• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Kualitas Air

pertambahan berat pada interval waktu tertentu (Djajasewaka, 1985).

Besar kecilnya konversi pakan merupakan gambaran tentang tingkat efisiensi makanan yang dicapai. Makin kecil angka nilai konversi pakan maka makin baik mutu makanan yang diberikan (Mujiman, 1998). Kondisi kualitas pakan yang baik mengakibatkan energi yang diperoleh pada ikan lele dumbo lebih banyak untuk pertumbuhan, sehingga ikan dengan pemberian pakan yang sedikit diharapkan laju pertumbuhan meningkat.

Penggunaan pakan oleh ikan menunjukkan nilai presentase pakan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh ikan. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai konversi pakan adalah jenis sumber nutrisi dan jumlah dari masing-masing komponen sumber nutrisi dalam pakan tersebut. Jumlah dan kualitas pakan yang diberikan pada ikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Semakin besar nilai FCR maka semakin banyak pakan yang dibutuhkan, Effendy (2004).

D 26 -28 7,9-8,5 Kisaran Normal 25-30 6,5-8,5

(Effendy, 2003) (Effendy, 2003)

Pada Tabel 6 terlihat kisaran parameter kualitas air untuk suhu dan pH semua perlakuan masih dalam batas kelayakan dan mendukung kehidupan serta pertumbuhan hewan uji. Kisaran kenaikan suhu berkisar 27-29 oC dan pH berkisar 7,7-8,5. Apabila suhu pemeliharaan berada diluar batas kisaran normal, mengakibatkan aktivitas ikan menjadi rendah dan nafsu makan berkurang, sehingga akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi terhambat. Suhu perairan merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap aktifitas ikan, terutama untuk pertumbuhan dan reproduksi (Huet, 2006). Suhu perairan harus diperhatikan dengan baik, untuk kelangsungan organisme yang mendiaminya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Yulinda (2012), untuk pembesaran benih ikan lele didapat bahwa laju pertumbuhan ikan lele akan baik pada suhu 25º-33ºC dan suhu optimum 30 ºC.

Hasil pengukuran pH yang dihasilkan selama penelitian berkisar 7,7-8,5. Hasil pengukuran ini menunjukan bahwa pH air dalam kisaran normal. Menurut Basahudin (2009), ikan lele hidup dalam pH kisaran 6-9.

Walaupun demikian ikan air tawar tetap dapat mentolerir pH air dengan kisaran 4-10 (Wahyuningsih, 2004). Perubahan pH dapat menyebabkan ikan menjadi stres sehingga dapat terserang penyakit dan secara tidak

langsung rendahnya pH dapat menyebabkan kerusakan pada kulit sehingga memudahkan infeksi oleh pathogen.

Jenis bakteri yang terkandung dalam probiotik EM4 yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Lactobacillus sp.. Menurut Yulinery et al.,(2006) Lactobacillus sp. tumbuh optimal pada kisaran pH 5,5-6,5 dan suhu 30- 37oC. Hasil penelitian Hardiningsi et al.,(2005) menunjukan bahwa pH 6,5 merupakan pH optimum untuk pertumbuhan bakteri Lactobacillus sp.

sedangkan hasil penelitian Malaka (1997) menunjukan bahwa Lactobacillus sp. tumbuh optimum pada suhu 37oC. Hal tersebut menunjukan bahwa pH dan suhu merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan karena jika berada kondisi diluar nilai tersebut maka bakteri tidak dapat bekerja optimal sehingga efektifitas dari probiotik tersebut akan menurun.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

a. Pengaruh penambahan probiotik EM4 dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan benih ikan lele dumbo.

b. Kisaran kelangsungan hidup ikan lele dumbo selama penelitian adalah 83-90%. Tingkat Kelangsungan hidup ikan lele dumbo tertinggi pada perlakuan C dengan rata-rata 90%, serta diikuti perlakuan B dan perlakuan A sebesar 87% dan tingkat kelangsungan hidup terendah pada perlakuan D sebesar 83%.

c. Nilai konversi pakan yang didapat selama penelitian dengan nilai yang terendah adalah perlakuan C (15mL) sebesar 1,55% dan yang tertinggi terdapat pada perlakuan D (pakan kontrol) yaitu 2,32%.

