• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA From BA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA From BA"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

MANUAL KAPASITAS JALAN

INDONESIA

(2)

1. PENDAHULUAN

1.1. Lingkup dan Tujuan

1.1.1. Definisi segmen jalan perkotaan :

• Mempunyai pengembangan secara permanen dan

menerus minimum pada salah satu sisinya, jalan di atau dekat pusat perkotaan dengan penduduk > 100.000

orang.

• Indikasi antara lain karakteristik arus lalu lintas puncak

pagi dan sore (didominasi kend. Pribadi dan sepeda

motor), peningkatan arus yang cukup pada jam puncak.

• Tipe jalan perkotaan adalah : 2/2 UD, 4/2 UD, 4/2 D,

(3)

1.1.1. Penggunaan

Tipe Jalan ini tidak harus berkaitan dengan sistem

klasifikasi fungsional jalan Indonesia, UU Jalan No. 13, 1980 & UU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

No. 14 tahun 1992.

Dapat digunakan pada kondisi:

• Alinyemen datar atau hampir datar

• Alinyemen horisontal lurus atau hampir lurus

• Mempunyai karakteristik yang hampir sama

(4)

1.1.3. Segmen Jalan :

• Diantara simpang dan tidak terpengaruh oleh simpang bersinyal atau simpang tak bersinyal utama dan

• Mempunyai karakteristik yang hampir sama sepanjang jalan.

Batas segmen jalan perkotaan dapat berupa :

Perubahan karakteristik jalan yang berarti walaupun tidak ada simpang di dekatnya.

Penentuan akses segmen jalan ke jalan perkotaan bebas hambatan

• Jalur hubung dan daerah jalinan harus dipisahkan dari jalan umum.

(5)

1.1.4. Jaringan jalan/koridor dibagi dalam komponen sbb :

• Segmen jalan

• Simpang bersinyal

• Simpang tak bersinyal

• Bagian Jalinan

(6)

 Jika analisa jaringan diperlukan prosedur perhitungan segmen jalan dapat digunakan pada dengan cara:

• Hitung waktu tempuh, dengan prosedur segmen

jalan perkotaan seolah-olah tidak ada gangguan dari persimpangan untuk daerah jalinan.

• Untuk setiap simpang atau daerah jalinan utama

pada jaringan, hitung tundaannya.

• Tambahkan tundaan simpang/jalinan ke waktu

tempuh tak terganggu (untuk memperoleh waktu tempuh keseluruhan)

• Kecepatan rata-rata adalah jarak keseluruhan

(7)

1.2. KARAKTERISTIK JALAN 1.2.1. Geometrik

• Tipe jalan berpengaruh terhadap kinerja jalan (seperti : UD/D/SATU ARAH

• Lebar jalur lalu lintas (lebar bertambah kecepatan arus bebas dan kapasitas bisa bertambah)

• Karakteristik bahu (sebagai batas denan trotoar berpengaruh pada hambatan samping, kapasitas dan kecepatan)

• Median (dengan adanya median dapat meningkatkan kapasitas)

• Lengkung vertikal (makin berbukit makin lambat kecepatn

kendaraan)

• Lengkung horizontal (jari-jari tikungan tajam makin memaksa kendaraan bergerak makin lambat)

(8)

KOMPOSISI ARUS DAN PEMBAGIAN ARAH :

 Pembagian arah lalu lintas

 Komposisi lalu lintas, mempengaruhi hubungan arus-kecepatan jika kapasitas dinyatakan dalam kend. per jam

PENGENDALIAN LALU-LINTAS :

 Batas kecepatan (jarang diberlakukan => hanya sedikit berpengaruh pada kecepatan arus bebas),

 Kinerja lalu-lintas dipengaruhi oleh : pembatas parkir,

(9)

TATA GUNA LAHAN DAN AKTIVITAS

SAMPING JALAN :

 Aktivitas samping jalan menimbulkan hambatan

samping seperti : pejalan kaki, angkutan umum dan kendaraan lain yang berhenti, kendaraan

lambat, keluar masuknya kendaraan dari samping jalan.

