• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prestasi Belajar

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Landasan Teori

5. Prestasi Belajar

Belajar merupakan suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam inetraksi aktif dalam lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan serta sikap. Perubahan ini bersifat relative konstan dan berbekas (Winkel 1996 : 53).

Belajar adalah proses perubahan didalam kepribasian manusia dan perubahan ditunjukan dalam bentuk peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikapm kebiasaan, pemahaman, keterampilan (Hakim 2007 : 1)

Morgan, dalam bukunya Introduction to Psychology seperti dikutip oleh M Dalyono ( 2007 : 211) mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Hal senada dikemukakan oleh Hilgar dan Bower seperti dikutipoleh M. Dalyono (2007 : 211) belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.

Menurut Charles E. Skinner yang dikutip M. Dalyono (2007 : 212) mengemukakan “Learning is a process of progressive behavior adaption

bahwa belajar adalah proses penyesuaian tingkah laku kearah yang lebih maju.

Hal serupa dikemukakan oleh Good dan Brophy dalam bukunya Educational Psychology A Realistic Approach seperti dikutip Purwanto (2001:85) mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang dingkat yaitu

Learning is the development new association a result of experiences”

Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu.Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar , maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi- tingginya.

Istilah prestasi belajar merupakan pengalihbahasaan dari kata performance. Menurut Bernardin dan Russel (dalam Ruky : 2002) definisi performance adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi- fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu. Prestasi menekankan pengertian sebagai hasil atau apa yang keluar (outcomes) dari sebuah pembelajaran dan kontribusi mereka pada lembaga Pendidikan (sekolah).

Prestasi belajar adalah suatu hasil belajar yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang

didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu (Hasibuan, 2003:94).

Prestasi belajar merupakan gabungan dari tiga faktor penting yaitu kemampuan dan minat seorang siswa, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas, serta peran dan tingkat motivasi seorang siswa.

Semakin tinggi ketiga faktor diatas, semakin besar pula prestasi belajar siswa.

a. Penilaian Prestasi belajar siswa

Penilaian prestasi belajar amat penting bagi suatu lembaga Pendidikan. Dengan penilaian prestasi tersebut suatu sekolah dapat melihat sampai sejauh mana faktor manusia dapat menunjang tujuan suatu lembaga Pendidikan. Penilaian terhadap prestasi dapat memotivasi siswa agar terdorong untuk belajar lebih baik.

Oleh karena itu diperlukan penilaian prestasi yang tepat dan konsisten. Penilaian prestasi merupakan sebuah proses formal untuk melakukan peninjauan ulang dan evaluasi prestasi belajar siswa secara periodik. Proses penilaian prestasi ini ditujukan untuk memahami prestasi belajar siswa, dimana kegiatan ini terdiri dari identifikasi, observasi, pengukuran dan pengembangan hasil kerja karyawan dalam sebuah lembaga Pendidikan (Panggabean : 2002).

Tahapan pada proses penilaian meliputi : 1) Identifikasi

Identifikasi merupakan tahap awal dari proses yang terdiri atas penentuan unsur-unsur yang akan diamati. Kegiatan ini diawali dengan melakukan analisis pembelajaran agar dapat mengenali unsur-unsur yang akan dinilai dan dapat mengembangkan skala penilaian. Apa yang dinilai adalah yang berkaitan dengan pembelajaran, bukan yang tidak berkaitan dengan pembelajaran.

2) Observasi

Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara seksama dan periodik. Semua unsure yang dinilai harus diamati secara seksama agar dapat dibuat penilaian yang wajar dan tepat.

Observasi yang jarang dilakukan dan tidak berkaitan dengan prestasi belajar akan menghasilkan hasil penilaian sesaat dan tidak akurat.

3) Pengukuran

Dalam pengukuran, para penilai akan memberikan penilaian terhadap tingkat prestasi siswa yang didasarkan pada hasil pengamatan pada tahap observasi.

