• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Kurikulum Formal dan Non Formal

a. Kurikulum Formal.

Pendidikan formal sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku, misalnya SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir berkembang secara efektif dan efisien dari pemerintah untuk masyarakat merupakan perangkat yang berkewajiban untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam menjadi warga Negara.

Ada beberapa karakteristik proses pendidikan yang berlangsung di sekolah yaitu:

1) Pendidikan diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hierarki.

2) Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan realive homogeny.

3) Waktu pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.

4) Materi atau isi pendidikan lebih banyak bersifat akademis dan umum.

5) Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawaban kebutuhan dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan pengadaan lembaga pendidikan formal antara lain:

a) Tempat sumber ilmu pengetahuan.

b) Tempat untuk mengembangkan bangsa

c) Tempat untuk menguatkan masyarakat bahwa pendidikan itu

penting guna bekal kehidupan di masyarakat sehingga siap pakai.

Sekolah adalah lembaga dengan organisasi yang tersusun rapi dan segala aktifitasnya direncanakan dengan sengaja yang disebut kurikulum. Sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Sementara itu, dalam perkembangan kepribadian anak didik, peranan sekolah melalui kurikulum, antara lain sebagai berikut:

(1) Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan).

(2) Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah.

(3) Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota

masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara.

Dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan, peran kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah sangatlah strategis. Bahkan kurikulum memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, serta kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan, karena peran kurikulum sangat penting, maka menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan. Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Bagi kepala sekolah dan pengawas berfungsi sebagai pedoman supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan. Sedangkan bagi siswa kurikulum sebagai pedoman pelajaran. Kurikulum dapat dikatakan cukup elastis, sehingga senantiasa terbuka untuk memberikan bahan pelajaran yang penting dan perlu bagi murid- murid pada saat dan tempat tertentu.52

52 Nasution, Asas-asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Ed. 2, Cet. 9, h. 162

Pelaksanaan kurikulum dalam pendidikan formal dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah dan tingkat kelas. Dalam tingkat sekolah yang berperan adalah kepala sekolah dan pada tingkatan kelas yang berperan adalah guru. Walaupun dibedakan antara tugas kepala sekolah dan tugas guru dalam pelaksanaan kurikulum serta diadakan perbedaan tingkat dalam pelaksanaan administrasi, yaitu tingkat sekolah dan tingkat kelas, namun antara kedua tingkat dalam pelaksanaan administrasi kurikulum tersebut senantiasa bergandengan dan bersama- sama bertanggung jawab melaksanakan proses administrasi kurikulum.

a. Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Sekolah

Pada tingkat sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab untuk melaksanakan kurikulum di lingkungan sekolah yang dipimpinnya.

Dia berkewajiban melakukan kegiatan-kegiatan yakni menyusun rencana tahunan, menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan, memimpin rapat dan membuat notula rapat, membuat statistik, dan menyusun laporan.

b. Pelaksanaan Kurikulum tingkat Kelas

Pembagian tugas guru harus diatur secara administrasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kurikulum di lingkungan kelas.

Pembagian tugas-tugas tersebut meliputi tiga jenis kegiatan administrasi yaitu:

1) Pembagian tugas mengajar.

2) Pembagian tugas pembinaan ekstrakurikuler.

3) Pembagian tugas bimbingan belajar

Pembagian tugas ini dilakukan melalui musyawarah guru yang dipimpin kepala sekolah. Keputusan tugas tersebut selanjutnya dituangkan dalam jadwal pelajaran untuk satu semester atau satu tahun akademik.53

b. Kurikulum Non Formal

Lembaga pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah (PLS) ialah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib dan berencana, di luar kegiatan proses persekolahan. Arah pendidikan non formal dapat dikatakan sebagai pengembangan sumber daya manusia di masa depan.54 Komponen yang diperlukan harus disesuaikan dengan keadaan anak atau peserta didik agar memperoleh hasil yang memuaskan, antara lain:

1) Guru, tenaga pengajar, pembimbing, atau tutor.

2) Fasilitas.

3) Cara menyampaikan atau metode.

53 Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), h. 173 dan 180.

54 D. Sudjana S, Manajemen Program Pendidikan, (Bandung: Falah Production,2008), cet. 3, h.

398

4) Waktu yang dipergunakan

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta mengembangkan sikap dan kepribadian professional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Kurikulum pendidikan non formal berpusat pada kepentingan-kepentingan peserta didik dan kurikulum ini bermacam ragam sesuai dengan perbedaan kebutuhan belajar peserta didik dan potensi daerah pendidikan.55

Kurikulum dalam pendidikan non formal lebih menekankan pada pemilikan keterampilan fungsional yang bermanfaat bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya. Dengan tetap memperhatikan aspek psikologi dan sosial kelompok masyarakat

55 D. Sudjana S, Pendidikan Nonformal, (Bandung: Falah Production, 2004), cet. 1, h. 31

yang berbeda-beda, secara garis besar proses pembelajaran pendidikan non formal dilakukan melalui beberapa metode berikut:

a) Metode Kooperatif: menggalakkan peserta didik yang

mempunyai berbagai kebolehan berinteraksi dan bekerja sama untuk menguasai sesuatu konsep atau keterampilan, bukan saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk rekan rekan yang lain, serta memotivasi semua peserta didik.

b) Metode Interaktif: suatu kaidah yang melibatkan interaksi antara tutor dan peserta didik, antar peserta didik, peserta didik dengan komputer, atau peserta didik dengan lingkungannya.

c) Metode Eksperimen: proses pembelajaran dengan menjalankan kajian atau penyiasatan tentang suatu fenomena yang berlaku dalam alam sekitar.

d) Tutorial: tenaga kependidikan menerangkan pelajaran secara interaktif dengan membuka peluang kepada peserta didik untuk bertanya.

e) Diskusi: tenaga kependidikan menugaskan peserta didik untuk mendiskusikan isu tertentu yang berkaitan dengan tema pelajaran.

f) Penugasan: tenaga kependidikan memberikan tugas kepada peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, tugas- tugas yang berkaitan dengan pelajaran.

g) Praktek: tenaga kependidikan menerangkan dan memberikan

contoh tentang cara-cara membuat keterampilan tertentu, kemudian diikuti dan diterapkan oleh peserta didik.

h) Belajar mandiri: proses belajar di luar jam pelajaran formal di mana peserta didik mempelajari pelajaran atau mempraktekkan suatu keterampilan dengan bantuan kawan ataupun orang lain.

i) Demonstrasi: proses belajar dengan menggunakan peragaan.

j)Observasi: proses belajar dengan memperhatikan dan menganalisa objek pembelajaran.

k) Simulasi: proses belajar dengan bermain peran atau menggunakan alat peraga atau bukan alat sesungguhnya.

l) Studi kasus: proses belajar untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

Secara rinci, perbedaan lembaga pendidikan formal dan non formal akan digambarkan sebagai berikut:

Program Pendidikan Formal

Program Pendidikan Nonformal A. Tujuan

1. Jangka panjang dan umum Bertujuan membekali peserta didik dengan kemampuan umum untuk kehidupan-kehidupan masa depan.

1. Jangka pendek dan khusus

Bertujuan memenuhi kebutuhan tertentu yang fungsional dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

2.

B. Waktu C. Relatif lama

Jarang selesai dalam waktu kurang dari setahun.

2.

1. Relatif singkat

Jarang lebih dari satu thun, pada umumnya kurang dari setahun.

Dokumen terkait