• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lika-Liku Pesona Kain Hinggi, Tenun Ikat dari Sumba Timur

Dalam dokumen JURNAL MUSEUM NASIONAL PRAJNAPARAMITA (Halaman 73-88)

73

Prajnaparamita

73

Jurnal Museum Nasional

Pendahuluan

Tinung pahikung atau tenun ikat khas Sumba Timur adalah kain tradisional Indonesia yang terkenal karena keindahan motifnya.

Eksistensinya dari dahulu hingga saat ini masih menempati peran penting dalam keseharian hidup masyarakatnya. Tenun ikat adalah salah satu bentuk kebudayaan materi.

Sebagai bentuk dari kebudayaan materi, keberadaan tenun ikat mampu bertahan menembus zaman, dinikmati dan memiliki makna berbeda bagi satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu dari jenis kain tenun ikat khas Sumba Timur tersebut adalah hinggi yaitu yang umum dikenakan sebagai kain adat laki- laki Sumba Timur.

Tulisan ini akan membahas hinggi sebagai objek kebudayaan materi menggunakan pendekatan biografi budaya materi (cultural biography). Pendekatan ini adalah satu konsep dari kajian budaya material.

Konsep ini menjelaskan bahwa sebuah benda (objek) sejatinya memiliki

“kisah” perjalanan hidup. Pemikiran biografi budaya materi ini diusung oleh (Appandurai, 1986) Sejalan dengan Appadurai, (Kopytoff, 1986, hal. 64) menjelaskan lebih jauh bahwa

‘biografi’ yang dimaksud dalam hal ini adalah pandangan bahwa sebuah objek (benda) memiliki perjalanan hidup atau daur hidup. Selanjutnya makna sebuah benda bagi pemakainya (konsumen) akan berubah seiring waktu dan ruang. Menurut Kopytoff, biografi budaya (cultural biography) melihat proses komoditisasi sebuah benda, dimana benda bertransformasi menjadi komoditas dari sudut pandang budaya. Kopytoff dalam (Woodward, 2007, hal. 103) lebih jauh menjelaskan bahwa dalam kehidupannya sosialnya suatu benda akan mengalami proses komodifikasi, dekomodifikasi dan rekomodifikasi.

Pemilihan hinggi sebagai objek penulisan karena hinggi bersifat adapatif dan mampu bertahan dari satu generasi ke generasi. Sejak orang Sumba masih di dalam kandungan sampai tiba saat kematiannya, kain tenun ikat menjadi objek budaya yang memiliki makna baru bagi penggunanya baik bagi masyarakat Sumba Timur maupun masyarakat di luar Sumba Timur. Hasil kajian menunjukkan bahwa adanya perluasan dari fungsi hinggi yang pada awalnya di- gunakan sebagai kain tradisional untuk laki-laki Sumba. Hinggi digunakan pula sebagai pakaian untuk pria dan wanita, dimanfaatkan menjadi dekorasi. Selain itu, beberapa hinggi disimpan sebagai koleksi yang berharga.

Keyword : cultural biography, material culture, hinggi

75

Prajnaparamita

75

Jurnal Museum Nasional

menjadi benda penting dalam siklus kehidupannya dan digunakan dalam berbagai upacara. Selain itu, kain tenun ikat sebenarnya bukan monopoli dari pulau Sumba. Namun, hinggi, adalah tenun ikat dari Sumba Timur memiliki kekhasnya tersendiri yang menyebabkan kain ini menarik banyak orang diluar masyarakat Sumba Timur.

Keindahan sehelai kain Sumba Timur dengan ciri khas komposisi warna yang cerah berpadu berpadu dengan ragam hias flora dan fauna berukuran besar yang ditenun dengan sedemikian rupa, menjadikan kain ini diapresiasi banyak orang. Karena keindahannya, kain hinggi yang awalnya adalah kain adat dari sebuah pulau, akhirnya mengalami perjalanan hidup yang panjang sehingga kepopulerannya mendunia.

