• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

2. Letak Geografis pondok pesantren Daarul Muttaqiin

Secara gografis pondok pesantren Daarul Muttaqiin berada di Desa Jotang Beru, Kecamatan Empang Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan batas- batas sebagai berikut.

- Sebelah Utara : Dusun Panto Daya

- Sebelah Timur : Persawahan Dusun Panto Daya - Sebelah Selatan : Persawahan Dusun Panto Daya - Sebelah Barat : Jalan Raya lintas Tero-Jotang Beru

Pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Berumemiliki areal yang luasnya 11.799 m2.

3. Keadaan Santri Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru

Dalam proses belajar mengajar di pondok pesantren, santri menduduki peranan yang sangat penting, karena siswa yang akan menjadi tolak ukur berhasil tidaknya pendidikan. Disamping itu, santri juga merupakan sasaran tujuan lembaga pendidikan termasuk Lembaga pondok pesantren dalam pelaksanaan berbagai program pengajaran dan pendidikan. Santri mempunyai pengaruh besar terhadap lancarnya proses belajar mengajar, sehingga kemauan santri dalam belajar secara tidak langsung dapat membantu

82 Wawancara, Kyai Taslim (Pimpinan Pondok) Pada Tanggal 21 Mei 2019.

ustadz dalam pencapaian tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa Santri yang tinggal dipondok pesantren Daarul Muttaqiin juga mengikuti sekolah pagi di madrasah dengan tingkatan Pendidikan yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka adalah santri yang bersasal dari luar kecamatan bahhkan ada abeberapa santri yang berasal ari luar kabupaten setempat. Jumlah santri pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019 sebanyak 50 santri. Yang terdiri dari 24 santri laki-laki dan 26 santriwati. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1

Jumlah santri Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019.83

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Ula 11 Orang 13 Orang 24 Orang

2 wustho 9 Orang 8 Orang 17 Orang

3 Aliyah 4 Orang 5 Orang 9 Orang

Jumlah santri 50 orang

4. Keadaan Guru/ustadz

Guru/ustadz adalah orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Guru berkewajiban menyajikan dan menjelaskan materi pelajaran, membimbing dan mengarahkan santri kearah pencapaian tujuan pengajaran yang telah direncakan. Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan dan profesionalisme guru/ustadz dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu kapasitas dan kualitas guru/ustadz merupakan

83 Dokumentasi, Data Buku Induk Santri Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 19 Mei 2019.

faktor yang utama dalam pencapaian tujuan. Untuk lebih jelasnya tentang tenaga guru/ustadz pada lembaga yang dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2

Data Guru/ustadz Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019.84

No Nama Pendidikan Jabatan Alamat

1 Kyai Taslim M.Ag

S2 Pendidikan Agama Islam

Pimpinan Pondok Jotang Beru 2 Boni Mufidah S1 Pendidikan Agama

Islam

Kepala Asrama Putri

Jotang Beru 3 Mufti Al Furqon S2 Pendidikan Bahasa

Ingris

Kepala Asrama Putra

Jotang Beru 4 Samudi S1 Pendidikan Bahasa

Arab

Pengajar Bahasa Arab

Jotang Beru 5 Furqon S1 Pendidikan Agama

Islam

Pengajar Hadist Jotang Beru 6 Abdul Kholiq

Fajduani Azzikri

S1 Pendidikan Agama Islam

Pengajar Fiqih dan Tahfizh

Jotang Beru 7 Ikin Kartina S1 Pendidikan Bahasa

Arab

Pengajar Bahasa arab dan Tahfizh

Lab.

