DAFTAR LAMPIRAN
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Pengertian Silvofishery
salinitas. Perbedaan kedalaman air dan salinitas pada penumbuhan makanan alami disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Hubungan kedalaman air dan salinitas terhadap pertumbuhan klekap, lumut dan plankton
No. Jenis Makanan Alami Kedalaman Air (cm) Salinitas (‰) 1
2 3
Klekap Lumut Plankton
5-40 40-60 70-120
25-40 5-25 5-30
Pengelolaan air dalam hal penumbuhan makanan alami di tambak pada prinsipnya sama, yaitu setelah tambak dikeringkan dan dikerjakan tahapan- tahapan seperti pengelolaan tanah dasar, pemberantasan hama dan pengapuran, air dimasukan ke dalam tambak dengan ketinggian secara bertahap sesuai yang dikehendaki agar reaksi pupuk dengan tanah dan air berjalan sempurna. Adapun perbandingan antara nitrogen (N) dan fosfor (P) ini disesuaikan dengan tekstur tanah tambak tersebut. Untuk tambak yang banyak mengandung lumpur, maka jumlah pupuk urea dan TSP adalah 2 : 1 jadi dalam hal ini digunakan urea sebanyak 100 kg ha-1 dan TSP 50 kg ha-1.
hasil tangkapan nelayan serta meningkatnya biaya perlindungan lingkungan yang nilainya mencapai Rp 9.066.340,75 ha-1 th-1. Selain itu, terjadi kehilangan manfaat ekologis sebesar Rp 24.055.672,47 ha-1 th-1, dengan demikian mengkonversi ekosistem mangrove menjadi tambak terjadi kerugian ekologis sebesar Rp 33.122.013,22 ha-1 th-1.
Selanjutnya Midleton dan Mekec (2001) mengatakan bahwa menanam mangrove pada petakan tambak dengan pola silvofishery secara ekonomi produksi tambak mungkin saja berkurang karena sebagian lahan tambak ditanami mangrove. Akan tetapi secara ekologis, ekosistem mangrove lestari dan jangan lupa bahwa ekosistem mangrove mempunyai nilai valuasi ekonomi berupa manfaat langsung, manfaat tidak langsung dan manfaat keberadaan dan apabila dikonversi menjadi rupiah jauh lebih menguntungkan. Pendapat di atas sejalan dengan hasil penelitian Yulidana et al. (2010), bahwa nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove berupa manfaat langsung, manfaat tidak lansung dan manfaat keberadaan sebesar Rp 78.808.694.877,05 ha-1 th-1.
2.8.1. Silvofishery
Silvofishery biasa juga disebut wanamina yaitu suatu kegiatan yang dilakukan secara bersamaan antara pelestarian ekosistem mangrove dan usaha perikanan pada suatu lahan yang sama. Penerapan sistem silvofishery adalah salah satu bentuk pengelolaan ekosistem mangrove yang memadukan ekologi dan ekonomi. Pertimbangannya adalah keberhasilan sistem ini akan berdampak pada pemulihan kondisi ekosistem mangrove yang banyak mengalami degradasi akibat meningkatnya aktivitas pertambakan. Model pengelolaan ini adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan suatu lahan pada ekosistem mangrove yang bertujuan dan menjamin terjadinya keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan (Mahmuddin 2007).
Sesuai rekomendasi Perhutani (1988) dan Rachmawati (2005) bahwa pengelolaan ekosistem mangrove untuk kegiatan silvofishery dengan perbandingan luas yaitu 80% : 20%, artinya yang dapat dimanfaatkan untuk usaha perikanan dengan pola silvofishery hanya 20% dari total luas ekosistem mangrove.
Alasan perbandingan tersebut di atas untuk menjamin terjadinya keseimbangan ekosistem (ecosystem balance) pada suatu kawasan mangrove. Selanjutnya
Edward et al. (1998) mengatakan bahwa secara empiris keberadaan ekosistem mangrove mempengaruhi daya dukung dan produksi tambak yang di sekitar kawasan mangrove.
