1. Pengertian Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengelolaan, berasal dari kata dasar “kelola” yang berarti mengelola (kan); mengusahakan; menyelenggarakan atau mengurus.167 Dengan demikian kata “pengelolaan” dengan kata dasar “kelola” mendapat awalan “pe” dan akhiran “an”
menjadi “pengelolaan” dapat diartikan sebagai penyelenggaraan atau pengurusan terhadap sesuatu objek yang dalam penelitian ini adalah pengelolaan terhadap lingkungan hidup utamanya lingkungan laut pada perairan Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional di Indonesia.
Menurut N.H.T. Siahaan, yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah semua benda, daya dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya.168
Sedangkan, UU No. 32-2009, Pasal 1 Ayat (1) menyatakan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Selanjutnya, Pengelolaan lingkungan hidup menurut UU No. 32-2009, Pasal 1 Ayat (2) adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
167 S. Wojowasito, Kamus Bahasa Indonesia, (Bandung: Shinta Dharma, Edisi Baru, 1972), hlm. 133.
168 N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 4.
113
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pengelolaan lingkungan hidup pada buku ini yang dimaksud adalah pengelolaan lingkungan hidup di laut. Yang di dalamnya terkandung komponen-komponen seperti air, ikan, tumbuhan laut (jenis-jenis alga), terumbu karang, mutiara, dan karang-karang laut yang merupakan satu kesatuan kehidupan di laut atau satu kesatuan sistem.
Dengan demikian, pengelolaan lingkungan hidup khususnya di laut adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan laut dan mencegah terjadi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan laut yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pemeliharaan,pengendalian, pengawasan, dan penegakan hukum di laut.
Inti permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi.169 Oleh karena itu permasalahan lingkungan hidup pada hakekatnya adalah permasalahan ekologi. Ekologi adalah ilmu pengetahuan tentang hubungan antara organisme dan lingkungannya. Dan Ilmu ekologi disebut juga sebagai ilmu lingkungan.
Pengertian dasar ekologi dan ekosistem penting untuk dapat memberikan kerangka pemikiran bagi tinjauan mengenai pengelolaan lingkungan.170 Lingkungan hidup terdiri dari beberapa unsur (komponen) yang dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu komponen hidup (komponen biotis) dan komponen tak hidup (komponen abitotis). Diantara komponen tersebut terjadi suatu hubungan timbal balik atau interaksi.
Komponen hidup yang satu berhubungan secara timbal balik
169 Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, (Jakarta: Djambatan, 1994), h. 22
170 Niniek Suparni, Op. Cit, hlm. 1.
114
dengan komponen hidup lainnya dan dengan komponen tak hidup. Hubungan secara timbal balik antara komponen- komponen tersebut sebagai satu kesatuan atau sistem, yang dikenal sebagai ekosistem.
Adanya hubungan timbal balik antara komponen tersebut dalam ekosistem memberikan pengertian, bahwa perubahan terhadap salah satu komponen akan mempengaruhi komponen lainnya, yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh sistem kehidupan dalam ekosistem. Adanya hubungan timbal balik juga memberikan pengertian bahwa penanganan masalah lingkungan hidup tidaklah dapat dilakukan dengan menangani atau meninjau masing-masing komponen secara tersendiri, terpisah satu dengan yang lain; melainkan harus ditangani atau ditinjau secara terintegrasi sebagai satu kesatuan, tiap komponen harus ditangani atau ditinjau secara terintegrasi sebagai satu sistem. Cara perndekatan ini disebut pendekatan ekosistem atau pendekatan holistik, yang berlawanan dengan pendekatan analitik yang parsial.
Hubungan fungsional antara komponen yang mengikat mereka dalam kesatuan yang teratur merupakan perhatian utama dalam pendekatan ekosistem.171
Apabila pendekatan ekosistem diterapkan terhadap masalah kehidupan manusia, maka merupakan suatu pola pikir dalam usaha memecahkan masalah kehidupan prinsip ekologi.
Dan jika pendekatan ekosistem diterapkan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup, maka merupakan suatu pola bekerja yang terpadu dengan menggunakan prinsip ekologi.172 Sebagai contoh, masalah pencemaran tidaklah dapat diatasi hanya dengan melakukan upaya penanggulangan pencemaran,
171 Otto Soemarwoto, Analisis Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1990), hlm. 25-30.
172 Niniek Suparni, Op. Cit, hlm. 4.
115
melainkan perlu dilakukan upaya pencegahan dan perlindungan terhadap fungsi laut sebagai penghubung antara satu pulau dengan pulau lain dalam Negara Kepulauan Indonesia maupun sebagai jalur lalu lintas (transportasi) yang dilalui oleh kapal- kapal dan pesawat negara asing di perairan Indonesia, ini berarti perlu dilakukan pengaturan khusus atas wilayah perairan di Indonesia.
