A. A. Loedin
Pendahuluan
Perkembangan ilmu kesehatan diarahkan dan dipacu oleh penelitian kesehatan. Penelitian kesehatan dapat dilakukan menggunakan model komputer. Penelitian biokimia di laboratorium atau penelitian menggunakan bahan hidup seperti biakan sel dan jaringan yang kemudian perlu dilanjutkan pada sistem hidup terpadu (integrated living system) menggunakan hewan percobaan. Pada akhirnya, sebelum hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara aman dan efektif untuk kesehatan manusia perlu penelitian dengan mengikutsertakan relawan manusia. Relawan manusia yang bersedia menjadi subjek penelitian mungkin akan mengalami ketidaknyamanan dan rasa nyeri ketika dipaparkan kepada berbagai macam risiko. Sebagai bangsa dan peneliti yang beradab, kesediaan dan pengorbanan relawan manusia harus dihargai. Kita juga wajib menghormati dan melindungi kehidupan, kesehatan, privasi, dan martabat subjek penelitian. Pelaksanaan kewajiban tersebut adalah inti Etik Penelitian Kesehatan (EPK).
EPK adalah sesuatu yang relatif baru. Bioetika diperkenalkan pada 962 oleh Van Rensselaer Potter dalam bukunya Bridge to the Future. The Concept of Human Progress. Meskipun masih berada pada awal perkembangan, pemerintah dan masyarakat ilmiah Indonesia telah memberi perhatian dan menyatakan komitmennya untuk mengembangkan EPK. Pada 2002, dengan SK Menteri Kesehatan dibentuk Komisi
Anggota Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan (KNEPK)
Nasional Etik Penelitian Kesehatan (KNEPK) yang telah berhasil menerbitkan Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan (PNEPK).
PNEPK dilengkapi empat buku suplemen, yaitu . Etik pemanfaatan bahan biologis tersimpan, 2. Etik penggunaan hewan percobaan, 3.
Jaringan komunikasi nasional etik penelitian kesehatan, dan 4. Etik penelitian sel punca. Juga telah mulai dikembangkan jaringan komunikasi nasional Komisi-komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK)2. KEPK berada di lembaga-lembaga yang melakukan penelitian kesehatan yang mengikutsertakan relawan manusia sebagai subjek penelitian. Sejarah perkembangan EPK secara global tidak membanggakan karena tidak dikembangkan menurut rencana tetapi dipacu oleh peristiwa-peristiwa yang menggemparkan dan mempermalukan masyarakat ilmiah kesehatan.
Dewasa ini EPK sedang mengalami krisis akibat penerapan konsep globalisasi yang menggoncangkan dunia EPK yang juga mengancam kelangsungan EPK Indonesia.
Tulisan ini terutama dialamatkan kepada masyarakat ilmiah kesehatan dan para pengambil keputusan serta kebijakan. Tujuan tulisan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat ilmiah kesehatan tentang krisis EPK yang sedang berkembang di dunia. Di samping itu untuk mengambil sikap yang selain mengantisipasi perkembangan krisis global juga untuk menyelamatkan EPK Indonesia. Pada akhir tulisan akan disampaikan rangkuman dan beberapa pemikiran serta gagasan yang mungkin berguna bagi EPK Indonesia untuk mengatasi krisis global dan terus berkembang.
Sejarah Perkembangan EPK
Sejak manusia hidup di bumi ini, ada manusia yang jatuh sakit atau cedera. Ada juga manusia yang atas dasar kasih sayang kepada sesama manusia memberi pertolongan dan pengobatan. Selanjutnya ada warga masyarakat yang memilih pengobatan sebagai profesinya, maka lahirlah penyembuh tradisional (traditional healer, dukun). SelainSelain
2 (IRB) Institutional Review Board, ERC (Ethical Review Committee)
Harmonisasi Kehidupan Manusia dengan Alam |
memberi pengobatan, dukun juga berupaya menyempurnakan obat dan cara pengobatannya. Obat atau cara pengobatan baru yang dianggap lebih baik kemudian diujicobakan pada orang sakit dan lahirlah uji klinik (clinical trial) primordial. Perlindungan dan keselamatan orang sakit yang menjadi subjek percobaan sepenuhnya berada pada tangan dukun yang menjadi cikal-bakal EPK primordial.
