BAB III METODE PENELITIAN
B. Penyajian Data Dan Analisis
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi partisipan, wawancara/interview, dan dokumenter sebagai alat untuk meraih data sebanyak mungkin terhadap berbagai hal yang
berkaitan dan mendukung untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan data dalam penelitian ini.
Adapun data-data yang diperoleh dari tiga metode di atas dapat dipaparkan sebagaimana di bawah ini, maka peneliti akan menyajikan dua macam pengumpulan data yaitu hasil observasi peneliti yang merupakan data pokok dan kemudian diperkuat dengan hasil wawancara/interview.
Untuk mendapatkan data yang berkualitas dan intensifikasi secara berurutan akan disajikan data tentang:
1. Pendalaman materi fiqih tentang thaharah melalui kitab Riyadl al- Badi’ah di pondok pesantren Al-Ishlah Jenggawah Jember
Pendalaman adalah mendalamkan atau memperaktekkan suatu materi pembelajaran yang sudah disampaikan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Pendalaman santri terhadap materi fiqih dapat ditumbuhkan dan ditingkatkan salah satunya melalui kajian kitab, sehingga dapat menimbulkan motivasi santri untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan dari hasil observasi yang sudah peneliti lakukan bahwa materi fiqih tentang thaharah sangatlah penting. Karena thaharah adalah kunci utama dari sekian ibadah atau dasar yang harus dilakukan sebelum melaksanakan ibadah. Seorang hamba apabila ingin mencapai nilai ibadah yang baik harus di awali dengan thaharah yang baik pula.
Pondok pesantren Al-Ishlah adalah salah satu lembaga non-formal yang sangat menekankan terhadap pendalaman thaharah. Salah satu
sarana yang digunakan dalam meningkatkan pendalaman santri yaitu menggunakan kajian kitab Riyadl al-Badi’ah. Untuk memperoleh data yang lengkap peniliti melakukan wawancara langsung dengan pengasuh pondok, dan hasilnya sebagai berikut:
”Thaharah adalah syarat dari sekian ibadah. Tanpa thaharah yang sesuai dengan syariat maka ibadah yang dilakukan akan sia-sia disisi Allah SWT. Thaharah adalah materi yang sangat membutuhkan kepada peraktek. Maka dari itu santri di pondok pesantren Al-Ishlah diberikan materi pendalaman dengan tujuan agar para santri dapat memperaktekkannya dengan benar dan sempurna. Cangkupan dalam bab thaharah sangatlah banyak mulai dari wudhu’, mandi, tayammum, dan cara menghilangkan najis, dan itu semua sangat membutuhkan kepada peraktek dan pembiasaan diri karena di dalamnya masih terbagi dari syarat, rukun dan sunnah-sunnah yang harus dilakukan. Tanpa pendalaman santri akan kesulitan untuk mencapai itu semua”.71
Dari hasil wawancara tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa salah satu strategi yang digunakan di pondok pesantren Al-Ishlah untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu dengan meningkatkan pendalaman materi terhadap santri. Terutama pada materi yang sifatnya amaliyah dalam kehidupan sehari-hari dan berhubungan dengan penghambaan diri kepada Allah SWT.
Sementara itu peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu ustad/muallim materi fiqih hasilnya sebagai berikut:
“Saya selaku muallim dan diberikan amanah yang besar di pondok pesantren Al-Ishlah selalu memberikan pengawasan yang ketat kepada para santri, terutama tentang fiqih yang bersifat amaliyah. Salah satu contohnya pada thaharah. Setiap habis sholat shubuh saya selalu mereview materi yang sudah saya sampaikan dan kemudian santri saya suruh untuk memperaktekkannya di depan saya. Setiap pertemuan saya harus menyelesaikan satu bab, bab pertama saya
71KH. Ahmad Mu’ien Siroj, wawancara, Jenggawah, 27 Juli 2017.
