• Tidak ada hasil yang ditemukan

Leibniz (1646-1716 M)

Dalam dokumen Kata-Kata Pengantar Dari Buku PENULIS (Halaman 118-129)

FILSAFAT MODERN

A. Aliran Rasionalisme

3. Leibniz (1646-1716 M)

Gotfried Eilhem von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. Ia filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintah menjadi` atase, membantu pejabat

127 Ahmad Tafsir, Op.cit., h. 134.

tinggi negara. Pusat metafisikanya adalah idea tentang subtansi yang dikembangkan dalam konsep monad.128

Leibniz lahir di Leipzig, Jerman. Sekolah di Nicolai di Leipzig. Ia menguasai banyak bahasa dan banyak bidang pengetahuan. Pada usia 15 tahun dia sudah menjadi mahasiswa di Universitas Leipzig, mempelajari hukum, tetapi ia juga mengikuti kuliah matematika dan filsafat.

Pada tahun 1666, takkala ia belum berumur 21, ia mnenerima ijazah Doktor dari universitas Altdorf, dekat Nuremberg.129

Pada januari maret 1673 Leibniz pergi kelondong menjadi atase politik. Di sana ia dapat bertemu dengan banyak ilmuan seperti Robert Boyle. Tahun 1675 ia menetap di Hannover, dari sana ia lajan-jalan ke Londong dan Amsterdam. Di Amsterdam ia bertemu dangan Spinoza.

Metafisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada Subtansi. Bagi Spinosa alam semesta ini mekanistisdan keseluruhannya bergantung kepada sebab, sementara subtansi pada Leibniz ialah prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakanNya. Kita lihat bahwahanya ada satu subtansi, Leibniz berpendapat bahwa subtansi itu banyak. Ia menyebut subtansi-subtansi itu monad. Setiap monad berbeda satu dengan yang lain, Tuhan (sesuatu yang supermonad yang tidak dicipta)

128Ahmad Syadali, Muzakkir, Op.cit, h, 108.

129Ahmad Tafsir, Op.cit

adalah pencipta monad-monad itu. Maka karya Laibniz berjudul monadology (studi tentang monad) yang ditulis 1714. Ini adalah singkatan metasfisika Leibnis.130

B. Idealisme

Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa (mind) dan spirit (roh). Istilah idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini telah dimiliki oleh plato dan filsafat modern dipelopori oleh J.G. Fichte, Sckelling, dan Hegel.131

Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan materi bergantung kepada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistimologi yang digunakan oleh idealisme. Mereka menggunakan argumen yang mengatakan bahwa obyek- obyek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan, argumen orang-orang idealis mengatakan bahwa obyek-obyek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari ispirit.

Idealisme secara umum telah dihubungkan dengan Rasionalisme, ini adalah mazhab epistimologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan Rasionalisme dalam epistimologi ialah emperisme yang mengatakan bahwa pengetahuan bukanlah diperoleh lewat

130 Ahmad Syadali, Op.cit., h. 109-110

131Ibid., Syadali, Muzakkir, Op.cit . 110.

rasio (akal), melainkan melalui pengalaman empiris.

Orang-orang emperisme sangat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung kepada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.132

Plato sering disebut sebagai seorang idealis sekalipun idealnya tidak khusus, (spesifik) mental, tetapi lebih merupakan obyek universal (mirip dengan defenisi pada Aristoteles, pengertian umum pada Socrates). Akan tetapi ia sependapat dengan idealisme modern yang mengajarkan bahwa hakikat penampakan (yang tampak), itu berwatak (khas) spiritual. Ini terlihat dengan jelas pada legenda manusia gunannya yang terkenal. Pangangan ini dikembangkan oleh Platinus.

Pendirinya antara lain:

1. J.G. Fichthe (1762-1914 M)

Johann Gottlieb Fichthe adalah filosof Jerman. Ia belajar teologi di Jena pada tahun 1780-1788 M.

Berkenalan dengan filsafat Kant di Leipzig 1790 M.

Berkelana ke Konigsberg untuk menemui Kant. Buku itu dipersembahkan kepada Kant. Pada tahun 1810-1812 M. Ia menjadi Rektor Universitas Berlin.