Saran

Berdasarkan hasil penelitan disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan mengidentifikasi jumlah bakteri yang ada dalam saluran pencernaan ikan lele dumbo.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013https://docplayer.info/50319660-I-pendahuluan-ikan-lele- sangkuriang-c-gariepinus-merupakan-salah-satu-komoditas- perikanan.html diakses pada tahun 2013.

Anonim, 2017 https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92289 pada tahun 2017.

Arief, M., Fitriani, N. dan Subekti, S. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik Berbeda Pada Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan Dan Efisiensi Pakan Lele Sangkuriang (Clarias Sp.). Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan, .6(1): 49-53. April 2014.

Ardita, N., Budiharjo, A., Sari S.L.A. 2015. Pertumbuhan dan rasio konversi pakan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan penambahan probiotik. Bioteknologi, 12(1): 16-21.

Asmawi,S. 1983. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Jakarta: Gramedia.

82 hal.

Bramasta. 2009. Pembenihan Dan Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang.

Aneka Ilmu. Semarang

Boyd, C.E. 1987. Water Quality Management in Pond Fish Culture.

International Centre For Aquaculture, Auburn University.

Cahyo B. 2009. Budidaya Lele dan Betutu (Ikan langka bernilai tinggi).

Jakarta: Pustaka Mina.

Darmawangsa, G. M. 2008. Pengaruh Padat Tebar 10,15 Dan 20 Ekor/L Terhadap Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Gurami Osphronemus Goramy Lac. Ukuran 2 Cm (Skripsi).

Program Studi Teknologi Dan Manajemen Akuakultur. Institut Pertanian Bogor.

De Schryver, P., Crab, R., Defoirdt, T., Boon, N. and Verstraete, W. 2008.

The Basics Of Bioflocs Technology: The Added Value For Aquaculture. Aquaculture., 277:125-137.

Dhingra, M. M. 1993. Probiotic In Poultry Diet Livestock Production And Management. India: Sania Enterprises Indore 452001.

Effendi, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.

Effendie, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. 258 hal.

Effendy, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Faizullah, M., Rajagopalsamy, C.B.T., Ahilan. B And Francis, T. 2015.

Impact Of Bofloc Technology On The Growth Of Goldfish Young Ones. Indian Journal Of Science And Technology, Vol 8(13), DOI: 10.17485/ijst/2015/v8i13/54060, July 2015. ISSN (Print) : 0974-6846.

Fourie, JJ. 2006. A Practical Investigation Into Catfish (Clarias gariepinus) Farming in The Vaalharts Irrigation Scheme. Dissertation.

Department of Zoology and Entomology, University of the Free State.112pp.

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Dasar Pengembangan Teknik Perikanan.

Jakarta: PT. Rineka Cipta

Fuller, R. 1989. Probiotics In Man And Animals. Jurnal Application Bacterial: 66 (365-378).

Gunawan, R.G.B dan Bagus. H. 2011. Dongkrak Produksi Lele Dengan Probiotik Organik. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Halver JE and RW Hardy. 2002. Fish Nutrition. Third Edition. California USA : Academy Press Inc. 822 pp. p:712-713.

Handajani dan Widodo, 2010. Nutrisi Ikan. Malang: UMM Press.

Hariyadi, B., Haryono, A. dan Untung Susilo. 2005. Evaluasi Efesiensi Pakan dan Efisiensi Protein Pada Ikan Karper Rumput (Ctenopharyngodon idella Val) yang Diberi Pakan dengan Kadar Karbohidrat dan Energi yang Berbeda. Purwokerto:

Fakultas Biologi Unseod.

Hermawan, AT., Iskandar dan Subhan U. 2012. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Kelangsungan Hidup Pertumbuhan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burch.) Di Kolam Kalimenir Indramayu.

Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol. 3 No. 3 : 85-93

Indriani, Y.H. 1999. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta : Penebar Swadaya.

Irianto, A. 2003. Probiotik Akuakultur. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Irianto, A. 2007. Potensi Mikroorganisma: Diatas Langit Ada Langit.

Ringkasan Orasi Ilmiah Di Fakultas Biologi Universitas Jendral Sudirman Tanggal 12 Mei.

Kordi M.G. dan Tancung A. B. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Jakarta : Rineka cipta

Lovell, T. 1989. Nutrition and Feeding of Fish. New York: Auburn University. Published by Van Nostrand Reinhold. 260 pp. p:20- 112.

