• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL MUSEUM NASIONAL PRAJNAPARAMITA

N/A
N/A
Muhammad Mahadir

Academic year: 2023

Membagikan "JURNAL MUSEUM NASIONAL PRAJNAPARAMITA"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

Chulalongkorn atau Raja Rama V pertama kali berangkat ke Jawa pada tahun 1871 untuk mempelajari ilmu pemerintahan modern dari pemerintah kolonial Inggris di Singapura dan Belanda di Batavia. Dari Yogyakarta, Raja Rama V melanjutkan kunjungannya ke Keraton Surakarta dan Candi Mangkunegaran yang menjadi tuan rumah Susuhunan Pakubuwana.

Di museum ini banyak dipajang artefak-artefak dari Pulau Jawa, diantaranya dari Borobudur, Prambanan, Jawa Timur yang merupakan sumbangan pemerintah Hindia Belanda kepada Raja Rama V oleh Bernet Kempers, terdapat artefak-artefak kuno yang berasal dari Pulau Jawa yang pemerintah Hindia Belanda sebagai hadiah kepada Raja Rama V pada kunjungannya pada tahun 1896. Selain ketertarikannya pada museum dan koleksi batik, Raja Rama V juga tertarik dengan koleksi yang ada di perpustakaan museum BGKW.

Oleh karena itu, selain mendirikan museum, Raja Rama V juga mendirikan perpustakaan dengan sebutan Perpustakaan Kerajaan. Saat Raja Rama V pertama kali mengunjungi lembaga BGKW (1871), usia lembaga tersebut sudah 93 tahun. Berkat kesan mendalam terhadap BGKW, selain didirikannya museum dan perpustakaan, pada tahun 1904 Raja Rama V merestui berdirinya lembaga serupa dengan lembaga BGKW.

Patung gajah perunggu pemberian Raja Rama V kepada pemerintah Hindia Belanda dan terletak di depan Museum van het Batacviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Gambar 1. Somdetch Phra Paramindr Maha  Chulalongkorn atau Rama V, menjabat dari 1 Oktober
Gambar 1. Somdetch Phra Paramindr Maha Chulalongkorn atau Rama V, menjabat dari 1 Oktober

Prajnaparamita 33

Penghormatan Kepada Kehidupan

  • Prajnaparamita 35
  • Prajnaparamita 37
  • Prajnaparamita 39
  • Prajnaparamita 41
  • Prajnaparamita 43
  • Prajnaparamita 45
  • Prajnaparamita 47

Museum Nasional mempunyai beberapa koleksi mamuli, namun data dan informasi mengenai koleksi tersebut sangat terbatas. Oleh karena itu, kurator Museum Nasional melakukan studi lapangan untuk mengungkap kembali konteks asli mamuli dan dinamika mamuli masa kini dari sudut pandang para pelaku budaya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kurator dapat memaknai koleksi Mamuli sesuai dengan visi Museum Nasional saat ini, yaitu museum kebudayaan Indonesia berstandar internasional melalui manusia dan ekosistem yang berkarakter berdasarkan semangat gotong royong.

Saat tim kajian Museum Nasional berkunjung ke rumahnya, Lukas sedang sibuk membuat mamuli ditemani anak keduanya, Yudias. Adapun bahan baku mamuli yang terbuat dari logam mulia, masyarakat Sumba percaya bahwa langitlah asal muasal logam tersebut. Penghormatan tersebut juga terlihat pada perilaku masyarakat Sumba yang selalu menghadirkan mamuli dalam upacara-upacara penting yang berkaitan dengan siklus hidup manusia.

Dua unsur yang bersatu, laki-laki dan perempuan, bersatu dan bermakna sebagai asal mula kehidupan. Belis adalah mahar yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki atau calon mempelai laki-laki (layia) kepada mempelai laki-laki atau calon mempelai perempuan (yera). Selain mamuli, laki-laki juga membawa ternak dan barang emas lainnya.

Mamuli yang merupakan simbol persatuan laki-laki dan perempuan, kini menjadi sebuah benda yang hanya dihadirkan pada saat upacara saja. Pada saat upacara, pihak laki-laki membawa mamuli untuk diberikan kepada pihak perempuan, namun setelah upacara selesai, mamuli tersebut dikembalikan kepada keluarga pihak laki-laki. Pernikahan ini terjadi karena ketidaksetujuan kedua orang tua, baik laki-laki maupun perempuan.

Pria itu juga meninggalkan seekor kuda dan tanda dari klan keluarganya di halaman untuk memberi tahu mereka bahwa dia telah membawa putrinya pergi dari rumah untuk dinikahinya. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas mahar dan denda yang harus dibayar suami. Wunang akan membawakan mamuli emas untuk saudara laki-laki dan lau (sarung) untuk saudara perempuan.

