• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis pemberdayaan ekonomi mustahiq melalui

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "analisis pemberdayaan ekonomi mustahiq melalui"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PEMBERDAYAAN EKONOMI MUSTAHIQ MELALUI PENYALURAN DANA ZAKAT PADA BADAN AMIL ZAKAT

NASIONAL (BAZNAS) KOTA MATARAM TAHUN 2018

Oleh Sarfiah NIM 160203018

JURUSAN EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(2)

ii Skripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Ekonomi

Oleh Sarfiah NIM 160203018

JURUSAN EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(3)

vi

(4)

vii MOTTO

“Gagal bukan berarti kalah tapi gagal adalah tanda bahwa kau pernah berjuang, lalu janganlah cepat menyerah dan puas akan suatu hasil”



"…Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang Agung". (QS. At- Taubah [09]:129)

(5)

viii

Kupersembahkan skripsi ini untuk diriku sendiri, untuk ibunda Sri Indrawati dan ayahanda Ibrahim, kedua adikku Anshar dan Arbadin, almamater kebanggaanku, barisan guru dan dosenku, para kolegat seperjuanganku, margaku, dan seluruh jajaran yang membantuku dan kedua orang tuaku perihal penyelesaian pendidikanku”.

(6)

ix

shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh, karena itu penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Dr. M. Yusuf, M.Si. sebagai pembimbing I dan Yunia Ulfa Variana, M.Sc sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail terus-menerus, dan tampa bosan ditengah kesibukkannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;

2. Ibrahim dan Sri Indrawati, selaku orang tua penulis yang telah menjadi motivator abadi penulis;

3. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag. selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram;

4. Dr. H. Ahmad Amir Aziz, M.Ag. selaku dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram;

5. H. Bahrur Rosyid, MM. selaku ketua jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram;

6. Seluruh dosen yang telah membimbing selama masa perkuliahan;

(7)

x

(8)

xi

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

HALAMAN MOTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN... viii

KATA PEMNGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat penelitian... 6

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7

E. Telaah Pustaka ... 7

F. Kerangka Teori... 9

1. Konsep Pemberdayaan ... 9

a. Pengertian Pemberdayaan ... 9

b. Tujuan Pemberdayaan ... 11

c. Pola-pola Pemberdayaan ... 15

d. Tahap-tahap Pemberdayaan ... 17

e. Bentuk-bentuk Pemberdayaan Masyarakat ... 20

f. Indikator Pemberdayaan... 21

2. Konsep Penyaluran... 22

a. Pengertian Penyaluran ... 22

b. Jenis-jenis Penyaluran ... 23

c. Macam-macam Penyaluran ... 24

d. Sistem Penyaluran ... 25

e. Penyaluran Dana Zakat dalam Pemberdayaan Ekonomi .. 26

3. Konsep Zakat ... 28

a. Pengertian Zakat... 28

b. Dasar Hukum Zakat ... 29

c. Tujuan Zakat ... 30

d. Hikmah Zakat ... 31

e. Hakikat Zakat ... 32

G. Metode Penelitian... 33

1. Jenis dan Sumber Data ... 33

a. Jenis Data ... 33

b. Sumber Data Penelitian ... 34

2. Teknik Pengumpulan Data ... 34

3. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 35

4. Validitas Data ... 36

H. Sistematika Pembahasan ... 37

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 39

A. Profil Lembaga ... 39

1. Sejarah BAZNAS Kota Mataram... 39

2. Visi dan Misis BAZNAS Kota Mataram ... 40

3. Struktur Organisasi BAZNAS Kota Mataram ... 40

(9)

xii

1. Program Pengumpulan ... 45

2. Program Pendistribusian dan Pendayagunaan ... 46

3. Program Sosialisasi dan Pengembangan Organisasi ... 49

C. Pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Dana Zakat, Infaq, dan Sedekah di BAZNAS Kota Mataram ... 50

1. Kegiatan Pengumpulan ... 50

2. Kegiatan Pendistribusian dan Pendayagunaan ... 52

D. Kegiatan Pengawasa dan Pembinaan oleh BAZNAS Kota Mataram ... 55

1. Kegiatan Pengawasan... 55

2. Kegiatan pembinaan ... 56

E. Proses Penyaluran Dana Zakat di BAZNAS Kota Mataram ... 56

F. Data Mustahiq Kota Mataram Penerima Dana Zakat Produktif dari BAZNAS Kota Mataram ... 59

G. Dampak Penyaluran Dana Zakat Produktif yang Dilakukan BAZNAZ Kota Mataram ... 66

BAB III PEMBAHASAN ... 70

A. Proses Pemanfaatan Dana Zakat Produktif Oleh Mustahiq ... 70

B. Pengaruh Dana Zakat Produktif Terhadap Peningkatan Pendapatan Para Mustahiq ... 73

BAB IV KESIMPULAN ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Saran ... 77 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(10)

xiii Oleh Sarfiah NIM 160203018

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan mengingat masyarakat Indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagian besarnya menganut agama islam dan sadar akan urgensi membayar zakat. Sehinggadiperlukan pengelolaan dana tersebut sesuai yang dikehendaki dalam syariat islam. Terkait kegiatan peningkatan pendapat masyarakat, BAZNAS Kota Mataram memiliki program zakat produktif.Dimana pihak BAZNAS Kota Mataram memberikan bantuan tambahan modal bagi mustahiq yang sudah memenuhi kriteria penerima.

Dalam mengukur atau melihat keberhasilan pemberdayaan yang dilakukan BAZNAS Kota Mataram melalui program zakat produktif.Peneliti menggunakan indikator keberhasilan pemberdayaan yang meliputi, pertama berkurangnya jumlah penduduk miskin. Kedua, peningkatan pendapatan dan berkembangnya usaha yang dijalankan oleh mustahiq.Ketiga,timbulnya rasa keperdulian warga pada usaha meningkatkan kemakmuran keluarga miskin dilingkungannya.

Keempat tewujudkan kemandirian kelompok dengan indikasi semakin tingginya usaha produktif anggota dan kelompok.Keenam peningkatkan kinerja masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai dengan meningkatnya pendapatan keluarga miskin sehingga bisa memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosialnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem penyaluran dana zakat produktif yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Mataram. selain itu, juga untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh dana zakat tersebut terhadap perekonomian mustahiq yang menerima dana tersebut khusnya pada peningkatan pendapatan. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan teknik triangulasi untuk validasi data.Sementara itu untuk pengumpulan data penelitian peneliti menggunakan teknik wawancara serta observasi juga dokumentasi. Objek yang menjadi fokus penelitian ini adalah mustahiq yang menerima dana zakat produktif.

Dari hasil wawancara serta observasi yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa BAZNAS Kota Mataram memberikan dana zakat kepada Mustahiq dalam bentuk hibah atau pemberian tampa imbal balik dari yang besangkutan. Juga, dengan adanya dana zakat ini cukup membantu mempengaruhi pendapatan para mustahik kearah yang lebih baik lagi. Hal ini berdasarkan hasil analisisyang dilakukan bahwa hampir semua mustahiq cukup berhasil diberdayakan melalui pemberian tambahan modal dari dana zakat produktif tersebut.

Kata kunci: Pemberdayaan, Mustahiq, Zakat

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan Ekonomi adalah dasar dari keberhasilan pembangunan sebuah negara. Jika sebuah negara memiliki pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan terus-menerus setiap tahunnya maka akan mampu memajukan pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya. Sebab itulahnaik turunnya ekonomi pastinya akan mempengaruhi beberapa bidang. Misalanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pasti mampu meningkatkan pendapatan perkapita sehingga akan meningkatkan konsumsi rumah tangga. Selain itu, jika pertumbuhan ekonomi tinggi, maka akan meningkatkan investasi sehingga pembangunan di berbagai daerah terlaksanakan.

