BAB II LANDASAN TEORETIS
7. Kriteria Media Pembelajaran
generalisasi. Agar dapat membantu proses pembelajaran secara efektif, media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa.
e. Sesuai dengan tujuan pembelajaran. Media yang baik adalah media yang sesuai tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
f. Praktis, luwes, tahan. Kriteria ini menuntun para guru atau infrastruktur untuk memilih media yang ada, mudah diperoleh, atau mudah dibuat sendiri oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun dan kapan pun dengan peralatan yang tersedia disekitanrya, serta mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana.
g. Berkualitas baik. Kriteria media secara teknis harus berkualitas baik.
Misalnya pengembangan visual baik gambar maupun fotografi harus memenuhi persyaratan teknis tertentu, seperti visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain yang berupa latar belakang.
h. Ukurannya sesuai dengan lingkungan belajar. Media yang terlalu besar sulit digunakan dalam suatu kelas yang berukuran terbatas dan dapat menyebabkan kegiatan pembelajaran kurang kondusif.
8. Prinsip Pemilihan Media
Sebelum menentukan pilihan media yang akan digunakan untuk pembelajaran, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh seseorang
guru atau instruktur. Secara umum, prinsip pemilihan media adalah sebagai berikut29 :
a. Kesesuaian
Media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik dan materi yang dipelajari, serta metode atau pengalaman belajar yang diberikan kepada peserta didik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu mediapun yang bisa cocok untuk semua materi pembelajaran serta karakteristik peserta didik. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan menggunakan media sangat erat kaitannya dengan metode pembelajaran dan isi pesan serta karakteristik peserta didik.
b. Kejelasan sajian
Beberapa jenis media dan sumber belajar dirancang hanya mempertimbangkan ruang lingkup materi pembelajaran tanpa memperhatikan tingkat kesulitan penyajiannya sama sekali. Sebagai contoh, beberapa buku teks yang dipakai di sekolah-sekolah menggunakan kalimat-kalimat panjang dan istilah-istilah baru yang mungkin belum pernah dikenal oleh siswa sebelumnya. Hal ini akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajari dan memahami materi yang disajikan. Mestinya digunakan kalimat pendek, kosa kata umum yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari kalau perlu hurufnya berukuran lebih besar dan berwarna dalam penyajiannya.
29 Azhar Arsyad. Op. Cit, h.
c. Kemudahan akses
Kemudahan akses dan ketersediaan perangkat pendukung menjadi salah satu prinsip datam pemilihan media pembelajaran.
Misalnya jika ingin menggunakan media internet perlu dipertimbangkan apakah ada saluran untuk koneksi ke internet dan didukung oleh infrastruktur yang cukup. Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya siswa diizinkan untuk menggunakan komputer yang terhubung ke internet, bukan hanya guru dan kepala sekolah saja.
Kemudahan akses juga berhubungan dengan lokasi dan kondisi media. Beberapa laporan menunjukkan penggunaan media berupa benda sebenarnya adalah paling efektif karena memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Itu didukung oleh Edgar Dale yang mengatakan bahwa pengalaman belajar langsung merupakan pembelajaran paling efektif. Namun apabila lokasi dan kondisi media sulit dijangkau, guru perlu memikirkan alternatif lain sebagai pengganti.
Misalnya guru akan menjelaskan tentang topik aktivitas gunung berapi, proses erupsi lava dan magma.
d. Keterjangkauan
Keterjangkauan berkaitan dengan aspek biaya. Besar kecilnya biaya yang diperlukan untuk mendapatkan media adalah salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan. Sekolah dan guru mungkin tidak mampu mengadakan media yang memerlukan biaya cukup besar.
e. Ketersediaan
Ketersediaan suatu media perlu dipertimbangkan dalam memilih media. Pada saat guru hendak mengajar dan dalam perangkat pembelajaran telah disebutkan jenis media yang akan dipakai, maka guru perlu mengecek ketersediaan media tersebut. Apabila media tersebut ternyata tidak tersedia, maka guru perlu melakukan media pengganti. Misalnya guru mestinya mengajar dengan video untuk mengajarkan metamorphosis, tetapi video tersebut tidak tersedia maka guru bisa menggantikannya dengan media gambar atau foto.
f. Kualitas
Pemilihan media pembelajaran, kualitas media hendaklah diperhatikan. Sebaiknya, dipilih media yang berkualitas tinggi.
Misalnya guru memerlukan media video atau televisi, maka bentuk tulisan atau bentuk visual lainnya dapat dilihat dengan jelas, spesifikasi gambar dan suara harus jelas, fokus dan ukuran gambar sesuai dengan ruang kelas.
g. Ada Alternatif
Pemilihan media salah satu prinsip yang juga penting diperhatikan adalah bahwa guru tidak tergantung hanya pada media tertentu saja. Artinya, media yang diharapkan tidak diperoleh dengan alasan tidak tersedia atau sulit dijangkau, maka gunakan media altematif. Sebagai tenaga pendidik profesional, guru perlu kreatif dan inovatif dalam melakukan pemilihan dan pengadaan media pembelajaran.
h. Interaktivitas
Media yang baik adalah dapat memberikan komunikasi dua arah secara interaktif. Semua kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Dewasa ini tersedia banyak jenis media interaktif di pasaran seperti CD interaktif.
i. Organisasi
Pertimbangan lain yang juga tidak bisa diabaikan adalah dukungan organisasi yaitu pimpinan sekolah atau pimpinan yayasan yang mengakomodir sarana atau pusat sumber belajar, tempat penyimpanan dan sebagainya.
j. Kebaruan
Kebaruan dari media yang akan dipilih juga harus menjadi pertimbangan sebab media yang lebih baru biasanya lebih baru dan menarik bagi siswa. Disamping itu, media yang lebih baru lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan kerja. Misalnya, mahasiswa bidang industri atau ICT akan lebih baik menggunakan media terbaru agar sesuai dengan perkembangan di bidang tersebut sehingga, ketika mereka menyelesaikan studinya tidak asing lagi bagi peralatan terbaru yang mungkin ditemui di dunia kerja.
k. Berorientasi Siswa
Pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada siswa.
Perlu di perhatikan dan dipertimbangkan kemudahan apa yang
akan diperoleh siswa dengan media tersebut mengingat di beberapa sekolah sering kali pemilihan media seperti buku ditentukan oleh besarnya "komisi" yang dijanjikan penerbit kepada guru atau sekolah, sehingga orientasinya adalah keuntungan yang diterima guru dan bukan siswa.
B. Pengembangan Media Pembelajaran
Pengembangan dalam arti yang sangat umum berarti pertumbuhan, perubahan secara perlahan (evolusi), dan perubahan secara bertahap30. Tumbuh berarti proses itu terus menerus berkembang menuju kesempurnaan, sedangkan berubah yaitu menjadi tidak seperti semula, artinya diharapkan dapat berubah menjadi lebih baik dan sempurna. Karena pengembangan ini berorientasi pada pendidikan, maka dengan adanya pengembangan tersebut diharapkan memperoleh suatu produk pendidikan, baik berupa perangkat keras (buku, modul, alat bantu/media) maupun perangkat lunak (software) yang ideal dan sempurna melalui tahapan- tahapan atau proses tertentu, yakni: perencanaan yang matang, manifestasi dari perencanaan tersebut dan evaluasi dari setiap program yang telah dijalankan.31
Sedangkan pengertian pengembangan ditinjau dari aspek teknologi merupakan suatu proses penerjemahan/perwujudan dari
30 Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan (Jakarta:
KencanaPrenadamedia, 2013), 222.
31 Juli Amaliya Nasucha. Pengembangan Multimedia Pembelajaran Al-Qur’an Dengan Metode At-Tartil Berbasis Android di Sidoardjo, Disertasi, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), h. 51-52.
spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik32. Cakupan teknologi yang digunakan dalam pengembangan pembelajaran mempunyai banyak variasi, di antaranya mencakup tentang teori dan praktik yang berhubungan dengan belajar, desain pembelajaran, penilaian dan pengelolaan atau pemanfaatan, serta memenuhi kebutuhan pengelolahan.
Dengan kata lain, kawasan pengembangan pembelajaran tidak hanya terdiri dari perangkat keras, melainkan juga mencakup perangkat lunaknya. Perangkat lunak berupa program yang dirancang agar siswa dapat belajar mandiri. Perangkat keras bisa berupa radio, televisi atau komputer dengan jaringan internetnya. Kedua perangkat (bahan-bahan visual dan audio, serta program atau paket) tersebut dipadukan untuk mengembangkan suatu pembelajaran 33.
Di dalam kawasan pengembangan terdapat keterkaitan yang kompleks antara teknologi dan teori yang mendorong. Keterkaitan tersebut berupa desain pesan dan strategi pembelajaran. Desain pesan yang didorong oleh isi kemudian strategi pembelajaran didorong oleh teori dan manifestasi fisik dari teknologi, yakni berupa perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran 34.
Kawasan pengembangan dapat diorganisasikan dalam empat kategori, yaitu:
32 Deni Darmawan, Inovasi Pendidikan; Pendekatan Parktik Teknologi Multimedia dan Pembelajaran Online (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), 12.
