• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan Hasil Penelitian

5.2.1 Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Variabel ukuran pemerintah daerah dengan nilai probabilitas 0,000 yang lebih kecil dari tingkat kesalahan 1% dan nilai koefisien sebesar 4,389 menunjukkan bahwa ukuran pemerintah daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah sehingga hipotesis pertama diterima.

Berdasarkan teori good governance dinyatakan bahwa pemerintah daerah dengan total aset yang lebih besar akan menjaga dan mengelola asetnya secara

transparan dan akuntabel dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Pemerintah daerah yang memiliki total aset yang besar akan memiliki sumber daya yang memadai untuk lebih mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) (Aprilia, I., Syaukat, Y. & Falatehan, A.F; 2018).

Pada tahun 2019 terdapat pedoman dalam pengelolaan aset yang diatur dalam berbagai ketentuan/peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah. Ketentuan tersebut menjadi pedoman pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerah.

Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I dan II BPK RI tahun 2016 s.d 2020 menunjukkan terdapat kenaikan jumlah aset pemerintah daerah pada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran (TA) 2015 s.d 2019. Hal ini menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan dan mengoptimalkan aset daerah melalui manajemen aset daerah yang memadai.

Pemerintah daerah yang memiliki total aset yang besar dapat lebih menggali potensi pemasukan keuangan daerah melalui PAD untuk membiayai belanja dalam penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, pemerintah daerah juga dapat menurunkan tingkat ketergantungan terhadap bantuan pemerintah pusat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustikarini & Fitriasari (2012) dan Sumarjo (2010) yang menemukan bahwa pemerintah yang memiliki aset yang besar akan menyelenggarakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari, K., Sri & Yudi (2019) dan Kirana, A.S. & Sulardi (2020) juga menemukan bahwa pemerintah daerah yang memiliki aset yang besar menunjukkan bahwa akuntabilitas kinerja pemerintah daerah semakin baik dan mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah secara positif. Selanjutnya, penelitian Masdiantini dan Erawati (2016) mengungkapkan bahwa ukuran pemerintah daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

Penelitian Marhawai (2015) dan Puspitasari, D. & Setyanta, B. (2020) menyatakan bahwa pemerintah daerah dengan total aset yang besar akan melakukan transparansi atas pengelolaan keuangannya sebagai bentuk akuntabilitas publik melalui administrasi pelaporan, penerimaan dan pengelolaan data aset secara optimal (good governance).

Pengaruh ukuran pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan kemerintah daerah dibuktikan dengan hasil perbandingan variabel minimum dan maksimum ukuran pemerintah daerah tahun 2019 pada Pemerintah Kabupaten Way Kanan di Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro di Provinsi Jawa Timur dengan rincian berikut.

Tabel 5.10 Perbandingan Ukuran Pemerintah Daerah dengan Kinerja Keuangan Pemerintah Kab. Way Kanan dan Kab. Bojonegoro TA 2019

No

Nama Pemerintah

Daerah

Total Aset (Rp)

Total Pendapatan Asli Daerah

(PAD) (Rp)

Total Pendapatan (Rp)

Total Belanja Daerah

(Rp)

Rasio Kemandi-

rian

KKPD

1

Pemerintah Kabupaten Way Kanan

252.419.204.631,40 62.353.560.983,81 1.398.937.422.542,00 1.146.344.974.140,15 0,04 5,44%

2

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro

12.750.710.236.133,00 561.251.499.955,96 4.769.828.177.733,96 3.401.676.515.143,77 0,11 16,50%

Tabel di atas menunjukkan bahwa pemerintah daerah yang memiliki total aset yang besar akan meningkatkan dan mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah sebagai sumber daya dalam memperoleh PAD sehingga tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pendapatan transfer pusat/daerah lainnya rendah.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan memiliki kemampuan keuangan daerah yang tinggi untuk membiayai belanja daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Dengan demikian, ukuran pemerintah daerah yang diproksikan dengan total aset berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu pemerintah daerah dengan total aset yang besar akan dapat meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan untuk mewujudkan pelayanan yang optimal demi kesejahteraan masyarakat.

5.2.2 Pengaruh Temuan Pemeriksaan terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Variabel temuan pemeriksaan dengan nilai probabilitas 0,000 yang lebih kecil dari tingkat kesalahan 1% dan nilai koefisien sebesar -0,201 menunjukkan

bahwa temuan pemeriksaan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah sehingga hipotesis kedua diterima.

