Bab ini memuat ketentuan dan tata cara penghitungan kapasitas jalan untuk perencanaan dan evaluasi kinerja operasional lalu lintas ruas JLK, yang terdiri dari kapasitas jalan (C) dan kinerja lalu lintas jalan yang diukur dengan derajat kejenuhan (DJ), waktu tempuh ( wT), kecepatan perjalanan (V) dan derajat panduan (DI). Bab ini mengatur ketentuan dan tata cara penghitungan kapasitas jalan untuk perancangan dan evaluasi kinerja lalu lintas ruas jalan perkotaan, meliputi kapasitas jalan (C) dan kinerja lalu lintas jalan yang diukur dengan derajat kejenuhan (DJ), kecepatan perjalanan (VT), dan waktu perjalanan (wT).
Latar Belakang
Analisis kapasitas simpang didasarkan pada rata-rata lebar lajur pendekat yang nilai kapasitasnya ditentukan oleh arus lalu lintas tertinggi yang melaluinya secara empiris. Analisis kapasitas ruas simpang didasarkan pada perilaku lalu lintas di Indonesia, bahwa arus simpang tidak sesuai dengan aturan prioritas berdasarkan penerimaan celah, karena kendaraan yang memasuki daerah konflik mendapat hak jalan terlebih dahulu.
Kapasitas Jalan
Penentuan tersebut tidak dilakukan atas dasar penerimaan celah, karena kondisi pengguna jalan pada umumnya tidak mematuhi aturan prioritas yang mengutamakan kendaraan yang berada terlebih dahulu di persimpangan. Daya tampung ruas jalinan meliputi 2 (dua) hal, yaitu ruas jalinan tunggal yang berupa pertemuan dan pemisahan 2 (dua) aliran sungai dari dua jalan, dan ruas jalinan komposit yang berupa beberapa ruas jalinan tunggal. yang secara berurutan membentuk (dan selanjutnya disebut) bundaran.
Kinerja Lalu Lintas
Kinerja Ruas Jalan
Kinerja Persimpangan
Misalnya Pa dibatasi karena ruang jalan yang tersedia terbatas, kendaraan tidak boleh melewati persimpangan lebih dari waktu tertentu dan/atau hal-hal lain.
Arus Lalu Lintas
Sedangkan pada bagian single link, kinerja trafik selain DJ, kriteria lain yang digunakan adalah vT dan wT. LHRT adalah rata-rata volume lalu lintas tahunan yang ditentukan dari kajian perhitungan lalu lintas selama 1 (satu) tahun penuh dibagi jumlah hari dalam tahun tersebut, yang dinyatakan dalam SMP/hari.
Klasifikasi Kendaraan
MP: mobil penumpang 4 (empat) tempat duduk, mobil penumpang 7 (tujuh), mikrolet, mobil pengangkut barang kecil, mobil pengangkut barang sedang dengan panjang ≤ 5,5 m 3. TB: mobil pengangkut barang 3 (tiga) gandar, truk gandeng, dan kendaraan tempel (trailer) dengan panjang >12,0 m 7b.
Ruang Lingkup
Kapasitas lintas memberikan ketentuan perhitungan kapasitas lintas untuk keperluan perencanaan dan evaluasi kinerja, meliputi kapasitas lintas (C) dan kinerja lalu lintas lintas yang diukur dengan derajat kejenuhan (DJ), tundaan (T) dan kemungkinan antrian (Pa) untuk Lintas-3 dan Simpang-4 yang berada di kawasan perkotaan atau semi perkotaan. Kapasitas ruas interlaced menetapkan ketentuan penghitungan kapasitas ruas interlaced untuk tujuan perencanaan dan evaluasi kinerja, termasuk kapasitas ruas interlaced (C) dan kinerja lalu lintas ruas interlaced tunggal yang diukur dengan derajat kejenuhan (DJ), kecepatan perjalanan (VT) dan perjalanan. waktu (wT) serta kinerja lalu lintas bundaran yang diukur dengan derajat kejenuhan (DJ), tundaan (T) dan kemungkinan antrian (Pa) pada wilayah perkotaan atau semi perkotaan.
