• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar

melihat koleksi buku yang dimiliki oleh para da’i sebagian besar merupakan buku agama, meskipun sebagian yang lainnya adalah buku-buku pengetahuan umum. Seorang pendakwah tentu harus banyak mempelajari ilmu agama yang akan dijadikannya sebagai materi dakwah di hadapan para pendengarnya. Daftar koleksi buku yang tercatat dibaca oleh para da’i di perpustakaan juga sebagian besar mengenai ilmu agama, sehingga terlihat jelas bahwa minat para da’i untuk membaca sangat baik.

Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar para da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar menyampaikan dakwah secara komunikatif dan informatif. Makna komunikatif di sini adalah para da’i mampu mentransfer ilmu yang terdapat dalam dakwah tersebut menjadi sesuatu bahan yang menarik perhatian dan antusiasme para pendengar untuk merespon kembali isi dari dakwah yang disajikan. Informatif yang dimaksud adalah dakwah yang dibawakan oleh para da’i berisi tentang hal-hal yang berbobot, bukan hanya candaan atau arahan angin lalu, tetapi penyampaian yang menyentuh hati dan berisi ajakan kepada kebenaran menurut syariah Islam.

Tabel 13. Tanggapan Responden Bahwa Dakwah yang Disampaikan oleh Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Bersifat Universal

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 14 60,9

2 Setuju 6 26,1

3 Kurang Setuju 3 13,0

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa para da’i Bintal Kodam VII/

Wirabuana Makassar menyampaikan dakwah yang bersifat universal.

Dakwah yang universal adalah yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dakwah yang berkualitas digambarkan dari kemampuan da’i yang menguasai materi mengenai segala aspek kehidupan, tanpa membedakan para pendengarnya. Da’i yang berkualitas mampu menempatkan isi dakwahnya bagi segala umur, segala golongan, segala suku, bahka tidak segan untuk menyebarkan kebenaran pada manusia yang berbeda

agamanya. Dakwah yang bersifat universal, bersifat umum, di mana materi dakwah tersebut mudah dicerna oleh segala golongan umat.

Tabel 14. Tanggapan Responden Bahwa Dakwah yang Disampaikan oleh Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Berisi Ajakan pada Kebenaran tanpa merugikan (mencela) pihak lain

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 18 78,3

2 Setuju 5 21,7

3 Kurang Setuju 0 -

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar para da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar membawakan dakwah yang tidak hanya berisi candaan belaka, melainkan sangat memperhatikan makna dari dakwah tersebut adalah mengajak manusia pada kebenaran. Sebuah kewajiban bagi umat manusia untuk membawa setiap manusia yang lain pada kebenaran, terlebih da’i memiliki kapasitas dalam hal ini. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah isi dakwah tersebut tidak boleh merugikan orang lain ataupun menjelek-jelekkan pihal lain. Sebab membicarakan orang lain meskipun benar merupakan perbuatan tercela yang disebut ghibah.

Banyak para da’i di luar sana yang terkadang menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan lelucon. Namun, da’i yang baik tidak akan membuka aib saudara sesama muslimnya, sehingga mampu membawakan dakwah yang berkualitas. Sebab dalam al-Qur’an sangat jelas melarang seorang muslim menjelek-jelekkan orang lain, sebab sesama muslim meskipun bukan sedarah tapi adalah saudara seiman.

Tabel 15. Tanggapan Responden Bahwa Dakwah yang Disampaikan oleh Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Bersifat Hikmah

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 16 69,6

2 Setuju 5 21,7

3 Kurang Setuju 2 8,7

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar para da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar sudah mampu menyampaikan dakwah dengan hikmah, meskipun masih terdapat beberapa orang yang kurang menyetujui hal tersebut. Dakwah dengan hikmah yang dimaksud adalah da’i mampu menyampaikan dakwah dengan arif dan bijaksana, yaitu dengan melakukan suatu pendekatan sedemikian rupa sehingga para endengar mampu melaksanakan perintah dalam dakwah tersebut tanpa paksaan atau atas keinginannya sendiri. Dakwah yang disampaikan secara hikmah pada dasarnya lebih efektif apabila dibandingkan dengan dakwah yang disampaikan dengan terburu-buru dan cenderung memaksa. Misalnya saja dengan menyampaikan tata cara berpakaian yang sesuai dengan syariah, dibutuhkan kesabaran dan kebijaksanaan ddalam menyampaikan kebenaran tersebut. Sebab, perkembangan zaman menunjukkan bahwa cara berpakaian saat ini sudah mengikuti budaya luar. Dengan demikian, dibutuhkan proses agar para pendengar dakwah mampu menerima masukan dan peringatan dakwah tersebut tanpa harus memaksakan kehendaknya.

Apabila dakwah tersebut terkesan memaksakan kehendak, maka para pendengar akan semakin menjauh dari ajakan kebenaran.

Tabel 16. Tanggapan Responden Bahwa Dakwah yang Disampaikan oleh Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Secara Bertahap (Tidak Tergesa-gesa) dalam Pencapaian Tujuan

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 11 47,8

2 Setuju 6 26,1

3 Kurang Setuju 6 26,1

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sebagian da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar telah menyampaikan dakwahnya secara bertahap.

Meskipun masih ada beberapa responden yang menilai cara berdakwah yang disampaikan masih tidak terarah dan terkesan tergesa-gesa. Dakwah selalu memiliki tujuan yang ingin dicapai, yaitu mengajak manusia pada kebaikan. Namun, terkadang kesabaran seorang da’i teruji saat para pendengar (mad’u) kurang merespon materi dakwah tersebut. Hal inilah yang menjadi suatu ujian bagi seorang da’i yang berkualitas, yaitu tidak pernah berhenti untuk mengajak manusia pada kebenaran. Menyampaikan kebenaran tersebut harus dilakukan secara bertahap atau berproses, sebab tidak mudah merubah karakter seseorang, dakwah pun harus disampaikan dengan arif dan bijaksana.

