menggunakan hak lintas alur laut kepulauan, adalah merupakan ketentuan Kompensasi akibat pengakuan Konsep Negara Kepulauan yang diajukan Pemerintah Indonesia kepada masyarakat internasional yang telah dituangkan secara yuridis dalam ketentuan Konvensi Hukum laut 1982. Di Indonesia, Selat Malaka merupakan Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional sesuai ketentuan Pasal 34 Ayat (1) dan (2) KHL 1982 ramai dilintasi kapal-kapal dan pesawat negara asing untuk kepentingan pelayaran internasional, kapal dan pesawat negara asing yang melewati Selat Malaka, dijamin haknya dengan pelaksanaan hak lintas transit (right of transit passage).

Dalam dokumen pengelolaan pencemaran laut di indonesia (Halaman 88-91)