~ i ~
AKUNTANSI
KEUANGAN DAERAH
Teori, Konsep dan Aplikasi
~ ii ~
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 2
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
~ iii ~
Dr. La Ode Anto, SE., M.Si., Ak., QIA., CA., Asean CPA
AKUNTANSI
KEUANGAN DAERAH
Teori, Konsep dan Aplikasi
Penerbit
~ iv ~
AKUNTANSI
KEUANGAN DAERAH
Teori, Konsep dan Aplikasi
Penulis :
Dr. La Ode Anto, SE., M.Si., Ak., QIA., CA., Asean CPA Desain Sampul & Tata Letak:
Zulkifli, SE., MM Penerbit : AA-DZ Grafika
Cetakan Pertama : Desember 2020 xiv + 287 Halaman, 18 x 25 cm
ISBN : 978-623-7877-04-2
Dicetak oleh :
Percetakan AA-DZ Grafika Email : [email protected]
Jl. Kapten Piere Tendean, Baruga Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara
_____________________________________________________________
Copyright@2020
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Bila dijadikan acuan ataupun sumber pustaka, harap cantumkan penulisnya.
~ v ~
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Akuntansi keuangan daerah sebagai bagian dari Akuntansi sektor publik, telah menjadi perhatian semua pihak baik dalam tataran pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Peralihan sistem akuntansi pemerintahan dari basis kas menjadi basis akrual merupakan salah satu aspek penting dalam reformasi akuntansi sektor publik termasuk akuntansi keuangan pemerintah daerah. Reformasi sektor publik dengan mengadopsi akuntansi akrual sangat terkait dengan ketersediaan dan kapasitas sumber daya manusia pada pemerintah daerah untuk mengimplementasikannya dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang senantiasa dikembangkan. Oleh karena itu, buku ini membahas sistem akuntansi keuangan pada pemerintah daerah berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan dan didukung dengan literatur lain yang relevan.
Buku ini diharapkan dapat menambah wacana dan menjadi referensi bagi praktisi akuntansi pada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan sistem akuntansi keuangan daerah. Selanjutnya buku ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam perkuliahan bidang Akuntansi Sektor Publik khususnya Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan buku ini. Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan berikutnya.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kendari, November 2020 Penulis
~ vi ~
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR SINGKATAN/SIMBOL ... x
BAB I REFORMASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN ... 1
1.1 Perkembangan Akuntansi Pemerintahan ... 1
... 1.2 Standar Akuntansi Pemerintahan ... 5
1.3 Konsep Dasar Akuntansi Pemerintahan... 8
1.4 Prinsip Akuntansi dan Pelaporan Keuangan ... 10
1.5 Definisi Akuntansi Keuangan Daerah ... 13
BAB II KEKUASAAN DAN ORGANISASI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ... 21
2.1 Wewenang Kepala Daerah ... 21
2.2 Sekretaris Daerah ... 22
2.3 Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD) ... 23
2.4 Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ... 24
2.5 Pejabat Kuasa Pengguna Anggaran ... 26
2.6 Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ... 26
2.7 Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD ... 27
2.8 Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran ... 28
2.9 Tanggung Jawab atas Pengelolaan Keuangan Daerah ... 29
BAB III SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH ... 31
3.1 Pentingnya Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah ... 31
3.2 Lingkup Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah ... 32
3.3 Persamaan Dasar dan Pencatatan Akuntansi ... 36
3.3.1 Persamaan Dasar Akuntansi... 36
3.3.2 Pencatatan Akuntansi ... 38
3.4 Siklus Akuntansi Keuangan Daerah... 47
BAB IV PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH 59
4.1 Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah . ... 59~ vii ~
4.2 Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah . 61 4.3 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah ... 61
4.4 Kendala Informasi yang Rekevan dan Andal ... 63
4.5 Elemen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ... 64
BAB V LAPORAN REALISASI ANGGARAN (LRA)... 69
5.1 Tujuan Penyusunan Laporan Realisasi Anggaran ... 69
5.2 Manfaat Informasi Laporan Realisasi Anggaran ... 69
5.3 Struktur Laporan Realisasi Anggaran ... 70
5.4 Unsur-Unsur Laporan Realisasi Anggaran ... 75
BAB VI LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH (LPSAL) ... 79
6.1 Tujuan Penyusunan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih ... 79
6.2 Manfaat Informasi Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih ... 79
6.3 Struktur Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih ... 80
6.4 Unsur-Unsur Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih 81
BAB VII LAPORAN OPERASIONAL (LO) ... 83
7.1 Tujuan Penyusunan Laporan Operasional ... 83
7.2 Manfaat Informasi Laporan Operasional ... 83
7.3 Struktur Laporan Operasional ... 84
7.4 Unsur-Unsur Laporan Operasional ... 88
BAB VIII LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS (LPE)... 91
8.1 Tujuan Penyusunan Laporan Perubahan Ekuitas ... 91
8.2 Manfaat Informasi Laporan Perubahan Ekuitas ... 91
8.3 Struktur Laporan Perubahan Ekuitas ... 91
8.4 Unsur-Unsur Laporan Perubahan Ekuitas ... 92
BAB IX NERACA ... 95
9.1 Tujuan Penyusunan Neraca ... 95
9.2 Manfaat Informasi Neraca ... 95
9.3 Struktur Neraca ... 95
9.4 Unsur-Unsur Neraca ... 98
BAB X LAPORAN ARUS KAS (LAK) ...103
10.1 Tujuan Penyusunan Laporan Arus Kas ... 103
10.2 Manfaat Informasi Laporan Arus Kas ... 103
~ viii ~
10.3 Struktur Laporan Arus Kas ... 104
10.4 Unsur-Unsur Laporan Arus Kas ... 110
BAB XI CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (CALK) ... 115
11.1 Penyusunan Catatan Atas Laporan Keuangan ... 115
11.2 Manfaat Informasi Catatan Atas Laporan Keuangan ... 115
11.3 Struktur Catatan Atas Laporan Keuangan ... 116
11.4 Unsur-Unsur Catatan Atas Laporan Keuangan ... 117
BAB XII AKUNTANSI ASET LANCAR ... 123
12.1 Akuntansi Kas ... 123
12.1.1 Definisi Kas ... 123
12.1.2 Pengelolaan Kas ... 124
12.1.3 Pengakuan dan Pengukuran Kas ... 128
12.1.4 Penyajian dan Pengungkapan Kas ... 131
12.2 Akuntansi Piutang ... 133
12.2.1 Definisi Piutang ... 133
12.2.2 Klasifikasi Piutang ... 133
12.2.3 Pengakuan dan Pengukuran Piutang ... 136
12.2.4 Penyajian dan Pengungkapan Piutang... 138
12.3 Akuntansi Persediaan ... 139
12.3.1 Definisi Persediaan ... 139
12.3.2 Klasifikasi Persediaan ... 139
12.3.3 Pengakuan dan Pengukuran Persediaan ... 140
12.3.4 Penyajian dan Pengungkapan Persediaan ... 143
BAB XIII AKUNTANSI INVESTASI, ASET TETAP, DAN DANA CADANGAN ... 145
13.1 Akuntansi Investasi ... 145
13.1.1 Definisi Investasi ... 145
13.1.2 Klasifikasi Investasi ... 145
13.1.3 Pengakuan dan Pengukuran Investasi... 147