Berdasarkan teori keagenan (agency theory) dinyatakan bahwa pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah oleh BPK merupakan salah satu bentuk monitoring untuk meminimalisir terjadinya agency problem karena masyarakat (principal) menuntut pertanggungjawaban kinerja keuangan kepada pemerintah daerah (agent) untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kinerjanya (Primadita & Fitriany, 2012).

Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I dan II BPK RI tahun 2016 s.d 2020 menunjukkan adanya penurunan jumlah temuan pemeriksaan keuangan pada pemerintah daerah yang berdampak pada peningkatan capaian opini atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran (TA) 2015 s.d 2019. Hal ini menunjukkan pemerintah daerah berupaya meningkatkan kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah. Dengan demikian, semakin banyak jumlah temuan pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum sepenuhnya memiliki pengendalian intern yang memadai serta patuh terhadap ketentuan perundang- undangan dalam menjalankan pemerintahan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustikarini dan Fitriasari (2012) yang menemukan bahwa semakin banyak jumlah temuan audit BPK pada suatu pemerintah daerah maka semakin rendah kinerja pemerintah daerah itu karena terdapat permasalahan dalam akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah antara lain tingginya kelemahan SPI dan adanya

penyimpangan dalam tata kelola keuangan. Penelitian Alpi, M.F. & Ramadhan, P.R. (2018) mengungkapkan bahwa faktor penentu tinggi rendahnya kinerja keuangan daerah yaitu temuan audit BPK dari ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Penelitian Harumiati, Y., Payamta dan Prasetyaningsih, E.

(2014) menghasilkan kesimpulan bahwa temuan audit berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah artinya semakin besar jumlah temuan audit BPK pada suatu pemda maka semakin rendah kinerja pemerintah daerah tersebut.

Pengaruh temuan pemeriksaan terhadap kinerja keuangan kemerintah daerah dibuktikan dengan hasil perbandingan variabel minimum dan maksimum temuan pemeriksaan pemerintah daerah tahun 2019 pada Pemerintah Kabupaten Semarang di Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan di Provinsi Sulawesi Utara dengan rincian berikut.

Tabel 5.11 Perbandingan Temuan Pemeriksaan dengan Kinerja Keuangan Pemerintah Kab. Semarang dan Kab. Minahasa Selatan TA 2019

No Nama Pemerintah Daerah Jumlah Temuan

Pemeriksaan BPK KKPD

1 Pemerintah Kabupaten Semarang 4 21,58%

2 Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan 30 5,32%

Tabel di atas menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah temuan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan maka semakin rendah kinerja keuangan pemerintah daerah. Penelitian ini didukung dengan permasalahan dalam pengelolaan keuangan daerah pada Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas LKPD Pemerintah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Minahasa Selatan berikut ini:

Tabel 5.12 Permasalahan Kelemahan SPI dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan pada Pemerintah Kab. Semarang dan Kab.

Minahasa Selatan TA 2019

No Jenis Temuan

Pemeriksaan Permasalahan

Pemerintah Kabupaten Semarang

Pemerintah Kabupaten Minahasa

Selatan 1 Kelemahan SPI Pencatatan belum dilakukan atau tidak akurat 1 3

Proses penyusunan laporan tidak sesuai dengan ketentuan

1 Mekanisme pengelolaan penerimaan daerah

tidak sesuai dengan ketentuan

1

SOP belum disusun/tidak lengkap 1 4

SOP belum berjalan optimal 1

Satuan pengawas intern tidak optimal 1

Penyimpangan terhadap peraturan tentang pendapatan dan belanja

1

Perencanaan kegiatan tidak memadai 4

Pelaksanaan kebijakan mengakibatkan hilangnya potensi penerimaan

2 Pelaksanaan kebijakan mengakibatkan

peningkatan belanja

3 2 Ketidakpatuhan

terhadap Ketentuan Peraturan Perundang- Undangan

Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah

1 Pertanggungjawaban belanja tidak

lengkap/tidak valid

1 Belanja tidak sesuai ketentuan/melebihi

ketentuan

7

Penyimpangan peraturan BMD 2

Jumlah 4 30

Dengan demikian, temuan pemeriksaan BPK berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu semakin banyak temuan pemeriksaan menunjukkan semakin rendah kinerja pemerintah daerah karena tingginya kelemahan pengendalian internal dan penyimpangan dalam tata kelola keuangan daerah.

5.2.3 Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Variabel tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dengan nilai probabilitas 0,000 yang lebih kecil dari tingkat kesalahan 1% dan nilai koefisien sebesar 0,110 menunjukkan bahwa temuan pemeriksaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah sehingga hipotesis ketiga diterima.

