• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI 1. Kerawanan

Dalam dokumen Pencegahan Perselisihan Hubungan Industrial (Halaman 52-73)

Peningkatan-peningkatan yang terjadi belum terlalu signifikan dan kita masih menahan laju peningkatan tersebut.

Selain itu, datang kasus dari Negeri Paman Sam bahwa pemogokan tenaga kerja perkeretaapian Amerika yang akan berdampak pada terganggunya lalu lintas penumpang, jalur kereta api barang dan kerugian yang dirasakan oleh keluarga, petani serta bisnis. Salah satu pemogokan ini terjadi dikarenakan aturan kebijakan absensi yang sangat ketat sehingga para pekerja khawatir tentang kondisi kerjanya.

Oleh karena itu, Presiden Joe Biden mengadakan perundingan dengan perwakilan serikat pekerja perkeretaapian Amerika untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang terjadi hingga mencapai kesepakatan.

Untuk mengantisipasi kondisi di atas, langkah yang ditempuh ialah dengan melakukan deteksi dini. Sehingga dapat segera dilakukan beberapa bentuk pembinaan, supaya tercipta kondisi hubungan industrial yang kondusif antara kedua belah pihak. Tetapi, bukan hanya para serikat pekerja/serikat buruh saja yang berperan melakukan deteksi dini hingga pencegahan dini, pemerintah juga harus ikut andil dalam melakukan pengawasan deteksi dini dikarenakan jika hal tersebut tidak bisa teratasi maka perekonomian Indonesia yang akan terkena dampaknya. Sejalan dengan itu, perlu juga penataan hubungan industrial melalui peningkatan kualitas syarat-syarat kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekerja/buruh.

B. LANDASAN TEORI

mitigasi, mencapai kesiapsiagaan, dan mengurangi kemampuan untuk bereaksi terhadap dampak bahaya tertentu.

Dengan demikian, tingkat kerawanan merupakan ukuran yang menunjukkan besar atau rendahnya kemungkinan atau besaran suatu bencana di suatu wilayah atau wilayah serta jumlah korban dan korban jika terjadi bencana tanah longsor yang diukur. berdasarkan tingkat kerentanan fisik alam dan tingkat kerentanan buatan manusia.

Berdasarkan Modul Pusdiklat yang berjudul “Melakukan Deteksi Dini Kerawanan Hubungan Industrial” menjelaskan kerawanan dapat muncul dalam hubungan industrial akibat timbulnya keresahan dalam hal tidak dilakukannya hak dan kewajiban pekerja/buruh, serta adanya ketidaksetaraan perlakuan, perlindungan, syarat kerja, dan kesejahteraan. Apabila terjadi ketidaksetaraan dalam pengelolaan hubungan industrial, maka keresahan akan terjadi. Teori kognitif dari Beck (1976) menyatakan bahwa keresahan terjadi ketika seseorang mempunyai pikiran negatif atau tidak realistik tentang dirinya sendiri, lingkungannya dan masa depannya. Teori ini menganggap keresahan sebagai hasil dari proses kognitif yang berlebihan dan tidak terkendali. Artinya keresahan ini akan membuat keadaan gelisah pada pekerja atau buruh berkaitan dengan pelaksanaan hubungan industrial di perusahaan. Keresahan juga berpotensi menimbulkan konflik sehingga dibutuhkan pencegahan yang lebih intens.

Maka dari itu, sebagai mediator dalam hubungan industrial harus bisa menyelenggarakan interpretasi atas keadaaan kerja yang ada untuk menyusun sebuah rencana terkait pencegahannya. Kemudian keresahan, keluh kesah, dan permasalahan yang muncul pada umumnya berkaitan dengan:

a) Faktor Internal

1. Salah satu pihak tidak melaksanakan hak dan kewajiban yang diatur dalam PK, PP atau PKB dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Salah satu pihak ingkar janji/tidak melaksanakan hak dan kewajiban yang telah disepakati atau dihaturkan.