Bontong 8 Robib Muarifah S1 Pendidikan Agama

Islam

Pengajar Muthola’ah dan

Mafuzot

Sinar Jaya

84 Dokumentasi, Data Guru Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 19 Maret 2019.

9 Nurhirati S1 Pendidikan Ekonomi

Pengurus SP 2

10 Andi Ihwandi MA Pengajar Tahfizh Jotang

Beru

5. Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru

Setiap lembaga Pendidikan pondok pesantren dalam melaksanakan proses pembelajaran maka hendaknya didukung oleh berbagai komponen yang terkait dengan penddikan seperti sarana dan prasarana yang merupakan salah satu komponen dari beberapa komponen dalam pendidikan dan pengajaran yang membentuk suatu sistem yaitu suatu kesatuan yang utuh.

Sarana dan prasarana yang memiliki peran dan manfaat yang sangat besar guna menunjang dan mendukung proses pembelajaran. Adapun sarana dan prasarana yang ada di Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Berudapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3

Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang BeruTahun 2019.85

No Jenis Sarpras Jumlah keadaan

1 Masjid 1 Baik

2 Asrama Putra 3 Baik

3 Asrama Putri 2 Baik

4 Perpustakaan 1 Baik

5 Papan tulis 3 Baik

85 Dokumentasi, Data Sarpras Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 20 Mei 2019

6 Berugak Belajar 3 Baik

7 Ruang Kesehatan 1 Baik

8 Kantin Pondok 1 Baik

9 Leptop Pondok 1 Baik

10 Papan Pengumuman 1 Baik

11 Lapangan 3 Baik

12 Tempat Wudhu 2 Baik

13 Wc Santri 4 Baik

14 Wc Ustadz/Ustadzah 4 Baik

15 Sumur 2 Baik

16 Kolam Ikan 2 Baik

6. Struktur Organisasi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru

Sebagai lembaga pendidikan, pengorganisasian dan pengkoordinasian sangat dibutuhkan dalam pencapaian tujuan. Hal ini penting untuk efektifitas dan efesiensi kerja.

Tabel 4

Bagan Struktur Organisasi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019.86

Pimpinan Pondok Taslim M.Ag

Kepala Asrama Putri Kepala Asrama Putra

Boni Mufidah S.Pd.I M. Mufti Al Furqon M.Pd

86 Dokumentasi, Data Struktur Organisasi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, pada tanggal 26 Mei 2019

Ustadz/Ustadzah

Mudabbir/Mudabbiroh

Santri/Santriwati

7. Visi dan Misi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru a) Visi :

“Berkualitas dibidang IMTAQ dan IPTEK yang didasari panca jiwa Pondok Pesantren yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, kebebasan dan ukhuwah Islam iyah”87 b) Misi :

’’Mendidik kader umat yang bertaqwa kepada Allah SWT. beramal sholeh, berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berfikir bebas dan berjiwa wiraswasta’’88 B. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas Ula Di

Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru

Pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru sudah mulai dilakukan sejak tahun 2010 dan berjalan cukup baik. Pelaksanaan pembelajaran kontekstual tersebut tidak terlepas dari peran serta segenap ustadz dan ustadzah yang selalu mendukung kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru. Hal ini juga sebagaimana yang disampaikan oleh pimpinan pondok pesantren Daarul Muttaqin Jotang Beru bahwa :

Pembelajaran kontekstual dipromosikan menjadi alternative model pembelajaran

87 Dokumentasi, Papan Visi Dan Misi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Pada Tanggal 26 Mei 2019

88 Ibid

yang Beru. Disini (pondok pesantren Daarul Muttaqiin) dicoba diterapkan sejak tahun 2010. Selama ini Pendidikan disini didominasi oleh pandangan bahwa Pengetahuan sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama model pembelajaran. Untuk itu diperlukan model belajar baru yang dapat memberdayakan santri. Sebuah model yang tidak harus monoton menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah model yang mendorong siswa mengkonstruksikan keilmuan dibenak mereka sendiri dengan fakta-fakta yang terjadi di sekitar kehidupan nyata.89

Selanjutnya ustadz Zikri yang mengajarkan fiqih mengatakan bahwa :

Selama saya mengajar sudah menerapkan pembelajaran seperti ini (pembelajaran kontekstual). Termasuk pada pelajaran fiqih yang saya ajarkan di pondok ini. Tetapi saya baru tahu kalau pembelajaran seperti ini dinamakan pembelajaran kontekstual.

