• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data Dan Analisis

Dalam dokumen peran kyai sebagai pemegang otoritas (Halaman 66-76)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data Dan Analisis

Dalam setiap penelitian haruslah disertai dengan penyajian data sebagai penguat, sebab inilah yang telah dianalisa data yang telah digunakan, sehingga dari data yang dianalisa tersebut dihasilkan suatu kesimpulan. Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi, interview, dokumenter dan data lapangan sebagai alat untuk meraih tujuan serta mendapatkan data sebanyak mungkin, akan tetapi lebih memberikan porsi yang lebih intensif pada metode observasi dan interview guna mendapatkan data yang kualitatif dan autentik yang berimbang, dan dilakukan dengan menggunakan metode dokumenter.

Dalam penelitian ini peneliti berusaha memaparkan gambaran tentang Peran Kyai Sebagai Pemegang Otoritas Dalam Memimpin Lembaga Pendidikan Non Formal Di Pondok Pesantren An-nuriyyah Songon Pondok Joyo Semboro Jember, dengan fenomena dan data yang telah diperoleh sudah dianggap represrntative untuk dijadikan sebuah laporan.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, interview dan dokumenter sebagai alat untuk meraih data sebanyak mungkin terhadap berbagai hal yang berkaitan dan mendukung untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan data dalam penelitian yang berkualitas dan intensifikasi secara beruntun akan disajikan data tentang:

1. Peran Kyai Sebagai Pemegang Otoritas Rasional Dalam Memimpin Lembaga Pendidikan Non Formal Di Pondok Pesantren An-nuriyyah Songon Pondokjoyo Semboro Jember.

Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan suatu lembaga pendidikan, karena pada sekelompok manusia yang didalamnya selalu mendambakan untuk dapat menikmati hidup yang layak baik lahir maupun batin yang selalu mendapat perlindungan dan pelayanan dari seorang pemimpin.

Tipe otoritas tekadang bisa berubah-ubah, tergantung situasi dan kondisinya untuk menerapkan sebuah tipe otoritas dalam menjalankan roda organisasi untuk pencapaian tujuan sebuah lembaga non formal tersebut.

Tentunya kyai sebagai pemimpin dilembaga non formal memiliki kekuasaan yang penuh. Dalam membuat sebuah peraturan di lembaga

hum mengatakan:

Saya dalam membuat sebuah peraturan masih memeperhatikan situasi dan kondisi yang diperlukan atau tidaknya, bagi santri, dewan asatid dan pengurus yayasan beserta pula pengurus santri putra dan putri dengan musyawarah. Jadi meskipun saya yang berkuasa penuh akan pendidikan non formal ini, saya masih mengadakan rapat/ musyawarah dengan pengurus karena ini

42

Berdasarkan uraian wawancara tersebut, kyai merupakan sosok yang mempunyai kewenangan penuh dalam pesantren, termasuk dalam lembaga Pendidikan non formalnya. Akan tetapi dalam membuat sebuah

42 Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 13 Maret 2019.

peraturan tersebut kyai masih melihat situasi dan kondisi, serta kyai juga bermusyawarah dengan pengurus atau ustad/zah dalam menetapkan dan membuat peraturan.

Dan tentunya peraturan dari hasil musyawarah tersebut terkadang ada santri yang tidak mengikuti atau tidak taat pada peraturan pesantren.

pasti ada saja satu dua anak yang tidak mentaatinya kadang kala belum memahami peraturan atau memang ada kebiasaan dari rumah. Dan biasanya peraturan diharuskan semua santri ikut kadang kala belum mencoba untuk berlatih sudah tidak mengikutinya karena merasa kurang percaya diri dan merasa tidak ada bakat. Begitu Pula dengan pengajian kitab yang lain, terkadang santri tidak membawa kitab, dan juga beberapa kesenian yang lain seperti seni bela diri dan hadrah. 43

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan pesantren di An-nuriyyah peraturan yang sering dilanggar oleh

pengajian kitab terkadang ada yang tidak membawa kitab, dll.