33 Udin Syaefudin Sa’ud, Inovasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2014), 220.
34 Deni Darmawan, Op. Cit, h. 13.
a. Teknologi cetak (yang menyediakan landasan untuk kategori yang lain) yakni cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan, seperti buku- buku, bahan-bahan visual yang statis, terutama melalui proses percetakan mekanis atau fotografis. Hasil dari teknologi ini berupa cetakan. Teks dalam penampilan komputer adalah suatu contoh penggunaan teknologi komputer untuk produksi. Apabila teks tersebut dicetak dalam bentuk “cetakan” guna keperluan pembelajaran, ini merupakan contoh penyampaian dalam teknologi cetak35.
b. Teknologi audiovisual, yakni cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis serta elektronis untuk menyajikan pesan audio juga visual. Peralatan audiovisual memungkinkan untuk memproyeksikan gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang berukuran besar.
Pembelajaran audiovisual didefinisikan sebagai produksi serta pemanfaatan bahan yang menyangkut pembelajaran melalui penglihatan juga pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus bergantung pada pemahaman kata-kata dan simbol-simbol sejenis36. c. Teknologi berasaskan komputer, yakni cara memproduksi dan
menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor 37. Penyimpanan informasi pada teknologi komputer tidak berupa cetak maupun visual tapi secara
35 Deni Darmawan. Op. Cit, h. 15
36 Ibid, h. 16.
37 Ibid, h. 17.
elektronis dalam bentuk digital melalui tayangan di layar monitor.
Berbagai jenis aplikasi komputer biasanya disebut computer-based intruction (CBI), computer-asisted intruction (CAI) atau computer- managed intruction (CMI). Aplikasi ini hampir seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajaran terprogram. Jelasnya, bentuk-bentuk aplikasi tersebut dapat bersifat tutorial, di mana pembelajaran utama diberikan; latihan dan perulangan, untuk membantu pembelajar mengembangkan kefasihan dalam bahan yang telah dipelajari sebelumnya.
d. Teknologi terpadu, yakni cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer. Komponen perangkat keras dari sistem yang terpadu ini dapat terdiri dari komputer berkemampuan sangat tinggi dan memori yang besar yang dapat mengakses secara acak sebuah
“internal hard drive” dan sebuah monitor warna beresolusi tinggi.
Peralatan periferal (pelengkap luar) komputer mencakup: alat pemutar video, alat penayangan tambahan, perangkat keras jaringan (networking) serta sistem audio. Keistimewaan yang ditampilkan oleh teknologi ini adanya interaksi pembelajar yang tinggi dengan berbagai macam sumber belajar38.
Banyak model yang ditawarkan oleh para ahli. Salah satunya adalah model ADDIE. ADDIE sendiri merupakan akronim dari langkah-
38 Ibid, h. 18-19.
langkah yang dilaksanakan dalam pengembangan media pembelajaran;
Analyze (analisis), Design (desain), Develop (pengembangan), Implementation (implementasi) dan Evaluation (evaluasi)39.
Desain pengembangan Media Pembelajaran Model ADDIE adalah salah satu proses pembelajaran yang bersifat interaktif dengan tahapan-tahapan dasar pembelajaran yang efektif, dinamis dan efisien.
Model ADDIE (Analysis Design Development Implementation Evaluations) berawal dari konsep Model Desain Instruksional dan Teori untuk Angkatan Darat AS pada tahun 1950. Kemudian pada tahun 1975 dikembangkan lagi oleh Florida State University untuk digunakan pada semua Angkatan Bersenjata AS.
Praktisi pendidikan membuat beberapa revisi dan di pertengahan 1980-an muncullah model yang lebih interaktif dan dinamis dari aslinya.
Model ini kemudian dapat digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti strategi dan metode pembelajaran, media dan bahan ajar. Model ADDIE dapat menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan atau pembelajaran yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri dengan beberapa tahapan.
Skema desain pembelajaran model ADDIE membentuk siklus yang terdiri dari 5 tahapan yang terdiri dari: analisis (Analysis), desain (Design),
39 Nunuk Suryani, dkk. Op. Cit, h. 126
pengembangan (Development), implementasi (Implementation) serta sevaluasi (Evaluation)
a. Analisis (Analysis)
Desain tahap analisis berfokus pada target audiens.
Pada tahap analisis, dilakukan pendefinisian permasalahan instruksional, tujuan instruksional, sasaran pembelajaran serta dilakukan identifikasi lingkungan pembelajaran dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Tahap Analisis umumnya membahas pertanyaan-pertanyaan berikut:
1) Bagaimana latar belakang keseluruhan dari peserta didik seperti usia, pengalaman masa lalu, tingkat pengetahuan, minat, latar belakang budaya, dll?
2) Apa yang siswa butuhkan untuk menyelesaikan pada akhir program pembelajaran atau apa kebutuhan siswa?
3) Apa yang diinginkan siswa dari hasil pembelajaran?
Apakah pengetahuan, keterampilan, sikap, perilaku dll?
4) Apakah strategi pembelajaran yang digunakan untuk mereka cukup?
aspek apa yang perlu ditambahkan, diklarifikasi dan diperbaiki?