3. Manajemen membuat kebijakan sendiri.

4. Pengaturan syarat-syarat kerja selama berlangsung hubungan kerja tidak jelas.

5. Upah tidak seimbang dengan kinerja atau sebaliknya.

b) Faktor eksternal

1. Pemerintah (misalnya hemat energi).

2. Kenaikan harga-harga kebutuhan.

3. Kebijakan Kelesuan perekonomian

4. Kepemimpinan dan kewenangan serikat pekerja/serikat buruh 5. Kesejahteraan dan jaminan sosial pekerja

6. Perlakuan diskriminatif

Masalah dan kerawanan hubungan industrial dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti diuraikan di bawah ini, antara lain:

1. Masih terdapat banyak pengusaha yang memandang pekerja sebagai faktor produksi, sehingga tidak melibatkan pekerja sebagai mitra dalam pengelolaan kerja

2. Masih banyak pengusaha yang kurang memahami prinsip-prinsip hubungan industrial, sehingga kurang memperhatikan hak-hak pekerja.

3. Masih banyak pengusaha yang kurang memahami prinsip-prinsip hubungan industrial, sehingga kurang memperhatikan hak-hak pekerja.

4. Tingkat pendidikan sebagian besar pekerja masih relatif rendah sehingga sering mengajukan tuntutan yang kurang realistis karena tidak memperhatikan kemampuan perusahan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Pekerja pada umumnya memiliki solidaritas yang tinggi sehingga bila terjadi keluh kesah dan keresahan dapat memicu terjadinya perselisihan hubungan industrial dan mogok kerja.

6. Kehadiran pihak ketiga seperti lembaga tertentu baik perorangan maupun lembaga dapat mempengaruhi timbulnya keresahan yang berkembang menjadi perselisihan hubungan industrial dan mogok kerja.

Untuk itu, diharapkan Sistem deteksi dan pencegahan dini harus ditingkatkan efektifitasnya. Dengan demikian pembinaan secara terus menerus merupakan kata kunci untuk menekan berbagai bentuk keresahan yang dapat memicu timbulnya perselisihan hubungan industrial dan mogok kerja.

2. Deteksi Dini

Kasus Hubungan industrial tidak akan berakhir, kita dapat melihat di berbagai media bahwa ada banyak masalah dalam hubungan industrial, dari masalah kecil hingga besar seperti pemogokan kerja hingga tindakan yang dapat merugikan pekerja dan pengusaha. Hal ini disebabkan pengelolaan hubungan industrial yang tidak dilakukan secara antisipatif dan preventif dalam deteksi dini sehingga mengakibatkan banyaknya permasalahan hubungan industrial. Berdasarkan Modul Pusdiklat yang berjudul

“Melakukan Deteksi Dini Kerawanan Hubungan Industrial”, sistem deteksi dini kerawanan hubungan industrial adalah sekumpulan elemen yang secara teratur terhubung dan bekerja sama untuk mengidentifikasi penyebab keluhan dan gangguan serta memberikan solusi sedini mungkin.

Oleh karena itu, pendeteksian dini hubungan industrial yang dilakukan oleh bidang hubungan industrial dinas tenaga kerja diharapkan dapat mencegah terjadinya perselisihan antara pekerja dan pengusaha lebih dini dan menjadi sarana sosialisasi hukum ketenagakerjaan serta pentingnya menjaga hubungan industrial agar selalu harmonis, dinamis, dan berkeadilan sehingga dunia kerja kondusif. Manfaat Deteksi Dini Kerawanan Hubungan Industrial antara lain meningkatkan produktivitas, dengan adanya deteksi dini kerawanan hubungan industrial, perusahaan dapat mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk mengatasi masalah hubungan industrial. Hal ini dapat membantu mengurangi ketegangan dan meningkatkan kepercayaan antara perusahaan dan pekerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas. Menjaga hubungan baik antara perusahaan dan pekerja, deteksi dini kerawanan hubungan industrial dapat membantu perusahaan dan pekerja untuk menyelesaikan masalah sejak dini sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Hal ini

dapat membantu menjaga hubungan baik antara perusahaan dan pekerja serta mencegah terjadinya konflik/perselisihan dalam hubungan industrial.

