• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Pustaka

2.2.3 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)

perbedaan PAD dari setiap daerah, maka tingkat kekayaan suatu daerah dari sisi keuangannya akan berbeda pula. Pendapatan Asli Daerah yang menunjukan peningkatan yang cukup berarti diharapkan sejalan dengan kinerja keuangan pemerintah daerah yang baik pula. PAD diharapkan mampu memperoleh dana yang besar sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik sehingga semakin besar PAD diharapkan kinerja pemerintah semakin baik (Hamdani, 2014; Fatmawati, T.O., 2020).

Penelitian Dermawan, W.D. (2017) menyatakan bahwa PAD berpengaruh terhadap belanja daerah. Sejak dilaksanakan otonomi daerah, pemerintah daerah dituntut untuk mandiri dan dapat menggali potensi sumber-sumber daya agar mapan secara keuangan. Kinerja keuangan pemerintah daerah dapat dilihat dari peningkatan PAD dalam rangka memenuhi belanja daerah untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk mengurangi kesenjangan fiskal antar pemerintah daerah dan untuk menjamin tercapainya standar pelayanan publik minimum diseluruh daerah maka pemerintah pusat memberikan dana transfer sedangkan kekurangan pendanaan diharapkan dapat digali melalui sumber pendanaan sendiri. Oleh karena itu, pemerintah daerah wajib mengoptimalkan penerimaannya dari sektor PAD agar mampu membiayai pengeluaran daerahnya untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.

daerah yang mudah diakses oleh masyarakat berupa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang digunakan untuk membantu kepala daerah dalam melakukan evaluasi kinerja keuangan daerah. Dalam rangka implementasi pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel, pemerintah daerah menyampaikan laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah selama satu tahun anggaran dalam bentuk Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan SAL (LPSAL), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Arus Kas (LAK), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

a. Laporan Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

LRA menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

Unsur yang dicakup secara langsung oleh Laporan Realisasi Anggaran terdiri dari pendapatan-LRA, belanja, transfer, dan pembiayaan.

b. Laporan Perubahan SAL (LPSAL)

LPSAL menyajikan informasi kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

c. Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

d. Laporan Operasional (LO)

LO menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung dalam Laporan Operasional terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar biasa.

e. Laporan Arus Kas (LAK)

LAK menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas.

f. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)

LPE menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

g. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)

CaLK meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta

ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

Sesuai dengan mandat yang diberikan oleh UUD 1945, BPK melakukan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) terkait pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah secara bebas dan mandiri, dan hasil pemeriksaannya diserahkan kepada lembaga perwakilan sesuai dengan kewenangannya. Tujuan strategis ini memastikan bahwa hasil pemeriksaan yang telah disampaikan BPK dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi para pemangku kepentingan dalam hal pengelolaan keuangan daerah. Manfaat hasil pemeriksaan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengelolaan keuangan daerah.

Dengan demikian, pengelolaan keuangan daerah tersebut meminimalkan terjadi kecurangan (fraud) yang merugikan keuangan daerah dan mengandung unsur pidana. Pemeriksaan BPK juga bermanfaat untuk perbaikan kualitas transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban keuangan daerah.

Selanjutnya, manfaat hasil pemeriksaan juga dapat meningkatkan ekonomi, efisiensi, efektivitas pengelolaan keuangan daerah.

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus memenuhi karakteristik kualitatif sehingga dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Untuk memenuhi karakteristik kualitatif maka informasi dalam laporan keuangan harus disajikan secara wajar berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan atas laporan keuangan yang dimaksudkan untuk menilai kewajaran laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 15 Tahun

2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan pada Pasal 2 menyatakan bahwa BPK merupakan satu lembaga negara yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Hasil pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh BPK berupa opini audit, temuan audit, kesimpulan audit, maupun rekomendasi (Sily, 2012; Riesty, P. & Adi, N.M., 2016

2.2.4 Ukuran Pemerintah Daerah

Karakteristik pemerintah daerah di Indonesia sangat beragam. Dengan karakteristik yang berbeda itu maka proses penyelenggaraan pemerintahan akan berbeda pula dan menghasilkan kinerja pemerintah daerah yang juga beragam.