Menurut Bengen (2002) bahwa untuk mempertahankan ekosistem mangrove dari berbagai ancaman baik konversi untuk tambak maupun konversi untuk peruntukan lainnya, diperlukan suatu model pengelolaan ekosistem mangrove yang terintegrasi antara aspek ekologi dan aspek ekonomi. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, maka dibuatlah suatu model pengelolaan yang disebut silvofishery atau wanamina dengan tiga pola sebagai berikut: (1) pola empang parit (nmGambar 4), (2) pola empang parit yang disempurnakan (Gambar 5), dan (3) pola komplangan (Gambar 6). Adapun perbedaan dari tiga pola sebagai berikut:
1. Pola empang parit, hutan mangrove dan empang menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air.
2. Pola empang parit yang disempurnakan, hutan mangrove dan empang diatur oleh saluran air yang terpisah.
3. Pola komplangan, hutan dan mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah.
Selanjutnya Lugo (1990), Hamilton dan Snedaker (1984) sepakat bahwa sudah saatnya persepsi masyarakat diarahkan untuk mengelola ekosistem mangrove yang memadukan antara kepentingan aspek ekologi dan aspek ekonomi guna mempertahankan kelestariannya dengan segenap fungsinya yang tidak dapat digantikan oleh ekosistem lainnya yang ada di wilayah pesisir seperti padang lamun dan terumbu karang. Selanjutnya Nagelkerken dan Velde (2004) mengatakan bahwa ekosistem mangrove, lamun dan karang mempunyai fungsi sebagai rantai makanan.
Selanjutnya Johntson et al. (2000) sepakat bahwa sekalipun konversi ekosistem mangrove menjadi tambak membawa keuntungan bagi masyarakat lokal, akan tetapi pembukaan tambak baru dengan mengkonversi ekosistem mangrove perlu dianalisis kesesuaiannya. Menurut Kathiresan dan Bingham (2001) bahwa konversi ekosistem mangrove untuk tambak sebaiknya
dipertahankan antara 30%-50% dari luas keseluruhan, karena ada indikasi berkorelasi positif antara ekosistem mangrove dengan produksi udang dan ikan.
2.8.2. Jenis Usaha Perikanan
Nurdjana (2009) mengemukakan bahwa salah satu potensi pengembangan budidaya perikanan adalah bagaimana memanfaatkan ekosistem mangrove dengan model silvofishery. Kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan petani tambak dan dapat memelihara keberlanjutan ekosistem mangrove. Pola budidaya silofishery pada ekosistem mangrove dapat menjamin terjadinya siklus energi secara berkelanjutan, yaitu terjadi sinergitas antara ketersediaan unsur hara untuk menopang kehidupan organisme yang berhabitat pada wilayah pesisir.
Usaha budidaya perikanan pada ekosistem mangrove bagi peruntukan silofishery, sebaiknya sistem budidaya yang diterapkan adalah sistem polikultur yaitu memelihara beberapa jenis organisme air atau komoditas perikanan pada suatu lahan secara bersamaan (Clough dan Jonhson 2000). Selain itu, sistem budidaya polikultur dari segi ekologi dan ekonomi efisien dan efektif, karena secara ekologi peluang terjadinya pencemaran perairan relatif kecil, karena organisme yang dibudidayakan berbagai sifat, ada herbivora, karnivora dan omnivora, sehingga makanan yang terdapat dalam perairan empang habis termakan, dan secara ekonomi dapat meminimalkan biaya opersional. Untuk lebih jelasnya gambar tambak silvofishery dapat dilihat pada Gambar 4, 5, dan 6 sebagai berikut:
Gambar 4 Pola empang
parit (Bengen
2002)
Gambar 5 Pola empang parit yang disemrpurnakan (Bengen 2002)