Selanjutnya yaitu mengurangi biaya, jika masalah hubungan industrial tidak diatasi sejak dini, maka masalah tersebut dapat menjadi semakin kompleks dan sulit untuk diatasi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga dengan melakukan deteksi dini dinilai meningkatkan efisiensi dan potensi penghematan biaya yang sangat besar.

Kemudian terdapat dampak bagi perusahaan jika tidak melakukan deteksi dini antara lain menurunnya produktivitas, menurunnya disiplin kerja, munculnya konflik/permasalahan kerja, dan kurangnya hubungan perusahaan dengan pekerja

Sistem deteksi dini dilakukan dengan membentuk Tim, menyusun rencana, menentukan sasaran, melaksanakan kegiatan deteksi dini, melakukan evaluasi dan monitoring serta melaporkan hasil pelaksanaan tim deteksi dini. Untuk menjamin efektifitas pelaksanaan kegiatan deteksi dini, perlu diawali dengan menyusun rencana kegiatan. Rencana kegiatan tersebut disusun untuk mengantisipasi timbulnya permasalahan hubungan industrial dan potensi sumber daya berdasarkan masing-masing tingkatan (Kemenakertrans, Provinsi, Kabupaten/Kota).

Sedangkan, cara pencegahan dini ditetapkan dengan melakukan pembinaan pencegahan dini perselisihan hubungan industrial dapat dilakukan dengan cara mendatangi perusahaan-perusahaan atau mengundang para pihak dalam suatu pertemuan, dialog interaktif, baik langsung maupun melalui media elektronik, silaturahmi, sarasehan, penyuluhan, sosialisasi, lokakarya, training dengan stakeholders.

3. Indikator Kerawanan Hubungan Industrial

Setelah mengetahui definisi, manfaat, dan juga dampak dari mendeteksi dini, tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi indikator kerawanan hubungan industrial.

Indikator kerawanan hubungan industrial berkaitan dengan pelaksanaan sarana

hubungan Industrial dan hak-hak pekerja seperti perlindungan di bidang jaminan sosial. Berikut di bawah ini tabel mengenai indikator kerawanan hubungan industrial:

Tabel 1. Indikator Kerawanan Hubungan Industrial

Sumber : Modul Pusdiklat Deteksi Dini Kerawanan Hubungan Industrial, Kemnaker 2020

Sebagai mediator HI harus mengetahui indikator kondisi hubungan industrial.

Indikator dimaksud diberikan nilai capaiannya di masing-masing perusahaan.

Selanjutnya, nilai capaian tersebut dikelompokkan ke dalam 4 (empat)

klasifikasi/rating yaitu: Mantap, Waspada/Tenang, Rawan/Siaga, dan Sangat Rawan, sebagai berikut:

Tabel 2. Nilai Capaian Kondisi Hubungan Industrial

Keterangan :

1. Mantap = Kondisi dimana seluruh aturan ketenagakerjaan dilaksanakan dengan bukti data yang diperoleh dari perusahaan.

2. Waspada/Tenang = kondisi dimana tidak terjadi gejolak ketenagakerjaan, namun perlu kewaspadaan mediator untuk selalu melakukan pembinaan.

3. Siaga/rawan = kondisi dimana telah terjadi tingkat kerawanan yang memprihatinkan ditandai dengan gejolak mogok/unjuk rasa menuntut hak-hak normatif atau non normatif;

4. Sangat Rawan = kondisi dimana terbukti perusahaan melanggar berbagai peraturan perundangan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, seperti:

melanggar ketentuan Upah Minimum, melanggar ketentuan upah lembur , tidak mengikutsertakan pekerja/buruh ke dalam program jamsostek , dan lain-lain.

Dalam merencanakan pembinaan perlu menentukan prioritas pembinaan dan pengawasan disesuaikan dengan keadaan di lapangan, untuk menetapkan tingkat kerawanan hubungan industrial adalah perusahaan yang mempekerjakan pekerja lebih dari 100 pekerja atau yang padat karya, dengan kriteria yang digunakan adalah:

1) Pelaksanaan peraturan perundang-undangan dengan bobot 50;

a. Pelaksanaan ketentuan upah minimum.

b. Kerja lembur dan hitungan upah lembur.

c. Pelaksanaan hak cuti.

d. Pelaksanaan program Jamsostek.

e. Pelaksanaan program K3 .