13.1.4 Penyajian dan Pengungkapan Investasi ... 151
13.2 Akuntansi Aset Tetap ... 153
13.2.1 Definisi Aset Tetap ... 153
13.2.2 Klasifikasi Aset Tetap ... 153
13.2.3 Pengakuan dan Pengukuran Aset Tetap ... 155
13.2.4 Penyajian dan Pengungkapan Aset Tetap ... 165
13.3 Akuntansi Dana Cadangan ... 167
13.3.1 Definisi Dana Cadangan ... 167
13.3.2 Klasifikasi Dana Cadangan ... 167
~ ix ~
13.3.3 Pengakuan dan Pengukuran Dana Cadangan . 167 13.3.4 Penyajian dan Pengungkapan Dana
Cadangan ... 169
BAB XIV AKUNTANSI KEWAJIBAN, PEMBIAYAAN, DAN TRANSAKSI NON ANGGARAN ... 171
14.1 Akuntansi Kewajiban... 171
14.1.1 Definisi Kewajiban ... 171
14.1.2 Klasifikasi Kewajiban ... 171
14.1.3 Pengakuan dan Pengukuran Kewajiban ... 174
14.1.4 Penyajian dan Pengungkapan Kewajiban ... 179
14.2 Akuntansi Pembiayaan ... 180
14.2.1 Definisi Pembiayaan ... 180
14.2.2 Klasifikasi Pembiayaan ... 181
14.2.3 Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan ... 181
14.2.4 Penyajian dan Pengungkapan Pembiayaan ... 183
14.3 Akuntansi Transaksi Non Anggaran ... 183
14.3.1 Definisi Transaksi Non Anggaran ... 183
14.3.2 Klasifikasi Transaksi Non Anggaran ... 184
14.3.3 Pengakuan dan Pengukuran Transaksi Non Anggaran ... 184
14.3.4 Penyajian dan Pengungkapan Transaksi Non Anggaran ... 185
BAB XV AKUNTANSI PENDAPATAN, BELANJA, DAN BEBAN ... 187
15.1 Akuntansi Pendapatan ... 187
15.1.1 Definisi Pendapatan ... 187
15.1.2 Klasifikasi Pendapatan ... 187
15.1.3 Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan ... 188
15.1.4 Penyajian dan Pengungkapan Pendapatan ... 192
15.2 Akuntansi Belanja ... 195
15.2.1 Definisi Belanja ... 195
15.2.2 Klasifikasi Belanja ... 196
15.2.3 Pengakuan dan Pengukuran Belanja ... 198
15.2.4 Penyajian dan Pengungkapan Belanja ... 199
15.3 Akuntansi Beban ... 201
15.3.1 Definisi Beban ... 201
15.3.2 Klasifikasi Beban ... 202
15.3.3 Pengakuan dan Pengukuran Beban ... 202
15.3.4 Penyajian dan Pengungkapan Beban ... 206
~ x ~
BAB XVI ILUSTRASI AKUNTANSI SKPD DAN PPKD SERTA PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH DAERAH ... 207
16.1 Ilustrasi Neraca Awal, Ringkasan DPA, Transaksi, dan Informasi Penyesuaian ... 207
16.2 Akuntansi SKPD XYZ ... 216
16.3 Akuntansi PPKD ... 237
16.4 Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ... 256
BAB XVII PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH ... 263
17.1 Pengertian, Tujuan, dan Dasar Hukum Pemeriksaan Keuangan ... 263
17.2 Jenis-Jenis dan Ruang Lingkup Audit ... 266
17.3 Tanggung Jawab dalam Pemeriksaan ... 269
17.4 Bukti dan Temuan Pemeriksaan ... 271
17.5 Komunikasi dan Laporan Hasil Pemeriksaan ... 274
DAFTAR PUSTAKA ... 279
BIODATA PENULIS ... 283
~ xi ~
DAFTAR SINGKATAN/SIMBOL
Singkatan/Simbol Keterangan
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
ATK Alat Tulis Kantor
BAS Bagan Akun Standar
BAST Berita Acara Serah Terima
BPKAD Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah BPKP Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan BPK RI Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
BGS Bangun Guna Serah
BSG Bangun Serah Guna
BSK Bangun Serah Kelola
BUD Bendahara Umum Daerah
BUMD Badan Usaha Milik Daerah
BUMN Badan Usaha Milik Negara
BUN Bendahara Umum Negara
CALK Catatan Atas Laporan Keuangan
DPA Dokumen Pelaksanaan Anggaran
DPPA Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
FIFO First In First Out
FOB Free On Board
IMB Izin Mendirikan Bangunan
IPSAP Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
IPSAS International Public Sector of Accounting Standards KDP Konstruksi Dalam Pengerjaan
Kepmendagri Keputusan Menteri Dalam Negeri
KUA Kebijakan Umum Anggaran
KPA Kuasa Pengguna Anggaran
KPKNL Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang KSAP Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
LHP Laporan Hasil Pemeriksaan
LKLL Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga LKPD Laporan Keuangan Pemerintah Daerah LKPP Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
~ xii ~
LO Laporan Operasional
LPE Laporan Perubahan Ekuitas
LPSAL Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih LRA Laporan Realisasi Anggaran
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
NPM New Public Management
Perda Peraturan Daerah
Permendagri Peraturan Menteri Dalam Negeri
PFK Perhitungan Fihak Ketiga
PP Peraturan Pemerintah
PPKD Pejabat Pengelola Keuangan Daerah PPTK Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
PMK Peraturan Menteri Keuangan
PPAS Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara
PPh Pajak Penghasilan
PPN Pajak Pertambahan Nilai
PSAP Penyataan Standar Akuntansi Pemerintahan PUSAP Pedoman Umum Sistem Akuntansi Pemerintah Renstra Rencana Strategis
RKA Rencana Kerja Anggaran
RKUD Rekening Kas Umum Daerah
RKUN Rekening Kas Umum Negara
RUPS Rapat Umum Pemegang Saham
SAL Saldo Anggaran Lebih
SAP Standar Akuntansi Pemerintahan SAPD Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah
SDM Sumber Daya Manusia
Sekda Sekretaris Daerah
SiLPA Selisih Lebih Pembiayaan Anggaran SiKPA Selisih Kurang Pembiayaan Anggaran SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah
SKPDKB Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar SKPKD Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah SPI Sistem Pengendalian Intern
SKPN Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
SPP Surat Permintaan Pembayaran
SPP-UP Surat Permintaan Pembayaran-Uang Persediaan SPP-GU Surat Permintaan Pembayaran-Ganti Uang SPP-TU Surat Permintaan Pembayaran-Tambah Uang SPP-LS Surat Permintaan Pembayaran-Langsung
SPM Surat Perintah Membayar
SP2D Surat Perintah Pencairan Dana
~ xiii ~
SSPD Surat Setoran Pajak Daerah TAPD Tim Anggaran Pemerintah Daerah
TGR Tuntutan Ganti Rugi
TMP Tidak Memberikan Pendapat
TP Tuntutan Perbendaharaan
TW Tidak Wajar
UU Undang-Undang
WDP Wajar Dengan Pengecualian
WP Wajib Pajak
WTP Wajar Tanpa Pengecualian
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 1
BAB I
1.1 Perkembangan Akuntansi Pemerintahan
Akuntansi pemerintahan merupakan bagian akuntansi sektor publik yang memiliki beberapa perbedaan dengan dengan akuntansi yang diterapkan pada sektor privat (bisnis). Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan karakterisitk antara organisasi pemerintahan dengan organisasi bisnis dimana tujuan operasi organisasi tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan yang setara (Reck dan Lowensohn, 2016) dan pada organisasi pemerintahan diamanahkan untuk mengelola dana publik (Jones dan Pendlebury, 2010). Bastian (2010) mendefenisikan akuntansi sektor publik sebagai mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi negara dan departemen-departemen di bawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM, dan yayasan sosial, maupun pada proyek-proyek kerja sama sektor publik serta swasta.
