BAB I PENDAHULUAN
F. Manfaat Penelitian
2. Prinsip dan Pendekatan Penilaian
Penilaian hasil belajar peserta didik untuk kurikuklum 2013 lebih objektif, terpadu, transparan, akuntabel, dan edukatif. Penilaian hasil belajar peserta didik untuk pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip, berdasarkan Permendikbud No. 66. bab II ayat 1, 2013 sebagai berikut:
(a) Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai, (b) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana,menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan, (c) Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya, (d) Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak, (e) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya, dan (f) Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru”.
Ruang lingkup penilaian hasil pembelajaran peserta didik menilai kemampuan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik. Ruang lingkup penilaian berdasarkan materi, kompetensi mata pelajaran, dan proses pembelajaran. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut:
a) Kompetensi Sikap
Penilaian sikap merupakan nilai prilaku peserta didik dalam proses pembelajaran penilaian sikap dapat dilakukan dengan lembaran observasi, penilaian diri, peserta didik. Instrumen yang digunakan untuk observasi dengan
17
menggunakan skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Penilaian sikap yang akan dinilai sesuai dengan kurikulum KI-1 (sikap spiritual) antara lain: (1) ketaatan beribadah, (2) berperilaku syukur, (3) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan (4) toleransi dalam beribadah.
Penilaian sikap yang akan dinilai sesuai dengan kurikulum muatan KI-2 (sikap sosial) antara lain: (1) jujur, (2) disiplin, (3) tanggung jawab, (4) santun, (5) peduli, dan (6) percaya diri. Bisa ditambahkan lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam pembelajaran, misal : kerja sama, ketelitian, ketekunan, dll.
BT: Belum Terlihat
Apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator karena belum memahami makna dari nilai itu (tahap anomi). Tahapan perkembangan nilai karakter sebagaimana tercantum dalam Kerangka Acuan Pendidikan Karakter (Kemendiknas, 2010) meliputi:
MT: Mulai Terlihat
Apabilapeserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten karena sudah ada pemahaman dan mendapat penguatan lingkungan terdekat (tahap heteronomi).
MB: Mulai Berkembang
Apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten, karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran juga mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas (Tahap Sosionomi).
18
SM: Sudah Membudaya
Apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran dan mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas sudah tumbuh kematangan moral (tahap autonomi). Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian antarteman, dan jurnal.
1. Observasi
Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Hal ini dilakukan saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran.
2. Penilaian Diri
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
3. Penilaian Antarteman
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
4. Jurnal Catatan Guru
Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan
19
dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi.
b) Kompetensi Pengetahuan.
Penilaian pengetahuan diambil oleh pendidik. Proses penilaian diambil berdasarkan kemampuan pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan, berdasarkan Permendikbud bab II ayat 1, 2013 proses penilaian terdiri dari “(1) instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian, (2) instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan, dan (3) instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas”.
1. Tes tulis, tes tulis adalah tes yang soal dan jawabannya tertulis berupa pilihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.
2. Tes Lisan, tes lisan berupa pertanyaan- pertanyaan yang diberikan guru secara ucap (oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara ucap juga, sehingga menimbulkan keberanian. Jawaban dapat berupa kata, frase, kalimat maupun faragraf yang diucapkan.
3. Penugasan, penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat berupa pekerjaan rumah baik secara individu ataupun kelompok sesuai dengan karakteristik tugasnya.
c) Kompetensi Keterampilan
Penilaian keterampilan dilakukan pada hasil dan produk yang dihasilkan peserta didik. Penilaian dilakukan oleh pendidik menilai keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan
20
proses pembuatan produk dengan mempraktekkan projek, dan bentuk penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik seperti proses penilaian keterampilan sesuai dengan Permendikbud No. 66 bab II ayat 1,
(1) Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi, (2) Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu, dan (3) Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
Cara yang bisa dilakukukan untuk dapat menilai aspek keterampilan dengan cara :
1. Kinerja atau Performance
Kinerja adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Misalnya tugas memainkan alat musik, menggunakan mikroskop, menyanyi, bermain peran, dan menari.
2. Projek
Penilaian projek merupakan penilaian terhadap tugas yang mengandung investigasi dan harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan. Projek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan peserta didik pada pembelajaran tertentu, kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan peserta didik untuk mengomunikasikan informasi. Penilaian projek
21
sangat dianjurkan karena membantu mengembangkan ketrampilan berpikir tinggi (berpikir kritis, pemecahan masalah, berpikir kreatif) peserta didik.