Filsafatnya disebut Wissenscftslehre (ajaran ilmu pengetahuan). Melalui metode deduktif. Fichte mencoba menerangkan hubungan Aku (Ego). Karena Ego berpikir, mengiakan diri maka terlahirlah non-Ego (benda-benda).

132Ahmad Syadali, Muzakkir, h. 110.

Dengan secara dialektif (berpikir dengan metode: tese, anti tese, sintese) Fichte mencoba menjelaskan adanya benda- benda. Tese: Ego atau aku meneguhkan diri bahwa ia ada.

Antitese: meneguhkan diri sebagai ada baru mungkin jika Ego (Aku) membedakan diri dengan yang non-Ego (benda-benda). Jadi Ego meneguhkan adanya yang non- Ego. Sintesa: karena Ego sekarang tidak lagi tunggal, maka Ego dalam kesadarannya berhadapan dengan suatu dunia.

Perbedaan dengan kesatuan telah memasuki pengalamannya. Keduanya Ego dan non Ego (dunia), bukan dualisme yang mutlak, sebab itu hanyalah merupakan aktivitas atau perbuatan Ego yang menciptakan.133

Secara sederhana, dialektika Fichte itu dapat diterangkan sebagai berikut: manusia memandang objek benda-benda dengan indranya. Dalam mengindera objek tersebut, manusia berusaha mengetahui yang dihadapinya maka berjalanlah proses intelektual untuk membentuk dan mengabstraksikan objek itu menjadi pengertian seperti yang dipikirkannya.

Dengan demikian jelaslah bahwa realitas merupakan buah hasil aktivitas pikir subyek. Pandangan dia mengenai etika adalah bahwa tugas moral manusia didasarkan atas pikiran bahwa manusia berkewajiban menghargai dirinya sebagai makhluk yang bebas, bahwa ia senangtiasa berbuat dengan tidak melecehkan kebebasan orang lain. Fichte menganjurkan supaya kita memenuhi tugas, dan hanya

133Atang Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, Op.cit., h. 261.

demi tugas. Tuagslah yang menjadi pendorong moral. Isi hukum moral adalah berbuatlah menurut kata hatimu.134

Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus berupa langkah menuju kesempurnaan spiritual. Itu hanya dapat dicapai dalam masyarakat yang anggota-anggotanya adalah pribadi yang bebas merealisasikan diri mereka dalam kerja untuk masyarakat.

Pada tingkat yang lebih tinggi, keimanan dan harapan manusia muncul dalam kasih sayang Tuhan.

2. F.W.S. Schelling (1775-1854 M)

Friedrich Wilhelm Joseph Schelling sudah mencapai kematangan sebagai filosof pada waktu ia masih amat muda. Pada tahun 1798 M, ketika usianya baru 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya pemikirannya selalu berkembang. Namun, kontinuitasnya tetap ada. Pada periode terkahir dalam hidupnya ia mencurahkan perhatiannya pada agama dan mistik. Dia adalah filosof idealis Jerman yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel. Ia pernah menjadi kawan Fichte. Bersama Fichte dan Hegel, Schelling adalah idealis Jerman yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hagel.

Seperti Fichte, Schelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan yang dilalui intelek dalam proses mengetahui, semacam epistemologi. Fichte memandang

134 Ahmad Syadali, Mudzakir, Op.cit., h. 111-112.

alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis kebebasan moral, Schelling membahas realitas lebih obyektif dan menyiapkan jalan bagi idalisme absolut Hegel. Dalam pandangan Schelling, realitas adalah identik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara dialektis.

Akan tetapi, ia berbeda dalam berbagai hal dengan Hegel.

Pada Schelling, juga pada Hegel, realitas adalah proses rasional evolusi dunia menuju realisasi berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Kita dapat mengetahui dunia secara sempurna dengan cara melacak proses logis perubahan sifat dan sejarah masa lalu.