Keterangan: Apabila ke-5 hal tersebut dilaksanakan dengan baik, maka masing-masing diberi nilai 10, sehingga nilai keseluruhan adalah 50. Apabila kurang dari itu, maka masing-masing poin dikurangi 10.

2) Pelaksanaan sarana HI dengan bobot 30;

a. Keberadaan dan pelaksanaan fungsi LKS Bipartit . b. Keberadaan dan pelaksanaan fungsi Serikat Pekerja.

c. Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja Bersama.

d. Keberadaan dan pelaksanaan fungsi Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).

e. Pelaksanaan program dan penyuluhan dan penataran HI.

Keterangan: Apabila kelima tersebut dilaksanakan, maka masing-masing diberi nilai 6, sehingga nilai keseluruhan adalah 50. Apabila kurang dari itu, maka masing masing poin dikurangi 6.

3) Program kesejahteraan pekerja dengan bobot 20;

a. Mendirikan koperasi pekerja;

b. menyediakan kantin dan makan bagi pekerja;

c. menyediakan ruang klinik kesehatan/KB /HIV AIDs ; d. fasilitas ibadah;

e. fasilitas olahraga;

Keterangan: Apabila ke-5 hal tersebut dilaksanakan dengan baik, maka masing-masing diberi nilai 4, sehingga nilai keseluruhan adalah 20. Apabila kurang dari itu, maka masing-masing poin dikurangi 4.

4. Simulasi Peta Kerawanan Hubungan Industrial

Salah satu cara pencegahan terjadinya perselisihan dalam hubungan industrial adalah dengan melakukan deteksi dini kerawanan hubungan industrial. PT X yang bergerak di bidang Perhotelan dengan jumlah karyawan lebih dari 1000, ditargetkan sebagai sasaran dalam melakukan deteksi dini. Tim deteksi dini pun segera dibentuk oleh Disnaker. Tim tersebut selanjutnya melakukan kunjungan kegiatan untuk mengklasifikasikan tingkat kerawanan hubungan industrial pada Perusahaan X.

Maka yang perlu dilakukan tim deteksi dini ialah menyusun rencana kegiatan yang kemudian membuat penilaian berbentuk tabel berisikan indikator dan/atau sub

indikator kerawanan hubungan industrial. Berikut ini simulasi terkait penilaian indikator / sub indikator Peta Kerawanan Hubungan Industrial.

1. Tim Deteksi Dini membuat instrumen pengumpulan data yang berisi indikator kerawanan, nilai/bobot dalam bentuk tabel.

2. Tim Deteksi Dini mengidentifikasi indikator/sub indikator kerawanan hubungan industrial PT X berdasarkan indikator/sub indikator kerawanan hubungan industrial.

3. Tim Deteksi Dini memberi nilai hasil analisis sesuai dengan bobot nilai sub indikator.

4. Tim Deteksi Dini menjumlahkan total poin sub indikator pada tabel di dalamnya.

5. Tim Deteksi Dini menjumlahkan total poin indikator pada tabel.

6. Tim Deteksi Dini menjumlahkan total poin keseluruhan dan menetapkan jumlah poin berdasarkan rating/klasifikasi tingkat kerawanan hubungan industrial.

Berikut adalah simulasi penilaian tabel Peta Kerawanan Hubungan Industrial:

Tabel 3. Simulasi Peta Kerawanan Hubungan Industrial’

NO INDIKATOR/SUB INDIKATOR

BOBOT NILAI SUB INDIKATOR

BOBOT NILAI HASIL ANALISIS A INDIKATOR PELAKSANAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Pengupahan 1 Upah Minimum

