• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

4. GAMBARAN UMUM

4.4. Potensi Pertambakan

Potensi lahan pertambakan di Kecamatan Sinjai Timur, secara geografis sangat potensial, selain memiliki potensi ekosistem mangrove seluas 967,50 ha.

atau 69,28% dari total luas ekosistem mangrove di Kabupaten Sinjai. Selain itu ekosistem mangrove sebagai sumber unsur hara, juga dilalui tiga sungai besar, yaitu: Sungai Mangottong di sebelah utara, Sungai Baringeng di tengah dan Sungai Bua di sebelah selatan membawa unsur hara dari aliran sungai, dan berhadapan langsung dengan perairan Teluk Bone. Kondisi geografis ini memungkinkan Kecamatan Sinjai Timur sebagai penghasil udang windu, ikan bandeng dan rumput laut apabila potensi pertambakan ini dikelola secara optimal dan akan menjadi branding Kabupaten Sinjai.

Potensi pertambakan di Kecamatan Sinjai Timur tersebar pada lima desa dan kelurahan dengan luas masing-masing sebagai berikut: (1) Kelurahan Samataring seluas 101,50 ha, (2) Desa Tongke Tongke seluas 5,68 ha, (3) Desa Panaikang seluas 22,55 ha, (4) Desa Pasimarannu seluas 50,50 ha dan (5) Desa Sanjai seluas 41,50 ha. Potensi pertambakan di Kecamatan Sinjai Timur seluas 272,73 ha atau 38,06% dari total luas tambak di Kabupaten Sinjai yaitu 716,50 ha (DKP Kabupaten Sinjai 2010).

4.4.1.Kelurahan Samataring

Kelurahan Samataring dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 2,5 km, terdapat potensi lahan tambak seluas 101,50 ha. atau 14,16% dari total luas tambak di Kabupaten Sinjai yaitu 716.50 ha. Selain itu, terdapat ekosistem mangrove seluas 280,50 ha atau 20,74% dari total luas ekosistem mangrove di Kabupaten Sinjai (DPK Kabupaten Sinjai 2010). Persentase luas antara ekosistem mangrove dan tambak di Kelurahan Samataring yaitu ekosistem mangrove 73,43% dan tambak 26,57%. Kelurahan Samataring dari panjang garis pantai kurang lebih 2,5 km memiliki jalur hijau (green belt) selebar rata-rata 112 meter dari garis pantai (zero datum).

Menurut Ukkas 50 tahun (2011) bahwa secara historis keberadaan tambak di Kelurahan Samataring dari luas 101,50 ha. sampai pada tahun 2011, sekitar 90%

merupakan alih fungsi lahan dari ekosistem mangrove menjadi tambak. Lanjut Ukkas bahwa Kelurahan Samataring mempunyai karakteristik yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia, jika daerah lain di Indonesia semakin mengkonversi ekosistem mangrove menjadi tambak, ekosistem mangrove menjadi berkurang, sebaliknya di Kelurahan Samataring apabila mengkonversi ekosistem mangrove menjadi tambak dengan luas tertentu akan bertambah, karena menjadi sudah menjadi suatu kesepakatan bagi masyarakat bahwa barang siapa yang ingin mengkonversi ekosistem mangrove menjadi tambak dengan luas tertentu, maka diwajibkan menanam mangrove minimal dua kali lipat ekosistem mangrove yang akan dikonservasi menjadi tambak.

4.4.2.Desa Tongke Tongke

Desa Tongke Tongke dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 2,5 km, terdapat potensi lahan tambak seluas 56,68 ha. atau 7,91% dari total luas lahan tambak di Kabupaten Sinjai yaitu 716,50 ha. Selain itu, terdapat ekosistem mangrove seluas 350,00 ha. atau 25,90% dari total luas ekosistem mangrove yang terdapat di Kabupaten Sinjai yaitu 1.351,50 ha (DPK Kabupaten Sinjai 2010).

Persentase luas antara tambak dengan mangrove di Desa Tongke Tongke yaitu ekosistem mangrove 86,06%, dan tambak 13,94%. Desa Tongke Tongke dari panjang garis pantai kurang lebih dari 2,5 km, memiliki jalur hijau (green belt) selebar rata-rata 140 m dari garis pantai (zero datum).

