2.5 Prosedur Perhitungan
2.5.4 Langkah A: Menetapkan Data Masukan
Data umum terdiri dari data segmen jalan yang akan dianalisis dan statusnya.
a. Segmen jalan
Satu ruas jalan atau satu rute Jalan harus homogen, jika tidak maka ruas tersebut harus dibagi menjadi segmen-segmen jalan yang masing-masing homogen. Setiap segmen jalan tersebut dianalisis secara terpisah. Jika dalam suatu ruas jalan ada beberapa
LANGKAH A:
MENETAPKAN DATA MASUKAN Langkah A.1: Data Umum
Langkah A.2: Data Geometrik Langkah A.3: Data kondisi lalu lintas
LANGKAH D:
MENETAPKAN KINERJA LALU LINTAS Langkah D.1: Menghitung Derajat Kejenuhan
Langkah D.2: Menghitung Kecepatan dan Waktu tempuh Langkah D.3: Menilai Kinerja lalu lintas
MULAI
LANGKAH F:
MENETAPKAN LUARAN
Evaluasi kinerja segmen JBH:
Nilai Derajat kejenuhan, Kecepatan tempuh, Waktu tempuh, dan Deskripsi kinerja lalu lintas.
SELESAI
LANGKAH B:
MENETAPKAN KECEPATAN ARUS BEBAS Langkah B.1: Kecepatan arus bebas dasar Langkah B.2: Faktor koreksi lebar lajur efektif Langkah B.3: Kecepatan arus bebas pada kondisi
lapangan
LANGKAH C:
MENETAPKAN KAPASITAS JALAN Langkah C.1: Kapasitas dasar
Langkah C.2: Faktor koreksi lebar lajur lalu lintas Langkah C.3: Kapasitas segmen
Kapasitas Jalan Bebas Hambatan
alternatif kondisi geometri yang berbeda, maka masing-masing diberi kode khusus dan dicatat dalam formulir data masukan secara terpisah (pada formulir JBH-I dan JBH-II) yang dapat dilihat pada Lampiran 9.1, demikian juga dalam formulir analisis (formulir JBH- III). Jika analisis dilakukan untuk waktu yang berbeda, maka nomor analisis pun harus diberikan untuk setiap keadaan, dan harus digunakan formulir data masukan dan analisis yang terpisah pula.
b. Status
Untuk data status segmen, gunakan formulir JBH-I. Lengkapi data dengan tanggal, bulan, tahun, nama provinsi, nomor ruas/nama jalan, kilometer segmen jalan (misalnya, km 3.250–4.750 dari Jakarta), segmen jalan antara (misalnya ramp Bekasi Timur dan ramp Bekasi Barat), panjang segmen jalan (misalnya 1,5 km), kelas jalan (kelas penggunaan jalan, kelas I, kelas II, atau kelas khusus), tipe jalan (misalnya, JBH4/2 atau JBH6/2), fungsi jalan (arteri atau kolektor), periode waktu yang dianalisis (misalnya, tahun 2014, jam sibuk pagi antara jam 7–10), serta nama personel yang menangani kasus ini.
2.5.4.2 Langkah A.2: Data Geometri
Data geometri dijelaskan pada Formulir JBH-I dengan langkah sebagai berikut:
a. buat sketsa dari alinemen horizontal segmen jalan pada ruang yang tersedia, pastikan memuat informasi mengenai:
1) arah utara (ditunjukan oleh anak panah);
2) patok kilometer atau benda lain yang digunakan sebagai referensi;
3) sketsa alinemen horizontal segmen jalan;
4) arah arus lalu lintas (ditunjukkan anak panah);
5) nama tempat yang dilalui/dihubungkan oleh segmen jalan;
6) marka jalan seperti garis-tengah, batas lajur, marka sisi perkerasan; dan 7) masukan informasi lainnya ke dalam kotak yang tersedia.
b. buatlah sketsa alinemen vertikal jalan dan sketsa alinemen horizontal jalan. Tunjukkan kelandaian-kelandaian memanjang jalan dalam satuan persen (%) dan sudut-sudut belok dari lengkung-lengkung horizontal jalan dalam derajat (°);
c. hitung jumlah kelengkungan lengkung-lengkung horizontal di sepanjang segmen jalan dalam satuan radian kemudian bagi dengan panjang segmen jalan sehingga diperoleh kelengkungan alinemen horizontal dalam radian/km;
d. hitung jumlah naik/turun-nya alinemen vertikal di sepanjang segmen jalan tersebut dalam satuan meter kemudian bagi dengan penjang segemen jalan sehingga diperoleh kelengkungan alinemen vertikal dalam satuan meter per kilometer (m/km);
e. masukkan informasi tentang jumlah kelengkungan alinemen horizontal dan alinemen vertikal tersebut ke dalam kotak yang tersedia; dan
f. tentukan tipe alinemen segmen jalan berdasarkan informasi kelengkungan-kelengkungan tersebut menggunakan Tabel 2-1, dan catat tipe alinemen yang sesuai (datar, bukit, atau gunung) pada Formulir JBH-I.
