• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Pembahasan Temuan

baik dan jujur tanpa adanya penyelewengan yang sudah keluar dari jalur syari’at Islam. Peneliti juga melakukan wawancara dengan pengasuh pondok pesantre Al-Ishlah dan hasilnya sebagai berikut:

“Pendalaman melalui kitab Riyadl al-Badi’ah sangatlah pantas untuk para santri karena didalamnya juga membahas tentang tauhid dan tasawuf dengan harapan santri dapat melakukan semua ibadah semata-mata hanya karena Allah SWT tanpa adanya pemaksaan dari pihak siapapun, karena ibadah adalah sebuah kebutuhan bukanlah sebuah tuntutan ”.83

Dari penjelasan tersebut, peniliti dapat memahami bahwa untuk mencapai tujuan kedisiplinan dan pendidikan di pondok pesantren perlu dilakukan dan ditingkatkan kembali pemahaman dan pendalaman santri tentang fiqih ibadah. Hal ini merupakan suatu latihan yang sangat berarti untuk membiasakan santri agar selalu disiplin khususnya dalam beribadah. Setiap santri pasti dapat merasakan bahwa disiplin untuk beribadah itu pahit, akan tetapi buahnya sangat manis yang berupa pahala dari Allah SWT. Setelah perilaku disiplin tertanam dalam diri santri yang mengikuti kajian kitab Riyadl al-Badi’ah, maka sikap disiplin akan terus berkelanjutan sampai santri lulus bahkan sewaktu liburan saat santri berada di tengah-tengah masyarakat.

atau pertanyaan-pertanyaan dari metode penelitian serta kajian teori yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.

Hal tersebut dibahas dengan temuan-temuan peneliti selama di lapangan yang dilakukan peneliti selama penelitian berlangsung. Berdasarkan pada fokus penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya mengenai Pendalaman Materi Fiqih Tentang Thaharah Melalui Kitab Riyadl al- Badi’ah Di Pondok Pesantren Al-Ishlah Jenggawah Jember.

1. Pendalaman Materi Fiqih Tentang Thaharah Melalui Kitab Riyadl al- Badi’ah Di Pondok Pesantren Al-Ishlah Jenggawah Jember.

Dalam hukum Islam, soal bersuci dan segala seluk-beluknya termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting, terutama karena diantara syarat-syarat shalat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan shalat diwajibkan suci dari hadats dan suci pula badan, pakaian, dan tempatnya dari najis.84

Secara garis besar thaharah terdiri dari thaharah hakiki atau yang terkait dengan urusan najis, dan thaharah hukmi atau yang terkait dengan hadats. Thaharah secara hakiki maksudnya adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. Boleh dikatakan bahwa thaharah hakiki adalah terbebasnya seseorang dari najis.

Seseorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada noda darah atau air kencing, tidak sah shalatnya. Karena dia tidak terbebas dari ketidaksucian secara hakiki. Thaharah hakiki bisa didapat dengan

84 H. Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014), 13.

menghilangkan najis yang menempel, baik pada badan, pakaian atau tempat untuk melakukan ibadah. Caranya bermacam-macam tergantung level kenajisannya. Bila najis itu ringan, cukup dengan memercikkan air saja, maka najis tersebut dianggap telah lenyap. Bila najis itu berat, harus dicuci dengan air sebanyak 7 kali dan salah satunya dicampur dengan tanah. Bila najis itu pertengahan, disucikan dengan cara mencucinya dengan air biasa hingga hilang warna, bau, dan rasa najisnya.85

Sedangkan thaharah hukmi maksudnya adalah sucinya kita dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar (kondisi janabat). Thaharah hukmi tidak terlihat kotornya secara fisik. Bahkan boleh jadi secara fisik tidak ada kotoran pada diri kita. Namun tidak adanya kotoran yang menempel pada diri kita, belum tentu dipandang bersih secara hukum.

Bersih secara hukum adalah kesucian secara ritual.

Seseorang yang tertidur batal wudhu’nya, boleh jadi secara fisik tidak ada kotoran yang menimpanya. Namun dia wajib ber-thaharah ulang dengan cara berwudhu’ bila ingin melakukan ibadah tertentu seperti shalat, thawaf, dan lainnya.