Dalam mengajar saya selalu dan sering menerapkan strategi belajar seperti ini.

Karena saya kira ini adalah pembelajaran yang paling menyenangkan. Dari komponen yang ada dalam pembelajaran kontekstual sangat sering bahkan selalu saya terapkan. Secara teori saya tahu dari buku. Buku tentang pembelajaran kontekstual (dari perpustakaan, media masa, media elektronik, dan lain-lain).

Sedangkan secara pratek, salah satunya melalui pengajaran yang Anda amati selama ini.”

Fiqih merupakan salah satu pembelajaran agama yang banyak membahas tentang tata cara beribadah agar sesuai dengan ajaran Islam , sehingga guru haruslah menjadi contoh yang baik dalam pola beribadahnya. Yang peneliti dapat amati di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru adalah bagaimana komponen dan aspek pembelajaran kontekstual di terapkan di dalam pembelajaran fiqih kelas ula.

Pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada model pembelajaran yang dikembangkan sendiri oleh guru. Beberapa model tersebut yang dapat peneliti amati pada pembelajaran fiqih di pondok pesantren Daarul Muttaqin Jotang Beru sebagai berikut:

1. Mengembangkan pemikiran santri agar belajar dengan lebih bermakna.

Sebagaimana hasil obserasi yang peneliti lakukan, proses mengembangkan pemikiran santri agar belajar dengan lebih bermakna adalah dengan cara merekonstrusksi

89 Wawancara, Kyai Taslim (Pimpinan Pondok), Pada Tanggal 26 Mei 2019

keilmuan yang dipelajari santri dengan kejadian yang ada lingkungan masyarakat skitar.

Contohnya pada saat pembelajaran fiqih, yang kebetulan pada saat itu sedang diajarkan bab sholat. Ustadz Zikri mengajarkan tentang keutamaan sholat berjamaáh di masjid yang mendapatkan keutamaan 27 derajat. Hal tersebut beliau ajarkan berdasarkan dalil hadist Rosululloh yakni : “Sholat berjamaah lebih utama dibandingkan sholat sendiri dengan perbedaan 27 derajat (pahala)90.

Dari pembelajaran di atas beliau mengkonstruksikan dengan hukum sholat bagi masyarakat setempat yang berprofesi sebagai petani. Beliau menjelaskan tentang qoidah fiqhiyyah yakni : “Menolak mudhorot (bahaya) lebih utama daripada mengambil manfaat.91 Beliau menjelaskan bahwa petani mempunyai pekerjaan yang cukup berat.

Dengan menjadi petani tentunya masyarakat tidak akan bisa berjamaah di masjid. Hukum tidak sholat berjamaáh bagi petani adalah bedasarkan qoidah fiqih atas bahwa petani tidak bisa meninggalkan pertaniaanya.

Dengan pembelajaran diatas itu ternasuk dalam salah satu langkah dalam pembelajaran kontekstual yakni guru mengembangakan pemikiran santri dengan cara memberikan pengetahuan yang dimiliki dengan konteks kehidupa masyarakat sekitar.

Santri dilatih untuk bisa mengkonstruksikan pengetahuan yang dibenak mereka sendiri dengan kondisi nyata yang mereka alami disetar kehidupan mereka.92

Informasi di atas di dukung oleh ustadz Zikri, beliau menuturkan :

Setelah saya menjelaskan bahasan ilmu yang tertuang dalam kitab maka saya akan memberikan ruang dan waktu kepada santri agar dapat mengkonstruksikan apa yang ada dalam benak mereka dengan ilmu yang telah mereka pelajari. Agar dari

90 Ibnu Hajar Al Asqalani, Bulughul Marom, Terjemah Ahmah Najieh, (Semarang: Pustaka Nuun, 2014), h.

101

91 Nashr Farid Muhammad Wasil Dan Abdul Aziz Muhammad Azam, Qowaid Fiqhiyyah, (Jakarta:

AMZAH, 2015) h. 86

92 Observasi, Pembelajaran Fiqih Kelas Ula Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, , Pada Tanggal 02 Juni 2019.

hal-hal tersebut mereka dapat merasakan manfaat dari ilmu yang mereka pelajari.