Miller, B.S. 1989. Reproduction and Early Life History of Fishes. Hunt Publishing Company. p 135-146.

Mudjiman, A. 1998. Makan Ikan. Jakarta: PT. Penebar. Swadaya, hlm 14- 17, 49-51

Mulyanto. 1992. Lingkungan Hidup Untuk Ikan. Jakarta: Depdikbud. 138 Halaman.

Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Jakarta:

Penebar Swadaya.

Nafiati, A., Hardaningsih dan Murwantoko. 2009. Poliploidisasi dengan Kejutan Suhu Tinggi pada Lele Dumbo (Clarias sp.) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada:

Prosiding.

Pillay, T. V. R. 1990. Aquaculture, Principles and Practices. Fishing News Books, Oxford, London, Edinburgh, Cambridge, Victoria.

Purba, RM. 2001. Pemanfaatan Silase Limbah Jeroan Ikan Nila sebagai Bahan Subtitusi Tepung Ikan dalam Pakan Ikan Nila Gift Oreochromis sp. Skripsi. Bogor: Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian.

Puspowardoyo, H. dan Djarijah, A. 2002. Pembenihan Dan Pembesaran Lele Dumbo Hemat Air. Yogyakarta: Kanisius. Hal 59.

Rika. 2008. Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan dan Kelulus Hidupan Ikan Hasil Strain GIFT dengan Strain Singapura. Skiripsi, Universitas Diponogoro. Semarang

Rohaedi, 2002. Pengelolaan Kualitas Air. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Santoso.1994. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Lele Dumbo Dan Lokal.

Yogyakarta: Kanisius.

Sewaka, HD. 1990. Pakan Ikan. Jakarta : CV. Yasaguna

Shafrudin, D., Yuniarti dan M. Setiawati. 2006. Pengaruh Kepadatan Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) Terhadap Produksi Pada Sistem Budidaya dengan Pengendalian Nitrogen Melalui Penambahan Tepung Terigu. Jurnal Akuakultur Indonesia, 5 (2):137-147.

SNI : 01- 6484.4 – 2000. Produksi Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus X Clarias fuscus) Kelas Benih Seba

Spotte, S . H . 1970. Fish and Invertebrata Culture. Willey Interscience, A Division of John and Son. New York. 145 p

Sunarma, A. 2004. Peningkatan Produktifitas Usaha Lele Sangkuriang (Clarias sp.). Sukabumi: Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendral Perikanan Budidaya BBAT.

Supriyanto. 2010. Pengaruh pemberian probiotik dalam pelet terhadap pertumbuhan lele sangkuriang. Semarang: Universitas Negeri.

Susanto. 1988. Usaha Budi Daya Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).

Susanto, H. 1991., Budidaya Ikan di Perkarangan. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. Department of Aquatic Biosciences. Tokyo University of Fisheries. JICA. 233 pp

Wididana, G. N., M. S. Dan T. Higa. 1993. Aplication of Effective Microorganime (EM) and Bokashi On Natural Farming. Bull.

Kyusei Nature Farming. Jakarta

Wididana, G.N. 1996. Penerapan Effective Mikroorganisms Dalam Bidang Pertanian Indonesia. Jakarta: Koperasi Departemen Kehutanan.

Winedar, H., S. Listyawati, Sutarno.2006. Daya Cerna Protein Pakan, Daging Dan Pertambahan Berat Badan Ayam Boiler Setelah Pemberian Pakan Yang Di Fermentasi Dengan Effective Microorganism 4 (EM4). Bioteknologi 3 (1): 14-19.

