BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Landasan Teori
4. Latar Belakang Pendidikan Orangtua
Pendidikan sebagaimana dipahami banyak fihak memiliki tujuan untuk mengantarkan manusia ke kedewasaannya. Pendidikan jauh lebih kompleks dari pengajaran dan pelatihan. Dalam pendidikan bukan saja aspek pengetahuan dan keterampilan saja yang difokuskan, persoalan moral sosial, perilaku berbudaya, dan sebagainya juga menjadi fokus dari pendidikan.
Pendidikan memiliki tiga elemen dasar dalam prakteknya, yaitu pendidikan formal, non formal dan pendidikan informal. Pendidikan merupakan kebutuhan psikis yang harus terpenuhi sebagaimana kebutuhan fisik. Dengan dipenuhinya kebutuhan psikis tersebut, seseorang akan mudah menjalani kehidupannya mulai dari masa kanak-kanak menuju ke kedewasaannya.
Pendidikan merupakan ruh dari kehidupan manusia. Pendidikan akan semakin terlihat kompleks dan penting bila dilihat dari perspektif kehidupan dalam sebuah keluarga.
Keluarga merupakan unit yang terkecil dalam suatu masyarakat, khususnya apabila berbentuk nucleus family. Secara sosiologis maka suatu keluarga adalah, “a group defined by a sex relationship sufficiently precise and enduring to provide for the procreation and upbringing of children (Susanto Sunaryo 1995 : 28).
Ciri khas dari suatu keluarga ialah; a) hidup bersama dari beberapa orang yang (selain suami istri) mempunyai asal-usul yang sama, b) adanya tanggungjawab dari suami dan istri terhadap kehidupan ekonomi dan sosial dari keturunannya, c) adanya tempat kediaman yang sama, d) merupakan gejala universal sebagai bentuk kehidupan sosial di seluruh dunia, e) didasarkan atas ikatan emosional antara suami istri maupun dengan anak-anak terhadap orang tuanya, f) adanya kemungkinan hubungan poligami, poliandri, dan g) adanya hubungan kekeluargaan.
Ciri-ciri tersebut bersifat umum sebagai bentuk universal dari peri kehidupan manusia.
Dari ciri-ciri suatu keluarga, pengertian latar belakang pendidikan keluarga dapat dibangun dan dipahami. Ciri-ciri tersebut dapat terjadi dan berlangsung dengan baik bergantung pada teori sistem yang dibangun dalam suatu keluarga. Teori sistem keluarga ini serupa dengan teori lingkungan sosial. Artinya suatu sistem nilai yang dianut oleh suatu keluarga dapat dipastikan merupakan sistem nilai yang dianut lingkungan masyarakat tempat suatu keluarga tersebut hidup dan melakukan tata pergaulan sebagaimana mestinya.
Kembali pada prinsip latar belakang keluarga yang diderivasikan dari ciri-ciri sebuah keluarga, dapat dikatakan ada beberapa aspek dari latar belakang keluarga. Aspek-aspek itu meliputi; orientasi hidup dalam keluarga, disiplin dalam keluarga, dan kondisi sosio-ekonomi suatu keluarga.
Ajaran moral yang dianut dalam keluarga, prinsip etika dalam aktivitas keluarga dan ukuran pencapaian orientasi hidup yang dianut merupakan hal utama yang menjadi fundamen sebuah keluarga. Tingkat pendidikan formal yang dicapai oleh pimpinan keluarga, baik bapak maupun ibu dalam suatu keluarga akan menjadi ukuran kualitas ajaran moral, dan prinsip etika yang ditegakkan dalam keluarga tersebut. Hal lain yang terkait dengan itu adalah penegakkan disiplin dalam keluarga.
Disiplin diartikan sebagai; 1) latihan batin dan watak, dengan maksud supaya perbuatannya selalu menaati tata tertib, 2) ketaatan pada peraturan dan tata tertib. Menurut Koentjaraningrat istilah disiplin bermula karena pengaruh dari bahasa Belanda dan kemudian bahasa Inggris. Kedua bahasa itu mengambilnya dari bahasa Latin disciplina yang berarti “pelajaran, belajar patuh kepada guru, patuh kepada atasan, patuh kepada peraturan dan hukum, mengendalikan diri, pengendalian, pengawasan (Koentjaraningrat, 1987 :15)
Bahasa Belanda lebih menekankan arti pengendalian dan pengawasan, sedangkan bahasa Inggris mengandung arti pelajaran dan pengendalian diri. Arti dalam bahasa Indonesia lebih merujuk kepada bahasa Belanda yaitu, pengendalian dari atas, pengawasan, dan patuh kepada atasan dan biasanya dikaitkan dengan tingkah laku militer.