Demikian pula dengan orang yang keluar mani, meski dia telah mencuci maninya dengan bersih, lalu mengganti bajunya dengan yang baru, dia tetap belum dikatakan suci dari hadats besar hingga selesai dari mandi janabah. Jadi thaharah hukmi adalah kesucian secara ritual, dimana secara fisik memang tidak ada kotoran yang menempel, namun seolah-olah

85 Ahmdt Sarwat, Lc, Fiqih Thaharah, (Yogyakarta, DU Center Press, 2010), 26.

dirinya tidak suci untuk melakukan ibadah. Thaharah hukmi didapat dengan cara berwudhu’ atau mandi janabah.86

Perhatian Islam atas dua jenis kesucian itu hakiki dan maknawi- merupakan bukti otentik tentang konsistensi Islam atas kesucian dan kebersihan. Dan bahwa Islam adalah perilaku hidup yang paling unggul dalam urusan keindahan dan kebersihan.

Meski wudhu’, mandi, dan membersihkan najis termasuk perkara ritual, namun tidak dapat dipungkiri bahwa semua itu berhubungan dengan kebersihan. Seorang yang disyariatkan berwudhu sehari lima kali pasti berbeda keadaannya dengan yang tidak berwudhu sehari lima kali.87

Termasuk juga bentuk perhatian serius atas masalah kesehatan baik yang bersifat umum atau khusus. Serta pembentukan fisik dengan bentuk yang terbaik dan penampilan yang terindah. Perhatian ini juga merupakan isyarat kepada masyarakat untuk mencegah tersebarnya penyakit, kemalasan dan keengganan.

Sebab wudhu dan mandi itu secara fisik terbukti bisa menyegarkan tubuh, mengembalikan fitalitas dan membersihkan diri dari segala kuman penyakit yang setiap saat bisa menyerang tubuh.

Secara ilmu kedoktern terbukti bahwa upaya yang paling efektik untuk mencegah terjadinya wabah penyakit adalah dengan menjaga

86 Ibid, 27.

87 Ibid, 28.

kebersihan. Seperti yang sudah sering disebutkan bahwa mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati.88

Allah SWT telah memuji orang orang-orang yang selalu menjaga kesucian, sebagaimana firmannya di dalam al-Qur’an:















Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang membersihkan diri” (QS. al-Baqarah: 222)89

















































Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama- lamanya. Sesungguh- nya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya masjid itu ada orang- orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS. at-Taubah: 108)90 Sosok pribadi muslim sejati adalah orang-orang yang bisa menjadi teladan dan idola, dalam arti yang positif di tengah manusia dalam hal kesucian dan kebersihan. Baik kebersihan zahir maupun batin.

Dari pemaparan di atas, peneliti dapat memahami bahwa pendalaman materi fiqih tentang thaharah melalui kitab Riyadl al-Badi’ah yang dilakukan di pondok pesantren Al-Ishlah yakni untuk melatih santri selalu menjaga kebersihan terutama saat akan melakukan ibadah kepada Allah SWT. Kedudukan thaharah menempati urutan yang pertama dalam

88 Ibid, 29.

89 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tarjemahnya,36.

90 Ibid, 205.

sahnya segala ibadah. Tanpa memperhatikan thaharah dengan benar maka ibadah yang dilakukan akan sia-sia disisi Allah SWT. Pendalaman materi fiqih tentang thaharah diadakan tujuannya hanyalah untuk kebaikan santri itu sendiri. Agar mereka terbiasa selalu hidup bersih dan sehat, sehingga terhindar dari segala wabah penyakit dan dapat melaksanakan aktivitas yang ada di pondok pesantren. Karena apabila santri terserang penyakit maka mereka tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar, sehingga mereka akan ketinggalan materi dan akan kesulitan untuk dapat memahami materi selanjutnya.

Awalya, di pondok pesantren santri hanya diberikan pemahaman tentang materi thaharah. Namun kurang efektif, karena banyak dari santri yang melakukan kesalahan ketika ber-thaharah, khususnya ketika berwudhu’ dan mandi janabah. Banyak diantara santri yang tidak dapat membedakan antara fardhu, sunnah, dan makruhnya thaharah. Sedangkan thaharah menjadi bagian utuh dari keimanan seseorang dan juga terkait erat dengan syah tidaknya ibadah seseorang. Allah SWT tidak menerima orang yang mempersembahkan ibadahnya dalam keadaan kotor, baik secara fisik ataupun secara rohani. Karena dipandang sangat penting, sehingga di pondok pesantren Al-Ishlah diadakannya pembelajaran pendalaman materi fiqih tentang thaharah, bukan hanya di asrama namun juga di lembaga-lembaga formal yang ada di pondok pesantren Al-Ishlah.