Penerapan akuntansi pada pemerintahan sebelum dilakukan reformasi pengelolaan keuangan negara, telah menerapkan sistem pencatatan single entry. Pada sistem pencatatan ini menurut (Halim, 2007), pencatatan transaksi ekonomi dilakukan dengan mencatat satu kali, transaksi yang berakibat bertambahnya kas akan dicatat pada sisi penerimaan dan transaksi ekonomi yang berakibat berkurangnya kas akan dicatat pada sisi pengeluaran.
Hasil dari sistem pencatatan ini, pemerintah tidak memiliki catatan tentang piutang dan utang, apalagi catatan tentang aset tetap yang dimiliki dan ekuitas. Sehingga selama itu pemerintah tidak pemah menampilkan
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
2
neraca sebagai salah satu bentuk laporan keuangan yang umum kita kenal guna menggambarkan posisi keuangan pemerintah. Hal ini disebabkan juga karena basis akuntansi yang digunakan selama ini adalah basis kas, pada basis ini menurut (Bastian, 2010) hanya mengakui arus kas masuk dan arus kas keluar. Rekening keuangan akhir akan dirangkum dalam buku kas, sehingga laporan keuangan tidak bisa dihasilkan karena ketiadaan data tentang aset dan kewajiban.
Reformasi tahun 1998 telah membuka wacana perubahan manajemen keuangan pemerintah. Terkait pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah mengeluarkan Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Perubahan mendasar tersebut adalah tuntutan akan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dalam pengelolaan anggaran. Salah satu pergeseran pengelolaan APBD berdasarkan peraturan-peraturan tersebut adalah timbulnya perubahan sistem akuntansi keuangan pemerintah. Untuk mendukung pelaksanaan UU tersebut, Pemerintah Pusat mengeluarkan:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah.
5. Surat Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 17 Nopember 2000 Nomor 903/2735/SJ tentang Pedoman Umum Penyusunan dan Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2001.
6. Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah, serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah, serta Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 3 Selanjutnya Pemerintah Pusat mengeluarkan 2 (dua) UU yang berhubungan dengan keuangan dan perbendaharaan negara yaitu Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan yang mengakibatkan perubahan mendasar dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah PP Nomor 105 Tahun 2000 dan Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002.
Perkembangan selanjutnya, sejalan dengan diterbitkannya paket UU tentang Keuangan Negara, yakni UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU Nomor 15 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, maka sebagai konsekuensinya adalah penyesuaian dan amandemen atas peraturan perundangan sebelumnya.
Dalam kaitan dengan pemerintahan daerah dan pengelolaan keuangan daerah, maka diterbitkan UU Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti UU Nomor 22 Tahun 1999, dan UU Nomor 33 Tahun 2004 sebagai pengganti UU Nomor 25 Tahun 1999. Selain itu muncul peraturan perundangan yang diamanatkan oleh UU terdahulu, seperti PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
PP yang berpayung hukum dengan UU yang telah diamandemen tentu harus menyesuaikan dan atau mengalami perubahan atau revisi. PP Nomor 105 Tahun 2000, misalnya, diganti dengan PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Begitu juga dengan peraturan yang lebih teknis, seperti Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002, diganti dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Kemudian dikeluarkan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Pemendagri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagai perubahan pertama dan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Berdasarkan UU dan peraturan-peraturan tersebut, pengelolaan keuangan daerah di era reformasi memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Daerah adalah provinsi dan kota atau kabupaten.
2. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah beserta perangkat lainnya.
Terdapat pemisahan antara legislatif (DPRD) dan eksekutif (Pemda).
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
4
3. Perhitungan APBD menjadi satu dengan pertanggungjawaban kepala daerah.
4. Bentuk laporan pertanggungjawaban akhir tahun anggaran terdiri atas:
a. Laporan Perhitungan APBD.
b. Nota Perhitungan APBD.
c. Laporan Arus Kas.
d. Neraca Daerah.
Dilengkapi penilaian kinerja berdasarkan tolok ukur Rencana Strategis (Renstra).
5. Pinjaman APBD tidak lagi masuk dalam akun Pendapatan (hak Pemda), tetapi masuk dalam akun Penerimaan (belum tentu menjadi hak Pemda).
6. Masyarakat termasuk dalam unsur-unsur penyusun APBD, selain Pemda yang terdiri atas kepala daerah dan DPRD.
7. Indikator kinerja Pemda mencakup;
a. Perbandingan antara anggaran dan realisasi
b. Perbandingan antara standar biaya dengan realisasi c. Target dan persentase fisik
d. Standar pelayanan yang diharapkan.
8. Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah pada akhir tahun anggaran adalah Laporan Perhitungan APBD dibahas oleh DPRD dan mengandung konsekuensi atas masa jabatan kepala daerah jika 2 (dua) kali mengalami penolakan DPRD.
9. Penerapan akuntansi dalam pengelolaan keuangan daerah.
Sesuai amanat UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang mengatur penggunaan basis akrual dalam sistem akuntansi keuangan pemerintah, maka pemerintah merilis PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) sebagai penganti PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menggunakan basis kas menuju basis akrual (cash toward accrual). Pada PP Nomor 71 Tahun 2010 diamanatkan penggunaan basis akrual dalam sistem akuntansi keuangan pemerintah, dilaksanakan paling lambat tahun 2015. Untuk mendukung pelaksanaan PP Nomor 71 Tahun 2010, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 238 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Sistem Akuntansi Pemerintah (PUSAP) dan
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 5 Permendgri No. 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah.
Setelah ditetapkan SAP ini maka pemerintah harus menyusun laporan keuangan yang lengkap sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan pemerintah dibandingkan dengan sebelum ditetapkannya SAP ini. Oleh karena itu, sistem pencatatan single entry yang selama ini digunakan, tidak mungkin lagi bisa diterapkan karena tidak dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih lengkap, mau tak mau pemerintah harus beralih kepada sistem pencatatan double entry, pada sistem ini menurut (Halim, 2004) pada dasamya suatu transaksi ekonomi akan dicatat dua kali pada sisi debet dan sisi kredit. Tidak hanya itu saja, pada SAP ini basis pencatatan yang digunakan adalah basis accrual.
1.2 Standar Akuntansi Pemerintahan
Standar akuntansi adalah acuan dalam penyajian laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak-pihak di luar organisasi yang mempunyai otoritas tertinggi dalam kerangka akuntansi berterima umum (Halim, 2014).
Standar akutansi berguna bagi pemerintah dalam menyusun laporan keuangan untuk menentukan informasi yang harus disajikan kepada pihak- pihak yang berkepentingan. Para pengguna laporan keuangan akan dapat memahami informasi yang disajikan oleh pemerintah jika disajikan dengan kriteria atau persepsi yang dipahami secara sama dengan penyusun laporan keuangan pemerintah. Untuk itu, pemerintah telah menyusun standar akuntansi pemerintahan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Sebagai upaya untuk meningkatkan keinformatifan laporan keuangan pemerintah dan untuk menghasilkan pengukuran kinerja yang lebih baik, serta memfasilitasi manajemen keuangan/aset yang lebih transparan dan akuntabel, maka perlu penerapan akuntansi berbasis akrual yang merupakan best practice di dunia internasional. Secara konseptual akuntansi berbasis akrual dipercaya dapat menghasilkan informasi yang lebih akuntabel dan transparan dibandingkan dengan akuntansi berbasis kas. Akuntansi berbasis akrual dianggap mampu mendukung terlaksanakannya perhitungan berbagai macam biaya pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah dengan wajar.
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
6
PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) menyatakan bahwa SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dalam PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan terdapat 3 (tiga) Lampiran yaitu: Lampiran I tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual yang akan dilaksanakan selambat- lambatnya mulai tahun 2014; Lampiran II tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual yang hanya berlaku hingga tahun 2014; dan Lampiran III tentang Proses Penyusunan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual. Lampiran I berlaku sejak tanggal ditetapkan dan dapat segera diterapkan oleh setiap entitas, sedangkan Lampiran II berlaku selama masa transisi bagi entitas yang belum siap untuk menerapkan SAP Berbasis Akrual. Dengan kata lain, Lampiran II merupakan lampiran yang memuat kembali seluruh aturan yang ada pada PP Nomor 24 Tahun 2005 tanpa adanya perubahan.
Setelah adanya lampiran II dalam PP Nomor 71 Tahun 2010 ini, diharapkan pelaksana penatausahaan ataupun akuntansi nantinya tidak mengalami kebingungan atas perubahan-perubahan tersebut karena lebih mudah memahami perubahannya dibandingkan jika langsung beranjak dari penyesuaian atas International Public Sector of Accounting Standards (IPSAS) yang diacu oleh KSAP. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dikembangkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP).
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan adalah konsep dasar penyusunan dan pengembangan SAP. Kerangka Konseptual merupakan acuan bagi KSAP, penyusun laporan keuangan, pemeriksa, dan pengguna laporan keuangan dalam mencari pemecahan atas sesuatu masalah yang belum diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disingkat IPSAP, adalah penjelasan, klarifikasi, dan uraian lebih lanjut atas PSAP.
Sistem Akuntansi Pemerintahan pada Pemerintah Pusat dan Daerah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238/PMK.05/Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Sistem Akuntansi Pemerintahan (PUSAP). PUSAP bertujuan untuk memberikan pedoman bagi Pemerintah dalam rangka penyusunan Sistem Akuntansi Pemerintahan yang mengacu pada SAP berbasis Akrual. Demikian pula Sistem Akuntansi Pemerintahan pada
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 7 pemerintah Daerah harus diatur dengan peraturan gubernur/bupati/walikota yang mengacu pada Pedoman Umum Sistem Akuntansi Pemerintah tersebut. Sebagai aturan teknis pemerintah mengeluarkan Permendagri Nomor 64 tahun 2013 sebagai pedoman bagi pemerintah daerah dalam rangka penerapan SAP berbasis akrual.
Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual tersebut terdiri dari Kerangka Konseptual dan 12 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP). Kerangka Konseptual merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan pengembangan Standar Akuntansi Pemerintahan. Kerangka konseptual juga berfungsi sebagai acuan dalam hal terdapat masalah akuntansi yang belum dinyatakan dalam Standar Akuntansi Pemerintahan, akan tetapi bila terjadi pertentangan antara kerangka konseptual dengan standar, maka ketentuan standar diunggulkan relatif terhadap kerangka konseptual. Kerangka Konseptual membahas tentang tujuan kerangka konseptual, lingkup akuntansi pemerintahan, pengguna dan kebutuhan para pengguna, entitas akuntansi dan pelaporan, peranan dan tujuan pelaporan keuangan, komponen laporan keuangan, asumsi dasar, karakteristik kualitatif laporan keuangan, prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan, dan kendala informasi yang relevan dan andal.
Kerangka konseptual Standar Akuntansi Pemerintahan bertujuan untuk memberikan acuan bagi penyusun standar akuntansi pemerintahan dalam melaksanakan tugasnya, penyusun laporan keuangan dalam menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar, pemeriksa dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, dan para pengguna laporan keuangan dalam menafsirkan informasi yang disajikan pada laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Adapun Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan menurut PP Nomor 71 Tahun 2010 teridiri dari:
PSAP 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan
PSAP 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran Berbasis Kas PSAP 03 tentang Laporan Arus Kas
PSAP 04 tentang Catatan Atas Laporan Keuangan PSAP 05 tentang Akuntansi Persediaan
PSAP 06 tentang Akuntansi Investasi
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
8
PSAP 07 tentang Akuntansi Aset Tetap
PSAP 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan PSAP 09 tentang Akuntansi Kewajiban
PSAP 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Operasi yang tidak dilanjutkan PSAP 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian
PSAP 12 tentang Laporan Operasional.