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Data hasil penelitian Laju pertumbuhan harian (SGR)

Perlakuan Ulangan Rata-Rata Waktu Pertumbuhan SGR Berat Berat Penelitian mutlak (%) Awal Akhir

A1 1 1,8 6 31 hari 4,2 0,135

A2 2 1,9 6,11 31 hari 4,2 0,135

A3 3 2,1 6,11 31 hari 4,01 0,129

Rata-rata 0,13

B1 1 2,2 6,55 31 hari 4,35 0,140

B2 2 2 6,33 31 hari 4,33 0,139

B3 3 2 6,375 31 hari 4,375 0,141

Rata-rata 0,14

C1 1 2,1 6,77 31 hari 4,67 0,150

C2 2 2 6,88 31 hari 4,88 0,157

C3 3 2,2 6,66 31 hari 4,46 0,143

Rata-rata 0,15

D1 1 1,9 5,87 31 hari 3,97 0,128

D2 2 2 5,87 31 hari 3,87 0,125

D3 3 2,1 5,75 31 hari 3,65 0,117

Rata-rata 0,123

SGR = − ( ) %

SGR = Laju Pertumbuhan Harian (%) w1 = Berat Awal Ikan

w2 = Berat Akhir Ikan

t = waktu pemeliharaan ikan (hari)

44

sintasan (SR)

PERLAKUAN TEBAR AWAL TEBAR AKHIR

A1 10 EKOR 8 EKOR

A2 10 EKOR 9 EKOR

A3 10 EKOR 9 EKOR

JUMLAH 30 EKOR 26 EKOR

SR =87 %

PERLAKUAN TEBAR AWAL TEBAR AKHIR

B1 10 EKOR 9 EKOR

B2 10 EKOR 9 EKOR

B3 10 EKOR 8EKOR

JUMLAH 30 EKOR 26 EKOR

SR = 87%

PERLAKUAN TEBAR AWAL TEBAR AKHIR

C1 10 EKOR 9 EKOR

C2 10 EKOR 9 EKOR

C3 10 EKOR 9 EKOR

JUMLAH 30 EKOR 27 EKOR

SR = 90%

PERLAKUAN TEBAR AWAL TEBAR AKHIR

D1 10 EKOR 8 EKOR

D2 10 EKOR 8 EKOR

D3 10 EKOR 9 EKOR

JUMLAH 30 EKOR 25 EKOR

SR= 83%

SR= %

SR = kelangsungan hidup hewan uji Nt = jumlah ikan pada akhir penelitian No = jumlah ikan pada awal penelitian

45

Konversi pakan (FCR)

Perlakuan Jumlah pakan yang di Rata-rata berat Total berat FCR makan (gr) / 31 hari awal (gr) akhir (gr) (%)

A1 62 18 48 2,06

A2 62 19 55 1,72

A3 62 21 55 1,82

Rata-rata 1,86

B1 62 22 58 1,72

B2 62 20 51 2

B3 62 20 51 2

Rata-rata 1,90

C1 62 21 61 1,55

C2 62 20 62 1,47

C3 62 22 60 1,63

Rata-rata 1,55

D1 62 19 47 2,21

D2 62 20 47 2,29

D3 62 21 46 2,48

Rata-rata 2,32

=

Lampiran 2 : hasil uji ragam (ANOVA)

Tabel hasil uji ragam (ANOVA) pada laju pertumbuhan harian (SGR) ikan lele dumbo

ANOVA

SGR

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups .001 3 .000 16.117 .001

Within Groups .000 8 .000

Total .001 11

Nilai sig. <0.05 menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata (p<0.05)

Multiple Comparisons

Dependent Variable:SGR

95% Confidence

Interval

Mean Lower Upper

(I) perlakuan (J) perlakuan Difference (I-J) Std. Error Sig. Bound Bound

Tukey HSD perlakuan A perlakuan B -.00700 .00397 .354 -.0197 .0057

perlakuan C -.01700* .00397 .011 -.0297 -.0043

perlakuan D .00967 .00397 .147 -.0030 .0224

perlakuan B perlakuan A .00700 .00397 .354 -.0057 .0197

perlakuan C -.01000 .00397 .130 -.0227 .0027

perlakuan D .01667* .00397 .013 .0040 .0294

perlakuan C perlakuan A .01700* .00397 .011 .0043 .0297

perlakuan B .01000 .00397 .130 -.0027 .0227

perlakuan D .02667* .00397 .001 .0140 .0394

perlakuan D perlakuan A -.00967 .00397 .147 -.0224 .0030

perlakuan B -.01667* .00397 .013 -.0294 -.0040

perlakuan C -.02667* .00397 .001 -.0394 -.0140

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

HOMOGENEOUS SUBSETS

SGR

Subset for alpha = 0.05

perlakuan N 1 2 3

Tukey HSDaperlakuan D 3 .1233

perlakuan A 3 .1330 .1330

perlakuan B 3 .1400 .1400

perlakuan C 3 .1500

Sig. .147 .354 .130

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.

