• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Konstruksi Tambak

pembangunan tambak baru, jenis tanah selalu menjadi perhatian utama, karena tanah adalah sebagai wadah dan berhasil atau tidaknya suatu usaha budidaya organisme air sangat ditentukan oleh kondisi tanah tambak.

2.3.6. Kondisi Sosial

Untuk memilih lokasi pertambakan selain faktor teknis yang harus diperhatikan, sebelum memutuskan pembangunan tambak, faktor nonteksis juga harus diperhatikan. Faktor nonteknis yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi pembangunan tambak baru, diantaranya: (1) animo masyarakat, (2) akses perhubungan baik sungai atau darat, (3) terjangkau penerangan berupa Perusahaan Listik Negara, (4) jaringan telekomunikasi tersedia, dan (5) jarak dari kota besar.

Kondisi sosial sangat penting diperhatikan dalam pembangunan tambak baru.

Keberhasilan suatu budidaya tambak sangat terkait kondisi sosial tersebut, dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya dalam mendukung kegiatan budidaya nantinya.

tambak, fungsinya menahan air dari dalam petakan dan dari luar petakan.

Pematang utama harus lebih kuat dan bebas dari bocoran dan rembesan air, pematang utama merupakan pembatas dari suatu unit pertambakan, sekaligus penahan limpahan air banjir.

Pematang sebagai penahan air dalam suatu petakan tambak, harus dibuat sekuat mungkin agar betul berfungsi secara optimal sebagai penahan air selama berlangsung pemeliharaan organisme air. Oleh karena itu, pembuatan pematang, baik pematang utama maupun pematang antara harus memenuhi syarat-syarat teknis dalam pembuatan pematang yaitu: (1) harus ada lapisan inti, (2) menggali parit pada jalur yang akan dilalui pematang ukuran 1 x 1 m, (3) isi parit dengan tanah keras secara berlapis-lapis dan padatkan, (4) ketika menimbun pematang hindari benda-benda seperti batang kayu dan sejenisnya untuk menjaga pematang, sebab jika benda tersebut lapuk pematang akan berongga, sebagai awal terjadinya rembesan dan bocoran, (5) sebaiknya pematang tambak jika memungkinkan dibuat lurus, karena pematang yang berbelok-belok, selain pembuatannya relatif mahal, juga tidak kuat menahan beban volume air dari dalam tambak.

Ukuran lebar dan tinggi pematang utama disesuaikan dengan kondisi lokasi atau menggunakan perhitungan yaitu: tinggi pematang utama adalah antara 0,50-0,75 m di atas permukaan air pada waktu pasang tertinggi, misalnya rata-rata tinggi pasang pada lokasi itu 1,26 m, berarti idealnya tinggi pematang utama yaitu 1,26 + 0,65 = 1,91 m. Ukuran lebar pematang utama bagian atas antara 2-2,5 m, lebar talud sisi luar antara 1 : 1,5 dan sisi dalam 1 : 1 dan beren 0,5-1,0 m.

Sedangkan ukuran tinggi dan lebar pematang antara yaitu tingginya lebih rendah sedikit dari pematang utama, dan ukuran lebarnya yaitu lebar atas antara 0,5-1,0 m, talud 1 : 1 m dan berm antara 0,3-0,5 m.

2.4.2. Pintu

Pintu tambak merupakan salah satu bagian penting dalam suatu unit pertambakan. Oleh karena itu, cara dan bahan-bahan untuk pembuatan pintu harus baik. Di dalam satu unit tambak ada dua macam pintu yaitu: pintu air utama dan pintu air petakan. Kedua jenis pintu air tersebut dapat dibuat dari berbagai jenis kayu dan beton. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan air, antara lain: (1) harus kuat dan dilengkapi tempat saringan, dan (2) lebar pintu

untuk satu unit pertambakan seluas 10.000 m2 minimal 1 m, sedangkan tingginya disesuaikan pematang.