Kyai sebagai pemegang otoritas atau kekuasan dalam memimpin lembaga non formal tentunya yang berhak menentukan kitab yang akan dipelajari adalah seorang kyai, dan apakah kyai sebagai pemegang otoritas kyai masih mengaca pada pesantren lain ataukah kyai mempunyai ide tersendiri dalam menentukan kitab yang akan dipelajari. Lalu kyai mengatakan:

43 Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 13 Maret 2019.

Kedua-duanya, seperti: mengajarkan alquran dengan tafsirnya kehendak pribadi yang perlu dipandang. Tetapi pendalaman dan pengembangan ilmu nahwu sorrof bisa mencontoh atau mengikuti pesantren salaf 44

Berdasarkan uraian wawancara tersebut adalah didalam pesantren An-nuriyyah disini KH. Anshori selaku pengasuh, dalam menentukan kitab yang akan dipelajari disini kyai mempunyai ide tersendiri contohnya: dalam pengajian kitab tafsir. Akan tetapi kyai juga mengaca pada pesantren-pesantren salaf, contohnya: dalam pengajian kitab menggunakan kitab nahwu dan shorrof.

Selain itu, peneliti ingin mengetahui apakah peran Kyai di pondok pesantren An-nuriyyah ini sudah baik dan bijaksana ataukah malah sebailiknya. Kemudian Ike Wardani selaku tokoh masyarakat mengatakan:

mengayomi sekali, baik dari segi peraturan. Kepemimpinan kyai ini tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan, apalagi berbuat semena-semena terhadap santrinya. Menurut saya kyai di pondok pesantren ini sangatlah bijak dan arif, saya tidak berlebihan karena saya mengetahui langsung kegiatan kyai di pondok pesantren An-nuriyyah, apalagi hubungan kyai dengan masyarakat sangat dekat dikarenakan kyai mengadakan sebuah program hataman yang dimana yang menjadi anggota hataman tersebut adalah penduduk atau masyarakat sekitarnya termasuk saya mengikuti program tersebut yang diadakan setiap hari sabtu. Dan di hataman tersebut kyai selalu terbuka kepada semua jamaah tentang apapun, apalagi kalau ada kegiatan di ponpes jika ada kelebihan dana sekecil apapun itu akan diberitahukan karena rata-rata yang mengikuti program hataman tersebut adalah wali santri

44 Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 13 Maret 2019.

pondok pesantren An-nuriyyah. Jadi hubungan kyai Ansori dengan masyarakat sangat dekat 45

Dalam uraian wawancara diatas dapat dijelaskan bahwa KH. Anshori selaku pengasuh di pondok pesantren An-nuriyah ini sangatlah bijaksana dan arif, dan tidak melakukan semena-mena dalam menduduki kepemimmpinanya. Bahkan sangat mengayomi santrinya dan kyai juga sangat dekat terhadap tokoh masyarakat, karena kyai membuat sebuah program hataman dan anggota hataman tersebut adalah rata-rata wali santri.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 9 Maret 2019 hari Sabtu di Desa Songon Pondok Joyo Semboro Jember sedang melaksanakan sebuah program hataman yang di pimpin oleh KH. Anshori dan para anggotanya rata-rata adalah wali santri pondok pesantren An-nuriyyah.46

Dari pernyataan diatas peneliti masih belum puas dengan tanggapan masyarakat mengenai kepemimpinan kyai. Maka dari itu peneliti juga mewawancarai Siti Nur Fadilah beliau adalah salah satu pengurus dan juga seorang ustadzah dipondok pesantren An-nuriyyah Songon Pondok Joyo Semboro Jember. Beliau mengatakan:

45 Ike Wardhani. Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 16 Maret 2019.

46 Observasi, Pondok Joyo Semboro, 9 Maret 2019

impin beliau juga mematuhi aturannya sebagai pemimpin. Beliau bersikap adil dan bijaksana tidak memandang bulu ataupun tidak memandang saudara. Dipandangan beliau semua sama- sama santri tidak ada bedanya. Dan jika pelanggaran ponpes di lakukan oleh santri yang sekaligus saudara, beliau adil dengan tetap memberikan hukuman yang berlaku. Beliau dalam memimpin lembaga non formal ataupun memimpin pondok pesantren An-nuriyyah ini beliau tidak pernah melakukan semena-mena, beliau melakukan hal-hal yang sewajarnya

47

Berdasarakan hasil wawancara diatas adalah KH. Anshori sebagai pemegang kekuasaan beliau juga mematuhi aturannya sebagai pemimpin tidak melakukan semena-mena, beliau melakukan hal-hal yang sewajarnya dalam memimpin.