Santri dituntut untuk terus belajar dan benar-benar mendalaminya dan dapat menghafal dalil-dalil tentang thaharah.

Pendalaman Materi Fiqih Tentang Ibadah Melalui Kitab Riyadl al- Badi’ah Di Pondok Pesantren Al-Ishlah Jenggawah Jember.

2. Pendalaman Materi Fiqih Tentang Ibadah Melalui Kitab Riyadl al-Badi’ah Di Pondok Pesantren Al-Ishlah Jenggawah Jember

Allah telah menjelskan tujuan penciptaan manusia yaitu untuk menyembah-Nya atau beribadah kepada-Nya. Dalam pengertian umum ibadah adalah suatu nama (konsep) yang mencakup semua perbuatan yang disukai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Ibadah khusus terdiri dari shalat, zakat, puasa, dan haji. Tujuan dari ibadah shalat yaitu untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar.91

Puasa dan zakat merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Puasa adalah menahan diri dari semua hal yang membatalkan mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Bagi orang yang diberikan anugerah oleh Allah SWT, untuk dapat bertemu dengan bulan puasa sepatutnya ia bersyukur, mengingat betapa banyak kebaikan dan keutamaan yang Allah SWT turunkan pada bulan Ramadhan tersebut kepada seluruh umat muslim du dunia. Selain itu kita juga bisa memahami melalui kajian kitab maupun dari internet dan sebagainya.92

Oleh karea itu shalat, puasa, dan zakat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf dan harus dikerjakan baik bagi yang mukim maupun yang dalam perjalanan jauh.93

91 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah I (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1990), 193.

92 Hafidhudin, Islam Aplikatif (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), 6.

93 Amir Syarifuddi, Garis-Garis Besar Fiqih (Jakarta: Kencana, 2003), 17.

Dari pemaparan di atas, penulis dapat memahami bahwa pendalaman materi fiqih tentang ibadah melalui kitab Riyadl al-Badi’ah yang dilakukan di pondok pesantren Al-Ishlah yakni untuk mendisiplinkan santrinya dalam setiap kegiatan khususnya ibadah yang meliputi shalat berjama’ah, puasa di bulan Ramadhan, dan zakat fitrah untuk mensucikan diri kita dari segala perbuatan yang buruk. Pendalaman materi fiqih tentang ibadah diadakan semata-mata untuk kebaikan santri itu sendiri.

Agar mereka terbiasa disiplin dalam segala hal yang akan dilakukan, jadi mereka dituntut untuk selalu tepat waktu dalam berbagai kegiatan apapun mulai dari hal yang terkecil sampai hal yang terpenting dalam kehidupan seharhi-hari, bahkan istirahat pun ada batasan waktunya.

Pendalaman materi fiqih tentang ibadah awalnya di laksanakan oleh para santri setelah shalat shubuh, namun setelah dipandang sangat penting akhirnya pendalaman materi fiqih tentang ibadah diberlakukan di lembaga formal yayasan pondok pesantren Al-Ishlah. Materi fiqih tentang ibadah lebih ditingkatkan karena berkaitan dengan kehidupan di dunia dan di akhirat kelak, seperti shalat, puasa, dan zakat. Dalam materi fiqih tentang ibadah biasanya santri dituntut untuk berlaku disiplin, awalnya sangat sulit untuk diterapkan akan tetapi lambat laun santri pun mulai terbiasa ketika akan pergi ke masjid tidak terlambat lagi. Dan kebiasaan itu diharapkan diterapkan di rumah ketika mereka liburan atau sudah terjun di tengah- tengah masyarakat. Sehingga para santri dapat menjadi Ushwatun Hasanah (contoh yang baik) bagi masyarakat sekitarnya.

Konsep ibadah dalam Islam sangatlah luas dan selalu berkembang mengikuti perubahan zaman. Makna, hakikat, dan tujuan ibadah dalam Islam tentulah sangat berbeda namun pada akhirnya berujung pada suatu bentuk keta’atan hamba terhadap Allah SWT sebagai upaya untuk menggapai mardhotillah. Janganlah menjadikan ibadah itu hanya sebatas simbolik kita sebagai umat Islam saja, setidaknya kita tahu kenapa kita beribadah. Islam tidak memiliki kecacatan sedikitpun, kalaupun ada bukanlah Islam yang harus disalahkan tapi kita sebagai manusia yang tak pernah luput dari kesalahan dan kebodohan.94

