• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ma, Aku Anak Pungut, Ya?

Dalam dokumen e-Konsel 2009 - MEDIA SABDA (Halaman 143-155)

e-Konsel 2009

143

e-Konsel 2009

144

Ina baru tahu bahwa dia anak adopsi saat dia beranjak remaja. Ibu dan bapak

angkatnya terpaksa memberitahu Ina karena beberapa temannya membandingkan Ina dengan orang tuanya. Mula-mula Ina tidak peduli, tetapi mungkin karena tekanannya cukup kuat, akhirnya dia bertanya. "Tidak ada jalan lain. Dia membawa bukti-bukti fisik,"

cerita mamanya. "Akhirnya kami memang memberitahu dia bagaimana dia bisa bersama kami. Saya juga menyatakan bahwa Ina tetap anak kami dan kami sangat menyayangi dia. Tapi rupanya dia kecewa. Sejak itu, kami merasakan dia makin tertutup, sering jalan dengan temannya dan marah kalau kemauannya tidak dituruti."

Rio

Rio berusia 13 tahun ketika seorang anggota keluarga dekatnya memberitahu bahwa dia bukan anak kandung orang tuanya. Karena itu, dia menanyakan kebenaran informasi ini pada orang tuanya. "Jangan dengarkan orang lain," jawab mamanya.

"Kamu anak Mama." "Aku tahu, Ma," jawab Rio, "aku anak Mama. Tapi apakah Mama yang melahirkan aku?" Mamanya berusaha berkelit, "Rio, kamu anak Mama dan Papa.

Kami sayang sama kamu. Jangan tanya itu lagi, ya. Mama sedih jika Rio meragukan Mama dan Papa."

Rio tidak menjawab. Sejak itu memang dia tidak pernah lagi menanyakan asal-usulnya.

Tetapi mamanya terus berada dalam kekhawatiran. Dia takut anak sulungnya itu marah karena merasa dikelabui. Ibu ini tidak siap menghadapi kebenaran. Bagaimana kalau Rio menuntut haknya untuk informasi, seperti yang kita lihat di sinetron-sinetron TV?

Grace

Saya bertemu Grace dan mamanya beberapa waktu lalu. Dia seorang gadis cilik yang mandiri, berani, sopan, dan menyenangkan. Pada waktu itu usianya 8 tahun. Saya cukup "surprised" saat ibunya mengatakan bahwa Grace datang ke rumah mereka ketika berusia 3,5 tahun. "Jadi, waktu itu Mama umurnya berapa, ya?" komentar Grace yang ikut mendengarkan percakapan kami.

Pada kesempatan lain, mama Grace menjelaskan bahwa sejak usia 4 tahun, Grace telah diberitahu mengenai hal ini. Mula-mula Grace nampaknya tidak begitu mengerti artinya karena beberapa kali setelah itu dia masih terus bertanya. Namun, sejak usia 5 tahun, Grace mengerti bahwa dia bukan anak kandung mama dan papanya.

Yang Perlu Diperhatikan

Dari percakapan saya dengan mama Grace, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kita mengadopsi anak.

Pertama, walaupun diperkirakan ada karakter bawaan orang tua asal yang kurang baik dalam diri anak itu, kita percaya bahwa ada anugerah Tuhan untuk mengubahnya.

Tugas kita adalah membimbing anak tersebut untuk mengenal Tuhan.

e-Konsel 2009

145

Kedua, sampaikan pada anak bahwa dia bukanlah anak yang kita lahirkan, melainkan anak yang diberikan Tuhan dalam keluarga. Beritahukan kenyataan ini sewaktu anak masih kecil dan masih bergantung pada kita sebagai orang tua yang mengasuhnya. Hal ini dapat disampaikan berulang kali (jika dia menanyakan terus) sampai dia mengerti maksudnya. Jelaskan dengan contoh-contoh dan cerita. Gunakan istilah positif dalam berbicara. Misalnya, "anak angkat", bukan "anak pungut". Usahakan agar anak benar- benar tahu bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi dia.

Ketiga, jika kita tidak tahu riwayat keluarga asalnya, kita harus hati-hati dengan berbagai penyakit yang mungkin ada dan bersifat genetik, misalnya alergi dan kesehatan mental. Perhatian ekstra memang harus diberikan sampai kita mendapat konfirmasi dari tenaga ahli.

Keempat, walaupun tidak mudah, kita harus menyiapkan dia untuk menyambut adik lain yang akan hadir dalam keluarga.