Tujuan proses adalah suatu keadaan kesadaran diri yang sempurna, Schelling menyebut proses ini identitas absolut, Hegel menyebutkan ideal. Pada bagian-bagian akhir hidupnya, Schelling membantah panteisme yang pernah dianutnya. Ia menjadi voluntaris dan melancarkan kritik terhadap semua bentuk Rasionalisme. Alam semesta ini, menurutnya, tidak pernah dibayangkan sebagai sistem rasional. Sejak tahun 1809 M, ia berusaha mengembangkan metafisika epirisisme. Di sini, ia memperlihatkan bahwa susunan rasional adalah kontruks hipotesis yang memerlukan pembuktian nyata, baik pada alam maupun pada sejarah. Ia juga menambahkan bahwa kategori agama pada akhirnya merupakan pernyataan yang lebih berarti daripada realitas yang lain.

Reese (1980 : 511) menyatakan bahwa filsafat Schelling berkembang melalui lima tahap:

1) Idealisme subjektif.

Pada tahap ini, ia mengikuti pemikiran Fichte.

2) Filsafat alam.

Pada tahap ini, ia menerapkan prinsip atraksi dan repulsi dalam berbagai problem filsafat dan sains.

Alam dilihatnya sebagai vitalistis, self-creative, dan motivasi oleh suatu proses dialektif.

3) Idealisme transendental atau idealisme objektif.

Filsafat alam dilengkapi oleh suatu kesadaran absolut dalam sejarah. Filsafatnya tentang seni memperlihatkan pendapat itu. Ia menyatakan bahwa seni merupakan kesatuan antara subyek dan obyek, roh dan alam. Tragedi dipandang sebagai benturan antara keharusan dan kebebasan, yang didamaikan oleh kesediaan menerima hukuman secara jantan. Hukuman itu memperlihatkan kesediaan kita menerima realitas dan idealitas.

4) Filsafat identitas.

Yang absolut itu menjadi lebih penting kedudukannya, dipandang sebagai identitas semua individu isi alam.

5) Filsafat positif.

Pada tahap terakhir ini pemikirannya menekankan nilai mitologi dan mengakui perbedaan yang jelas antara Tuhan dan alam semesta. Pada tahap ini mengikuti sebagian pemikiran Jacob Boeme dan neo- Platonisme.135

Dalam filsafatnya, ia mengatakan bahwa jikalau kita memikirkan pengetahuan kita (objek pemikiran), kita akan selalu membedakan antara objek yang di luar kita dan

135Ibid., h.. 133 – 114.

penggambaran obyek-obyek itu secara subyektif di dalam diri kita (subyek). Penggambaran yang suyektif itu kemudian menjadi sasaran pemikiran kita.

Tentang manusia dan alam sebagai yang diketahuinya, Schelling menggambarkan bahwa ketika orang mengadakan penyelidikan ilmiah tentang alam, subyek (jiwa, roh) mengajukan pertanyaan pada alam, sedangkan alam dipaksa untuk memberikan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan itu. Bahwa alam dapat menjawab pertanyaan itu, ini berarti bahwa alam itu sendiri bersifat akal atau idea. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa alam tidak lain adalah roh/jiwa yang tampak, sedangkan roh adalah alam yang tak tampak.

Di sini, alam yang obyektif dan alam yang subyektif mewujudkan satu kesatuan. Pandangan Schelling tentang alam diperkuat dengan teorinya tentang Aku Yang Mutlak.

Bahwa aku mutlak mengobyektifkan dirinya dalam alam yang ideal, jadi alam sebagai yang diciptakan merupakan penampakan dari alam yang menciptakan.

Filsafat Schelling dapat diringkaskan sebagai berikut ini. Bahwa Yang Mutlak atau Rasio Mutlak adalah sebagai identitas murni atau indiferensi, dalam arti tidak mengenal pembedaan antara yang subyektif dan obyektif. Yang Mutlak menjelmakan diri dalam dua potensi, yaitu yang nyata (alam sebagai obyek) dan ideal (gambaran alam yang subyektif dari subyek). Yang Mutlak sebagai identitas mutlak menjadi sumber roh (subyek) dan alam (obyek) yang subyektif dan yang obyektif, yang sadar dan yang tak sadar. Tetapi, Yang Mutlak itu sendiri bukanlah roh dan

bukan pula alam, bukan yang obyektif dan bukan pula yang subyektif, sebab Yang Mutlak adalah identitas mutlak atau indiferensi mutlak.136