Salah satu faktor pembentuk karakteristik pemerintah daerah yaitu ukuran pemerintah daerah. Ukuran pemerintah daerah dalam konteks pemerintah daerah dapat digambarkan dari total aset yang dimiliki pemerintah daerah (Lestari, K., Sri

& Yudi, 2019).

Berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Pernyataan Nomor 7 pada Paragraf 38 diketahui bahwa aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Aset pemerintah daerah terdiri dari aset lancar dan aset non lancar (investasi jangka panjang, aset tetap dan aset lainnya). Suatu aset diklasifikasikan

sebagai aset lancar jika dapat direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan, berupa kas dan setara kas. Sedangkan aset non lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang dan aset tak berwujud yang digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum.

Aset merupakan salah satu komponen terbesar dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dan merupakan sumber daya penting bagi pemerintah daerah sebagai penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), pemerintah daerah penting untuk mengelola aset daerah secara akuntabel dan transparan (Aprilia, I., Syaukat, Y. & Falatehan, A.F; 2018).

Penelitian Setiabudhi, D. (2019) menyatakan bahwa good governance dalam tata kelola aset daerah berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi, efisiensi, akuntabilitas dan kepastian nilai sehingga pemerintah daerah dapat memaksimalkan manfaat dari sumber daya aset agar tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah tercapai. Asas fungsional terkait pengambilan keputusan oleh pengguna barang, pengelola barang dan bupati/walikota sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam memecahkan masalah dalam pengelolaan aset. Asas kepastian hukum terkait pengelolaan aset harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan. Asas transparansi terkait penyelenggaraan pengelolaan aset harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar. Asas efisiensi terkait pengelolaan aset sesuai standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka

menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal.

Asas akuntabilitas terkait pengelolaan aset harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Asas kepastian nilai terkait pengelolaan aset harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah.

Penelitian Efendi, R. (2021) menyatakan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola aset daerah dalam bentuk pencatatan transaksi dan dirumuskan dalam bentuk laporan keuangan setiap tahunnya dapat meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan daerah.

Penelitian Kusumawardani (2012), Maiyora (2015) dan Kirana, A.S. &

Sulardi (2020) menjelaskan bahwa pemerintah daerah yang memiliki sumber daya aset yang besar akan memiliki kemampuan yang besar dalam pelaksanaan program/kegiatan yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hal tersebut dapat meningkatkan kemudahan pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan operasional dan mewujudkan pelayanan yang baik untuk masyarakat.

Penelitian Jannah, M. (2019) menyatakan bahwa ukuran pemerintah yang besar menunjukkan pemerintah daerah memiliki aset yang besar untuk mendukung pemberian layanan kepada masyarakat secara memadai serta pemerintah daerah memiliki kemudahan dalam memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD).

2.2.5 Temuan Pemeriksaan BPK

UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 36 menyatakan bahwa persyaratan dasar kapasitas daerah didasarkan pada parameter (a) geografis, (b) demografi, (c) keamanan, (d) sosial politik, ada dan tradisi, (e) potensi ekonomi, (f) keuangan daerah dan (g) kemampuan penyelenggaraan pemerintahan. Parameter keuangan daerah meliputi kapasitas pendapatan asli daerah dan pengelolaan keuangan dan aset daerah. Adapun dalam pengelolaan keuangan daerah, pemerintah daerah memiliki sistem pengendalian intern yang memadai agar meminimalisir risiko terjadinya penyalahgunaan atau korupsi dan ketidakpatuhan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 14 UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK adalah hasil akhir dari proses penilaian kebenaran, kepatuhan, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan data/informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan, yang dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan sebagai keputusan BPK. Hasil pemeriksaan berisi deskripsi temuan terkait Sistem Pengendalian Intern dan temuan terkait Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Temuan pemeriksaan ini dijadikan dasar dalam perumusan opini.

