BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
kesabaran, keinginan, ketaatan, dan disiplin.
amati secara langsung dengan panca indra tanpa melakukan rekayasa atau perlakuan khusus. Dan peneliatian ini bertujuan untuk memperoleh data deskriptif yang bersumber pada ucapan atau tulisan dan perilaku yang diamati melalui pengamatan pada manusia sebagai subjek penelitian.
Jadi penelitian dengan pendekatan kuliatatif ini, peneliti gunakan untuk memperoleh keterangan-ketrangan atau informasi yang bersifat alamiah mengenai penerapan model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
2. Kehadiaran Peneliti
Kehadiran peneliti di lokasi penelitian merupakan keharusan dalam rangka mengumpulkan data yang diperlukan dengan menerapkan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam pengumpulan data peneliti berkedudukan sebagai intrument kunci. Agar data yang diperoleh sesuai dengan realita yang terjadi di lapangan dan dapat dipertanggungjawabkan, data yang terkumpul dengan metode di atas dianalisisa keabsahannya melalui berbagai cara.
Berkaitan dengan hal itu, maka beberapa hal yang dilakukan oleh peneliti di lapangan meliputi :
a. Melakukan observasi tentang objek penelitian yaitu tentang upaya pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Berudalam menerapkan model pembelajaran kontekstiual pada mata pelajaran fiqih serta faktor yang menghambat dan juga mendorong model tersebut diatas.
b. Melakukan wawancara langsung dengan pihak-pihak terkait yaitu dengan Kyai Taslim M.Ag selaku pimpinan pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beruyang
mengetahui sejarah berdirinya pondok. Ustadz Abdul Kholiq Fajduani Azzikri S.Pd.I selaku penegajar fiqih dan juga dengan beberapa santri, untuk mengetahui tentang upaya pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Berudalam menerapkan model pembelajaran kontekstiual pada mata pelajaran fiqih serta faktor yang menghambat dan juga mendorongnya.
c. Selain melakukan observasi dan wawancara, peneliti juga melakukan dokumentasi data-data yang berkaitan dengan data santri, data ustadz maupun ustadzah, data sarana dan prasana yang ada di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
d. Sebelum peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian. Terlebih dahulu peneliti mengurus rekomendasi atau surat izin penelitian dari kementrian agama kabupaten Sumbawa.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru. Lokasi ini dipilih dikarenakan permasalahan yang diangkat pada penelitian ini ditemukan pada pondok pesantren tersebut sebagaimana diuraikan pada latar belakang.
Selain itu, pondok pesantren ini adalah salah satu pondok pesantren yang menerapkan model pembelajaran kontekstiual pada mata pelajaran fiqih. Berdasarkan karakteristik tersebut maka madrasah ini cocok untuk dijadikan lokasi penelitian yang mengangkat permasalahan penerapan pembelajaran fiqih kontekstual sebagaimana yang dirumuskan pada penelitian ini.
Peneliti memasuki lokasi ini dengan meminta izin terlebih dahulu pimpinan podnok dan melakukan pengamatan awal sebagaimana diuraikan pada bagian latar belakang.
Dalam pengamatan awal tersebut terlihat bahwa iklim pembelajaran di pesantren ini cukup kondusif dan warga pesantren yang ramah.
4. Sumber Data
Metode penentuan subjek merupakan cara yang dipakai untuk prosedur yang ditempuh dalam menentukan jumlah dan banyaknya subjek yang akan diteliti. Subjek penelitian adalah orang atau sispa saja yang menjadi sumber penelitian.69 Menurut Lofland mengemukakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lainya.70
Yang dimaksud dengan sumber data adalah subjek darimana data dapat diperoleh sedangkan kata-kata dan tindakan adalah kata-kata dan tindakan orang yang akan diamati atau diwawancarai dicatat melalui catatan tertulis.