Salah satu cara Islam untuk meningkatkan dan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi umat adalah dengan membayar zakat. Sebab zakat merupakan salah satu instrumen keuangan Islam. Ajaran Islam mengenai zakat ini memberikan dasar bagi tumbuh dan berkembangnya kekuatan sosial ekonomi umat. Isi dari ajaran ini mempunyai aspek yang luas dan lengkap, bukan hanya nilai ekonomi dan keduniaan saja.1

Sebab itu semua muslim yang mempunyai harta dan memenuhi ketentuan-ketentuan diharuskan mengeluarkan zakat untuk diberikan pada yang berhakmenerima berdasarkan ajaran Islam.2 Maka zakat adalah

1Masdar F. Mas’udi, dkk, Reinterpretasi Pendayagunaan ZIS Menuju Efektifitas Pemanfaatan Zakat, Infak Sedekah, (Jakarta: Piramidea, 2004), cet, ke-1, h. 1.

2 Saifudun Zuhri, Zakat di Era Reformasi, (Semarang: Fakultas Tarbiayah IAIN Walisongo Semarang, 2012), cat, ke-1, h. 9.

(12)

instrumen sosial mandiri yang manjadi keharusan bagi orang yang berada untuk membantu orang kurang mampu.3

Mengeluarkan zakat tidak hanya bernilai ibadah, namun juga bernilai sosial ekonomi, yaitu pola pendistribusian kekayaan. Dengan kata lain, selain membersihkan jiwa dan harta benda, zakat juga pendapatan yang tepat dalam kehidupan ekonomi masyarakat.4

Tujuan zakat memiliki target sosial untuk menciptakan sebuah prosedur ekonomi yang memiliki nilai kesejahteraan di dunia dan akhirat, dan bukan hanya menyantuni golongan kurang mampusecara konsumtif namun mempunyai tujuan berkelanjutan sebagai pengentasan kemiskinan dalam kurun waktu yang lama. Berhubungan dengan itu, penyaluran dana zakat tidak hanya terbatas pada program-program jangka pendek seperti, untuk konsumtif.

Melainkan juga dapat disalurkan untuk program jangka panjang misalnya, memberikan zakat produktif kepada mereka yang memerlukan untuk modal usaha. Sehingga dapat mengurangi pengangguran.5

Sementara itu menurut Bambang Rudito pemberdayaan berarti mewujudkan keadaan sampai semua orang yang berkekurangan bisa memberikan kemampuannya secara menyeluruh untuk mencapai tujuannya, Kartasasmita menyatakan bahwa berdaya dalam konteks masyarakat merupakan kesanggupan individu berbaur dalam masyarakat dan menciptakan

3 Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006), h. 121.

4 Euis Amelia, Keadilan Distributif dalam Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2009), h. 2.

5 Saifudin Zuhri, Zakat di Era Reformasi, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2012), cet, ke-1, h. 40.

(13)

keberdayaan masyarakat yang terkait. Sehingga dalam sebuah pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak hanya diartikan sebagai kewajiban masyarakat untuk mengikuti suatu program, melainkan dipahami sebagi partisipasi mereka dalam setiap proses yang harus dilalui pada sebuah kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terlebih lagi pada tahap perancangan kebutuhan yang mesti dipenuhi proporsinya bahwa masyarakatlah yang sangat tahu kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi.6

Peluang pemberdayaan ekonomi untuk membentuk masyrarakat yang berjiwa kewirausahaan, dapat terealisasikan jika dana zakat dikumpulkan, dikelola, dan disalurkan dengan baik oleh badan atau lembaga yang amanah dan profesional.

Di Indonesia sendiri terdapat lembaga pengelolaan zakat yang diatur pada UU No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat yang dilakukan oleh badan yang berbentuk pemerintah atau lembaga yang didirikan oleh masyarakkat seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Lembaga Amil Zakat (LAZ), dan Unit Pengumpulan Zakat (UPZ).

Persoalan zakat ini menjadi menarik diteliti karena selain menyangkut masalah keagamaan juga berkaitan dengan masalah sosial. Dimana zakat dapat difungsikan sebagai penolong masyarakat yang lemah terutama masyarakat yang termasuk kategori tidak mampu dengan cara pendistribusian zakat secara merata kepada para mustahiq. Untuk itu dalam hal pengelolaan dan

6Lili Bariadi, Muhammad Zen, M. Hudri, Zakat dan Wirausaha, (Jakarta: CED, 2005) h. 54-55.

(14)

pendistribusiannya harus tepat sehingga terwujudnya apa yang diharapkan bersama.

Dana zakat untuk program produktif dalam waktu yang lama, akan lebih maksimal jika dilakukan oleh Badan Amil Zakat dan semacamnya, disebabkan lembaga ini dapat dipercaya untuk menyalurkan, pendistibusian, dan pendayagunaan dana zakat dengan manajemen yang baik. Lembaga ini juga tidak langsung memberikan dana zakat begitu saja, akan tetapi mereka akan mengawasi, dan memberika pengarahan serta pelatihan pada penerima dana zakat produktif sehingga dana tersebut benar-benar digunakan untuk modal usaha supaya mustahiq tersebut memperoleh pendapatan. Sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan taraf ekonomi individu dan keluarganya bahkan masyarakat sekitar.

Terkait hal tersebut sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Muhammad Yusnar dengan judul Pengaruh Pemanfaatan Dana Zakat Prodiktif Terhadap Tingkat Pendapatan Mustahiq pada BAZNAS Provinsi Sumatera Utara.Dimana pada penelitian ini pemanfaatan dana zakat produktif berpengaruh terhadap tingkat pendapatan mustahiq pada BAZNAS SumateraUtara.

Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara awal anggota pelaksanan kegiatan penyaluran dana zakat produktif bapak Abdul Salam menyatakan bahwan sebelum pendistribusian dilakukan pendataan awal dan melihat keadaan ekonomi mustahiq serta usaha yang dijalankan oleh mustahiq tersebut. Sehingga penyalurannya tepat sasaran dan sesuai dengan program

(15)

yang dijalankan.Untuk program zakat produktif ini jugasering disebut juga program bakulan. Sebab hampir semua yang menerima dana zakat poduktif ini adalah penjual bakulan yang ada di Kota Mataram.

Sementara itu, BAZNAS Kota Mataram pada tahun 2018 berhasil mengumpulkan dana zakat melebihi yang ditergetkan yaitu sebesar Rp.5.534.889.302.- sedangkan yang ditargetkan oleh pihak BAZNAS kota Mataram hanya Rp.5.000.000.000.-.

Berhubungan dengan dana dan jumlah mustahik yang menerima dana zakat produktifpada tahun 2018 di BAZNAS Kota Mataram dapat dilihat pada tabel berikut:7

Jumlah Penyaluran Dana Zakat Jumlah Mustahiq Rp.545.000.000,- 1022 Orang

Maka dari hal yang dibahas di atas, apakah dengan banyaknya dana zakat yang telah terkumpul dan terdapatnya kegiatan pemberdayaan dana zakat produktif yang dikelola oleh BAZNAS Kota Mataram mampu mendayagunakan ekonomi para mustahiqyang menerima dana zakat produktif tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pemberdayaan Ekonomi Mustaiq Melalui Penyaluran Dana Zakat pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Mataram Tahun 2018”

7 Laporan Tahunan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Mataram Tahun 2018.

(16)

B.Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses penyaluran dana zakat pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kota Mataram tahun 2018?

2. Bagaimana dampak pemberdayaan ekonomi melaluipenyaluran dana zakat produktif pada mustahiq yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kota Mataram tahun 2018?

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui proses pemberdayaan ekonomi mustahiq melalui penyaluran dana zakat pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kota Mataram tahun 2018.

b. Untuk mengetahui dampak pemberdayaan ekonomi mustahiq melalui penyaluran dana zakat pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kota Mataram tahun 2018.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Sebagai pengembangan ilmu di bidang ekonomi Islam pada umumnya, khususnya dibidang keilmuan mengenai zakat.

b. Manfaat praktis

Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu lembaga zakat, dan untuk meningkatkan kualitas bagi kaum pelajar, mahasiswa, dan akademisi lainya.