Sejak akhir abad ke-20 terjadi berbagai perkembangan yang sangat berpengaruh terhadap EPK, yaitu lahirnya ilmu kedokteran dan makin banyak digunakan metode ilmiah. Selain itu penelitian kesehatan yang rumit dalam skala besar dimungkinkan dengan dukungan ilmu statistik.
�ambaran penelitian kesehatan mengalami perubahan drastis, yaitu subjek penelitian tidak hanya orang sakit tetapi juga orang sehat. Malah sekarang lebih banyak orang sehat daripada orang sakit ikut serta sebagai subjek penelitian.
Subjek penelitian bertambah banyak sampai ribuan dan dapat mencakup seluruh penduduk suatu wilayah atau negara. Lokasi subjek penelitian juga tidak lagi di satu tempat tetapi dapat tersebar di beberapa lokasi yang berjauhan. Menjamin perlindungan subjek penelitian yang merupakan inti EPK menjadi makin sulit. Karena rumitnya menjamin perlindungan subjek penelitian pada akhirnya perlindungan dipercayakan sepenuhnya kepada para dokter yang berwibawa dan diakui sebagai warga masyarakat yang dihormati dan disegani. EPK memasuki eraEPK memasuki era pengaturan mandiri (self regulation). Pada era pengaturan mandiri terjadi banyak pelanggaran EPK. Waktu itu sudah merupakan kebiasaan untuk menggunakan penderita di rumah sakit termasuk rumah sakit jiwa, narapidana dan tahanan, penghuni panti werda, panti orang miskin dan panti asuhan, tempat pengasuhan anak dengan gangguan mental, tentara, polisi dan mahasiswa sebagai subjek penelitian. Subjek penelitian dikerahkan atas dasar perintah atau dengan paksaan. Tidak tampak kesukarelaan dan juga tidak dimintakan Persetujuan Sesudah Penjelasan (PSP, informed consent) sebelum ikut serta sebagai subjek penelitian.
Pelanggaran EPK selama era pengaturan mandiri terbongkar secara sensasional pada pengadilan dokter-dokter Nazi Jerman (The Doctor’s Trial, 947) di Kota Nuremberg. Dokter-dokter itu dinyatakan
bersalah karena telah melakukan dengan paksaan penelitian kesehatan pada tahanan kamp konsentrasi. Penelitian dilakukan oleh tenaga kerja yang tidak memenuhi persyaratan dan penelitian tidak didasarkan pada masalah ilmiah yang rasional. Penderitaan para subjek percobaan luar biasa, banyak yang meninggal atau berakhir dengan cacat berat. Sebagai reaksi, terbitlah Kode Nuremberg, yaitu dokumen EPK internasional pertama. Kode Nuremberg menyampaikan peraturan fundamental dan universal untuk melindungi integritas subjek penelitian dan secara khusus memberi tekanan kepada persetujuan sukarela (voluntary consent) subjek penelitian. Masyarakat ilmiah kesehatan gempar dan malu tetapi tidak terjadi perubahan sedikit pun dan penelitian kesehatan terus berjalan sebagai lazimnya. Para dokter menganggap bahwa penelitian yang dilakukannya dengan itikad baik berbeda dengan kejahatan yang dilakukan para dokter Nazi.