mulai dari wudhu. Santri saya tunjuk satu-persatu dan kemudian saya suruh meperaktekkannya mulai dari niat sampai selesai dan lengkap dengan doa-doanya setiap basuhan anggota wudhu’ serta santri juga harus dapat menyebutkan fardhu wudhu’, sunnah-sunnah wudhu’ dan makruh-makruhnya perbuatan saat berwudhu’. Pertemuan kedua saya membahas tentang mandi, santri harus tau macam-macam mandi, sebab-sebab yang mewajibkan mandi, niat mandi serta cara melaksanakannya dengan benar sehingga hadats yang menempel di badan benar-benar bersih. Pertemuan ketiga saya membahas tayammum, para santri saya wajibkan dapat menghafal niat tayammum, memperaktekkan gerakan tayammum dengan sempurna batasan-batasan di perbolehkannya tayammum dan masa aktifnya tayammum serta santri juga saya tuntut agar dapat mengetahui debu yang dapat digunakan untuk bertayammum dan debu yang tidak dapat digunakan. Pertemuan ke empat saya menyampaikan tentang najis dan cara menghilangkannya, para santri saya wajibkan untuk dapat mengetahui tentang macam-macam najis dan cara menghilangkannya dan langsung memperaktekkannya di depan saya ”.72
Jadi dari hasil wawancara tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa untuk dapat mengetahui perkembangan santri dalam berwudhu’
dengan sempurna santri harus dapat menghafal doa-doa dalam setiap gerakan wudhu’ dan dapat membedakan antara fardhu, sunnah, dan makruhnya dalam setiap pelaksanaannya. Santri juga di tuntut untuk dapat mengetahui hal-hal yang mewajibkan mandi, cara bertayammum dengan benar serta macam-macam najis dan cara menghilangkannya sesuai dengan ajaran syari’at agama Islam.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu santri yang mengikuti kajian kitab Riyadl al- Badi’ah, hasilnya adalah sebagai berikut:
“Pendalaman materi fiqih tentang thaharah melalui kajian kitab Riyadl al-Badi’ah sangat membantu kita dalam menambah wawasan kita mendalami fiqih yang sesungguhnya, awal mula kami
72 Ustad Moh. Syu’aib Hasan, wawancara, Jenggawah, 31 Juli 2017.
dikenalkan dengan kitab Fathul Qorib dan sekarang agar lebih mendalam kami dikenalkan dengan kitab Riyadl al-Badi’ah.
Walaupun bahasanya sangat sulit namun kami tidak putus asa untuk selalu berusaha dan terus belajar. Pendalaman materi fiqih yang dilaksanakan melalui ktab Riyadl al-Badi’ah sangat membantu kami untuk dapat memperaktekkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kami melakukan perintah Allah tanpa adanya lagi keraguan di hati, walaupun sangat berat karena kami harus melakukannya pertama kali di depan ustad Syu’aib yang mana beliau adalah salah satu adek kandung dari pengasuh. Kami juga harus dapat menghafal Ayat-ayat atau Hadits yang bersangkutan dengan dengan thaharah mulai dari wudhu’, mandi, tayammum, dan najis”.73
Dari hasil wawancara di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dengan adanya pendalaman materi fiqih melalaui kitab Riyadl al-Badi’ah dapat meningkatkan kesadaran santri tentang pentingnya belajar. Santri juga dapat mengetahui ayat-ayat dan hadits yang berhubungan dengan thaharah, sehingga santri mempunyai keyakinan yang tinggi dan tujuan yang jelas. Santri juga akan lebih teliti dan tidak menganggap remeh hal- hal yang kelihatannya sederhana namun mempunyai makna dan tujuan yang besar.
2. Pendalaman materi fiqih tentang ibadah melalui kitab Riyadl al- Badi’ah di pondok pesantren Al-Ishlah Jenggawah Jember
Dalam setiap lembaga pendidikan Islam pasti mempunyai metode dan strategi untuk mencapai suatu tujuan dalam pendidikan seperti di pondok pesantren Al-Ishlah ini mempunya tujuan dalam meningkatkan pendalaman santri tentang fiqih ibadah.
Dalam meningkatkan pendalaman santri tentang materi fiqih melalui kitab Riyadl al-Badi’ah memanglah tidak sulit bagi pendidik, akan tetapi
73 Firman, wawancara, Jenggawah, 4 Agustus 2017.
siswa terkadang kurang cinta terhadap materi sehingga kurang mendalami dari materi yang sudah disampaikan terutama dalam bab ibadah karena prakteknya sudah dilaksanakan setiap hari. Namun banyak dari santri yang masih belum tahu tentang syarat, rukun, dan sunnah dari materi shalat.
Terkait dengan proses pendalaman materi fiqih melalui kitab Riyadl al- Badi’ah, peneliti melakukan interview dengan adik pertama dari pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah sebagai berikut:
“Adanya pendalaman materi fiqih melalui kajian kitab Riyadl al- Badia’ah diharapkan para santri bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam materi fiqih ibadah. Dengan belajar disiplin dan berakhlak mulia dapat menghindarkan diri dari rasa malas dan menumbuhkan semangat santri dalam melaksanakan berbagai macam kegiatan yang ada di pondok pesantren. Di pesantren dipadati dengan berbagai kegiatan dan aturan-aturan yang akan menjadikan santri tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang sudah diharapkan, sehingga tujuan pendidikan yang ada di pesantren dapat terlaksana, dan sikap disiplin santri merupakan salah satu dari tujuan pendidikan pesantren”.74
Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan ustad Moh.
Syu’aib Hasan selaku muallim dari materi fiqih melalui ktab Riyadl al- Badi’ah dan hasilnya adalah:
“Kitab Riyadl al-Badi’ah adalah kitab lanjutan yang dipakai santri dalam mendalami materi fiqih ibadah yang meliputi tentang shalat, puasa, dan zakat. Materi fiqih tidak hanya disampaikan di asrama santri tetapi juga diajarkan di lembaga formal. Karena fiqih ibadah memerlukan waktu yang panjang (tahqiq yang mendalam) agar pelaksanaannya sesuai dengan yang sudah di ajarkan oleh Rasulullah. Ibadah adalah suatu rukun Islam yang sifatnya harus dilaksanakan seorang hamba kepada tuhannya dalam bentuk pengabdian. Hal ini ibaratkan kita akan membangun sebuah rumah, apabila pondasinya kurang maka ketika terjadi gempa akan mudah roboh sekaligus, begitu pula apabila kepribadian santri tidak
74 Ustad Mohammad Wajdy Siroj, wawancara, Jenggawah, 3 Agustus 2017.
diperkuat dengan rukun iman dan rukun Islam apabila terjadi goncangan atau cobaan hidup tentunya akan mudah goyah dan gampang terpengaruh”.75
Berdasarkan wawancara tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendalaman materi fiqih sangat penting dan pelaksanaannya bukan hanya di asrama tetapi juga di lembaga formal sesuai dengan kelas masing- masing. Karena di lembaga formal para muallimin bisa lebih fokus dalam mendalamkannya melalui kajian kitab Riyadl al-Badi’ah.
Terkait dengan pendalaman materi fiqih, peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu santri, dan hasilnya sebagai berikut:
“Dengan adanya pendalaman materi fiqih ibadah, kami para santri di tuntut untuk dapat memperaktekkan semua materi fiqih yang berhubungan dengan ibadah terutama ibadah sholat, mulai dari niatnya bacaan dan gerakannya sampai wiritan dan doanya sesudah sholat. Sholat rawatib qobliyah dan ba’diyah saja di pondok pesantren Al-Ishlah diwajibkan, namun wajib ma’hady. Tujuannya agar para santri selalu taat dan patuh kepada Allah dan juga cinta sang Rasulullah”.76
Dari analisis di atas maka peneliti berpendapat bahwa dalam mendalami materi fiqih ibadah di pondok pesantren Al-Ishlah dilaksanakan dengan sangat efektif dan efisien, sebab dalam pelaksanaannya santri di tekan agar dapat menghafal semua bacaan/doa yang berkaitan dengan ibadah. Bagi santri yang mengikuti pembelajaran dan pendalaman materi fiqih ibadah melalui kajian kitab Riyadl al-Badi’ah bisa memahami arti ibadah yang mendalam dan dapat mengaplikasikannya secara benar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mendalami materi fiqih
75 Ustad Moh. Syu’aib Hasan, wawancara, Jenggawah, 31 Juli 2017.
76 Ali Hasan, wawancara, Jenggawah, 5 Agustus 2017.
ibadah di pondok pesantren Al-Ishlah juga melalui tahapan-tahapan sehingga santri ketika proses pendalaman materi fiqih sebelum dimulai mereka dapat belajar bersama terlebih dahulu.