(17)

c. Sebagai Bahan Pertimbangan

Dari hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat pada pemerintah, khususnya Kementerian Agama dan Kementerian Sosial dalam menentukan kebijakan.

d. Manfaat untuk Masyarakat

Diharapkan dapat memberikan tambahan nilai kesejahteraan agar selalu menyadari kewajiban untuk mengeluarkan zakat dari harta yang didapatkan, sehingga kesejahteraan masyarakat terwujud.

D.Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Membahas mengenai pemberdayaan ekonomi merupakan pembahasan yang agak luas. Supaya, terselesainya penulisan ini, sehingga penulis akan memusatkan pada pembahasan pemberdayaan ekonomi melalui dana zakat yang dikembangkan oleh BAZNAS Kota Mataram.

E.Telaah Pustaka

1. Siti Lestari dengan judul “Analisis Pengelolaan Zakat Produktif untuk Pemberdayaan Ekonomi (Studi Kasus pada Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Kendal)”. Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam

Negeri Wali Songo Semarang, 2015. Penelitian ini lebih terfokus pada pengelolaan dana zakat yang dilakukan BAZNAS Kabupaten Kendal untuk pemberdayaan ekonomi. Perbedaannya yaitu pada penelitian ini membahas mengenai Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan BAZNAS kota Mataram melalui penyaluran dana zakat produktif.

(18)

Pada penelitian yang dilakukan oleh Siti Lestari dengan penelitian ini memiliki persamaan yaitu membahas tentang pengelolaan dana zakat produktif yang dilakukan instansi-instansi yang terkait seperti pada BAZNAS.8

2. Devi Hidayah Fajar S. Syahban dengan judul “Pendayagunaan Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus pada Lembaga Amil Zakat L-ZIS Assalam Solo”. Fakultas Syariah Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008. Penelitian ini membahas mengenai hukum pemberdayaan dana zakat produktif dalam Islam serta meneliti mengenai perkembangan para mustahiq binaan L-ZIS Assalam di Solo. Perbedaannya yaitu pada penelitian ini membahas mengenai Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan BAZNAS kota Mataram melalui penyaluran dana zakat produktif.

Pada penelitina yang dilakukan oleh Devi Hidayah Fajar S. Syahban memiliki persamaan dengan penelitian ini yaitu membahas mengenai pengelolaan dana zakat dalam bentuk produktif.9

3. Atik Nurdiana “Pemberdayaan Dana Zakat Baitul Qiradh Melalui program Usaha Kecil Menengah” . Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi,

Univesitas Islam Negeri Jakarta, 2011. Skripsi ini membahas mengenai pemberdayaan dana zakat tapi terfokus pada pemberdayaan yang dilakukan pada program usaha kecil dan menengah tidak membahas program

8 Siti Lestari, “Analisis Pengelolaan Zakat Produktif untuk Pemberdayaan Ekonomi Studi Kasus pada Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Kendal” (Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Wali Songo Semarang, Semarang, 2015).

9Devi Hidayah Fajar S. Syahban “Pendayagunaan Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam Studi Kasus pada Lembaga Amil Zakat L-ZIS Assalam Solo”, (Fakultas Syariah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Suarakarta, 2008).

(19)

pemberdayaan ekonomi yang lainya. Perbedaannya yaitu pada penelitian ini membahas mengenai Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan BAZNAS kota Mataram melalui penyaluran dana zakat produktif.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Atik Nurdiana dengan penelitian ini memiliki persamaan yaitu membahas tentang pengelolaan dana zakat produktif.10

F.Kerangka Teori

1. Konsep Pemberdayaan a. Pengertian Pemberdayaan

Kata pemberdayaan merupakan arti dari istilah bahasa Inggris yaitu empowerment. empowerment terdiri dari satu kata power yang memiliki arti kemampuan berbuat, mencapai, melakukan, atau memungkinkan. Lalu mendapat awalan kata em yang berasal dari bahasa Yunani yang memiki arti, didalam. Sebab itu pemberdayaan dapat dikatakan sebagai kekuatan yang ada pada diri manusia, dan suatu sumber kreatifitas.11

Menurut Amrullah Ahmad menyatakan pemberdayaan merupakan model langkah pasti yang memberikan cara penyelesaian masalah umat pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pada kamus bahasa Indonesia kata pemberdayaan diartikan sebagai

10Atik Nurdiana, ”Pemberdayaan Dana Zakat Baitul Qiradh Melalui program Usaha Kecil Menengah”, (Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Univesitas Islam Negeri Jakarta, Jakarta 2011).

11 Lili Bariadi, Muhammad Zen, M. Hudi, Zakat dan Wirausaha, (Ciputan: CED, 2005) h. 53.

(20)

usahapendayagunaan, pemanfaatan yang sebaik-baiknya dengan hasil yang optimal.12

Menurut Talcott Parsons pemberdayaan merupakan suatu sistem dimana orang menjadi cukup kuat untuk ikut serta dalam semua pengecekkan atas peristiwa-pristiwa serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupan seseorang atau kelompok. Sehingga pada kegiatan pemberdayaan tersebut, orang yang memiliki keterampilan, pemahaman, dan jabatan yang cukup, mampu mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain.13

Rancangan pemberdayaan ekonomi masyarakat menurut Adi Sasono, adalah kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh banyak orang namun pada proporsi yang kecil, dan tidak termasuk aktivitas ekonomi yang dikendalikan oleh segelintir orang melalui lembaga dan proporsi yang luas. Kebijakan yang salah sudah mengantarkan masyarakat Indonesia pada keadaan kesukaran misalnya tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran. Dalam meninggikan mutu masyarakat Indonesia agar layak pada segi ekonomi sudah dibuat kebijakan perekonomian nasional yang mesti dijalankan oleh pemerintah.14

Disebabkan BAZNAS melakukan pemberdayaan dengan pola pemberian modal pada masyarakat maka yang perlu diperhatikan dalam

12 Badudu dan Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001), h. 318.

13https://sosiologi79.blogspot.com/2017/07/pengertian-pemberdayaan-menurut- ahli.html diakses tanggal 03 Oktober 2019, pukul 15.21.

14 Adi Sasono, Rakyat Bangkit Bangun Martabat, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2008), cet, ke-1, h. 65.

(21)

upaya pemberdayaan masyarakat pada aspek ekonomi melalui bidang permodalan adalah: (1) bagaimana pemberian bantuan modal ini tidak mengakibatkan ketergantungan masyarakat; (2) bagaimana pemecahan bidang ini dilaksanakan melalui pembentukan sistem yang kondusif usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah mendapatkan jalan pada lembaga keuangan (3) bagaimana alur pemakaian uang yang bisa memiliki nilai tambah sehingga masyarakat tidak terjebak dengan pemakaian yang tidak sesuai kebutuhan pokok ataupun mengakibatkan adanya kriminal yang disebabkan kesalahan.15

b. Tujuan Pemberdayaan

Pemberdayaan masyarakat (community development) mempunyai tujuan dasar untuk memberdayakan orang-orang dan kelompok-kelompok orang lewat penguatan kinerja yang termasuk didalamnya kesadaran, pemahaman dan keahlian-keahlian yang di butuhkan untuk beralih pada tingkat mutu hidup masyarakat yang lebih baik. Kemampuan tersebut senantiasa berhubungan dengan pengokohan bidang ekonomi dan politik lewat perwujudan kelompok-kelompok sosial secara luas yang bekerja sesuai program bersama.16

Tujuan yang diinginkan dari pemberdayaan menurut Sulistriyani ialah untuk membuat individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian ini terdiri dari kemandirian intelektual,

15 Alexander Phuk Tjilen, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, (Yogyakarta: CV. Budi Utama. 2019), h. 2.

16 Edi Suharto, CSR & KOMDEV, Investasi Kreatif Perusahaan, (Bandung Alfabeta, 2010), h. 67.

(22)

kemandirian ekonomi, beraksi dan mengontrol yang sedang dikerjakan.