Contohnya tentang sholat bagi para petani yang tidak bisa berjamaah di masjid, para santri akan berfikir bahwa sholat yang utama itu adalah berjamaah dimasjid.

Namun bagaimana hukumnya dengan para petani yang tidak bisa sholat berjamaah dimasjid ? apakah pertanian yang harus ditinggalkan sehigga tidak mau Bertani lagi

? atau ada hukum yang menjadi pertimbangan sholat bagi para petani ?. Apabila mereka tidak menemukan permasalahan yang dapat mereka konstrusksikan dengan apa yang mereka pelajari maka saya selaku pengajar fiqih akan memberikan beberapa contoh kejadian untuk mereka pikirkan lalu kita pecahkan permasalahan hukumnya secara bersama-sama. Hal yang demikian saya lakukan agar para santri kedepannya dapat terlatih dalam menggunakan pemahaman yang mereka pelajari di pondok ketika nantinya mereka menghadapi berbagai kejadian yang Beru di tengah-tengah masyarakat.93

Zainal Abidin salah satu santri mengatakan :

Sebenarnya saya tidak senang mengikuti pembelajaran fiqih, karena biasanya ustadznya hanya membaca dan menjelasakan isi kitab dan kami hanya duduk diam mendengarkan dan men-dhobit94 kitab. Tapi karena ustadz yang mengajarkan fiqih memberikan keterkaitan antara materi yang kami pejajari dengan yang kami alami ditengah-tengah masyarakat maka bagi saya pembelajaran fiqih menjadi menarik”.95

Dari hasil pengamatan peneliti melihat bahwa guru/ustadz sudah menerapkan pembelajaran kontekstual dengan salah satu prinsip yaitu konstruktivisme, ustadz memberikan waktu kepada santri untuk merekonstruksikan apa yang mereka pelajari dengan kejadian yang mereka alami sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu Contohnya adalah pada hukum para petani yang tidak sholat berjamaáh di masjid. Konsekwensi hukum mengatakan bahwa lebih utama berjamaáh sholat di masjid, namun karena faktor pekerjaan yang menyebabkan para petani tidak bisa sholat berjamaáh dimasjid. Hal-hal semacam itulah yang dilatih oleh ustadz untuk dipikirkan konsekwensi hukum dari kejadian tersebut apakah keutamaan shola yang dikedapankan

93 Wawancara, Abdul Kholiq Fajduani Azzikri (Penggajar Fiqih), Pada Tanggal 02 Juni 2019

94 Dhobit dalam tradisi pesantren adalah proses memberikan sandangan kata dalam sebuah kitab dan memaknainya dengan cara mengartikan perkata yang diletakkan menggantung di bawahnya.

95 Wawancara, Zainal Abidin, Santri Kelas Ula Pondok Pesantren Daaarul Muttaqiin Jotang Beru , Pada Tanggal 02 Juni 2019.

sehingga meninggalkan pekerjaan sebagai petani ? atau dengan memberikan konsensus hukum sholat bagi petani karena karena pekerjaannya.