Dalam pengelolaan lingkungan, pandangan kita bersifat antroposentris, yaitu melihat permasalahannya dari sudut kepentingan manusia.173 Walaupun tumbuhan, hewan, dan unsur tak-hidup diperhatikan, namun perhatian itu secara eksplisit atau implisit dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, misalnya dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu dalam memenuhi kebutuhan hidup, baik materiil, misalnya sebagai bahan makanan, maupun non-materiil, misalnya nilai ilmiah dan estetisnya. Dapat juga tumbuhan dan hewan dianggap sebagai sumberdaya gen yang merupakan bank simpanan gen untuk keperluan hari depan kita dan anak cucu kita. Oleh karena itu dalam pengelolaan lingkungan, ekologi yang kita butuhkan ialah ekologi manusia. Yang merupakan cabang khusus ekologi, disamping ekologi tumbuhan, ekologi hewan dan ekologi jasad renik. Ekologi manusia, ialah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya.
Manusia di dalam kehidupannya tidaklah cukup memperhatikan materi, energi, dan informasi. Dalam kehidupannya yang modern arus uanglah yang lebih penting.
Oleh karena itu, walaupun ekologi penting, bukanlah satu- satunya masukan untuk mengambil keputusan dalam permasalahan lingkungan hidup, melainkan hanyalah salah satu
173 Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1994), hlm. 22.
116
masukan. Masukan lainnya ialah ekonomi dan juga teknologi, politik, dan sosial budaya. Ekologi adalah salah satu komponen dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup yang harus ditinjau bersama dengan komponen lain untuk mendapatkan keputusan yang seimbang.
Konsep sentral dalam ekologi ialah ekosistem, yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Suatu sistem terdiri dari komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tak-hidup di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur.
Keteraturan itu terjadi oleh adanya arus materi dan energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem itu. Masing-masing komponen itu mempunyai fungsi atau relung. Selama masing-masing komponen itu melakukan fungsinya dan bekerja sama dengan baik, keteraturan ekosistem itu pun terjaga.
Keteraturan ekosistem menunjukkan ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan itu tidaklah bersifat statis, melainkan dinamis. Ia selalu berubah- ubah. Kadang-kadang perubahan itu besar, dan kadang-kadang kecil. Perubahan itu dapat terjadi secara alamiah maupun sebagai akibat perbuatan manusia.174
Dalam buku ini, pengelolaan lingkungan hidup yang dimaksud adalah pengelolaan lingkungan laut. Yang di dalamnya terkandung komponen-komponen seperti air, ikan, tumbuhan laut (jenis-jenis alga), terumbu karang, mutiara, dan karang-karang laut yang merupakan satu kesatuan kehidupan di laut. Di sisi lain, manusia yang memiliki kehidupan di darat dapat memanfaatkan perairan (laut) sesuai dengan fungsi perairan (laut) yakni sebagai penghubung antara pulau satu
174 Ibid, hlm. 23-24.
117
dengan pulau lain dalam suatu Negara Kepulauan seperti Indonesia di samping laut juga memiliki kekayaan baik yang bersifat hayati maupun non hayati yang sangat bermanfaat untuk kebutuhan hidup manusia di darat. Selain itu, Perairan (laut) Indonesia juga dimanfaatkan oleh kapa-kapal negara asing sebagai jalur lalu lintas memperpendek pelayaran untuk menuju negara lain. Seperti perairan (laut) di Selat Sunda; Selat Lombok; Selat Ombai (ALKI).
Mengingat tingkat kesibukan perairan nasional Indonesia yang menjadi jalur pelayaran internasional (seperti di Selat Malaka) dewasa ini cukup tinggi, hal ini merupakan ancaman untuk mempermudah terjadinya pencemaran laut pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional akibat kegiatan pelayaran.
Apabila di perairan (laut) yang digunakan untuk pelayaran internasional seperti di selat Malaka terjadi
“pencemaran” (airnya tercemar) akibat kegiatan pelayaran yang tinggi (sibuk), ini berarti telah terjadi gangguan terhadap ekosistem yang dimiliki oleh perairan (laut) di selat Malaka.
Sehingga kehidupan komponen-komponen ekosistem, seperti ikan, terumbu karang, karang-karang, dan lain-lain yang merupakan kekayaan hayati dan non hayati juga mengalami gangguan. Atau dengan kata lain keteraturan ekosistem menjadi terganggu atau tidak lagi teratur.