Dalam mendapatkan kemandirian masyarakat dibutuhkan suatu prosedur, lewat prosedur belajar maka secara perlahan masyarakat bisa mendapatkan kesanggupan ataupun kekuatan dari waktu ke waktu.

Selanjutnya tujuan pemberdayaan menurut Tjokowinoto yang dirancang pada tiga bagian yaitu ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Proses pemberdayaan mesti dilakukan secara keseluruhan memuat semua bidang kehidupan masyarakat untuk memandirikan kelompok masyarakat dari banyaknya kekuasaan, yang terdiri dari aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya. Rancangan pemberdayaan pada aspek ekonomi adalah upaya membuat ekonomi yang stabil, luas, mandiri dan memiliki daya saing yang sangat tinggi dalam prosedur pasar yang besar dimana memuat suatu proses peningkatan kelompok ekonomi lemah.

Sementara pemberdayaan pada aspek politik adalah peningkatan rakyat kecil dalam metode penentuan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan bangsa dan negara terutama pada kehidupan masyarakat itu sendiri. Pola pemberdayaan pada aspek sosial budaya adalah usaha meneguhkan rakyat kecil lewat peningkatan, penguatan dan memperkokoh nilai-nilai pemahaman, juga mendukung terbentuknya organisasi sosial yang dapat menyokong pengawasan pada tindakan- tindakan politik dan ekonomi yang jauh dari integritas yang ada.17

17http://chikacimoet.blokspot.com/2013/02/pemberdayaan-masyarakat.html diakses tanggal 03 Oktober 2019, pukul 16.02.

(23)

Adapun tujuan pemberdayaan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah pasal 5 adalah sebagai berikut:

1) Menciptakan sistem perekonomian nasional yang stabil, tumbuh, dan berkeadilan;

2) Menciptakan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menjadi usaha yang teguh dan mandiri; dan

3) Meningkatkan kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah pada pembangunan daerah, menciptakan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

Selain itu usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa juga dilaksanakan berdasarkan ZIS. Sebab dasar pokok pemberdayaan masyarakat berhubungan langsung pada kesetaraan sosial yang terpusat terhadap faktor keadilan, kerjasama, dan usaha saling memberi.

segalanya sinkron sesuai hukum zakat yang mempunyai fungsi untuk menghadirkan keadilan sosial. Pendekatan community development berbasis zakat bertujuan untuk menginternalisasikan tujuan zakat untuk perubahan kelompok dhuafah. Zakat tidak saja menjadi ibadah yang bersifat individual, namun juga untuk mendorong terciptanya perubahan kesejahteraah masyarakat dhuafah yang pada akhirnya mempunyai kekuatan dalam berusaha dan mandiri sampai bisa meningkatkan

(24)

pendapatan, dan meningkatkan kemakmuran secara substansial maupun non substansial.

Terlepas dari itu semua pemberdayaan ekonomi yang berbasis ZIS mempunyai tujuan yang lebih ekstensif bukan hanya pada segi materi saja melainkan terdapat tujuan lainya, yaitu sebagai berikut:18 1) Memperkuat Keimanan

Memperteguh keimanan adalah dasar yang sangat esensial dari pendayagunaan zakat tidak hanya perwujudan dari segi ekonomi saja. Perwujudan sumber daya manusia mempunyai dampak yang begitu mendasar pada pembangunan diberagam bidang. Sebab upaya dari sumber daya manusia dapat menigkatkan motivasi/semangat yang berpengaruh untuk seseorang dalam berusaha megubah atau meningkatkan taraf hidup dari semua bidang. Tingkat keimanan seperti sifat sabar, tawakal dan kehendak yang kuat untuk berusaha adalah daya yang bisa meningkatkan vitalitas golongan dhuafah.

2) Meningkatka Kapasitas Hidup

Meningkatkan kapasitas hidup ini dapat meliputi bidang ekonomi hingga mampu terhindar dari jeratan kemiskinan. seperti itu juga bidang kesehatan hingga mampu membentuk manusia yang sehat dan tangguh terhindar dari beragam penyakit. Selain dua aspek diatas juga ada bidang pendidikan. Keunggulan pada bidang ini dapat

18 Oneng Nurul Bariah, Total Quality Manajemen Zakat Prinsip dan Praktek Pemberdayaan Ekonomi, (Wahana Kardofa FAI UMJ, 2012), cet ke-1, h.226

(25)

mencetak manusia yang unggul sehingga terhindar dari ketertinggalan dan keterbelakangan.

3) Menciptakan Jiwa Enterpreneurship Supaya Bisa Mandiri

Kemandirian adalah sesuatu yang benar-benar utama, hingga sangat bernilai dari materi. Meningkatkan kemandirian berwirausaha pada diri seseorang dalam menunjang keberhasilan sehingga tercapainya cita-cita atau tujuan yang dinginkan.

Jadi, pemberdayaan itu benar-benar penting bagi masyarakat luas, baik perorangan maupun kelompok. Dengan pemberdayaan seseorang akan menjadi berkompeten dan terstimulus dalam merubah dirinya agar lebih baik. Tujuan pemberdayaan yang lainnya adalah membuat masyarakat yang awalnya mustahiq menjadi masyarakat muzaki. Menumbuhkan mutu hidup seseorang sehingga terhindar dari permasalahan ekonomi maupun kemiskinan.

c. Pola-pola Pemberdayaan

Pada usaha meningkatkan derajat hidup masyarakat, struktur pemberdayaan yang akurat sangat dibutuhkan, bentuk yang tepat dimana dengan menyediakan kesempatan terhadap kaum miskin untuk mengagendakan dan mengerjakan rancangan pembangunan yang sudah mereka rencanakan. Selain itu masyarakat diperkenankan memegang wewenang dalam mengatur dananya sendiri, baik yang bersumber dari pemerintah ataupun dari amil zakat, inilah yang membedakan antara keikutsertaan masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat.

(26)

Tujuan yang hendak dicapai dari pemberdayaan merupakan untuk membuat individu dan masyarakat menjadi mandiri, kemandirian ini terdiri dari kemandirian bertindak, berfikir, dan mengontrol apa yang mereka perbuat. Pemberdayaan masyarakat harus menuju pada perwujudan kongnitif masyarakat yang lebih baik, untuk tercapainya kemandirian dibutuhkan suatu rancangan pada pemberdayaan ekonomi masyarakatat.

struktur pemberdayaan ini memiliki ciri-ciri utama yaitu:19 1) Memiliki target yang akan dicapai

2) Memiiliki tempat kegiatan yang terencana

3) Kegiatan yang dilaksanakan terkonsep dengan baik juga harus sejalan dengan keadaan dan sumber daya setempat.

4) Terdapat perubahan keadaan terhadap masyarakat sasaran selama proses pemberdayaan.

5) Menitikberatkan pada peningkatan keikutsertaan masyarakat terhadap ekonomi terutama dalam wirausaha.

6) Terdapat kewajiban membantu semua tingkatan masyarakat terutama tingkatan masyarakat paling bawah. Jika tidak, maka kebersamaan/

kekompakan dan kerja sama akan sukar terwujud.

Jadi, sistem pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak hanya diterjemahkan sebagai keutamaan masyarakat untuk berpartisisipasi dalam suatu kegiatan namun keikutsertaan mereka dalam seluruh proses

19 Lili Badriah, Muhammad Zen, & M. Hudri, Zakat dan Wirausaha, (Jakarta: CED, 2005) h. 54.

(27)

yang harus dilewati dalam sebuah rancangan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sementara dalam mewujudkan keadaan ekonomi masyarakat yang lebih baik dibutuhkan adanya hubungan non direktif sehingga community woker bisa melaksanakan kewajibannya sepeti berikut:

1) Meningkatkan kemauan masyarakat dalam berwiraswasta menekuni dalam bidang ekonomi, bekerja dengan mengagendakan munculnya diskusi mengenai apa yang menjadi permasalahan pada masyarakat.