1.3 Konsep Dasar Akuntansi Pemerintahan
Beberapa hal yang menjadi konsep dasar dalam mengembangkan Standar Akuntansi Pemerintahan adalah sebagai berikut:
1. Pengertian Akuntansi Pemerintahan.
Akuntansi adalah proses identifikasi, pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan, penyajian laporan serta penginterpretasian atas hasilnya. Akuntansi sebagai sistem informasi yang menyediakan laporan untuk para pemangku kepentingan mengenai aktivitas ekonomi (Warren et al., 2018). Akuntansi pemerintahan adalah sebuah kegiatan jasa dalam rangka menyediakan informasi kuantitatif terutama bersifat keuangan dari entitas pemerintah guna pengambilan keputusan ekonomi yang nalar dari pihak-pihak berkepentingan atas berbagai alternatif tindakan (Halim,2007). Selanjutnya, PP Nomor 58 Tahun 2005 mengemukakan konsep sistem akuntansi pemerintah daerah sebagi serangkaian prosedur mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pemerintah daerah.
2. Lingkungan Akuntansi Pemerintahan.
Lingkungan operasional organisasi pemerintah berpengaruh terhadap karakteristik tujuan akuntansi dan pelaporan keuangannya.
Ciri-ciri penting lingkungan pemerintah yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan tujuan akuntansi dan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Ciri Utama Struktur Pemerintahan dan pelayanan yang diberikan:
1) Bentuk umum pemerintahan dan pemisahan kekuasaan.
2) Sistem pemerintahan otonomi dan transfer antar pemerintah.
3) Pengaruh proses politik.
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 9 4) Hubungan antara pembayaran pajak dengan pelayanan
pemerintah.
b. Ciri Keuangan Pemerintah yang penting bagi pengendalian:
1) Anggaran sebagai pernyataan kebijakan publik, target fiskal, dan sebagai alat pengendalian.
2) Investasi dalam aset yang tidak langsung menghasilkan pendapatan.
3) Kemungkinan penggunaan akuntansi dana untuk pengendalian.
4) Penyusutan nilai aset sebagai sumber daya ekonomi karena digunakan dalam operasional pemerintah.
3. Pengguna dan Kebutuhan Informasi.
Terdapat kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah, namun tidak terbatas pada:
a. Masyarakat.
b. Wakil Rakyat, Lembaga Pengawas, dan Lembaga Pemeriksa.
c. Pihak pemberi atau berperan dalam proses donasi, investasi, dan pinjaman
d. Pemerintah.
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna.
Mengingat laporan keuangan pemerintah berperan sebagai wujud akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, maka komponen laporan disajikan setidak-tidaknya mencakup jenis laporan dan elemen informasi yang diharuskan oleh ketentuan peraturan perundang- undangan (statutory reports). Selain itu, karena pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah, maka ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para pembayar pajak perlu mendapat perhatian.
Kebutuhan informasi tentang kegiatan operasional pemerintahan serta posisi kekayaan dan kewajiban dapat dipenuhi dengan lebih baik dan memadai apabila didasarkan pada basis akrual, namun apabila terdapat ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengharuskan penyajian suatu laporan keuangan dengan basis kas, maka laporan keuangan dimaksud wajib disajikan demikian.
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
10
Meskipun memiliki akses terhadap detail informasi yang tercantum di dalam laporan keuangan, pemerintah wajib memperhatikan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan untuk keperluan perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Selanjutnya, pemerintah dapat menentukan bentuk dan jenis informasi tambahan untuk kebutuhan sendiri di luar jenis informasi yang diatur dalam kerangka konseptual ini maupun standar-standar akuntansi lebih lanjut.
4. Entitas Akuntansi dan Pelaporan.
a. Entitas Akuntansi merupakan unit pada pemerintahan yang mengelola anggaran, kelpyaan, dan kewajiban yang menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan keuangan atas dasar akuntansi yang diselenggarakan.
b. Entitas Pelaporan merupakan unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyajikan laporan pertanggungjawaban, berupa laporan keuangan yang bertujuan umum, yang terdiri dari:
1) Pemerintah Pusat.
2) Pemerintah Daerah.
3) Masing-masing kementerian negara atau lembaga di lingkungan pemerintah pusat.
4) Satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau organisasi lainnya, jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud diwajib menyajikan laporan keuangan.
c. Dalam penetapan entitas pelaporan, perlu diperhatikan syarat pengelolaan, pengendalian, dan penguasaan suatu entitas pelaporan terhadap aset, yurisdiksi, tugas dan misi tertentu, dengan bentuk pertanggungjawaban dan wewenang yang terpisah dari entitas pelaporan lain.
1.4 Prinsip Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, Prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh pembuat standar dalam menyusun standar, penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya, serta pengguna
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 11 laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan.
Delapan prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah yaitu:
1. Basis Akuntansi.
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis akrual untuk pengakuan Pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban, dan ekuitas. Basis akrual untuk LO berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun kas belum dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan.
Pendapatan seperti bantuan pihak luar/asing dalam bentukjasa disajikan pula pada LO.
Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis kas, maka LRA disusun berdasar basis kas, berarti pendapatan dan penerimaan pembiayaan diakui saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan, serta belanja, transfer dan pengeiuaran pembiayaan diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah. Namun, jika anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis akrual, maka LRA disusun berdasarkan basis akrual. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.
Namun demikian dalam IPSAP Nomor 02 tentang Pengakuan Pendapatan yang diterima pada Rekening Kas Umum Negara/Daerah, dimungkinkan tidak semua pendapatan dalam bentuk kas diterima pada RKUN/RKUD, terdapat pendapatan kas yang diterima oleh entitas selain Bendahara Umum Negara/Daerah (BUN/BUD), bahkan ada yang langsung digunakan oleh Satuan Kerja (Satker)/ Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Demikian pula dalam IPSAP Nomor 03 tentang Pengakuan Penerimaan Pembiayaan yang diterima Kas Umum Negara/Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan yang dikeluarkan dari
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
12
Rekening Kas Umum Negara/Daerah, sehingga memungkinkan adanya pengakuan penerimaan pembiayaan ditentukan oleh BUN/BUD sebagai pemegang otoritas dan bukan semata-mata oleh RKUN/RKUD sebagai salah satu tempat penampungan.
2. Prinsip Nilai Historis.
Aset dicatat sebesar pengeiuaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah. Nilai historis lebih dapat diandalkan dibanding penilaian lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal tidak terdapat nilai historis, dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait.
3. Prinsip Realisasi.
Bagi pemerintah, pendapatan basis kas yang telah diotorisasi melalui anggaran pemerintah suatu periode akuntansi akan digunakan untuk membayar utang dan belanja dalam periode tersebut. Mengingat LRA masih merupakan laporan yang wajib disusun, maka pendapatan atau belanja basis kas diakui setelah diotorisasi melalui anggaran dan telah menambah atau mengurangi kas. Prinsip penandingan biaya- pendapatan (matching-cost with revenue principle} dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana akuntansi komersial.
4. Prinsip Substansi Mengungguli Bentuk Formal (Substance Over Form).
Infomasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitas.
Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).
5. Prinsip Periodisitas.
Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan.