Istilah dan Definisi
Umum
Tipe Alinemen
Kapasitas JBH
Kapasitas Dasar JBH
Nilai C0 ditentukan dari Tabel 2-2, sebagai fungsi tipe JBH dan tipe alinyemen jalan yang ditentukan secara empiris dari ruas jalan yang mempunyai kondisi geometrik ideal. C0 pada Tabel 2-2 dinyatakan sebagai nilai lajur jalan, sehingga C0 untuk satu arah (satu lajur) adalah C0 dikalikan dengan jumlah lajur pada arah tersebut.
Faktor Koreksi Kapasitas JBH Akibat Lebar Lajur Efektif
Kinerja Lalu Lintas Jalan
- Ekuivalensi Mobil Penumpang
- Kecepatan Arus Bebas JBH
- Kecepatan Arus Bebas Dasar JBH
- Koreksi Kecepatan Arus Bebas JBH Terkait Lebar Lajur Efektif
- Derajat Kejenuhan
- Kecepatan Tempuh
- Waktu Tempuh
Nilai vBD pada Tabel 2-7 ditentukan secara empiris untuk tipe JBH dengan lebar jalur lalu lintas dan bahu jalan terkecil seperti pada Tabel 2-8. DJ digunakan sebagai dasar penentuan kinerja lalu lintas dan sebagai masukan dalam penentuan kecepatan perjalanan.
Prosedur Perhitungan
- Analisis Perencanaan
- Analisis Operasional
- Formulir Perhitungan
- Langkah A: Menetapkan Data Masukan
- Langkah B: Menetapkan Kecepatan Arus Bebas
- Langkah C: Menetapkan Kapasitas Jalan
- Langkah D: Menetapkan Kinerja Lalu Lintas
- Langkah E: Perubahan Desain Segmen Jalan Untuk Memperbaiki Kinerja Lalu
- Langkah F: Menetapkan Keluaran
Secara umum, kinerja lalu lintas yang ada tidak memenuhi kriteria desain, sehingga perlu dilakukan perbaikan. Melihat total arus lalu lintas (q, SMP/jam) dari Formulir JBH-II untuk setiap arah perjalanan dan memasukkan nilainya pada Kolom 11 Formulir JBH-III; di dalam.
Umum
Kapasitas JLK
Kapasitas Dasar
Jenis garis ditentukan berdasarkan derajat kelengkungan garis vertikal ruas, θV (m/km) dan derajat kelengkungan garis horizontal ruas, θH (rad/km). CATATAN: Nilai dalam tanda kurung merupakan nilai ideal yang dijadikan sebagai kriteria jenis penyesuaian untuk menetapkan kemampuan dasar.
Faktor-Faktor Koreksi Kapasitas
Dokumen ini tidak diperiksa dengan mengunduh Tabel 3-2 C0 ruas jalan khusus tipe 2/2-TT. FCHS, faktor koreksi kapasitas akibat adanya aktivitas di sisi jalan yang menghambat kelancaran arus lalu lintas, ditentukan berdasarkan ukuran (atau kelas) hambatan samping (KHS), yang dihitung berdasarkan terjadinya hambatan tersebut pada saat a dipelajari ruas jalan dan lebar efektif bahu jalan.
Kinerja Lalu Lintas
- Ekuivalensi Mobil Penumpang
- Derajat Kejenuhan
- Kecepatan Mobil Penumpang (v MP ) dan Waktu Tempuh (w T )
- Derajat Iringan (D I )
- Syarat Teknis Lajur Pendakian Pada Segmen Khusus
FvB,HS merupakan faktor koreksi kecepatan aliran bebas MP akibat hambatan lateral dan lebar bahu yang tidak ideal (Tabel 3-16). FvB,KFJ merupakan faktor koreksi kecepatan arus bebas MP berdasarkan kelas fungsional jalan dan penggunaan lahan (Tabel 3-17).