a) Ibadah shalat
Berdasarkan observasi tersebut, peneliti melakukan interview dengan salah satu muallim yang mengajar materi fiqih melalui kitab Riyadl al-Badi’ah dan hasilnya sebagai berikut:
“Dengan adanya pendalaman shalat melalui kajian kitab Riyadl al-Badi’ah santri dapat dilatih untuk melaksanakan gerakan shalat dengan benar mulai dari takbiratul ihram, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan salam. Santri juga dilatih agar dapat melantunkan ayat Al-Qur’an dengan fashih dan benar serta menggunakan tartil yang baik sehingga suasana shalat akan lebih khusuk”.77
Dari analisis di atas maka penulis berpendapat bahwa kajian kitab Riyadl al-Badi’ah adalah salah satu sarana yang digunakan dalam meningkatkan pendalaman santri tentang fiqih ibadah dengan konsep pendidikan dalam agama Islam.
Selain itu, untuk memperoleh data yang lebih akurat lagi peneliti melakukan wawancara kembali dengan salah satu santri yang mengikuti kajian kiatab Riyadl al-Badi’ah, dan hasilnya yakni sebagai berikut:
“Kami para santri melaksanakan pendalaman materi fiqih tentang shalat jam 04:30 s/d 06:30. Kami melakukan pelatihan gerakan shalat, menjadi imam dan makmum yang baik, wiritan dan doa setelah shalat. Khusus untuk shalat shubuh kami juga dilatih untuk dapat menghafal doa qunut, namun doa qunut yang kami baca ada beberapa tambahan doa yang sudah berlaku di pondok pesantren Al-Ishlah yang sudah menjadi warisan dari pendiri”.78
77 Ustad Mohammad Wajdy Siroj, wawancara, Jenggawah, 3 Agustus 2017.
78Alfan, wawancara, Jenggawah, 6 Agustus 2017.
Dari penjelasan informan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk mewujudkan santri agar dapat benar-benar mendalami materi shalat perlu dilaksanakan pelatihan yang telaten dan istikomah serta pengawasan langsung dari para muallimin yang bertanggung jawab dalam meningkatkan pendalaman materi fiqih tentang ibadah shalat, khususnya bagi para ubudiyah yang memang sudah mengatur tentang peribadatan para santri.
b) Ibadah puasa.
Dalam meningkatkan pendalaman materi fiqih terutama pada bab puasa, santri dilatih untuk berpuasa sunnah senin dan kamis. Santri diwajibkan berpuasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dengan harapan para santri dapat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan syari’at Islam yang sudah berlaku khususnya puasa pada bulan Ramadhan.
Bedasarkan hasil observasi yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa dalam mendalami materi fiqih ibadah puasa tentunya memerlukan sebuah metode maupun media yang mendukung. Oleh karena itu, media yang dibutuhkan harus sesuai dengan materi yang akan didalami.
Sedangkan berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada salah satu ustad yang mengajar fiqih di pondok pesantren Al-Ishlah adalah sebagai berikut:
“Di pondok pesantren Al-Ishlah santri mulai dilatih untuk berpuasa senin dan kamis sebagai bentuk pelatihan atau
pendalaman santri dari materi fiqih tentang puasa. Santri juga di wajibkan melaksanakan puasa-puasa sunnah yang sudah pernah dilaksnakan oleh Rasulullah, seperti salah satu contohnya puasa pada bulan Muharram dan puasa pada bulan Dzulhijjah”.79
Selain itu peneliti juga melakukan wawancara pada santri senior yang sudah menjadi pengurus Ubudiyah, hasilnya sebagai berikut:
“Para santri senior diberikan tanggung jawab untuk selalu menjadi motivator bagi para santri junior dalam melaksanakan ibadah puasa sunnah, mulai dari niat berpuasa, amalan-amalan yang dapat menambah pahala puasa dan amalan-amalan yang dapat mengurangi pahala puasa”.80
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa untuk dapat memaksimalkan pendalaman santri tentang puasa perlu adanya pengawasan langsung dari para santri senior. Selain para santri senior dapat mengamalkan ilmunya, mereka juga dapat terus mengembangkan pendalamannya tentang materi fiqih ibadah puasa.