Hinggi Dalam Siklus Hidup Orang Sumba Timur

Keberadaan hinggi tak

terlepas dari pengaruh agama Marapu, yaitu agama lokal yang menyembah leluhur (marapu). Ajaran marapu sudah meresap menjadi satu dengan sendi-sendi kebudayaan Sumba.

Hal ini turut mempengaruhi dalam proses pembuatan, pengunaan dan pemanfaatan hinggi dalam keseharian masyarakat Sumba.

Hinggi sejatinya merupakan busana tradisional lelaki Sumba Timur . Berdasarkan warnanya, ada dua jenis warna hinggi yaitu hinggi kaworu (merah) dan hinggi kombu (biru).

Suwati Kartiwa (2007: 93) menjelaskan bahwa hinggi adalah kain panjang berukuran dua meter bagi laki-laki dewasa, yang dapat berfungsi sebagai selimut, selendang, atau kain yang dililitkan di pinggang. Kain ini digunakan baik sebagai busana adat maupun busana sehari-hari. Umumnya lelaki Sumba mengenakan hinggi sebanyak dua helai. Sehelai dililitkan di pinggang dan sehelai lagi disampirkan di pundak.

Penggunaan hinggi

dengan ragam hias tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang.

Hal ini dikarenakan setiap ragam hias yang ditenun adalah ragam hias yang sarat makna dalam ajaran Marapu.

Secara adat, ada beberapa ragam hias yang hanya boleh digunakan oleh kaum raja dan bangsawan (kaum maramba) misalnya saja ragam hias buaya, kura- kura- kura dan udang. Beberapa motif lain yang sering ditemukan pada hinggi antara lain motif hewan ( kuda, ayam jantan,rusa, udang dan ular); motif flora (patola ratu, pohon andung) . Berikut ini makna yang terkandung dalam beberapa ragam hias tenun ikat yang ditemukan pula dalam hinggi

(Ndima & Wiratmoko, 2007) : 1. Kuda (ndjara)

Kuda merupakan simbol penting dalam masyarakat Sumba. Kuda dipercaya menjadi transportasi baik dalam kehidupan di dunia dan di alam kematian.

Kuda juga adalah hewan yang cocok hidup di alam Sumba Timur yang keras, digunakan untuk transportasi dan juga memiliki nilai ekonomi. Kuda juga merupakan bekal kubur yang disembelih saat upacara kematian dan dipercaya menhadi tunggangan majikannya ke alam marapu.

2. Buaya (wuya)

Buaya adalah simbol kekuasaan dan darah biru. Ragam hias ini awalnya terukir di penji (nisan kubur batu) milik keluarga raja. Ragam hias ini kemudian diadopsi kedalam tenun ikat dan hanya boleh dikenakan oleh raja atau bangsawan.

3. Ayam Jantan (manu)

Ayam melambangkan

kepemimpinan, tercermin dalam ungkapan Ama Manu,Ina

Rendi (bapak ayam, ibu belibis) melambangkan sosok seorang pemimpin yang sifatnya melindungi dan mengayomi. Ayam jantan juga dipercaya sebagai lambang kebangkitan. Menurut

kepercayaan marapu, kokok ayam jantan akan membangunkan roh orang yang meninggal untuk bersiap menuju ke alam marapu . 4. Kura – kura (karawulangu)

Sama halnya dengan buaya, kura – kura merupakan lambang kebangsawanan dan memiliki arti umur yang panjang dan kebijaksanaan.

5. Rusa (ruha)

Tanduk rusa yang kokoh melambangkan keagungan dan kebijaksanaan. Sifat ini yang seharusnya menjadi sifat- sifat utama seorang pemimpin. Makna ini diungkapakan dalam syair adat Pa jangga kadu ruhangu-pa rara mata mandungu (tinggi seperti tanduk rusa- merah seperti mata ular)

6. Udang (kurangu)

Udang merupakan lambang panjang umur. Karakter udang yang dapat berganti kulit menjadi simbol kehidupan baru seperti dalam ungkapan Njulu la kura luku- halubu la mandu mara ( menjelma seperti udang- mengelupas seperti ular darat). Ragam hias udang merupakan salah satu ragam hias yang digunakan oleh kaum bangsawan.

