BAB I PENDAHULUAN
A. Kualitas Hasil Karya Kerajinan Puzzle dari Kayu
dimana warna- warna itu ditempatkan, seperti pada Puzzle yang pertama pewarnaan tidak terlalu sulit, tetapi pewarnaan juga harus extra dilakukan, siswa harus teliti, sabar, ulet, bersih, rapi dan menghasilkan warna- warna yang sejuk dan enak dilihat mata.Karena merupakan tahap penyelesaian yang dapat mengukur nilai estetika dan kualitasnya sebuah karya. Sedangkan pada pewarnaan puzzle yang kedua disini pewarnaannya juga tidak terlalu rumit hanya siswa dituntut agar warna yang diberikan harus menarik.
9.Proses Akhir.
Gambar 31. Proses Akhir
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia 2015)
Tahap akhir merupakan tahap terakhir dalam berkarya setelah semua karya selesai diwarnai maka langkah terakhir adalah proses penyemprotan yang bertujuan untuk mengilapkan hasil karya. Dalam proses ini karya terlihat lebih bagus, rapi dan berkualitas.
Kualitas adalah sesuatu yang bernilai bagus atau tidaknya suatu barang, jasa atau karya kualitas hadir untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Artinya suatu barang dan jasa, dinyatakan berkualitas apakah karakteristik barang tersebut sesuai dengan kebutuhan pelanggan, (Menurut yuran dalam wahyuni 1998).
Mengungkapkan bahwa kualitas dapat didefenisikan Fitness for use, yaitu kesesuaian antara fungsi dan kebutuhan.
Gambar 32.Puzzle Ikan
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M. 2015)
Karya Muh. Farhan. A.R kriteria penilaian karya yang dihasilkan sudah memenuhi syarat, dari pemotongan, penghalusan, perakitan sampai pada proses tahap akhir anak ini sudah mampu berkarya dengan memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan sama kualitasnya. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, siswa ini dapat mengenal bahan dan alat yang digunakan beserta fungsinya masing- masing.
2. Tahap awal, pada tahap awal dilakukan pemotongan bahan terlebih dahulu, anak ini kurang mampu memotong hardboard dengan baik.
Dan menempelkan mal atau desain yang dipilih.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, tahap ini siswa mulai menyekrol dengan mesin scrool, dan dapat menyekrol dengan baik tetapi tidak terlalu rapi.
4. Proses perakitan, siswa ini mulai merakit dengan mulai menghaluskan, merekatkan dan merapikan desain yang selesai dibentuk dengan rapi dan bersih dari seluruh sudut kayu atau MDV sampai pada permukaan puzzle yang dibentuk. Kemudian dilanjutkan dengan teknik perekatan bahan Hardboard atau MDV dan triplex dengan sangat rapi dan bersih.
5. Hasil akhir (Finishing), Pemberian warna yang diberikan sudah sangat baik, anak ini memberikan warna yang menarik, indah, rapi dan sejuk dipandang mata. Kemudian penyemprotan dengan mengilapkan dengan clear juga sudah baik karena tidak terlalu banyak dan sedikit.
Kualitas karya, karya yang dihasilkan sangat baik, sesuai dengan kemampuannya dan jika dibandingkan dengan siswa normal.Dari hasil tes wawancara secara tertulis anak ini memang sangat senang dalam berkarya dan sangat suka mewarnai. Meskipun proses pemotongan sangat sulit menurutnya tetapi siswa ini berkarya dengan baik. Kemampuan siswa normal dengan kemampuan anak ini dalam berkarya sama.
Gamabr 33Puzzle Ikan
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M. 2015)
Karya Abd. Rahmat, kriteria penilaian karya yang kedua dengan puzzle kreativitas bertema ikan, sudah memenuhi syarat, dari pemotongan, penghalusan, perakitan sampai pada proses tahap akhir anak ini sudah mampu berkarya dengan memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, siswa ini dapat mengenal bahan dan alat yang digunakan beserta fungsinya masing- masing.
