• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Berpikir Teologis

FILSAFAT PENDIDIKAN DAN APLIKASINYA

B. Landasan Berpikir Teologis

Ketika menempatkan pokok “landasan berpikir teologis”

pada bab ini, saya tidak bermaksud untuk mencampuradukan antara konten filsafat pendidikan (Kristen) dengan Pendidikan Kristen. Tujuan penempatan “landasan berpikir teologis” dalam bab ini adalah untuk menunjukkan bahwa filsafat hanya berfungsi sebagai metode pendekatan dan bukan konten kajian.

Pendidikan Kristen yang bersumber pada teologi Kristen merupakan konten kajian, di mana tema-tema seperti Alkitab, Allah, Kristus, Keselamatan, Roh Kudus, dosa, dan tema-tema teologis lainnya, harus ada di dalam praktik pendidikan (agama)191 Kristen.

Berkaitan dengan hal ini, H. Shelton Smith mengkritik John Dewey, Albert Coe, dan Elliot. Ia berdalil bahwa gerakan yang dimainkan oleh Dewey, Coe, dan Elliott dalam Pendidikan Agama Kristen tidak bersifat “Kristen” karena jawaban yang diberikan terhadap empat pokok ajaran teologi kurang memuaskan, yakni pokok ajaran tentang Kerajaan

Allah yang terlampau manusia-sentris. Smith melihat bahwa peran teologi tidak boleh digantikan dengan pandangan

sains dan filsafat sehubungan dengan empat dasar iman Kristen dalam pendidikan agama Kristen, yaitu tentang Kerajaan Allah, tentang manusia, Yesus Kristus, dan tentang gereja.

191 Pazmino tidak setuju dengan sebutan pendidikan Kristen melainkan pendidikan agama Kristen.

Smith menempatkan teologi sebagai pusat pemahaman tentang manusia, pribadi yang diciptakan segambar dengan Allah. Smith melihat bahwa hanya teologi yang menempatkan manusia sebagai ciptaan Allah sesuai dengan besar kasih-Nya.

Sejalan dengan Smith bahwa teologi adalah hakikat dasariah dari pemikiran dan praktik pendidikan agama Kristen.

Alasan mendasar yang dikemukakan Smith adalah bahwa di dalam praktik pendidikan agama Kristen, sumber dan fokus belajarnya jelas mengacu pertama-tama pada karya

keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus.

Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen harus menegaskan kondisi manusia yang berdosa yang membutuhkan karya keselamatan yang mutlak bersumber pada Yesus Kristus

melalui pertobatan. Permasalahan mendasar tersebut hanya bisa terjawab apabila dasar kajian Pendidikan Agama

Kristen baik teoritis maupun praktiknya didasarkan pada teologi.

pendidikan gereja. Artinya gereja harus memberikan penekanan pada praktik pendidikan, sebab hanya gereja yang dapat

memberikan kesaksian yang benar tentang kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Pandangan Smith tentang pendidikan adalah bahwa harus pendidikan agama Kristen bukanya hanya pendidikan agama.

Artinya praktik dan teori pendidikan agama harus berakar dalam teologi gereja, dalam arti isi dan prosesnya perlu dipertimbangkan secara kritis dari tolok ukur teologi gereja.

Selain Smith, “Randolph Crump Miller”,192 melalui karyanya, Clue to Christian Education, teologi harus menjadi kunci atau clue dalam memahami dan melakukan pendidikan agama. Artinya, teologi menjadi latar belakang dan presuposisi untuk setiap kurikulum. Dikatakan bahwa:

Miller has been the most consistent and prolific advocate of the theological approach to religious education for the latter half of the twentieth century. In his 1950, The Clue to Christian Education, Miller asserted that theology is the clue to understanding and

192 Randolph Crump, Miller, The Theory of Christian Education Practice, (Birmingham : Religious Education Press, 1910). Dalam buku ini, Miller juga membahas pokok teologi sebagai pusat kajian dengan memberi judul

The Place of Theology in Educational Theory”. Ketegasan Miller sudah terlihat ketika ia memberi judul bab pada pembahasan teologi sebagai ladasan berpikir bagi Pendidikan Kristen : “Christian Education as a Theological Dicipline and Methode”, 153-164.

