• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lingkup Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Dalam dokumen BUKU AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH (Halaman 46-50)

BAB III SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH

3.2 Lingkup Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Akuntansi Pemerintah Daerah adalah akuntansi yang dipakai oleh Pemerintah Daerah, untuk melakukan manajemen dan pengelolaan keuangan daerah. Manajemen keuangan daerah merupakan alat untuk mengurus dan mengatur rumah tangga pemerintah daerah (Renyowijoyo,

AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 33 2008). Akuntansi Keuangan Pemerintah menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut melalui sebuah proses yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan yang memerlukan sebuah system dan prosedur yang dalam akuntansi dikenal dengan Sistem Akuntansi (Halim, dkk. 2010).

Berdasarkan Permendagri Nomor 64 Tahun 2013, Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) terdiri atas: (1) Sistem Akuntansi Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD), dan (2) Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). PPKD adalah kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.

Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 menyebutkan bahwa sistem akuntansi pemerintahan daerah meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Pasal 232 Permendagri Nomor 13 tahun 2006 menyebutkan bahwa sistem akuntansi tersebut harus diselenggarakan oleh setiap entitas pelaporan dan entitas akuntansi. Sistem akuntansi Pemda tersebut harus diselenggarakan oleh SKPD dan PPKD. SKPD sebagai entitas akuntansi menyusun 5 (lima) jenis laporan keuangan yaitu Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK). PPKD kemudian akan melakukan konsolidasi laporan keuangan SKPD sehingga bisa disusun 7 jenis laporan keuangan pemerintah daerah sebagai entitas pelaporan yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran LRA), Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Laporan Arus Kas LAK), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).

Konsep sistem akuntansi Pemda dapat dijelaskan bahwa hubungan antara SKPD dengan PPKD dapat diibaratkan seperti hubungan antara “Kantor Pusat” dengan “Kantor Cabang”, di mana PPKD sebagai "Kantor Pusat” dan SKPD-SKPD sebagai “Kantor Cabang”. Hal tersebut akan menyebabkan masing-masing pihak menyelenggarakan rekening timbal balik (reciprocal accounts) yaitu PPKD menyelenggarakan Rekening Koran SKPD (R/K-SKPD) dan SKPD menyelenggarakan Rekening Koran PPKD (R/K-PPKD).

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Teori, Konsep dan Aplikasi

34

RK-SKPD akan diselenggarakan oleh PPKD. Saldo rekening ini menunjukkan “investasi” PPKD di SKPD atau hak PPKD terhadap SKPD.

Rekening ini akan didebit apabila hak PPKD bertambah dan dikredit apabila hak PPKD berkurang. Rekening ini merupakan kelompok aset sehingga selalu bersaldo debit. Sedangkan R/K PPKD diselenggarakan oleh SKPD-SKPD. R/K PPKD termasuk kelompok rekening ekuitas. Rekening ini akan dikredit apabila kewajiban SKPD kepada PPKD bertambah dan akan didebit apabila kewajiban SKPD kepada PPKD berkurang.

Pada praktiknya, sistem akuntansi SKPD dilaksanakan oleh seluruh SKPD di lingkungan Pemda seperti Dinas, Badan, dan Kantor. Misalnya Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Kantor Satpol PP, dan sebagainya. Sementara sistem akuntansi PPKD dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) yang biasanya dikenal dengan nama Dinas/Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah. Sistem akuntansi yang diselenggarakan oleh SKPKD karenanya terdiri atas:

1. Sistem akuntansi SKPKD selaku SKPD

Sistem akuntansi SKPKD selaku SKPD sama dengan sistem akuntansi yang diselenggarakan oleh SKPD lainnya. SKPKD seperti SKPD pada umumnya, merupakan entitas akuntansi yang bertugas menyusun 5 (lima) jenis laporan keuangan yaitu Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).