5) Apa fokus tujuan instruksional?
6) Apakah lingkungan belajar kondusif atau tidak? Apa jenis lingkungan belajar lebih disukai?
7) Apakah akan sumber daya baik itu teknis maupun dukungan sudah mencukupi?
b. Desain (Design)
Tahap desain terkait dengan penentuan sasaran, instrumen penilaian, latihan, konten, dan analisis yang terkait materi pembelajaran, rencana pembelajaran dan pemilihan media. Fase desain dilakukan secara sistematis dan spesifik. Dalam tahap desain, yang ditanyakan adalah:
1) Sumber media yang akan digunakan seperti Audio, Video dan Grafis.
Apakah sumber tersebut dari pihak ketiga atau siswa membuat sendiri?
2) Berbagai sumber dibutuhkan untuk menyelesaikan pembelajaran. Apa sumber cukup tersedia untuk menyelesaikan pembelajaran?
3) Tingkat dan jenis kegiatan yang akan dihasilkan selama pembekajaran. Apakah terjadi kolaboratif, interaktif atau individu?
4) Apa pendekatan atau cara apa yang akan diterapkan pada pembelajaran? Misalkan behavioris konstruktivis, dll.
5) Berapa banyak waktu yang akan ditugaskan untuk setiap tugas dan bagaimana pembelajaran yang akan dilaksanakan (per pelajaran, bab, modul, dll,)?
6) Apa saja keterampilan kognitif yang ditentukan bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran?
7) Apakah guru memiliki cara untuk menentukan nilai-nilai yang telah dicapai oleh siswa? Apa metode untuk menentukan kompetensi yang diinginkan oleh siswa?
8) Bagaimana mekanisme yang dirancang oleh Anda untuk mendapatkan umpan balik pada bahan ajar?
9) Bagaimana merancang kegiatan pembelajaran sehingga menarik minat siswa? Anda akan memilih untuk variasi dalam pilihan pengiriman dan jenis media?
c. Pengembangan (Development)
Dalam tahan pengembangan dilakukan pembuatan dan penggabungan konten yang sudah dirancang pada tahapan desain. Pada fase ini dibuat storyboard, penulisan konten dan perancangan grafis yang diperlukan. Hal ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1) Apakah membuat bahan ajar sesuai jadwal?
2) Apakah ada tim kerja di beberapa siswa? Apakah ada anggota yang bekerja secara efektif dalam sebuah tim?
3) Apakah siswa berkontribusi sesuai kapasitasnya?
4) Apakah bahan yang dihasilkan dimaksudkan untuk tugas siswa?
d. Implementasi (Implementation)
Fase ini, dibuat prosedur untuk pelatihan bagi peserta pelatihan dan instrukturnya/ fasilitator. Pelatihan bagi fasilitator meliputi materi kurikulum,hasil pembelajaran yang diharapkan, metode penyampaian dan prosedur pengujian. Aktivitas lain yang harus dilakukan pada fase ini meliputi penggandaan dan pendistribusian materi dan bahan pendukung
lainnya, serta persiapan jika terjadi masalah teknis dan mendiskusikan rencana alternatif dengan siswa.
Beberapa contoh implementasi yang dapat ditentukan:
1) Advis pada metode pilihan pencatatan data aktual dari pengalaman siswa saat berinteraksi dengan belajar.
2) Apa tanggapan emosional yang diberikan oleh guru dan siswa selama pebelajaran?Apakah mereka benar-benar tertarik, bersemangat, kritis atau bertahan?
3) Sebagai hasil pembelajaran, apakah guru melihat bahwa siswa dapat memahami topik dengan segera atau apakah mereka perlu bantuan?
4) Bagaimana menangani setiap kesalahan yang mungkin terjadi selama pembelajaran. Apa reaksi guru ketika kegiatan untuk siswa tidak berjalan seperti yang direncanakan?
5) Ketika masalah teknis dan lain muncul apakah guru memiliki strategi
‘cadangan’?
6) Apakah implementasi untuk skala kecil atau skala besar?
7) Ketika kelompok siswa mendapat materi, apakah mereka dapat bekerja secara mandiri atau memerlukan bimbingan?
e. Evaluasi (Evaluations)
Setiap tahap proses ADDIE melibatkan evaluasi formatif. Ini adalah multidimensional dan merupakan komponen penting dari proses ADDIE. Ini mengasumsikan bentuk evaluasi formatif dalam tahap pengembangan. Evaluasi dilakukan selama tahap implementasi dengan
bantuan instruktur dan siswa. Setelah pelaksanaan pembelajaran selesai, evaluasi sumatif dilakukan untuk perbaikan pembelajaran. Perancang seluruh tahap evaluasi harus memastikan apakah masalah yang relevan dengan program pelatihan diselesaikan dan apakah tujuan yang diinginkan terpenuhi.