Peristiwa kedua yang menggemparkan dan mempermalukan masyarakat ilmiah kesehatan terjadi pada 972 dengan terbongkarnya The Tuskegee Syphilis Study. Sejak 930, selama 42 tahun, berlangsung penelitian dengan tujuan mempelajari perkembangan alamiah (study in nature) penyakit sifilis. Penderita sifilis sesuai protokol tidak dio�ati.
Pengobatan tetap tidak diberikan walaupun antibiotika penisilin yang dapat menyem�uhkan sifilis secara tuntas telah tersedia. Penelitian dilakukan oleh Tuskegee Istitute di Mason County, Alabama (Amerika Serikat) pada penduduk kulit hitam yang amat miskin dan terbelakang. Banyak subjek penelitian buta aksara bahkan tidak tahu nama lengkapnya.
Tuskegee Syphilis Study terbongkar oleh wartawati Jean Heller dan menggemparkan seluruh dunia. Pada Desember 974, perkara hukum The Tuskegee Syphilis Study diselesaikan di luar pengadilan dengan pembayaran kompensasi. Baru pada Mei 997, Presiden ClintonBaru pada Mei 997, Presiden Clinton secara resmi mengatakan, “What the United States did was shameful, and I am sorry.” Sebagai tindak lanjut, Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan AS membentuk komisi yang pada 976 menerbitkan laporan akhirnya, dikenal sebagai The Belmont Report. Dalam Belmont Report diutarakan tiga prinsip etik umum, yaitu menghormati harkat martabat manusia (respect for persons); berbuat baik (beneficence);
Harmonisasi Kehidupan Manusia dengan Alam |
dan keadilan. Selain itu, setiap lembaga yang melakukan penelitian kesehatan dengan mengikutsertakan relawan manusia sebagai subjek penelitian diwajibkan memiliki KEPK. KEPK antara lain bertugas menilai proposal penelitian untuk memberi persetujuan etik (ethical approval).
Tanpa persetujuan etik KEPK, penelitian tidak boleh dimulai. Dengan perkembangan tersebut, EPK memasuki era baru dengan pengaturan dari luar masyarakat ilmiah kesehatan, yang disebut era EPK dengan External Codified Requirements. Dengan adanya tiga prinsip etik umum dan keberadaan KEPK, tampaknya EPK dapat terus berkembang dalam suasana tenang.
Globalisasi dan Krisis EPK
Sejak beberapa dasawarsa, dunia mulai menerapkan konsep ekonomi baru, yaitu globalisasi. Tujuan globalisasi adalah sejauh mungkin menghilangkan batas antar negara atau menjadikannya sangat mudah ditembus sehingga memungkinkan perpindahan barang (obat), jasa (pengobatan), informasi (internet), pranata (rumah sakit) dan tenaga kerja3 secara bebas. Proses globalisasi dinilai sangat menguntungkan industri. Industri farmasi dan sarana kedokteran ikut memanfaatkan proses globalisasi, antara lain dengan perpindahan uji klinik dari negara industri ke negara berkembang. Alasan perpindahan uji klinik ke negara berkembang adalah:
. Melaksanakan uji klinik di negara berkembang jauh lebih ekonomis.
Mahalnya uji klinik di negara industri terutama disebabkan upah tinggi. Lebih memberatkan lagi adalah karena lamanya uji klinik di negara industri.
2. Di negara berkembang pengerahan relawan manusia untuk ikut serta sebagai subjek penelitian lebih mudah dan lebih cepat.
3. Dengan perpindahan uji klinik ke negara berkembang dapat dihindari prosedur birokrasi negara industri yang semakin rumit, mahal dan lama.
3 Dalam kurung contoh-contoh di bidang kesehatan.
Negara berkembang yang banyak digunakan adalah negara-negara Eropa Timur, Amerika Selatan, dan India. Tetapi pelaksanaan uji klinik di negara berkembang juga menunjukkan aspek-aspek negatif, antara lain:
. �angguan komunikasi antara unsur-unsur yang ikut serta dalam uji klinik, yaitu lembaga penelitian negara industri, peneliti asing, lembaga penelitian dalam negeri, peneliti domestik, pemerintah pusat dan daerah, subjek penelitian dengan keluarga dan masyarakatnya.