Selanjutnya yang sama pentingnya adalah menyangkut

kehidupan Kristen yang dikaryakan sebagai saksi Tuhan di bumi. Hal ini tentu menyangkut peran penting teologi untuk menjawab bagaimana seharusnya orang Kristen mempertanggungjawabkan imannya di tengah-tengah

masyarakat. Smith melihat bahwa pendidikan agama Kristen tidak bisa terlepas dari jati diri gereja sebagai saksi

Kristus. Dengan demikian, pendidikan agama Kristen adalah

doing religious education. It is the background and presupposition of any curriculum193

Setuju dengan Miller bahwa teologi harus menjadi fondasi dalam proses “berangkat” maupun “menuju”.

Apa yang diperjuangkan Miller, sesungguhnya merupakan

“warisan” penting yang harus dijaga”. Terjadinya pergeseran paradigma atau pergeseran presuposisi tentang Alkitab akan mempengaruhi tema-tema lainnya, seperti, tema Allah, manusia, dosa, keselamatan, gereja, dll.

Apa yang disangksikan Miller, benar. Perhatikanlah, dalam pertengahan abad 20 hingga kini. Persoalan-persoalan teologis, pada tingkat akademis telah mempengaruhi praksis. Karena itu, tetap memperhatikan presuposisi Alkitab dan Allah adalah suatu keharusan. “The concept of God is foundational to any theological framework, with other doctrines being reflective of the

Christian understanding God…the aims of Christian education is to bring glory to God”.194

193http://faculty.fordham.edu/kscott/Theologies%20of%20Religious%20 Education.pdf. Diakes pada tanggal 1 Juli 2016.

194 Eleanor, A. Daniel dan John W. Wade (ed), Foundation for Christian Education (USA: Zondervan Punblishing House, 2007), 28.

kebenaran sebagai kontribusi kepada lingkung di mana berada.

Titik awalnya memang teologis namun hasilnya akan sosiologis, yakni terciptanya masyarakat yang berkeadilan sosial. II Timoitus 3:16, “segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Ketika orang percaya berada dalam persekutuannya sebagai orang percaya maka sesungguhnya sedang berada dalam konteks pendidikan. Situasi Kisah para Rasul 2:42 seperti yang digambarkan oleh Lukas, bahwa “mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan…”. Persekutuan Kristen seharusnya ditandai dan dipahami dalam konteks

pendidikan (jemaat), yakni pembelajaran sehingga orang terdidik dalam kebenaran, menyadari kesalahan,

memperbaiki kesalahan, dan dapat membagikan pengalaman sebagai shared praxsis.

Pazmino menekankan hal ini dengan mengutip dari “Sara Little”, bahwa “hubungan antara teologi dengan pendidikan Kristen adalah sebuah isu krusial”. 195 Sara Little memberikan beberapa kemungkinan berikut:

a) Teologi adalah konten yang harus diajarkan dalam pendidiki Kristen.

195 Daniel dan Wade (ed), Foundation for Christian Education, 82.

Dengan menempatkan Allah dalam Alkitab sebagai pusat dan tujuan pembelajaran maka para pendidik Kristen harus berkonsentrasi pada Alkitab sebagai isi dan sebagai proses.

Sebab Alkitab tidak hanya menuntun orang menerima keselamatan melainkan juga menuntun orang hidup dalam

b) Teologi adalah referensi untuk apa yang harus diajarkan serta untuk metodologi dan berfungsi sebagai norma untuk menganalisis karya-karya kritis dan mengevaluasi semua pendidikan Kristen.

c) Teologi tidak relevan dengan tugas pendidikan Kristen;

Karena pendidikan Kristen sifatnya otonom.

d) "Melakukan teologi" atau menteologikan adalah pendidikan Kristus dalam artian memampukan seseorang untuk merefleksikan pengalaman dan perspektif mereka saat ini di dalam terang iman dalam penyataan Kristen.

e) Teologi dan pendidikan Kristen adalah dua disiplin ilmu yang berbeda yang terikat secara mutual dan saling bekerja sama untuk menuju Kerajaan Allah.

Pazmino menyadari dialog antara teologi dan pendidikan

Kristen bukan tanpa tantangan. Ia kemudian mengutip kembali pemikiran Little bahwa dialog teologi dengan

pendidikan Kristen memberikan tantangan lain. Para pendidik Kristen bisa membentuk refleksi yang mencirikan pembelajaran tentang Allah dalam teologi dengan mengajukan pertanyaan-

pertanyaan yang esensial seperti yang diajukan Groome, yakni:

a) Apakah natur pendidikan Kristen? (natur dan tujuan) b) Mengapa pendidikan Kristen itu penting? (tujuan) c) Di mana pendidikan Kristen diselenggarakan? (konteks) d) Bagaimana pendidikan Kristen dijalanka? (metode)

e) Kapankah waktu yang tepat untuk membagikan kebenaran dan pengalaman kristiani? (kesiapan)

f) Siapa yang berinteraksi dalam pendidikan Kristen?