Kapasitas Jalan Bebas Hambatan
38 dari 326
Dokumen ini tidak dikendalikan jika di unduh/Uncontrolled when downloaded
Jika data kelengkungan alinemen horizontal dan kelengkungan alinemen vertikal dari segmen jalan yang diteliti tidak masuk dalam kriteria penggolongan alinemen pada Tabel 2-1, maka gunakan penggolongan tipe alinemen berdasarkan pengamatan visual.
Buatlah sketsa penampang melintang jalan rata-rata dan tunjukkan lebar jalur lalu lintas, lebar median, lebar bahu dalam dan bahu luar yang tidak terhalang oleh penghalang samping jalan seperti pohon, saluran, tiang rambu, tiang listrik, patok.
LJE-A, LJE-B : Lebar jalur lalu lintas efektif sisi A; Lebar jalur lalu lintas efektif sisi B;
LBL-A, LBD-B : Lebar bahu luar efektif sisi A; Lebar bahu dalam efektif sisi B
Gambar 2-4 Tipikal sketsa penampang melintang JBH dengan median yang ditinggikan
Catat nilai LJE dan LBE rata-rata untuk sisi A dan sisi B pada tempat yang disediakan pada Formulir JBH-I. LB adalah jumlah bahu luar dan bahu dalam per arah. Untuk jalan satu arah, LB= jumlah lebar bahu kedua sisinya. Hal tersebut dinyatakan dalam Persamaan 2-5 dan 2-6.
Jalan terbagi : Arah 1: LB1 = LBL-A + LBD-A; Arah 2: LB2 = LBL-B + LBD-B 2-5
Jalan satu arah : LB = LB-A + LB-B 2-6
Catat keterangan tentang tindakan pengaturan lalu lintas yang diterapkan pada segmen JBH yang menjadi kasus, seperti batas kecepatan, larangan terhadap jenis kendaraan tertentu seperti larangan kendaraan dengan berat dan/atau beban sumbu tertentu (biasanya dalam bentuk rambu kelas jalan), alat pengatur lalu lintas dan peraturan-peraturan lainnya.
2.5.4.3 Langkah A.3: Data Kondisi Lalu Lintas
Data volume lalu lintas untuk perencanaan dan analisis operasional terdiri dari arus dan komposisi jenis kendaraan, disiapkan menggunakan Formulir JBH-II. Data volume lalu lintas jam sibuk untuk tahun yang dianalisis, qJP, dinyatakan dalam satuan SMP/jam. Tentukan EMP tiap-tiap jenis kendaraan dari Tabel 2-5 atau Tabel 2-6 dan gunakan interpolasi untuk nilai qJP
yang tidak persis sama dengan angka pada tabel tersebut. Masukkan hasilnya ke dalam Formulir JBH-II.
Hitung parameter qJP yang diperlukan untuk analisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Hitung nilai qJP (SMP/jam) dengan mengalikan arus lalu lintas (kend/jam) dengan EMP yang sesuai. Catat hasilnya pada kotak yang telah disediakan. Kemudian, hitung arus total dalam SMP/jam.
Kapasitas Jalan Bebas Hambatan
b. Hitung faktor SMP dengan menggunakan Persamaan 2-7. Masukkan hasilnya ke dalam kotak yang disediakan.
FSMP = qSMP⁄qkend 2-7
Keterangan:
qSMP adalah jumlah total perkalian antara jumlah kendaraan dengan masing-masing nilai EMPnya, dalam SMP/jam.
qkend adalah jumlah total kendaraan, dalam kend/jam.
2.5.4.4 Langkah A.4: Kriteria Desain
Kriteria desain yang umum digunakan terdiri dari 2 (dua), yaitu DJ dengan nilai DJ ≤0,85 dan vT dengan nilai misalnya vT≥80 km/jam atau dengan nilai yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Kriteria desain dapat juga ditetapkan yang lain, tergantung dari kebutuhan.