�angguan komunikasi disebabkan karena perbedaan bahasa, gaya hidup, serta budaya dengan nilai dan normanya.
2. Lembaga penelitian dan peneliti negara berkembang juga masih kurang berpengalaman melakukan penelitian dan mengelola proyek penelitian.
Akibat aspek negatif tersebut timbul keragu-raguan pada kedua belah pihak tentang jaminan perlindungan subjek penelitian dan masyarakatnya, atau dengan kata lain keragu-raguan tentang pelaksanaan EPK berdasarkan perbedaan budaya. Sesudah Belmont Report diterbitkan, dunia penelitian kesehatan mengalami masa tenang dengan pertumbuhan yang menggembirakan. Keadaan tersebut dapat tercipta karena yang diteliti adalah masalah kesehatan masyarakat negara industri, penelitian dilakukan oleh peneliti setempat dengan mengikutsertakan relawan setempat sebagai subjek penelitian. Antara semua unsur penelitian tidak terdapat perbedaan budaya yang bermakna. Pengalaman dengan perpindahan uji klinik dari negara industri ke negara berkembang menyadarkan masyarakat ilmiah kesehatan betapa pentingnya faktor budaya untuk EPK.
Bioetika Paradigma Barat
Bioetika lahir di Eropa Barat serta dikembangkan di Eropa Barat dan Amerika Utara berdasarkan budaya Barat. Bioetika tersebut seringkali diberi nama bioetika paradigma Barat. Pada bioetika paradigma Barat diutamakan human rights, fundamental freedom dan human dignity.
Harmonisasi Kehidupan Manusia dengan Alam | 1
Ketiga prinsip etik umum (menghormati harkat martabat manusia, berbuat baik, dan keadilan) tidak lagi dinilai setara dan tidak diterapkan secara terpadu. Prinsip etik umum pertama mendominasi kedua prinsip etik umum lain. Dalam budaya Barat keadaan tersebut dapat diterima tetapi mengalami kesulitan ketika diterapkan pada budaya lain. Budaya yang sudah banyak dibahas berkaitan dengan masalah EPK adalah budaya bangsa-bangsa Asia.
Pada kebanyakan budaya Asia, individu tidak demikian diagungkan dan bukan merupakan faktor penentu pada pengambilan keputusan. Bukan otonomi individu yang diutamakan tetapi kesejahteraan, kebersamaan dan kerukunan keluarga dan masyarakat. Negara industri memegang the upper hand karena keunggulannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, industri dan ekonomi sehingga bioetika paradigma Barat dipaksakan kepada bangsa berbudaya lain. Kedudukan dan kelakuan negara industri tersebut pada beberapa tulisan disebut sebagai bentuk penjajahan baru.
Untuk Indonesia, masalah perbedaan budaya menjadi lebih rumit lagi. Bangsa Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa dengan aneka ragam bahasa dan budaya yang patut kita hargai dan hormati sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Lambang Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Keanekaragaman budaya bangsa Indonesia dapat menimbulkan masalah untuk penerapan EPK yang baik. Sebagai contoh, jika fakultas kedokteran di Jakarta melakukan penelitian kesehatan di Wamena maka permasalahan global berdasarkan perbedaan budaya sebagaimana diuraikan di atas ditemukan kembali pada skala domestik. Ditemukan pebedaan yang sama besar antara fakultas kedokteran di Jakarta, peneliti, pemerintah daerah, masyarakat Wamena dan subjek penelitian dengan keluarga/masyarakatnya. Kalau kita tidak sadar tentang faktor budaya dan tidak bertindak bijak maka dapat memunculkan penjajahan domestik.