7. Pohon andung

Pohon andung atau pohon

77

Prajnaparamita

77

Jurnal Museum Nasional

tengkorak diadaptasi dari pohon andung yang dahulu menghiasi perkampungan. Pohon ini sebenarnya batang pohon yang berhiaskan tengkorak musuh – musuh suatu klan. Pohon andung terletak di tengah perkampungan adat Sumba. Walau tampak menyeramkan, namun sebenarnya pohon andung merupakan simbol dari pohon kehidupan. Kini pohon andung sudah sulit ditemukan dan diganti dengan pohon tertentu yang menjadi ciri pohon andung.

8. Patola Ratu (Patuala ratu) dan patola bunga

Ragam hias patola ratu merupakan ragam hias bernilai sakral dan paling tinggi dalam upacara kematian di adat Sumba. Ragam hias patola ratu mendapatkan pengaruh dari ragam hias yang berkembang di India. Kain ragam hias patola ratu hanya boleh dipakai oleh imam yang bertugas pada upacara kematian raja dan bangsawan.Kain ini juga menjadi kain penutup jenasah raja dan kaum bangsawan yang meninggal. Patola bunga merupakan ragam hias yang dikembangkan dari ragam hias patola ratu.

Selain sebagai pakaian, hinggi digunakan pada setiap aspek

kehidupan orang Sumba sejak lahir, pernikahan dan kematian orang Sumba. Poerwadi Soeriadiredja (Soeriadiredja, 2017) menjelaskan bahwa di Sumba Timur, saat seorang suami tidak dapat mendampingi istrinya melahirkan maka kehadiran suami dapat diwakili oleh hinggi milik suami. Hal itu dianggap penting sekali, karena menurut anggapan mereka si bayi akan sulit keluar dari rahim ibu bila tidak ditunggui oleh ayahnya.

Dengan adanya kain selimut itu, si bayi diharapkan dapat lahir dengan selamat.

Cara seperti tersebut disebut rambangu hinggi.

Di dalam pernikahan adat Sumba, hinggi dan lau (sarung perempuan) adalah elemen penting yaitu sebagai balasan dari mas kawin yang diberikan oleh pihak laki-laki.

Pernikahan adat Sumba terdiri dari prosesi yang rumit dan panjang, melibatkan keluarga besar dan pertukaran harta benda. Hinggi dan lau adalah hadiah balasan dari pihak perempuan atas pemberian perhiasan emas, perak dan hewan ternak dari pihak keluarga laki-laki. Berdasarkan kesepakatan keluarga, pertukaran sejumlah tertentu hinggi dan lau dipandang memiliki nilai ekonomi yang sama dengan emas dan perak yang dipertukarkan.

Hinggi memiliki makna

penting dalam prosesi kematian penganut agama Marapau di Sumba Timur. Pada upacara penguburan, kita dapat melihat bahwa hinggi dikenakan oleh orang yang masih hidup maupun sudah mati. Para tamu undangan yang datang diwajibkan mengenakan hinggi. Sementara itu, menurut adat Sumba, hinggi memiliki fungsi sebagai pembungkus jenasah dan bekal kubur dalam upacara kematian. Saat seorang lelaki Sumba, penganut agama marapu meninggal, jenasahnya akan didudukan dalam posisi janin, dan dibungkus dengan berlapis-lapis kain hinggi, menjalani mumifikasi sambil menunggu waktu yang tepat untuk dikuburkan. Hinggi juga menjadi bekal kubur almarhum. Penganut agama marapu percaya bahwa kematian merupakan peralihan dari kehidupan duniawi ke kehidupan sesungguhnya di parai marapu (negeri para leluhur).