Prosedur Perhitungan
Prosedur Perhitungan Untuk Analisis Operasional dan Perencanaan
PENENTUAN KECEPATAN ALIRAN BEBAS Langkah B.1: Hitung kecepatan dasar arus bebas Langkah B.2: Faktor koreksi lebar lajur jalan. Langkah B.3: Faktor koreksi kondisi penghalang lateral Langkah B.4: Faktor koreksi fungsi jalan dan penggunaan lahan Langkah B.5: Hitung kecepatan aliran bebas pada kondisi tersebut.
Langkah A: Data Masukan
Penggunaan formulir JLK-I untuk mencatat dan mengolah data masukan mengenai arus dan komposisi lalu lintas. Apabila data LHRT, pemisahan arus lalu lintas dan komposisi arus lalu lintas tersedia, maka ikuti prosedur a).
Langkah B: Menetapkan Kecepatan Arus Bebas
FvB6,HS adalah faktor koreksi kecepatan arus bebas untuk tipe jalan 6/2-T (km/jam) akibat hambatan samping. FvB4,HS adalah faktor koreksi kecepatan arus bebas untuk jalan tipe 4/2-T (km/jam) akibat hambatan samping.
Langkah C: Menetapkan Kapasitas
C pada kondisi lapangan dihitung menggunakan persamaan 3-1 dengan menggunakan data yang dimasukkan pada formulir JLK-II, kolom 8 sampai dengan kolom 11. Tulis hasilnya pada kolom 12. Apabila ruas khusus tersebut dilengkapi dengan jalur pendakian, tetap perhatikan arahnya. pendakian sebagai jalur satu arah (dua jalur) dari jalur lalu lintas ganda yang tidak terbagi (4/2-TT) di hamparan pegunungan.
Langkah D: Menetapkan Kinerja Lalu Lintas
Tentukan DI berdasarkan DJ pada kolom 14 menggunakan Gambar 3-3 dan masukkan nilainya pada Kolom 19 Formulir JLK-II (lihat contoh pada Gambar 3-22). Cara tercepat untuk mengevaluasi kinerja lalu lintas adalah dengan memperkirakan DJ atas umur layanan jalan yang diinginkan.
Langkah E: Mengubah Perencanaan Jalan Untuk Meningkatkan Kinerja
Apabila nilai DJ selama umur fungsinya cukup rendah atau sesuai dengan kriteria yang ditentukan, maka kinerja lalu lintas dapat diterima. Untuk jalan yang terbagi, penilaian kinerja lalu lintas harus dilakukan terlebih dahulu untuk setiap arah agar diperoleh penilaian yang komprehensif.
Langkah F: Menetapkan Keluaran
Analisis Perencanaan Menggunakan Tabel Kinerja
Umum
Kapasitas Jalan Perkotaan
- Penghitungan Kapasitas
- Kapasitas Dasar
- Faktor Koreksi Kapasitas Akibat Perbedaan Lebar Lajur
- Faktor Koreksi Kapasitas Akibat PA pada Tipe Jalan Tak Terbagi
- Faktor Koreksi Kapasitas Akibat KHS pada Jalan
- Faktor Koreksi Kapasitas Terhadap Ukuran Kota
- Kelas Hambatan Samping
Nilai FCHS untuk tipe jalan 6/2-T dan 8/2-T dapat ditentukan dengan menggunakan nilai FCHS untuk tipe jalan 4/2-T yang dihitung menggunakan Persamaan 4-2. FC6HS adalah faktor koreksi kapasitas akibat hambatan samping untuk jalur 6/2-T atau 8/2-T. FC4HS adalah faktor koreksi kapasitas akibat hambatan samping untuk jalur 4/2-T. Ketentuan teknis cara pencatatan dan penetapan KHS dirinci pada poin 4.2.7. KHS ditentukan dengan mengalikan frekuensi kemunculan setiap jenis rintangan samping dengan bobotnya.