2. Mengembangkan sifat ingin tahu santri melalu sebuah pertanyaan.

Sebagaimana hasil obserasi yang peneliti lakukan, proses mengembangkan sifat ingin tahu santri melalui bertanya dilakukan oleh ustadz zikri ketika dalam pembelajaran.

pada saat pembelajaran fiqih, setelah belaiu telah selesai memberikan materi pembelajaran dan mengkonstruksikan dengan konteks kehidupan masyarakat disekitar maka beliau memberikan kesempatan kepada santri untuk bertanya tentang masalah apapun yang berkaitan dengan materi yang di ajarkan. Ketika itu salah satu santri yang bernama Muhammad Ade bertanya kepada ustadz Zikri yakni “Bagaimana hukum sholat bagi seseorang yang berpergian atau Musafir ?”96

Dari langkah pembelajaran tersebut merupakan salah satu langkah yang di lakukan oleh ustadz Zikri dalam rangka mengembangkan sifat ingin tahu santri dengan bertanya.97 Mengenai hal tersebut, ustadz zikri menyampaikan bahwa :

Kegiatan bertanya bagi santri itu tujuannya untuk menggali informasi, mengkompirmasi apa yang sudah diketahuinya. Santri belajar mengajukan pertanyaan tentang-gejala yang ada, belajar bagaimana merumuskan pertanyaan- pertanyaan dan belajar tentang bukti tentang penjelasan yang ada. Dalam pembelajaran produktif itu kegiatan bertanya berguna untuk : (1) menggali informasi baik administrasi maupun akademis (2) mengecek pemahaman santri (3) membangkitkan respon santri (4) mengetahui sejauh mana keingintahuan santri terhadap materi yang diajarkan (5) untuk mengetahui hal-hal yang diketahui santri (6) memfokuskan perhatian santri pada suatu titik fokus yang diinginkan ustadz (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari santri (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan santri.98

Muhammad Ade mengatakan merasa senang dengan pembelajaran fiqih di pondok

96 Observasi, Pembelajaran Fiqih Kelas Ula Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 28 Mei 2019.

97 Ibid

98 Wawancara, Abdul kholiq Fajduani Azzikri (Penggajar Fiqih), Pada Tanggal 30 Mei 2019

pesantren Daarul Muttaqiin karena disetiap pembelajaran pasti diberikan waktu untuk bertanya tentang permsalahan hukum yang kami temukan dikehidupan sehari-hari yang belum kami temukan penyelsainnya hukumnya.99

Proses bertanya dalam suatu pembelajaran memang sangat penting untuk meningkatkan keaktifan santri serta dapat mengukur sampai mana kepahaman para santri terhadap materi yang diajarkan.

3. Mengahdirkan model sebagai contoh pembelajaran.

Sebagaimana hasil obserasi yang peneliti lakukan, proses menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran dilakukan pada pembelajaran fiqih di pondok pesantren daarul muttaqiin oleh ustadz zikri sebagai pengajar fiqih. Berdasarkan pengamatan peneliti, ketika menyampaikan materi tentang sholat subuh ustadz Zikri meminta salah satu santri yakni Aladin untuk mempraktekkan gerakan sholat subuh yang menjadi materi pembelajaran pada saat itu. Lalu Aladin maju kedepan dan mempraktekkan gerakan seholat subuh dari awal hingga salam. Ketika Aladin mempraktekkan gerakan sholat subuh, ustadz Zikri sambil menjelaskan mana gerakan yang benar dan mana yang salah. Hal tersebut beliau dilakukan agar para santri melihat langsung bagaimana cara praktik yang benar dari bab bahasan yang sedang dipelajari.100

Hal ini diperkuat dengan paparan ustadz Zikri;

Ustadz bukan satu-satunya sumber belajar bagi santri, ustadz bisa saja memanfaatkan hal-hal lainnya untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang lebih baik. Selain itu ustadz pasti memiliki keterbatasan yang akan menghambat dalam memberi pelayan yang sesuai dengan keiginan dan kebutuhan santri yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pemodelan dapat dijadikan alternative untuk mengembangkan pembelajaran santri, agar santri dapat memenuhi

99 Wawancara, Muhammad Ade, Santri Kelas Ula Pondok Pesantren Daaarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 30 Maret 2019.