Menurut Taiyeb 65 tahun (2011), bahwa secara historis keberadaan tambak di Desa Tongke Tongke, tidak dapat diketahui dengan pasti, yang jelas tambak tersebut sudah ada pada zaman penjajahan Belanda. Perkembangan luas tambak di Desa Tongke Tongke cenderung bersifat statis, dari luas sekarang 56,68 ha, hanya sekitar 10% merupakan alih fungsi lahan dari ekosistem mangrove dikonversi menjadi tambak. Lanjut Taiyeb 65 tahun bahwa. di Desa Tongke Tongke alih fungsi lahan ekosistem mangrove menjadi tambak berbeda di Kelurahan Samataring.

4.4.3.Status Kepemilikan

Status kepemilikan lahan tambak di Kelurahan Samataring dan Desa Tongke Tongke juga menjadi kajian dalam penelitian ini. Untuk Kelurahan Samataring dari luas lahan tambak 101,50 ha, dengan jumlah petani tambak 195 orang, kepemilikan rata-rata yaitu 0,52 ha per petani, dengan rincian status kepemilikan tambak sebagai berikut: (1) petani pemilik sebagai penggarap sekitar 80%, (2) petani penyewa sebagai penggarap sekitar 15% dan (3) petani sebagai buruh atau sawi sekitar 5%.

Status kepemilikan lahan tambak di Desa Tongke Tongke dari luas lahan tambak 56,68 ha sekitar 44,10% atau 25,00 ha adalah milik Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sinjai dan hanya sekitar 31,68 ha atau 55,90% dengan jumlah petani 103 orang, kepemilikan rata-rata yaitu 0,31 ha per petani, dengan rincian sebagai berikut: (1) petani pemilik sebagai penggarap sekitar 90% dan (2) petani penyewa sebagai penggarap sekitar 10%. Data ini menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan tambak rata-rata Kelurahan Samataring lebih tinggi yaitu 0,52 ha petani-1 dibandingkan Desa Tongke Tongke hanya 0,31 ha petani-1. Data ini berkorelasi apabila dihubungkan dengan tingkat pendapatan petani tambak rata-rata Kelurahan Samataring Rp1.000.000,- sampai Rp2.000.000,- bulan-1, sedangkan Desa Tongke Tongke yaitu antara Rp750.000,- sampai Rp2.000.000,- bulan-1.

4.4.4.Status Kelembagaan

Status kelembagaan petani tambak dan nelayan di Kelurahan Samataring dan Desa Tongke Tongke juga menjadi bagian kajian dalam penelitian ini, sebab

keberadaan lembaga pada suatu desa mempunyai peranan penting untuk mengorganisasi segala kebutuhan petani tambak dengan nelayan, seperti urusan kebutuhan bantuan permodalan, kebutuhan sarana produksi (saprodi) dan pemasaran. Hasil pengamatan dan wawancara petani tambak dan nelayan di Kelurahan Samataring dan Desa Tongke Tongke keberadaan lembaga kelompok tani tambak dan nelayan pada prinsipnya aktif melayani anggota kelompoknya dalam berbagai kebutuhan.

Keberadaan kelompok tani dan nelayan di Kelurahan Samataring dan Desa Tongke Tongke menurut penuturan beberapa anggota kelompok sangat bermanfaat dalam meningkatkan usaha sebagai mediator mewakili kelompok dan didampingi oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) melakukan koordinasi baik secara vertikal maupun secara horizontal, seperti pihak perbankan, dinas perikanan, dinas perindustrian, perdagangan dan pemangku kepentingan lainnya, untuk mendapatkan pelayanan, perolehan bantuan modal usaha, perolehan saprodi, kegiatan penyuluhan, dan pemasaran. Agar kelompok tani aktif dan berfungsi optimal secara fungsional harus didampingi penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan secara struktural harus mendapat dukungan dari pemerintah setempat yaitu desa dan lurah serta stakeholders lainnya.

Di Kelurahan Samataring dengan jumlah petani tambak sebanyak 195 orang dan nelayan sebanyak 153 orang yang terhimpun ke dalam empat kelompok tani tambak dan nelayan yaitu: (1) Kelompok Tani Bandar Laut, (2) Kelompok Tani Lestari, (3) Kelompok Tani Hijau Lestari dan (4) Kelompok Tani Tujjollo Lagoari. Sedangkan kelompok tani di Desa Tongke Tongke dengan jumlah petani tambak sebanyak 103 orang dan jumlah nelayan sebanyak 385 orang yang terhimpun ke dalam tiga kelompok tani yaitu: (1) Akar Luat 1, (2) Samaturue dan (2) Akar Laut 2.

5. H A S I L