2. Sistem akuntansi PPKD

Sebagai PPKD, sistem akuntansi SKPKD dibagi lagi menjadi 2 (dua):

a. Sistem akuntansi PPKD sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD) yang menghasilkan laporan keuangan PPKD berupa LRA, Neraca, LO, LPE, dan CALK.

b. Sistem akuntansi konsolidator Pemda yang bertugas menggabungkan/ mengkonsolidasikan seluruh laporan keuangan SKPD dan PPKD sehingga tersusun 7 (tujuh) jenis laporan keuangan pemerintah daerah sebagai entitas pelaporan yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).

AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 35 Seperti telah dibahas di atas, struktur akuntansi di Pemda menggunakan konsep transaksi Kantor Pusat-Kantor Cabang (Head/Home Office-Branch Office). Kantor Pusat adalah Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) sedangkan yang bertindak sebagai Kantor Cabang adalah SKPD. Pemilihan struktur ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara pasal 10 ayat (3) dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 100 yang menetapkan bahwa pelaksanaan akuntansi dan pelaporan keuangan dilakukan di tingkat SKPD sebagai entitas akuntansi dan pemda sebagai entitas pelaporan. Sebagai konsekuensinya dari struktur akuntansi tersebut maka diperlukan kontrol pencatatan antara PPKD dan SKPD melalui mekanisme akun resiprokal seperti yang telah disebutkan di atas yaitu akun R/K-PPKD yang ada di SKPD dan akun R/K-SKPD yang ada di PPKD.

Akuntansi R/K PPKD merupakan akuntansi ekuitas di tingkat SKPD.

Akun R/K PPKD setara dengan “Ekuitas” tetapi penggunaannya khusus SKPD. Hal ini dikarenakan SKPD merupakan “cabang” dari Pemda, sehingga sebenarnya SKPD tidak memiliki ekuitas atau modal sendiri melainkan hanya menerima modal dari PPKD melalui mekanisme transfer.

Akun R/K PPKD akan bertambah (dikredit) bila SKPD menerima transfer aset seperti menerima SP2D-UP dan SP2D-LS. Akun R/K PPKD akan berkurang bila SKPD mentransfer aset ke Pemda (seperti penyetoran kas ke rekening Kas Umum Daerah yang dikelola PPKD). Saldo normal R/K PPKD adalah kredit. Seperti yang telah diuraikan di atas, resiprokal dari R/K PPKD adalah R/K SKPD yang ada di neraca PPKD sebagai akun aset lancar. Akun-akun resiprokal ini akan dieliminasi pada saat dilakukan penggabungan laporan keuangan dari seluruh SKPD dan PPKD menjadi laporan keuangan Pemda.

SKPD sebagai entitas akuntansi harus menyelenggarakan akuntansi yang bertujuan untuk menghasilkan laporan keuangan yang akan disampaikan kepada entitas pelaporan. Penyelenggaraan akuntansi mengacu kepada Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah yang sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun laporan keuangan gabungan dari unit kerja yang berada di lingkup SKPD dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selaku entitas pelaporan untuk dilakukan proses konsolidasian. PPKD selaku BUD menyusun laporan keuangan SKPKD

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Teori, Konsep dan Aplikasi

36

sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah yang selanjutnya akan digabungkan dengan laporan keuangan yang berasal dari SKPD. PPKD selanjutnya melakukan proses konsolidasian dan menyusun laporan keuangan Pemda berdasarkan laporan keuangan SKPD serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah dan disampaikan kepada Kepala Daerah untuk selanjutnya disampaikan ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Proses konsolidasi dapat dilaksanakan dengan mengeliminasi akun- akun yang timbal balik (reciprocal accounts). Jika pemda memiliki Badan Layanan Umum (BLU) maka laporan keuangan BLU harus digabungkan dalam laporan keuangan konsolidasian Pemda yang membawahi BLU dimaksud. Selain BLU, Pemda juga memiliki Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di mana laporan keuangannya tidak dikonsolidasikan dalam laporan keuangan Pemda. Laporan Keuangan BUMD hanya dilampirkan dalam Laporan Keuangan Konsolidasian Pemerintah Daerah.

3.3. Persamaan Dasar dan Pencatatan Akuntansi

Dalam dokumen BUKU AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH (Halaman 46-50)