Foto 1. Lukas Kaborang sedang membuat mamuli Mawaddatul Khusna Rizqika
Foto 1. Lukas Kaborang sedang membuat mamuli Mawaddatul Khusna Rizqika

Warna-warni dalam

Naskah Kakawin Sumanasantaka

  • Prajnaparamita 49
  • Prajnaparamita 51
  • Prajnaparamita 53
  • Prajnaparamita 55
  • Prajnaparamita 57
  • Prajnaparamita 59

Kakawin Sumanasantaka Meninggal Karena Bunga Sumanasa” karya Mpu Monaguna. Kajian terhadap puisi epos Jawa Kuno menjelaskan bahwa Sumanasantaka adalah sebuah karya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa Kuno dalam Sumanasantaka juga mempunyai variasi leksikon warna yang sesuai dengan variasi warna. benda-benda pada masa Jawa Kuna. Leksikon warna putih, kuning, biru, dan nila yang terdapat dalam bahasa Indonesia saat ini telah digunakan sejak zaman Jawa Kuna. Penggambaran alam dalam Sumanasantaka menyebutkan berbagai benda dan uraiannya, sehingga muncullah leksikon warna. dalam deskripsi item ini.

Oleh karena itu, kita dapat mengetahui entri leksikon warna mana saja yang sudah diketahui pada saat kakawin ini ditulis. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan kekayaan kata yang dimiliki suatu bahasa (leksikon) dalam hal ini (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/.leksikon), khususnya leksikon warna dan variasinya dalam Kakawin Sumanasantaka, yang berbicara bahasa Jawa Kuno. Naskah Kakawin Sumanasantaka yang digunakan adalah yang terdapat dalam buku karya Peter Worsley, S.

Untuk mengecek leksikon warna Jawa Kuno digunakan Kamus Indonesia Jawa Kuno yang merupakan versi terjemahan dari. Dalam KBBI dikatakan wungu merupakan bentuk tidak baku dari kata violet (https://..kbbi.kemdikbud.go.id/entri/.violet). Dalam daftar warna yang terdapat dalam Kakawin Sumanasantaka tersebut di atas, terdapat beberapa leksikon yang mempunyai arti mengacu pada warna yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa leksikon warna bahasa Jawa Kuna dalam Kakawin Sumanasantaka mempunyai variasi leksikon warna. Pada tabel di bawah terlihat enam belas leksikon warna yang terdapat dalam Kakawin Sumanasantaka terdiri dari delapan warna dasar menurut Berlin dan Kay, yaitu: hitam, putih, merah, kuning, biru, ungu, merah jambu, dan abu-abu. Dalam Kakawin Sumanasantaka yang berbahasa Jawa Kuna, terdapat delapan leksikon warna dasar jika mengacu pada sebelas warna dasar menurut Berlin dan Kay.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa Kuna dalam Kakawin Sumanasantaka mempunyai leksikon warna yang beragam sesuai dengan variasi warna benda-benda yang ada pada zaman Jawa Kuna. Selain itu, dari enam belas warna tersebut terdapat empat leksikon warna yang sama dengan leksikon warna yang digunakan saat ini, yaitu putih, kuning, biru, dan nila. Kakawin Sumanasantaka Meninggal Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna Kajian Puisi Epik Jawa Kuno.

Foto 1. Buku Kakawin Sumanasantaka, Mati karena Bunga Smanasa karya Mpu Monagusa sumber foto: Sari Gumilang
Foto 1. Buku Kakawin Sumanasantaka, Mati karena Bunga Smanasa karya Mpu Monagusa sumber foto: Sari Gumilang

Museum dan Instagram

Perlukah Museum Diubah Menjadi Tempat Instagramable?

Salah satu aspek yang muncul dan juga tumbuh subur dalam perkembangan smartphone adalah keberadaan media sosial. Instagram merupakan media sosial yang berfokus pada berbagi foto dan video agar dapat dilihat semua orang. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata, banyak museum yang mengadopsi dan mengembangkan lokasinya sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, termasuk jejaring sosial Instagram.

Museum dan media sosial Media sosial telah menjadi alat baru bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Kebutuhan akan interaksi antar individu menjadi salah satu alasan mengapa media sosial begitu populer. Hal ini terbukti efektif karena sebagian besar masyarakat sudah mengenal dan menggunakan media sosial secara intensif.

Pemanfaatan media sosial di museum merupakan salah satu cara untuk menciptakan koneksi antara museum dan masyarakat. Hal ini juga terkait dengan pengembangan konsep museum baru yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari museum. Keberadaan media sosial kerap dimanfaatkan oleh banyak orang, khususnya kaum muda, untuk mengunggah foto dan video terkait aktivitasnya.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan selfie atau selfie (merekam foto atau video secara mandiri). Oleh karena itu, tak heran kini banyak bermunculan tempat-tempat bernama “museum” yang menyajikan atraksi fotografi tanpa “semangat museum”. Fenomena ini sedikit banyak memberikan kita pandangan bahwa keberadaan jejaring sosial diibaratkan dua sisi mata uang, ada sisi positif dan ada sisi negatif.