Dengan mengikuti logika-tiga Fichte (tesis-anti tesis, sintesis), ia menerapkannya pada alam dan pada sejarah. Dari sini, Schelling mem-bangun tiga tahap sejarah, yaitu :

a) Masa primitif yang ditandai oleh dominasi nasib;

b) Masa Romawi yang ditandai oleh reaksi aktif manusia terhadap nasib, ini masih berlangsung hingga sekarang; dan

c) Masa datang yang akan merupakan sintesis dua masa itu yang akan terjadi secara seimbang dalam kehidupan; di sana yang aktual dan yang ideal akan bersintesis.

3. G.W.F. Hegel (1770-1031 M)

George Wilhem Friedrich Hegel lahir pada tahun 1770 M di Stuttgart. Ini adalah tahun-tahun Revolusi Perancis yang terkenal (1789 M), juga merupakan tahun-tahun berbunganya kesusastraan Jerman. Lessing, Goethe, dan Schiller juga hidup pada periode ini. Friedrich Holderlin, sastrawan puisi Jerman terbesar, adalah kawan dekat Hegel, yang lahir pada tahun 1770 M, sama dengan pengarang lagu yang kondang, Beethoven. Di Universitas Tubingen, ia belajar teologi. Tahun 1781 M, ia memperoleh gelar doktor dalam bidang teologi. Oleh

136Ibid., h. 114-115.

karena itu, karya Hegel yang mula-mula adalah mengenai agama Kristen, seperti The Life of Jesus dan The Spirit of Christianity.137

Tahun 1801 M, ia bergabung dengan Schelling di Universitas Jena menjadi pengajar mata kuliah filsafat.

Pada saat inilah, ia menuliskan sistemnya yang ia buat sebagai jawaban atas posisi Kant. Oleh karena itu, pengaruh Kant ada pada Hegel. Akan tetapi, Hegel tidak pernah menjadi pengikut Kant; perbedaan antara keduanya lebih besar daripada perbedaan Plato dan Aristoteles, Hegel tidak akan menemukan metode dialektikanya tanpa memulainya dari dialektika transendental yang dikembangkan oleh Kant dalam Critique of Pure Reason.

Sekalipun demikian, filsafat Hegel amat berbeda dari filsafat Kant, terutama tentang keterbatasan akal.138

Idealisme di Jerman mencapai puncaknya pada masa Hegel. Ia termasuk salah satu filosof Barat yang menonjol.

Inti filsafat Hegel adalah konsep Geists (roh, spirit), suatu istilah yang diilhami oleh agamanya, ia berusaha menghubungkan Yang Mutlak itu dengan Yang Tidak Mutlak. Yang Mutlak itu Roh (jiwa), menjelma pada alam sehingga sadarlah ia akan dirinya. Roh itu dalam intinya idea, artinya berpikir. Dalam sejarah kemanusiaan, sadarlah roh ini akan dirinya.

Demikian pula, kemanusiaan merupakan bagian pula dari idea mutlak, Tuhan sendiri. Idea yang berpikir itu sebenarnya adalah gerak yang menimbulkan gerak lain.

137Ibid., h. 265.

138Ibid., h. 265.

Gerak ini menimbulkan tesis yang dengan sendirinya menimbulkan gerak yang bertentangan, antitesis. Adanya tesis dan anti tesisnya itu menimbulkan sintesis dan ini merupakan tesis baru yang dengan sendirinya menimbulkan antitesisnya dan munculnya sintesis baru pula. Demikianlah proses roh atau idea yang disebut Hegel:

Dialektika. Proses itulah yang menjadi keterangan untuk segala kejadian. Proses itu berlaku menurut hukum akal.

Sebab itu, yang menjadi aksioma Hegel: apa yang masuk akal (rasional) itu sungguh riil, dan apa yang sungguh itu masuk akal.

Dalam dokumen Kata-Kata Pengantar Dari Buku PENULIS (Halaman 118-129)

Dokumen terkait