Kalau istilah disiplin dikembangkan lebih jauh mestinya harus dikaitkan dengan hukum dan norma, dengan harapan setiap individu mempunyai sikap disiplin yang tumbuh dari dalam tanpa dikaitkan dengan adanya pengawasan dari atas.
Santoso mengartikan disiplin itu sebagai sesuatu yang teratur. Misalnya, disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan berarti bekerja secara teratur. Kemudian para ahli psikologi, sosiologi dan etika membahas istilah disiplin dari sudut pandangan masing-masing.
Drever meninjau dari segi psikologi, yang menyatakan bahwa semua disiplin diartikan sama dengan pendidikan dan latihan. Drever
membedakan pengertian disiplin dari latihan dalam hal adanya usaha yang dimulai dari individu itu sendiri untuk melakukan suatu tugas dan bukan sekadar melakukan saja. Ini berarti, seseorang dikatakan berdisiplin kalau ia mampu mengendalikan tingkah lakunya. Kemampuan ini berasal dari dalam diri subyek itu sendiri, sehingga dengan pengendalian diri dia mampu menyesuaikan tingkah lakunya dengan norma-norma atau peraturan-peraturan yang ada di luar dirinya. Namun peraturan-peraturan yang merupakan penjabaran dari norma-norma bukan prinsip-prinsip yang memberi motivasi yang tertanam dalam batin seseorang, melainkan sebagai kekuatan pelaksanaan yang mengarahkan tindakan.
Airchild, sebagaimana yang dijelaskan oleh Wibisono, meninjau disiplin dari segi sosiologi dibedakan atas dua pengertian disiplin, yaitu;
disiplin diri (self discipline) dan disiplin sosial (social discipline) Seseorang dinyatakan memiliki disiplin diri, jika ia mampu mengarahkan tingkah lakunya sesuai dengan kebutuhan dan selaras pula dengan patokan-patokan tingkah laku yang berlaku. Sedangkan disiplin sosial mengacu pada pengarahan dan pengendalian tingkah laku seseorang yang tidak berasal dari dalam diri individu yang bersangkutan, akan tetapi datang dari luar dirinya seperti keluarga, masyarakat atau negara (alat negara).
Dilihat dari sudut etika Maquarrie memaparkan seperti berikut;
bahwa disiplin mengandung arti sebagai aturan tingkah laku tertentu secara paksa dengan suatu hukuman yang tepat atau juga diartikan oleh
Maquarrie sebagai latihan terhadap seseorang agar dia dapat mengatur dirinya menurut aturan baku yang telah diberikan. Pengertian ini tampaknya merujuk kepada pengertian disiplin sosial dan disiplin diri seperti yang telah diterangkan.
Latar belakang pendidikan keluarga pun akan berperan dalam pelaksanaan pendidikan di lingkungan rumah. Cara seorang bapak lulusan perguruan tinggi tentu akan berbeda dalam menangani kesulitan belajar anaknya di rumah dibandingkan dengan seorang bapak yang hanya lulusan sekolah dasar. Artinya, tingkat pendidikan orangtua akan menentukan sikap mendidik mereka dalam keluarga masing-masing.
Sikap mendidik orangtua sebagai bagian integral dari variabel bebas kedua dalam penelitian ini terutama terkait dengan sikap mendidik orangtua terhadap anak-anak mereka yang masih bersekolah di tingkat Sekolah Dasar. Artinya, sikap mendidik orangtua ini berkaitan dengan karakter pribadi seorang siswa Sekolah Dasar.
Seorang siswa SD berada pada masa adolesensia ini. Masa yang penuh dengan berbagai problematika. Apalagi bagi mereka yang berdomisili di kota besar seperti Jakarta ini. Problematika remaja itu menurut para pakar psikologi remaja, meliputi hal-hal berikut; kesulitan hubungan dengan orangtua, keretakan keluarga/broken home, kesulitan belajar dan mendapatkan pekerjaan, problem dengan teman sebaya, masalah narkoba, fanatisme agama yang sempit, konsumerisme dan
materialisme, masalah seksualitas, dan idealisme dan kesadaran politik yang menurun.