 Oleh karena itu maka MKJI mengelompokannya

dalam lima kelas (sangat rendah => sangat tinggi sebagai fungsi frekuensi kejadian sepanjang

(10)

PERILAKU PENGEMUDI DAN

POPULASI KENDARAAN

 Di Indonesia perilaku pengemudi dan tingkat

perkembangan daerah perkotaan menunjukkan keanekaragaman.

 Begitu pula dengan populasi kendaraan dalam

umur, tenaga dan kondisi kendaraan.

 Pengaruh-pengaruh ini diperhitungkan dalam

(11)

DEFINISI DAN ISTILAH

D Kapasitas (PCU/h) Arus lalu lintas maksimum yang dapat dipertahankan sepanjang potongan jalan dalam kondisi tertentu

DS Derajat Kejenuhan Rasio arus terhadap kapasitas

Wc Lebar Jalur Lebar (m) jalur jalan yang digunakan untuk lalu lintas, tidak termasuk bahu Ws Lebar Bahu Lebar bahu (m) di samping jalur jalan Wk Jarak Penghalang

Kereb

Jarak dari kereb ke penghalang di trotoar misal pohon, tiang lampu)

(12)

JUMLAH LAJUR JALAN PERKOTAAN

Lebar Jalur Efektif Wce (m)

Jumlah lajur

5 – 10,5 2

(13)

UKURAN KOTA UNTUK JALAN PERKOTAAN

Ukuran Kota (juta penduduk)

Kelas Ukuran Kota CS

< 0,1 Sangat kecil

0,1 – 0,5 Kecil

0,5 – 1,0 Sedang

1,0 – 3,0 Besar

(14)

KELAS HAMBATAN SAMPINGAN JALAN PERKOTAAN

Kelas Hambatan Samping

(SFC)

Kode Jumlah berbobot kejadian per 200 m per jam

(dua sisi)

Kondisi khusus

Sangat rendah VL < 100 Daerah pemukiman; jalan samping tersedia

Rendah L 100 – 299 Daerah pemukiman, bbrp angkt, umum tersedia

Sedang M 300 – 499 Daerah industri; bbrp toko sisi jalan

Tinggi H 500 –899 Daerah Komersial;

aktivitas sisi jalan tinggi

Sangat tinggi VH 900 Daerah komersial;

(15)

2. METODOLOGI

2.1. Pendekatan umum

2.2. Variabel

2.3. Hubungan Dasar

2.4. Karakteristik Geometrik

(16)

2.1. PENDEKATAN UMUM

Prosedur perhitungan dalam Bab ini secara umum, serupa dengan US Highway Capacity Manual 1994 dan 2000)

2.1. Tipe Perhitungan

• Kecepatan arus bebas,

• kapasitas,

• derajat kejenuhan,

• kecepatan pada kondisi arus sesungguhnya,

• Arus lalu lintas yang dapat ditampung oleh segmen

(17)

2.1.2. Tingkat Analisis

• Tahap analisis operasional dan perencanaan

• Tahap perancangan,

• Perbedaannya adalah tingkat ketelitiannya

2.1.3. Periode Analisis

• Analisis kapasitas, arus dan kecepatan menggunakan periode satu jam puncak untuk operasional dan perencanaan.

• Untuk perancangan digunakan AADT yang dikonversikan ke arus dengan tabel yang disediakan

2.1.4. Jalan terbagi dan tak terbagi

• Untuk jalan tak terbagi analisanya berdasarkan gabungan kedua arah pergerakan

(18)

2.2. VARIABEL

2.2.1. Arus dan komposisi lalu lintas

Nilai arus lalu lintas (Q) mencerminkan komposisi lalu lintas dalam satuan mobil penumpang (smp) Pengaruh kendaraan tak bermotor dimasukkan

(19)

2.2.2. Kecepatan Arus Bebas

FV = (FVO + FVW) x FFVSF x FFVcs

2.2.3. Kapasitas

C = C0 x FCw x FCSP x FCSF x FCCS

2.2.4. Derajat Kejenuhan DS = Q/C 2.2.5. Kecepatan

V = L/TT

2.2.6. Perilaku Lalu Lintas

(20)

2.3. HUBUNGAN DASAR

2.3.1. Hubungan Kecepatan – arus – kerapatan

V = FV x [ 1- D/Dj)(1-1)]1(1-1)

(21)
(22)
(23)
(24)
(25)

2.4. KARAKTERISTIK GEOMETRIK

2.4.1. Jalan Dua-Lajur Dua Arah Tak Terbagi (2/2 UD)

Lebar Jalur lalu-lintas lebih kecil atau sama dengan 10,5 m

Kondisi Dasar tipe jalan ini :

1. Lebar Jalur lalu lintas 7,0 m

2. Lebar bahu efektif 2 m pada masing-masing sisi

3. Tidak ada median

4. Pemisahan arah lalu lintas 50-50

5. Kelas hambatan samping rendah (L)

6. Ukuran kota 1,0 – 3,0 juta

(26)

2.4.2. Jalan Empat-Lajur Dua Arah Tak terbagi (4/2D)

Lebar jalur lalu-lintas lebih dari 10,5 m kurang dari 16 m. Kondisi Dasar tipe Jalan ini :

1. Lebar jalur 3,5 m (lebar jalur lalu lintas total 14,0 ) 2. Kereb (tanpa bahu)

3. Jarak kereb dan penghalang terdekat pada trotoar 2 m

4. Tidak ada median

5. Pemisahan arah lalu lintas 50-50

6. Kelas hambatan samping : Rendah (L) 7. Ukuran kota 1,0 – 3,0 juta

(27)

2.4.3. Jalan Enam-Lajur Dua Arah Terbagi (6/2 D)

Lebar jalur lalu-lintas lebih dari 18 m kurang dari 24m.

Kondisi Dasar tipe jalan ini :

1. Lebar jalur 3,5 (lebar jalur lalu lintas total 21,0 m) 2. Kereb (tanpa bahu)

3. Jarak antar kereb dan penghalang terdekat pada trotoar 2m

4. Ada median

5. Pemisahan arah lalu lintas 50-50

6. Kelas hambatan samping : Rendah (L)

7. Ukuran kota 1,0 – 3,0 juta

(28)

2.4.4. Jalan satu arah

Lebar jalur lalu-lintas dari 5 m sampai dengan 10,5 m

Kondisi Dasar tipe Jalan ini :

1. Lebar jalur lalu lintas 7 m

2. Lebar bahu paling efektif paling sedikit 2 m pada setiap sisi

3. Kelas hambatan samping : Rendah (L)

4. Ukuran kota 1,0 – 3,0 juta

(29)

2.5. PANDUAN REKAYASA LALU LINTAS

2.5.1. Tujuan

Memberikan saran rentang arus lalu lintas yang layak untuk tipe dan denah standar jalan perkotaan dalam masalah perancangan, perencanaan dan operasional.

2.5.2. Tipe jalan standar dan penampang melintang :

• Parameter perencanaan untuk kelas jalan yang berbeda

• Tipe penampang melintang dalam batasan tertentu berkenaan dengan lebar jalan dan bahu.

• Sejumlah standar tipe penampang melintang telah dipilih untuk penggunaan khusus seperti yg ditunjukkan pada Tabel 2.5.2:1.

• Semua penampang melintang diasumsikan mempunyai bahu

(30)
(31)

2.5.3. Pemilihan tipe jalan dan penampang melintang

a. Dokumen standar jalan b. Pertimbangan ekonomi c. Kinerja lalu lintas

d. Pertimbangan keselamatan lalu lintas e. Pertimbangan Lingkungan

2.5.4. Perencanaan Rinci

• Sesuaikan dengan dokumen standar yang ada

• Standar jalan sedapat mungkin tetap sepanjang rute

• Bahu jalan harus rata dan sama tinggi dengan jalur lalu

lintas

(32)

Jalan Perkotaan : Pembuatan Jalan baru

Kondisi Rentang ambang arus lalu lintas (kend/jam) Tahun ke1 Tipe Hambatan Tipe jalan/lebar jalur lalu lintas (m)

Alinemen Samping 2/2 UD 4/2 D 4/2 D 6/2D 4,5 6 7 10 12 14 12 14 21 Datar Rendah < 300 250

