BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori dan Konsep
7. Variasi Bahasa
Fungsi bahasa yang utama adalah untuk berkomunikasi.
Komunikasi dilakukan oleh manusia yang merupakan mahluk sosial.
Manusia sebagai mahkluk sosial selalu dituntut untuk berinteraksi dengan manusia yang lain. Manusia merupakan mahkluk yang diciptakan untuk hidup berhubungan dengan orang lain. Proses
34
interaksi membutuhkan alat bantu untuk berhubungan dengan individu yang lain. Atas dasar tersebut munculah apa yang disebut variasi bahasa. Variasi bahasa sendiri muncul karena proses interaksi sosial dari para pelaku bahasa yang beragam. Bahasa merupakan salah satu alat bantu untuk berinteraksi dengan manusia lain. Semua gagasan, ide, maupun maksud dari penutur disampaikan melalui bahasa.
Seiring dengan perkembangan zaman, bahasa tersebut juga mengalami perkembangan. Perkembangan teknologi juga ikut andil dalam perkembangan bahasa. Perbedaan golongan, pekerjaan, aktivitas, komunitas, juga memberikan andil terhadap keanekaragaman bahasa. Hal-hal tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab munculnya variasi bahasa. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa itu tidak hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak bisa hidup sendiri, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan berbeda-beda. Setiap orang mempunyai kegiatan yang berbeda-beda pula. Setiap individu penutur menyebabkan keberagaman bahasa tersebut. Penutur yang berada diwilayah yang sangat luas akan menimbulkan keberagaman bahasa yang lebih banyak.
Pengertian Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya. Variasi bahasa
35
disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat/kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturannya yang tidak bersifat homogen. Variasi bahasa merupakan jenis ragam bahasa yang pemakaianya disesuaikan dengan fungsi dan situasi tanpa menghasilkan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan (Suwito, 1985:
29). Ciri variasi bahasa yang terjadi karena adanya perbedaan bidang pemakaian antara lain leksikogramatis, fonologis, ciri penunjuk yang berupa bentuk kata tertentu, penanda gramatis tertentu, atau bahkan penanda fonologi yang memiliki fungsi untuk memberi tanda kepada para pelaku bahasa bahwa inilah register yang dimaksud. Penanda atau ciri itu pulalah yang membedakan antara register satu dengan yang lainnya.
Variasi bahasa alay ditinjau dari ilmu folklore adalah salah satu bentuk (genre) foklor yang disebut ”ujaran rakyat” (folk speech).
Slang ini dapat berupa satu kalimat, tetapi dapat juga terdiri sebuah kata yang tidak lazim di dalam bahasa nasional Indonesia yang resmi.
Bahasa Slang oleh Kridalaksana (1982:156) dirumuskan sebagai ragam bahasa yang tidak resmi digunakan oleh kaum remaja, serta waria atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (1985:57) bahwa slang adalah variasi ujaran yang bercirikan
36
dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah, digunakan oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk komunikasi di dalamnya.
Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim digunakan di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya dipertegas lagi kedalam bentuk.
Slang ini selanjutnya dapat dipertegas lagi ke dalam bentuk cant, yaitu bahasa alay yang diucapkan dengan nada atau intonasi tertentu sehingga terasa ringan, lucu, dan ekspresif cocok untuk suasana santai yang bersifat rahasia. Sedangkan cant yang khusus dipergunakan oleh para penjahat atau preman dikenal dengan istilah Argot menurut Kridalaksana (1982:14) bahasa dan perbendaharaan kata suatu kelompok orang, seperti bahasa pencopet. Sedangkan menurut Chear (1995:80) Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia.
Kelompok yang dimaksud disini adalah kelompok orang muda (orang yang merasa dirinya muda), maka yang sesuai dengan penelitian adalah bahasa alay yang berfungsi sebagai bahasa dari sekelompok orang atau kalangan tertentu terutama pada kelompok remaja (pelajar).
37
Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasa lain. Dalam perkembangan masyarakat modern saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih senang dan merasa lebih intelek untuk menggunakan bahasa asing.
Hal tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa.
Dalam hal variasi terjadi dua pandangan yaitu: 1) Variasi bahasa dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa itu. 2) Variasi sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Variasi bahasa dibedakan berdasarkan:
1) Variasi dari Segi Penutur
Variasi bahasa pertama berdasarkan penuturnya adalah variasi yang disebut idiolek yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep ini, orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek yang paling dominan adalah warna sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.
38
Variasi bahasa kedua berdasarkan penuturnya adalah dialek yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah atau area tertentu sehingga disebut dialek areal, dialek regional atau dialek geografi.
Bidang studi linguistik yang mempelajari dialek-dialek ini adalah dialektologi yang di dalamnya berusaha membuat peta batas-batas dialek dari bahasa yakni dengan cara membandingkan bentuk dan makna kosakata yang digunakan dalam dialek itu.
Variasi bahasa ketiga berdasarkan penutur yaitu kronolek atau dialek temporal yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Variasi bahasa yang keempat berdasarkan penuturnya adalah sosiolek atau dialek sosial yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status dan kelas sosial para penuturnya. Sehubungan dengan variasi bahasa berkenaan dengan tingkat, golongan, status dan kelas sosial para penuturnya maka muncul beberapa istilah yaitu;
a. Akrolek yaitu variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya.
b. Basilek yaitu variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan dianggap rendah.
c. Vulgar yaitu variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar.
d. Slang yaitu variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia.
39
Artinya variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu.
e. Kolokial yaitu variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
f. Jargon yaitu variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu.
g. Argot yaitu variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia.
h. Ken yaitu variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek dan penuh dengan kepura-puraan.
2) Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register dan digunakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya atau tingkat keformalan serta sarana penggunaan.