"Loosing Isaiah"

Ketika ingin menulis artikel ini, kami teringat film "Loosing Isaiah". Siapa pun Anda yang mengadopsi anak, perlu menonton film tersebut. Dikisahkan, Isaiah, seorang anak kulit hitam yang lahir dari seorang ibu tunggal yang pecandu. Saat mamanya sedang

memakai candu di tempat pembuangan sampah, Isaiah terangkut truk sampah. Dalam keadaan sekarat dia ditemukan oleh pemulung dan dibawa ke rumah sakit pemerintah.

Seorang dokter yang bertugas merawatnya jatuh hati padanya. Dokter ini membawa Isaiah ke rumahnya dan merawat bayi mungil ini seperti anaknya sendiri.

Namun apa yang terjadi. Ibu kandung yang pecandu ini berusaha merebut buah

hatinya. Untuk itu dia masuk dalam pusat rehabilitasi, lalu berusaha mencari pekerjaan.

Setelah mapan dan merasa mampu, dia mengunjungi Isaiah di sekolahnya. Dia

bersyukur melihat Isaiah yang sehat, pandai, dan tampan. Didukung oleh keluarga kulit hitam di lingkungannya, ibu kandung Isaiah menggugat ibu angkat anaknya. Pengadilan mengabulkan permintaan sang ibu kandung. Maka Isaiah pun berpindah tangan.

Namun, Isaiah yang saat itu berusia tiga tahun sudah lupa pada sosok wanita yang tidak dikenalnya itu. Dia menangis dan menyatakan protesnya dengan tidak mau makan saat dalam asuhan ibu kandungnya. Cerita ini berakhir dengan bahagia. Isaiah akhirnya dikembalikan kepada ibu angkatnya. Kasih kedua ibu ini pada Isaiah membuatnya sekarang memunyai dua ibu.

Dalam hidup seorang anak, apakah kandung atau anak asuh, yang dia butuhkan adalah cinta yang tulus, terus-menerus, dan tanpa syarat dari si pengasuh. Semoga ini jadi perenungan bagi setiap kita para orang tua.

e-Konsel 2009

146 Sumber:

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs: Ayahbunda.org

Penulis: Roswitha Ndraha dan Julianto Simanjuntak Alamat URL:

http://ayahbunda.org/index.php?option=com_content&task=view&id=81&Itemid=38

e-Konsel 2009

147

TELAGA: Anak Adopsi

Tidak semua pasangan nikah dikaruniai anak, sehingga mengadopsi anak menjadi sebuah alternatif yang layak dipertimbangkan. Sungguhpun demikian, kita mesti memastikan beberapa hal di bawah ini agar tidak melakukan kesalahan dalam mengadopsi anak.

Motivasi

Kita harus memiliki motivasi yang benar dalam mengadopsi anak dan motivasi yang benar adalah keinginan untuk membagi kasih dan hidup dengan anak serta

membesarkannya menjadi penggenap rencana Allah dalam hidupnya. Ada orang yang memiliki motivasi yang keliru, misalkan ada yang ingin berstatus memunyai anak namun tidak bersedia membagi hidup dan kasih dengan anak. Atau ada yang bercita-cita agar anak menjadi penerus dirinya belaka dan melupakan satu fakta yang hakiki, yakni anak adalah manusia ciptaan Tuhan yang Ia tempatkan di bumi untuk menggenapi rencana- Nya, bukan rencana kita. Singkat kata, kita mengadopsi anak karena ingin

mengasihinya, bukan memakainya demi kepentingan pribadi. Jika unsur kasih tidak kuat, maka bila suatu saat anak kandung lahir, niscaya anak adopsi akan menjadi anak terbuang. Atau, bila motivasi kasih tidak kuat, sewaktu anak adopsi mengembangkan masalah, orang tua dengan mudah mengusirnya atau mengembalikannya kepada orang tua kandung.

Kesiapan

Sebelum mengadopsi anak, kita mesti siap menerima kedatangannya di dalam kehidupan kita. Ada orang yang mengadopsi anak namun tidak siap untuk mengakomodasi kehadiran anak dalam jadwal kehidupannya. Anak langsung

diserahkan kepada perawat. Kita pun harus siap menerima kehadiran anak yang bukan dari darah daging sendiri -- bentuk fisiknya mungkin akan sangat berbeda dari kita dan sifat atau tabiatnya juga berlainan. Dengan kata lain, kita selayaknya menyiapkan diri untuk menghadapi perbedaan ciri -- baik itu ciri fisik maupun ciri kepribadian.