Dengan karakteristik problema remaja usia kelas V Sekolah Dasar seperti dipaparkan di atas, tugas dan tanggungjawab orangtua di rumah dan masyarakat menjadi tidak ringan. Sebab, bukan tidak mungkin, dengan pemahaman yang salah orangtua dan masyarakat justru memberikan kontribusi yang negatif terhadap pemecahan masalah yang dialami siswa. Pemahaman orangtua inilah yang menjadi acuan dasar dari sikap mendidik mereka.
Sikap orangtua dalam mendidik anak di rumah yang paling konseptual dalam mendukung proses pembelajaran anak mereka di sekolah adalah peran pembimbingan. Jones sebagaimana dikutip Idris menyebutkan bahwa, “bimbingan merupakan pemberian bantuan oleh seseorang kepada seorang lain dalam menentukan pilihan, penyesuaian dan pemecahan permasalahan (Fahmi Idris 2004 : 45). Bimbingan merupakan; …proses bantuan yang sistimatis dan kontinu, agar seseorang yang dibantu dapat memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), mewujudkan dirinya (self realization) sehingga dapat memilih penyelesaian kesukaran - kesukaran yang dihadapi pada saat itu atau pada saat yang akan terjadi di sekolah, rumah dan masyarakat (Winarno 1982 : 75).
Peran orangtua siswa dalam membantu proses pembelajaran anak- anak mereka di sekolah, tidak dapat dilepaskan dari salah satu peran bimbingan secara formal. Hal itu termasuk sebagai bagian dari salah satu aspek perkembangan siswa sebagai domain pembimbingan. Aspek tersebut adalah layanan bimbingan bagi pembelajaran formal, yang dimaksudkan untuk membantu siswa menemukan cara belajar efektif hingga siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuan dasarnya.
Peran orangtua sebagai upaya perwujudan sikap mendidik mereka terhadap program pembelajaran anak-anak mereka di sekolah atau di luar sekolah, secara fungsional dapat diartikan sebagai sikap mereka terhadap input, proses dan output pembelajaran anak mereka. Baik hal itu dilakukan di rumah, atau di sekolah bersama guru bidang studi, guru BK (Bimbingan dan Konseling), dan wali kelas (Sarwono 1982).
Dalam arti pedagogis, terdapat beberapa sikap dasar orangtua, antara lain; a) sikap kurang perhatian, b) sikap berlebihan perhatian, c) sikap otoriter. Sikap-sikap ini perlu diketahui dan dibahas, karena memang tak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai sikap orangtua dalam mendidik anak di rumah yang dimaksudkan dalam penelitian ini.
Menurut penelitian, sikap kurang perhatian lebih banyak terjadi pada keluarga yang tidak harmonis, atau broken-home. Sikap orangtua yang demikian ini berakibat lebih buruk lagi bagi perkembangan psikologi anak, sebagaimana yang dikatakan Soesilo; Sejak bayi masih dalam
kandungan, interaksi yang harmonis antara ayah dan ibu menjadi faktor amat penting. … Anak yang tidak dicintai orang tua biasanya cenderung menjadi orang dewasa yang membenci dirinya sendiri dan merasa tidak layak untuk dicintai, serta dihinggapi rasa cemas. …Timbul rasa takut yang mendalam pada anak di bawah usia enam tahun jika perhatian dan kasih sayang orang tuanya berkurang.
Sedangkan pisah dari orangtua khususnya dengan ibu pada usia di bawah 3 tahun, menjadi faktor penting yang menyebabkan terjadinya defisiensi moral. Sebagaimana dikemukakan Kartono berikut.
Misalnya terjadi pada anak-anak haram, anak-anak yang ditaruh di rumah-rumah sakit, atau yang selalu hidup di rumah-rumah yatim piatu dan rumah penitipan. Anak-anak ini sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau kurang sekali mendapatkan afeksi;
dan selalu mendapat perlakuan yang kejam dan keras (Kartini Kartono 1980 : 23).