2) Membagikan informasi mengenai pengalaman kelompok lain yang sudah berhasil dan sejahtera.

3) Membantu masyarakat dalam merancang analisis keadaan usaha yang menjanjikan secara terus menerus mengenai hakikat dan pemicu dari masalah bisnis.

4) Menjembatani masyarakat dengan sumber yang bisa dimanfaatkan.

d. Tahap-tahap Pemberdayaan

Untuk mendapatkan perubaha ke arah yang positif maka ada beberapa langkah pemberdayaan yang mesti dilalui yaitu:20

1) Tahapan pengenalan masyarakat pada bidang ekonomi

2) Tahapan pengenalan permasalahan dan analisis kebutuhan wirausaha 3) Tahapan penyadaran masyarakat terhadap pentingnya pengusaha 4) Tahapan realisasi program kegiatan

5) Tahapan evaluasi realisasi program kegiatan

20 Lili Badriah, Muhammad Zen, & M. Hudri, Zakat dan Wirausaha, (Jakarta: CED, 2005), h. 56.

(28)

6) Tahapan pelebaran pemberdayaan masyarakat

Pada pemberdayaan bukan serta-merta terwujud secara langsung namun melaui proses dan tahapan, sebagai berikut:21

1) Tahapan Persiapan

Bagian ini terdiri dari penyiapan petugas, dimana tujuan utamanya untuk menyelaraskan pandangan antara anggora agen perubah, menagani pendekatan apa yang harus diambil untuk melaksanakan pengembangan masyarakat. Sementara, dalam tingkat penyiapan lapangan petugas melaksanakan pengacekkan kelayakan pada lokasi yang akan digunakan. Pada tahap ini terjadi komunikasi awal dengan kelompok sasaran.

2) Tahapan Assesment

Tahap ini dilaksanakan dengan menganalisis masalah dan sumber daya manusia yang dimiliki pelanggan. Pada tahap pelaksanaan penilaian ini bisa juga dipakai teknik SWOT, dengan memandang kelebihan, kekurangan, kesempatan dan ancaman.

3) Tahapan Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan

Ditahap ini agen perubahan secara partisipasif mencoba mengikut sertakan masyarakat untuk berfikir mengenai masalah yang mereka hadapi dan bagaimana mencari solusinya.

21 Isbandi Rukminto Adi, Pendayagunaan, Pengembangan Masyarakat dan Investasi Komunitas, (Jakarta: FEUI Press, 2003), h. 57.

(29)

4) Tahapan Pemformulaksi Rencana Aksi

Pada tahap ini agen membantu masing-masing kelompok dalam merancang dan memutuskan program dan kegiatan apa yang akandijalankan dalam mengatasi permasalahan yang ada.

5) Tahapan Pelaksanaan Program

Tahapan ini merupakan tahapan yang sangat pokok pada proses pengembangan masyarakat, sebab suatu yang telah terrencanakan dengan baik bisa saja melenceng pada saat realisasinya apabila tidak ada kerjasama antara masyarat.

6) Tahapan Evaluasi

Tahap ini merupakan sebuah sistem pemantauan dari masyarakat dan petugas pada kegiatan yang telah dijalankan terhadap pengembangan masyarakat. Tahap ini sepatutnya dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat itu sendiri.

7) Tahapan Terminasi

Tahapan terminasi adalah tahapan mengahiri hubungan secara formal dengan kelompok sasaran. Tahapan ini dilakukan bukan disebabkan masyarakat sudah dianggap mandiri, tapi disebabkan proyek sudah harus dihentikan karena sudah mencapai batas waktu yang telah ditetapkan sebelumnya atau karena anggaran sudah selesai sebab sudah tidak ada penyumbang dana dan tiada yang mau meneruskan.

(30)

e. Bentuk-bentuk Pemberdayaan Masyarakat

Bentuk pemberdayaan yang berhubungan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memiliki tujuan jangka panjang dan berkelanjutan Asy’arie mengatakan bahwa bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat ini yaitu:22

1) Pelatihan, lewat pelatihan ini semua peserta diberikan pemahaman mengenai gambaran kewirausahaan dengan segala jenis permasalahan yang terdapat di dalamnya. Pelatihan ini diberikan dalam rangka memberikan wawasan lebih luas dan aktual sampai bisa menjadi motivasi untuk peserta, selain itu peserta diharapkan mempunyai keahlian kewirausahaan pada berbagai bidang.

2) Pendampingan, pendampingan ini dilakukan saat suatu usaha mulai dijalankan, calon wirausaha akan didampingi oleh para pendamping yang sudah profesioanal, yang bertujuan untuk mengarahkan ataupun membimbing para peserta sampai usaha/program tersebut benar- benar bisa dikuasai/dilakukan oleh peserta secara mandiri.

3) Permodalan, hal ini merupakan penting pada dunia usaha. Dalam mendapatkan dukungan keuangan yang cukup stabil, harus terdapat hubungan kerja sama yang baik dangan lembaga keuangan baik dari lembaga perbankan atau non perbankan. Penambahan modal pada lembaga keuangan, sebaiknya dilakukan hanya untuk pengembangan

22Musa Asy’arie, Islam Etos Kerja, dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Yogyakarta:

Lesfi, 1997), h. 141-144.

(31)

usaha yang telah dijalankan dan memperlihatkan perkembangan yang cukup baik, bukan digunakan untuk permodalan awal.

4) Jaringan bisnis, setelah melalui proses-proses pembinaan yang konsisten, sistematis, dan berkelanjutan, maka diperlukan pembentukan atau penciptaan net-working yang bisa saling menguntungkan, memperkuat, dan memperluas pemasaran.

f. Indikator Pemberdayaan

Parameter keberhasilan pemberdayaan masyarakat sebagai suatu metode sering kali diadopsi dari tujuan suatu pemberdayaan yang menunjukan hasil yang ingin dicapai oleh suatu perubahan sosial yaitu masyarakat miskin yang berdaya, mempunyai pengetahuan dan kemampuan mencukupi kebutuhan hidupnya baik pada aspek ekonomi, sosial, ataupun fisik misalnya mempunyai kepercayaan diri, maupun menyampaikan aspirasi, memiliki mata pencaharian, ikut serta pada kegiatan sosial, dan mandiri dalam mengerjakan tugas-tugas kehidupannya.23

Sementara tolak ukur keberhasilan kegiatan suatu pemberdayaan adalah sebagai berikut:24

1) Berkurangnya jumlah penduduk miskin

2) Peningkatan pendapatan dan berkembangnya usaha yang dijalankan oleh masyarakat miskin dengan pemanfaatan sumberdaya yang ada.

23 Achmad Subianto, Ringkasan dan Bagaimana Manajemen Zajat (Jakarta: Yayasan Bermula dari kanan, 2004), h. 40.

24 Gunawan Sumodiningrat, Pemberdayaan Masyarakat dan Jaringan Pengaman Sosial, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 29.

(32)

3) Menumbuhkan rasa keperdulian warga pada usaha meningkatkan kemakmuran keluarga miskin dilingkungannya

4) Mewujudkan kemandirian kelompok dengan indikasi semakin tingginya usaha produktif anggota dan kelompok, semakin bertambahnya permodalan kelompok, semakin tertata sistem administrasinya, serta semakin luas hubungan kelompok dengan kelompok lain dilingkungan masyarakat.

5) Meningkatkan kinerja masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai dengan meningkatnya pendapatan keluarga miskin sehingga bisa memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosialnya.

Pada parameter diatas, masyarakat dikatakan berdaya apabila masyarakat itu mampu memenuhi kebutuhanya dan bisa memakmurkan masyarakat sekitarnya.

2. Konsep Penyaluran a. pengertian penyaluran

Kata penyaluran atau pendistribusian berasal dari bahasa Inggris yaitu distribute berarti pembagian, secara istilah penyaluran merupakan (pembagian atau pengiriman) pada banyak orang atau beberapa tempat.