Perubahan Sistem Penalaran
Deskripsi etik yang banyak digunakan adalah: Ethics is the branch of philosophy that studies moral issues, aims to determine what is right or wrong, and evaluate human conduct accordingly.
Dengan mengaku etik sebagai cabang filsafat maka dalam pembahasan etik kita harus menalar dengan tata cara yang sesuai dengan bidang ilmunya, yaitu humaniora. Ilmu pengetahuan sering diterjemahkan sebagai science yang merupakan bagian ilmu eksakta. Sebenarnya ilmu pengetahuan harus mencakup seluruh produk intelektual manusia seperti dicakup oleh istilah Wetenschap (Belanda ) atau Wisscenschaft (Jerman).
Wetenschap mencakup seluruh rangkaian kesatuan produk intelektual manusia mulai dari ilmu eksakta di ujung kiri sampai dengan humaniora di ujung kanan.
Contoh ilmu eksakta: penelitian dilakukan untuk membuktikan khasiat obat X untuk menyembuhkan penyakit Y. Penelitian direncanakan supaya hasilnya dapat digeneralisasi. Jika berhasil, pengetahuan tersebut berlaku kapan saja untuk setiap penderita penyakit Y di mana pun ia berada. Ilmu eksakta memakai dasar pemikiranIlmu eksakta memakai dasar pemikiran there is order in nature berbeda dengan humaniora. Contoh penelitian humaniora: sejarawan meneliti perintis kemerdekaan Dr. Soetomo. Sejarawan mempelajari Dr.
Soetomo yang unik karena tidak ada Dr. Soetomo kedua. Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi dan tidak memberi informasi apa pun tentang Dr. Soetomo yang lain atau dokter yang lain.
Kenyataan pada pelaksanaan EPK adalah bahwa kebanyakan peneliti kesehatan berlatarbelakang pendidikan ilmu eksakta dan jika akan menekuni EPK maka harus terjadi a switch of mind, yaitu menalar dengan cara humaniora. Switch of mind tersebut sangat diperlukan pada KEPK yang melakukan penilaian proposal guna memberi persetujuan etik. Pada tata cara kerja ilmu eksakta, yang bertujuan memperoleh pengetahuan yang dapat digeneralisasi sering diupayakan kesamaan atau uniformitas, yaitu dengan format-format standar dan tata cara kerja baku (Standard Operation Procedures, SOP, Blanket Approaches). Pada ilmu eksakta ditentukan yang benar dan yang salah (hitam-putih) sedangkan pada humaniora ditentukan yang kurang baik dan yang lebih baik (skala warna a�u-a�u). Dengan pengakuan etik se�agai ca�ang filsafat maka setiap proposal atau kasus EPK harus diakui dan diperlakukan sebagai suatu yang unik.
Harmonisasi Kehidupan Manusia dengan Alam |
Pengkajian Keadaan EPK
Untuk dapat menentukan sikap dan mengambil tindakan yang tepat menghadapi krisis EPK global dan menyelamatkan EPK Indonesia, diperlukan gambaran tentang keadaan EPK Indonesia. Dari pengkajian keadaan akan ditemukan faktor-faktor pendukung dan penghambat yang perlu diperhitungkan supaya rencana kerja dapat dilaksanakan dan dapat mencapai tujuannya. Faktor-faktor yang berpengaruh akan dibahas satu per satu secara singkat sebagai berikut:
. Dokter adalah warga masyarakat yang sampai saat ini masih dihormati dan disegani serta diakui kewibawaannya. Selama pendidikan dan selama melaksanakan profesinya, dokter dituntut memiliki kepercayaan diri tinggi yang diperlukan supaya mampu mengambil keputusan mandiri. Keadaan tersebut ditambah kejadian-kejadian pada sejarah perkembangan EPK menyebabkan masyarakat ilmiah kesehatan masih sering bersikap arogan, sulit menerima kenyataan atau kritik dan kurang memiliki kesediaan untuk berubah. Ciri- ciri masyarakat ilmiah kesehatan tersebut adalah kenyataan yang memerlukan waktu lama untuk berubah.