Jika diselidiki ternyata anak-anak nakal, anak-anak jalanan, masa kecil mereka jauh dari orang tua, bahkan sejak bayi. Pada umumnya mereka mempunyai sikap memprotes, bengal dan suka melawan. Hal ini akan terus mempengaruhi perkembangan kedewasaan mereka. Akibatnya;
“…tumbuhlah karakter yang tidak dilandasi afeksi (affectionless character) yang tidak memungkinkan anak mampu melakukan orientasi sosial dan hubungan cinta-kasih yang lama serta memuaskan. Mereka ini secara masif dan total mengasingkan diri, dan menunjukkan gejala-gejala autisme yang serius.”
Jadi, betapa besar pengaruh kurangnya atau tidak adanya perhatian orangtua terhadap perkembangan jiwa dan mental anak. Jelaslah bahwa
perhatian orangtua sangat dibutuhkan. Apalagi dalam konteks keberhasilan pembelajaran formal anak-anak mereka di sekolah. Namun, seberapa besar perhatian yang harus diberikan orangtua? Bagaimana dengan sikap orangtua yang berlebihan memberikan perhatiannya pada anak?
Sikap berlebihan perhatian ini seringkali terjadi tanpa disadari oleh pelakunya. Terasa wajar apabila orangtua begitu kasih dan sayangnya kepada anak-anak mereka. Sehingga kekhawatiran dan kehati-hatian yang berlebihan pun bagi mereka wajar saja. Namun, apa akibatnya? “Ternyata
‘cinta yang buta’ itu malahan mengakibatkan anak sangat bergantung kepada orang tua dan si anak kehilangan kesempatan untuk belajar dan berusaha bagi diri sendiri. Hal ini berakibat menambah masalah baru bagi orang tua.”
Umumnya sikap berlebihan perhatian terjadi pada keluarga yang secara sosial ekonomi tergolong kelas menengah ke atas. Kondisi ekonomi berlebih seringkali membuat orang keliru, seakan wajar saja seorang kaya raya memuaskan anaknya dengan materi. Padahal secara psikologis, hal ini ber-akibat buruk bagi perkembangan moral dan mental anak.
Perhatian yang berlebihan mungkin saja secara psikologis disebabkan orangtua yang salah dalam memandang anak. Seringkali anak dipandang sebagai makhluk yang tak berdaya, dan tak memiliki kemampuan untuk mengerti. Akibat dari pandangan yang seperti ini timbullah sikap orang tua yang salah, antara lain;
1. Orang tua menganggap sepi kehadiran anak. Misalnya sewaktu mereka bertengkar, tidur bersama, membicarakan soal-soal yang penting dan sebagainya.
2. Selalu was-was atas tindakan anak-anak, sehingga meskipun anaknya sudah cukup besar, mereka kurang diberi kebebasan dalam bergerak.
Cara ini ditunjukkan dengan melarang anak berbuat ini dan itu, sehingga berakibat keberanian anak terbunuh, atau dengan selalu memberikan pertolongan kepada anak-anak, meskipun ia sudah cukup besar ( Utama M 1985 : 28).
Ternyata berlebihan kasih sayang dan perhatian pun berakibat tidak baik bagi perkembangan jiwa anak, sebagaimana pula jika anak kekurangan perhatian dan kasih sayang. Bagaimana dengan sikap orang tua jenis lainnya, sikap otoriter misalnya?
Sikap otoriter dari pihak orangtua dapat juga berkembang dari sikap perhatian yang berlebihan. Telah dikemukakan bahwa sikap berlebihan perhatian ini akan berakibat buruk bagi perkembangan psikologi anak. Sebagaimana dijelaskan Kartono sebagai berikut; “bila orang tua terlalu banyak melindungi dan memanjakan anak-anaknya, dan menghindarkan mereka dari berbagai kesulitan atau ujian hidup yang kecil, anak-anak pasti menjadi rapuh dan tidak akan pernah sanggup belajar mandiri. Mereka akan selalu bergantung pada bantuan orang tua, ….”
Dari sikap selalu bergantung pada orangtua, akhirnya orangtua menjadi satu-satunya yang berkuasa dan berkehendak. Mulailah
kehidupan otoriter yang kendalinya dipegang oleh orangtua. Mungkin pula sebaliknya, dari sikap otoriter orangtua lahirlah sikap selalu bergantung pada orang tua, sebagaimana dijelaskan kembali oleh Soesilo berikut ini; “sikap otoriter sering dipertahankan oleh orang tua dengan dalih untuk menanamkan disiplin kepada anak. Sebagai akibat dari sikap otoriter ini, anak menunjukkan sikap pasif (hanya menunggu saja), dan menyerahkan segalanya kepada orang tuanya.”
