61
Prajnaparamita
61Jurnal Museum Nasional
Pendahuluan
Kemajuan teknologi yang pesat telah membawa perubahan yang nyata bagi masyarakat. Jarak dan waktu dapat dipersempit sehingga komunikasi dan hubungan antar personal di lain tempat dapat terjalin secara nyata.
Hal ini memungkinkan dijumpainya informasi baru yang kemudian dapat menyebar ke segala penjuru secara cepat. Kemajuan teknologi ini dapat terdiri dari dua aspek, baik perangkat keras maupun lunak. Perkembangan keduanya selalu beriringan. Hal ini dapat dicontohkan dengan kehadiran smartphone atau gawai pada sepuluh tahun terakhir.
Kemunculan smartphone juga menandai era baru dalam perkembangan masyarakat karena alat ini telah mampu menghimpun seluruh fungsi alat yang pada masa lalu masih terpisah, antara lain kamera, pemutar musik, pengirim pesan, telepon, GPS, radio, pemutar film, internet, dan masih banyak lainnya. Dengan banyaknya fungsi dalam satu genggaman menjadikan alat ini menjadi salah satu primadona alat komunikasi masyarakat. Tidak mengherankan apabila hampir seluruh masyarakat memiliki alat ini.
Keberadaan smartphone ini pun memberikan pengaruh terhadap
munculnya layanan perangkat lunak yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bidang akademis, hiburan, maupun personal. Salah satu aspek yang muncul dan turut booming dalam perkembangan smartphone adalah keberadaan media sosial.
Media sosial merupakan media yang membuat masyarakat saling terhubung satu sama lain. Hal ini menyebabkan media sosial merupakan salah satu aplikasi yang populer di kalangan masyarakat. Kemunculan media sosial ini juga memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku masyarakat. Munculnya tren atau mode baru yang diperkenalkan oleh seseorang maupun tokoh terkenal mampu memikat kalangan masyarakat dan mereka berusaha untuk menirunya.
Kondisi ini dominan dan berkembang pesat di kalangan anak muda. Salah satu media sosial yang menjadi salah satu sumber informasi tren tersebut adalah Instagram.
Instagram merupakan salah satu media sosial yang menitikberatkan pada penyebaran foto maupun video sehingga setiap orang dapat melihatnya. Karena fungsinya inilah instagram banyak digandrungi oleh masyarakat. Hal ini juga dikaitkan dengan maraknya fenomena narsistik di kalangan masyarakat sehingga
63
Prajnaparamita
63Jurnal Museum Nasional
masyarakat tersebut berusaha untuk mengabadikan seluruh aktivitasnya melalui media sosial.
Fenomena narsistik ini kemudian dimanfaatkan oleh banyak instansi maupun perusahaan komersial dalam upayanya menggaet perhatian masyarakat. Banyak diantaranya yang menyediakan tempat atau spot foto unik agar banyak orang yang datang dan berfoto, kemudian mengunggahnya di Instagram sehingga dapat menjadi salah satu promosi gratis untuk menarik masyarakat agar datang atau membeli produk tertentu.
Bidang yang banyak memanfaatkan instagram antara lain bidang budaya, bidang pariwisata, pendidikan, hingga komersial.
Bagaimana dengan museum?
Sebagai instansi yang bergerak dalam bidang budaya, pendidikan, serta pariwisata, banyak museum telah mengadopsi dan mengembangkan tempatnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk dalam hal media sosial instagram. Kini telah banyak spot foto yang dihadirkan oleh pengelola museum sehingga masyarakat dapat berfoto di tempat tersebut. Selain itu, mulai banyak bermunculan “museum”
yang berkonsep instagramable yang menawarkan pengalaman baru melalui foto, seperti Museum De Mata-De
Arca di Jogja, Old City 3D Trick Art Museum Semarang, Alive Museum Ancol Jakarta, Dream Museum Zone Bali, dan masih banyak lainnya (Asterasa, 2017).