94 Hasan Shaleh, Konsep Ibadah Dalam Islam (Jakarta: Karisma Putra Utama Ofset, 2008), 4.

Berdasarkan hasil penyajian data yang dilanjutkan dengan analisis data, kemudian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendalaman materi fiqih tentang tharah melalui kitab Riyadl al- Badi’ah

Pendalaman materi fiqih thaharah melalui kitab Riyadl al-Badi’ah di pondok pesantren Al-Ishlah, dilaksanakan untuk membiasakan santri agar selalu menjaga kebersihan badan, pakaian, dan tempat ibadah, terutama kebersihan hati. Santri dituntut agar dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, karena ibadah tanpa thaharah yang sempurna tidak akan mempunyai nilai disisi Allah SWT. Sebelum pendidik menjelaskan dan mempraktekkan materi fiqih thaharah yang meliputi wudhu’, mandi, tayammum, dan cara menghilangkan najis santri di perintahkan untuk membaca kitab Riyadl al-Badi’ah terlebih dahulu sebanyak satu baris atau lebih. Kemudian pendidik menjelaskan materi tersebut secara jelas dan terperinci yang kemudian berlanjut kepada praktek. Pembiasaan diri dalam menjaga kebersihan dapat mensehatkan badan dan mensehatkan hati dari penyakit-penyakitnya yang dapat merusak keimanan seseorang. Ketika pengasuh atau ustadz memberikan penjelasan kepada santri yang mengikuti kajian kitab, mereka mendengarkan dengan seksama dan apabila ada yang belum difahami,

langsung menanyakan kepada pengasuh atau ustadz. Sehingga pendidik lebih detail lagi dan lebih meluas penjelasannya.

2. Pendalaman materi fiqih tentang ibadah melalui kitab Riyadl al- Badi’ah

Pendalaman materi fiqih ibadah melalui kitab Riyadl al-Badi’ah di pondok pesantren Al-Ishlah, dilaksanakan untuk membiasakan santri dalam beribadah dengan benar dan istiqomah. Sebelum pendidik menjelaskan dan mempraktekkan materi fiqih ibadah yang meliputi shalat, puasa, dan zakat, seperti biasa santri di perintahkan untuk membaca kitab Riyadl al-Badi’ah terlebih dahulu sebanyak satu baris atau lebih.

Kemudian pendidik menjelaskan materi tersebut secara jelas dan terperinci yang kemudian berlanjut kepada praktek. Pelaksanaan shalat berjama’ah dapat meningkatkan kedisiplinan santri dan mengajarkan santri untuk bersikap cekatan. Pelaksanaan ibadah dapat menambah ukhuwah Islamiyah antara santri yang satu dengan santri yang lainnya. Dalam pendalaman materi fiqih ibadah melalui kitab Riyadl al-Badi’ah di pondok pesantren Al-Ishlah memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya yaitu menjadikan santri tepat waktu dalam segala hal kegiatan yang ada di pondok pesantren. Sedangkan untuk dampak negatifnya yaitu santri yang tidak mengikuti kajian kitab Riyadl al-Badi’ah pintar menyembunyikan kesalahannya dan tidak jujur untuk mengikuti kesalahan yang mereka perbuat. Karena santri tersebut masih belum mengetahui bahwa ibadah merupakan pangkal dari rukun Islam. Sedangkan hambatan

yang dialami para pendidik saat memberikan penjelasan materi fiqih melalui kitab Riyadl al-Badi’ah, yakni santri kurang memahami arti dan maksud dari isi kitab tersebut, sehingga pendidik harus lebih ekstra dalam menjelaskan materi fiqih tersebut. Solusi yang diberikan untuk mengatasi hambatan tersebut yakni santri diwajibkan belajar bersama terlebih dahulu, selain itu santri juga dituntut agar mendalami ilmu nahwu dan shorrof, dan santri juga bisa membawa terjemah dari kitab Riyadl al-Badi’ah.

B. Saran-saran

Setelah dilakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi, maka di akhir penulisan ini peneliti ingin memberikan saran yang diharapkan nantinya dapat dijadikan bahan pertimbangan selanjutnya yang mungkin dapat meningkatkan kualitas pendidikan yang dapat meningkatkan kedisiplinan thaharah maupun ibadah. Adapun saran tersebut sebagai berikut:

1. Kepada pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah untuk selalu menjadi teladan yang baik bagi santri-santrinya dan memotivasi para santrinya untuk melaksanakan thaharah dan ibadah dengan sebaik-baiknya. Dan memotivasi santri untuk selalu melaksnakan shalat berjama’ah. Serta santri diberikan waktu liburan/pulangan yang agak lama agar bisa melaksanakan shalat berjama’ah di rumahnya tidak hanya di pondok pesantren saja.