Penelitian ini, melakukan pembahasan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem yang mudah terganggu akibat kegiatan pelayaran yang tinggi di perairan yang digunakan untuk pelayaran internasional seperti di selat Malaka, sehingga kehidupan komponen-komponen ekosistem yang ada di perairan selat Malaka, selat Sunda; selat Lombok;
selat Ombai (sebagai ALKI) dapat kembali seimbang dengan kehidupan komponen ekosistem yang teratur.
118
2. Bentuk-Bentuk Pengelolaan Wilayah Perairan
Pengelolaan terhadap wilayah perairan (laut), dalam hal ini ditekankan kepada pengelolaan yang dilakukan oleh Negara sebagai pemilik kedaulatan atas wilayah perairan suatu negara.
Dalam hal ini negara Indonesia sebagai Negara Kepulauan memiliki wilayah laut atau perairan lebih banyak dibandingkan dengan luas wilayah daratan. Dengan demikian, Indonesia perlu melakukan perhatian lebih terhadap wilayah laut, terutama yang berbatasan dengan wilayah negara lain, untuk menghindari terjadinya permasalahan-permasalahan yang bersifat lintas batas negara, seperti pengklaiman wilayah oleh negara lain, pencurian ikan, pencemaran laut, maupun dilakukan pemotretan terhadap wilayah laut Indonesia oleh negara lain dengan maksud melakukan spionase (mata-mata), dan lain sebagainya bertujuan merugikan dan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bentuk-bentuk pengelolaan terhadap wilayah perairan Indonesia yang berbatasan dengan negara lain dapat bersifat sebagai berikut:
a. Pengelolaan Secara Bilateral; pengelolaan ini dapat terjadi antara dua negara yang memiliki laut territorial yang berhimpitan jika masing-masing negara menarik lebar laut territorial 12 mil laut. Misalnya seperti pada waktu Propinsi Timor - Timur masih menjadi bagian dari kedaulatan wilayah Indonesia, terjadi pengelolaan terhadap landas kontinen (dikenal dengan “Timor Gap) antara Pemerintah Indonesia dengan Australia. Namun dengan keluarnya Propinsi Timor–
Timur dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sekarang menjadi Timor Leste, maka pengelolaan terhadap Landas Kontinen (tentang Timor Gap) secara bilateral antara Pemerintah Indonesia dengan Australia menjadi batal demi hukum.
b. Pengelolaan Secara Tripartite; pengelolaan secara tripartite melalui suatu perjanjian tiga negara (tripartite
119
agreement) terhadap wilayah perairan (laut), khususnya perairan di Selat Malaka dilakukan oleh tiga negara yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
3. Badan Terkait Dengan Pengelolaan Pencemaran Laut Pencemaran terhadap wilayah perairan (laut) di Indonesia akibat lalu lintas di perairan nusantara (perairan kepulauan) khususnya di selat-selat yang digunakan untuk pelayaran internasional, seperti di Selat Malaka dewasa ini semakin tinggi mengingat kegiatan pelayaran di perairan yang digunakan untuk pelayaran internasional tersebut semakin sibuk dan banyak kapak-kapal asing yang melakukan lintas di perairan Selat Malaka. Kenyataan ini, dapat mengancam perairan Indonesia umumnya dan khususnya perairan di selat- selat yang digunakan untuk pelayaran internasional terjadi pencemaran.
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak Di Laut. Dalam Bab III, Ayat (1) menentukan bahwa dalam rangka keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut tingkatan tier 3, dibentuk Tim Nasional Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak Di Laut.
Pencemaran laut akibat kegiatan pelayaran kapal asing di Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional, baik dengan menggunakan hak lintas transit maupun hak lintas alur laut kepulauan di wilayah perairan Indonesia, dapat dikategorikan pencemaran laut tingkatan tier 3, karena pencemaran laut yang terjadi dapat mencakup seluruh wilayah perairan Indonesia. Atau dengan kata lain, pencemaran laut dapat berdampak merugikan dan membahayakan kepada seluruh wilayah perairan Indonesia.
120
Dengan demikian, terhadap pengelolaan pencemaran laut di Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional di wilayah perairan Indonesia dibentuk sebuah Tim nasional.
Badan-badan yang terkait dengan pengelolaan pencemaran di laut yaitu Menteri Perhubungan, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Luar Negeri, Departemen Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Hukum dan Ham, Panglima Tentara Nasional Indonesia, Kepala Kepolisian Negara RI, Kepala Badan pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Kepala Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa, Gubernur, Bupati/Walikota yang sebagian wilayahnya mencakup laut.175
D. Pencemaran Akibat Pelayaran Di Laut