Menurut Alpi, M.F. & Ramadhan, P.R. (2018) audit sebagai suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi. Audit dilakukan oleh pihak independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen untuk dapat memberikan

pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Selain untuk menguji dan memeriksa kelayakan penyajian laporan keuangan, dalam audit auditor juga menguji efektifitas pengendalian intern, memeriksa kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan serta memeriksa kemungkinan terjadinya kecurangan dan ketidakpatutan. Permasalahan yang ditemukan tersebut disajikan dalam temuan pemeriksaan yang terdiri dari kriteria, kondisi, sebab, akibat dan rekomendasi. Hal ini dimaksudkan untuk membantu manajemen atau lembaga pengawas untuk memahami perlunya untuk melakukan tindakan perbaikan.

Penyusunan dan penyajian laporan keuangan sebagai wujud pertanggungjawaban APBN/APBD dalam rangka akuntabilitas dan keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara menjadi tanggung jawab masing-masing entitas pelaporan. Sementara BPK bertanggungjawab dalam melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara serta memberikan pendapat berupa opini atas Laporan Keuangan entitas yang telah diperiksa berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Opini audit menunjukkan tingkat kewajaran informasi sehingga dapat menjadi tolak ukur untuk menilai akuntabilitas pemerintah. Tingkat kepercayaan atas pelaporan keuangan yang disajikan untuk pemangku kepentingan juga dipengaruhi oleh opini audit (Riesty, P. & Adi, N.M., 2016; Rollis & Agus, 2020).

2.2.6 Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK

UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 149 menyatakan bahwa DPRD mempunyai fungsi pengawasan dalam bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara pasal 20 menyatakan bahwa pejabat wajib menindaklanjuti rekomendasi dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi tersebut. Jawaban atau penjelasan disampaikan kepada BPK selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah LHP diterima.

Untuk menjabarkan ketentuan tersebut serta untuk memberikan pedoman bagi pihak-pihak terkait dalam menindaklanjuti dan menelaah tindak lanjut rekomendasi BPK, BPK menerbitkan Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK. Di dalam peraturan tersebut ditetapkan bahwa BPK menelaah jawaban atau penjelasan yang diterima dari Pejabat untuk menentukan apakah tindak lanjut telah dilakukan sebagaimana diatur dalam pasal 6 ayat 1. Selanjutnya dalam pasal 6 ayat 4 ditetapkan bahwa hasil penelaahan tersebut diklasifikasikan menjadi empat, yaitu (a) Telah sesuai rekomendasi, (b) Belum sesuai dengan rekomendasi, (c) Rekomendasi belum ditindaklanjuti; dan (d) Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti.

Dalam upaya memperbaiki kinerja keuangan, akan sangat penting bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan tindak lanjut rekomendasi dari BPK atas hasil audit BPK tersebut. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pejabat yang diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK wajib dilakukan oleh pejabat yang diperiksa. Pejabat yang diperiksa wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambat-lambatnya enam puluh hari setelah LHP (Riesty, P. & Adi, N.M., 2016;

Kurnia, D., 2020).

Suatu rekomendasi BPK dinyatakan telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi apabila rekomendasi BPK telah ditindaklanjuti secara memadai oleh pejabat dan tindak lanjut tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi dan rencana aksi yang disertai dengan bukti pendukung. Secara umum, rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyetoran uang/aset ke negara/daerah atau melengkapi pekerjaan/barang, dan tindakan administratif berupa pemberian peringatan, teguran, sanksi kepada para penanggung jawab dan/atau pelaksana teknis.

Hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK yang dilakukan oleh pemerintah daerah selanjutnya disampaikan setiap satu semester sekali kepada lembaga perwakilan DPRD dalam bentuk Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS).

41 3.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual pada penelitian ini diperoleh dengan menggabungkan salah satu karakteristik pemerintah daerah yaitu ukuran pemerintah daerah dan hasil pemeriksaan BPK RI yaitu jumlah temuan pemeriksaan dan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah. Gambar di bawah ini menunjukkan skematik kerangka konseptual yang menggambarkan model penelitian.