4) Pengembangan

Pihak penilai selain memberikan penilaian terhadap prestasi belajar siswa juga melakukan pengembangan apabila ternyata terdapat perbedaan antara yang diharapkan oleh guru dengan hasil belajar siswa. Adapun elemen-elemen pokok sistem penilaian

mencakup kriteria-kriteria yang ada hubungannya dengan pelaksanaan pembelajaran, ukuran-ukuran kriteria tersebut, dan pemberian umpan balik kepada siswa.

b. Tujuan Penilaian Prestasi belajar siswa Penilaian prestasi belajar siswa berguna bagi lembaga Pendidikan dan harus bermanfaat bagi siswa. Tujuan penilaian prestasi belajar sebagai berikut:

1) Sebagai dasar dalam pengambilan

keputusan yang digunakan untuk kenaikan kelas atau melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.

2) Untuk mengukur sejauh mana siswa

bisa sukses dalam proses pembelajaran.

3) Sebagai dasar untuk mengevaluasi

efektivitas seluruh kegiatan didalam lembaga Pendidikan.

4) Sebagai dasar untuk mengevaluasi

program latihan dan keefektifan jadwal belajar, metode belajar, struktur organisasi, gaya pengawasan, kondisi belajar dan fasilitas belajar.

5) Sebagai indikator untuk menentukan

kebutuhan akan latihan bagi siswa yang berada didalam lembaga Pendidikan.

6) Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga tercapai tujuan untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik.

7) Sebagai alat untuk mendorong atau

membiasakan guru untuk mengobservasi perilaku siswa supaya diketahui minat dan kebutuhan-kebutuhan siswanya.

8) Sebagai alat untuk bisa melihat

kekurangan dimasa lampau dan meningkatkan kemampuan siswa selanjutnya.

9) Sebagai kriteria dalam menentukan

seleksi dan penempatan kelas bagi siswa yang berprestasi.

10) Sebagai dasar untuk memperbaiki

dan mengembangkan uraian belajar.

Meskipun penilaian prestasi belajar mempunyai banyak manfaat, namun masih banyak guru yang tidak bersedia melakukan. Adapun penyebabnya (Panggabean : 2002) antara lain:

a. Pihak penilai tidak merasa memiliki, karena mereka tidak dilibatkan dalam menentukan sistem penilaian, tidak dilatih untuk dapat menggunakan sistem yang ada dan usulan terhadap sistem yang ada tidak diperhitungkan.

b. Adanya keterlibatan secara pribadi. Guru enggan memberikan nilai yang buruk kepada siswa khususnya siswa yang disukai secara pribadi.

c. Penilaian yang buruk cenderung menimbulkan reaksi untuk bertahan atau bermusuhan daripada untuk mendorong meningkatkan kinerja siswa.

d. Guru maupun siswa menyadari bahwa penilaian yang buruk akan mempengaruhi karir siswa.

e. Dalam kenyataannya proses penilaian prestasi belajar tidak dimanfaatkan untuk menentukan kebijaksanaan dalam pemberian penghargaan.

f. Adanya keraguan dari guru untuk memberikan penilaian yang buruk karena takut tidak mampu untuk memilih dan mengembangkan siswa.

Bagi siswa, penilaian prestasi belajar dapat menimbulkan perasaan puas dalam diri mereka, karena dengan cara ini hasil belajar mereka dinilai oleh lembaga Pendidikan dengan sewajarnya dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam individu siswa dapat diketahui. Kelemahan-kelemahan tersebut harus diterima secara sadar oleh siswa sebagai suatu kenyataan dan pada akhirnya akan menimbulkan dorongan untuk memperbaiki diri.

c. Faktor Penilaian Pretasi

Menurut Richard William (dalam Wungu, 2003:48) menunjuk adanya sembilan kriteria faktor penilaian prestasi belajar siswa, yaitu :

1) Reliable, harus mengukur prestasi

belajar dan hasilnya secara obyektif.

2) Content valid, secara rasional harus

terkait dengan kegiatan belajar.

3) Defined spesific, meliputi segenap perilaku belajar dan hasil belajar yang dapat diidentifikasi.

4) Independent, perilaku belajar dan

hasil belajar yang penting harus tercakup dalam kriteria yang komprehensif.

5) Non-overlaping, tidak ada tumpang

tindih antar kriteria.

6) Comprehensive, perilaku belajar dan

hasil belajar yang tidak penting harus dikeluarkan.

7) Accessible, kriteria haruslah

dijabarkan dan diberi nama secara komprehensif.

8) Compatible, kriteria harus sesuai dengan tujuan dan budaya sekolah.

9) Up to date, sewaktu-waktu kriteria perlu ditinjau ulang menilik kemungkinan adanya peubahan lembaga Pendidikan.

Prestasi belajar dihasilkan oleh adanya 3 (tiga) hal, yaitu :

a. Kemampuan (ability) dalam wujudnya sebagai kapasitas untuk berprestasi (capacity to perform).

b. Kemampuan, semangat, hasrat atau motivasi dalam wujudnya sebagai kesediaan untuk berprestasi (willingness to perform).

c. Kesempatan untuk berprestasi (opportunity to perform)

Prestasi belajar sebagai hasil belajar (output) yang berasal dari adanya perilaku belajar serta lingkungan belajar tertentu yang kondusif.

Dalam menentukan faktor penilaian individu siswa, maka lingkungan

belajar sebagai kesempatan untuk berprestasi yang dapat dipengaruhi oleh adanya fasilitas belajar, bahan, lingkungan fiskal belajar, perilaku belajar, siswa yang lain, pola kepemimpinan dan kebijakan lembaga Pendidikan.

Menurut Gomes (2003:142) penilaian prestasi belajar dapat dilakukan berdasarkan deskripsi perilaku yang spesifik yaitu :

a. Quantity of work, jumlah belajar yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan

b. Quality of work, kualitas belajar yang dicapai berdasarkan syarat- syarat kesesuaian dan kesiapannya.

c. Job knowledge, luasnya pengetahuan mengenai materi pembelajaran dan ketrampilan.

d. Creativeness, keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.

e. Cooperation, kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain.

f. Dependability, kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian pekerjaan.

g. Initiative, semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggungjawabnya.

h. Personal qualities, menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah- tamahan dan integritas pribadi.

Dari beberapa kajian teoritis diatas maka diambil beberapa item kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu :

a. Disiplin belajar (kehadiran) yaitu ketepatan siswa untuk hadir ke sekolah dan kemangkiran dengan ijin atau tanpa ijin guru.

b. Kualitas belajar yaitu mutu dan ketepatan siswa dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

c. Kemampuan (ketrampilan) belajar yaitu kemampuan, pengetahuan dan penguasaan siswa atas teknis pelaksanaan tugas yang diberikan.

d. Potensi yaitu kemampuan siswa untuk bekerja secara proaktif dan inovatif melalui gagasan baru yang dapat meningkatkan kinerjanya.

Alasan dipilihnya kriteria tersebut diatas adalah menurut pengamatan peneliti dari kajian teoritis disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan penelitian dan melihat adanya permasalahan dilapangan.

Pembelajaran Bahasa yang konkret dan kontekstual adalah pembelajaran bahasa yang memiripkan dengan pemerolehan bahasa.

Pemerolehan bahasa berlangsung secara konkret dan kontekstual (Parera 1996 : 83).

Pembelajaran Bahasa secara konseptual mengisyaratkan bahwa:

a. Guru tidak boleh berbicara dan

menguraikan panjang lebar tentang kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

b. Guru mneyampaikan dan

memperkenalkan konsep dan kaidah bahasa Indonesia yang benar dan baik secara bertahap, berjenjang dan bergilir sesuai perjalanan kebahasaan siswa.

c. Guru hanya mengenalkan konsep

dan kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berguna dan diperlukan sesuai perkembangan kognitif siswa ( Parera 1986 : 84).

Dokumen terkait