Tabel 17. Tanggapan Responden Bahwa Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Fasih dalam mengucapkan Ayat al-Qur’an dan Hadits

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 19 82,6

2 Setuju 3 13,0

3 Kurang Setuju 1 4,3

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa hamper seluruh da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar dinilai sudah fasih dalam melantunkan ayat suci al-Qur’an dan hadits. Kefasihan seorang da’i dalam melafalkan suatu ayat akan menunjukkan bahwa da’i tersebut selalu berlatih dalam melafalkan lantunan ayat suci al-Qur’an dengan benar. Hal ini tentu saja menjadi poin penting yang menggambarkan bahwa da’i telah mampu menyampaikan sutu hal dengan benar berlandaskan ayat suci al-Qur’an dan Hadits. Kemampuan yang dimiliki tersebut mampu meyakinkan para mad’u bahwa da’i tersebut memiliki kualitas yang baik dalam berdakwah tentunya.

Tabel 18. Tanggapan Responden Bahwa Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Bersifat Komunikatif Menuturkan Dakwah dengan Jelas dan Tegas

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 10 43,5

2 Setuju 7 30,4

3 Kurang Setuju 6 26,1

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa para da’i Bintal Kodam VII/

Wirabuana Makassar cukup jelas dan tegas dalam menyampaikan dakwah, meskipun masih ada diantaranya yang kurang menyetujui tanggapan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa da’i memiliki kemampuan yang baik dalam memaparkan dakwahnya, sehingga bahasanya terasa lebih ringan untuk didengar oleh seluruh kalangan pendengar dakwah. Selain itu, da’i dianggap telah memiliki komitemen dalam menyampaikan dakwahnya.

Apabila sebuah kebaikan tersebut telah disampaikan, selayaknya seorang

da’i konsisten dan tegas dalam mempertahankan apa yang disampaikannya.

Sikap tersebut menunjukkan sikap istiqomah yang juga ditunjukkan oleh Rasulullah saw. pada saat beliau menyebarkan agama Islam dengan jalan berdakwah.

Tabel 19. Tanggapan Responden Bahwa Dakwah yang Disampaikan oleh Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Membuka dan Menutup Dakwah dengan Baik

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 15 65,2

2 Setuju 5 21,7

3 Kurang Setuju 3 13,0

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar para da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar telah mampu membuka dan menutup dakwah dengan baik dan benar. Kemampuan membuka dan menutup dakwah selalu dianggap mudah bagi sebagian orang yang belum pernah naik ke atas mimbar untuk berdakwah. Namun, dibutuhkan mental yang kuat pada saat ingin memulai dakwah dan menutupnya. Rasa syukur dan pujian kepada baginda Muhammad saw. selalu dijadikan pembuka pada saat dakwah dan dikombinasikan dengan berbagai do’a dan shalawat akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendengar. Begitupun dengan pada saat menutup dakwah, pendengar akan lebih terkesan apabila dibarengi dengan pesan-pesan moril dan bukan hanya sekedar salam. Hal ini tentu saja memperlihatkan kualitas seorang da’i di hadapan para pendengarnya yang tentu memperhatikan gerak-gerak di atas mimbar.

Tabel 20. Tanggapan Responden Bahwa Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Mampu Berimprovisasi saat Berdakwah

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 15 65,2

2 Setuju 7 30,4

3 Kurang Setuju 1 4,3

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar para da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar mampu berimprovisasi saat berdakwah. Improvisasi sangat dibutuhkan apabila da’i membawakan dakwah, agar terdengar tidak monoton dan mudah dimengerti oleh para mad’u. improvisasi yang baik adalah melakukan kalimat candaan yang tidak berlebihan dan tidak menyindir apalagi merugikan pihak lain. Banyak improvisasi yang dapat dilakukan oleh para da’i agar dakwah tidak terasa membosankan dengan waktu penyampaian yang cukup lama. Improvisasi yang baik juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendengar, sebab mereka akan lebih memperhatikan dakwah tersebut apabila menarik.

Tabel 21. Tanggapan Responden Bahwa Da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar Menguasai Materi Dakwah

No Kategori Frekuensi Persentase

1 Sangat Setuju 12 52,2

2 Setuju 7 30,4

3 Kurang Setuju 4 17,4

4 Tidak Setuju 0 -

Jumlah 23 100

Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner, 2013

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar para da’i Bintal Kodam VII/ Wirabuana Makassar telah menguasai materi dakwah.

Dakwah yang berkualitas adalah dakwah yang tidak monoton, hanya berkisar materi-materi itu saja, sebab diharapkan materi dakwah selalu mengikuti perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Terebih lagi dengan perkembangan tersebut, banyak sekali terjadi degradasi moral dan akhlak manusia, sehingga dakwah yang baik diharapkan dapat mendorong manusia untuk selalu mengingat akan kebaikan dan tidak mengikuti arus globalisasi yang semakin kejam. Dengan demikian, dianggap penting bagi seorang da’i agar selalu mempelajari banyak referensi dan bahan bacaan yang dapat menunjang keterampilannya dala berdakwah terutama saat menguasai beberapa materi. Terlebih lagi jika ada para pendegar dakwa yang ingin menanyakan tentang suatu hal padanya.

Dokumen terkait