Berdasarkan teori keagenan (agency theory) dinyatakan bahwa masyarakat yang berperan sebagai principal memberikan otoritas kepada DPRD untuk mengawasi kinerja pemerintah daerah (agent) (Halim, 2006). Berdasarkan Undang- Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara juga dinyatakan bahwa pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan DPRD. Lebih lanjut diketahui berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 149 dinyatakan bahwa DPRD mempunyai fungsi pengawasan dalam bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Oleh karena itu, hasil pemantauan TLRHP yang telah dilakukan oleh BPK disampaikan setiap satu semester sekali kepada DPRD dalam bentuk Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS).

Berdasarkan daftar rekapitulasi hasil pemantauan TLHP pemerintah daerah dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I dan II BPK RI tahun 2015 s.d 2020 menunjukkan bahwa rata-rata persentase Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil

Pemeriksaan (TLRHP) BPK yang ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah sebesar 67,7% atau sebanyak 107.882 rekomendasi dari 159.317 rekomendasi. Adapun rekomendasi BPK atas hasil pemeriksaan tersebut telah ditindaklanjuti dengan cara penyetoran uang/aset ke daerah atau melengkapi pekerjaan/barang, tindakan administratif berupa pemberian peringatan, teguran, dan/atau sanksi kepada para penanggung jawab dan/atau pelaksana kegiatan. Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas penatausahaan keuangan daerah, melengkapi bukti pertanggungjawaban dan perbaikan atas sebagian atau seluruh sistem pengendalian intern.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyaningrum (2012) yang mengungkapkan bahwa semakin besar persentase rekomendasi hasil pemeriksaan yang ditindaklanjuti maka kinerja keuangan pemerintah daerah dalam akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah akan semakin baik. Penelitian Halimah, N. (2017) menemukan bahwa tindak lanjut rekomendasi audit berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah karena rekomendasi meminimalkan dampak penyimpangan dalam pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah yang akan berdampak pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

Pengaruh tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan terhadap kinerja keuangan kemerintah daerah dibuktikan dengan hasil perbandingan variabel minimum dan maksimum tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan pemerintah daerah tahun 2019 pada Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya di Provinsi

Papua dan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat di Provinsi Kalimantan Tengah dengan rincian berikut.

Tabel 5.13 Perbandingan Tingkat Penyelesaian TLRHP BPK dengan Kinerja Keuangan Pemerintah Kab. Mamberamo Raya dan Kab. Kotawaringin

Barat TA 2019

No Nama Pemerintah Daerah

Persentase Tingkat Penyelesaian TLRHP BPK

KKPD 1 Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya 21,01% 0,70%

2 Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat 99,37% 13,81%

Tabel di atas menunjukkan bahwa pemerintah daerah dengan persentase tingkat penyelesaian TLRHP yang tinggi memiliki kinerja keuangan pemerintah daerah yang lebih baik. Hal ini karena rekomendasi BPK atas permasalahan tata kelola keuangan daerah telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi oleh pemerintah daerah dalam rangka perbaikan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah.

Dengan demikian, tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu semakin tinggi tingkat penyelesaian tindak lanjut yang sesuai dengan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK maka semakin tinggi kinerja keuangan pemerintah daerah.

85 6.1 Simpulan

1. Ukuran pemerintah daerah yang diproksikan dengan total aset berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Semakin besar total aset yang dimiliki pemerintah daerah maka pemerintah daerah memiliki sumber daya yang semakin besar pula dalam meningkatkan kinerja keuangan untuk mewujudkan pelayanan yang optimal demi kesejahteraan masyarakat.

2. Temuan pemeriksaan yang diproksikan dengan jumlah temuan kelemahan pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang- undangan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Semakin banyak jumlah temuan pemeriksaan menunjukkan bahwa rendahnya kinerja keuangan pemerintah daerah karena pemerintah daerah belum sepenuhnya memiliki pengendalian intern yang memadai serta patuh terhadap ketentuan perundang-undangan dalam menjalankan pemerintahan.

3. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan yang diproksikan dengan tingkat penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Semakin tinggi persentase tingkat penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan maka akan menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah berikutnya karena pemerintah

daerah menindaklanjuti permasalahan dalam tata kelola keuangan daerah untuk lebih baik lagi dalam menjalankan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah.

6.2 Saran

1. Pemerintah daerah diharapkan melakukan tata kelola aset daerah berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi, efisiensi, akuntabilitas dan kepastian nilai sehingga pemerintah daerah dapat memaksimalkan manfaat dari sumber daya aset untuk mendukung pemberian layanan kepada masyarakat secara memadai serta kemudahan dalam memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD).