Selain kedua hal di atas, ada beberapa hal teknis yang mesti kita pertimbangkan dalam mengadopsi anak.

1. Sebaiknya kita mengadopsi anak sejak bayi sehingga terjalin ikatan yang kuat antara anak dan orang tua.

2. Kita harus memastikan kesiapan pribadi untuk mengadopsi anak sesuai jenis kelamin yang diharapkan. Ada orang yang lebih nyaman dengan anak

perempuan atau sebaliknya.

3. Sebaiknya anak adopsi diberitahukan status sebenarnya pada waktu ia berusia di bawah 10 tahun, sehingga kalaupun harus terjadi pergolakan, hal itu akan terjadi pada usia kanak-kanak, bukan remaja.

e-Konsel 2009

148

4. Jika harus terjadi kontak dengan orang tua kandung, sebaiknya itu terjadi sewaktu anak sudah mendekati usia akil balig untuk mencegah terjadinya kerancuan.

Tuhan tidak membedakan anak -- baik anak yang dibesarkan orang tua kandung atau bukan. Samuel dibesarkan oleh Iman Eli, bukan oleh ibunya, Hana, namun Tuhan memberkati dan memakai Samuel. Nama Samuel berarti "aku telah memintanya dari Tuhan" (1 Samuel 1:20). Inilah yang Hana katakan, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa dan Tuhan telah memberikan kepadaku apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan." (1:27-28)

Hampir semua anak adopsi tahu bahwa ia bukanlah anak kandung orang tuanya.

Kadang ini terlihat dari ciri fisik yang begitu berbeda, namun ada kalanya perasaan ini muncul dengan sendirinya. Itu sebabnya jauh lebih baik bila ia diberitahukan status sebenarnya pada waktu ia masih kecil. Sama seperti anak lain, anak adopsi tidak harus menimbulkan masalah, namun orang tua mesti mewaspadai hal-hal berikut ini.

Ketertolakan dan Kemarahan

Anak adopsi cenderung mengembangkan rasa ketertolakan -- bagaimanapun ia

diserahkan orang tuanya kepada orang lain. Rasa ketertolakan berpotensi membuatnya merasa tidak berharga dan berpandangan negatif terhadap dirinya. Itu sebabnya kita mesti ekstra peka dalam mengasuhnya. Jika rasa ketertolakan berlanjut, ia dapat memberontak dan berusaha menjauhkan diri dari keluarga. Pada dasarnya, isi dari ketertolakan adalah kesedihan dan kemarahan. Ia pun dapat merasa tertipu sebab selama ini ia merasa sebagai anak kandung.

Rasa Tidak Aman

Anak adopsi cenderung membandingkan diri dengan anak lain dan berupaya terlalu keras untuk membuktikan bahwa ia layak dikasihi dan menjadi bagian dari keluarga yang mengadopsinya. Ia merasa tidak diinginkan oleh orang tua kandung, jadi sekarang ia berusaha keras mendapatkan penerimaan ini. Perilaku ini tidak sehat dan berpotensi menimbulkan masalah karena dengan mudah ia dapat kehilangan jati dirinya dan terjebak dalam perilaku menyenangkan orang secara membabi buta.

Ketersesatan

Anak adopsi bisa pula merasa terhilang dalam hidup sebab tiba-tiba ia merasa

sebatang kara. Tanpa penjagaan dan kasih yang kuat, ia dapat melakukan hal-hal yang salah karena kehilangan arah hidup. Ia beranggapan tidak ada seorang pun yang

sungguh peduli kepadanya, jadi mengapakah ia harus memedulikan perasaan orang lain.

e-Konsel 2009

149

Tindakan Orang Tua

1. Orang tua mesti memperlakukan anak adopsi seperti anak kandung karena fakta inilah yang akan berbicara kepadanya tatkala ia tengah mengalami pergolakan.

2. Orang tua harus kuat bertahan dan tidak terjebak ke dalam upaya anak menguji batas kesabaran. Anak adopsi kadang berperilaku buruk seolah-olah meminta untuk ditolak kembali -- jadi, menggenapi "nasib" sebagai anak yang terbuang.

3. Orang tua tetap mesti mendisiplinnya dan tidak boleh memperlakukannya secara khusus. Kasih dan disiplin harus diberikan secara seimbang.