Sisi positifnya, museum mendapat awareness masyarakat secara luas melalui media sosial (Instagram), yang dapat dijadikan wahana untuk menarik kelompok masyarakat tertentu yang berpotensi menjadi pengunjung baru museum. Komunikasi di Instagram seringkali memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan di media sosial lain, seperti Facebook dan Twitter. Kondisi ini harus diwujudkan mengingat manusia juga merupakan sumber kehancuran (kerusakan), baik vandalisme maupun kekuatan fisik (Canadian Conservation Institute, 2017).

Biografi Budaya Materi

Lika-Liku Pesona Kain Hinggi, Tenun Ikat dari Sumba Timur

Tinung pahikung atau tenun ikat Sumba Timur merupakan kain tradisional Indonesia yang terkenal dengan keindahan motifnya. Salah satu jenis kain ikat khas Sumba Timur adalah hinggi yang biasa dipakai sebagai kain tradisional pria Sumba Timur. Sejak masih dalam kandungan hingga meninggalnya seorang warga Sumba, kain ikat menjadi sebuah benda budaya yang memiliki makna baru bagi penggunanya, baik bagi masyarakat Sumba Timur maupun bagi masyarakat di luar Sumba Timur.

Namun faktanya tenun ikat Sumba Timur memiliki ciri khas tersendiri yang membuat kain ini banyak diminati masyarakat di luar masyarakat Sumba Timur. Keindahan kain Sumba Timur dengan ciri khas corak warnanya yang cerah dipadukan dengan beragam ragam hias flora dan fauna yang ditenun sedemikian rupa membuat kain ini disukai banyak orang. Sebab, setiap hiasan tenunan merupakan hiasan yang sarat makna dalam pengetahuan Marapu.

Secara tradisional, ada beberapa hiasan yang hanya boleh digunakan oleh raja dan bangsawan (marambas), misalnya hiasan buaya, penyu, dan udang. Berikut makna yang terkandung dalam beberapa ragam hias tenun ikat yang juga terdapat pada hinggi. Kuda juga merupakan hewan yang cocok hidup di alam Sumba Timur yang keras, digunakan untuk transportasi dan juga memiliki nilai ekonomi.

Hiasan ini kemudian diadopsi menjadi tenun ikat dan hanya boleh dikenakan oleh raja atau bangsawan. Hiasan patola ratu merupakan hiasan yang bernilai sakral dan mempunyai nilai tertinggi dalam upacara adat kematian di Sumba. Ornamen patola ratu hanya boleh dikenakan oleh pendeta yang bertugas dalam upacara kematian raja dan bangsawan. Kain ini juga merupakan kain penutup jenazah raja dan bangsawan yang telah meninggal.

Meski dalam perkembangannya telah digunakan oleh beberapa orang, namun desain ini menjadi identitas yang sangat khas dari Sumba Timur. Salah satunya adalah jenis dekorasi juga dapat mengungkap jaringan budaya dan politik. Dalam wawancaranya dengan Rambu, Margaretha, seorang penenun yang tinggal di Praiyawang, Sumba Timur, menyatakan bahwa tren yang terjadi saat ini adalah meningkatnya permintaan kain higgi yang sudah tua, kusam dan tua dari wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan asal Jepang.

Foto 1.  Penenun membuat tenunan hinggi sumber foto: Valentina Beatrix
Foto 1. Penenun membuat tenunan hinggi sumber foto: Valentina Beatrix

Gambar

Gambar 1. Somdetch Phra Paramindr Maha  Chulalongkorn atau Rama V, menjabat dari 1 Oktober
Gambar 2. Kapal pesiar Pritayamronnayuth yang digunakan oleh Raja Chulalongkorn berkunjung ke Jawa  pada 1871.
Gambar 4. Kapal pesiar The Maha Chakri yang digunakan Raja Rama V untuk berkunjung ke Jawa singgah di  Singapura yang kedua tahun 1896 dan 1901(Sumber: http://www.soravij.com/essays/Yachts/royalyachts.html)
Gambar 6. Raja Rama V sedang berwisata di Situ Bagendit (Sumber https://mooibandoeng.com/2013/05/30/
+7

Referensi

Dokumen terkait

konsep, dan prinsip mengenai kebudayaan dalam konteks kebhinekaan masyarakat Indonesia dan dinamika kehidupan global. Menguasai materi keilmuan yang meliputi dimensi pengetahuan,