2. Pemerintah daerah diharapkan lebih patuh terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan serta meningkatkan pengendalian internal untuk meminimalisir risko penyimpangan dalam tata kelola keuangan daerah.

3. Pemerintah daerah diharapkan meningkatkan persentase penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK dengan melakukan tindakan dan/atau perbaikan dalam rangka perbaikan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah.

4. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah atau menggunakan variabel bebas lainnya yang relevan dengan kinerja keuangan pemerintah daerah agar mampu menjelaskan variabilitas variabel dependen kinerja keuangan pemerintah daerah.

Alpi, M.F., Ramadhan, P.R. 2018. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Kinerja Keuangan Kabupaten/Kota. Jurnal Studi Akuntansi dan Keuangan, 2 (3) : 103-114.

Amyulianthy, R., Sayyidatun, A. & Budi, S. 2020. Temuan dan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan terhadap Opini Audit. Jurnal Penelitian Akuntansi, 1 (1) : 14-27.

Aprilia, I., Syaukat, Y. & Falatehan, A.F. 2018. Optimisasi Manajemen Aset Tetap Daerah dalam Mewujudkan Good Governance di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah, 10 (2) : 1-17.

Arnaldi, Yusra, I. 2019. Analisis Keuangan Pemerintah Daerah Kota Padang untuk Mengukur Kinerja Keuangan Daerah. Jurnal Pundi, 3 (3) : 83-100.

Badan Pemeriksa Keuangan RI. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I dan II Tahun 2019 dan 2020.

Faridatussalam, S.R.. 2020. Analisis Kinerja Keuangan dalam Meningkatkan Kemandirian Daerah. Performance Measurements only one Way of Managing Performance. Jurnal Ekonomi Manajemen Sumber Daya, 22 (2) : 71-76.

Halachmi, A. 2005. Performance Measurements only one Way of Managing Performance. International Journal of Productivity and Performance Management, 54 (7) : 502-516.

Halim, A., Abdullah, S. 2006. Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintah Daerah : Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi. Jurnal Akuntansi Pemerintahan, 2 (1) : 53-64.

Hartono, T. 2006. “Evaluasi Penyelesaian Tindak Lanjut Temuan Audit sebagai Unsur Penilaian Kinerja Manajemen Kantor Cabang pada Bank BTN”. Tesis Magister. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Harumiati, Y., Payamta. 2014. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit BPK terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2011. Jurnal Akuntansi dan Pendidikan, 3 (2) : 75- 87.

Hasan, W., Jumiyanti, K.R. 2021. Peta Kemampuan Keuangan Daerah. Jurnal Riset Akuntansi dan Komputerisasi Akuntansi, 12 (1) : 38-52.

Kirana, A.S., Sulardi. 2020. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Opini Audit terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Manajemen Mutiara Madani, 8 (2) : 175-192.

Kiswanto, Ain, H., Nani. F. 2019. The Effect of Audit Results and Financial Performance on Corruption Level Moderated by Government Size.

International Journal of Economics and Business Administration, 8 (3) : 250- 259.

Kurnia, D. 2020. Pengaruh Temuan Audit BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Opini Audit atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Struktur Anggaran terhadap Kinerja. Jurnal Revenue, 1 (1) : 112-124.

Lestari, K., Rahayu, S., Yudi. 2019. “Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, Tingkat Kekayaan Daerah, Tingkat Ketergantungan Daerah, Belanja Modal dan Temuan Audit BPK terhadap Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah”. Tesis Magister. Fakultas Ekonomi Universitas Jambi.

Masdiantini, P.R., Erawati, N.M.A. 2016. Pengaruh Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, Kemakmuran, Intregovernmental Revenue, Temuan dan Opini Audit BPK pada Kinerja Keuangan. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana : 1150- 1182.

Maulian, A., Alkamal, M., Fahira, N.S. 2021. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Belanja Modal dan Ukuran Pemerintah Daerah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research, 5 (2) : 390-399.

Mustikarini, W.A., Fitriasari, D. 2011. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit BPK terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2007. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XV, Banjarmasin, 2012.

Nugraheni, E., Adi, P.H.. 2018. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XXI, Samarinda, 2018.

Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Perubahan Kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No. 1 Tahun 2017 Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No. 2 Tahun 2017 tentang Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK.

Parwanto, E., Harto, P. 2017. Pengaruh Hasil Pemeriksaan BPK terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal of Accounting, 6 (1) : 1-9.