Mereka harus dapat menjadi uswah yang baik bagi para adek-adeknya, dengan harapan santri junior dapat termotivasi dan timbul rasa kesadaran diri dalam melaksanakan segala aturan yang sudah berlaku di pondok pesantren Al-Ishlah.
c) Zakat
Zakat merupakan salah satu bentuk ibadah dari rukun Islam yang lima. Zakat yaitu kadar harta tertentu yang diberikan kepada orang yang berhak menerimanya. Dalam meningkatkan pendalaman santri pada materi zakat tentulah tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan,
79 Ustad Moh. Syu’aib Hasan, wawancara, Jenggawah, 31 Juli 2017.
80 Khoirul Anam, wawancara, Jenggawah, 5 Agustus 2017.
karena pada bab zakat ada batasan-batasan takaran yang harus sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Untuk mendapatkan hasil yang akurat maka peneliti malakukan wawancara dengan muallim yang bertugas langsung untuk membimbing santri dalam mendalami materi zakat dan hasilnya sebagai berikut:
“Untuk mendalami zakat santri langsung di terjunkan kepada organisasi amil zakat, yang kebetulan pondok Al-Ishlah juga dipercaya untuk mengurusi zakat para warga. Santri juga di berikan kesempatan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang batasan-batasan takaran dalam mengeluarkan zakat sesuai dengan pendapatannya. Santri juga di berikan kesempatan untuk menjelaskan hasil-hasil bumi dan pendapatan yang wajib dizakati, walaupun masih perlu pengawasan dari para muallimin namun santri terus dilatih agar dapat terus berkembang dan mendalami materi fiqih tentang ibadah zakat”.81
Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu santri dan hasilnya sebagai berikut:
“Dalam meningkatkan pendalaman kami pada bab zakat kami langsung diterjunkan kepada kepanitian amil zakat dan kami yang menentukan tentang takaran zakat yang harus dikeluarkan serta kami pula yang menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat tersebut. Kami perlu hati-hati dan harus sesuai dengan syari’at Islam yang telah di ajarkan kepada kami karena kami harus bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan”.82
Dari analisis di atas, penulis berpendapat bahwa dalam meningkatkan pendalaman santri tentang ibadah zakat yaitu langsung melalui amil zakat yang diadakan di pondok pesantren Al-Ishlah. Selain santri dapat mendalami materinya secara langsung santri juga dilatih untuk dapat mengemban amanah yang diberikan oleh masyarakat secara
81 Ustad Mohammad Wajdy Siroj, wawancara, Jenggawah, 3 Agustus 2017
82 Muhammad Faiz, wawancara, Jenggawah, 5 Agustus 2017.
baik dan jujur tanpa adanya penyelewengan yang sudah keluar dari jalur syari’at Islam. Peneliti juga melakukan wawancara dengan pengasuh pondok pesantre Al-Ishlah dan hasilnya sebagai berikut:
“Pendalaman melalui kitab Riyadl al-Badi’ah sangatlah pantas untuk para santri karena didalamnya juga membahas tentang tauhid dan tasawuf dengan harapan santri dapat melakukan semua ibadah semata-mata hanya karena Allah SWT tanpa adanya pemaksaan dari pihak siapapun, karena ibadah adalah sebuah kebutuhan bukanlah sebuah tuntutan ”.83
Dari penjelasan tersebut, peniliti dapat memahami bahwa untuk mencapai tujuan kedisiplinan dan pendidikan di pondok pesantren perlu dilakukan dan ditingkatkan kembali pemahaman dan pendalaman santri tentang fiqih ibadah. Hal ini merupakan suatu latihan yang sangat berarti untuk membiasakan santri agar selalu disiplin khususnya dalam beribadah. Setiap santri pasti dapat merasakan bahwa disiplin untuk beribadah itu pahit, akan tetapi buahnya sangat manis yang berupa pahala dari Allah SWT. Setelah perilaku disiplin tertanam dalam diri santri yang mengikuti kajian kitab Riyadl al-Badi’ah, maka sikap disiplin akan terus berkelanjutan sampai santri lulus bahkan sewaktu liburan saat santri berada di tengah-tengah masyarakat.