Kinerja Lalu Lintas
- Derajat Kejenuhan dan EMP
- Kecepatan Arus Bebas
- Kecepatan Tempuh
- Waktu Tempuh
FVBHS merupakan faktor koreksi kecepatan bebas akibat adanya hambatan samping pada jalan yang mempunyai bahu jalan atau jalan yang dilengkapi gerbong/trotoar dengan jarak gerbong ke hambatan terdekat, nilainya dapat dilihat pada Tabel 4-14 untuk jalan yang mempunyai bahu jalan dan Tabel 4-15 untuk jalan yang mempunyai perkerasan/tepi jalan. FVBUK merupakan faktor koreksi kecepatan gratis untuk berbagai ukuran kota, nilainya dapat dilihat pada Tabel 4-16.
Prosedur Analisis
- Langkah A: Menetapkan Data Masukan
- Langkah B: Menetapkan Kecepatan Arus Bebas
- Langkah C: Menetapkan Kapasitas
- Langkah D: Kinerja Lalu Lintas
- Langkah E: Perubahan Desain Segmen Jalan untuk Memperbaiki Kinerja Lalu
- Langkah F: Menetapkan Keluaran
Formulir JK-III, untuk menghitung dasar kecepatan arus bebas, kapasitas jalan dan analisis kinerja lalu lintas. PENENTUAN KINERJA LALU LINTAS Langkah D.1 : Perhitungan derajat kejenuhan (DJ) Langkah D.2 : Perhitungan kecepatan (VT) dan waktu.
Umum
Perencanaan Pengaturan Simpang APILL
Tingkat kecelakaan lalu lintas pada simpang APILL diperkirakan sebesar 0,43 kecelakaan per juta kendaraan dibandingkan 0,60 di persimpangan dan 0,30 di bundaran (data MKJI'97, yang berdasarkan data negara maju). Rekayasa lalu lintas pada simpang APILL, baik dengan menyediakan fasilitas fisik seperti saluran untuk memudahkan pergerakan belokan, maupun dengan menetapkan fase-fase APILL, menentukan jenis pendekatan tipe terlindungi dan menambah waktu antar jalur hijau, dapat mengurangi angka kecelakaan. .
Kapasitas Simpang APILL
Penentuan Lebar Pendekat Efektif
Untuk mendekati traffic island, arus belok kiri mempunyai lebar lajur tersendiri sehingga lebar pendekatan (LM) adalah lebar antara tepi traffic island dengan median yang ditunjukkan pada Gambar 5-5 (kiri). Sedangkan jika LBKiJT kurang dari 2 meter maka arus belok kiri menyatu dengan arus lalu lintas lurus (Gambar 5-5 kanan).
Penentuan Arus Jenuh
Pendekatan yang sama dapat digunakan untuk "waktu hijau akhir", di mana kilatan hijau pada satu pendekatan berlanjut selama beberapa waktu setelah berakhirnya kilatan hijau ke arah yang berlawanan. CONTOH Waktu hijau awal sama dengan 1/3 dari total waktu hijau pendekatan, dimana waktu hijau awal adalah J1+2= 1.
Waktu Isyarat APILL
Jika periode WMS untuk setiap akhir fase ditentukan, maka total waktu hijau yang hilang (wHH) untuk penyeberangan APILL untuk setiap siklus dapat dihitung sebagai jumlah waktu antarhijau dengan menggunakan Persamaan 5-10. CATATAN Kinerja persimpangan APILL umumnya lebih sensitif terhadap kesalahan alami dalam distribusi waktu hijau dibandingkan waktu siklus yang terlalu panjang.
