BAB 1 PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Konsep Penyaluran
Kata penyaluran atau pendistribusian berasal dari bahasa Inggris yaitu distribute berarti pembagian, secara istilah penyaluran merupakan (pembagian atau pengiriman) pada banyak orang atau beberapa tempat.
Terdapat pemahaman lain mengartikan distribusi sebagai penyaluran barang kebutuhan setiap hari (terutama pada waktu mendesak) oleh pemerintah kepada pegawai negeri, masyarakat, dan yang lainnya.25
25 W. H. S Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), cet, ke-7, h.259.
Menurut Basu Swatha distribusi/penyaluran adalah saluran pemasaran yang dipakai oleh produsen untuk mengirimkan produknya ke konsumen atau industri. Terdapat beberapa jenjang yang ada pada saluran distribusi, yakni produsen, distributor, konsumen atau industri.26 b. Jenis-jenis Penyaluran
terdapattiga bagian penyaluran yang dapat dilihat dalam kegiatan ekonomi masyarakat, sebagai berikut:27
1) Resiprositas
Resiprositas mengarahkan pada kegiatan diantara bagian- bagian proposional yang saling berkaitan. Hal tersebut terjadi jika hubungan timbal balik antara perorangan atau antara kelompok- kelompok selalu dilaksanakan. Pada hubungan yang seperti ini, resiprositas adalah keharusan membayar kembali pada orang atau kelompok lain terhadap apa yang telah mereka berikan atau atas apa yang dikerjakan untuk kita, atau pada aksi nyata membayar atau membalas kembali pada orang atau kelompok lain.
2) Redistribusi
Menurut Sahlin mendefinisikan retribusi merupakan sebagai pooling merupakan perpindahan barang atau jasa yang terencana, yang berkaitan dengan proses penghimpunan kembali dari anggota sebuah kelompok lewat pusat dan pembagian kembali kepada
26https://b-pikiran.cekkembali.com/distribusi/ diakses tanggal 02 Oktober 2019, pukul 11.50.
27 Damsar, Pengantar Sosial Ekonomi, (Jakarta:Prenada Media Group, 2009), cet, ke-1 h. 104-111.
anggota-anggota kelonpok. Maka retribusi adalah aksi approsiasi kearah pusat selanjutnya dari pusat disalurkan kembali.
3) Pertukaran
Pertukaran (exchange) yaitu penyaluran yang dilaksanakan atau terjadi lewat pasar. Pergantian yang dilaksanakan merupakan penunjukan mengenai penciptaan pendapatan dan reinvestasi pendapatan pada produksi beserta harga yang ditentukan berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
c. Macam-macam Penyaluran
Terdapat tiga jenis penyaluran yang bisa dilihat dalam kegiatan ekonomi masyarakat yaitu:28
1) Penyaluran Barang Konsumsi
Pada bagian ini barang yang didistribusikan atau disalurkan merupakan barang yang bisa langsung dipakai oleh konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Maka barang konsumsi langsung berkaitan dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh pemakai dari distributor, pemasok, hingga ke toko-toko.
2) Penyaluran Jasa
Pada penyaluran jenis ini dapat dilaksanakan secara langsung terhadap konsumen tanpa melalui perantara disebabkan jasa dihasilkan dan dirasakan pada saat yang bersamaan.
28 Fandi Tjiptono, Strategi Bisnis Modern, (Yogyakarta: Andi, 2000), cet, ke-1, h. 135.
3) Penyaluran Kekayaan
Menurut ulama Hanafiah, kekayaan merupakan semua hal bisa diambil kegunaannya contohnya, uang, tanah, binatang dan yang lainya. Kekayaan merupakan jumlah asset seseorang yang diukur pada waktu tertentu.