Sedangkan jenis kayu yang akan dibuat pintu air utama harus baik, misalnya kayu besi, kayu jati, kayu meranti dan sebagainya. Ukuran pintu air utama adalah sebagai berikut: (1) untuk kerangka, digunakan balok berukuran tebal 8 cm dan 12 cm, (2) untuk dinding dan papan, digunakan berukuran tebal 3 cm dan lebar 20 cm, dan (3) untuk papan sekat, digunakan kayu dengan ukuran tebal 5 cm dan lebar 7 cm. Setelah papan dan dinding dasar dipasang seluruhnya, lalu dilakukan penimbunan sisa luar pintu. Dasar pintu utama harus lebih tinggi dari garis surut terendah atau zero datum dan lebih rendah dari dasar saluran.

Selanjutnya pintu petakan pada prinsipnya selama dengan pintu air utama, begitu juga cara pembuatannya. Perbedaannya adalah ukuran yang lebih kecil yaitu lebar pintu 60-80 cm. Dasar pintu air petakan ditempatkan sedemikian rupa sehingga berada lebih kurang 15 cm di atas saluran pembagi air, akan tetapi berada lebih rendah 15 cm atau sama dengan dasar terendah petakan tambak.

Adapun maksud pengaturan tersebut adalah untuk memudahkan pengelolaan air dalam suatu unit pertambakan.

2.4.3. Saluran

Saluran dalam suatu unit pertambakan berfungsi menghubungkan antara sumber air baik langsung dari laut maupun melalui sungai dengan unit pertambakan, dalam suatu unit pertambakan biasanya terdiri tiga macam saluran yaitu: (1) saluran primer, (2) saluran sekunder, dan (3) saluran tersier. Adapun fungsi ketiga saluran dalam satu unit pertambakan yaitu sebagai berikut: (1) saluran primer menghubungkan antara laut dengan saluran sekunder, (2) saluran sekunder menghubungkan antara saluran primer dengan saluran tersier, dan (3) saluran tersier, menghubungkan antara saluran sekunder dengan petakan tambak, sistem saluran tambak di Indonesia secara umum masih berfungsi ganda yaitu sebagai saluran pemasukan dan pengeluaran air, dan merupakan salah satu penyebab masuknya penyakit ke dalam unit tambak.

Sebagaimana telah diuraikan, bahwa saluran adalah menghubungkan sumber air dengan unit pertambakan, oleh karena itu, sebaiknya saluran utama atau primer dibuat memanjang ke arah hulu dan berada di tengah - tengah

kawasan pertambakan, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemasukan dan pengeluaran air dalam suatu unit pertambakan. Ukuran lebar saluran disesuaikan dengan kondisi pasang surut di lokasi pertambakan dan luasnya area yang akan diairi, sedangkan dalamnya saluran primer dibuat rata-rata 15 cm di atas garis surut terendah atau zero datum.

Untuk saluran sekunder dan tersier menyesuaikan antara dasar saluran primer dan dasar petakan tambak. Adapun ukuran lebar saluran primer menurut Denilla (1987) dengan contoh sebagai berikut: (1) jika pasang surut lebih kecil 1,5 m dengan luasan areal 20 ha, lebar salurannya 7,5 m, dan (2) jika pasang surut lebih besar 1,5 m dengan luas areal tambak 20 ha, lebar salurannya 5,5 m.

Sebagaimana diketahui bahwa saluran mempunyai peranan penting dalam proses penolong air dalam suatu kawasan pertambakan atau satu unit tambak. Oleh karena itu agar saluran berfungsi optimal dalam proses pengelolaan air, maka sebaiknya saluran memenuhi tiga persyaratan yaitu: (1) jika memungkinkan saluran dibuat lurus agar proses resirkulasi air lancar, (2) saluran harus bebas dari endapan lumpur atau sedimen, dan (3) saluran harus bebas dari sampah-sampah dan rerumputan. Ketiga persyaratan ini, dua diantaranya yaitu endapan lumpur dan rerumputan pada saluran harus betul-betul diperhatikan sebelum berlangsung suatu kegiatan budidaya, sebab akan mengganggu proses pengelolaan air sebagai penentu keberhasilan dari suatu kegiatan budidaya organisme air.