(hubungan/relasi)

Dengan mengajukan enam pertanyaan ini, para pendidik Kristen berurusan dengan isu teologi dalam area eklesiologi, soteriologi, eskatologi, antropologi, Kristologi, dan doktrin tentang Allah dalam kitab suci yang mempengaruhi pendidikan. Pendidikan Kristen pada puncaknya merupakan area teologi praktika.

Sama seperti pendidikan Kristen mampu berkontribusi pada tugas-tugas teologi, teologi juga bisa berkontribusi pada pendidikan Kristen. Teologi bisa menjadi alat refleksi pola pikir dan praktik pendidikan Kristen. Teologi juga bisa memberitahu apakah praktik pendidikan Kristen dilakukan sudah sesuai dengan Alkitab dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kekonsistenan terhadap nilai-nila Alkitab. Sebuah interaksi dialektika antara teologi dan pendidikan Kristen, sebagai disiplin ilmu yang berbeda, bisa dibangun interaksi yang kemudian memampukan

pengaktualisasian kehidupan Kristen sesuai Alkitab, baik di dalam gereja dan dunia. Oleh karena itu dialog yang

kooperatif bisa meningkatkan keefektifan dan hasil karya kreatif dari masing-masing disiplin ilmu ini.

Harus ada hubungan dialogis antara pendidikan Kristen dengan teologi. Pendidikan Kristen berkontribusi dalam tugas- tugas teologi dan sebalik teologi memberi kontribusi dalam tugas-tugas pedidikan Kristen. Pendidikan Kristen mengeksplorasi teologi sehingga puncaknya pendidikan Kristen berada dalam teologia praktika.

Dalam sudut pandang saya, ketika Pazmino mencoba

menjelaskan hubungan pendidikan Kristen dengan teologi adalah tidak mendalam bahkan tidak jelas di bagian

manakah kedua studi ini berhubungan, hubungan seperti apa yang harus dibangun (memang sudah disebutkan di halaman 85 bahwa berhubungan secara dialogis namun tidak jelas).

Ketika membahas pendidikan Kristen dan teologi seperti yang dijelaskan Pazmino adalah bahwa jangan terlalu cepat membuat perbedaan antara pendidikan Kristen dengan teologi. Melainkan mengkaji secara mendalam sebutannya seperti yang dilakukan “Groome ketika mengkaji pendidikan agama Kristen dan pendidikan Kristen”.196

196 Bnd. Thomas Groome, Pendidikan Agama Kristen. Diterjemahkan, Daniel Stefanus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 31-38. Di sana Groome menjelaskan perbedaan definisi dari pendidikan agama (Kristen)

dan Pendidikan Kristen, atau religious (bersifat keagamaan) education dan Christian Religious Education. Kata religious muncul dari kata benda religion.

Ketika menggunakan kata benda religion maka ada kendala bagaimana

Pertama-tama, saya setuju dengan Pazmino bahwa

pendidikan Kristen ada dalam kajian teologia praktika sebab merupakan (teologia) “terapan”.197Teologia terapan

berangkat dari teologi murni (dalam hemat saya dan dalam sebutan Aristoteles seabgai theoria). Teologia murni ini kita sebut sebagai teologia biblika.198 Sebab di dalam

mengungkapnya (Cantwel Smith menguraikannya istilah agam secara mendalam dalam bukunya “memburu makna agam, terbitan Mizan).

Karena keterbatasan tersebut maka kemudian menggunakan kata sifat religious. Namun sekali lagi, ada persoalan (meski tidak mendasar) dari segi kepraktisan dan keartiskan penyebutan. Menurut Groome, Christian Religious Education atau Pendidikan Agama Kristen terkesan ada penumpukan kata.

Maka menurut dia, ia sering menggunakan istilah pendidikan agama atau religious education. Akhirnya, solusi yang lebih nyata adalah menghilangkan kata sifat religious dan menyebut kegiatyan pendidikan yang dilakukan komunitas Kristen sebagai “pendidikan Kristen” atau Christian Education.