- Upah Terendah lebih besar dari UM 180

- Upah Terendah sama dengan UM 100 100

- Upah Terendah kurang dari UM 0

2 Upah lembur

- Dibayar sesuai ketentuan 60 60

- Dibayar tidak sesuai ketentuan 30

- Tidak dibayar 0

3 Struktur dan Skala Upah

- Ada dan dilaksanakan 15 15

- Ada tapi tidak dilaksanakan 7

- Tidak ada 0

4 Peninjauan Upah

- Ada dan dilaksanakan 15 15

- Ada tapi tidak dilaksanakan 10

- Tidak ada 0

5 Penetapan Pengupahan

- Berdasarkan kesepakatan 15 15

- Sepihak 10

- Tidak diatur 0

6 Pelaksanaan THR

- > 1 bulan upah 50

- 1 bulan upah 30 30

- < 1 bulan upah 10

- Diberikan dan upah tidak dibayar 5

- Tidak diberikan 0

Upah Tidak Masuk Karena Berhalangan 7 Sakit

-

Diberi izin dan upah dibayar sesuai

ketentuan 10 10

- Diberi izin dan upah tidak dibayar 5

- Tidak diberi izin 0

8 Menikah / Menikahkan

-

Diberi izin dan upah dibayar sesuai

ketentuan 10 10

- Diberi izin dan upah tidak dibayar 5

- Tidak diberi izin 0

9 Istri Melahirkan / Keguguran

-

Diberi izin dan upah dibayar sesuai

ketentuan 10 10

- Diberi izin dan upah tidak dibayar 5

- Tidak diberi izin 0

10 Anggota Keluarga Meninggal Dunia

-

Diberi izin dan upah dibayar sesuai

ketentuan 10 10

- Diberi izin dan upah tidak dibayar 5

- Tidak diberi izin 0 11 Menjalankan Ibadah Agama

-

Diberi izin dan upah dibayar sesuai

ketentuan 10 10

- Diberi izin dan upah tidak dibayar 5

- Tidak diberi izin 0

12 Mengkhitankan / Membaptiskan

-

Diberi izin dan upah dibayar sesuai

ketentuan 10

- Diberi izin dan upah tidak dibayar 5 5

- Tidak diberi izin 0

Pelaksanaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek)

13 Kepesertaan Jamsostek

- 100% 50

- < 100% 25 25

- Tidak sama sekali mengikutkan 0

14 Program Jamsostek

- 4 program 50 50

- 3 program 40

- Tidak sama sekali mengikutkan 0

15 Jaminan Pensiun

- Ada 10 10

- Tidak Ada 0

16

Waktu Kerja Malam Pekerja Perempuan (fasilitas angkutan antar jemput, makanan & minuman bergizi, menjaga kesusilaan & keamanan)

- Memberikan 3 fasilitas 10

- Memberikan 2 fasilitas 7 7

- Memberikan 1 fasilitas 3

- Tidak ada fasilitas yang diberikan 0 Keselamatan Kerja

17

Perlengkapan dan Peralatan Keselamatan Kerja (UU No 1 Tahun 1970; Gambar/Poster K3; Tanda-Tanda Larangan Sesuai dengan Sifat Bahaya yang ada; Alat Pelindung Diri; Panitia Pembina K3; Pembinaan dan Pelatihan K3)

-

Tersedia dan Terpasang 5 - 6 Alat dan

Perlengkapan 10 10

-

Tersedia dan Terpasang 3 - 4 Alat dan

Perlengkapan 6

-

Tersedia dan Terpasang 1 - 2 Alat dan

Perlengkapan 3

- Tidak tersedia 0

18

Perlengkapan dan Sarana Kesehatan Kerja (Keadaan Tempat Kerja, Fasilitas Sanitasi, Ruang Ganti Pakaian, Sumber Air Bersih, Pembuangan dan Pengolahan Sampah/Limbah, Pelayanan dan Sarana Kesehatan Kerja, Pengujian Kesehatan Tenaga Kerja, Fasilitas P3K, Penyakit Akibat Kerja)

-

Tersedia dan Terpasang 7 - 9 Perlengkapan

dan Sarana 10

-

Tersedia dan Terpasang 4 - 6 Perlengkapan

dan Sarana 6 6

-

Tersedia dan Terpasang 1 - 3 Perlengkapan

dan Sarana 3

- Tidak tersedia 0

Total Poin Indikator Pelaksanaan Peraturan Perundang-Undangan 398 B INDIKATOR PELAKSANAAN SARANA HUBUNGAN INDUSTRIAL