4) Penyaluran Pendapatan
Pendapatan adalah hasil usaha yang dijalankan yang berdampak pada ekonomis.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen penyaluran merupakan suatu aktivitas untuk menata selaras dengan kegiatan manajemen yang ada di suatu lembaga dalam usaha mendistribusikan hasil produksi atau dana yang terdapat didalamnya sehingga tercapai tujuan yang telah direncanakan.
d. Sistem Penyaluran
Ada dua sistem penyaluran dana, yaitu:29
1) Sistem sesaat, dalam sistem ini berarti zakat cuma dialokasikan terhadap seseorang satu kali atau sesaat saja. Berarti pada sistem ini pendistribusian terhadap mustahiq tidak dibarengi dengan target kemandirian ekonomi pada diri mustahiq. Kasus tersebut terjadi sebab mustahiq yang terkait tidak memungkinkan untuk mandiri, misalnya, terhadap orang tua yang lanjut usia, dan orang cacat. Sistem bantuan sesaat ini idealnya adalah hibah.
29 Lili Bariadi, Muhammad Zen, M. Hudi, Zakat dan Wirausaha, (Ciputan: CED, 2005), h. 25.
2) Sistem Pemberdayaan, adalah pendistribusian zakat yang dibarengi sasaran mengalihkan kondisi penerima dari keadaan golongan mustahiq menjadi golongan muzakki. Tujuan ini merupakan tujuan yang sangat besar yang tidak sukar terlaksana dalam kurun waktu yang singkat. Sebab itu pendistribusian dana zakat mesti dibarengi dengan pengertian yang komplet terhadap permasalahan yang terdapat pada diri penerima. Jika masalahnya merupakan kemiskinan, maka harus diketahui penyebab kemiskinan tersebut sehingga bisa dicarikan penyelesaian yang akurat supaya tercapainya tujuan yang telah direcanakan.
e. Penyaluran Dana Zakat dalam Pemberdayaan Ekonomi
Perubahan dibidang ekonomi berpengaruh terhadap struktur sosial. Saat ini kita bisa melihat potensi muzakki pada masa lalu itu jumlahnya sedikit. Namun sekarang sudah makin bertambah sebab terbukanya kesempatan usaha. Sehingga potensi sumber dana zakat saat ini lebih banyak dan lebih besar. Hal ini berpengaruh pada pengelolaan dana zakat, khusnya pada bidang mobilisasi.
Salah satu rancangan yang sudah dilaksanakan oleh lembaga amil zakat pada umumnya merupakan zakat produktif, dalam arti bahwa lembaga amil zakat memberikan bantuan pada mereka yang membutuhkan untuk pengembangan usaha bukan untuk di konsumsi secara langsung. Sehingga yang bersangkutan dapat terhindar dari kemiskinan.
Dengan adanya rancangan tersebut terdapat sejumlah model penyaluran dana zakat, sebagai berikut:30
1) Zakat dialokasikan secara langsung pada fakir miskin untuk kebutuhan konsumtif. Padakondisi perubahan yang ada, sehingga bagian zakat ditujukan terutama pada kelompok “the destitute” yang sifatnya meringankan dan dalam kurun waktu yang singkat.
2) Zakat didistribusikan pada mereka yang ikut serta pada kegiatan pendidikan dan dakwah, yang dalam golongan kekurangan.
3) Separuh dana zakat dan dana lainya (shadaqah, infaq, dan wakaf) dipergunakan untuk pembangunan sarana ibadah dan pendidikan/dakwah Islam.
4) Sebagian kecil zakat kini diarahkan ketujuan produktif, baik dalam bentuk hibah ataupun pinjaman tampa tambahan bagi kaum miskin, dengan harapan mereka bisa melepaskan diri dari belengu kemiskinan.
Bahkan dalam jangka waktu tertentu diharapkan mereka dapat menjadi muzakki.
5) Sebagian kecilnya lagi diperuntukan untuk amil, dalam arti dana tersebut bukan hanya semata bukan untuk orangnya, dapat juga lembaga yang mengelola dan dapat memajukan dari segi pengorganisasian.
30 ibid h. 55.
3. Konsep Zakat