Tetapi istilah Christian education pun terkesan ada konotasi merendahkan di kalangan Protestan yang berkaitan dengan kegiatan “mengindoktrinasi”

anak-anak oleh para pejabat gereja (Menurut Moran). Dengan adanya gerakan oikumenis, Groome berharap gereja Kristen cukup sependapat setidak-tidaknya mengizinkan usaha-usaha pendidikan kita dinamai oleh istilah yang umum “Pendidikan agama Kristen” atau Christian religious education. Meski digunakan, namun Groome memberi catatan bahwa “kata sifat Christian di depan religious education” mengingatkan kita bahwa kita memiliki kegiatan namun hanya sebatas itu (persoalan imperialism Barat);

dan kata “religious educatioan” setelah “Christian” mengingatkan kita bahwa pencarian akan yang transenden adalah jauh lebih luas daripada tradisi dan komunitas kita.

197Kata terapan ini saya sadari berkaitan dengan isitlah “praxis” dari Aristotele ketika menggambarkan tiga kegiatan yang berbeda, theoria, praxis dan poieia.

198 Geerhardus Vos, Biblical Theology. Old and New Testaments (Pennsylvania: Eermands Publishing, 1996), 4. Vos memasukan teologia Biblikal ke dalam teologia eksegesis. Karena menurut Vos, dasar teologia

kajian teologia Biblika, para teolog Biblika telah bekerja menyediakan bahan-bahan (bahan-bahan ini sudah merupakan hasil yang ada di dalam setiap kitab-kitab dengan pendekatan tafsir) yang nantinya akan digunakan oleh teolog sistematik199 (dalam membangun doktrin) dan teolog praktika (baik pastoral, misiologi, kepemimpinan Kristen, pendidikan agama Kristen).

Dalam konteks teologia praktika dan dalam tugas

biblical adalah teologia eksegesis. Sehingga nanti dia menyebutnya sebagai cabang dari teologia eksegesis, “biblical theology is that branch of exegetical theology…, 5”

199 Paul Enns, The Moody Hand Book of Theology (Chicago: Moody Press, 2010), 19. Enns memahami biblical theology dalam dua cara berbeda, yakni berkaitan dengan gerakan teology biblical (p. 19), dan metodologi (p. 20).

Dan bahwa teologia biblika memiliki hubungan dengan teologia eksegesis (p. 21).

200 Bnd. Charles Hodge, Systematic Theologi. Vol I, (Michigan: Grand Rapids, 1940), 17. Hodge mengatakan bahwa “theology a science” sebab “in every science there are twi factor: fact and ideas; or fact and mind. Science is more than knowledge. Knowledge is the persuasion of what is true on adequate evidence”.

Bahkan “every science has its own method, determined by its peculiar nature…(18).

The two great methods are the a priori and the aposteriori”. Sebetulnya mau

menggunakan istilah ilmu teologia namun ada kesan pemborosan atau penumpukan kata. Sebab tidak ada teologia yang tidak ilmu. Logi pada

teo sudah menunjukkan hal itu sebagai yang “ilmiah” atau mendekati sesuatu dengan “metode tertentu”. (Ilmu) teologia harus membangun hubungan dengan ilmu-lmu lainnya di luar teologi. Mengapa? Karena persoalan di lapangan “praktika” atau persoalannya adalah di tataran

“praksis”. Teologia tidak bisa menggarap tugasnya secara sendiri secara

“metodik”. Kata “logi” pada “teo” mengharuskan hubungkan tersebut. Ini dampak dari renaissance, masa kemerdekaan akal. Teologi harus membangun

membangun hubungan dengan disiplin ilmu lain di luar teologi. Dalam konteks ini, untuk pendidikan, maka teologia praktika membangun hubungan dengan disiplin ilmu pendidikan (nantinya, ilmu pendidikan harus membangun hubungan dengan psikologi (psikologi pendidikan), persoalan manusia dengan berbagai tipe, karakter, dll, berjumpa di kelas); sosiologi (sosiologi pendidikan), ini persoalan manusia dalam komunitas sekolah, guru dengan murid, dan, dengan sekolah, dll), filsafat (filsafat pendidikan) mencari prinsip dan hakikat dalam proses dan penerapan system, nilai, kurikulum, dll) sehingga melahirkan “pendidikan Kristen”.