2. Tahap awal, pada tahap awal dilakukan pemotongan bahan terlebih dahulu, anak ini mampu memotong hardboard dengan baik dengan baik. Dan menempelkan mal atau desain yang dipilih.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, tahap ini siswa mulai menyekrol dengan mesin scrool, dan siswa ini sudah menyekrol dengan rapi, dan
sangat telaten memainkan mesin, nampak bahwa siswa ini sudah terbiasa bermain mesin.
4. Proses Perakitan, siswa ini tidak menghaluskan desain yang selesai dibentuk dengan baik dan merekatkan kayu MDV dengan triplex kurang rapi sehingga hasilnya masih banyak yang perlu dihaluskan.
5. Hasil akhir (Finishing), Pemberian warna yang diberikan baik, siswa ini memberikan warna yang menarik, indah, rapi dan sejuk dipandang mata. Hanya siswa ini mewarnai berulang- ulang sehinnga karya yang dihasilkan tebal dan tidak dapat masuk ketempatnya.
Kemudian penyemprotan dengan mengilapkan dengan clear juga sudah baik karena tidak terlalu banyak dan sedikit.
Kualitas karya, karya yang dihasilkan baik, tetapi kemampuan dan kualitasnya kurangkarena pada tahap akhir siswa ini lebih sering bermain- main sehingga kualitas karya yang dihasilkan kurang baik.Berdasarkan hasil tes tertulis siswa ini mendeskripsikan bahwa siswa ini sangat suka berkarya seni terutama berkarya keterampilan kayu.Namun karena dalam berkarya siswa tersebut tidak fokus maka hasilnya juga tidak memuaskan dan jika dibandingkan dengan siswa normal.Kemampuan siswa normal dengan kemampuan siswa tunarungu sama dalam berkarya hanya siswa tersebut perlu lebih dituntun agar dapat dengan mudah memahami.
Gambar 34.Puzzle Ikan
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Faturrahman, dari beberapa kriteria penilaian karya yang dihasilkan kurang memenuhi syarat, dari pemotongan, penghalusan, perakitan sudah baik namun pada tahap akhir (Finishing)siswa ini masih perlu dituntun dalam poses akhir berkaryanya. berkarya dengan memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan masih kurang. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, dapat mengenal sebagian bahan dan alat yang digunakan beserta fungsinya masing- masing.
2. Tahap awal, anak ini mampu memotong hardboard dengan baik dengan baik. Kemudian menempelkan mal atau desain yang dipilih.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, tahap ini siswa mulai menyekrol siswa ini kurang telaten dalam menyekrol, sehingga hasil pembentukan tidak rapi.
4. Proses perakitan, kemampuan siswa ini masih kurang telaten dalam menghaluskan desain yang selesai dibentuk, sehingga menghasilkan
karya yang kurang maksimal.Dilanjutkan pada proses perekatan siswa ini merekatkan bahan kayu lapisan atas dan bawah dengan baik tetapi tidak dapat merapikan seluruh sudut dan permukaan Puzzle.
5. Hasil akhir (Finishing),Dalampemberian warna anak ini takut dalam mewarnai sehingga dituntun kemana warna yang dipilih ditempatkan.
Kualitas karya, karya yang dihasilkan baik.Kemampuannya baik tetapi kualitasnya kurang karena karya yang dihasilkan tidak memenuhi kriteria penilaian.Dari hasil tes wawancara secara tertulis siswa ini mengungkapkan kegemarannya dalam berkarya kayu.Siswa tersebut sangat pandai menyekrol tetapi pada tahap penyelesaian karya yang dihasilkan tidak memenuhi kriteria, puzzle yang terlepas tidak cocok dengan tempatnya karena dalam pewarnaan siswa ini mewarnai terlalu tebal.Kemampuan anak ini tidak sama dengan anak normal, anak ini dapat berkarya dengan dituntun karena sangat sulit memahami komunikasi yang diberikan.