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 13 Periode utama yang digunakan adalah tahunan, namun periode bulanan, triwulanan, dan semesteran juga dianjurkan.
6. Prinsip Konsistensi.
Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa antar periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini dungkapkan dalam CALK.
7. Prinsip Pengungkapan Lengkap.
LKPD menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan atau CALK.
8. Prinsip Penyajian Wajar.
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar LRA, LP-SAL, LO, LPE, Neraca, LAK dan CALK. Dalam rangka penyajian wajar, faktor pertimbangan sehat diperlukan bagi penyusun laporan keuangan ketika menghadapi ketidakpastian keadaan tertentu (konservatisma).
Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi, sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah, sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.
1.5 Definisi Akuntansi Keuangan Daerah
Jones dan Pendlebury (2010) mengelompokkan organisasi dalam 3 (tiga) kategorisasi yakni:
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
14
1. Profit-oriented, yaitu organisasi yang mempunyai tujuan utama memaksimumkan laba. Sebagai contoh organisasi tipe ini adalah perusahaan yang melakukan bisnis untuk tujuan utama memperoleh laba.
2. Type A non-profit, yaitu organisasi non-laba yang seluruh atau hampir seluruh sumber daya finansialnya diperoleh dari pendapatan penjualan barang dan jasa. Contoh organisasi ini adalah rumah sakit milik pemerintah yang pendapatannya diperoleh dari jasa pelayanan kesehatan dan tidak tergantung pendapatannya dari anggaran pemerintah.
3. Type B non-profit, yaitu organisasi non-laba yang memperoleh sumber daya finansial dalam jumlah yang signifikan dari sumber selain penjualan barang dan jasa. Sebagai contoh adalah pemerintah pusat dan daerah.
Organisasi pemerintahan merupakan bagian dari sektor nonbisnis.
Jones dan Pendlebury (2010) menyatakan bahwa pemerintah daerah (Local Government) dapat dimasukkan dalam kategori organisasi Type B non- profit. Hal ini karena pemerintah daerah (selanjutnya disingkat pemda) memperoleh pendanaannya dari pajak, retribusi, hibah (grant), dan pinjaman. Dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan disebutkan bahwa lingkungan operasional organisasi pemerintah berpengaruh terhadap karakteristik tujuan akuntansi dan pelaporan keuangannya.
Karakteristik-karakteristik penting lingkungan pemerintahan yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan tujuan akuntansi dan pelaporan keuangan adalah:
1. Karakteristik utama struktur pemerintahan dan pelayanan yang diberikan:
a. Bentuk umum pemerintahan dan pemisahan kekuasaan.
Dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berazas demokrasi, kekuasaan ada di tangan rakyat. Rakyat mendelegasikan kekuasaan kepada pejabat publik melalui proses pemilihan. Sejalan dengan pendelegasian kekuasaan ini adalah pemisahan wewenang di antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Sistem ini dimaksudkan untuk mengawasi dan menjaga keseimbangan terhadap kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan di antara penyelenggara pemerintahan. Sebagaimana berlaku dalam
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 15 lingkungan keuangan pemerintahan, pihak eksekutif menyusun anggaran dan menyampaikannya kepada pihak legislatif untuk mendapatkan persetujuan. Setelah mendapat persetujuan, pihak eksekutif melaksanakannya dalam batas-batas apropriasi dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan apropriasi tersebut. Pihak eksekutif bertanggung jawab atas penyelenggaraan keuangan tersebut kepada pihak legislatif dan rakyat.
b. Sistem pemerintahan otonomi dan transfer pendapatan antarpemerintah.
Secara substansial, terdapat tiga lingkup pemerintahan dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia, yaitu pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah yang lebih luas cakupannya memberi arahan pada pemerintah yang cakupannya lebih sempit. Adanya pemerintah yang menghasilkan pendapatan pajak atau bukan pajak yang lebih besar mengakibatkan diselenggarakannya sistem bagi hasil, alokasi dana umum, hibah, atau subsidi antarentitas pemerintahan.
c. Adanya pengaruh proses politik.
Salah satu tujuan utama pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat. Sehubungan dengan itu, pemerintah berupaya untuk mewujudkan keseimbangan fiskal dengan mempertahankan kemampuan keuangan negara yang bersumber dari pendapatan pajak dan sumber-sumber lainnya guna memenuhi keinginan masyarakat. Salah satu ciri yang penting dalam mewujudkan keseimbangan tersebut adalah berlangsungnya proses politik untuk menyelaraskan berbagai kepentingan yang ada di masyarakat.
d. Hubungan antara pembayaran pajak dengan pelayanan pemerintah.
Walaupun dalam keadaan tertentu pemerintah memungut secara langsung atas pelayanan yang diberikan, pada dasarnya sebagian besar pendapatan pemerintah bersumber dari pungutan pajak dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jumlah pajak yang dipungut tidak berhubungan langsung dengan pelayanan yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak. Pajak yang dipungut dan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
16
mengandung sifat-sifat tertentu yang wajib dipertimbangkan dalam mengembangkan laporan keuangan, antara lain:
1) Pembayaran pajak bukan merupakan sumber pendapatan yang sifatnya sukarela.
2) Jumlah pajak yang dibayar ditentukan oleh basis pengenaan pajak sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang- undangan, seperti penghasilan yang diperoleh, kekayaan yang dimiliki, aktivitas bernilai tambah ekonomis, atau nilai kenikmatan yang diperoleh.
3) Efisiensi pelayanan yang diberikan pemerintah dibandingkan dengan pungutan yang digunakan untuk pelayanan dimaksud sering sukar diukur sehubungan dengan monopoli pelayanan oleh pemerintah. Dengan dibukanya kesempatan kepada pihak lain untuk menyelenggarakan pelayanan yang biasanya dilakukan pemerintah, seperti layanan pendidikan dan kesehatan, pengukuran efisiensi pelayanan oleh pemerintah menjadi lebih mudah.
4) Pengukuran kualitas dan kuantitas berbagai pelayanan yang diberikan pemerintah adalah relatif sulit.
2. Karakteristik keuangan pemerintah yang penting bagi pengendalian:
a. Anggaran sebagai pernyataan kebijakan publik, target fiskal, dan sebagai alat pengendalian.
Anggaran pemerintah merupakan dokumen formal hasil kesepakatan antara eksekutif dan legislatif tentang belanja yang ditetapkan untuk melaksanakan kegiatan pemerintah dan pendapatan yang diharapkan untuk menutup keperluan belanja tersebut atau pembiayaan yang diperlukan bila diperkirakan akan terjadi defisit atau surplus. Dengan demikian, anggaran mengkoordinasikan aktivitas belanja pemerintah dan memberi landasan bagi upaya perolehan pendapatan dan pembiayaan oleh pemerintah untuk suatu periode tertentu yang biasanya mencakup periode tahunan. Namun, tidak tertutup kemungkinan disiapkannya anggaran untuk jangka waktu lebih atau kurang dari setahun. Dengan demikian, fungsi anggaran di lingkungan pemerintah mempunyai pengaruh penting dalam akuntansi dan pelaporan keuangan, antara lain karena:
1) Anggaran merupakan pernyataan kebijakan publik.