2. Peran Kyai Sebagai Pemegang Otoritas Tradisional Dalam Memimpin Lembaga Pendidikan Non Formal Di Pondok Pesantren An-nuriyyah Sonogon Pondok Joyo Semboro Jember

Didalam sebuah pesantren manapun tentunya ada sebuah tradisi-tradisi yang dimana sesuatu yang dibiasakan, dipahami, dan dihayati oleh santri dipesantren tersebut. Didalam pondok pesantren An-nuriyyah tentunya ada sebuah tradisi yang dimana KH. Anshori selaku pengasuh mengatakan:

-nuriyyah ini yang menjadi tradisi dalam pendidikan non formal adalah pengajian kitab Jawahirul Bukhari yang dimana kegiatan pengajian kitab ini dilaksanakan setelah sholat duhur yang diajar oleh saya sendiri, jadi semua santri putra maupun putri itu berkumpul di aula untuk mengikuti pengajian tersebut, dan kegiatan ini memang sudah ada sejak dahulu sewaktu pesantren mulai didirikan. Dan juga

47 Siti Nur Fadilah, Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 19 Maret 2019

dahulu sebelum pesantren didirikan dan juga karena lembaga ini yang menjadi latar belakang berdirinya pondok pesantren An-nuriyyah. 48

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dijelaskan bahwa dalam pondok pesantrenAn-nuriyyah kegiatan yang ada sejak dahulu yang kemudian merupakan sebuah tradisi dipesantren yaitu pengajian

pengasuh pondok pesantren terbut yang menjadi tenaga pendidik dalam pengajian kitab tersebut.

Dan berdasarkan hasil observasi pada tanggal 9 Maret 2019 di Pondok Pesantren An-nuriyah Songon Pondok Joyo Semboro Jember pada jam 12.30 sedang melaksanakan kegiatan pengajian kitab jawahirul bukhori.49

KH. Anshori dalam mendidik ataupun mengajari santri itu sangatlah baik. Alfina Nur Isma salah satu santri putri yang aktif mengatakan:

Kyai tidak hanya mengajar dan mendidik santri-santri senior, tapi juga mengajari santri-santri baru yang masih buta dengan ilmu keagmaan. Ketika seorang santri tidak memahami sebuah penjelasan dari Kyai, disini Kyai tidak memarahi ataupun membiarkannya. Melainkan dengan kesabaran beliau, beliau terus mengajarkan apa yang menjadi kesulitan santri. Sehingga, semua santri maupun saya paham dengan apa yang telah beliau

50

48 hum. Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 13 Maret 2019.

49 Observasi, Songon Pondok Joyo Semboro, 9 Maret 2019

50 Alfina Nur Isma, Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 23 Maret 2019

Jadi, berdasarkan hasil wawancara diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kyai selaku pengasuh dipesantren An-nuriyyah dalam mendidik ataupun membimbing santrinya yang masih buta dengan ilmu keagamaan itu sangat baik dan KH. Anshori tidak membiarkannya melainkan dengan kesabaran beliau, beliau terus mengajarkan apa yang menjadi kesulitan santri.

3. Peran Kyai Sebagai Pemegang Otoritas Kharismatik Dalam Memimpin Lembaga Pendidikan Non Formal Di Pondok Pesantren An-nuriyah Songon Pondok Joyo Semboro Jember

Didalam pondok pesantren tentunya seorang Kyai selaku pengasuh ataupun pemimpin utama dipesantren tentunya memiliki tipe-tipe kepemimpinan tersendiri. Salah satunya adalah kepemimpinan kharismatik yang ada pada diri seorang pemimpin.

Lalu, kepemimpinan kyai dalam tipe kharismatik di pondok pesantren An-nuriyah ini seperti apa dan bagaimana hubungan kyai dengan pengurus dan juga bagaimana hubungan kyai dengan santri.