Gambar 35.Puzzle Ikan
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Abhar Abidin, dari beberapa kriteria penilaian karya yang dihasilkan kurang memenuhi syarat, dari pemotongan, penghalusan, sudah lumayan baik tetapi pada perakitan sampai pada proses tahap akhir anak tidak mampu menyelesaikannya karena dibarengi dengan bermain-main sehinnga siswa ini tidak fokus. Dengan memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan Sangat kurang. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, dapat mengenal sebagian bahan dan alat yang digunakan beserta fungsinya masing- masing.
2. Tahap awal, anak ini mampu memotong hardboard dengan baik dengan baik. Kemudian menempelkan mal atau desain yang dipilih.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, tahap ini siswa tersebut telaten dalam penyekrolan dan pembentukan desain Puzzle.
4. Proses perakitan, sampai pada tahap perakitan siswa ini merakit menghaluskan, merapikan dan merekatkan kayu atau MDV dan triplex sesuai dengan desain. Namun pada tahap perapian siswa ini sangat kurang teliti dalam menghaluskan sehingga seluruh sudut dan permukaan puzzle hasilnya kurang maksimal
5. Hasil akhir (Finishing), kemudian dalam pewarnaan siswa ini tidak fokus dan hanya bekerja setengah- setengah.
Kualitas karya, kemampuan anak ini dalam berkarya baik, tetapi dalam berkarya terkadang tidak fokus, lebih banyak bermain dan tidak bias diatur.sehingga tidak dapat menghasilkan karya yang berkualitas.
Kemampuannya dengan siswa normal tidak sama, anak ini cenderung bermain saja.
Gambar 36.Puzzle Ikan
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Fitrah Ramadhan, dari beberapa kriteria penilaian karya yang dihasilkan ini sangat memuaskan dan telah memenuhi syarat mulai dari tahap awal hingga tahap akhir siswa ini mengerjakan dengan penuh keuletan dan hasilnya sangat rapi, bagus dan kualitasnya sangat memuaskan. Dengan memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan Sangat baik dan memuaskan. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan peralatan kerja dan fungsinya.
2. Tahap awal, anak ini mampu memotong hardboard dengan baik dengan baik. Kemudian menempelkan mal atau desain yang dipilih.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, tahap ini siswa tersebut telaten dalam penyekrolan dan pembentukan desain Puzzle.
4. Proses perakitan, pada tahap ini siswa ini mengerjakan dengan baik mulai dengan menghaluskan, merekatkan dan merapikan puzzle sudah maksimal dan memuaskan
5. Hasil akhir (Finishing), Kemudian dalam pewarnaan siswa ini tidak fokus dan hanya bekerja setengah- setengah.
Kualitas karya, siswa ini menghasilkan karya yang baik, dan hasil yang maksimal. Kemampuan siswa dalam berkarya sama tingkatan perkembangannya dengan seusianya seperti siswa normal pada umumnya.Karena dari hasil wawancara tertulis siswa tersebut gemar berkarya dan ingin berkarya sendiri.Siswa ini dengan telaten berkarya dari awal sampai finishing.
Gambar 36.Puzzle angka
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Muhidin, dilanjutkan pada hasil karya puzzle angka dari beberapa kriteria penilaian karya yang dihasilkan telah memenuhi syarat, dari pemotongan, penghalusan, perakitan sampai pada proses tahap akhir mampu berkarya dengan
memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan sama kualitasnya. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, dapat mengenal sebagian bahan dan alat yang digunakan beserta fungsinya masing- masing.
2. Tahap awal, anak ini terlihat bahwa sangat telaten dalam memotong hardboard.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, siswa ini kurang telaten dalam menyekrol.
4. Proses perekatan, namun pada tahap menghaluskan hasil scrool siswa ini dapat menghaluskan seluruh permukaan yang telah selesai dibentuk dengan ampelas tangan secara maksimal, sehingga hasil scrool yang menjadi rapi. Kemudian merekatkan hardboard (MDV) dengan triplex sesuai dengan desainnya.
5. Hasil akhir (Finishing)dilanjutkan pada tahap pewarnaan, penempatan warna yang digunakan menarik karena warna yang digunakan berselang- seling, teknik keselarasannya dapat terlihat. Kemudian pada proses akhir\ siswa ini dapat mengkilapkan hasil karya dengan baik dan tidak terlalu banyak.