Sementara akibat sikap otoriter ini seringkali menimbulkan kecemasan, mudah putus asa, tidak dapat merencanakan sesuatu, juga penolakan terhadap orang lain, lemah hati atau mudah berprasangka.
Jelaslah bahwa sikap otoriter ini begitu buruk pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Namun, perlu juga diketahui mengapa orangtua sampai bersikap otoriter begitu.
Selain terjadi pada keluarga normal, sikap otoriter ini pun terjadi pada keluarga yang tidak normal, terutama pada ayah yang banyak memiliki kelemahan, yaitu mereka yang; “… hampir selalu absen atau tidak pernah ada di tengah-tengah keluarganya, tidak perduli, dan sewenang-wenang terhadap anak dan istrinya. …pada umumnya alkoholik, dan mempunyai prestasi kriminalitas, sehingga menyebabkan perasaan tidak aman (insekuritas) kepada anak dan istrinya”
Tiga kategori sikap orang tua, yaitu; kurang perhatian, berlebih perhatian, dan otoriter, berakibat tidak baik terhadap perkembangan jiwa anak. Bagaimana seharusnya orang tua bersikap dalam mendidik anak?
Sebelum dibicarakan mengenai sikap orangtua yang benar dalam mendidik anak, akan diuraikan sedikit tentang keluarga itu sendiri.
Ketidak-benaran sikap orangtua seringkali diwarnai pula oleh pandangan yang salah tentang fungsi dan kedudukan keluarga dalam mendidik warga masyarakat, dalam hal ini anak.
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Lebih lanjut, Soesilo kembali menjelaskan, bahwa;
Dalam keluarga, umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya dan sebaliknya. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pengalaman interaksi di dalam keluarga akan menentukan pula pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat (Soesilo 1985).
Mengingat itu semua, maka sikap orangtua yang benar dalam mendidik anak adalah; “… sikap orang tua yang memandang anak sebagai manusia yang sedang berkembang, dan dapat berkembang. Karena itu perlu diberi pertolongan untuk mengembangkan pribadinya lewat pendidikan yang benar. Dalam memberikan pertolongan, anak harus diberi kebebasan, sesuai dengan masa perkembangannya.”
Dalam kehidupan sehari-hari sikap orangtua yang benar itu ditunjukkan sebagai; a. pengakuan dan penghargaan kepada anak, b. orang tua merumuskan peraturan secara jelas tepat dan mudah dimengerti anak, c. peraturan-peraturan dilaksanakan secara konsisten dan uniform (tetap dan seragam), d. hati-hati dalam memilih cara untuk menegakkan
disiplin, e. memperbaiki secepatnya kesalahan-kesalahan yang terjadi, dan f. membina hubungan baik dengan sesama anggota keluarga.
Dalam konteks kuantitas dan kualitas perhatian yang benar diberikan orangtua sesuai dengan kebutuhan, sebagaimana penjelasan Kristiana berikut.
Anak-anak bukanlah manusia dalam bentuk kecil. Anak adalah anak;
mereka mempunyai pikiran, perasaan, sikap, minat yang berbeda dengan orang dewasa. Anak harus dianggap dan diperlakukan sebagai anak. Selain itu setiap anak adalah merupakan satu pribadi yang unik, yang berbeda dengan anak lain. Kita tidak dapat menyamakan dua anak, sekalipun mereka itu anak kembar yang berasal dari satu telur.
Jadi jelas tidak dapat dibenarkan, bila orang tua membandingkan kemampuan dan sifat-sifat satu anak dengan yang lain, karena setiap anak adalah unik. Dalam berkomunikasi hendaknya bersikap menghormati anak, jangan melukai harga diri anak (Kristiana 1985 : 82).
Orangtua merumuskan peraturan yang jelas tepat dan mudah dimengerti. Suatu peraturan akan dapat dijalankan dengan baik apabila sudah dimengerti anak. Oleh karena itu;
Anak memerlukan gambaran yang jelas tentang tingkah laku yang diperbolehkan dan yang dilarang. Dr. Haim Ginoot… membagi tiga daerah disiplin; (1) daerah “Hijau” yang melingkupi tingkah laku yang diperbolehkan bahkan diinginkan. (2) Daerah “Merah” melingkupi tingkah laku yang sama sekali tidak dapat diizinkan bahkan harus dicegah.Dan(3) Daerah “Kuning” melingkupi tingkah laku yang sebenarnya tidak ideal, …. Orang tua perlu merundingkan, mencobakan dan menilai kembali peraturan-peraturan yang dilaksanakan; setelah itu barulah ditetapkan.”