Kemudian siti nur fadilah selaku Ketua pondok dipesantren An- nuriyyah mengatakan:

hubungan saya dengan kyai sangatlah dekat karena setiap kyai membuat peraturan di lembaga non formal tersebut selalu memanggil saya terlebih dahulu untuk mengatur jadwal rapat bersama pengurus atau asatid/dzah yang lainnya. 51

51 Siti Nur Fadilah, Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 19 Maret 2019

Lalu, dengan adanya pengurus, itu bisa membantu dan meringankan kepemimpinan Kyai di pesantren An-nuriyyah. Beliau mengatakan:

Iya sangat membantu dan sangat meringankan sekali. Karena pengurus itu adalah kaki tangan dari sebuah lembaga dan hubungan saya dengan pengurus sangat dekat sekali karena segala kebutuhan yang terkait dengan kelembagaan pasti membutuhkan musyawarah tentunya seusai dengan jenjang dengan

52

Berdasarkan uraian wawancara diatas ialah hubungan kyai dengan pengurus sangatlah dekat. Karena dengan adanya pengurus, kepemimpinannya KH. Anshori bisa terbantu dan dapat meringankan kepemimpinannya kyai.

Dan hubungan kyai dengan santri-santrinya sangatlah dekat.

Karena disini peneliti mengetahui bahwa Kyai juga menjadi tenaga pendidik di lembaga Non formalnya. Lalu, beliau juga megatakan:

-puteri hubungannya sangat dekat sekali, karena mereka masih ada diusia anak-anak remaja, dan dewasa.

Jadi sangat membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Jika dirumah mereka mendapatkan kasih sayang orangtuanya maka di pesantren pasti mereka amat bangga dan bahagia jika mendapatkan

kasih sayang 53

Kemudian seorang pengasuh di pesantren-pesantren lainnya terkadang tidak terlalu dekat dengan santri. Akan tetapi di pondok pesantren An-nuriyyah ini kyai dengan santri sangatlah dekat. Lalu, Alfina Nur Isma selaku santri yang aktif di pondok pesantren An-nuriyyah mengatakan:

52 sum. Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 13 Maret 2019.

53 hum. Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 13 Maret 2019.

-teman santri yang lainnya dengan kyai sangatlah dekat, layaknya orang tua dan anak. Saya tidak hanya menganggap beliau sebagai guru dalam bidang ilmu, tapi saya dan teman-teman seperjuangan saya juga menganggap sebagai orang tua. Selain mengajar dan mendidik, beliau juga memperhatikan keseharian dan kesehatan santri-santrinya bahkan kejenuhan kami.

Seolah-olah ada ikatan batin antara kyai dengan para santri. 54 Kemudian saudari Alfina selaku santri yang aktif di pondok pesantren An-nuriyyah mengatakan bahwa salah satu contoh hubungan kyai dengan santri adalah:

Salah satu contoh hubungan kyai dengan santri ataupun saya adalah beliau tidak memerintahkan para santriwan dan santriwati termasuk saya sendiri memangggil belia

Beliau mempunyai alasan sendiri mengapa para santri dari luar ponpes ataupun dalam ponpes memanggil beliau dengan sebutan

mengajarkanmu satu huruf sedangkan kamu membutuhkannya

55

Hasil uraian wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan kyai dengan santri sangatlah dekat, apalagi dalam proses kegiatan non formal. Karena kyai disini juga menjadi tenaga pendidik di lembaga non formalnya. Bahkan di pondok pesantren An-nuriyyah ini tidak mengenal atau memakai dengan sebutan Kyai, akan tetapi santri di pondok pesantren An-

-santrinya. Beliau juga memperhatikan keseharian dan kesehatan santri-santrinya.

54 Alfina Nur Isma, Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 23 Maret 2019

55 Alfina Nur Isma, Wawancara, Pondok Joyo Semboro, 23 Maret 2019

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 9 Maret 2019 semua santri di pondok pesantren An-nuriyyah Songon Pondok Joyo Semboro Jember memang benar-benar memanggil Kyai dengan sebutan Abi. Dan itu memang benar-benar berlaku pada keseharian santri putra ataupun putri.56

Dalam dokumen peran kyai sebagai pemegang otoritas (Halaman 66-76)

Dokumen terkait