19 Serikat Pekerja / Serikat Buruh (SP / SB)

- Ada, Lebih dari 1 (satu) SP 50

- Ada, Hanya 1 SP 40 40

- Tidak ada SP 0

20

Peraturan Perusahaan / Perjanjian Kerja Bersama (salah satu)

-

Ada, disosialisasikan dan dibagikan kepada

seluruh pekerja 50 50

-

Ada, tapi tidak disosialisasikan dan tidak

dibagikan 30

- Tidak ada 0 21 LKS Bipartit

- Ada, program kerja dan rekomendasi 50

- Ada, tidak ada program kerja 30 30

- Tidak ada 0

22 Persentase Penyelesaian Perselisihan Melalui Bipartit

- > 75% 50 50

- > 50% 25

- > 25% 0

Total Poin Pelaksanaan Sarana Hubungan Industrial 170

C INDIKATOR FASILITAS KESEJAHTERAAN

23 Fasilitas Makan (Makan / Kantin)

- Ada 10 10

- Tidak Ada 0

24 Fasilitas Transport (Transport, Fasilitas Antar Jemput)

- Ada 10

- Tidak Ada 0 0

25

Fasilitas Perumahan (Perumahan, Mess, atau Rumah Dinas)

- Ada 10

- Tidak Ada 0 0

26

Fasilitas Kesehatan (Kesehatan dan/atau Klinik + Pelayanan KB)

- Ada 10 10

- Tidak Ada 0

27 Koperasi dan Usaha - Usaha Produktif

- Ada 10

- Tidak Ada 0 0

28 Fasilitas Ibadah

- Ada 10 10

- Tidak Ada 0

29 Fasilitas Lainnya

- Ada 10

- Tidak Ada 0 0

Total Poin Indikator Fasilitas Kesejahteraan 30

D INDIKATOR HUBUNGAN KERJA

30 Outsourcing(Alih Daya)

- Tidak Menggunakan PekerjaOutsourcing 125 125

- PekerjaOutsourcing > 25% 75

- PekerjaOutsourcing> 50% 50

- PekerjaOutsourcing> 75% 25

Total Poin Indikator Hubungan Kerja 125

NO INDIKATOR / SUB INDIKATOR

BOBOT NILAI SUB INDIKATOR

BOBOT NILAI HASIL ANALISIS

TOTAL POIN KESELURUHAN 723

KLASIFIKASI TINGKAT KERAWANAN HI

Waspada/Tena ng

Berdasarkan simulasi peta kerawanan industrial, mendapatkan total poin keseluruhan, yaitu 656 dengan klasifikasi tingkat kerawanan HI nya adalah waspada. Dalam tingkatan ini, kondisi perusahaan tidak terjadi gejolak ketenagakerjaan, namun perlu kewaspadaan mediator untuk selalu melakukan pembinaan. Secara sederhana, peta simulasi ini berguna untuk mendeteksi secara dini permasalahan hubungan industrial di suatu perusahaan sehingga dapat mengetahuinya secara awal dan langsung ditindak lanjuti.

5. Penerapan Deteksi Dini Kerawanan Hubungan Industrial

DAFTAR PUSTAKA Buku

Agustini, F. (2019). Strategi Manajemen Sumber Daya Manusia. Medan: UISU Press. http://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/40887

Cangara, Hafied. (2013). Perencanaan & Strategi Komunikasi. Jakarta: RAJAWALI PERS.

Farida, U., & Hartono, S. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia II.

Ponorogo: Umpo Press.

http://staffnew.uny.ac.id/upload/131655984/pendidikan/BUKU%20PERENC%20D AN%20EVALUASI%20PROGRAM%20KOMUNIKASI.