2. Pada upaya mengatasi krisis global dan menjamin kelangsungan EPK Indonesia, perlu diperhatikan keadaan dan iklim di lembaga- lembaga penelitian. Pada umumnya peneliti terpaksa mengikuti peraturan EPK karena memerlukan persetujuan etik sebelum penelitiannya dapat dimulai. Tekanan keras adalah peraturan internasional yang juga sudah diterapkan di Indonesia, yaitu bahwa untuk dapat memperoleh dana dan izin melakukan penelitian secara mutlak dipersyaratkan persetujuan etik dari instansi berwenang. Jika penelitian sudah selesai, persetujuan etik juga mutlak diperlukan sebelum hasil penelitian dapat dipublikasikan dalam majalah ilmiah ternama atau dikomersialisasikan dalam industri. Pada umumnya, masyarakat ilmiah kesehatan Indonesia masih belum memiliki pengetahuan, kesadaran, dan pemahaman yang benar serta memadai. Peneliti masih sering melihat persetujuan etik yang dipersyaratkan sebagai tambahan birokrasi
yang menyulitkan. Persetujuan etik belum dihargai sebagai sarana pembinaan untuk melakukan penelitian yang secara etis dapat dipertanggungjawabkan dan juga menjamin bahwa hasil penelitian akan berguna.
3. KNEPK mengemban tugas untuk membina pelaksanaan penegakan EPK di Indonesia. Untuk melaksanakan tugas tersebut, setiap lembaga yang melakukan penelitian kesehatan yang mengikutsertakan relawan manusia sebagai subjek peneltian perlu membentuk KEPK.
Tugas KEPK sama dengan KNEPK, yaitu membina penegakan EPK di lembaganya. Salah satu kegiatan KEPK adalah penilaian proposal penelitian untuk memberi persetujuan etik. Penilaian proposal dan pemberian persetujuan etik masih sering dilihat sebagai tugas utama KEPK, sedangkan tugas yang jauh lebih luas dan penting, yaitu pembinaan, masih sering dilupakan. KEPK sebagai komisi penguji harus diubah menjadi komisi pembina yang bertugas mendampingi peneliti melakukan penelitian yang baik dan berguna.
4. Saat ini hanya terdapat 33 KEPK yang terdaftar pada KNEPK, padahal terdapat ratusan lembaga yang melakukan penelitian dengan mengikutsertakan relawan manusia sebagai subjek penelitian. Dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat ilmiah kesehatan Indonesia belum menempatkan EPK pada tingkat prioritas yang wajar. Ratusan lembaga tersebut antara lain semua FK, FK�, FKM, FIK, Farmasi, dan Akademi Kesehatan.
5. Walaupun persyaratan keanggotaan KEPK telah dirinci dalam buku PNEPK namun masih banyak KEPK yang hanya beranggotakan dokter. Berdasarkan ketentuan buku PNEPK, sudah ditekankan bahwa keanggotaan KEPK harus multidisiplin, multisektoral serta ditambah anggota awam (lay person) yang dapat menyampaikan pendapat dan keprihatinan masyarakat luas. Sering masih dianggap bahwa, misalnya, tidak diperlukan ahli hukum sebagai anggota KEPK untuk membahas masalah hukum. Jika tidak terdapat masalah hukum maka tidak diperlukan ahli hukum sebagai anggota KEPK.
Ahli hukum, demikian juga ahli-ahli bidang ilmu pengetahuan lain diperlukan sebagai anggota KEPK supaya penalaran pada
Harmonisasi Kehidupan Manusia dengan Alam |
sidang KEPK dapat berkembang dari penalaran kedokteran menjadi penalaran humaniora. Hal itu mutlak diperlukan mengingat bahwa etik adalah ca�ang filsafat dan menyadari �etapa pentingnya faktor budaya pada EPK.