Dalam hemat saya, saya memahami kata “pendidikan”

yang ditempatkan sebelum kata “Kristen” tidak dilihat hanya sebagai istilah namun istilah dalam konteks sebagai “disiplin ilmu mandiri”. Ini sama saja ketika kita menyebut istilah

“sosiologi pendidikan agama Kristen”, “psikologi PAK”, atau “filsafat PAK”.

hubungan tetapi hubungan ini adalah hubungan dengan catatan, yakni berhubungan dalam segi metode (shared method) dan bukan isi (konten).

Metode sangat dibutuhkan oleh teologi dalam menggarap tugasnya.

Misalnya, sumbangsih filsafat bagi teologi dalam hal metode untuk tafsir, metode induktif.

Bandingkan juga dengan, Karl, Barth, Pengantar ke dalam Teologi Berdasarkan Injil, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012, 18-19. Barth mengatakan bahwa teologi merupakan suatu logia, logika, logistic yang dimungkinkan oleh theos.

penerapan, teologia praktika (bahkan “teologia”200) harus

Sosiologi, ya, sosiologi sebagai disiplin ilmu; psikologi, ya, psikologi sebagai ilmu, dll. Sedangkan kata “Kristen”

mengacu pada “kegiatan” seperti yang dijelaskan Groome.

Maka ketika kita menyebutnya “pendidikan (agama) Kristen”, mengacu pada Groome bahwa “kata Christian mengingatkan kita bahwa kita memiliki kegiatan…”201 yakni kegiatan keagamaan. Dalam konteks ini, “kegiatan” yang dilaksanakan membutuhkan metode pendekatan sehingga nantinya “kegiatan-kegiatan” dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan target maka harus membangun hubungan dengan disiplin “ilmu pendidikan”. Saya menyebutnya

“terjadi perkawinan secara metodik” antara “Kristen” yang memiliki “kegiatan” dengan “ilmu pendidikan” maka lahirlah “pendidikan (agama) Kristen”. Apakah ya?.

Perhatikan saja di ranah praksis: persoalan metode dan strategi, pendekatan dalam desain kurikulum, managemen (pendidikan), dll, semuanya khas “ilmu pendidikan”. Yang berbeda hanyalah konten.

Teologi (praktika) tidak dapat menafikan peran disiplin ilmu lain ketika hendak menggarap isi kajiannya. Peran yang dimainkan oleh ilmu-ilmu mandiri sudah merupakan konsekuensi dari renaissance. Pada abad pertengahan teologi mendominasi dalam universitas-universitas. Pasca itu, ilmu-

201 Groome, Pendidikan Agama Kristen, 37.

ilmu secara perlahan-lahan mulai melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri. Meski seperti yang diungkapkan Lenhowers bahwa kemudian kajian ilmu-ilmu menjadi fragmentaris. Objek kajian kemudian menjadi persoalan, baik objek kajian formal maupun materil. Yang berbeda hanya dalam objek kajian materil, sedangkan formal bisa saja sama. Misalnya, sosiologi dan teologi. Objek kajian

formalnya sama, yakni manusia, namun materinya berbeda, sosiologi soal hubungan manusia dengan manusia

sedangkan teologi soal hubungan manusia dengan Tuhan dan karyaNya.

Saya katakan bahwa hubungannya adalah hubungan dalam segi metode atau pendekatan dan bukan konten.

Kontennya sudah disediakan atau disuplai oleh teologi sedangkan “metode/pendekatan disuplai oleh ilmu pendidikan”.202 Di sinilah kritik saya terhadap Pazmino

bahwa Pazmino tidak membuat penjelasan secara mendalam tentang hubungan tersebut, apakah berhubungan

dengan syarat atau berhubungan tanpa syarat. Pazmino

202 Bnd. Sentot, Sadono, Psikologi Pendidikan Agama Kristen, 15. Santrock seperti yang dikutip Sadono, bahwa psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Contoh ini memberikan masukan kepada kita bahwa sumbangsih yang diberikan psikologi ke pendidikan adalah dalam cara memahami pengajaran dan pembelajaran.

hanya mengatakan bahwa ada hubungan timbal-balik seperti yang disebutkan di halaman 85.

Sebuah interaksi dialektika antara teologi dan Pendidikan Kristen, sebagai disiplin ilmu yang berbeda, bisa dibangun interaksi, yang kemudian memampukan pengaktualisasian kehidupan Kristen sesuai Alkitab, baik di dalam gereja dan dunia. Oleh karena itu dialog yang kooperatif bisa meningkatkan keefektifan dan hasil karya kreatif dari masing-masing disiplin ilmu ini.