Peraturan yang dirumuskan secara jelas, tepat dan mudah dimengerti itu harus dilaksanakan secara konsisten. Konsisten artinya;
“… tetap (tidak gampang berubah). Dalam proses pendidikan, orang tua dituntut untuk tetap menegakkan disiplin dengan sikap yang tenang serta
ramah, tetapi tegas. Peraturan-peraturan yang sudah digariskan harus dipatuhi oleh anak-anak tanpa pandang bulu.”
Satu hal lagi yang tidak boleh diabaikan dalam menegakkan disiplin adalah kehati-hatian dalam memilih cara untuk itu. Jika kurang hati-hati akan berakibat buruk, terutama bagi ayah, sebab;
Orang tua dengan mudah bisa menimbulkan rasa benci, takut dan tidak aman, bila kurang hati-hati pada waktu memilih cara dalam menegakkan disiplin. ….Maka dalam menegakkan disiplin orang tua harus selalu mementingkan tujuan disiplin itu dan tidak semata-mata disiplin itu sendiri (Munandar 1997).”
Jika peraturan sudah dijalankan secara tegas dan konsisten tetapi masih juga terjadi pelanggaran, maka orangtua harus segera menegur anak untuk segera memperbaiki kesalahannya itu, sebab kalau tidak, “… anak akan melupakan kesalahannya dan mungkin memungkirinya.” Setelah itu, setelah anak dengan sadar dapat memperbaiki kesalahannya maka mulai lagi kehidupan sehari-hari di rumah. Agar peraturan tetap ditegakkan dengan disiplin dan tidak terjadi lagi pelanggaran atas peraturan keluarga tersebut, haruslah dibina hubungan baik dengan sesama anggota keluarga.
Hubungan baik antara orang tua dan anggota keluarga yang lain dapat dicapai dengan cara sebagai berikut;
a. Mendengarkan apa yang diutarakan oleh anak, baik itu berwujud cerita, kesukaran atau pertanyaan-pertanyaan,
b. Menceritakan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh orang tua.
c. Tunjukkan tanda-tanda kasih sayang antara lain dengan membelai, mencium, menepuk bahu dan lain-lain, bila perlu,
d. Jika karena satu atau beberapa hal orang tua menjadi marah dan atau menggunakan sanksi karena pelanggaran anaknya, hubungan orang tua-anak tidak boleh terlalu lama tegang. Secepatnya orang tua harus melupakan kesalahan anaknya dan menciptakan kembali hubungan yang baik.
Berbagai kategori sikap orangtua dalam mendidik anak telah dibahas. Bagi penulis, sikap-sikap tersebut berfungsi sebagai fondamen bagi sikap orangtua terhadap berbagai hal. Termasuk di dalamnya, sikap orangtua terhadap berbagai aktivitas siswa yang diselenggarakan di sekolah, maupun di luar sekolah.
Sikap yang negatif dalam pendidikan anak di rumah hampir dapat dipastikan akan membuat sikap orangtua terhadap apa pun menjadi tidak baik. Selain sikap orangtua dalam mendidik anak, sikap orangtua terhadap sesuatu bergantung pula pada sejauh-mana mereka memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu. Misalnya, sikap orangtua terhadap berbagai aktivitas siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah, bergantung pada pengetahuan mereka tentang program atau aktivitas itu sendiri.
Dengan demikian sikap mendidik orangtua ini yang sangat bergantung pada tingkat pendidikan mereka, ikut memberikan kontribusi bagi kegiatan belajar anak di rumah. Baik dari sisi kuantitas bimbingan maupun kualitasnya.
Dalam konteks peranan tingkat pendidikan orang tua bagi pembelajaran formal siswa di sekolah dilihat sebagai fungsi dan peran sebagai pendidik bukan pengajar. Kemampuan mengarang merupakan sebuah keterampilan yang dapat dilatihkan dan diajarkan, dan itu menjadi tugas guru di sekolah. Peran orang tua yang diwarnai oleh keberagaman tingkat pendidikan formal yang mereka miliki lebih dilihat dari aspek penyelia dan penyedia sarana pembelajaran yang kondusif bagi