Mereka akan hidup seperti layaknya sebelum mati, karena itulah mereka memerlukan bekal kubur seperti hewan ternak, kain tenun (hinggi) untuk laki-laki atau lau (untuk perempuan) ,dan perhiasan untuk menjalani kehidupanya kelak. Semakin tinggi status sosial almarhum, maka semakin banyak hinggi yang digunakan untuk membungkus jenasahnya. Jenasah seorang maramba (bangsawan) akan dibungkus paling sedikit 100

kain hinggi. Jenasah kemudian disemayamkan di rumah adat, sementara keluarga mempersiapkan kebutuhan upacara penguburan. Hal ini tak jarang membutuhkan waktu bertahun-tahun karena dana yang dibutuhkan cukup besar.

Hinggi Dalam Perspektif Biografi Budaya Materi

Ian Woodward mendefinisikan objek sebagai materi yang dihadapi, berinteraksi, dan digunakan oleh orang- orang. Objek biasanya dibicarakan sebagai budaya material. Istilah ‘budaya material’ menekankan bagaimana benda mati di dalam lingkungan bertindak terhadap manusia, dan ditindaklanjuti oleh orang-orang, untuk tujuan melaksanakan fungsi sosial, mengatur hubungan sosial dan memberikan makna simbolis untuk aktivitas manusia. (Woodward, 2007, hal. 6) kemudian menunjukkan bagaimana objek dapat (i) digunakan sebagai penanda nilai, (ii) digunakan sebagai penanda identitas dan (iii) enkapsulasi jaringan kekuatan budaya dan politik. Uraian mengenai hinggi di atas secara tersirat menunjukkan bahwa melalui pendekatan kebudayaan materi, makna suatu benda budaya seperti hinggi memiliki makna yang sangat luas. Berdasarkan konsep yang

79

Prajnaparamita

79

Jurnal Museum Nasional

diusung oleh Ian Woodward, maka dapat kita lihat bahwa dalam konteks kebudayaan materi bahwa pertama, hinggi adalah busana tradisional dengan desain dan ragam hias yang khas yang menjadi penanda identitas jati diri Sumba Timur dan penanda nilai. Hal ini membedakannya dengan kain sejenis dari Sumba Barat atau wilayah Indonesia lainnya. Walaupun pada perkembangannya hinggi digunakan oleh berbagai orang, namun desain tersebut sudah menjadi identitas hinggi khas Sumba Timur.

Yang kedua, hinggi menjadi penanda nilai dalam keseharian orang Sumba Timur. Menenun hinggi adalah perwujudan rasa hormat kepada para marapu, karena dalam sehelai hinggi juga tercermin makna- makna kebaikan dalam ajaran marapu. Mengenakan hinggi mengugah kesadaran bahwa para marapu selalu bersama mereka, mengawasi hidup mereka dan menjaga mereka. Karena itu kemanapun dia berjalan ia menyadari bahwa Marapu hadir bersamanya. Hal ini akan membentuk kepribadian mereka sesuai dengan kebaikan-kebaikan yang ada pada ajaran marapu. Kasus ini sama seperti yang dicontohkan Ian Woordward (2007:11) dimana alkitab sebagai benda penting bagi umat Kristen, tidak selalu dibawa kemanapun namun mempengaruhi

sikap dan tindakan seseorang.

Dan yang ketiga, hinggi juga dapat mengungkapkan jaringan budaya dan politik. Salah satu hal ini adalah jenis ragam hias hinggi juga dapat menjadi mengungkapkan jaringan budaya dan politik. Seorang maramba (bangsawan Sumba) akan mengenakan ragam hias yang berbeda dengan seorang rato (pemimpin keagamaan) dan tentu saja seorang ata (anak dalam rumah atau budak) akan memiliki jenis kain dan kualitas yang berbeda. Saat seseorang mengenakan hinggi, maka secara otomatis ia diharapkan dapat bersikap seperti apa yang ia kenakan berdasarkan status dan kedudukan sosialnya. Berkaitan dengan politik, hinggi menjadi objek negosiasi dalam acara-acara adat Sumba. Jumlah pemberian hinggi, jumlah hadiah balasan dari penerima hinggi merupakan hasil politik , dimana masing- masing pihak bernegosiasi untuk menghasilkan keputusan terbaik.

Lika Liku Hidup Hinggi : Suatu Biografi

Biografi hinggi yang dimaksudkan di sini adalah mengacu pada konsep biografi yang oleh Kopytoff disebut sebagai cultural biography yaitu melihat proses komoditisasi sebuah objek, dimana objek bertransformasi

menjadi komoditas dari sudut pandang budaya (Kopytoff, 1986). Berdasarkan pendapat Kopytoff yang dikutip (Woodward, 2007, hal. 103) maka dalam siklus kehidupannya suatu benda akan mengalami proses komodifikasi, dekomodifikasi dan rekomodifikasi.

Definisi komoditas sendiri ada bermacam-macam. (Appandurai, 1986) berpendapat bahwa komoditas dapat sementara didefinisikan sebagai objek nilai ekonomi. (Appandurai, 1986, hal. 3) kemudian meminjam istilah nilai ekonomi milik George Simmel (Simmel 1978: 73) dimana nilai ekonomi adalah sesuatu yang bersifat temporer dalam artian bersifat subjektif dan dapat berubah sesuai dengan hasrat keinginan untuk memiliki komoditas tersebut.

Sementara (Woodward, 2007, hal. 17) berpendapat bahwa kata ‘komoditas’

mengacu pada alur pertukaran objek sebagai barang dagangan. Demikian pula, komoditas adalah sesuatu yang dapat dipertukarkan. Objek masuk ke dalam dan keluar dari lingkup komoditisasi, sehingga objek yang sekarang menjadi komoditas mungkin tidak selalu menjadi komoditas karena penggabungannya ke dalam dunia pribadi atau ritual individu, keluarga dan budaya. Sementara (Kopytoff, 1986, hal. 64) menyatakan proses produksi komoditas dipengaruhi oleh

proses kognitif dan budaya yang ada sehingga kebudayaan menentukan komoditas yang diproduksi dan yang tidak diproduksi. Sebuah objek menjadi komoditas jika objek tersebut memiliki nilai praktis yang nilainnya setara dan dibutuhkan bagi kedua belah pihak yang bertukar. Proses pertukaran terjadi secara langsung dan keuntungan diterima saat itu juga.

Hal ini penting untuk membedakan komoditas dengan gift atau hadiah.

Komodifikasi Hinggi

Berkaitan dengan hinggi maka biografi atau siklus kehidupan hinggi dimulai dari proses penciptaannya.

sehelai kain hinggi dihasilkan melalui lika liku dan proses yang cukup panjang. Sehelai kain hinggi membutuhkan waktu satu hingga enam bulan pengerjaan tergantung kualitas hinggi yang diinginkan. Proses tersebut diawali dari proses pemintalan benang, perentangan benang, melukiskan desain motif, pengikatan benang, pewarnaan benang, penenunan dan hingga penjahitan yang membutuhkan waktu panjang dengan sistem pembagian kerja yang kompleks dan diatur secara turun temurun. Pekerjaan menenun pada awalnya adalah ranah perempuan Sumba, namun dalam prosesnya, pembagian kerja untuk menghasilkan

81

Prajnaparamita

81

Jurnal Museum Nasional

sehelai hinggi juga melibatkan laki- laki dan perempuan, dan kesepakatan gotong royong satu desa dengan desa lainnya. Misalnya saja pada proses pewarnaan. Para penenun yang tinggal di desa – desa adat umumnya memberikan pekerjaan pewarnaan pada warga desa lain yang secara turun temurun dikenal memiliki keahlian dalam pewarnaan. Hasil akhir dari semua proses tersebut adalah sehelai kain hinggi yang merupakan gabungan dua helai (dua lirang) kain tenun yang dijahit secara vertikal ,sehingga saat dibentangkan, kain tersebut memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih sekitar 2,5m x 1.5 m.

Komodifikasi hinggi terbagi pada dua masa yaitu (1) masa sebelum masuknya orang asing, (2) masa setelah kedatangan orang asing. Sebelum kedatangan orang asing, hinggi adalah gift atau hadiah untuk berbagai acara seperti pernikahan dan kematian.

Hubungan seperti ini menurut Kopytoff (1986: 69). yang dalam antropologi disebut sebagai “relations of reciprocity” atau hadiah yang bersifat timbal balik dimana penerima hadiah berkewajiban memberikan hadiah yang sama nilainya di masa yang akan datang.

Kontak dengan orang asing membawa warna baru pada perjalanan hidup hinggi. Di satu sisi, penggunaan

hinggi sebagai gift masih ada, terutama pada saat upacara pernikahan dan kematian. Walaupun saat ini orang Sumba telah memeluk agama selain agama marapu, hinggi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Contohnya adalah di Gereja Kristen Sumba Timur, kita bisa menyaksikan patung Yesus Kristus mengenakan hinggi. Saat pemeluk agama kristen meninggal, maka hinggi tetap digunakan sebagai penutup peti jenasah dan ikut dikuburkan bersama jenasah. Kedatangan orang asing juga membawa pengaruh pada desain dan fungsi hinggi. Pada masa inilah hinggi menjadi komoditas dan masuk kedalam tahap komodifikasi melalui perdagangan. Perdagangan kain hinggi umumnya dijual langsung pada wisatawan yang mengunjungi desa – desa adat, dijual pada pengepul yang akan menjualnya kembali di toko – toko souvenir di Bali, atau badan yang ditunjuk pemerintah.

Proses komoditisasi hinggi dengan orang asing sebenarnya sudah berlangsung lama. Menurut Judi Achjadi, hal ini dapat ditelusuri jauh hingga ke abad-19 dimana hinggi mulai menarik perhatian pengunjung dari Eropa pada akhir abad ke-19. Mereka datang untuk membeli hinggi dan menggunakan hinggi sesuai dengan kehendak dan kreatifitas pribadinya.

Dari sini hinggi kemudian mengalami proses dekomodifikasi1.

Dekomodifikasi Hinggi

Proses dekomodifikasi hinggi terjadi setelah dilaksanakan transaksi ekonomi. Pembeli hinggi kemudian memodifikasi hinggi menjadi sesuatu yang memiliki makna dan nilai baru bagi mereka. Makna tersebut memiliki makna yang berbeda dengan makna dan nilai hinggi pada masyarakat aslinya. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh (Achjadi, 2013, hal.

3) :

“Mereka terpesona oleh desain yang tegas, kekayaan warna dan ragam haias yang mudah dikenali seperti kuda cendana kecil yang indah, yang memegang peran penting dalam budaya Sumba, burung, rusa demgan tanduk mengagumkan , ular sedang merayap, kurakura, dan buaya yang diperuntukkan bagi penguasa, kehidupan laut, sebagian dengan bentuk aneh, dan andungu atau pohon tengkorak yang dihiasi kepala museum yang ditangkap dalam peperangan.

Mereka membawa tenun ikat untuk dijadikan hiasan yang digantung di dinding rumah, diselempangkan di dipan, dan dibentangkan diatas meja atau tempat tidur. Beberapa wastra menjadi koleksi museum yang berharga, sehingga memungkinkan untuk mengikuti perubahan- perubahan kecil yang telah terjadi selama satu setengah abad setelah adanya kontak dengan masyarakat asing yang sangat menghargai wastra tersebut”

Keadaan ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Biranul Annas. Menurutnya, kedatangan orang dari luar Sumba membawa pengaruh pada desain dan fungsi hinggi. Desain hinggi yang tadinya bersifat tradisional dan idealistik bertransformasi menjadi desain yang disesuaikan dengan kehendak pasar. Fungsi hinggi kemudian mengalami perluasan fungsi dari kain tradisional menjadi berbagai jenis suvenir yang digunakan sebagai dekorasi (Annas, 2007, hal. 18). Kini, kain hinggi juga bertransformasi menjadi busana unisex, baik busana kerja maupun busana eksklusif

1Untuk memahami dekomodifikasi, sebuah contoh sederhana dituliskan oleh (Corrigan, 2006) dengan contoh pembelian kucing di sebuah Petshop. Dalam contoh tersebut dituliskan bahwa saat sebuah keluarga membeli kucing di Petshop maka kucing tersebut mengalami proses komoditisasi.