100 Observasi, Pembelajaran Fiqih Kelas Ula Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 30 Mei 2019.

harapannya secara menyeluruh dan mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para ustadz.101

Kharunnisa salah satu santri pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru memaparkan:

Saya mudah faham dengan pembelajaran fiqih yang diajarkan karena disetiap ada materi yang berupa gerakan maka pembelajaran akan menggunakan salah seorang untuk mempraktekkan materi yang disampaikan. Sehingga apa yang disampai akan lebih saya difahami dengan melihat secara langsung praktiknya yang dilakukan oleh seseorang yang dijadikan sebagai model.102

Proses pemodelan adalah proses mempermudah pembelajaran santri karena santri bukan hanya akan memahami semata namun para santri juga akan mengamati dan mencontoh yang dipraktekan oleh model yang ditunjuk.

4. Faktor Pendorong Dan Penghambat Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas Ula Di Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru

Dalam sebuah penerapan model pembelajaran sudah pasti tidak terlepas dari beberapa faktor yang terjadi pada prosesnya. Entah itu faktor yang mendorong terlaksananya suatu pembelajaran atau bahkan juga faktor yang menghambat terlaksanya pembelajaran tersebut. Diantara faktor-faktor yang terjadi di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru yakni :

1) Faktor pendorong

Diantara faktor pendorong terlaksananya penerapan model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren Daarul Muttaqiin

101 Wawancara, Abdul Kholiq Fajduani Azzikri (Penggajar Fiqih), Pada Tanggal 30 Mei 2019

102 Wawancara, Kharunnisa, Santri Kelas Ula Pondok Pesantren Daaarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 30 Maret 2019

Jotang Beru adalah :

a) Kepemimpinan baik dari pimpinan pondok

Kyai Taslim merupakan alumni dari pondok pesantren modern Gontor.

Beliau belajar dan juga mengajar di Gontor selama kurang lebih 14 tahun. Sejak belajar di pondok beliau sudah dikenal cerdas oleh teman-temannya bahkan sampai sekarang beliau dikenal oleh masyarakat setempat sebagai orang alim dalam bidang ilmu Bahasa arab dan juga fiqih.

Dengan kecerdasan beliau yang juga dibantu oleh sang istri beliau berkomitmen untuk memajukan pondok pesantren Daarul Muttaqin dan terbuka dengan segala hal apapun yang dapat mendukung manjunya pesantren. Meskipun beliau bukan seseorang yang aktif menggunakan sosial media namun beliau adalah orang yang banyak belajar hal-hal Beru dari anak-anak beliau yang menempuh pendidikan di pulau jawa dan Lombok.

Maka sebagaimana pengamatan yang peneliti lakukan, dari hal tersebut di atas yang mendasari beliau tidak fanatik terhadap hal-hal Beru yang jarang ada pembelajaran pesantren.103

Sebagaimana yang beliau tuturkan :

Kemajuan pesantren ataupun pembelajaran di pesantren itu kuncinya kita harus mempersiapkan diri dengan hal-hal Beru yang sesuai dengan konteks zaman kita sekarang ini. Menjadi baik tidak musti menjadi fanatik dan anti tehadap kemajuan zaman. Karena orang hebat bukan dia yang kuat bertahan dengan prinsip lama, namun orang hebat adalah dia yang memegang prinsip lama yang baik dan dapat menaklukan perkembangan zaman yang bernuasa negative menajadi positive. Termasuk pada sistem ataupun model pembelajaran yang ada di pondok pesantren, tidak harus kaku dengan hanya menggunakan gaya lama, apabila ada model pembelajran Beru selama itu baik mengapa tidak kita mengadopsinya menjadi model pembelajaran di

103 Observasi, Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 30 Mei 2019

pensantren.104 Ustadz Zikri mengatakan :

Proses pembelajaran yang saya terapkan itu sebenarnya adalah atas dukungan dan respon yang baik dari pimpinan pondok (Kya Taslim). Beliau adalah sosok pemimpin yang baik dan selalu mendukung setiap apapun yang dilakukan oleh para ustadz selama itu membawa dampak positif kepada pembelajran pensantren. Dan beliau selalu mendukung kami para ustadz untuk berinovasi dan berkarya baik itu yang terkait masalah pembelajaran atau apapun yang sekiranya bisa berdampak baik untuk pesantren.105