2. Kepada pengurus pondok pesantren Al-Ishlah untuk selalu bersatu dan bekerja sama dalam menjalankan kegiatan dan tata tertib yang telah ditetapkan dan menjaga keharmonisan antara pengurus dengan para santri serta berlaku adil terhadap santri yang satu dengan yang lainnya.

3. Kepada ustadz diharapkan senantiasa membantu pengasuh dalam memotivasi santri untuk melaksanakan wudhu’ yang benar dan shalat berjama’ah, dan memberi pemahaman kepada santri agar berlaku jujur untuk mengakui kesalahannya.

4. Kepada seluruh santri Al-Ishlah untuk selalu mentaati tata tertib dan bersikap disiplin dalam berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan di pondok pesantren Al-Ishlah. Disarankan kepada santri agar selalu melaksanakan shalat berjama’ah dimana pun berada meskipun tidak berada di bawah pengawasan pondok pesantren.

Aziz Alu Mubarak, Faishal bin Abdul. 2014.Riyadhus Shalihin & terjemahnya, Jakarta: Ummul Qura.

Bawani, Iman. 1990. Tradisionalisme Dalam Pendidikan Islam. Bandung: PT Rema Rosda Karya

Bdri, Munawiroh. 2007. Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah. Jakarta:

Puslitbang Lektur Keagamaan

Departemen Agama RI. 2006. Undang-undang dan peraturan pemerintah RI tentang pendidikan Jakarta:Diroktorat Jendral Pendidikan Islam DEPAG RI

Departemen Agama RI.2005.Al-Qur’an dan Tarjemahnya .Bandung: J-ART Djamal, Abdul.2002. Hukum Islam Berdasarkan Ketentuan Ilmu Hukum

.Bandung: Mandar Maju

Hafidhudin. 2003.Islam Aplikatif .Jakarta: Gema Insani Press.

Imam An-Nawawi.2014. Riyadhus Shalihin dan Penjelasannya,Jakarta: Ummul Qura,.

Moh. Kasiram. 2008. Metodologi Penelitian, Malang: UIN Maliki Press.

M. Zein, Satria Efendi. 2008. Ushul Fiqh .Jakarta: kencana

Marhiyanto, Bambang. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Media Centre, TT

Mastuhu.1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren .Jakarta: INIS

Moleong, Lexy.2005. Metodologi Penelitian kualitatif .Bandung: PT Rema Rosda Karya

Nazir, Moh.2014. Metode Penelitian .Jakarta: Ghalia Indonesia Rasjid, Sulaiman.2013. Fiqih Islam .Bandung: Sinar Bani Algensindo

Rifa’i, Moch.2014. Risalah Tuntunan Shalat .Semarang: PT. Karya Toha Putra

83

Rodliyah, Siti.2013. Pendidikan dan Ilmu Pendidikan .Jember:STAIN Jember Press

Sabiq, Sayid.1991. Fiqih Sunnah 3 .Bandung: PT. Al-Ma’arif

Sadiman.1996. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar.Jakarta:

Mediyatama Sarana Perkasa.

Sanjaya. 2011. Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Sarwat, Lc, Ahmdt. 2010. Fiqih Thaharah, Yogyakarta, DU Center Press.

Syarifuddi, Amir.2003. Garis-Garis Besar Fiqih .Jakarta: Kencana.

Sekretariat Negara RI,Undang-undang No. 20 tahun 2003 .Bandung : Citra Umbara.2012

Shaleh, Hasan. 2008. Konsep Ibadah Dalam Islam. Jakarta: Karisma Putra Utama Ofset.

Sugiono,.2011. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan .Bandung:

Alfabeta

Surwano, Wiji.2006. Dsar-dasar Ilmu Pendidikan .Jogjakarta:Ar-ruzz

Umar Sitanggal, Anshori.1992. Fiqih Syafi’i Sistematis. Semarang: CV.Asy- Syifa.

Tim penyusun STAIN Jember,.2014. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Jember : STAIN Jember Press

Turmudzi, Imam.2000. Dialog Wanita & Islam .Surabaya: Cipta Media

Melalui Kitab Riyadl Al- Badi’ah Di PP. Al-Ishlah Jenggawah- Jember

Riyadl Al- Badi’ah Di PP.