Kualitas karya, Anak ini sudah mampu memberikan hasil dan kualitas karya yang baik dan memenuhi syarat.Dari hasil tes wawancara meskipun siswa ini tidak terlalu telaten bermain mesin tetapi hasil akhirnya berkualitas.
Kemampuan siswa ini dalam berkarya sama dengan siswa normal siswa ini mampu memahami proses berkarya secara maksimal.
Gambar 37.Puzzle Angka
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Kevin Jerry, dari beberapa kriteria penilaian karya yang dihasilkan telah memenuhi syarat, dari pemotongan, penghalusan, perakitan sampai pada proses tahap akhir mampu berkarya dengan memenuhi kriteria penilaian dan jika dibandingkan dengan anak normal tingkat kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan sama kualitasnya. Adapun kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, dapat mengenal sebagian bahan dan alat yang digunakan beserta fungsinya masing- masing.
2. Tahap awal, anak ini terlihat bahwa sangat telaten dalam memotong hardboard.
3. Proses pembuatan dan pembentukan, siswa ini kurang telaten dalam menyekrol.
4. Proses penghalusan, namun pada tahap menghaluskan hasil scrool siswa ini dapat menghaluskan seluruh permukaan yang telah selesai
dibentuk dengan ampelas tangan secara maksimal, sehingga hasil scrool yang menjadi rapi kembali
5. Hasil akhir (Finishing) dilanjutkan pada tahap pewarnaan, penempatan warna yang digunakan menarik karena warna yang digunakan berselang- seling, teknik keselarasannya dapat terlihat.
Namun warna yang digunakan terlalu tebal sehingga puzzle terlalu sempit pada medianya. Kemudian pada proses akhir siswa ini dapat mengkilapkan hasil karya dengan baik dan tidak terlalu banyak.
Kualitas karya, Anak ini sudah mampu memberikan hasil dan kualitas karya yang baik tetapi kurang memenuhi kriteria. Dari hasil tes wawancara tertulis siswa ini tidak menyukai berkarya puzzle, hasil karya yang dihasilkan tidak terlalu rapi hasil sekrolnya. Kemampuannya sama dengan siswa normal dapat berkarya tetapi beberapa hal menjadi penghambat seperti tingkat kesulitan dan kemudahan.
Gambar 38.Puzzle Angka
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Muh. Fajar, dari beberapa kriteria karya diatas sangat kurang dan tidak memenuhi, dari pemotongan, penghalusan sudah baik dan telaten namun pada proses scrool, penghalusan, perakitan sampai hasil akhirnya tidak maksimal, karya yang dihasilkan masih perlu diperbaiki dan dirapikan kembali.kemampuan dan kualitas karya yang dihasilkan sangat kurang.
Kemampuan siswa ini berbeda dengan siswa normal karena siswa ini sangat tidak memahami teknik- teknik yang diajarkan. Dan sangat lambat bekerja.
Adapun Kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, Siswa ini dapat mengenal bahan dan peralatan kerja yang digunakan.
2. Tahap awal, siswa dengan telaten memotong hardboard atau MDV sesuai dengan ukuran yang disepakati.
3. Proses Scrool dan pembentukan, siswa ini tidak mampu menyekrol dengan baik dan menghasilkan karya yang kurang rapi.
4. Proses penghalusan, namun pada tahap menghaluskan hasil scrool siswa ini kurang sabar dan tidak teliti dalam proses ini, sehingga hasil scrool yang tidak rapi masih tampak jelas.
5. Hasil akhir (Finishing) dilanjutkan pada tahap pewarnaan, penempatan warna yang digunakan menarik karena warna yang digunakan berselang- seling, teknik keselarasannya dapat terlihat.
Kemudian pada proses akhir siswa ini dapat mengkilapkan hasil karya dengan baik dan tidak terlalu banyak.