Terdapat pemahaman lain mengartikan distribusi sebagai penyaluran barang kebutuhan setiap hari (terutama pada waktu mendesak) oleh pemerintah kepada pegawai negeri, masyarakat, dan yang lainnya.25

25 W. H. S Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), cet, ke-7, h.259.

(33)

Menurut Basu Swatha distribusi/penyaluran adalah saluran pemasaran yang dipakai oleh produsen untuk mengirimkan produknya ke konsumen atau industri. Terdapat beberapa jenjang yang ada pada saluran distribusi, yakni produsen, distributor, konsumen atau industri.26 b. Jenis-jenis Penyaluran

terdapattiga bagian penyaluran yang dapat dilihat dalam kegiatan ekonomi masyarakat, sebagai berikut:27

1) Resiprositas

Resiprositas mengarahkan pada kegiatan diantara bagian- bagian proposional yang saling berkaitan. Hal tersebut terjadi jika hubungan timbal balik antara perorangan atau antara kelompok- kelompok selalu dilaksanakan. Pada hubungan yang seperti ini, resiprositas adalah keharusan membayar kembali pada orang atau kelompok lain terhadap apa yang telah mereka berikan atau atas apa yang dikerjakan untuk kita, atau pada aksi nyata membayar atau membalas kembali pada orang atau kelompok lain.

2) Redistribusi

Menurut Sahlin mendefinisikan retribusi merupakan sebagai pooling merupakan perpindahan barang atau jasa yang terencana, yang berkaitan dengan proses penghimpunan kembali dari anggota sebuah kelompok lewat pusat dan pembagian kembali kepada

26https://b-pikiran.cekkembali.com/distribusi/ diakses tanggal 02 Oktober 2019, pukul 11.50.

27 Damsar, Pengantar Sosial Ekonomi, (Jakarta:Prenada Media Group, 2009), cet, ke-1 h. 104-111.

(34)

anggota-anggota kelonpok. Maka retribusi adalah aksi approsiasi kearah pusat selanjutnya dari pusat disalurkan kembali.

3) Pertukaran

Pertukaran (exchange) yaitu penyaluran yang dilaksanakan atau terjadi lewat pasar. Pergantian yang dilaksanakan merupakan penunjukan mengenai penciptaan pendapatan dan reinvestasi pendapatan pada produksi beserta harga yang ditentukan berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

c. Macam-macam Penyaluran

Terdapat tiga jenis penyaluran yang bisa dilihat dalam kegiatan ekonomi masyarakat yaitu:28

1) Penyaluran Barang Konsumsi

Pada bagian ini barang yang didistribusikan atau disalurkan merupakan barang yang bisa langsung dipakai oleh konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Maka barang konsumsi langsung berkaitan dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh pemakai dari distributor, pemasok, hingga ke toko-toko.

2) Penyaluran Jasa

Pada penyaluran jenis ini dapat dilaksanakan secara langsung terhadap konsumen tanpa melalui perantara disebabkan jasa dihasilkan dan dirasakan pada saat yang bersamaan.

28 Fandi Tjiptono, Strategi Bisnis Modern, (Yogyakarta: Andi, 2000), cet, ke-1, h. 135.

(35)

3) Penyaluran Kekayaan

Menurut ulama Hanafiah, kekayaan merupakan semua hal bisa diambil kegunaannya contohnya, uang, tanah, binatang dan yang lainya. Kekayaan merupakan jumlah asset seseorang yang diukur pada waktu tertentu.

4) Penyaluran Pendapatan

Pendapatan adalah hasil usaha yang dijalankan yang berdampak pada ekonomis.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen penyaluran merupakan suatu aktivitas untuk menata selaras dengan kegiatan manajemen yang ada di suatu lembaga dalam usaha mendistribusikan hasil produksi atau dana yang terdapat didalamnya sehingga tercapai tujuan yang telah direncanakan.

d. Sistem Penyaluran

Ada dua sistem penyaluran dana, yaitu:29

1) Sistem sesaat, dalam sistem ini berarti zakat cuma dialokasikan terhadap seseorang satu kali atau sesaat saja. Berarti pada sistem ini pendistribusian terhadap mustahiq tidak dibarengi dengan target kemandirian ekonomi pada diri mustahiq. Kasus tersebut terjadi sebab mustahiq yang terkait tidak memungkinkan untuk mandiri, misalnya, terhadap orang tua yang lanjut usia, dan orang cacat. Sistem bantuan sesaat ini idealnya adalah hibah.

29 Lili Bariadi, Muhammad Zen, M. Hudi, Zakat dan Wirausaha, (Ciputan: CED, 2005), h. 25.

(36)

2) Sistem Pemberdayaan, adalah pendistribusian zakat yang dibarengi sasaran mengalihkan kondisi penerima dari keadaan golongan mustahiq menjadi golongan muzakki. Tujuan ini merupakan tujuan yang sangat besar yang tidak sukar terlaksana dalam kurun waktu yang singkat. Sebab itu pendistribusian dana zakat mesti dibarengi dengan pengertian yang komplet terhadap permasalahan yang terdapat pada diri penerima. Jika masalahnya merupakan kemiskinan, maka harus diketahui penyebab kemiskinan tersebut sehingga bisa dicarikan penyelesaian yang akurat supaya tercapainya tujuan yang telah direcanakan.

e. Penyaluran Dana Zakat dalam Pemberdayaan Ekonomi

Perubahan dibidang ekonomi berpengaruh terhadap struktur sosial. Saat ini kita bisa melihat potensi muzakki pada masa lalu itu jumlahnya sedikit. Namun sekarang sudah makin bertambah sebab terbukanya kesempatan usaha. Sehingga potensi sumber dana zakat saat ini lebih banyak dan lebih besar. Hal ini berpengaruh pada pengelolaan dana zakat, khusnya pada bidang mobilisasi.

Salah satu rancangan yang sudah dilaksanakan oleh lembaga amil zakat pada umumnya merupakan zakat produktif, dalam arti bahwa lembaga amil zakat memberikan bantuan pada mereka yang membutuhkan untuk pengembangan usaha bukan untuk di konsumsi secara langsung. Sehingga yang bersangkutan dapat terhindar dari kemiskinan.

(37)

Dengan adanya rancangan tersebut terdapat sejumlah model penyaluran dana zakat, sebagai berikut:30

1) Zakat dialokasikan secara langsung pada fakir miskin untuk kebutuhan konsumtif. Padakondisi perubahan yang ada, sehingga bagian zakat ditujukan terutama pada kelompok “the destitute” yang sifatnya meringankan dan dalam kurun waktu yang singkat.

2) Zakat didistribusikan pada mereka yang ikut serta pada kegiatan pendidikan dan dakwah, yang dalam golongan kekurangan.

3) Separuh dana zakat dan dana lainya (shadaqah, infaq, dan wakaf) dipergunakan untuk pembangunan sarana ibadah dan pendidikan/dakwah Islam.

4) Sebagian kecil zakat kini diarahkan ketujuan produktif, baik dalam bentuk hibah ataupun pinjaman tampa tambahan bagi kaum miskin, dengan harapan mereka bisa melepaskan diri dari belengu kemiskinan.

Bahkan dalam jangka waktu tertentu diharapkan mereka dapat menjadi muzakki.

5) Sebagian kecilnya lagi diperuntukan untuk amil, dalam arti dana tersebut bukan hanya semata bukan untuk orangnya, dapat juga lembaga yang mengelola dan dapat memajukan dari segi pengorganisasian.

30 ibid h. 55.

(38)

3. Konsep Zakat a. Pengertian Zakat

Zakat adalah sebagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan kepada pemerintah/pengurus kaum muslim, untuk membiayai kebutuhan bersama terutama yang menyangkut pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Zakat adalah ibadah wajib yang hampir selalu disebut dalam al-Quran bersama kewajiban shalat.31

Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan bentuk kata dasar (masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik.