3 Portofolio
Penilaian dengan memanfaatkan portofolio merupakan penilaian melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Portofolio digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam bidang tertentu. Dengan demikian, penilaian portofolio memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses dan pencapaian hasil belajar peserta didik.
Agar penilaian portofolio berjalan efektif guru beserta peserta didik perlu menentuan hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio Sebagai berikut:
1. Masing-masing peserta didik memiliki porto folio sendiri yang di dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi.
2. Menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulan/disimpan.
3. Sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan sikap.
4. Peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru.
5. Catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar peserta didik dapat terlihat.
22
Berdasarkan proses pengumpulan nilai yang dilakukan, penilaian dilakukan secara holistik meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan selama pembelajaran berlangsung (penilaian proses) maupun setelah pembelajaran usai dilaksanakan (penilaian hasil belajar).
e. Tematik Terpadu
Kurikulum 2013 telah dilaksanakan Tahuan Ajaran 2013/2014 di kelas I dan IV dilaksanakan dengan pembelajaran tematik terpadu. Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik secara utuh. Pelaksanaan proses pembelajararan di SD diintegrasikan melalui tema-tema yang sudah ditentukan. KPPN (Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional) mengemukakan agar pendidikan bersifat semesta, menyeluruh, dan terpadu.
Menurut Robin Fogarty (dalam Prastowo, 2013:109) terdapat sepuluh cara dalam merencanakan pembelajaran terpadu yaitu, fragmenented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked. Untuk kurikulum 2013 yang bisa dikembangan untuk tematik terpadu adalah, model coonected, webbed, dan integrate. Menurut Humphreys (dalam Trianto, 2010:79), defenisi kurikulum terpadu yang mendasar sebagai:
Studi dimana para siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan mereka dalam beberapa mata pelajaran yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari lingkungan mereka. Ia melihat peraturan antara kemanusiaan, seni, komunikasi, ilmu pengetahuan alam, matematika, studi sosial, musik, dan seni. Keterampilan-keterampilan pengetahuan dikembangkan dan diterapkan di lebih satu wilaya studi.
Pembelajaran tematik terpadu menyajikan aktivitas pembelajaran relevan dengan lingkungan peserta didik dan penuh maknah. John Dewey (dalam Trianto, 2009:81) mengatakan “konsep pembelajaran terpadu adalah sebagai upaya untuk
23
mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik dan kemampuan pengetahuannya”. Beans (dalam Trianto, 2009:81) mengatakan pembelajaran terpadu adalah “pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan lingkungan dan pengalaman kehidupannya”. Usaha untuk membantu peserta didik untuk belajar menghubungkan apa yang telah dipelajari dan sedang dipelajari.
Pembelajaran tematik terpadu membimbing peserta didik memperoleh pengetahuan langsung supaya lebih lama ingat/tersimpan baik dalam memorinya, sesuai dengan pendapat Trianto (dalam Prastowo, 2013:119) “melalui pembelajaran tematik peserta didik dapat memperoleh pengetahuan langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari”.
Pembelajaran tematik terpadu, peserta didik terlatih untuk menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluru (holistik), bermakna, autentik, dan aktif. Menurut Raka Joni (dalam Trianto, 2009:81) “pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep sendiri serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik”.
Pendidikan holistik adalah pendidikan yang mengembangkan seluruh elemen yang ada dalam diri, akal, emosi, fisik-indrawi, dan spiritual, supaya seimbang, mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang muncul dengan baik dan benar. Menggali bakat, minat, akhlak, dan kompetensi sampai batas optimal.
24
Melalui pendidikan holistik, peserta didik dapat menemukan identitas, makna, dan tujuan hidup melalui hubungan dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spritual. Pendidikan holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi peserta didik, baik aspek intelektual, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Tujuan pedidikan holistik membantu mengembangkan potensi peserta didik dalam proses pembelajaran lebih menyenangkan dan menggairakan, demokratis, dan humanis melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan.
Dengan pendidikan holistik peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be), seperti ungkapan Ki Hajar Dewantara, “Manusia untuk merdeka itu yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri” (Rubiyanto, 2010:1).
Menurut pemikiran Abraham Maslow (dalam Rubiyanto, 2010: 32),
“pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) ditandai dengan adanya: (a) kesadaran, (b) kejujuran, (c) kebebasan atau kemandirian, dan (d) kepercayaan”.
Pendidik semaksimal mungkin menyajikan materi pembelajaran secara kontekstual dari lingkungan alam sehingga proses pembelajaran lebih bermakna, peserta didik berada dalam suasana senang/gembira, dapat mengembangkan potensi dirinya, dan mengambil hikma dari setiap pembelajaran.