Firman Tuhan: Yefta adalah anak yang terbuang dan akhirnya menjadi anak berperilaku buruk (Hakim-Hakim 11:1-4). Anak adopsi bukanlah anak yang terbuang; sebaliknya, anak adopsi adalah anak yang terselamatkan. Tuhan menyelamatkan dan memberinya keluarga yang baru.

Sumber:

Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T199A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org>

atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di:

http://www.telaga.org/audio/anak_adopsi

Serba Info: Jelajahi Dunia Internet Melalui Indonesian Christian Webwatch

Apakah Anda membutuhkan informasi situs-situs Kristen maupun umum sebagai referensi dalam pelayanan Anda?

Publikasi Indonesian Christian WebWatch (ICW) hadir untuk menjawab kebutuhan Anda. Setiap dua kali dalam sebulan, Anda akan mendapatkan banyak informasi mengenai situs-situs Kristen yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris.

Tidak hanya itu, pelanggan juga dimanjakan dengan ulasan situs umum, ulasan milis publikasi, ulasan milis diskusi, serta artikel-artikel menarik seputar kekristenan dan dunia internet. Newsletter/majalah elektronik yang diterbitkan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) ini dapat Anda peroleh dengan GRATIS! Bagi Anda para konselor, hamba Tuhan atau siapa pun yang ingin memperluas jaringan dan tidak ketinggalan informasi tentang situs Kristen terbaru, segeralah berlangganan ICW. Untuk

berlangganan, Anda hanya harus mengirimkan e-mail ke alamat berikut ini.

<subscribe-i-kan-icw(at)hub.xc.org>

Untuk menyimak topik-topik apa saja yang pernah disajikan, silakan kunjungi:

http://www.sabda.org/publikasi/icw/

e-Konsel 2009

150

e-Konsel 188/Juli/2009: Anak Tunggal

Pengantar dari Redaksi

Salam dalam kasih Kristus,

Bagi sebagian besar masyarakat modern, ungkapan "banyak anak, banyak rejeki"

sudah tidak relevan lagi dengan kondisi dan kenyataan sekarang. Dulu, ungkapan ini memang tepat diterapkan karena masih tersedianya lapangan kerja yang luas dan tuntutan hidup yang tidak begitu tinggi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, ungkapan itu sudah tidak bisa lagi diterapkan. Lapangan kerja yang sudah mulai menyempit dan tingginya biaya hidup menjadi alasan utama bagi pasangan suami istri untuk tidak lagi memiliki banyak anak. Bahkan, tren yang sedang berkembang di kalangan pasutri zaman ini adalah hanya memiliki satu anak.

Dengan memiliki satu anak, mereka berharap bisa memberikan segala yang terbaik di tengah-tengah kondisi dunia yang semuanya serbamahal seperti sekarang ini. Harapan yang cukup realistis, tapi tantangan yang dihadapi untuk mendidik dan membesarkan anak tunggal pun tak kalah beratnya. Apa saja tantangannya? Mari kita simak artikel- artikel dalam edisi e-Konsel ini.

Selamat menyimak!

Pemimpin Redaksi e-Konsel, Christiana Ratri Yuliani

http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/

http://c3i.sabda.org/

e-Konsel 2009

151

Cakrawala: Anak Tunggal Dalam Masyarakat

Keadaan anak tunggal dalam masyarakat adalah sama dengan anak-anak lainnya.

Kalau anak-anak lain dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, demikian juga dengan anak tunggal -- kedua faktor tersebut juga berfungsi. Faktor-faktor eksternal yang sering dialami oleh anak tunggal ialah keadaan rumahnya, di mana persaingan antara anggota keluarganya kurang.

Seorang anak tunggal tidak atau kurang mengalami pertentangan-pertentangan yang biasanya terjadi di antara saudara-saudara kandung. Perselisihan, rasa iri hati, tolong- menolong, dan pendekatan pribadi yang selalu terdapat dalam keluarga tidak pernah dialaminya. Seolah-olah kehidupan anak tunggal tersebut begitu menyenangkan karena perlindungan yang terus-menerus diberikan oleh orang-orang dewasa yang berada di sekelilingnya. Oleh karena itulah sering ditemui adanya kelemahan dalam hubungan antarpribadi di luar lingkungan rumahnya. Anak tunggal tersebut menjadi lebih cepat putus asa, lebih pemalu, egois, manja, dan sebagainya.

Faktor eksternal atau lingkungan banyak membentuk seorang anak tunggal menjadi seseorang yang memunyai kelemahan dalam kematangan sosialnya. Tetapi faktor internal, oleh Bakwin & Bakwin, dikemukakan sebagai berikut.