-< 1450

Datar Rendah < 300 200

-> 1450

Bukit/ Gunung

Tinggi <300 250

-> 1450

Bukit/ Gunung

Rendah < 250 200

-> 1350

(33)

Pelebaran (Peningkatan Jalan)

Kondisi Ambang arus lalu lintas (kendaraan/jam)tahun ke 1

Tipe jalan/pelebaran lebar jalur dari … ke … (m)

Tipe Hambatan 2/2 UD 4/2 UD ½ UD

Alinyemen Samping 4,5 ke 6 4,5 ke 7 6 ke 9 7 ke 10 7 ke 12 7 ke 14

Datar Rendah 250 400 700 1050 1100 1200 Datar Tinggi 200 350 650 950 1050 1100

Bukit/Gunu ng

Rendah 200 350 650 950 1050 1100

Bukit/Gunu ng

Tinggi 150 300 550 850 950 1050

(34)
(35)
(36)
(37)

Kelandaian Khusus

Definisi:

 Suatu bagian jalan yang curam secara menerus

 Khusus untuk jalan 2 lajur 2 arah tak terbagi pada alinyemen bukit dan gunung

 Kelandaian (> 3% rata-rata) untuk keseluruh segmen

 Pengaruh :Pengurangan kapasitas dan penurunan kinerja

Panduan Rekayasa Lalu Lintas Bertujuan :

 Saran penyelesaian saat melakukan perencanaan & analisis operasional jalan dengan kelandaian khusus

 Standar tipe & penampang melintang

(38)

Jalan Perkotaan

(?)

Tipe Jalan Kelas Jarak Lebar Lajur Lalu Lintas

Kode Pandang Tanjakan Turunan Gunung

2/2 UD A 3,5 3,5 1,0

2/2 UD Lajur pendakian

A 6,0 3,5 1,0

(39)

Panjang

Ambang Arus Lalu Lintas (Kendaraan/Jam) Tahun 1

Kelandaian

3% 5% 7%

0,5 km 500 400 300

1 km 325 300 300

(40)

Jumlah Lajur

Lebar Jalur Efektif

W

Ce

(m)

Jumlah Lajur

5 - 10,5

2

(41)

3. PROSEDUR PERHITUNGAN

LANGKAH A: DATA MASUKAN

LANGKAH A-1: DATA UMUM a) Penentuan Segmen

b) Data Identifikasi segmen

LANGKAH A-2 KONDISI GEOMETRIK Rencana situasi

Penampang melintang jalan Kondisi pengaturan lalu lintas

(42)
(43)

Ukuran Kota

Ukuran Kota

(Juta pend.)

Kelas Ukuran Kota

CS

< 0,1

0,1

0,5

0,5

1,0

1,0

3,0

>3,0

Sangat kecil

Kecil

Sedang

Besar

(44)

Tabel A-3:1 Nilai Ekivalen Mobil Penumpang

untuk Jalan Perkotaan Tak Terbagi

Jenis Jalan:

Jalan tak terbagi

Arus Lalu lintas Total

Dua Arah (kend/jam)

emp

SM

KB Lebar Jalan WCe (m)

6 >6 Dua-lajur tak terbagi (2/2

UD) Empat-lajur tak terbagi

(45)

Tabel A-3:2 Nilai Ekivalen Mobil Penumpang

Untuk Jalan Perkotaan Terbagi dan Satu Arah

Jenis Jalan:

Jalan satu arah dan Jalan terbagi

Arus Lalu lintas Total

Dua Arah (kend/jam)

emp

KB SM

Dua-lajur satu-arah (2/1) dan Empat-lajur terbagi (4/2 D)

0

Tiga-lajur satu-arah (3/1) dan Enam-lajur terbagi (6/2 D)

(46)

Tabel A-4:1 Kelas Hambatan

Samping untuk Jalan Perkotaan

Kelas Hambatan

Samping (SFC)ada

Kode Jumlah Berbobot kejadian per 200 m per jam (dua sisi)

Kondisi Khusus

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

VL

(47)

Kecepatan arus bebas kendaraan ringan

FV = (FV

0

+FV

W

) x FFV

SF

x FFV

CS

Dimana:

FV = kecepatan arus bebas kendaraan ringan (km/jam)

FV0 = kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan

(km/jam)

FVW = FP lebar lajur lalu lintas efektif (km/jam)

FFVSF = FP hambatan samping

(48)

Tabel B-1:1 Kecepatan Arus Bebas

Dasar FV

0

untuk Jalan Perkotaan

Jenis Jalan Kendaraan Ringan

KR

Kendaraan Berat KB

Sepeda Motor

SM

Semua Kendaraan

(rata-rata) Enam lajur terbagi (6/2 D)

atau

Tiga lajur satu arah (3/1)

61 52 48 57

Empat lajur terbagi (4/2 D) atau

Dua lajur satu arah (2/1)

57 50 47 55

Empat lajur tak terbagi (4/2 UD)

53 46 43 51

Dua lajur tak terbagi (2/2/ UD)

(49)

Tabel B-2:1 FP FVW untuk Pengaruh Lebar Jalur Lalu

Lintas Pada Kecepatan Arus Bebas Kendaraan Ringan

Jenis Jalan Lebar Jalur Lalu Lintas Efektif (WC) (m)

FVW (km/jam) Empat lajur terbagi

atau

Jalan satu arah

Per lajur 3,00 3,25 Empat lajur tak terbagi Per lajur 3,00

(50)

Tabel B-3:1 FP FFVSF untuk Pengaruh Hambatan Samping dan Lebar Bahu Pada Kecepatan Arus Bebas Kendaraan

Ringan untuk Jalan Perkotaan Dengan Bahu

Jenis Jalan Kelas Hambatan Samping

(SFC)

Faktor Penyesuaian untuk Hambatan Samping dan Lebar Bahu Lebar Bahu efektif rata-rata WS (m)

≤ 0,50 1,0 1,5 ≥ 2,0 Empat lajur

terbagi 4/2 D

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

1,02 Empat lajur

terbagi 4/2 UD

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

1,02

terbagi 2/2 UD

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

(51)

Tabel B-3:2 FP FFVSF untuk Pengaruh Hambatan Samping dan Jarak Kerb Pada Kecepatan Arus Bebas Kendaraan Ringan untuk Jalan

Perkotaan Dengan Kerb

Jenis Jalan Kelas Hambatan Samping

(SFC)

Faktor Penyesuaian untuk Hambatan Samping dan Jarak Kerb

Jarak Kerb WK (m)

≤ 0,50 1,0 1,5 ≥ 2,0 Empat lajur terbagi

4/2 D

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

1,00 Empat lajur terbagi

4/2 UD

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

1,00

terbagi 2/2 UD

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

(52)

Tabel B-4:1 Faktor Penyesuaian Kecepatan

Arus Bebas Untuk Ukuran Kota

Ukuran Kota (Juta pend.)

Faktor Penyesuaian untuk Ukuran Kota

< 0,1 0,1 – 0,5 0,5 – 1,0 1,0 – 3,0

>3,0

(53)

Kapasitas

C = C

0

x FC

W

x FC

SP

x FC

SF

x FC

CS

(smp/jam)

Dimana:

C = kapasitas

C0 = kapasitas dasar (smp/jam)

FCW = FP lebar jalur lalu lintas

FCSP = FP pemisahan arah

FCSF = FP hambatan samping

(54)

Tabel C-1:1 Kapasitas Dasar C

0

untuk

Jalan Perkotaan

Jenis Jalan Kapasitas

Dasar (smp/jam)

Komentar

Empat-lajur terbagi atau Jalan satu-arah

1650 Per lajur

Empat-lajur tak terbagi 1500 Per lajur

(55)

Faktor Penyesuaian FC

W

Lebar Lajur

Jenis Jalan Lebar Lajur Efektif (WC) (m) FCW Empat-lajur terbagi atau

Jalan satu-arah

Per lajur

3,0 Empat-lajur tak terbagi Per lajur

3,0 Dua-lajur terbagi Total dua arah

(56)

Faktor Penyesuaian Pemisahan Arah

Pembagian Arah %-%

50-50 55-45 60-40 65-35 70-30

FCSP Dua-lajur 2/2 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88

(57)

FP FCSF untuk Pengaruh Hambatan Samping dan Lebar

Bahu Pada Kapasitas untuk Jalan Perkotaan Dengan Bahu

Jenis Jalan Kelas Hambatan Samping

(SFC)

Faktor Penyesuaian untuk Hambatan Samping dan Lebar Bahu

Lebar Bahu efektif rata-rata WS (m)

≤ 0,50 1,0 1,5 ≥ 2,0 Empat lajur terbagi

4/2 D

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

0,96 Empat lajur terbagi

4/2 UD

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

0,96 Dua lajur tak terbagi

2/2 UD atau Jalan satu-arah

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

(58)

FP FCSF Pengaruh Hambatan Samping dan Jarak Kerb

Pada Kapasitas untuk Jalan Perkotaan Dengan Kerb

Jenis Jalan Kelas Hambatan

Samping (FCSF)

FP untuk Hambatan Samping dan Jarak Kerb Jarak Kerb – Penghalang WK (m)

≤ 0,50 1,0 1,5 ≥ 2,0 Empat lajur

terbagi 4/2 D

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

0,95 Empat lajur

terbagi 4/2 UD

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

0,95

Jalan satu-arah

Sangat rendah Rendah

Sedang Tinggi

Sangat tinggi

(59)

Tabel C-2:1 Faktor Penyesuaian Ukuran

Kota FC

CS

Ukuran Kota (Juta penduduk)

Faktor Penyesuaian Ukuran

Kota FCCS

<0,1 0,1 – 0,5 0,5 – 1,0 1,0 – 3,0

>3,0

(60)
(61)
(62)

Contoh 1.

• Geometrik: Lebar jalur efektif 6,0 m Lebar bahu 1,0 m

• Lalu Lintas: Pemisah arah 70-30

• Lingkungan:

- Ukuran kota 700.000 penduduk - Banyak angkutan kota

- Banyak Pejalan kaki

- Bbrp kend.menggunakan akses sisi jalan

• Pertanyaan:

- Berapa kapasitas segmen?

(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)

Tabel C-3:1 Faktor Penyesuaian

(87)
(88)
(89)

Tabel C-5:1 Faktor Penyesuaian Kapasitas

Gambar

Tabel 2.5.3.1 Rentang Arus Lalu Lintas (jam puncak tahun ke 1) untuk memilih tipe jalan
Tabel 2.5.3.2 Rentang Arus Lalu Lintas (jam puncak tahun ke 1) untuk pemilihan
Tabel 2.5.5.1 Penampang melintang yang digunakan dalam analisis kelandaian khusus
Tabel 2.5.5.2 Ambang arus lalu lintas (tahun 1, jam puncak) untuk lajur pendakian pada
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis Efektivitas pencapaian target penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan pada dinas Pendapatan Daerah kota Palembang Keefektifitasnya

Menimbang, bahwa Pemohon mengajukan surat permohonan cerai talak pada tanggal 21 Agustus 2014 yang telah di daftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Pasuruan, dengan Nomor

Derivasi possible fuzzy rules dari fuzzy incomplete upper approximation pada setiap subset B, d engan nilai perhitungan ulang plausibility untuk objek yang. diperkirakan dan

Maka dari itu, penelitian ini akan membahas tentang analisis determinan kinerja keuangan perbankan syariah di Indonesia untuk mengetahui pengaruh CAR, NPF, FDR, BOPO, dan

Informasi keuangan di atas telah disusun untuk memenuhi Peraturan OJK No.48/POJK.03/2017 tanggal 12 Juli 2017 tentang Transparansi Kondisi Keuangan BPR, Surat Edaran OJK

“Dalam rentang hanya beberapa tahun pemuda santri dari Kotagede berhasil menjadi pemimpin pelajar dalam percaturan politik Islam internasional yang berpusat di sekitar Kairo;

penyiapan bahan dan penyusunan kebijakan teknis, penyusunan rencana strategis · bisnis, rencana bisnis dan anggaran tahunan, rencana kerja dan anggaran satuan

smash dengan mengayunkan raket, perkenaannyan tegak lurus antara daun raket dengan datangnya shuttle cock, sehingga pukulan ini dilakukan secara penuh. Pada umumnya