Kucing yang menjadi miliki keluarga tersebut kemudian mengalami proses dekomodifikasi dijadikan hewan peliharaan yang disayangi dan diperlakukan secara khusus oleh keluarga sehingga memiliki nilai dan makna khusus bagi keluarga tersebut, lebih dari sekedar objek yang diperjualbelikan.

83

Prajnaparamita

83

Jurnal Museum Nasional

rancangan designer kenamaan. Hal ini tak lepas dari peran pemerintah daerah yang berusaha menghidupkan ekonomi rakyat. Pemerintah daerah setempat mewajibkan setiap aparaturnya mengenakan baju dinas dari kain tenun. Selain itu para perancang di industri fashion hingga selebriti Indonesia mulai meliriknya.

Desainer ternama seperti Biyan Waatmaja, Denny Wirawan, Itang Yunasz mampu menterjemahkan keindahan kain tenun ikat menjadi berbagai produk busana2. Kepopuleran hinggi semakin meningkat semenjak kalangan selebriti seperti Dian Sastro, Marsha Timothy dan Nadine Candrawinata menjadikan hinggi sebagai bagian gaya fashion mereka3. Komoditisasi hinggi mempengaruhi perkembangan tenun ikat Sumba yang bermutu tinggi. Kondisi alam yang tidak menentu menyulitkan para penenun memproduksi kain terutama untuk menghasilkan kain – kain dengan mutu yang terbaik, dengan pewarna alami. Akhinya mereka juga lebih memilih menggunakan pewarna pabrik yang lebih murah. Kain – kain yang dihasilkan lebih ditujukan untuk konsumsi oleh – oleh wisatawan,

dengan kualitas yang biasa saja.

Rekomodifikasi Hinggi

Siklus kehidupan hinggi kemudian berlanjut ketika hinggi sudah menjadi kain tua. Pada masa ini maka perjalanan siklus hidupnya berlanjut menuju dua arah. Yang pertama, hinggi menjadi sesuatu yang dilupakan karena sudah kehilangan nilai ekonominya, misalnya busana tersebut sudah lusuh, rusak atau bosan. Kedua, hinggi akan menjadi benda antik yang ragam hiasnya langka sehingga kembali memiliki nilai ekonomi tinggi dan dipajang atau dijual ke satu kolektor.

Hal ini artinya hinggi mengalami tahap rekomodifikasi. Dalam suatu wawancara dengan Rambu Margaretha, seorang penenun yang tinggal di Praiyawang, Sumba Timur menyatakan bahwa trend kekinian yang terjadi saat ini adalah munculnya permintaan kain-kain hinggi lama, yang sudah kusam dan tua dari para wisatawan asing, khususnya wisatawan dari Jepang. Berdasarkan hal itu, para penenun di desa-desa kembali mengumpulkan kain-kain tenun tua, walaupun sudah kusam dan lapuk,

2https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171116091214-277-255973/terpikat-sumba-biyan- hadirkan-koleksi-humba-hammu diakses tanggal 27 Mei 2018 jam 09.43

3https://hype.idntimes.com/entertainment/jcnd/cinta-indonesia-7-seleb-ini-bangga-kenakan-kain- tradisional-nusantara-c1c2/full diakses tanggal 27 Mei 2018 jam 09.46

Dalam dokumen JURNAL MUSEUM NASIONAL PRAJNAPARAMITA (Halaman 73-88)

Dokumen terkait