Lampiran 3

ANOVA

SR

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 66.667 3 22.222 .889 .487

Within Groups 200.000 8 25.000

Total 266.667 11

Nilai sig. >0.05 menunjukkan perlakuan tidak berpengaruh nyata (p>0.05)

Multiple Comparisons

Dependent Variable:SR

95% Confidence

Interval

Mean Lower Upper

(I) perlakuan (J) perlakuan Difference (I-J) Std. Error Sig. Bound Bound

Tukey HSD perlakuan A perlakuan B .00000 4.08248 1.000 -13.0735 13.0735

perlakuan C -3.33333 4.08248 .845 -16.4069 9.7402

perlakuan D 3.33333 4.08248 .845 -9.7402 16.4069

perlakuan B perlakuan A .00000 4.08248 1.000 -13.0735 13.0735

perlakuan C -3.33333 4.08248 .845 -16.4069 9.7402

perlakuan D 3.33333 4.08248 .845 -9.7402 16.4069

perlakuan C perlakuan A 3.33333 4.08248 .845 -9.7402 16.4069

perlakuan B 3.33333 4.08248 .845 -9.7402 16.4069

perlakuan D .414 -6.4069

6.66667 4.08248 19.7402

perlakuan D perlakuan A -3.33333 4.08248 .845 -16.4069 9.7402

perlakuan B -3.33333 4.08248 .845 -16.4069 9.7402

perlakuan C -6.66667 4.08248 .414 -19.7402 6.4069

HOMOGENEOUS SUBSETS

SR

Subset for alpha

= 0.05

perlakuan N 1

Tukey HSDaperlakuan D 3 83.3333

perlakuan A 3 86.6667

perlakuan B 3 86.6667

perlakuan C 3 90.0000

Sig. .414

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.

Lampiran 4

fcr

95% Confidence Interval for

Mean

N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound

perlakuan A 3 1.8667 .17474 .10088 1.4326 2.3007

perlakuan B 3 1.9067 .16166 .09333 1.5051 2.3082

perlakuan C 3 1.5500 .08000 .04619 1.3513 1.7487

perlakuan D 3 2.3267 .13868 .08007 1.9822 2.6712

Total 12 1.9125 .31331 .09045 1.7134 2.1116

ANOVA

fcr

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups .915 3 .305 14.827 .001

Within Groups .165 8 .021

Total 1.080 11

Nilai sig. <0.05 menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata (p<0.05)

Multiple Comparisons

Dependent Variable:fcr

95% Confidence

Mean Interval

Difference (I- Lower Upper

(I) perlakuan (J) perlakuan J) Std. Error Sig. Bound Bound Tukey HSD perlakuan A perlakuan B -.04000 .11712 .985 -.4151 .3351

perlakuan C .31667 .11712 .101 -.0584 .6917 perlakuan D -.46000* .11712 .018 -.8351 -.0849 perlakuan B perlakuan A .04000 .11712 .985 -.3351 .4151 perlakuan C .35667 .11712 .062 -.0184 .7317 perlakuan D -.42000* .11712 .029 -.7951 -.0449 perlakuan C perlakuan A -.31667 .11712 .101 -.6917 .0584 perlakuan B -.35667 .11712 .062 -.7317 .0184 perlakuan D -.77667* .11712 .001 -1.1517 -.4016 perlakuan D perlakuan A .46000* .11712 .018 .0849 .8351 perlakuan B .42000* .11712 .029 .0449 .7951 perlakuan C .77667* .11712 .001 .4016 1.1517

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Fcr

Subset for alpha = 0.05

perlakuan N 1 2

Tukey HSDaperlakuan C 3 1.5500

perlakuan A 3 1.8667

perlakuan B 3 1.9067

perlakuan D 3 2.3267

Sig. .062 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

Lampiran 5 Lampiran dalan penelitian

Penimbangan bahan baku

Pengayakan bahan baku

Pencetakan pakan

Hasil cetakan pelet Penjemuran pakan

Penyiapan wadah penelitian

Penimbangan berat awal ikan

Pengukuran panjang ikan

Pengukuran probiotik berdasarkan dosis setiap perlakuan

Dokumen terkait