Dari beberapa informasi tersebut, didapatlah beberapa pertanyaan, antara lain, apakah penyajian museum yang instagramable merupakan suatu keharusan? Apakah kondisi tersebut sangat mendesak?
Bagaimana keterkaitannya dengan konsep museum baru (new museum)?
Beberapa pertanyaan tersebut diajukan untuk mengetahui hubungan antara museum dengan Instagram dalam konteks konsep museum baru.
Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan beberapa data terkait keberadaan Instagram dan museum. Data diperoleh melalui wawancara dengan orang yang terkait (pekerjaannya terkait museum, kurator, pemandu, konservator, dan edukator) dengan museum, masyarakat umum, dan studi pustaka yang terkait dengan konsep museum baru serta aspek positif-negatif Instagram. Setelah data terkumpul dan dilakukan analisis maka diharapkan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan yang bertujuan untuk mencari tahu posisi Instagram di museum.
Pembahasan
1. Konsep Baru Museum
Museum yang muncul di tengah-tengah masyarakat telah melewati berbagai perkembangan yang membantu menentukan tujuan dan fungsi museum. Sejarah mencatat museum telah beberapa kali mengalami perubahan fungsi.
Mulai dari menjadi media yang menunjukkan status sosial, identitas negara, tempat untuk menyimpan dan memamerkan benda, serta tempat untuk memberikan informasi kepada masyarakat.
Perubahan fungsi tersebut masih berkembang hingga sekarang.
Pada awal abad ke-21 mulai muncul pemikiran-pemikiran baru terkait keberadaan museum. Para ahli museum bersepakat bahwa museum memiliki fungsi yang sangat dinamis dan luas. Fungsi museum ini dapat dihubungkan dengan perkembangan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, yang merupakan bagian penting dari museum. Dengan kata lain fungsi baru museum ini lebih cenderung menitikberatkan pada peran sosial kepada masyarakat (Pabst, Johansen, dan Ipsen, 2016: 8).
Keberadaan peran sosial ini telah dibahas oleh beberapa ahli, seperti Arinze (1999: 1-2) yang
menyatakan bahwa museum perlu melakukan pendefinisian ulang terkait misi, tujuan, fungsi, dan strateginya dalam menghadapi perubahan yang berkembang di masyarakat. Dengan melakukan pendefinisian ulang tersebut diharapkan museum dapat menjadi agen perubahan yang bersinergi dengan masyarakat sehingga mampu menunjukkan keselarasan dan membantu arah perkembangan masyarakat.
Menurut Mairesse dan Desvallees (2010 dalam McCall dan Gray, 2013: 2), peran museum pada konsep baru ini lebih menekankan pada pembaharuan komunikasi dan pengembangan baru dalam tampilan museum yang meliputi, interpretasi, makna, kontrol, nilai, serta kewenangan dalam museum.
Bagi Stam (1993) kondisi tersebut disebut dengan distribusi ulang dalam tahap kuratorial (curatorial
redistribution), sedangkan Harrison (1993) menyebutnya pemberdayaan, dialog, definisi ulang sosial (social re-definition), dan keberadaan aspek emosional.
Melalui pemahaman baru ini, museum bukan lagi sekedar tempat untuk memamerkan benda (McCall dan Gray, 2013: 1). Hal ini disebabkan karena terdapat
65
Prajnaparamita
65Jurnal Museum Nasional
dua aspek yang menjadi peran sentralnya,, yaitu komunikasi dan pendidikan (Hooper-Greenhill, 2000). Komunikasi menitikberatkan pada proses penyampaian informasi yang terkait dengan desain, materi, dan interpretasi, sedangkan aspek pendidikan tidak hanya dalam kaitannya dengan segi kognitif, namun juga soft skill dan kompetensi kreatif lainnya (Mastenistsa, 2014:
6). Dengan kata lain museum menjadi salah satu institusi yang memiliki kapasitas dan kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya (Hein, 2004: 423).