"Sejumlah besar para jenius dan anak-anak superior adalah anak tunggal."

Jadi, anak-anak yang berstatus sebagai anak tunggal ternyata banyak yang menjadi superior dan jenius -- yang berarti seorang anak tunggal biasanya banyak yang memunyai potensi tinggi. Hal ini juga dikemukakan oleh Maller.

"... dari penelitian yang dilakukan terhadap besarnya keluarga dan kepribadian, ditemukan bahwa anak-anak tunggal tergolong memunyai inteligensi di atas rata-rata ...."

Demikianlah mengenai keadaan anak tunggal yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang dapat dikatakan negatif, tetapi ternyata faktor internal sering ditemukan berpotensi tinggi.

Masalah Orang Tua yang Mempunyai Anak Tunggal

Bagi orang tua, memiliki anak tunggal, secara ekonomis menguntungkan. Orang tua tidak perlu bersusah payah mencari penghasilan yang besar karena tanggung jawab untuk memberi atau memenuhi kebutuhan fisik anaknya relatif tidak besar. Berlainan bila memunyai banyak anak, di mana tiap anak memunyai kebutuhan-kebutuhan sendiri yang harus dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Bila ditinjau dari sudut ini saja, keluarga yang memunyai anak tunggal akan membutuhkan ongkos hidup yang relatif lebih kecil atau sedikit daripada kalau memunyai banyak anak.

e-Konsel 2009

152

Masalah sekolah untuk keluarga yang memunyai anak tunggal juga tidak memberikan beban berat. Pada keluarga besar, misalnya yang memunyai delapan orang anak, berarti orang tua harus mencari delapan bangku sekolah untuk anaknya tersebut.

Sedang kenyataannya, masalah sekolah adalah masalah yang masih sulit diatasi oleh pemerintah.

Melihat kenyataan ini, berarti keluarga atau orang tua yang memiliki anak tunggal jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan orang tua yang memiliki banyak anak.

Demikian pula dengan masalah-masalah lain, misalnya masalah perumahan atau tempat tinggal. Dengan banyaknya anak, berarti harus menyediakan banyak tempat.

Tempat tidur harus lebih banyak disediakan, tempat bermain harus lebih banyak disediakan. Bila penampungan untuk sekolah saja sudah menimbulkan kesulitan- kesulitan, maka demikian pula dengan perumahan dan tempat bermain ini.

Di samping masalah penghasilan orang tua, masalah sekolah, masalah tempat tinggal, serta masalah tempat bermain, bila anak-anak tersebut sudah dewasa, akan timbul masalah baru, yaitu lowongan pekerjaan. Pada masyarakat petani, di mana tanah-tanah masih banyak yang harus digarap, memang benar bahwa banyaknya anak akan berarti banyaknya tanah yang dapat digarap dan berarti pula penghasilan akan bertambah.

Berlainan dengan masyarakat kota yang mengandalkan penghasilan sebagai pegawai.

Bila lowongan pekerjaan cukup besar, hal ini tidak menjadi persoalan. Tetapi realitas ternyata berpendapat lain.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa dengan memiliki anak banyak, maka persoalan yang harus diatasi menjadi banyak pula. Apakah hal ini berarti juga sebaliknya, artinya dengan memiliki sedikit anak, berarti sedikit pula persoalan yang harus dihadapi oleh keluarga atau orang tua tersebut? Secara ekonomis mungkin benar, tetapi secara psikologis belum tentu. Salah satu bentuk dari keluarga yang kecil ialah keluarga yang memunyai anak tunggal, bentuk keluarga inilah yang akan dibahas lebih lanjut.

Dengan hanya memiliki seorang anak, anak tunggal tersebut akan mendapat perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Termasuk dalam hal kasih sayang. Karena kedua orang tua tersebut hanya memunyai seorang anak sebagai buah hatinya, anak tunggal tersebut tidak akan kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Bahkan, apa saja yang diinginkan oleh anak tunggal tersebut akan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Hal ini akan memengaruhi kepribadian anak tunggal. Karena segala keinginannya selalu terpenuhi, anak tunggal tersebut bisa menjadi manja. Kalau ada satu saja keinginannya tidak terpenuhi, ia akan memberikan reaksi yang sifatnya emosional seperti merengek- rengek kepada orang tuanya atau cepat mengambek dan marah. Menghadapi reaksi anak yang demikian, orang tua menjadi terpengaruh, bisa menjadi tidak tahan

melihatnya atau tidak tega dan berusaha memberikan atau menuruti kemauan anak.