Potensi dirinya yang dimiliki dapat dikembangkan secara utuh dan menyeluruh seperti, potensi pengetahuan, potensi keterampilan, dan potensi sikap bisa berkembang, sesuai dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 Tentang
25
Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 Butir 1 menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.
Pengembangan potensi yang dimiliki bisa dilakukan pendidik dengan cara lebih kreatif menciptakan media pembelajaran, sehingga peserta didik termotivasi, lebih aktif dan dapat belajar mandiri, seiring dengan pesatnya perkembangan pendidikan. Menurut Mendikbud “Kurikulum 2013 menekankan pada pengembangan kreativitas peserta didik dan penguatan karakter yang di dalamnya memuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap, untuk mempersiapkan anak bangsa” Muhammad Nuh, (2013:15), untuk membangun Indonesia.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan, proses pembelajaran tematik adalah proses pembelajaran berdasarkan tema, pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik, pendidik lebih kreatif dan melakukan inovasi menciptakan media pembelajaran untuk menarik minat dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya.
f. Karakteristik Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu sekarang ini sedang hangat dibicarakan, kurikulum 2013 tematik terpadu dilaksanakan untuk membentuk karakter generasi yang akan menjadi pemimpin bangsa.
(1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar, (2) Kegiatan-
26
kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat bertolak dari kebutuhan siswa, (3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama, (4) Membantu mengembangkan keterampilan berfikir peserta didik, (5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat prakmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya, dan (6) Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggapan terhadap gagasan orang lain (Trianto, 2010:91).
Menurut Rusman (2012:258) karakteristik pembelajaran tematik yang disarikan adalah:
1) Berpusat pada siswa (student centered), peserta didik sebagai subjek belajar, sedangkan pendidik sebagai fasilitator, memberi kemudahan pada peserta didik untuk melakukan aktivitas proses pembelajaran yang direncanakan dan menciptakan suasana menyenangkan selama proses pembelajaran.
2) Memberikan pengalaman langsung pada peserta didik (direct experiences).
Dengan pengalaman langsung peserta didik diharapkan dapat melihat langsung (konkret) untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak sehingga apa yang dilihat lebih bermakna dan bermanfaat.
3) Pemisahan mata pelajaran tidak jelas, fokus pembelajaran diarahkan pada pembahasan tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan merasa nyaman dan asik selama proses pembelajaran.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, agar peserta didik dapat memahami konsep-konsep secara utuh, untuk membantu peserta didik memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk membangun pengetahuan dalam memecahkan masalah.
27
5) Bersifat fleksibel, pendidik dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, mengaitkan dengan kehidupan dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan peserta didik berada.
6) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan, peserta didik diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan bakat sesuai kebutuhannya.
7) Menggunakan perinsip belajar bermain dan menyenangkan tanpa beban dan tuntutan nilai akademik.
g. Tujuan Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu dikembangkan karena perlu perbaikan kearah yang lebih baik, khususnya pendidikan usia SD, pendidikan sebelumnya tidak sesuai lagi dengan kemajuan teknologi untuk mencapai tujuan pendidikan, menurut Sukayati (dalam Prastowo, 2013:140), tujuan pembelajaran tematik adalah:
(1) Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajari lebih bermanfaat dan bermakna, (2) Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi, (3) Menumbuhkembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan, (4) Menumbuhkembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, serta menghargai pendapat orang lain, (5) Meningkatkan gairah dalam belajar, (6) Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
Menurut Departemen Agama tujuan pembelajaran tematik berdasrkan buku Panduan Penyusunan Pembelajaran Tematik Pendidikan Agama Islam (PAI) SD (dalam Prastowo, 2013:140).yang diterbitkan dan disarikan adalah:
28
1. Supaya peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu sehingga mudah disajikan dalam konteks tema yang jelas.
2. Supaya peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antara aspek dalam tema sama yang disajikan.
3. Supaya pemahaman peserta didik terhadap materi lebih mendalam dan bermakna.
4. Supaya kompetensi dasar dapat di kembangkan lebih baik, karena mengaitkan berbagai aspek atau topik dengan pengalaman pribadi dalam situasi nyata yang diikat dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari- hari peserta didik.