2. Museum dan Media Sosial Media sosial telah menjadi salah satu wahana baru bagi masyarakat dalam berkomunikasi.
Cara berkomunikasi yang mampu menggabungkan dua unsur bahkan lebih ini mampu menarik perhatian masyarakat untuk menggunakannya. Tidak mengherankan apabila saat ini banyak masyarakat yang memiliki media sosial, tidak hanya satu bahkan bisa lebih dari dua.
Kebutuhan akan interaksi antara individu merupakan salah satu alasan mengapa media sosial ini begitu populer.
Kepopuleran media sosial
ini tidak hanya digandrungi oleh individu personal saja. Banyak institusi maupun instansi yang mulai menggunakan media sosial.
Penggunaannya dimanfaatkan untuk dapat mengetahui tren yang sedang berkembang di dalam masyarakat serta digunakan untuk mencari pangsa pasar baru (Kelly, 2009: 7 dan Marakos, 2014: 76). Hal ini terbukti efektif karena sebagian besar masyarakat telah mengenal dan menggunakan media sosial secara intensif.
Penggunaan media sosial juga banyak dijumpai di museum.
Penggunaan media sosial di museum merupakan salah satu cara agar terdapat ikatan antara museum dengan masyarakat. Hal ini juga terkait dengan perkembangan konsep museum baru yang menempatkan masyarakat sebagai salah satu bagian penting museum.
Kondisi tersebut sejalan dengan pernyataan Simon (2010 dalam Visser, 2013: 3) yang menyatakan bahwa masyarakat pada saat ini telah berubah bukan lagi sebagai konsumer tetapi telah memiliki kontribusi nyata sebagai partisipan.
Berdasarkan pada pernyataannya tersebut, Simon (2010) mendefinisikan museum bukan lagi sebagai tempat memajang benda
tetapi lebih kepada suatu tempat di mana pengunjung mampu berkreasi, berbagi, dan terkoneksi satu sama lain dalam satu cakupan.
Pada taraf ini media sosial bisa memberikan gambaran aktivitas komunikasi yang ada. Aktivitas komunikasi ini dapat terlihat dari berbagai level, contohnya adalah mengembangkan model baru dalam segi partisipasi dan timbal balik museum, mempromosikan aktivitas yang ada di museum, membantu dalam menentukan keaslian dan keabsahan koleksi museum, serta berperan dalam membentuk konten pameran (Marakos, 2014: 80).
3. Museum Instagramable
Instagram merupakan salah satu media sosial yang cukup populer di kalangan masyarakat.
Keberadaan media sosial ini sering dimanfaatkan oleh banyak masyarakat, khususnya anak muda, untuk mengunggah foto maupun video terkait kegiatan yang dilakukannya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan swafoto atau swavideo (melakukan perekaman foto maupun video secara mandiri).
Dua aktivitas tersebut oleh Raditya (2014: 29) dinyatakan sebagai tindakan pendokumentasian
momen yang dianggap penting.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Harisa dan Asriwandari (2017 : 4) menyebutkan bahwa fenomena ini sangat erat terkait dengan citra yang akan dipersepsikan seseorang kepada orang lain, di mana individu tersebut berusaha menunjukkan sisi terbaiknya untuk meninggalkan kesan positif bagi orang lain. Hal inilah yang membuat para individu yang berswafoto maupun swavideo akan memilih tempat maupun kegiatan yang menarik (Raditya, 2014: 29).
Museum dianggap sebagai salah satu tempat yang menarik untuk berswafoto maupun swavideo yang kemudian diunggah ke instagram.
Harsono (2016) menjelaskan bahwa keberadaan benda-benda koleksi merupakan salah satu pemicu masyarakat mengabadikan diri di museum. Selain itu, keberadaan desain pameran maupun gaya bangunan juga menjadi daya tarik tersendiri. Keunikan yang dimiliki oleh museum ini tidak dijumpai di tempat lain. Sehingga tidak mengherankan apabila ada museum yang menarik, maka akan cepat dikenal oleh masyarakat.