Kinerja Lalu Lintas Simpang APILL
- Arus Lalu Lintas dan EMP
- Derajat Kejenuhan
- Panjang Antrian
- Tundaan
- Penilaian Kinerja
Penyimpangan kecil dari rasio hijau (wHi/s) yang ditentukan dari Persamaan 5-12 di atas dapat mengakibatkan peningkatan penundaan rata-rata pada persimpangan APILL. Keterlambatan pada suatu simpang APILL terjadi karena 2 (dua) hal yaitu 1) Keterlambatan Lalu Lintas (TLL) dan 2) Keterlambatan Geometris (TG).
Prosedur Perhitungan Kapasitas
- Langkah A: Menetapkan Data Masukan
- Langkah B: Menetapkan Penggunaan Isyarat
- Langkah C: Menetapkan Waktu Isyarat dan Kapasitas
- Langkah D: Menetapkan Kinerja Lalu Lintas
- Langkah E: Mengubah Rencana Simpang APILL untuk Memperbaiki Kinerja Lalu
- Langkah F: Menetapkan Keluaran
Hitung rata-rata tundaan lalu lintas pendekatan (TLL) akibat adanya saling pengaruh antar pergerakan lain pada Simpang APILL menggunakan Persamaan 5-22. Jika tujuannya adalah untuk mengevaluasi kinerja lalu lintas suatu simpang APILL (eksisting), maka keluarannya adalah DJ, PA, NKH dan T, serta gambaran kinerja lalu lintas baik atau buruk (Gambar 6-10).
Umum
Kriteria Desain
Kapasitas Simpang
Data Masukan Lalu Lintas
Penghitungan Kapasitas Simpang
Dokumen ini tidak terkontrol ketika diunduh Tabel 6-4 Faktor Koreksi Ukuran Kota (FUK). Dokumen ini tidak terkontrol ketika diunduh Gambar 6-6 Faktor koreksi rasio arus jalan kecil (Fmi).
Kinerja Simpang
- Ekuivalensi Mobil Penumpang
- Derajat Kejenuhan
- Tundaan
- Peluang Antrian
TLL merupakan rata-rata tundaan lalu lintas seluruh kendaraan bermotor yang memasuki simpang dari segala arah, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 6-13 dan 6-14 atau diperoleh dengan menggunakan Gambar 6-7 berdasarkan nilai DJ. Tundaan lalu lintas jalan kecil (TLLmi) merupakan rata-rata tundaan lalu lintas seluruh kendaraan bermotor yang memasuki simpang jalan kecil, ditentukan dari TLL dan TLLma, dihitung dengan menggunakan Persamaan 6-17.
Prosedur Perhitungan Kapasitas
- Langkah A: Menetapkan Data Masukan
- Langkah B: Menetapkan Kapasitas Simpang
- Langkah C: Menetapkan Kinerja Lalu Lintas Simpang
- Langkah D: Mengubah Rencana Simpang Untuk Menaikkan Kapasitas Simpang 151
SET INPUT DATA Langkah A.1: Data geometri persimpangan Langkah A.2: Data arus lalu lintas Langkah A.3: Data kondisi lingkungan. Dokumen ini tidak dicentang saat diunduh. Langkah A.2: Data arus lalu lintas.
Umum
- Tipikal Bagian Jalinan Jalan
- Aturan Lalu Lintas
- Perencanaan Bundaran
- Kriteria Desain
Jari-jari pulau bundaran ditentukan oleh desain kendaraan yang dipilih untuk berbelok di dalam jalur lalu lintas dan jumlah jalur masuk yang diperlukan. Pulau lalu lintas harus dipasang pada setiap lengan untuk memandu kendaraan yang masuk sehingga sudut jalinan antar kendaraan menjadi kecil.
Kapasitas Bagian Jalinan
- Data Masukan Lalu Lintas
- Penetapan Geometri Bagian Jalinan
- Penetapan Tipe Bundaran Yang Baku
- Penghitungan Kapasitas Bagian Jalinan
Tipikal bagian jalinan komposit (bundaran) Gambar 7-2 Parameter geometri bagian jalinan 7.2.3 Penentuan tipe standar bundaran. Arus tinggi yang keluar dari titik masuk dan keluar ruas ruas tersebut terganggu dan berkurang akibat aktivitas jalan di sepanjang pendekatan tersebut.