Untuk memperoleh data/informasi seperti yang diharapkan, maka dalam penelitian ini yang peneliti jadikan sebagai sumber data antara lain :
a. Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
b. Ustadz yang menggajarkan pelajar fiqih di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
c. Beberapa santri pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam kegiatan penelitian tentunya diperlukan suatu cara yang dapat digunakan dalam pengumpulan data. Data yang objektif dapat diperoleh hanya dengan alat
69 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pndekatan Praktik,, hlm. 23
70 Ibid, hlm. 144
pengumpulan data yang tepat. Adapun prosedur yang digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian ini di antara lain yakni :
a) Observasi
Observasi dapat didefinisikan sebagai perhatian yang terfokus terhadap kejadian, gejala, atau sesuatu. Adapun observasi ilmiah adalah “perhatian terfokus tehadap gejala, kejadian atau sesuatu dengan maksud menafsirkannya, mengungkapkan faktor-faktor penyebabnya, dan menemukan kaidah-kaidah yang mengaturnya
Obervasi dapat diklasifikaskan dalam berbagai macam, yang mempunyai berbagai fungsi sesuai dengan tujuan dan metode penelitian yang digunakan. Observasi dapat dibagi menjadi dua macam berdasarkan peran peneliti yaitu:
1) Observasi partisipan ( Participant Observation) adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti yang berperan sebagai anggota yng berperan serta dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya peneliti memainkan dua peran yaitu berperan sebagai peneliti yang mengumpulkan data tentang perilaku masyarakat dan perilaku individu.
2) Observasi non patisipan (Perticipant Non Observation) adalah observasi yang menjadikan peneliti sebagai penonton atau penyaksi terhadap gejala atau kejadian yang menjadi topik penelitian. Dalam observasi jenis ini peneliti melihat atau mendengarkan pada situasi social tertentu tanpa partisipasi aktif di dalamnya. 71
Dalam hal ini peneliti menggunakan observasi non patisipan. Karena dalam hal observasi ini peneliti hanya menjadi penonton atau penyaksi terhadap gejala atau
71 Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm.
39.
kejadian yang menjadi topik penelitian. Dalam observasi jenis ini peneliti melihat atau mendengarkan pada situasi social tertentu tanpa partisipasi aktif di dalamnya. 72
b) Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakkan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.73 Dalam wawancara digolongkan menjadi tiga golongan diantaranya:
1) Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti informasi yang akan diperoleh.
Oleh karena itu penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannyapun telah disiapkan. Dengan wawancara tersturktur ini setiap responden diberikan pertanyaan yang sama dan pengumpul data dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data.
2) Wawancara semi terstruktur sudah termasuk dalam kategori in-depeth interview yang pelaksanaanya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstukur.
Tujuan wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan pihak yang diajak wawancara diminta pendapatnya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan perlu mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
3) Wawancara tidak tersturktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan
72Ibid, hlm. 40.
73 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2014), hlm.
186.
lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. 74
Jenis wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara bebas, yakni wawancara yang dilakukan peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya, pedoman yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Dalam wawancara tidak terstruktur ini peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang diperoleh sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh informan.
c) Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.75 Dokumentasi asal katanya adalah dokumen yang berarti barang-barang tertulis.
Dokumen dalam penelitian kualitatif ada dua yaitu dokumen resmi dan dokumen tidak resmi dan tidak resmi.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara mengambil dua dokumen, yaitu dokumen resmi dan tidak resmi.76 Dokumen resmi misalnya seperti teks tertulis dari materi dakwah yang disampaikan, jadwal pengajian dan lain sebagainya. Sedangkan dokumen tidak resmi ialah dokumen yang menjadi tambahan untuk kelengkapan data misalnya seperti dokumentasi dari hasil penelitian
74 Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2017), hlm. 194.
75 Suharsimi Arkunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm.
274.
76 Salim dan Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Cita pustaka media, 2007), hlm. 145.
yang berbentuk foto maupun video selama berada di lokasi penelitian serta jadwal pembelajaran fiqih.
6. Tekhnik Analisis Data
Anasis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan apa yang akan diceritakan kepada orang lain.77
Dalam menganalisis data pada penelitian ini, peneliti menggunakan analisa isi dengan pendekatan analisis induktif. Analisa isi merupakan teknik penelitian untuk membuat suatu kesimpulan yang diambil dari bukti faktual yang dapat ditiru dengan memperhatikan konteksnya.78 Dikatakan induktif karena peneliti sebagai peneliti tidak memaksakan diri untuk membatasi penelitian pada upaya menerima atau menolak dugaan- dugaannya, melainkan mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri.79
Metode ini digunakan oleh peneliti untuk menganalisis data yang khusus kemudian ditarik generalisasi yang mempunyai sifat umum. Dalam hal ini peneliti menganalisis data- data hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara kemudian ditarik kesimpulan secara umum tentang upaya serta faktor yang menjadi pendorong dan penghambat dalam penerapan pembelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
7. Pengecekan Keabsahan Data
77 Lexi J Meleong, Metode Penelitian… hlm. 103
78 Ibid., hlm. 231
79 E. Kristi Peorwandari, Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi, (Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI, 1998), hlm. 31.
Adapun teknik pemeriksaan keabsahan data, di sini peneliti menggunakan triangulasi. Menurut Lexy J. Moleong, triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.80 Dengan kata lain, dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori. Untuk itu peneliti dapat melakukannya dengan jalan :
a. Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan b. Mengeceknya dengan berbagai sumber data
c. Memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilakukan.81 E. Sistematika Pembahasan
Penelitian ini terdiri dari empat bab. Setiap bab mencakup beberapa sub bab. Adapun keempat bab tersebut adalah sebagaimana akan peneliti paparkan pada paragraf berikutnya.
Bab pertama adalah pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka yang terdiri dari telaah pustaka dan landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua menguraikan tentang letak geografis, sejarah berdiri dan berkembang, visi dan misi, kurikulum, keadaan ustadz dan santri, struktur organisasi, dan keadaan sarana dan prasarana.
Bab ketiga menguraikan tentang penerapan metode pembelajaran fiqih di Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beruserta faktor pendorong dan penghambat pembelajaran fiqih Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru.
Bab keempat adalah penutup yang meliputi simpulan, saran, dan kata penutup.
80 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian..., hlm. 330.
81 Ibid, hlm. 332.
BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru
Pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru didirikan oleh seorang Kyai yang bernama Kyai Taslim. M.Ag. Beliau adalah salah satu dari ribuan santri pondok modern gontor. Beliau menempuh Pendidikan selama 14 tahun lalu pulang ke tanah kelahirannya di salah satu desa di pulau Sumbawa yakni Jotang Beru. Pada hari selasa 26 Juni 1990 beliau mendirikan pondok pesantren Daarul Muttaqiin, santri pada angkatan pertama hanya berjumlah 12 orang, kegiatan pembukaan tersebut juga dihadiri oleh para wali santri.
Kegiatan belajar pertama kali pondok pesantren Daarul Muttaqiin bertempat di kantor desa Jotang, hal ini dikarenakan pada saat itu kantor desa tersebut tidak difungsikan.
Setelah selang beberapa bulan karena beberapa hal, tepatnya tanggal 10 Oktober 1990 kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke rumah pimpinan pondok sendiri di dusun Jotang Beru. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di kolong rumah beliau, karena model rumah di daerah sumbawa memang dominan adalah merupakan rumah panggung.
Seiring berjalannya waktu jumlah santri meningkat, tempat kegiatan belajar mengajarpun sudah tidak mencukupi untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Maka atas usaha dan kerja keras dari pimpinan pondok beserta istri beliau Beru lah pada tanggal 11 November 1990 berpindah ke suatu tempat di dusun panto daya. Lokasi terserbut adalah tanah yang dihibahkan oleh pihak desa kepada pihak pondok pesantren Daarul Muttaqiin saat itu sampai dengan saat ini.
Pada masa awal beridirinya pondok pesantren Daarul Muttaqiin hanya diajar oleh 4 orang guru yakni Kyai Taslim selaku pimpinan pondok, ustdzah Boni Mufidah yang Merupakan istri dari pimpinan pondok, dan dibantu oleh dua guru lainnya yakni ustadz H.
Udin dan Ustdzah Gustianti Farida. Namun semakin tahun santri pun semakin meningkat jumlahnya begitupun juga dengan pengajarnya.82
2. Letak Geografis Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru
Secara gografis pondok pesantren Daarul Muttaqiin berada di Desa Jotang Beru, Kecamatan Empang Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan batas- batas sebagai berikut.
- Sebelah Utara : Dusun Panto Daya
- Sebelah Timur : Persawahan Dusun Panto Daya - Sebelah Selatan : Persawahan Dusun Panto Daya - Sebelah Barat : Jalan Raya lintas Tero-Jotang Beru
Pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Berumemiliki areal yang luasnya 11.799 m2.
3. Keadaan Santri Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru
Dalam proses belajar mengajar di pondok pesantren, santri menduduki peranan yang sangat penting, karena siswa yang akan menjadi tolak ukur berhasil tidaknya pendidikan. Disamping itu, santri juga merupakan sasaran tujuan lembaga pendidikan termasuk Lembaga pondok pesantren dalam pelaksanaan berbagai program pengajaran dan pendidikan. Santri mempunyai pengaruh besar terhadap lancarnya proses belajar mengajar, sehingga kemauan santri dalam belajar secara tidak langsung dapat membantu
82 Wawancara, Kyai Taslim (Pimpinan Pondok) Pada Tanggal 21 Mei 2019.
ustadz dalam pencapaian tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa Santri yang tinggal dipondok pesantren Daarul Muttaqiin juga mengikuti sekolah pagi di madrasah dengan tingkatan Pendidikan yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka adalah santri yang bersasal dari luar kecamatan bahhkan ada abeberapa santri yang berasal ari luar kabupaten setempat. Jumlah santri pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019 sebanyak 50 santri. Yang terdiri dari 24 santri laki-laki dan 26 santriwati. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1
Jumlah santri Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019.83
No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Ula 11 Orang 13 Orang 24 Orang
2 wustho 9 Orang 8 Orang 17 Orang
3 Aliyah 4 Orang 5 Orang 9 Orang
Jumlah santri 50 orang
4. Keadaan Guru/ustadz
Guru/ustadz adalah orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Guru berkewajiban menyajikan dan menjelaskan materi pelajaran, membimbing dan mengarahkan santri kearah pencapaian tujuan pengajaran yang telah direncakan. Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan dan profesionalisme guru/ustadz dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu kapasitas dan kualitas guru/ustadz merupakan
83 Dokumentasi, Data Buku Induk Santri Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 19 Mei 2019.
faktor yang utama dalam pencapaian tujuan. Untuk lebih jelasnya tentang tenaga guru/ustadz pada lembaga yang dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2
Data Guru/ustadz Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019.84
No Nama Pendidikan Jabatan Alamat
1 Kyai Taslim M.Ag
S2 Pendidikan Agama Islam
Pimpinan Pondok Jotang Beru 2 Boni Mufidah S1 Pendidikan Agama
Islam
Kepala Asrama Putri
Jotang Beru 3 Mufti Al Furqon S2 Pendidikan Bahasa
Ingris
Kepala Asrama Putra
Jotang Beru 4 Samudi S1 Pendidikan Bahasa
Arab
Pengajar Bahasa Arab
Jotang Beru 5 Furqon S1 Pendidikan Agama
Islam
Pengajar Hadist Jotang Beru 6 Abdul Kholiq
Fajduani Azzikri
S1 Pendidikan Agama Islam
Pengajar Fiqih dan Tahfizh
Jotang Beru 7 Ikin Kartina S1 Pendidikan Bahasa
Arab
Pengajar Bahasa arab dan Tahfizh
Lab.
Bontong 8 Robib Muarifah S1 Pendidikan Agama
Islam
Pengajar Muthola’ah dan
Mafuzot
Sinar Jaya
84 Dokumentasi, Data Guru Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 19 Maret 2019.
9 Nurhirati S1 Pendidikan Ekonomi
Pengurus SP 2
10 Andi Ihwandi MA Pengajar Tahfizh Jotang
Beru
5. Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru
Setiap lembaga Pendidikan pondok pesantren dalam melaksanakan proses pembelajaran maka hendaknya didukung oleh berbagai komponen yang terkait dengan penddikan seperti sarana dan prasarana yang merupakan salah satu komponen dari beberapa komponen dalam pendidikan dan pengajaran yang membentuk suatu sistem yaitu suatu kesatuan yang utuh.
Sarana dan prasarana yang memiliki peran dan manfaat yang sangat besar guna menunjang dan mendukung proses pembelajaran. Adapun sarana dan prasarana yang ada di Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Berudapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3
Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang BeruTahun 2019.85
No Jenis Sarpras Jumlah keadaan
1 Masjid 1 Baik
2 Asrama Putra 3 Baik
3 Asrama Putri 2 Baik
4 Perpustakaan 1 Baik
5 Papan tulis 3 Baik
85 Dokumentasi, Data Sarpras Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, Pada Tanggal 20 Mei 2019
6 Berugak Belajar 3 Baik
7 Ruang Kesehatan 1 Baik
8 Kantin Pondok 1 Baik
9 Leptop Pondok 1 Baik
10 Papan Pengumuman 1 Baik
11 Lapangan 3 Baik
12 Tempat Wudhu 2 Baik
13 Wc Santri 4 Baik
14 Wc Ustadz/Ustadzah 4 Baik
15 Sumur 2 Baik
16 Kolam Ikan 2 Baik
6. Struktur Organisasi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru
Sebagai lembaga pendidikan, pengorganisasian dan pengkoordinasian sangat dibutuhkan dalam pencapaian tujuan. Hal ini penting untuk efektifitas dan efesiensi kerja.