Karenanya zakat, berarti tumbuh dan berkembang, bila dikatakan dengan sesuatu juga bisa berarti orang itu baik bila dikaitkan dengan seseorang.

Dari segi istilah fiqih menurut Yusuf Qardawi, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah yang diserahkan kepada orang- orang yang berhak.32 Orang-orang yang berhak yang dimaksud ini yaitu fakir, miskin, muallaf, amil zakat, budak, orang yang berhutang, dan orang yang berjuang dijalan Allah (Fii Sabilillah). Hal ini sebagaimana yang termuat dalam surat at-Taubah ayat 60,















































31 Nurul Huda, dkk., Keuangan Republik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah, (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), h. 24.

32 Nurudin Mhd. Ali, Zakat Sebagai Instrumen dalam Kebijakan Fiskal, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo, 2006), h. 6.

(39)

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 60).33

b. Dasar Hukum Zakat

Ajaran Islam menempatkan harta sebagai amanat (titipan) Allah kepada manusia untuk dinikmati dan dimanfaatkan dalam kehidupan yang bersifat sementara di dunia ini. Dan sebagai amanat dari Allah harta itu harus dipergunakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan pemberi amanat sebab pada akhirnya penggunaan amanat itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.34

Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga selain sebagai ibadah dan bukti ketundukan kepada Allah SWT, juga mempunyai fungsi sosial yang sengat besar, disamping sebagai salah satu tiang ekonomi dalam Islam. Jika zakat dikelola dengan benar, baik penerimaan ataupun penyalurannya, insya Allah bisa mengurangi masalah kemiskinan.

Zakat dalam al-Quran disebut sebanyak 82 kali, hal ini menunjukan bahwa hukum zakat sangat kuat dan wajib dilaksanakan oleh setiap muslim, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 110:

33 QS at-Taubah [9]: 60.

34 Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, (Jakarata: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1988), h. 31.

(40)





































“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya pahala di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS.

al-Baqarah: 110).35 c. Tujuan Zakat

Yang dimaksud dengan tujuan zakat, dalam hubungan ini dalah sarana praktisnya. Tujuan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: (1) Meningkatkan derajat fakir miskin dan menolongnya keluar dari kesukaran hidup serta kesengsaraan; (2) Membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh para gharimin,ibnussabil dan mustahiq lainnya; (3) Mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam dan umat manusia pada umumnya; (4) Menghapus sifat bakhil dari pemilik harta;

(5) Menghilangkan sifat pendendam dan iri hati pada orang-orang kurang mampu; (6) Menciptakan keharmonisan antara yang kaya dengan yang miskin dalam sebuah masyarakat; (7) Meningkatkan rasa tanggung jawab sosial pada seseorang, khusunya kepada mereka yang berkecukupan harta; (8) Mengajarkan manusia untuk tertib dalam melaksanakan kewajiban dan memberikan hak orang lain yang ada padanya; dan (9)

35 QS al-Baqarah [2]: 110.

(41)

Sebagai instrumen pemerataan pendapatan (rezeki) dalam mencapai keadilan sosial.36

d. Hikmah Zakat

Ada banyak kearifan dalam menunaikan ibadah zakat. Zakat mempunyai ruang peran ganda yang sangat fundamental. Pertama, zakat sebagai ibadah dan bentuk ketakwaan dan kesyukuran seorang hamba kepada Allah atas karunianya dalam bentuk harta kekayaan, serta untuk membersihkan dan mensucikan diri. Pada kondisi inilah zakat bertujuan untuk menciptakan hubungan seorang hamba dengan tuhannya sebagai pemberi rezeki. Kedua, zakat dapat membentuk rasa keadilan sosial antara golongan yang mampu dengan golongan yang kurang mampu dan dapat meminimalkan permasalah dan kesenjangan sosial serta ekonomi umat. Dalam hal ini zakat juga diharapkan menciptakan pemerataan dan keadilan sosial antra umat manusia, khususnya umat Islam.37

Para ulama telah membahas perihal hikmah dan tujuan dari adanya zakat. Diantaranya, menurut Yusuf Qardhawi, secara umum ada dua tujuan dari zakat yaitu, untuk kehidupan individu dan untuk kehidupan kemasyarakatan. Tujuan utama yaitu untuk membersihkan jiwa dari sifat bakhil, menumbuhkan sifat senang berinfaq, menjauhkan hati dari cinta dunia.38

36Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, (Jakarata: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1988),h. 40.

37 Asnaini, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 42.

38 Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, (Jakarta: Lentera. 1991), h.848.

(42)

e. Hakikat Zakat

Bertolak pada dalil yang mengharuskannya adalahhak mustahiq dan bukan bagiandari kebaikan hati orang kaya semata. Dalam artri lain, zakat menggambarkan kewajiban bagi yang mampu dan hak yang legal bagi yang golongan miskin, baik diminta ataupun tidak.

Karena itulah didalam zakat tidak ada istilah hutang budi, balas budi, malu ataupun hina. Hal itu disebabkan hakikat sebuah zakat adalah pemberian dari Allah SWT. Juga menurut Islam seseorang yang kaya tidaklah berlebihan kedudukannya disisi Allah dari orang miskin karena hartanya. Karena yang membedakan manusia dimata Allah hanyala darajat ketakwaannya.

Hal yang seperti itu memberikan kesadaran bahwa semua yang ada di bumi dan langit beserta isinya adalah milik Allah dan harta yang dimiliki seseorang itu pada dasarnya merupakan amanah dari Allah SWT semata. Sebagaimana firman Allah SWT yang terdapat dalam surat at- Taubah ayat 104:



































(43)

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima taubat hamba-

hamba-Nya dan menerima zakatnya, dan Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (at-Taubah: 104).39

Berdasarkan ayat di atas, zakat menyerahterimakan harta benda kepada Allah SWT, sebelum diterima oleh orang fakir dan orang yang berhak menerimanya. Zakat merupakan proses pengoperan hak milik kepada Allah SWT. Dengan demikian hakikat zakat sebenarnya adalah mengeluarkan harta benda kepada Allah SWT.40

G.Metode Penelitian

Metode adalah sebuah cara untuk mengetahui sesuatu yang memiliki langkah-langkah terstruktur. Sementara, metodelogi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari berbagai metode. Metodelogi penelitian ialah studi yang membahas berbagai cara penelitian. Dilihat dari segi filsafat, metodelogi penelitian adalah yang menyangkut bagaimana peneliti melakukan penelitian.41

1. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Data

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang berusaha memahami dan mengartikan makna suatu kejadian interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu. Juga sebagai sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis dari

39 QS at-Taubah [9]: 140.

40 Asnaini, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 46.

41 Husaini Usman, Purnomo Setiady Akbar, Metodelogi Penelitian Sosial, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2017), h. 77.

(44)

wawancara dengan pihak Badan Amil Zakat Nasional, menganalisis dokumentasi pada arsip-arsip seperti laporan keuangan juga dokumentasi lain yang terkait dengan permasalahan ini.

b. Sumber Data Penelitian

1) Data primer adalah data yang didapat langsung dari pihak BAZNAS melalui instrumen dokumentasi dan wawancara secara terencana.

2) Data sekunder merupakan data yang didapat dari beragam sumber dan acuan lain seperti buku, majalah, dan setiap artikel yang membahas keterangan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang di kumpulkan dari berbagai tempat seperti perpustakaan hingga situs internet.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pada pengumpulan data menggunakan tiga metode yaitu:

a. Observasi merupakan melihat sacara langsung suatu objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data yang dibutuhkan dalam suatu penelitian.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui keadaan, keberadaan objek, dan konteks dari penelitian yang dilakukan.

b. Interview (Wawancara) merupakan suatu teknik mendapatkan data dengan bertanya dalam bentuk komunikasi verbal atau wawancara untuk menghasilkan penjelasan dari responden. Dalam hal ini pihak manajemen lembagalah yang dibutuhkan informasinya dalam mendukung penulisan ini. Selain itu, juga pihak dari masyarakat yang mendapatkan bantuan dari BAZNAS. Hal-hal yang dibahas disini antara lain, model

(45)

pendayagunaan dan penyaluran yang dilakukan BAZNAS dan pendayagunaan ini mampu atau tidak meningkatkan perkonomian mustahiq-mustahiq yang mendapatkan dana tersebut.

c. Studi dokumenter, merupakan bukti kejadian, dapat berupa gambar, surat, buku, dan dokumen-dokumen lainya. Misalnya data mustahiq, data dana yang dikeluarkan untuk pemberdayaan ekonomi, dan bukti wawancara dengan pihak yang berkaitan dalam bentuk gambar.