Rangkuman dan Kesimpulan
Tujuan tulisan ini adalah menyampaikan informasi supaya masyarakat ilmiah kesehatan Indonesia sadar bahwa EPK internasional sedang mengalami krisis yang juga mengancam kelangsungan perkembangan EPK Indonesia.
Perkembangan EPK tidak dapat dibanggakan karena perkembangan tidak menurut rencana tetapi dipacu oleh kejadian-kejadian yang menggemparkan dan mempermalukan masyarakat ilmiah kesehatan. Pada perkembangan tersebut tampak ciri-ciri masyarakat ilmiah kesehatan yang sulit menerima kritik dan belum memiliki kesediaan untuk berubah.
Sesudah Belmont Report, EPK telah memiliki prinsip-prinsip umum etik dan telah dibentuk KEPK di setiap lembaga yang melakukan penelitian kesehatan dengan mengikutsertakan relawan manusia sebagai subjek penelitian. Suasana dunia EPK tampak tenang dan perkembangannya menguntungkan.
Kegoncangan terjadi pada penerapan konsep ekonomi globalisasi dengan perpindahan uji klinik dari negara industri ke negara berkembang.
Beberapa masalah yang rumit terbawa ke permukaan, yaitu:
. EPK lahir di Eropa Barat dan terus dikembangkan di Eropa Barat serta Amerika Utara berdasarkan budaya Barat. EPK paradigma Barat ternyata tidak dapat digunakan dengan baik pada masyarakat dengan budaya bukan Barat. Budaya ternyata merupakan faktorBudaya ternyata merupakan faktor yang sangat menentukan pada penerapan EPK.
2. Prinsip-prinsip etik umum yang sebenarnya cukup baik mengalami distorsi karena budaya Barat mengagungkan otonomi individu.
Hal ini mengakibatkan bahwa ketiga prinsip etik umum tidak setara lagi dan tidak lagi diterapkan secara terpadu. Budaya Asia tidak mengagungkan individu dan keputusan biasa diambil dengan
mengutamakan kesejahteraan, kebersamaan, dan kerukunan keluarga dan masyarakat.
3. Negara industri menguasai seluruh medan karena keunggulannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, industri dan ekonomi sehingga EPK paradigma Barat dipaksakan kepada bangsa-bangsa dengan budaya bukan Barat, seperti Indonesia.
4. Indonesia adalah bangsa yang heterogen dan multibudaya sehingga kita harus hati-hati dan bijaksana menerapkan EPK karena kemungkinan dapat terjadi bahwa gambaran internasional akan terulang pada skala nasional dan kita menjajah bangsa kita sendiri.
5. Pengkajian keadaan EPK di Indonesia memberi gambaran bahwa EPK di Indonesia belum mendapat prioritas yang wajar serta pengetahuan dan kesadaran masyarakat ilmiah kesehatan masih belum memadai. Transformasi EPK Indonesia harus dimulai dan terus dibina oleh KNEPK. PNEPK perlu dimutakhirkan secara seksama dengan memilih bahan referensi supaya sesuai dengan perkembangan sekarang.
6. KNEPK perlu diberdayakan antara lain dengan mengikutsertakan ilmuwan dari bidang ilmu pengetahuan lain pada kelompok- kelompok kerja dengan memberi perhatian khusus kepada ilmuwan bidang humaniora.
Transformasi EPK Indonesia dan pemutakhiran PNEPK perlu segera dilakukan supaya EPK Indonesia dapat terus berkembang di tengah krisis EPK internasional. Upaya tersebut adalah tugas yang tidak mudah dan memerlukan waktu. Tugas hanya dapat diselesaikan dengan baik jika terdapat komitmen dan dukungan seluruh masyarakat ilmiah kesehatan Indonesia dan dari awal dibina oleh KNEPK.