5. Supaya peserta didik dapat menghemat waktu, karena pembelajaran dapat disajikan secra sistimatis dan dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu yang tersisa digunakan untuk pendalaman.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan tujuan pembelajaran tematik adalah meningkatkan pemahaman konsep, mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki peserta didik, lebih bersikap positif, bergairah dalam proses pembelajaran, dan pendidik menyajian proses pembelajaran menyeluruh (holistik) sehingga pendidik dapat menghemat waktu.
h. Manfaat Pembelajaran Tematik Terpadu
Menurut Trianto (2012: 85), proses pembelajaran tematik memiliki tujuh manfaat dan keuntungan yang disarikan yaitu:
1. Peserta didik mudah memusatkan pada suatu tema tertentu.
29
2. Peserta didik dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.
3. Pemahaman terhadap materi pembelajaran lebih mendalam dan berkesan.
4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik, karena mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.
5. Peserta didik lebih merasakan manfaat dan makna belajar, karena materi diajarkan dalam konteks tema dalam kelas.
6. Peserta didik lebih bergairah belajar, karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata untuk mengembangkan kemampuan dalam satu mata pelajaran, sekaligus mempelajari mata pelajaran yang lain.
7. Pendidik dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat disajikan sekaligus dan dapat diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Sedangkan menurut Mamat S.B. dkk (dalam Prastowo, 2013:41) penerapan proses pembelajaran tematik, peserta didik dan pendidik mendapat banyak keuntungan. Diantara keuntungannya adalah:
(1) Proses pembelajaran mampu meningkatkan pemahaman konseptual peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya, sebab siswa membentuk konsep melalui pengalaman langsung, (2) Pembelajaran tematik memungkinkan peserta didik mampu mengesplorasi pengetahuan melalui serangkaian proses pembelajaran. Dengan pembelajaran tema, mental peserta didik akan bekerja secara aktif dalam menghubungkan informasi yang terpisah- pisah menjadi satu kesatuan yang utuh, (3) Pembelajaran tematik mampu meningkatkan hubungan yang erat antar peserta didik, (4) Pembelajaran tematik membantu pendidik dalam meningkatkan profesionalisme, pembelajaran tematik membutukan kecermatan dan keseriusan pendidik, mulai dari menemukan tema yang kontekstual,
30
merancang rencana pembelajaran, menyiapkan model pembelajaran yang tepat, merumuskan tujuan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran secara konsisten dengan tema pembelajaran, hingga menyusun instrumen penilaian (evaluasi) yang relevan dengan kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran tematik menrut Trianto (2012:87) memiliki arti penting dalam proses pembelajaran yang mendasar adalah: “(a) dunia adalah dunia nyata, (b) proses pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/obyek lebih terorganisir, (c) pembelajaran akan lebih bermakna, (d) memberi peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan diri, (e) memperkuat kemampuan yang diperoleh, dan (f) efisiensi waktu”.
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Trianto, 2010:88) pembelajaran tematik terpadu memiliki kelebihan sebagai berikut:
(1) Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik relevan dengan tingkat perkembangannya, (2) Kegiatan dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik, (3) Kegiatan belajar bermakna bagi peserta didik, sehingga hasilnya dapat bertahan lama, (4) Keterampilan berpikir peserta didik berkembang dalam proses pembelajaran terpadu, (5) Kegiatan belajar mengajar bersifat prakmatis sesuai lingkungan peserta didik, dan (6) Keterampilan sosial peserta didik berkembang dalam proses pembelajaran terpadu seperti, kerja sama, komunikasi, dan mau mendengarkan pendapat orang lain.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat pembelajaran tematik adalah perhatian peserta didik lebih terpusat, pemahaman materi lebih mendalam dan bermakna, peserta didik belajar lebih aktif, meningkatkan hubungan antar peserta didik, pendidik lebih meningkatkan propesionalisme, dan keterampilan sikap berkembang seperti kerja sama, percaya diri, disiplin,dan peduli lingkungan.
31
i. Tema Tematik Terpadu
Buku panduan untuk kelas I dan IV disediakan pemerintah, sebagai pedoman bagi pendidik dan peserta didik melaksanakan proses pembelajaran.
Tema sudah ditentukan, yang berhubungan dengan dunia peserta didik sehingga pengetahuian yang dimiliki dapat berkembang menjadi pengetahuan baru dengan bimbingan pendidik.
Tema tematik terpadu pada kurikulum 2013 untuk kelas 1 semester 1 sesuai dengan kurikulum adalah: (1) Diriku, (2) Kegemaranku, (3) Kegiatanku, dan (4) Keluargku. Tema semester 2 sesuai dengan kurikulum adalah : (1) Pengalamanku, (2) Lingkungan Bersih Sehat dan Asri, (3) Benda Hewan dan Tanaman di Sekitarku, dan (4) Peristiwa Alam. Tema yang disajikan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.