Hal ini merupakan suatu keuntungan bagi pengelola museum karena aktivitas tersebut menjadi
67
Prajnaparamita
67Jurnal Museum Nasional
salah satu ajang promosi gratis yang dilakukan oleh masyarakat.
Maka, tidak mengherankan apabila pada saat ini banyak museum yang merenovasi bangunan, menata ulang desain pameran maupun penambahan koleksi serta adanya area untuk berfoto. Kondisi ini juga ditiru oleh beberapa pihak. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kini banyak bermunculan tempat berlabel “museum” yang menghadirkan atraksi foto tanpa adanya “jiwa museum”
yaitu menyampaikan informasi untuk menambah pengetahuan pengunjung.
Fenomena ini sedikit banyak telah memberikan pandangan kepada kita bahwa keberadaan media sosial diibaratkan sebagai dua sisi mata uang, ada sisi positif dan ada sisi negatif. Sisi positifnya adalah dikenalnya museum secara luas oleh masyarakat melalui media sosial (Instagram) yang dapat menjadikannya sebagai wahana untuk menarik kelompok masyarakat tertentu yang potensial untuk dijadikan pengunjung baru museum. Sisi negatifnya adalah fungsi museum sebagai tempat penyebaran pengetahuan tidak terlaksana dengan semestinya.
Hasil wawancara yang dilakukan
Penulis terhadap beberapa orang yang berkecimpung di dunia permuseuman mengangap bahwa keberadaan instagram
bagi museum merupakan suatu hal yang wajar dan cenderung penting. Hal ini didasarkan pada fungsi komunikasi yang ada pada instagram. Komunikasi yang ada di instagram cenderung mampu menghadirkan pengalaman berbeda jika dibandingkan dengan media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter.
Hal ini didasarkan pada tampilan instagram yang lebih efektif. Selain itu, keberadaan instagram juga dapat difungsikan sebagai “ruang pamer digital” sehingga setiap orang mampu melihat beberapa koleksi museum. Keuntungan lainnya adalah pengelola museum mampu mengetahui fenomena yang muncul di kalangan anak muda sehingga museum mudah beradaptasi.
Sementara itu, keberadaan museum instagramable bagi orang- orang museum perlu diperhatikan secara cermat. Keberadaannya tidak ditolak namun terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Beberapa diantaranya adalah terkait fungsi museum. Sesuai dengan konsep museum baru, museum harus mengedepankan kemanfaatannya
bagi perkembangan masyarakat.
Kekhawatiran ini disampaikan oleh Sinaulan (Susantio, 2018) yang menyatakan bahwa anak muda saat ini rela berkunjung ke museum yang memiliki tiket mahal hanya untuk mencari latar belakang foto yang bagus. Akibat yang ditimbulkan adalah terkikisnya fungsi museum sebagai tempat pendidikan. Hal lainnya adalah aktivitas orang yang mengambil foto juga perlu menjadi perhatian khusus. Kondisi ini perlu disadari mengingat manusia juga menjadi salah satu sumber agen perusak (deterioration) baik vandalisme maupun fisik (physical forces) (Canadian Conservation Institute, 2017). Salah satu contoh adanya kerusakan yang diakibatkan oleh swafoto adalah kerusakan patung dari abad ke-18 di Museum Nasional Seni Kuno (National Museum of Ancient Art) di Lisbon (Marcus, 2016).
Hasil wawancara terhadap pengunjung museum diperoleh informasi bahwa pengelola museum harus memiliki akun instagram. Alasannya adalah untuk menyebarkan segala kegiatan yang ada di museum sehingga masyarakat mengetahuinya.