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 17 2) Anggaran merupakan target fiskal yang menggambarkan keseimbangan antara belanja, pendapatan, dan pembiayaan yang diinginkan.
3) Anggaran menjadi landasan pengendalian yang memiliki konsekuensi hukum.
4) Anggaran memberi landasan penilaian kinerja pemerintah.
5) Hasil pelaksanaan anggaran dituangkan dalam laporan keuangan pemerintah sebagai pernyataan pertanggungjawaban pemerintah kepada publik.
b. Investasi dalam aset yang tidak langsung menghasilkan pendapatan.
Pemerintah menginvestasikan dana yang besar dalam bentuk aset yang tidak secara langsung menghasilkan pendapatan bagi pemerintah, seperti gedung perkantoran, jembatan, jalan, taman, dan kawasan reservasi. Sebagian besarasetdimaksud mempunyai masa manfaat yang lama sehingga program pemeliharaan dan rehabilitasi yang memadai diperlukan untuk mempertahankan manfaat yang hendak dicapai. Dengan demikian, fungsi aset dimaksud bagi pemerintah berbeda dengan fungsinya bagi organisasi komersial.
Sebagian besar aset tersebut tidak menghasilkan pendapatan secara langsung bagi pemerintah, bahkan menimbulkan komitmen pemerintah untuk memeliharanya di masa mendatang.
c. Kemungkinan penggunaan akuntansi dana untuk tujuan pengendalian.
Akuntansi dana (fund accounting) merupakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan yang lazim diterapkan di lingkungan pemerintah yang memisahkan kelompok dana menurut tujuannya, sehingga masing-masing merupakan entitas akuntansi yang mampu menunjukkan keseimbangan antara belanja dan pendapatan atau transfer yang diterima. Akuntansi dana dapat diterapkan untuk tujuan pengendalian masing-masing kelompok dana selain kelompok dana umum (the general fund) sehingga perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pelaporan keuangan pemerintah.
Pengelolaan keuangan daerah adalah seluruh kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah (Ratmono dan
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
18
Sholihin, 2015). Proses pengelolaan keuangan daerah dapat dibagi menjadi 4 (empat) tahap yaitu:
1. Perencanaan dan Penganggaran.
Pada tahap ini dilakukan aktivitas yang berurutan yaitu: (1) penyusunan dan pengesahan Kebijakan Umum APBD (KUA), (2) penyusunan dan pengesahan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), (3) penyusunan dan pengesahan, penyusunan dan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD), dan (4) penyusunan dan pengesahan Perda APBD.
2. Pelaksanaan dan Penatausahaan APBD.
Pada tahap ini terdapat beberapa kegiatan pengelolaan keuangan daerah seperti penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPD dan anggaran kas, penyediaan dana, pengajuan Surat Permintaan Pembayaran (SPP), penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM), penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), pembelanjaan dana, dan pertanggungjawaban dana.
3. Perubahan APBD.
Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi:
a. Perkembangan yang tidak sesuai asumsi KUA.
b. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antarjenis belanja.
c. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan.
d. Keadaan darurat.
e. Keadaan luar biasa.
Pada tahap perubahan APBD ini dilakukan beberapa kegiatan seperti penyusunan KUA dan PPAS Perubahan APBD, penyusunan RKA-SKPD perubahan APBD, penyusunan dan pengesahan Perubahan APBD, penyusunan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA) SKPD.
4. Akuntansi dan Pelaporan.
Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan pengelolaan keuangan daerah meliputi penyusunan laporan keuangan SKPD, penyusunan laporan keuangan Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD), dan konsolidasi dan penyusunan laporan keuangan Pemda. Dalam
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 19 proses pengelolaan keuangan daerah ini nampak peran akuntansi keuangan daerah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu dalam tahap pelaporan keuangan Pemda sebagai suatu bentuk pertanggungjawaban dari pelaksanaan APBD.
Peran penting akuntansi bagi pemda ditunjukkan dalam pasal 51 UU Nomor 17 Tahun 2003 yaitu setiap Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (selaku Bendahara Umum Daerah) dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (selaku Pengguna Anggaran) harus menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas, termasuk transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan yang beradadalamtanggungjawabnya. Akuntansi keuangan daerah didefinisikan sebagai proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi keuangan dari entitas pemda dalam rangka pengambilan keputusan ekonomi yang diperlukan oleh pihak eksternal (Halim, 2007). Pihak-pihak eksternal entitas pemda tersebut antara lain Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), investor, kreditur, donatur, analisis ekonomi, rakyat, dan pemerintah pusat. Adapun kedudukan akuntansi keuangan daerah dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.1
Kedudukan Akuntansi Keuangan Daerah Akuntansi
Akuntansi Komersil
Akuntansi Sektor Publik
Akuntansi
Pemerintahan Akuntansi Non Pemerintahan
Akuntansi
Pemerintah Pusat Akuntansi Pemerintah Daerah Akuntansi Keuangan Daerah
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
20
Gambar 1.1 menunjukkan bahwa akuntansi dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis sesuai penggunaannya untuk tipe organisasi tertentu yaitu akuntansi komersial (untuk organisasi yang berorientasi laba) dan akuntansi sektor publik (untuk organisasi nonbisnis). Akuntansi sektor publik dapat dibagi lagi menjadi akuntansi pemerintahan (untuk pemerintah pusat dan daerah) dan akuntansi nonpemerintahan (misalnya digunakan oleh rumah sakit, lembaga swadaya masyarakat, yayasan, dan sebagainya). Dari Gambar 1.1 di atas jelas bahwa akuntansi keuangan daerah merupakan bagian dari organisasi sektor publik khususnya akuntansi pemerintahan yang mempunyai karakteristik sebagai organisasi Type B non-profit seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 21
BAB II
2.1 Wewenang Kepala Daerah
Kekuasaan pengelolaan keuangan negara adalah sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan, dan kekuasaan pengelolaan keuangan negara dari presiden sebagian diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan (Darise, 2009). Oleh karena itu, gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, Kepala Daerah mempunyai kewenangan:
1. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD.
2. Menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah.
3. Menetapkan kuasa pengguna anggaran/barang.
4. Menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran.
5. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah.
6. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah.
7. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah.
8. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.
Selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya berupa
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
22
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggung jawaban serta pengawasan keuangan daerah kepada:
1. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah.
2. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD).
3. Kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) selaku Pengguna Anggaran.
2.2 Sekretaris Daerah
Jabatan sekretaris daerah selaku koordinator adalah terkait dengan peran dan fungsi Sekretaris membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah dalam konteks penyusunan pelaksanaan dan penatausahaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD, menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD, dan memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD. Selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah.
Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang:
1. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD.
2. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah.
3. Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD.
4. Penyusunan Ranperda APBD, perubahan APBD.
5. Tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan daerah.
6. Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban APBD.
Selain tugas-tugas sebagaimana dimaksud koordinator pengelolaan keuangan daerah juga mempunyai tugas:
1. Memimpin tim anggaran pemerintah daerah (TAPD).
2. Menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD.
3. Menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah.
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 23 4. Memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD.
5. Melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.
2.3 Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD)
Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD, dan bentuk kekayaan daerah lainnya serta bertindak sebagai Bendahara Umum Daerah. Dalam melaksanakan tugasnya kepala pejabat pengelola keuangan daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui koordinator pengelola keuangan.
Kepala PPKD selaku Pengelola APBD mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah.
2. Menyusun rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD.
3. Melaksanakan pemungutan pajak daerah yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah.
4. Melaksanakan fungsi bendahara umum daerah.
5. Menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.
6. Melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.
PPKD selaku BUD berwenang:
1. Menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD.
2. Mengesahkan DPA-SKPD.
3. Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD.
4. Memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah.
5. Melaksanakan pemungutan pajak daerah.
6. Memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang telah ditunjuk.
7. Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD.
8. Menyimpan uang daerah.
9. Menetapkan SPD.
10. Melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/
menatausahakan investasi.
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
24
11. Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah.
12. Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah.
13. Melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah.
14. Melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah.
15. Melakukan penagihan piutang daerah.
16. Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah.
17. Menyajikan informasi keuangan daerah.
18. Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.
2.4 Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Kepala satuan kerja perangkat daerah terdiri dari kepala dinas, badan, sekretaris daerah, sekretaris DPRD, kepala lembaga teknis, camat, dan lurah. Kepala satuan keija perangkat daerah sebagai pengguna anggaran bertanggung jawab atas tertib penatausahaan anggaran yang dialokasikan pada satuan kerja yang dipimpinnya, kepala satuan kerja perangkat daerah disebut pengguna anggaran, apabila mempunyai anggaran tersendiri dalam hal ini dokumen pelaksana anggaran satuan kerja perangkat daerah (DPA SKPD). Dalam konteks penyusunan pelaksanaan dan penatausahaan, pengguna anggaran mempunyai tugas dan wewenang antara lain:
1. Menyusun RKA-SKPD.
2. Munyusun DPA-SKPD.
3. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja.
4. Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya.
5. Melakukan penguj ian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.
6. Melakukan pemungutan penerimaan bukan pajak.
7. Mengadakan ikatan/perjanjian kerja sama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan.
8. Menandatangani SPM.
9. Mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya.
10. Mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 25 tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya.
11. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya.
12. Mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya
13. Melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.
14. Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah (Sekda).
Berdasarkan uraian diatas organisasi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah pada pemerintah daerah adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Organisasi Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Pada Pemerintah Daerah
Dalam melaksanakan tugasnya kepala SKPD sebagai pengguna anggaran melimpahkan dan dibantu oleh:
1. Pejabat kuasa pengguna anggaran.
2. Pejabat pelaksana teknis kegiatan.
3. Pejabat penata usaha keuangan.
4. Bendahara.
KEPALA DAERAH
SEKRETARIS DAERAH Koordinator Pengelolaan
Keuangan Daerah
Kepala Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan
Daerah Sebagai PPKD
Kepala SKPD Sebagai Pengguna Anggaran/Barang
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Teori, Konsep dan Aplikasi
26
2.5 Pejabat Kuasa Pengguna Anggaran
Pejabat Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas-tugas dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Pelimpahan sebagian kewenangan berdasarkan besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali, dan pertimbangan objektif lainnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut penetapan pejabat kuasa pengguna anggaran dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan kepala SKPD sebagai pengguna anggaran.
Kuasa pengguna anggaran adalah kepala unit pada SKPD atau jabatan setingkat dibawah kepala SKPD dan merupakan penanggung jawab program. Kuasa pengguna anggaran pada Sekretaris daerah adalah asisten dan kepala biro/bagian. Pada dinas adalah subdin dan kepala bagian. Pada badan/lembaga teknis adalah kepala bidang. Penunjukkan kuasa pengguna anggaran dilakukan oleh kepala daerah berdasarkan usul Kepala SKPD selaku pengguna anggaran. Kuasa pengguna anggaran bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran. Pada Peraturan Pemerintah Nomor 58 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah tidak diatur tugas dan wewenang Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sehingga tugas dan wewenang KPA berdasarkan pelimpahan wewenang dari pengguna anggaran.
2.6 Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
Pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguana anggaran dalam melaksanaan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada SKPD selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang mempunyai tugas antara lain:
1. Mengendalikan pelaksanaan kegiatan.
2. Melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan.
3. Menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan.
4. Membuat surat permintaan pembayaran.
PPTK ditetapkan oleh pengguna anggaran dengan mempertimbangkan usul dari kuasa pengguna anggaran. Penunjukan PPTK berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan, jumlah anggaran
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Teori, Konsep dan Aplikasi 27 kegiatan, beban kerja, lokasi dan/atau rentang kendali, dan pertimbangan objektif lainnya. PPTK diberi wewenang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. PPTK bertanggung jawab kepada pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Penggunaan anggaran yang tidak melimpahkan kewenangannya kepada kepala unit pada SKPD sebagai kuasa pengguna anggaran maka kedudukan kepala unit kerja (kepala biro subdin, kepala bidang, kepala bagian) adalah sebagai pejabat pelaksanaan teknis kegiatan.
2.7 Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD
Dalam rangka melaksanakan wewenang atas penggunaan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD, disebut pejabat penatausahaan keuangan SKPD (PPK-SKPD). PPK-SKPD dilaksanakan oleh pejabat kasub keuangan, apabila pada organisasi SKPD tersebut belum terdapat jabatan kasubag keuangan maka ditunjuk pejabat yang akan melaksanakan fungsi tersebut.
PPK SKPD mempunyai tugas antara lain:
1. Meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa.
2. Meneliti kelengkapan SPP-UP, SPP-GU, SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang diajukan oleh bendahara pengeluaran.
3. Melakukan verifikasi SPP.
4. Menyiapkan SPM.
5. Melakukan verifikasi harian atas penerimaan.
6. Melaksanakan akuntansi SKPD.
7. Menyiapkan laporan keuangan SKPD.
PPK-SKPD dilarang merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara, bendahara, dan/atau PPTK.
Berdasarkan tugas tersebut tugas dari PPK-SKPD yaitu melakukan verifikasi, akuntansi dan penyesuaian laporan keuangan sehingga PPK- SKPD mempunyai tugas yang sama dengan bagian keuangan dan akuntansi pada perusaha