Maka dari itu dalam hemat peneliti, bahwa telaksananya penerapan model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren adalah karena kepemimpinan yang baik dari pimpinan pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.

b) Wawasan terbuka dari pengajar fiqih

Ustadz zikri yang merupakan pegajar fiqih kelas ula di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru adalah seorang ustadz yang merupakan anak kedua dari pimpinan pondok. Beliau pernah belajar di pondok pesantren Al Falah Ploso Kediri (Jawa) dengan rutinitas pembelajarannya adalah kitab kuning dan itu beliau tempuh selama 4 tahun. Kemudian dengan ijazah pondok tersebut beliau melanjutkan kuliah S1 ke Universitas Darussalam Gontor. Beliau mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam . Kemudian kembali ke pondok menjadi pengajar di madrasah dan di dalam pondok.

Dalam pengamatan peneliti, dengan keilmuan yang ustadz Zikri selaku pengajar fiqih maka beliau tidak menjadi yang orang yang kaku terhadap sistem pembelajaran Beru . Selain itu beliau juga orang yang tidak anti sosial media. Jadi

104 Wawancara, Kyai Taslim (Pimpinan Pondok), Pada Tanggal 2 Mei 2019.

105 Wawancara, Abdul Kholiq Fajduani Azzikri (Penggajar Fiqih), Pada Tanggal 30 Mei 2019

dengan gaya tersebut, beliau juga tidak ketinggalan dengan informasi perkembangan zaman yang terjadi di luar kehidupan pesantren.106

Sebagaimana beliau menegaskan :

Saya tidak pernah tertutup dengan pembaharuan dan perbaikan. Bagi saya, menjadi lebih baik itu harus terbuka dan selalu memperlajari apapun yang akan menambah wawasan kita baik itu strategi belajar, model, metode, media dan lain sebagainya. Temasuk tentang gaya pembelajaran Beru yang ditawarkan oleh para ahli yang sama sekali belum pernah saya liat pada pembelajaran pesantren, saya akan dengan senang hati mempertimbangkannya. Karena bagi saya ilmuan muslim tidak harus menutup diri dari kebaharuan zaman. Seorang muslim hendaknya mempertahankan budaya lama yang baik dan juga mengambil budaya Beru yang juga baik.107

Andin salah satu santriwati mengatakan :

Ustadz zikri itu orang yang luas keilmuannya. Buktinya ketika kami belajar, beliau selalu saja memberikan cara berfikir yang Beru bagi kami untuk mengkaitkan pembelajaran yang kami pelajari dengan kejadian-kejadian yang dialami masyarakat. Beliau juga orang kudet dengan media jadi cara beliau mengajar itu modern dengan Bahasa-bahasa yang familiar di zaman sekarang.108

Dari wawancara tersebut di atas mengambarkan bahwa beliau merupakan sosok pengajar yang berwawasan luas dan terbuka. Selain beliau merupakan lulusan dari dua pesantren ternama yakni Al Falah Ploso dan Pesantren Moderen Gontor, beliau juga merupakan sosok yang tidak anti dengan gaya-gaya Beru selama itu baik.

c) Ketersediaan sarpras yang memadai

Keterseidiaan sarana dan prasana adalah salah satu faktor pendukung terlaksananya suatu pembelajaran yang baik. Hal itu juga berdampak pada penerapan model pembelajaran kontekstual mata pelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren

106 Observasi, Keadaan Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 30 Mei 2019

107 Wawancara, Abdul Kholiq Fajduani Azzikri (Penggajar Fiqih), Pada Tanggal 30 Mei 2019

108 Wawancara, Andin, Santri Kelas Ula Pondok Pesantren Daaarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 30 Maret 2019

Dokumen terkait