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa semakin besar ukuran pemerintah daerah yang diproksikan dengan total aset maka semakin tinggi kinerja

Ukuran Pemerintah Daerah LNASET = ln ( βˆ‘ Total Aset )

Jumlah Temuan Pemeriksaan BPK TP = βˆ‘ Temuan Pemeriksaan (t-1)

Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK TLRHP = βˆ‘TLRHP_TS

βˆ‘π‘…π‘’π‘˜π‘œπ‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘ π‘– x 100%

Variabel Dependen

H1 (+)

H2 (-)

H3 (+) Variabel Independen

Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah KKPD = βˆ‘PAD

βˆ‘Belanja Daerah x 100%

keuangan pemerintah daerah. Semakin sedikit jumlah temuan pemeriksaan BPK yang diproksikan dengan jumlah temuan tahun sebelumnya maka semakin tinggi kinerja keuangan pemerintah daerah. Semakin tinggi tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK yang diproksikan dengan tingkat penyelesaian tindak lanjut yang sesuai dengan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK maka semakin tinggi kinerja keuangan pemerintah daerah.

3.2 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan kerangka konseptual maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut.

3.2.1 Ukuran Pemerintah Daerah dan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Ukuran pemerintah daerah yang besar menunjukkan bahwa pemerintah daerah memiliki aset yang besar untuk mendukung pemberian layanan kepada masyarakat secara memadai serta pemerintah daerah memiliki kemudahan dalam memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD yang tinggi mengindikasikan bahwa pemerintah daerah memiliki tingkat kemampuan keuangan daerah yang tinggi dalam membiayai pengeluaran/belanja daerah (Arnaldi & Yusra, I., 2019;

Faridatussalam, S.R. (2020).

Wicaksana, A. & Harmono (2021) menyatakan bahwa aset daerah merupakan potensi ekonomi bagi pemerintah daerah dan berperan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Aset daerah yang dikelola dengan baik akan memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah antara lain sumber pendapatan

untuk menunjang peran dan fungsi pemerintah daerah sebagai pemberi pelayanan daerah kepada masyarakat atau sebagai dasar dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah.

Total aset yang besar akan menuntut pemerintah daerah untuk meningkatkan akuntabilitas (Riesty, P. & Adi, N.M., 2016). Menurut Mustikarini

& Fitriasari (2012) dan Sumarjo (2010) mengungkapkan bahwa pemerintah daerah yang memiliki aset yang besar akan lebih memicu pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya.

Penelitian Marhawai (2015) menemukan bahwa pemerintah yang memiliki aset yang besar dituntut untuk melakukan transparansi atas pengelolaan keuangannya sebagai bentuk akuntabilitas publik.

Puspitasari, D. & Setyanta, B. (2020) juga menyatakan bahwa pemerintah daerah dengan total aset yang lebih besar akan lebih kompleks dalam menjaga dan mengelola asetnya dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Penelitian yang dilakukan oleh Lestari, K., Sri & Yudi (2019) menemukan bahwa semakin besar total aset yang dimiliki pemerintah daerah menunjukkan bahwa akuntabilitas kinerja pemerintah daerah semakin baik. Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Masdiantini dan Erawati (2016) yang mengungkapkan bahwa ukuran pemerintah daerah yang diproksikan dengan total aset berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

Penelitian Kirana, A.S. & Sulardi (2020) juga mengungkapkan bahwa ukuran pemerintah daerah yang diproksikan dengan total aset mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.

H1 : Ukuran Pemerintah Daerah berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

3.2.2 Jumlah Temuan Pemeriksaan BPK dan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Dalam teori keagenan (agency theory), adanya tuntutan pertanggungjawaban kinerja keuangan oleh masyarakat (principal) yang mewajibkan pemerintah daerah (agent) untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kinerjanya melalui laporan keuangan pemerintah daerah. Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah oleh BPK merupakan salah satu bentuk monitoring untuk meminimalisir terjadinya agency problem (Primadita & Fitriany, 2012).