Kinerja Bagian Jalinan
- Ekuivalensi Mobil Penumpang
- Derajat Kejenuhan Bagian Jalinan
- Tundaan Pada Bundaran
- Peluang Antrian Pada Bundaran
- Kecepatan Tempuh Pada Bagian Jalinan Tunggal
- Waktu Tempuh Pada Bagian Jalinan Tunggal
Sedang Arus yang dimulai dari titik masuk dan keluar pada ruas jalinan sedikit terganggu dan sedikit berkurang karena aktivitas tepi jalan di sepanjang pendekatan tersebut. Arus Rendah yang dimulai pada titik masukan dan keluaran jalinan tidak terganggu atau dikurangi oleh hambatan samping.
Prosedur Perhitungan Kapasitas
- Langkah A: Menetapkan Data Masukan
- Langkah B: Menetapkan Kapasitas
- Langkah C: Menetapkan Kinerja Lalu Lintas
- Langkah E: Menetapkan Keluaran
Hitung rata-rata lebar masuk (WE) untuk setiap bagian jalinan dan catat hasilnya pada kolom 4;. Pada kolom 7, masukkan panjang setiap bagian gulungan (LW), dan pada kolom 8, hitung perbandingan lebar terhadap panjang gulungan (WW/LW).
Formulir Perhitungan
Contoh Perhitungan
Contoh 1 Analisis Perancangan
Contoh 2 Analisis Operasional Pada Tipe JBH4/2
Pertimbangan Desain JBH
Parameter Perhitungan Jalan 4/2-TT
Formulir Perhitungan
Contoh Perhitungan
Contoh 1 Menetapkan Tipe Alinemen Jalan
Contoh 2 Analisis Operasional Pada Tipe Jalan 2/2-TT
Contoh 3 Analisis Perencanaan
Contoh 4 Analisis Operasional Segmen Khusus
Informasi Teknis
Tipe Medan
Kelas Jarak Pandang
Kondisi Ideal JLK
Kurva EMP
Karakteristik Batas Segmen
Kinerja Lalu Lintas
Pertimbangan Keselamatan Lalu Lintas
Pertimbangan Lingkungan
Rencana Teknis Rinci
Nilai Normal Komposisi Lalu Lintas, dan Tabel Kinerja Lalu Lintas
Formulir Perhitungan
Contoh-Contoh Perhitungan Kapasitas
Contoh 1 Kapasitas Jalan Tipe 2/2-TT
Contoh 2 Operasional Lalu Lintas Jalan Tipe 2/2-TT
Contoh 3 Operasional Jalan Tipe 4/2-T
Contoh 4 Operasional Lalu Lintas Jalan Tipe 4/2-T
Contoh 5 Desain Jalan Baru
Contoh Tipikal Penetapan Hambatan Samping Pada Jalan Perkotaan
Pertimbangan Teknis Dalam Pemilihan Tipe Jalan Perkotaan
Parameter-Parameter Untuk Jalan Perkotaan 4/2-TT
Parameter Perhitungan
Tipikal Geometri dan Pengaturan Fase
Pertimbangan Teknis
Formulir Perhitungan
Contoh Perhitungan
Contoh 1 Pengaturan Fase dan Penilaian Kinerja
Contoh 2 Perencanaan Simpang APILL Yang Baru
Grafik dan Tabel Pertimbangan Teknis
Formulir Perhitungan
Contoh Perhitungan
Contoh Tipikal Penetapan Hambatan Samping
Formulir Perhitungan
Contoh Perhitungan
Contoh 1 Bagian Jalinan Tunggal
Contoh 2 Bagian Jalinan Bundaran
Tabel dan Diagram Pemilihan Tipe Bundaran