Farida, Umi. Hartono, Sri. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Ponorogo :

UNMUH PONOROGO PRESS

http://eprints.umpo.ac.id/3660/1/BUKU%20AJAR%20MSDM%20II.pdf

Nadie, L. (2019). MEDIA MASSA DAN PASAR MODAL: Strategi Komunikasi bagi

Perusahaan Go Public. Jakarta: Pustaka Kaji.

https://books.google.co.id/books?id=3qGtDwAAQBAJ&lpg=PA10&ots=jK5U5iO2j P&dq=buku%20komunikasi%20perusahaan&lr&hl=id&pg=PA2#v=onepage&q=

buku%20komunikasi%20perusahaan&f=false.

Jurnal

Aditya, Muhammad. (2021). Standard Operating Procedure. Jakarta: PT Merdeka

Copper Gold, Tbk.

Bariyah, Khoirotul. (tahun) “Implementasi Disiplin Kerja Dan Beban Kerja Terhadap Kinerja Karyawan”. Jurnal Ilmiah : ISSN : 1410-8771.Vol 16, No 2. Hal 27-36.

https://media.neliti.com/media/publications/235036-implementasi-disiplin-kerja-d an-beban-ke-954e01da.pdf

Berata, I komang Oko. (2012). Panduan Praktis HRD dan GA. Depok.

Darbi, Fi. (2023). 7 Workplace Challenges and How to Overcome Them.

https://www.upskilled.edu.au/skillstalk/workplace-challenges

Ekotama, S. 2015. Pedoman Mudah Menyusun SOP. Yogyakarta : MedPress Hayat, Olivia. (2019). “Penerapan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Bank

Syariah Mandiri Kantor Cabang Teluk Betung”.

https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/647/

Laksmi, Fuad dan Budiantoro. (2008). Manajemen Perkantoran Modern.

Jakarta: Penerbit Pernaka.

Limantoro, Felina. 2015. “Pengaruh Gaya Komunikasi Direktur Terhadap Kepuasan Komunikasi Karyawan Di PT. Sumarni Mustajab Batu.” Jurnal e-komunikasi 3(2): 1–11.

Loina Lalolo Krina. (2003). Indikator dan Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi dan Partisipasi. Sekretariat Good Governance Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Luthfi, M. (2017). Peran Komunikasi Dalam Organisasi Perusahaan. Jurnal Warta

Edisi : 54 ISSN : 1829 - 7463.

https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/juwarta/article/view/280/274.

Munandar. (2011). Manajemen Mutu. Bogor: PT Gramedia. Sugiyono. (2009).

Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Jakarta

Purba, Budiman, Aswand Hasoloan, and Amru Yasir. 2021. “Komunikasi Organisasi Dalam Proses Pengambilan Keputusan Di UPT-PTPH Provinsi Sumatera Utara.” JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study 7(1): 84–95.

Putri, Gabriella Sagita, Bobie Hartanto, and Nisrin Husna. 2019. “Generation Gap;

Analisa Pengaruh Perbedaan Generasi Terhadap Pola Komunikasi Organisasi Di Perusahaan Consumer Goods Di Kota Surabaya.” JURNAL SOSIAL: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial 20(1): 36–43.

Tjiptono, Fandy dan Gregorius chandra. (2016). Service, Quality & satisfaction.

Yogyakarta.

Wanda, Afifah. (2019). Alur Penanganan Keluh Kesah Karyawan. Semarang:

Universitas Diponegoro.

https://www.coursehero.com/file/67536311/alur-penanganan-keluh- kesah-karyawandocx/

Artikel

Adytya, Billy. 2022. “Harmonis Adalah Istilah Yang Berkesinambungan Dengan

Harmoni, Ini Beragam Jenisnya.” merdeka.com:

https://www.merdeka.com/trending/harmonis-adalah-istilah-yang-berkesinambun gan-dengan-harmoni-ini-beragam-jenisnya-kln.html.

Berita Bersatu. “Begini Strategi Startup Bangun Sistem Kerja Sesuai Aturan PPKM”.

https://www.beritasatu.com/news/820979/begini-strategi-startup-bangun-sistem- kerja-sesuai-aturan-ppkm

Ismi, Trias. (2023). 6 Jenis Masalah yang Sering Terjadi di Tempat Kerja dan

Dalam dokumen Pencegahan Perselisihan Hubungan Industrial (Halaman 52-73)

Dokumen terkait