• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Landasan Teori

5)Teknologi

kemajuan teknologi yang sangat cepat yang belum pernah dialami sepanjang sejarah peradaban manusia. Siklus waktu teknologi lebih cepat dari siklus pendidikan, dampak terhadap industri jasa pendidikan berubah dari bentuk industri jasa pendidikan massal. Jasa pendidikan massal lebih

mengandalkan keterampilan standar yang cenderung seragam dengan model eksternal. Faktor-faktor di atas juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi angka partisipasi sekolah di suatu daerah. Pemerataan pendidikan sangatlah penting dilakukan karena dengan pendidikan dapat menghasilkan masyarakat yang siap menghadapi kondisi apapun dan mampu bersaing dengan negara lain.pendidikan yang lebih fleksibel dan menuntut kreativitas, inovasi, dan kerjasama tim.Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemerataan pendidikan dapat dipengaruhi dari berbagai faktor, baik dari faktor internal maupun factor

tersebut tetap dapat bertahan hidup. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional adalah August Comte, Emile Durkeim dan Herbert Spencer. Teori fungsional menjadi karya Talcott Parsons dan Robert King Merton di bawah pengaruh tokoh-tokoh tersebut. Teori Fungsionalisme- struktural ini digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini , jadi teori ini dapat mengakaji fungsi dari adanya pemerataan sekolah gratis bagi masyarakat.

2. Teori Konflik

Teori konflik berkembang sebagai counter terhadap fungsional struktural.

Teori ini menganggap bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok dan golongan yang berbeda kepentingan. Konflik ini diharapkan mampu memper-teguh identitas. Sehingga dalam teori konflik dibutuhkan katup pengaman untuk mengamankan konflik tersebut.

Karl Marx dianggap sebagai orang yang paling banyak memberi sumbangsi dalam pengembangan teori sosial konflik. Teori konflik Kalr marx didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke-19 di Eropa di mana dia hidup terdiri dari kelas pemilik modal, borjuis,dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar(Lukacs, 2010: 95- 100dan Umar, 1999: 43-51). Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar

dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis –false consiousness–dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri,menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.

Teori Konflik tidak mengakui kesamaan dalam suatu masyarakat. Menu- rut Weber, stratifikasi merupakan kekuatan sosial yang berpengaruh besar.

Pendidikan akan mengantar sesorang untuk mendapatkan status yang tinggi yang membedakan dengan kaum buruh.Teori Konflik ini digunakan untuk menganalisis pertentangan yang ada dalam pemerataan sekolah bagi masyrakat agar mengetaju masalah apa yang dihadapi dalam pelaksanaan program pemerataan sekolah gratis.

C. Penelitian Relevan

Untuk menghindari duplikasi, peneliti melakukan penelusuran terhadap penelitian terdahulu,dari hasil penelitian terdahulu, diperoleh beberapa masalah

yang berkairtan dengan masalah yang akan diteliti:

1. Upaya pemerataan pendidikan tingkat sekolah menengah di kecamatan Garung kabupaten Wonosobo. Penelitian ini dilakukan oleh Dyah Refti Fujianti, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2012. Hasil penelitiannya adalah masih banyaknya masyrakat yang beleum mendapat pendidikan terutama laki-laki.

disebabkan masih banyaknya sekolah yang kurang menyediakan fasilitas untuk sisawa dan factor ekonomi masyarakat. Disamping itu juga dikarenakan kurangnya kesadaran masyrakat akan pendidikan.

2. Manajemen dan kebijakan pendidikan gratis dan implikasinya terhadap mutu dan pemerataan pedidikan di pondok pesantren Al Hikmah Gunungkidul.penelitian ini dilakukan oleh Asep Supriadi, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam Universitas Islam Negri Yogyakarta pada tahun 2016. Hasil penelitiannya adalah Adanya pemeratan pendidikan grati di pondok pesantren Al Hikmah Gunungkidul. Dari pendidikan SD samapi pendidikan SMA. Dimana implementasi kebijakan pendidikan gratis dalam bentuk tidak di pungut biaya asrama, pendidikan dan nakan gratis.

Pengelolaan dan kebijakan Pondok Pesantren gratis memberikan implikasi terhadap mutu dan pemerataan pendidikan. ini merupakan usaha dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat dan usaha untuk meningkatkan pendidikan.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas Pemerataan sekolah gratis masyarakat Buki kabupaten Selayar sudah terlaksana dan hampir semua sekolah sudah menerapkan pendidikan gratis bagi siswanya.

E. Kerangka Berpikir

Menurut Undang-undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat (1) menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan dirasa penting karena dengan pendidikan dapat memajukan pembangunan di negara. Pemerintah perlu melakukan perbaikan secara berkesinambungan terhadap semua komponen yang ada pada pendidikan. Untuk dapat

dicapainya tujuan pendidikan nasional tersebut kiranya perlu disusun suatu strategi yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.Permasalahan pendidikan kaum pinggirandapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu pemerataan, mutu dan manajemen yang menjadi masalah utama sekarang ini adalah tentang pemerataan dan peningkatan akses pendidikan. Pemerataan pendidikan menjadi masalah penting bagi pendidikan apalagi pemerataan pendidikan di daerah terpencil kurang ditanggapi oleh pemerintah.

Permasalahan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan menuju pemerataan pendidikan yang efektif antara lain mengenai keterbatasan daya tampung, kerusakan sarana prasarana, kurangnya tenaga pengajar, proses pembelajaran yang konvensional, dan keterbatasan anggaran. Keterbatasan daya tampung sangat berpengaruh dalam proses pemerataan pendidikan. Banyak sekolah yang memiliki daya tampung tak seimbang dengan jumlah murid yang diterima saat penerimaan murid baru.

Dalam merencanakan pendidikan dan untuk mengetahui seberapa besar penduduk Indonesia yang memperoleh pendidikan perlu adanya perhitungan dengan menggunakan Angka Partisipasi Sekolah. Rendahnya taraf pendidikan penduduk di suatu kabupaten, misalnya kemungkinan terjadi karena rendahnya partisipasi sekolah. Rendahnya taraf pendidikan penduduk di suatu kabupaten, misalnya kemungkinan terjadi karena rendahnya partisipasi sekolah. Partisipasi sekolah kemungkinan dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain penilaian orang tua terhadap nilai pendidikan

anak. Di lain pihak, rendahnya penilaian orang tua kemungkinan berkaitan dengan tipologi daerah dimana mayoritas penduduk bertempat tinggal.

Dengan demikian pemerataan sekolah gratis di Kecamatan Buki kabupaten selayar perlu dibenahi untuk mendukung program pemerintah mengenai kebijakan wajib belajar 12 tahun. Dengan tercapainya pendidikan di Kecamatan Buki Kabupaten Selayar diharapkan tujuan pendidikan akan tercapai

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada kerangka piker berikut : Pendidikan kaum pinggiran

Kebijakan Pendidikan

Permasalahan pemerataan pendidikan

Mutu Pendidikan Manajemen Pendidikan

Analisis

Pemerataan sekolah gratis Gambar 2.1Skema kerang

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait