BAB I PENDAHULUAN
F. Manfaat Penelitian
2. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik/Ilmiah
Pendekatan ilmiah merupakan pendekatan yang melakukan penyelidikan induktif yang bertolak dari pengamatan menuju hipotesis, diimplikasi logis
35
hipotesisnya, dan menarik kesimpulan. Menurut Any, dkk (2005:13) langkah- langkan pendekatan ilmiah adalah:
(a) Perumusan masalah: Penyelidikan ilmiah dimulai dari masalah, persoalan yang memerlukan pemecahan untuk dapat diselidiki secara ilmiah, permasalahan dirumuskan sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan, (b) Pengajuan hipotesis: Dilakukan perumusan hipotesis yang merupakan penjelasan sementara tentang masalah, usaha yang dilakukan dengan membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah dan berpikir lebih dalam, (c) Cara berpikir deduktif (dimulai dari teori, dan diakhiri dengan penomena): Melalui proses berpikir deduktif, implikasi hipotesis yang diajukan, apa yang akan dapat diamati jika hipotesis itu benar ditetapkan? (d) Mengumpulkan dan analisis data: Hipotesis/implikasi yang diperoleh melalui deduksi diuji dengan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tesdan eksperimentasi, (e) Penerimaan atau penolakkan hipotesis:
Setelah data dikumpulkan hasilnya dianalisia untuk menetapkan apakah penyelidikan memberi bukti-bukti yang mendukung hipotesis menyangkut kebenaran mutlak, kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak mendukung hipotesis.
Berdasarkan paparan di atas ada persamaan langkah-langkah pembelajaran ilmiah menurut Frankel dan Wallen (dalam Yusuf, 2013:15), “(1) identifikasi masalah, (2) merumuskan masalah, (3) memformulasikan hipotesis, (4) memproyeksi konsekuen/akibat-akibat yang akan terjadi, dan (5) melakukan pengujian hipotesis”. Jauh sebelum pendapat di atas John Dewey (dalam Yusuf, 2013:13), telah mengemukakan lima langkah yang perlu diperhatikan dalam menemukan kebenaran yang disarikan yaitu:
1. Adanya kebutuhan yang dirasakan, pada tahap ini orang merasakan adanya kebutuhan dan kesulitan
2. Merumuskan masalah, adanya masalah yang bersumber dari situasi dan kondisi di lingkungan.
36
3. Merumuskan hipotesis/pertanyaan, kemungkinan jawaban sementara atau pertanyaan yang dapat menjelaskan permasalahan yang dikemukakan.
4. Melaksanakan pengumpulan data, untuk dapat membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan pada langkah sebelum ini, maka perlu dicari dan dikumpulkan bukti-bukti, informasi dan data yang berkaitan dengan permasalahan yang ingin dikaji.
5. Menarik kesimpulan, pada bagian akhir dari suatu penelaahan ilmiah ialah membuktikan hipotesis yang dirumuskan atau pertanyaan yang hendak dijawab dihubungkan dengan informasi yang telah dikumpulkan.
Berdasarkan langkah-langkah pendekatan ilmiah di atas dapat disimpulkan bahwa: pendekatan ilmiah dimulai dari masalah, masalah dapat dilihat dari melakukan pengamatan, membuat hipotesis atau menjawab sementara, cara berfikir deduktif menimbulkan pertanyaan dari perumusan hipotesis, pengumpulan data dilakukan untuk melakukan penalaran, dan mengambil kesimpulan dari data yang diperoleh atau mengkomunikasikan.
Berdasarkan paparan di atas, dalam kurikulum 2013 proses pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik/Ilmiah untuk SD dengan direduksi langkah- langkahnya menjadi lebih sederhana dan dapat dilaksanakan di SD dengan harapkan peserta didik lebih kreatif dan aktif dalam proses pembelajaran langkah- langkah pendekatan saintifik adalah:
(1) Mengamati, dalam mengamati pendidik membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan melihat, menyimak, mendengar, dan membaca.
Pendidik mempasilitator peserta didik melakukan pengamatan, melatih peserta didik untuk memperhatikan (melihat, membaca, dan mendengar) hal yang penting dalam suatu benda atau objek, (2)
37
Menanya, dalam kegiatan menanya, pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Pendidik perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan, pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang kongkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal-hal yang lebih abstrak, ( 3) Mengumpulkan informasi/eksperimen, tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan penomena atau objek lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen, (4) Mengasosiasikan/mengolah informasi/menalar, informasi menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memproses informasi untuk menemukan keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dan keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari berbagai pola yang ditemukan, (5) Mengkomunikasikan, kegiatannya menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Peserta didik dibiasakan untuk mengemukakan dan mengkomunikasikan ide, pengalaman, dan hasil belajarnya kepada orang lain (teman, pendidik, dan orang lain) (Bafadal, 2013:9).
Untuk memperkuat pendekatan scientific diperlukan adanya penalaran dan sikap kritis peserta didik dalam rangka pencarian (penemuan). Agar dapat disebut ilmiah, metode pencarian (methodof inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan eksperimen, kemuadian memformulasi dan menguji hipotesis. Menurut Kemendikbud sebenarnya apa yang dibicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: “(1) adanya fakta, (2) sifat bebas prasangka, (3) sifat objektif, dan (4) adanya analisa”. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunyai sifat kecintaan pada kebenaran yang objektif, tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional, ingin tahu, tidak mudah membuat prasangka, selalu optimis.
38
Berdasarkan paparan di atas untuk penelitian ini akan menggunakan langkah-langkah pendekatan saintifik berdasarkan Permendikbud 2013, (1) mengamati, (2) menanya, (3) mengumpulkan informasi, (4) mengasosiasi, dan (5) mengkomunikasikan, untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran lebih efektif, efisien, dan menyenangkan.
c. Karakteristis Perkembangan Anak SD
Salah satu yang tidak boleh dilupakan oleh seorang pendidik di SD memahami karakteristik peserta didik, karena peserta didik di SD masih tergolong anak usia dini, terutama di kelasa awal, seluruh potensi yang dimiliki peserta didik perluh didorong sehingga dapat berkembang dengan secara optimal.
Menurut Sumantri (dalam Ahmad, 2013:70) pentingnya mempelajari perkembangan peserta didik bagi pendidik yang disarikan sebagai berikut:
1. Pendidik akan memperoleh ekspektasi yang nyata tentang peserta didik.
2. Pengetahuan pendidik tentang pengetahuan psikologi perkembangan peserta didik membanti pendidik merespon sebagaimana mestinya pada prilaku tertentu pada peserta didik.
3. Pengetahuan pendidik tentang perkembangan peserta didik akan membantu mengenal berbagai penyimpangan dan perkembangan yang normal.
4. Dengan mempelajari perkembangan peserta didik akan membantu pendidik memahami diri sendiri.
Menurut Piaget (dalam Sobry, 2013:12) untuk memahami perkembangan kognitif individu dikatakan bahwa “pada saat seseorang tumbuh menjadi dewasa, ia akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan
39
menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya”. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas perkembangan kognitif proses adaptasi dengan lingkungan. Pemahaman pendidik akan karakteristik peserta didik dapat dipelajari dengan melihat perkembangan sebagai berikut: