• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 POSISI DAN HUBUNGAN AHLUSSUNNAH

F. Latihan Soal

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar!

1. Apa yang anda ketahui tentang ijtihad?

2. Jelaskan tentang batasan ijtihad secara ringkas!

3. Sebutkan dasar-dasar hukum dibolehkannya berijtihad!

4. Jelaskan sumber hukum selain Al-Qur’an dan hadits yang dijadikan acuan oleh mujtahid!

5. Apa arti dan maksud ayat di bawah ini!

ِرْمأ ْلا ِلوأ�َو َلو ُ�َّرلا اوُعيِطأ�َو َ َّللا اوُعيِطأ� اوُنَمآ� َنيِ َّلا اَ ُّيأ� َي ْ ُتْنُك ْنإا ِلو ُ�َّرلاَو ِ َّللا َلىإا ُهوُّدُرَف ٍء ْ َش ِف ْ ُتْعَزاَنَت ْنإاَف ۖ ْ ُكمْنِم

ًلايِوأ�َت ُن َسْحأ�َو ٌ ْيرَخ َ ِل َٰذ ۚ ِرِخآ ْلا ِمْوَيْلاَو َِّللِب َنوُنِمْؤُت

BAB KETENTUAN- 6

KETENTUAN

BAGI SEORANG MUJTAHID

Kompetensi Inti:

1. Meyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah WalJamaah Annahdliyyah

2. menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dan menunjukkan sikap tawasuth, tawazun, ta’adul dan tasammuh dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan, factual, konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahu nya tentang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaaan, kebangsaan, kenegaraan, dan perdaban terkait penyebab fenomena dan kejadian serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajiannya spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrfak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di madrasah/sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah

Kompetensi dasar

1. Menyebutkan syarat-syarat menjadi mujtahid 2. Menyebutkan tingkatan mujtahid

3. Menjelaskan pandangan ahlusunnah waljama’ah tentang mujtahid

A. SYARAT-SYARAT MUJTAHID

Para Imam Mazhab

Ijtihad di kalangan ulama NU dipahami sebagai upaya berpikir secara maksimal untuk istinbath (menggali) hukum syar’i yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia secara langsung dari dalil tafshili (al-Qur’an dan Sunnah). Orang yang berijtihad disebut dengan mujtahid.

Menjadi seorang mujtahid bukanlah sesuatu yang mudah. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk menjadi seorang mujtahid. Di antara persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Syarat Ilmiah Kultural yang intinya meliputi a. Menguasai bahasa Arab

Mengetahui bahasa yang baik sangatlah di perlukan oleh seorang mujtahid.Sebab Al-Qur’an di turunkan dengan bahasa arab, dan As-Sunnah juga di paparkan dengan bahasa arab, keduanya merupakan sumber utama hukum islam sehingga seorang mujtahid tidak mungkin bisa menggali sebuah hukum tanpa memahami bahasa arab dengan baik. Menurut al- syaukani tuntutan bagi seorang mujtahid dalam menguasai bahasa arab seperti nahwu,shorof dan lain sebagainya

b. Menguasai Al-Qur’an dan As-Sunnah

Maksudnya adalah mengetahui Al-Qur’an dengan segala ilmu yang terkait dengannya seperti nasih mansuh,’Am, khosh dan lain sebagainya. Untuk menghindari kesalah pahaman seorang mujtahid di syaratkan memahami ayat-ayat hukum secara baik dan benar.

Pengetahuan tentang al-sunnah dan hal-hal yang terkait dengannya harus di miliki oleh seorang mujtahid. Sebab Al- sunnah merupakan sumber hokum kedua setelah al-Qur’an, sekaligus Al-Sunnah berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an.

c. Mengetahui ijmak terhadap persoalan-persoalan hokum.

Pemahaman dan penalaran yang benar merupakan modal dasar yang harus di miliki oleh seorang mujtahid agar produk ijtihadnya bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah di kalangan masyarakat. Dalam kaitan ini mujtahid harus mengetahui batasan-batasan, argumentasi, sistematika, dan proses menuju konsklusi hukum agar pendapatnya terhindar dari kesalahan.

d. Menguasai Ushul Fiqih

Penguasaan secara mendalam tantang ushul fiqih merupakan kewajiban setiap mujtahid. Hal ini di sebabkan karena kajian ushul fiqih antara lain memuat bahasan mengenai metode ijtihad yang harus di kuasai oleh siapa saja yang ingin beristimbat hukum. Di samping mengkaji tentang kaidah kebahasaan seperti amar, nahi, ‘am, khos, juga mengkaji tentang metode maqasid al-syar’iah seperti ijma’, qiyas, istikhsan, maslakhah mursalah,’urf dan sebagainya.

e. Memahami Maqashidusy Syariah secara utuh.

Pengetahuan tentang tujuan syari’at islam sangatlah di perlukan bagi seoarang mujtahid, hal ini di sebabkan karena semua keputusan hukum harus selaras dengan tujuan syari’at islam yang secara garis besar adalah untuk memberi rahmat kepada alam semesta, khususnya untuk kemaslahatan umat manusia.

f. Memahami secara baik sebab-sebab perbedaan pandapat (ikhtilaf) di kalangan ahli fiqih dan menguasai patokan dalam menghadapi ta’arudl (kontradiksi) antar dalil. Pengetahuan tentang hal-hal yang telah di sepakati(ijma’) dan hal-hal yang masih di perselisihkan (khilaf) mutlak diperlukan bagi seorang mujtahid. Hal ini di maksudkan agar seorang mujtahid tidak menetapkan hukum dengan ijma’ para ulama sebelumnya, baik sahabat, tabi’in maupun generasi setelah itu. Oleh karena itu sebelum membahas suatu permasalahan, seorang mujtahid harus melihat dulu status persoalan yang akan di bahas,apakah persoalan itu sudah pernah muncul pada zaman dahulu apa belum ?,

2. Syarat sosio-Historis Umat.

Syarat mujtahid adalah Memahami secara baik setting soio-historis umat dan ciri umum budaya bangsa. Tujuannya adalah Agar hukum Islam tetap dinamis dan mampu mengakomodasi kebutuhan dan persoalan masyarakat yang terus berkembang.

3. Mampu mengaplikasikan istinbath hukum yang diperoleh melalui ijtihad ke dalam sistematika dan bahasa fiqih sehingga mampu dialokasikan secara nyata dalam kehidupan.

Dengan melihat syarat-syarat di atas jelaslah bahwa untuk menjadi seorang mujtahid tidaklah mudah. Tidak semua orang bisa mencapai derajat mujtahid. Hal itu karena seorang mujtahid memikul tugas dan tanggung jawab yang berat terhadap umat. Jadi, hasil ijtihadnya bukanlah rekaan, asumsi, ataupun kesimpulan yang tidak mendasar.

Bagi orang yang tidak memiliki persyaratan, lebih baik untuk ittiba’

atau taqlid. Orang yang taklid berarti dia mengikuti ulama yang

menjadi imamnya. Sedangkan ittiba’ adalah mengikuti pendapat

orang lain dengan mengetahui dalil atau argumennya.

B. TINGKATAN-TINGKATAN MUJTAHID

Mujtahid memiliki tingkatan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Para ulama berbeda-beda dalam menentukan derajat atau tingkatan mujtahid. Imam Al-Ghazali dan Ibnul Hammam membagi mujtahid menjadi dua yaitu:

1. Mujtahid Muthlak Artinya mujtahid yang memenuhi semua kriteria syarat-syarat ijtihad

2. Mujtahid Muntashib Artinya mujtahid yang hanya berijtihad dalam bidang-bidang tertentu saja karena keterbatasan ilmunya.

Sedangkan Ibnul Qayyim menyebutkan ada empat tingkatan mujtahid, yaitu:

1. Mujtahid yang memahami Al-Qur’an, Sunnah, dan Khabar Shahabat. sehingga ia mampu memberikan solusi hukum yang dihadapi oleh masyarakat. Meskipun pendapatnya mengikuti pendapat orang lain namun ia dipandang sebagai mujtahid, bukan muqallid (orang yang bertaqlid).

2. Mujtahid muqayyad yaitu mujtahid yang hanya melakukan ijtihad di lingkungan madzhab imam yang diikutinya.

3. Mujtahid fil madzhab, yaitu mujtahid yang hanya meng hubung- kan dirinya dengan madzhab tersebut.

4. sekelompok orang yang menghubungkan dirinya kepada suatu madzhab, mengetahui fatwa-fatwa dalam madzhab tersebut.

Pendapat lain dikemukakan oleh As-Suyuthim Ibnu Shalah, dan An Nawawi, yang membagi tingkatan mujtahid menjadi lima, yaitu;

1. Mujtahid Mustaqill yaitu mujtahid yang membangun fikih atas dasar metode dan kaidah yang ditetapkannya sendiri. Keempat imam madzhab termasuk ke dalam kategori ini.

2. Mujtahid Mutlaq ghairu mustaqill yaitu seseorang yang telah memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad tetapi tidak memiliki metode tersendiri dalam melakukan ijtihad namun mengikuti metode imam mereka dalam berijtihad.

3. Mujtahid Muqayyad yaitu mujtahid yang memiliki kualifikasi syarat-syarat ijtihad dan mampu menggali hukum-hukum dari sumber-sumbernya tetapi tidak mau keluar dari dalil-dalil dan metodologi madzhabnya.

4. Mujtahid Tarjih adalah ahli fikih yang berupaya untuk memper- tahankan madzhab imamnya, mengetahui seluk-beluk pandangan imamnya, dan mampu mentarjih pendapat yang kuat dari imamnya dan pendapat-pendapat dari madzhabnya.

5. Mujtahid Fatwa, yaitu ahli fikih yang berupaya menjaga madzhabnya, mengembangkannya, dan mengetahui basis argumentasi madzhabnya serta mampu memberikan fatwa pada kerangka pemikiran yang ditentukan imam madzhabnya

namun tidak mampu beristidlal (menjadi salah satu hukum islam).

Istidlal menurut Al-Syafi’i adalah menetapkan dalil dari nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah)

atau dari ‘ijma dan selain dari keduanya.

C. LATIHAN SOAL

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar!

1. Jelaskan pengertian Mujtahid muqayyad!

2. Sebutkan dan jelaskan 2 tingkatan mujtahid menurut Imam Al- Ghazali dan Ibnul Hammam!

3. Jelaskan pengertian Mujtahid Muthlaq Mustaqill!

4. Sebutkan syarat-syarat mujtahid!

5. Jelaskan mengapa mujtahid harus memahami setting soio-historis umat dan ciri umum budaya bangsa!

BAB TAQLID, ITTIBA’, 7

TARJIH DAN TALFIQ

Kompetensi Inti:

1. Meyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah WalJamaah Annahdliyyah

2. menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung- jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dan menunjukkan sikap tawasuth, tawazun, ta’adul dan tasammuh dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan, factual, konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahu nya tentang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaaan, kebangsaan, kenegaraan, dan perdaban terkait penyebab fenomena dan kejadian serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajiannya spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrfak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di madrasah/sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan dalam persepektif Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah

Kompetensi Dasar

1. menjelaskan arti kata taklid secara bahasa dan istilah

2. menyebutkan hukum taklid menurut Ahlussunnah wal Jama’ah 3. menyebutkan pengertian Taqlid, ittiba’, dan talfiq.

4. menyebutkan pandangan ulama ushul fiqih dan ulama fiqih dalam masalah talfiq

A. PENGERTIAN TAKLID DAN HUKUMNYA

Taklid Artinya:

Menurut Bahasa berasal dari kata qallada yang artinya mengikat atau mengikut

Menurut Istilah Mengamalkan ucapan orang lain tanpa didasari oleh suatu dalil.

Taklid adalah mengamalkan ucapan orang lain tanpa mengetahui landasan dan basis argumentasi yang digunakan.

Bertaklid tidak selalu identik dengan mengikut secara sembarangan atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan taqlidul a’ma (tanpa sama sekali mempertimbangkan apakah pendapat yang diikuti itu benar ataukah sesat). Dalam kehidupan beragama, taklid memang tidak bisa dihindari. Seorang anak kecil yang sedang belajar agama seperti tata cara berwudlu, shalat, puasa, dan ibadah-ibadah mahdlah yang lain tentu dia mengikuti begitu saja apa yang dikatakan oleh gurunya tanpa membantah atau menanyakan argument-argumen yang digunakan oleh gurunya. Begitu pula orang yang sudah tua renta baru belajar agama atau orang yang kecerdasannya kurang.

Tentu orang yang demikian tidak bisa dibebani hal-hal yang berat.

Jika mereka harus dipaksa untuk mengetahui semuanya secara detail hingga kepada dalil-dalilnya maka mereka akan merasa keberatan dan justru enggan beribadah.

Meskipun demikian bukan berarti kita membiarkan orang untuk selalu mengikuti pendapat orang lain tanpa menanyakan dasar hukum yang digunakannnya. Oleh karena itu, dibentuknya berbagai pengajian, dalam NU ada yang namanya Bahtsul Masail. Bahtsul masail adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kwalitas keilmuan seseorang agar lebih tinggi lagi. Harapannya agar mereka tidak menjadi muqallid a’ma yaitu orang yang mengikut pendapat orang lain tanpa didasari pengetahuan terhadap argumen yang diguanakan oleh orang tersebut.

Akan tetapi bukan berarti bahwa orang yang sudah mengetahui sekilas dalil-dalil dalam agama itu sudah bisa dikatakan tidak bertaklid. Sebab

bagaimana pun juga dia belum memenuhi syarat untuk menjadi mujtahid.

Taklid adalah mengamalkan ucapan orang lain tanpa

mengetahui landasan dan basis argumentasi yang digunakan.

B. HUKUM TAKLID MENURUT AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH

Asy-Syaukani mengomentari masalah ijtihad dan taklid. Ia berpendapat bahwa ijtihad wajib bagi orang yang memiliki kwalifikasi mujtahid dan melarang seseorang menjadi muqallid (bertaklid).

Pendapatnya didasarkan kepada firman Allah dalam Al-Qur’an:

ِرۡمأ ۡلٱ� ِلْوأ�َو َلو ُ�َّرلٱ� ْاوُعيِطأ�َو َ َّللٱ� ْاوُعيِطأ� ْآوُنَماَء َنيِ َّلٱ� اَ ُّيأ�آٰ�َي ۡ ُتنُك نإا ِلو ُ�َّرلٱ�َو ِ َّللٱ� َلىإا ُهوُّدُرَف ٖء ۡ َش ِف ۡ ُتۡعَزٰ�َنَت نإاَف ۖۡ ُكمنِم ٥9 ًلايِوۡأ�َت ُن َس ۡحأ�َو ٞ ۡيرَخ َ ِل َٰذ ِۚرِخآأ ۡلٱ� ِمۡوَيۡلٱ�َو ِ َّللٱ�ِب َنوُنِمۡؤُت

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu

benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS An- Nisa: 59)

Menurut Asy-Syaukani taklid dilarang dalam agama Islam karena Allah memerintahkan umat Islam mengembalikan perasalahan kepada Allah dan Rasul-Nya jika mereka berselisih pendapat. Akan tetapi, mereka jika tidak bisa mendapatkan jawaban dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi, maka mereka diperintahkan untuk berijtihad sesuai dengan pandapatnya sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabbal.

Pandapat Syaukani di atas dapat diterima oleh pengikut empat madzhab, akan tetapi masalah yang muncul adalah, bagaimana jika seseorang tidak memiliki kualifikasi dalam berijtihad? Dalam hal ini, menurut pengikut madzhab, dia harus bertaklid kepada salah satu dari empat madzhab. Sebab jika orang yang awam dalam hukum agama melakukan ijtihad, maka yang terjadi adalah kerusakan dalam bidang agama karena setiap orang akan memiliki pendapat yang berbeda- beda. Jika dengan empat mujtahid saja pendapatnya bisa bervariasi bagaimana jika setiap orang bebas melakukan ijtihad? Tentu banyak urusan akan terbengkalai karena setiap orang mempersiapkan diri untuk menjadi mujtahid.

Mengomentari permasalahan ini, Asy-Syaukani berpendapat bahwa orang yang tidak memiliki kemampuan untuk berijtihad maka ia diperintahkan bertanya kepada mujtahid tentang pendapat mereka disertai argumen-argumennya. Cara inilah yang dipraktekkan oleh para sahabat dan tabi’in. Dengan cara ini mereka tidak lagi disebut sebagai orang yang bertaklid, akan tetapi naik satu tingkat lebih tinggi, yaitu orang yang berittiba’ (mengikuti pendapat orang lain tetapi mengetahui dalilnya). Dengan demikian ia tidak haram.

Dari sedikit paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ijtihad adalah tugas para ulama yang memiliki kualifikasi berijtihad. Sedangkan bagi orang yang belum memiliki kualifikasi ijtihad, maka ia diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama sekaligus meminta penjelasan

argumen atau dalil yang digunakan. Perintah bertanya kepada ulama ini juga terdapat di dalam Al-Qur’an:

ِرۡكِّلٱ� َلۡهأ� ْآوُلأ ۡسَف ۖۡمِ ۡيَلإا آ ِحوُّن ٗلااَجِر َّلاإا َ ِلۡبَق نِم اَنۡلَ�ۡرأ� آاَمَو َنوُمَلۡعَت َلا ۡ ُتنُك نإا

Artinya: Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS An-Nahl: 43)

Jika seseorang tidak memiliki kualifikasi dalam berijtihad, dia

harus bertaklid kepada salah satu dari empat madzhab.

Tujuannya agar tidak terjadi kerusakan karena memaksakan

untuk berijtihad padahal tidak mempunyai kemampuan

untuk berijtihad.

Jadi, ada taklid yang diharamkan dan ada taklid yang dibolehkan.

Adapun taklid yang diharamkan adalah sebagai berikut:

1. Taklid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang-orang terdahulu sedangkan pendapat mereka bertentangan dengan Al-Quran dan hadits.

2. Taklid kepada seseorang yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya.

3. Taklid tentang akidah/keimanan bagi yang mampu berfikir. Adapun bagi orang yang tidak mampu berfikir (dungu) maka hukum nya boleh dengan catatan tidak tercampur dengan keraguan.

Dengan demikian orang wajib berfikir dalam masalah keimanan, kecuali bagi mereka yang tidak mampu sama sekali (dungu), itupun harus dengan perasaan mantap.

4. Taklid kepada perkataan atau pendapat orang sedangkan orang yang bertaklid mengetahui bahwa pendapat orang itu salah.

Adapun hukum taklid yang dibolehkan adalah taklidnya orang awam tentang hukum Islam, namun orang awam tersebut masih diwajibkan untuk selalu menuntut ilmu dan meningkatkan kwalitas diri terhadap pengetahuan hukum-hukum Islam.

Ingat.. Ada taklid yang di perbolehkan dan ada taklid

yang tidak diperbolehkan.

Walaupun ada taklid yang di perbolehkan, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi orang islam. Itu sebagai upaya untuk

meminimalisir taklid.

C. DASAR DIPERBOLEHKANNYA TAKLID 1. firman Allah:

َنوُمَلْعَت َلا ْ ُتْنُك ْنإا ِرْكِّلا َلْهأ� اوُلأ� ْ�اَف

Artinya: Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS An-Nahl: 43)

Ayat di atas menunjukkan perintah kepada orang-orang yang tidak mengetahui untuk taklid kepada para mujtahid.

2. Tidak semua sahabat menjadi mufti atau tempat bertanya para sahabat yang lain. Banyak juga sahabat yang masih awam. Mereka juga bertanya dan mengikut para sahabat yang menjadi mujtahid.

Dan jumlah orang awam itu jauh lebih banyak daripada orang yang pandai.

D. ITTIBA’, TARJIH DAN TALFIK 1. Ittiba’

Menurut bahasa Ittiba’ berasal dari bahasa arab:

Kata Artinya

ittaba’a (

َعَبَتا

) Berarti mengikuti iqtifa’ (

ءافتقا

) Menelusuri jejak Qudwah (

ةودق

) Bersuri teladan Uswah (

ةو�أ�

) Berpanutan

Sedangkan menurut istilah ittiba’ adalah mengikuti pendapat seseorang baik itu ulama atau yang lainnya dengan didasari pengetahuan dalil yang dipakai oleh ulama tersebut. Ibnu Khuwaizi Mandad mengatakan: “Setiap orang yang engkau ikuti dengan hujjah dan dalil padanya, maka engkau adalah muttabi’(orang yang mengikuti).”

Menurut ulama ushul, ittiba` adalah mengikuti atau menuruti semua yang diperintahkan, yang dilarang, dan dibenarkan Rasulullah SAW. Dengan kata lain ialah melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam sesuai dengan yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW.

َّنإا َ َّللا اوُقَّتاَو اوُ َتْناَف ُهْنَع ْ ُكاَ َن اَمَو ُهو ُذ ُخَف ُلو ُ�َّرلا ُ ُك َتَآ� اَمَو

ِباَقِعْلا ُديِد َش َ َّللا

Artinya: Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkan- lah. dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah amat keras hukumnya. (Al hasr:7)

Ittiba’ adalah mengikuti pendapat orang lain dengan mengetahui dalil atau argumennya. Misalnya seseorang mengikuti pendapat Imam Syafii tentang wajibnya membaca Al-Fatihah dalam shalat, maka ia harus mengetahui juga dalil-dalil yang mewajibkan membaca Al- Fatihah dalam shalat. Begitu pula dalam masalah-masalah fikih yang lain.

Dalam suatu masalah kadang kala ada dua dalil yang berbeda.

Apabila dalil tersebut bisa dikompromikan, maka harus dikompromikan.

Apabila salah satu nasikh (menghapus) dan yang satunya lagi mansukh (yang dihapus) maka yang dipakai adalah dalil yang nasikh.

Apabila ada sababun nuzul (sebab turun ayat) atau sababul wurud (sebab adanya hadits) maka perlu diteliti barangkali ada konteks yang berhubungan. Apabila haditsnya ada yang shahih dan ada yang dla’if, maka lebih dikuatkan hadits yang shahih. Namun jika dalil-dalil itu sudah tidak dapat dikompromikan lagi harus ditempuh jalan tarjih yaitu menguatkan salah satu di antara keduanya.

2. Tarjih

Tarjih adalah menguatkan salah satu dari dari dua dalil atas lainnya, sehingga diketahui lebih kuat kemudian diamalkan, dan dalil yang lemah disisihkan. Jadi yang dimaksud dengan Tarjih adalah memenangkan salah satu di antara dua dalil yang bertentangan, karena ternyata yang satu lebih kuat dari pada yang lainnya

Misalnya, ada hadits dari Abu Hurarah bahwa orang yang pada waktu shubuh masih dalam keadaan junub (belum mandi besar) maka tidak sah puasanya. Akan tetapi, di sisi lain ada hadits dari Aisyah bahwa pada bulan puasa Nabi dalam keadaan junub (belum mandi besar) dan Nabi tetap melanjutkan puasanya. Kedua dalil itu bertentangan, keduanya kuat, tidak ada keterangan nasikh dan mansukh. Maka hadits Aisyah lebih dikuatkan karena Aisyah adalah istri Nabi yang jauh lebih mengetahui seluk beluk kehidupan rumah tangga beliau daripada Abu Hurairah, termasuk dalam hal junub dan mandinya. Menguatkan salah satu hadits inilah yang disebut sebagai tarjih.

3. Talfik

Talfik menurut bahasa Berarti melipat, manyamakan” atau “merapatkan dua tepi yang berbeda”

Taklif menurut istilah Mengambil atau mengikuti hukum dari suatu peristiwa atau kejadian dengan mengambilnya dari berbagai macam madzhab.

Talfik adalah menggunakan dua madzhab dalam satu amal perbuatan. Misalnya, seseorang mengikuti madzhab Imam Syafi’i dalam hal mengusap sebagian kepala, namun ia menggunakan madzhab Imam Maliki seperti tidak wajib membaca basmalah dalam shalat. Dan menggunakan madzhab Hanafi dalam hal tidak batalnya bersentuhan antara laki-laki dan perempuan.

Orang yang demikian tidak sah shalatnya. Sebab wudlunya tidak sah menurut Imam Maliki karena hanya mengusap sebagian kepala dan tidak seluruhnya. Sedangkan shalatnya tidak sah menurut Imam Syafii karena tidak membaca basmalah dalam Al-Fatihah. Dan wudlunya juga

batal menurut Imam Syafii karena ia bersentuhan dengan perempuan dewasa yang bukan muhrimnya.

Pada dasarnya talfiq dibolehkan dalam agama, selama tujuan melaksanakan talfiq itu semata-

mata untuk melaksanakan pendapat yang paling benar setelah meneliti dasar hukum

dari pendapat itu dan meng- ambil yang lebih kuat dasar

hukumnya.

E. PANDANGAN ULAMA USHUL DAN ULAMA FIKIH MENGENAI TALFIK Menurut para ulama ushul dan ulama fikih hukum talfik itu tidak boleh apabila dilakukan dalam satu perbuatan dan mencari yang ringan- ringan saja. Misalnya, dalam hal bersentuhan kulit antara laki-laki dan wanita mengikuti Imam Hanafi yang berpendapat tidak batal. Dalam hal mengusap kepala mengikuti Imam Syafi’i yang menganggap cukup mengusap sebagian kepala, tidak perlu seluruhnya. Dalam masalah najis anjing mengikuti pendapat Imam Maliki yang mengatakan tidak najis.

Dokumen terkait