Kualitas karya, karya yang dihasilkan masih perlu di perbaiki kembali dari tahap penghalusan sudut dan permukaan puzzle kurang rapi dan pewarnaan yang kotor. Kemampuan siswa normal dengan siswa berkubutuhan khusus sama hanya saja yang membedakan proses mereka dalam memahami.
Gambar 39.Puzzle Angka
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Patta Wali, Puzzle angka kriteria karya diatas sudah baik, siswa ini mampu mengenal bahan dan peralatan yang digunakan, hasil pemotongan, proses menempel dan merapikan juga sudah baik dan maksimal, kemudian tahap selajutnya (tahap akhir) dalam pewarnaan sudah menarik namun kekurangannya karena hasil karyanya tidak rapi dan kotor. Adapun Kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, Siswa ini dapat mengenal bahan dan peralatan kerja yang digunakan.
2. Tahap awal, siswa dengan telaten memotong hardboardatau MDV sesuai dengan ukuran yang disepakati
3. Proses Scrool dan pembentukan, siswa ini menyekrol dengan sangat baik dan telaten menggunakan mesin
4. Proses penghalusan, pada tahap penghalusan siswa ini telaten menghaluskan seluruh permukaan dan sudut puzzle baik menggunakan ampelas mesin dan manual dengan rapi dan sangat maksimal.
5. Hasil akhir (Finishing)proses akhir dilanjutkan dengan pewarnaan puzzle tahap pewarnaan, penempatan warna yang digunakan menarik, warna pada bagian angka sudah rapid an maksimal tetapi pada bagian luar angka sedikit kotor. dan tahap terakhirproses mengkilapkan permukaan puzzle sudah baik karena siswa ini menyemprotkan pengkilap menggunakan spray gun dengan pas dan cocok tidak banyak dan tidak kurang.
Kualitas karya yang dihasilkan tidak memenuhi semua kriteria penilaian berkarya yang baik, siswa ini telaten dan teliti bermain mesin scrool namun pada tahap akhir hasil pewarnaannya sedikit kotor dan tidak rapi. Kemampuan siswa ini dalam berkarya sudah baik, siswa ini mampu berkarya dan menghasilkan karya yang maksimal sama perkembangannya dengan siswa normal.
Gambar 40.Puzzle Angka
(Sumber: Dokumentasi Nur Amelia M, 2015)
Karya Andi Hermawan, Puzzle angka kriteria karya diatas sudah baik, siswa ini mampu mengenal bahan dan peralatan yang digunakan, hasil pemotongan, proses menempel dan merapikan juga sudah baik dan maksimal, kemudian tahap selajutnya (tahap akhir) dalam pewarnaan sudah menarik namun kekurangannya karena hasil karyanya tidak rapi dan kotor. Adapun Kriteria penilaiannya yakni:
1. Mengenal bahan dan alat, Siswa ini dapat mengenal bahan dan peralatan kerja yang digunakan.
2. Tahap awal, siswa dengan telaten memotong hardboard atau MDV sesuai dengan ukuran yang disepakati
3. Proses Scrool dan pembentukan, siswa ini menyekrol dengan sangat baik dan telaten menggunakan mesin
4. Proses penghalusan, pada tahap penghalusan siswa ini telaten menghaluskan seluruh permukaan dan sudut puzzle baik
menggunakan ampelas mesin dan manual dengan rapi dan sangat maksimal.
5. Hasil akhir (Finishing) proses akhir dilanjutkan dengan pewarnaan puzzle tahap pewarnaan, penempatan warna yang digunakan menarik, tetapi pada tahap pewarnan tidak bagus, sangat tidak maksimal. Dan tahap terakhir proses mengkilapkan permukaan puzzle sudah baik karena siswa ini menyemprotkan pengkilapannnya masih kurang.
Tidak maksimal sehingga tidak terlihat bahwa karya selesai di semprot.
Kualitas karya, karya yang dihasilkan kurang memenuhi, proses awal sampai perakitan sudah bagus dan rapi tetapi proses pewarnaannya kurang rapi dan tidak menarik. Dari hasil tes tertulis siswa ini tidak terlalu suka mewarnai, sehingga hasil pewarnaanya masih kurang.