Prasetyaningsih, E. 2014. “Pengaruh Karakteristik Keuangan Pemerintah Daerah dan Temuan Audit terhadap Kinerja Pemerintah pada Pemerintah Daerah se- Indonesia”. Tesis Magister. Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

Pratiwi, R., Aryani, Y.A. 2016. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah, Kepala Daerah, Tindak Lanjut Temuan Audit terhadap Opini. Jurnal Akuntansi, 20 (2) : 167-189.

Purba, R.B., Nasution, A.P., Amelija, N. 2020. Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Journal Seminar of Social Sciences Engineering and Humaniora : 61-71.

Purnama, H., Putri, A. 2019. Which Ones Are More Important : Characteristics or Complexities? A Study of Disclosure in Local Government Financial Reports.

Journal of Business and Information System, 1 (2) : 77-88.

Rusmita, S. 2019. Effect of Regional Government Characteristics of Financial Performance. International Research in Economics and Finance, 3 (2) : 29-35.

Sedyaningsih, P., Zaky, A. 2015. “Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit BPK terhadap Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah”.

Skripsi Sarjana. Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.

Setiabudhi, D. 2019. Pengelolaan Aset Pemerintah Daerah dalam Perspektif Good Governance. Journal The Studies of Social Science, 1 (1) : 7-21.

Subiyantoro, P. 2016. “Pengaruh Pemeriksaan dan Pengawasan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah”. Skripsi Sarjana.

Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

Sundari, N., Arza, F.I. 2021. Pengaruh Faktor Keuangan dan Faktor Non Keuangan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah di Indonesia. Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 3 (1) : 218-232.

Suryaningsih, N.M., Sisdyani, E.A. 2016. Karakteristik Pemerintah Daerah dan Opini Audit pada Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 15 (2) : 1453-1481.

Tjandrakirana, R., Ermadiani, Rohman, A., Widad, A. 2019. Pengaruh Laporan Hasil Pemeriksaan, Ketidakpatuhan pada Peraturan, Kelemahan Sistem Pengendalian Intern dan Tindak Lanjut terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan. Jurnal Komunikasi Ilmiah Akuntansi dan Perpajakan, 12 (2) : 186-207.

UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

UU No. 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

Wijayanti, Y., Dhini, S. 2020. The Effect of Regional Characteristic, Leverage, Government Complexity, BPK Audit Findings and Opinions on Local Government Financial Performance. Accounting Analysis Journal, 9 (1) : 30- 37.

2 Kabupaten Aceh Barat Daya Provinsi Aceh

3 Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh

4 Kabupaten Aceh Jaya Provinsi Aceh

5 Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh

6 Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Aceh

7 Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh

8 Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh

9 Kabupaten Aceh Timur Provinsi Aceh

10 Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh

11 Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh

12 Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh

13 Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh

14 Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh

15 Kabupaten Pidie Provinsi Aceh

16 Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh

17 Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh

18 Kota Langsa Provinsi Aceh

19 Kota Lhokseumawe Provinsi Aceh

20 Kota Sabang Provinsi Aceh

21 Kota Subulussalam Provinsi Aceh

22 Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara

23 Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara

24 Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara

25 Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara

26 Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara

27 Kabupaten Labuhanbatu Selatan Provinsi Sumatera Utara 28 Kabupaten Labuhanbatu Utara Provinsi Sumatera Utara

29 Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara

30 Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara

31 Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara

32 Kabupaten Nias Barat Provinsi Sumatera Utara 33 Kabupaten Nias Selatan Provinsi Sumatera Utara 34 Kabupaten Nias Utara Provinsi Sumatera Utara 35 Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara 36 Kabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara 37 Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara

38 Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara

39 Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara 40 Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara 41 Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara 42 Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara 43 Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara

47 Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara 48 Kota Pematangsiantar Provinsi Sumatera Utara

49 Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara

50 Kota Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

51 Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat

52 Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat 53 Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat 54 Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat 55 Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat

56 Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat

57 Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat 58 Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat 59 Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat

60 Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat

61 Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat 62 Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat

63 Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat

64 Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat

65 Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

66 Kota Solok Provinsi Sumatera Barat

67 Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau

68 Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau 69 Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau

70 Kabupaten Kampar Provinsi Riau

71 Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau 72 Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau

73 Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau

74 Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau

75 Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau

76 Kabupaten Siak Provinsi Riau

77 Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi

78 Kabupaten Bungo Provinsi Jambi

79 Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi

80 Kabupaten Merangin Provinsi Jambi

81 Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi

82 Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi

83 Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi 84 Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi

85 Kabupaten Tebo Provinsi Jambi

86 Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi

87 Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan 88 Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan

89 Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan

Dokumen terkait