Bilamana hal ini berlangsung terus-menerus, lama-lama anak tunggal tersebut hanya mengetahui bahwa keinginannya selalu harus dipenuhi, selanjutnya ia menjadi

egosentris.

Mengenai ciri-ciri kepribadian anak tunggal, Hurlock mengemukakan sebagai berikut.

e-Konsel 2009

153

Sesuai dengan tradisi, ada dua tipe anak tunggal, yaitu:

1. yang manja, egosentris, antisosial, dan karena itu tidak populer; dan

2. yang menutup diri, peka dan mudah cemas, menarik diri dari hubungan sosial, dan terlalu menggantungkan diri pada orang tua.

Sifat-sifatnya yang manja, egosentris, dan antisosial mengakibatkan anak tunggal tersebut menjadi tidak populer. Hal ini memang dapat dimengerti karena dalam pergaulan, teman-teman yang tidak kita senangi adalah teman-teman yang banyak menunjukkan sifat-sifat antisosial dan egosentris. Karena selalu dituruti segala keinginannya, anak tunggal tersebut menjadi anak yang terlalu bergantung kepada orang lain dan tentu saja orang tuanya. Selain dari kedua orang tuanya, anak ini juga selalu mendapat perhatian dari anggota keluarga yang lain, misalnya saudara-saudara dari ayahnya atau ibunya, juga nenek atau kakek kalau masih ada.

Orang tua dari anak tunggal biasanya bukan saja memberikan perhatian yang berlebih- lebihan atau kasih sayang yang berlebihan terhadap anak tunggalnya. Sering kali, mereka juga memberikan perlindungan secara berlebihan. Karena hanya memunyai seorang anak, maka timbullah kekuatiran kalau anaknya mengalami suatu kejadian yang berbahaya. Hal ini akan berakibat fatal bagi orang tua tersebut. Sering timbulnya rasa kuatir menyebabkan orang tua selalu mencegah anaknya melakukan pekerjaan yang sebenarnya belum tentu atau tidak berbahaya. Misalnya, anaknya dilarang

membawa piring sehabis makan karena takut anaknya terluka bilamana piring tersebut jatuh. Anak dilarang naik sepeda di jalan umum karena takut tertabrak mobil, walaupun sebenarnya anak tersebut sudah cukup pandai dan cukup waspada. Cara perlakuan orang tua yang terlalu banyak melindungi aktivitas-aktivitas anaknya ini disebut sebagai sikap melindungi yang berlebihan (overproteksi). Sampai batas-batas tertentu,

perlindungan orang tua memang diperlukan, tetapi bilamana bersifat berlebihan, maka hal ini akan berpengaruh buruk terhadap anak itu sendiri. Dalam hubungan ini jelas terlihat adanya kecenderungan dari pihak orang tua untuk melindungi anak tunggalnya secara berlebihan, yang sebenarnya justru akan berpengaruh buruk terhadap anak tunggal tersebut.

Kesulitan lain yang dialami oleh seorang anak tunggal ialah pergaulannya yang terus- menerus dengan orang tua atau orang dewasa. Sejak anak tunggal tersebut dilahirkan, orang-orang yang dihadapinya, orang-orang yang berada di sekelilingnya adalah orang- orang dewasa. Dalam hal ini tentu saja kedua orang tuanya, paman, bibi, dan teman- teman orang tuanya. Acap kali, anak tunggal ini berada di rumah atau di suatu

lingkungan yang tidak sebaya dengannya. Karena orang-orang di sekelilingnya adalah orang-orang dewasa dan anak kecil satu-satunya adalah dia sendiri, hal ini berarti satu- satunya pribadi yang paling lemah dalam lingkungan tersebut adalah anak tunggal itu.

Dengan kedudukan ini, berarti anak tunggal itu menduduki kedudukan yang istimewa.

Orang-orang dewasa yang berada di sekelilingnya selalu memperlakukannya secara istimewa pula. Situasi ini memberikan pengaruh seperti kurangnya mengalami

pertikaian atau pertengkaran yang biasanya terjadi di antara anak-anak. Konflik antaranak kurang dialami, sehingga pada situasi ini anak tunggal tersebut tidak mendapat kesempatan untuk mempelajari semacam "tata cara" atau "sopan santun"

Dalam dokumen e-Konsel 2009 - MEDIA SABDA (Halaman 143-155)

Dokumen terkait