Variasi bahasa berdasarkan fungsi lazim disebut register dan biasanya dikaitkan dengan masalah dialek. Kalau dialek berkenaan dengan bahasa itu digunakan oleh siapa, dimana dan kapan, maka register berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa.
3) Variasi dari Segi Keformalan
Berdasarkan keformalannya, Martin Joos membagi variasi
40
bahasa menjadi:
a. Frozen yaitu gaya atau ragam baku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah.
b. Formal yaitu gaya atau ragam resmi dan biasanya digunakan dalam situasi resmi. Pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar.
c. Konsultatif yaitu gaya atau ragam usaha dan biasa digunakan dalam pembicaraan di sekolah dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi.
d. Casual yaitu gaya atau ragam santai dan digunakan dalam situasi tidak resmi.
e. Intimate yaitu gaya atau ragam akrab dan biasa digunakan oleh penutur yang hubungannya sangat akrab.
4) Variasi dari Segi Sarana
Variasi dari segi sarana dibedakan menjadi ragam lisan dan ragam tulis atau juga dalam ragam berbahasa dengan menggunakan sarana tertentu misalnya dalam bertelefon atau bertelegraf. Adanya ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud struktur ini adalah karena dalam bahasa lisan dibantu oleh unsur-unsur nonsegmental atau unsur nonlinguistik yang berrupa nada suara,
41
gerak-gerik tangan atau sejumlah gejala fisik lainnya. Lalu, sebagai gantinya harus dieksplisitkan secara verbal.
Variasi bahasa berkenaan dengan penggunannya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan gaya atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan (Nababan melalui Chaer, 1995: 89-90). Variasi bahasa dapat juga dibedakan menjadi dua macam bentuk, yaitu register dan dialek. Dialek merupakan ragam bahasa berdasarkan pemakainya, sedangkan register adalah ragam bahasa berdasarkan pemakaiannya.
Register merupakan salah satu bentuk gejala variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan bidang pemakaian. Register merupakan proses atau hasil dari pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun kelompok sosial tertentu. Menurut Suwito (1985: 25) mengemukakan bahwa register sebagai bentuk variasi bahasa yang disebabkan sifat khas kebutuhan pemakainya. Register dengan kata lain bisa diartikan sebagai suatu bahasa yang biasa dipergunakan pada saat ini, bahasa yang tergantung pada apa saja yang dikerjakanya dan sifat kegiatanya mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial yang biasanya melibatkan masyarakat tertentu. Register muncul disebabkan oleh banyak hal kebahasaan, salah satunya variasi bahasa. Kedua hal tersebut merupakan dua bagian yang saling
42
berhubungan dan saling mempengaruhi. Register sendiri merupakan salah satu bentuk gejala variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan bidang pemakaian. Register merupakan proses atau hasil dari pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun kelompok sosial tertentu. Konsep register menurut Wardaugh (1986: 48) adalah pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun kelompok sosial tertentu.
Ciri-ciri register secara umum adalah pertama register hanya mengacu pada pemakaian kosakata khusus yang berkaitan dengan kelompok pekerja yang berbeda. Kedua, bahasa register sesuai dengan situasi komunikasi yang terjadi berulang secara teratur dalam suatu masyarakat yang berkenaan dengan pertisipan, tempat, fungsi- fungsi komunikatif. Ketiga, register digunakan oleh suatu kelompok ataupun masyarakat tertentu sesuai dengan profesi dan keahlian yang sama. Register dibedakan menjadi dua bagian menurut Halliday (1978: 35), yaitu “terbatas” atau restricted languages dan “bahasa untuk tujuan khusus” atau language for special purposes. Bahasa tersebut cenderung dalam bentuk ringkas dan susah dimengerti. Bahasa untuk tujuan khusus dapat ditemukan dalam komunikasi sehari-hari. Misalnya saja bahasa yang dilakukan dalam percakapan sehari-hari saat bercanda, bermain, sehingga tanpa ikut dalam kegiatan tersebut penutur mudah untuk dimengerti
43
oleh petutur. Register ini terbentuk dari wacana yang dipakai suatu kelompok masyarakat yang setiap bidang kegiatannya memiliki ciri register yang berbeda.
Istilah register dilihat dari tingkat keformalanya menurut Pateda (1987: 64-65) adalah pemakaian bahasa yang berhubungan dengan pekerjaan seseorang.
Dikemukakan pula ada lima jenis register, yakni register beku, register formal, register casual, register konsultatif, dan register intimate. Register beku atau oratorical adalah register yang dipakai oleh pembicara yang profesional sehingga orang tertarik dengan pembicaraannya, sedangkan register deliberative atau register formal yang ditujukan kepada pendengar untuk memperluas pembicaraan yang disengaja. Register consultative atau konsultatif adalah register yang terdapat dalam transaksi perdagangan, dimana terjadi dialog karena membutuhkan persetujuan antara keduanya. Register casual atau kasual register yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang- bincang dengan keluarga atau teman, biasanya digunakan untuk menghilangkan kekakuan bahasa yang terjadi antara dua orang yang sedang berbincang, dan register intimate atau akrab digunakan oleh penutur yang hubunganya sudah akrab, seperti dipergunakan dalam suasana kekeluargaan. Ragam ini menggunakan bahasa yang kurang lengkap dengan artikulasi kurang jelas.
44
Dalam kehidupan, seseorang mungkin saja hidup dengan satu dialek, tetapi tidak hanya hidup dengan satu register, sebab dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat, bidang yang dilakukan pasti lebih dari satu. Adanya faktor-faktor sosial dan faktor situasional yang mempengaruhi pemakaian bahasa menimbulkan variasi-variasi bahasa. Dengan timbulnya variasi bahasa menunjukkan bahwa bahasa itu bersifat aneka ragam dan manasuka.