Tabel 4
Bagan Struktur Organisasi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Tahun 2019.86
Pimpinan Pondok Taslim M.Ag
Kepala Asrama Putri Kepala Asrama Putra
Boni Mufidah S.Pd.I M. Mufti Al Furqon M.Pd
86 Dokumentasi, Data Struktur Organisasi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru, pada tanggal 26 Mei 2019
Ustadz/Ustadzah
Mudabbir/Mudabbiroh
Santri/Santriwati
7. Visi dan Misi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru a) Visi :
“Berkualitas dibidang IMTAQ dan IPTEK yang didasari panca jiwa Pondok Pesantren yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, kebebasan dan ukhuwah Islam iyah”87 b) Misi :
’’Mendidik kader umat yang bertaqwa kepada Allah SWT. beramal sholeh, berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berfikir bebas dan berjiwa wiraswasta’’88 B. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas Ula Di
Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru
Pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran fiqih kelas ula di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru sudah mulai dilakukan sejak tahun 2010 dan berjalan cukup baik. Pelaksanaan pembelajaran kontekstual tersebut tidak terlepas dari peran serta segenap ustadz dan ustadzah yang selalu mendukung kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru. Hal ini juga sebagaimana yang disampaikan oleh pimpinan pondok pesantren Daarul Muttaqin Jotang Beru bahwa :
Pembelajaran kontekstual dipromosikan menjadi alternative model pembelajaran
87 Dokumentasi, Papan Visi Dan Misi Pondok Pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru Pada Tanggal 26 Mei 2019
88 Ibid
yang Beru. Disini (pondok pesantren Daarul Muttaqiin) dicoba diterapkan sejak tahun 2010. Selama ini Pendidikan disini didominasi oleh pandangan bahwa Pengetahuan sebagai seperangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama model pembelajaran. Untuk itu diperlukan model belajar baru yang dapat memberdayakan santri. Sebuah model yang tidak harus monoton menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah model yang mendorong siswa mengkonstruksikan keilmuan dibenak mereka sendiri dengan fakta-fakta yang terjadi di sekitar kehidupan nyata.89
Selanjutnya ustadz Zikri yang mengajarkan fiqih mengatakan bahwa :
Selama saya mengajar sudah menerapkan pembelajaran seperti ini (pembelajaran kontekstual). Termasuk pada pelajaran fiqih yang saya ajarkan di pondok ini. Tetapi saya baru tahu kalau pembelajaran seperti ini dinamakan pembelajaran kontekstual.
Dalam mengajar saya selalu dan sering menerapkan strategi belajar seperti ini.
Karena saya kira ini adalah pembelajaran yang paling menyenangkan. Dari komponen yang ada dalam pembelajaran kontekstual sangat sering bahkan selalu saya terapkan. Secara teori saya tahu dari buku. Buku tentang pembelajaran kontekstual (dari perpustakaan, media masa, media elektronik, dan lain-lain).
Sedangkan secara pratek, salah satunya melalui pengajaran yang Anda amati selama ini.”
Fiqih merupakan salah satu pembelajaran agama yang banyak membahas tentang tata cara beribadah agar sesuai dengan ajaran Islam , sehingga guru haruslah menjadi contoh yang baik dalam pola beribadahnya. Yang peneliti dapat amati di pondok pesantren Daarul Muttaqiin Jotang Beru adalah bagaimana komponen dan aspek pembelajaran kontekstual di terapkan di dalam pembelajaran fiqih kelas ula.
Pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada model pembelajaran yang dikembangkan sendiri oleh guru. Beberapa model tersebut yang dapat peneliti amati pada pembelajaran fiqih di pondok pesantren Daarul Muttaqin Jotang Beru sebagai berikut:
1. Mengembangkan pemikiran santri agar belajar dengan lebih bermakna.
Sebagaimana hasil obserasi yang peneliti lakukan, proses mengembangkan pemikiran santri agar belajar dengan lebih bermakna adalah dengan cara merekonstrusksi
89 Wawancara, Kyai Taslim (Pimpinan Pondok), Pada Tanggal 26 Mei 2019