Pazmino, telah mencoba menjelaskan namun mengapa

ia justru menempatkan penjelasannya di bagian awal (pendahuluan) pada halaman 7 dengan istilah

preparadigmatic. Pazmino kemudian menyebut “manusia”

sebagai subjek studi di mana dengan menekankan pada manusia sebagai subjek studi yang kompleks. Di sini juga Pazmino sudah seharusnya melihat kompleksitas manusia (saya lebih menyebutnya makhluk dinamis) sebagai problem, baik dalam teologi maupun pendidikan. Maksud problem di sini adalah nanti akan berkaitan dengan konten kajian- manusia dan pendidikan, manusia dan Tuhannya, manusia dan sesamanya, dll. Sehingga nanti jika manusia dan pendidikan mau dikaji berhubungan dengan manusia dan Tuhannya (teologi) maka kajian ini hendak berfokus pada konten ataukah metode.

Penjelasan Pazmino tidak diperoleh di sini melainkan di bagian 3, landasan filosifis, halaman 113, pada catatan kaki6 dengan mengutip kembali pemikiran Khun seperti di halaman 7. Pada catatan kaki (6) itulah Pazmino menyebut pendidikan sebagai ilmu ketika membahas hubungannya dengan filsafat.

Hubungan ilmu pendidikan dengan filsafat sudah tidak bermasalah. Justru Pazmino harus menjelaskannya dengan detail di bagian ini, karena ini menyangkut fondasi (teologi berhubungan dengan ilmu pendidikan dalam metode ataukah konten). Kalau di sini jelas maka tidak bermasalah ketika berhubungan dengan disiplin lain.

Hubungan teologi dengan ilmu pendidikan adalah dalam segi metode bukan konten. Pendidikan berperan

membantu teologi menyeberangkan konten teologi berkaitan dengan “kegiatan agama Kristen (mengacu pada penjelasan Groome tentang Christian sebagai kegiatan). Pendidikan

menyediakan metode/pendekatan/alat (seperti analogi pada penjelasan Pazmino yang memandang filsafat sebagai alat”203).

203 Pazmino, Landasan Pendidikan Agama Kristen, 111. Alat untuk mengembangkan cara pandang seperti itu disebut sebagai ilmu filsafat.

Di konten ini pun, para pelaku pendidikan Kristen dan pendidik Kristen dengan cermat menggunakan hasil kerja para teolog biblika dalam membangun pendidikan Kristen

Hanya saja, Dirjen Bimas Kristen pun tidak memasukan ilmu pendidikan sebagai salah satu disiplin ilmu yang mendasari Pendidikan Agama Kristen.

Sebagai contoh, dalam konteks Indonesia. Dalam kurikulum Program Studi PAK, komposisi kurikulum pada table penyebaran mata kuliah, terdapat “tiga belas mata kuliah”204 yang khas “ilmu pendidikan”.

Bahkan, misalnya, mata kuliah “Evaluasi Pembelajaran PAK”205; dari nama mata kuliah sudah jelas bahwa harus ada dalam konteks PAK. Ketika memperhatikan “Standar Kompetensi (karena KTSP)” menunjukkan bahwa ada implementasi ke sana (PAK) namun dalam “kompetensi dasar”

dan “rincian materi” maka di sana kita tidak mendapati apa- apa tentang PAK. Artinya murni evaluasi pendidikan (ilmu).

Hal ini ditegaskan dengan referensi-referensi rujukan.

204 Lihat. Panduan Kurikulum Stratum Satu (S1) Program Studi Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi & Sekolah Tinggi Agama Kristen di Indonesia, Jakarta: Dirjen BIMAS Kristen RI, 211, 59.

205 Ibid, 128

Bukti-bukti yang dikemukakan di atas adalah untuk mengafirmasi bahwa PAK membangun hubungan dengan ilmu pendidikan dalam segi metode/pendekatan. Sehingga dalam penerapan, “pendidikan” agama Kristen dapat mencapai tujuan-tujuannya.

sehingga tidak terjadi bias teologis baik di tingkat teoritik maupun di tingkat praksis.

Sebagai pembanding, saya menggunakan peta hubungan antar divisi teologia dan penjabarannya ke dalam mata kuliah dari Dirjen Bimas Kristen, tahun 1997.