Adanya area untuk berfoto juga perlu dipertimbangkan. Area ini
tidak harus berupa tempat khusus untuk berfoto tetapi pengunjung dibebaskan berfoto di ruang pamer. Kondisi ini didasarkan pada sifat anak muda yang selalu bisa melihat sesuatu hal yang menarik dan pengambilan gambar dari sisi yang berbeda. Hal menarik adalah adanya pengunjung museum yang berpendapat bahwa keberadaan museum yang instagramable tidak perlu dipaksakan, karena hal yang terpenting adalah membuat pengunjung nyaman terlebih dahulu. Nyaman dalam arti pengunjung betah untuk berlama- lama di museum dikarenakan lingkungannya yang kondusif untuk berkeliling di museum. Alasan ini cukup menarik mengingat masih banyak museum Indonesia dalam kondisi yang belum memberikan kenyamanan pengunjung.
Dari hasil dua tahap wawancara tersebut dapat diperoleh beberapa pernyataan. Keberadaan media Instagram sebagai salah satu alat komunikasi alangkah baiknya dimanfaatkan oleh pengelola museum. Keuntungan yang diperoleh adalah museum melangkah menjadi institusi yang mengikuti perkembangan zaman, dan dapat dijadikan media untuk menggaet pengunjung baru.
69
Prajnaparamita
69Jurnal Museum Nasional
Keberadaan museum instagramable juga dapat dijadikan opsi untuk promosi museum sehingga akan banyak masyarakat yang datang. Tetapi, yang terpenting dari keseluruhan tersebut adalah adanya kontribusi dari museum dalam perkembangan masyarakat.
Dengan adanya keseimbangan antara museum instagramable dan fungsi baru museum maka akan didapatkan museum menarik namun tetap mampu menjadi tempat belajar pengunjung.
Penutup
Perkembangan zaman yang terjadi di seluruh dunia telah membawa perubahan perilaku masyarakat terutama dalam konteks komunikasi.
Munculnya media sosial telah menarik perhatian masyarakat luas, salah satunya adalah instagram. Kegunaan Instagram mampu memberikan pengalaman baru berinteraksi melalui tampilan yang efektif terkait foto, video, dan teks. Instagram digunakan di berbagai institusi seperti museum. Penggunaan di museum dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal, seperti menginformasikan kegiatan yang sedang berlangsung,
memperlihatkan koleksi museum, serta sarana berkomunikasi dengan pengunjung. Penggunaan instagram di museum juga menghadirkan menghadirkan fenomena yang disebut museum instagramable.
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pembentukan museum instagramable bukanlah suatu kebutuhan yang mendesak mengingat masih banyak museum yang ada di Indonesia belum memperhatikan kenyamanan museum. Namun penggunaan Instagram sebagai media komunikasi merupakan keharusan karena berusaha mengikuti perkembangan zaman. Terkait dengan keberadaan konsep museum baru, adanya instagram ini perlu mendapat perhatian bagi pengelola museum.
Fungsi museum berdasarkan pada konsep ini adalah memberikan dampak positif bagi perkembangan masyarakat yaitu dengan menjadikan museum sebagai tempat belajar. Sehingga, munculnya fenomena museum instagramable ini perlu diseimbangkan dengan konsep museum baru agar tidak hanya faktor kesenangan pribadi yang dicari namun pengetahuan pun juga didapatkan oleh pengunjung.