3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Menurut Miles dan Huberman berpendapat bahwa kegiatan analisis data pada kualitatif dilaksanakan dengan interaktif dan berjalan secara terus menerus sampai selesai. Menurut mereka untuk menganalisis hasil penelitian maka dilakukan tahap-tahap sebagai berikut:42

a. Mendapatkan informasi yang ada di lapangan dengan cara observasi, wawancara ataupun dokumentasi.

b. Memilah data, cara ini untuk mengklasifikasikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, data ini berupa hasil wawancara dari narasumber dan data dari pihak BAZNAS kota Mataram.

c. Penyajian data, data yang telah dipilih dapat disajikan dalam bentuk tabel maupun penjelasa.

d. Penarikan kesimpulan, peneliti harus bisa marik kesimpulan berdasarkan dari informasi-informasi yang telah didapat dari prose- proses sebelumnya.

42Sugiyono, Metodelogi Penelitian Bisnis, (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 438.

(46)

4. Validitas Data

Trianggulasi pada penelitian kualitatif sebagai suatu yang penting dalam membantu pengamatan agar lebih jelas hingga informasi yang dibutuhkan menjadi lebih mudah dipahami. Trianggulasi merupakan cara validasi yang digunakan dalam penelitian untuk menguji keabsahan sumber data yang satu dengan yang lainnya, atau cara yang satu dengan cara yang lainnya.43

Menurut Denzi, teknik trianggulasi dibagi menjadi empat bagian, pertama, teknik sumber, maknanya membandingkan dan memeriksa kembali tingkat kevalidtan data yang didapat pada waktu dan cara yang berbeda dalam suatu penelitian. Kedua, teknik metode, pemeriksaan tingkat kevalidtan data dengan berbagai cara pengumpulan informasi dan berbagai sumber yang menggunakan metode yang sama.Ketiga,, teknik penyidik, pemeriksaan dengan cara membandingkan dengan riset yang lain. Keempat, teknik teori, adalah pemeriksaan dengan fakta dan teori.44

Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik pemeriksaan trianggulasi melalui penguatan data sumber. Trianggulasi dengan data sumber ini dilaksanakan dengan jalan membandingkan dan memeriksa data yang didapatkan dari hasil wawancara, dokumentasi , dan hasil pengamatan.Pada trianggulasi menggunakan sumber data ini dapat dilaksanakan dengan cara:45

43Ali M., Memahami Riset Perilaku dan Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 270.

44Maleong L., Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), 330-331.

45Ibid., h. 331.

(47)

a. Membandingkan data hasil observasi dengan hasil interview.

b. Membandingkan apa yang diinfokan oleh orang didepan khalayak dangan apa yang diinfokan secara pribadi.

c. Membandingkan informasi dari masyarakat mengenai keadaan penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

d. Membandingkan kondisi dengan pandangan seseorang dengan macam- macampandangan dan pendapat masyarakat sepertimasyarakat biasa, masyarakat yang berpendidikan sedang maupun tinggi, dan pejabat pemerintahan.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan informasi dari suatu dokumen yang berkaitan.

Pada penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber yang pada pemeriksaannya dilakukan dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dan hasil wawancara pada pihak yang terkait,

H.Sistematikan Pembahasan

Secara umum skripsi ini berisi empat bab, dibagin dalam sub bab dan setiap sub bab memiliki pembahasan tersendiriyang akan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, yaitu sebagai berikut:

BAB I adalah Pendahuluan. Pada bab ini, penulis menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan seting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

(48)

BAB II membahas mengenai gambaran umum BAZNAZ provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada bab ini penulis menguraikan dan menjelaskan seluruh data dan temuan penelitian. seperti gambaran umum dari BAZNAS yang meliputi sejarah singkat BAZNAS, legal formal BAZNAS, visi dan misi BAZNAS, Program pemberdayaan ekonomi BAZNAS, Struktur organisasi BAZNAS, pengembagan BAZNAS, dan penyaluran dana zakat pada BAZNAS.

BAB III membahas tentang analisis pemberdayaan dana zakat dalam meningkatkan ekonomi umat. Dalam bab ini menjelaskan strategi penyaluran dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh BAZNAS, dan bagaimana peningkatan ekonomi setelah pemberdayaan yang dilakukan BAZNAS.

BAB IV adalah penutup, Pada bab ini berisi mengenai kesimpulan dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya serta saran yang dapat penulis sampaikan dalam penulisan skripsi ini.

(49)

39 BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Profil Lembaga

1. Sejarah Terbentuknya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Mataram

BAZNAS kota Mataram dibentuk oleh wali kota Mataram dan mulai beroperasi tahun 2000. Dalam melaksanakan kegiatan pengolahan danazakat BAZNAS Kota Mataram sekarang dipimpin oleh H. Mahsar Malaca. Sebelum menjadi BAZNAS Kota Mataram, nama instasi ini adalah BAZDA yang berada di Jl.Pejanggik Lantai II No. 16 Kota Mataram. BAZDA Kota Mataram berubah kedudukan menjadi BAZNAS Kota Mataram setelah adanya Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat.46

BAZNAS Kota Mataram menempati gedung baru tanggal 2 Juni 2014 yang berada di Jl. Dr. Soejono Lingkar Selatan Komplek perkantoran Pemkot Mataram. dengan luas area perkantoran 348m2, dengan biaya pembangunan gedung sebesar Rp. 836.675.000.00. Dimana gedung ini terdiri atas ruang rapat, ruang pimpinan, ruang pelaksana, ruang pelayanan muzakki dan mustahiq, ruang ibadah, ruang perpustakaan, ruang gudang, dan lain-lain. Selain itu BAZNAS Kota Mataram memiliki beberapa sarana opersaional seperti, mobil 1 unit, motor 1 unit, perlengkapan kantor dan perlengkap lainnya.

46H. Mahsar Malacca, Wawancara, Kantor BAZNAS Kota Mataram, 20 Maret 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Sistem penyaluran zakat poduktif pada BAZNAS Kota Kendari yaitu berupa modal usaha yang diberikan kepada mustahiq guna

Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah Pengelolaan Zakat Produktif untuk peningkatan ekonomi mustahik (Studi pada program pemberdayaan ekonomi kampong ternak

Dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan, manajemen pengelolaan dana zakat pada BAZNAS Kota Mataram dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi

Menurut ibu Intan selaku marketing pendistribusian zakat, berkaitan dengan penyaluran atau pendistribusian zakat produktif di Solopeduli ada beberapa program dalam

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan mendatangi mustahiq yang menerima dana zakat produktif mengenai peran BAZNAS pada peningkatan kesejahteraan

Angriani (2017), dalam penyaluran dana zakat produktif yang diselenggarakan oleh BAZNAS Provinsi Sumatera Selatan telah mengikuti ketentuan produktif anjuran zakat

Proses atau teknik penyaluran ini, didampingi oleh DPU DT Unit Metro, sehingganya mustahik dapat memutar kembali dana zakat tersebut kemudian bila mencapai nisab bisa

Pengelolaan Dana Zakat Produktif Untuk Kesejahteraan Mustahik Melalui Program Solok Sejahtera, BAZNAS Kota Solok menggunakan Supporting manajemen, yaitu zakat yang diterima oleh petugas