Berdasarkan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK dinyatakan bahwa hasil pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah daerah dituangkan dalam bentuk temuan pemeriksaan terkait Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang akan menjadi dasar pertimbangan pemeriksa dalam pemberian opini atas pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Adapun temuan pemeriksaan yang disajikan tersebut dengan menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam Laporan Keuangan

Pemerintah Daerah (LKPD) berdasarkan kriteria antara lain kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Penelitian Mustikarini dan Fitriasari (2012) menyimpulkan bahwa semakin banyak jumlah temuan audit BPK pada suatu pemerintah daerah maka semakin rendah kinerja pemerintah daerah tersebut karena terdapat permasalahan dalam akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah antara lain tingginya kelemahan SPI dan adanya penyimpangan dalam tata kelola keuangan.

Penelitian Alpi, M.F. & Ramadhan, P.R. (2018) menemukan bahwa faktor penentu tinggi rendahnya kinerja keuangan daerah yaitu temuan audit BPK dari ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Hal ini dikarenakan ketaatan pemerintah daerah terhadap ketentuan perundangan berkaitan langsung dengan kinerja keuangan daerah. Setiap pemerintah daerah harus taat terhadap ketentuan terkait pengelolaan keuangan daerah karena merupakan prosedur dasar dalam menjalankan pemerintahan.

Penelitian Harumiati, Y. dan Payamta (2014) menemukan hasil bahwa temuan audit berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah artinya semakin banyak jumlah temuan audit BPK pada suatu pemerintah daerah maka semakin rendah kinerja pemerintah daerah tersebut.

Penelitian Prasetyaningsih, E. (2014) mengungkapkan bahwa temuan audit berpengaruh negatif terhadap kinerja pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak temuan audit maka akan

menurunkan nilai kinerja pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.

H2 : Jumlah Temuan Pemeriksaan BPK berpengaruh negatif terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

3.2.3 Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK dan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Dalam teori keagenan (agency theory), masyarakat berperan sebagai principal yang memberikan otoritas kepada DPRD (legislatif) untuk mengawasi kinerja pemerintah daerah (eksekutif) yang berperan sebagai agent (Halim, 2006).

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara menyatakan bahwa pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan DPRD.

Dalam upaya memperbaiki kinerja keuangan, akan sangat penting bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan tindak lanjut rekomendasi dari BPK atas hasil pemeriksaan laporan keuangan pemerintah daerah. Tingkat penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menunjukkan upaya konkrit pemerintah daerah untuk memperbaiki kinerjanya.

Rekomendasi hasil pemeriksaan BPK ditujukan kepada orang dan/atau badan yang berwenang untuk melakukan tindakan dan/atau perbaikan maka dari itu tindak lanjut atas rekomendasi penting untuk ditindaklanjuti untuk peningkatan

kinerja pemerintah daerah yang diaudit. Selain itu, tindak lanjut dilakukan agar temuan-temuan hasil pemeriksaan tidak terjadi secara berulang-ulang (Kurnia, D., 2020).

Tingginya tingkat penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah memiliki sistem pengendalian intern yang efektif melalui tindakan yang memadai untuk menindaklanjuti rekomendasi hasil audit. Semakin besar persentase rekomendasi hasil pemeriksaan yang ditindaklanjuti, akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah akan semakin baik (Setyaningrum, 2012).

Penelitin Hartono, T. (2006) mengungkapkan bahwa tindak lanjut hasil pemeriksaan merupakan unsur yang penting dalam penilaian kinerja manajemen karena tindak lanjut pemeriksaan merupakan bentuk tanggung jawab manajemen.

Selain itu, penelitian Halimah, N. (2017) juga menemukan bahwa tindak lanjut rekomendasi audit berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah karena rekomendasi meminimalkan dampak penyimpangan dalam pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah yang akan berdampak pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

Penelitian Subiyantoro, P. (2016) menemukan hasil bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara tindak lanjut rekomendasi audit terhadap kinerja. Dengan adanya tindak lanjut rekomendasi oleh BPK kepada setiap penyelenggara pemerintah daerah maka dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik lagi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah berikutnya karena pemerintah daerah akan mengetahui kesalahan yang telah dilakukan dan pemerintah daerah

Dokumen terkait