Daftar Pustaka
Arinze, Emmanuel N. 1999. The Role of the Museum in Society. Public Lecture at the Natonal Museum, Georgetown, Guyana, 17 Mei 1999. p.1-2
Bennet, Tony. 1995. The Birth of The Museum: History, Theory, Politics. London and New York: Routledge
Direktorat Permuseuman. 2008. Pedoman Museum Indonesia. Direktorat Museum, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pari- wisata. Jakarta
Harisa, Suci Ananda dan Asriwandari, Hesti. 2017. Perilaku Berfoto Selfie Sebagai Ke- cenderungan Munculnya Gaya Hidup Modern (Studi Tentang Kegiatan Berfoto Selfie Pada Mahasiswa di Universitas Riau) dalam JOM FISIP, Vol. 4, No. 1, Februari 2017
Hein, George E. 2004. John Dewey and Museum Education on Curator 47/4 October 2004 Hooper-Greenhill, Eilean. 1999. “Education, Communication, and Interpretation:
Towards a Critical Pedagogy in Museum” dalam The Educational Role of the Museum. Hal. 3-28. London and New York: Routledge
Kelly, Lynda. 2009. The Impact of Social Media on Museum Practice, presented at The National Palace Museum Taipe 20 october 2009
Marakos, Panteleimon. 2014. Museums and Social Media: Modern Methods of Reaching a Wider Audience. Mediterranean Archaeology and Archaeometry, Vol. 14, No. 4 hal. 75-81. Yunani
Pabst, Kathrin; Johansen, Eva D.; dan Ipsen, Merete. 2016. Towards New Relations Be- tween the Museum and Society. Oslo: ICOM Norway
Kurniasari, Luvy dan Rachmah, Eva Nur. 2017. Relasi Narsisme dan Konsep Diri pada Pengguna Instagram. Prosiding SEMNAS Penguatan Individu di Era Revolusi Informasi. Hal. 136-142
Mastenitsa, Elena. 2014. Actual Issues of Museology and Practice of Museum Manage- ment in the 21st Century: Policy Brief. Moscow: Russian National Committee of International Council of Museums
McCall, V dan Gray, C. 2014. Museums and the ‘New Museology’: Theory, Practice and Organisational Change. Museum Management and Curatorship, 29(1), Hal.
19-35
Raditya, Michael HB. 2014. Selfie dan Mediasosial Pada Seni Sebagai Wujud Eksistensi dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 18, No. 1, juli 2014
Rahmawati, Dewi. 2016. Pemilihan dan Pemanfaatan Instagram sebagai Media Komu- nikasi Pemasaran Online (Studi Deskriptif Kualitatif pada Akun Instagram @
71
Prajnaparamita
71Jurnal Museum Nasional FreezyBrowniezz). Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Komunikasi Fakul- tas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Trihayuningtyas, E; Wulandari, W; Adriani Y; Sarasvati. 2018. Media Sosial sebagai Sarana Informasi dan Promosi Pariwisata bagi Generasi Z di Kabupaten Garut.
Tourism Scientific Journal. Vol. 4, No. 1. Hal. 1-22
Visser, Jasper. 2013. From Social Media to a Social Museum. The Nordic Centre of Herit- age Learning.
Internet
Asterasa. 2017. 10 Museum 3D Trick Art Paling Menakjubkan di Indonesia. Diakses dari https://www.idntimes.com/travel/destination/asteria-dw/10-museum-3d-trick- art-paling-menakjubkan-di-indonesia-c1c2/full, pada tanggal 29 Agustus 2018 Canadian Conservation Institute. 2017. Agents of Deterioration. www.canada.ca/en/
conservation-institute/services/agents-deterioration.html, diakses tanggal 2 September 2018.Diakses pada tanggal 2 September 2018
Harsono, Fitri Haryati. 2016. Mencengangkan, Jauh-jauh Datang ke Museum Hanya Untuk Foto Selfie. https://www.liputan6.com/citizen6/read/2473561/mencen- gangkan-jauh-jauh-datang-ke-museum-hanya-untuk-foto-selfie, 3 April 2016.
Diakses pada 29 Agustus 2018
Marcus, Lilit. 2016. Selfie Taking Tourist Destroys 18th Century Saint Michael Statue in Lisbon. 10 November 2016
Permana, Rizky Wahyu. 2016. Ternyata Kini Banyak Orang ke Museum Hanya untuk Melakukan Selfie. 4 maret 2016. https://www.merdeka.com/gaya/ternyata-kini- banyak-orang-ke-museum-hanya-untuk-melakukan-selfie.html.
Susantio, Djulianto. 2018. Generasi Sekarang ke Museum untuk Berswafoto, Bukan Mencari Informasi. Kompasiana,18 Mei 2018. Diakses pada tanggal 29 Agustus 2018
Foto 1. Pengunjung bergaya untuk berfoto di depan Arca Bhairawa di Museum Nasional.
dok. Museum Nasional
73
Prajnaparamita
73Jurnal Museum Nasional