Al-Ishlah Jenggawah- Jember

tentang Thoharah

b. Pendalaman materi fiqih tentang Ibadah

3. Tayamum 4. Najis dan cara

menghilangkannya 1. Sholat

2. Zakat 3. Puasa

Riyadl Al- Badi’ah

 Syarah Riyadl Al- Badi’ah

 Al-Qur’an Tarjemah Sekunder

 Buku

 artikel,

 Internet Wawancara

Pengasuh Pesantren

Ustad

Ustadzah

Santri Dokumentasi Kepustakaan

kualitatif deskriptif 2. Lokasi Penelitian

Pondok pesantren Al-Ishlah

Jenggawah-Jember 3. Teknik

pengumpulan data:

a. Observasi b. Wawancara c. Dokumentasi 4. Analisi data:

a. Reduksi data b. Penyajian data c. Menarik

kesimpulan 5. Keabsahan data:

Triangulasi sumber Triangulasi metode

Thoharah Melalui Kitab Riyadl Al-Badi’ah di PP. Al- Ishlah Jenggawah-Jembe?

2. Bagaimana Pendalaman materi fiqih tentang Ibadah melalui kitab Riyadl Al- Badi’ahdi PP. Al-Ishlah Jenggawah-Jembe?

2 Ahmad Faruq S-1 Mangaran

3 M. Syu’ieb Hasan S-1 Cangkring

4 Abdul Wafi S-1 Kaliwates

5 Zainul Arifin S-1 Kertonegoro

6 M. Anis Rohman S-1 Jatisari

7 Ifadatul Hasanah S-1 Jenggawah

8 Laili Nur Diana S-1 Ajung

9 M. Wajdy Siroj S-1 Ambulu

10 Syamsuddin S-1 Wonojati

11 Nur Kholisoh S-1 Mumbulsari

12 Nanang Qosim D-3 Jenggawah

13 Lutfi Hidayatullah D-2 Jenggawah

14 Abduh Jaya Mulya SLTA Jakarta Timur

15 Ahmad Fuad Ali S-1 Cangkring Jenggawah

Sumber data dokumen Pondok Pesantren Al-Ishlah Jenggawah

2 Abd. Khaliq Ula

3 Abd. Wafi Ula

4 Abd. Rahman Ula

5 Adb. Rahman Asmawi Ula

6 Ach. Luthfi Ula

7 Ach. Monjin Zainuri Ula

8 Agus Hermanto Ula

9 Ach. Litfi Ula

10 Ach. Zainuri Ula

11 Samsil Maarif Wustho

12 Sirajudin Wustho

13 Hiiron Wustho

14 Malik Iskandar Wustho

15 Supandi Wustho

16 Syarif Hidayat Wustho

17 Krisyanto Wustho

18 Bahrulla Wustho

19 Lukman Hakim Wustho

20 Ahmad Ludfi Wustho

21 Solihin Wustho

22 Babun Bintoro Wustho

23 Ridowi Wustho

24 M. Isbat Ula

25 Lutfi Hidayat Ula

26 Baihaki Ula

27 M. Reza Vahlevi Ula

28 M. Romi Ula

29 M. Arif Ula

30 Abdurrohman Wustho

31 Hartono Wustho

32 Sukir Wustho

33 Krisyanto Wustho

Sumber Data Dokumen Pondok Pesantren Al-Ishlah Jenggawah

Rumah K. Rahmad

Musholla Putri

K

Pondok Putri Kamar

Mandi Putri OSPI

Kelas III A

Pondok Putri

Rumah Ust Wajdy

Kelas III B

Kelas IV

Kelas III Int Kelas TMI Putri

Perpustakaan

Parkiran

Kantor R. Kesehatan OSPA Pondok Putra Kamar

Mandi Putra

Kantor TMI Putri

Kelas IV

Masjid

Kelas I A

Kelas II B Kelas II A L. Komputer Kelas TMI Putra

Kelas I Int

Kelas I A

Kelas I B

Kelas II A

Kelas II B

Kantor TMI Putra Kelas TMI Putri

rbang Pesantren

T. Wudhu,

: Lantai atas Keterangan:

B S

T

Rabu, 2 Agustus 2017, kajian kitab Riyadl al-Badi’ah di musholla bersama salah satu muallim

Dokumen terkait