• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-macam Akhlak

Dalam dokumen PERSPEKTIF IMAM AL GHAZALI (Halaman 50-64)

BAB II KAJIAN TEORI

G. Macam-macam Akhlak

Ada 2 (dua) penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak mahmudah (fadilah) dan akhlak madzmumah (qabihah). Akhlak sebenarnya perpaduan hakikat dan syariat. Akhlak batin menumbuhkan amal lahiriyah. Jika terwujud dengan bagus, namanya berakhlak mulia.

Dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Di samping istilah tersebut Imam Al-Ghazali menggunakan juga istilah “munjiyat” untuk akhlak mahmudah dan “muhlihat” untuk yang mazmumah.18

1. Akhlak Mahmudah

Secara kebahasaan kata al-mahmudah digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan yang disukai oleh Allah. Dengan demikian mahmudah lebih menunjukkan kepada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual.

Akhlak mahmudah pada prinsipnya merupakan daya jiwa seseorang yang mempengaruhi perbuatannya sehingga menjadi perilaku utama, benar, cinta kebajikan, suka berbuat baik sehingga menjadi watak pribadinya dan mudah baginya melakukan sebuah perbuatan itu tanpa ada paksaan.19

Adapun yang termasuk dalam kategori akhlak mahmudah diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Disiplin

17 Marzuki, Prinsip Dasar Akhlak Mulia Pengantar Studi Konsep-Konsep Dasar Etika Dalam Islam, h.13.

18 A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, h.197.

19 Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, Akhlak Tasawuf Upaya Meraih Kehalusan Budi Dan Kedekatan Ilahi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), h.51-52.

31 Disiplin adalah sikap yang selalu tepat janji, sehingga orang lain mempercayainya, karena modal utama dalam berwirausaha adalah memperoleh kepercayaan dari orang lain.

Disiplin berasal dari Bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Discipline yang berarti pengajaran atau pelatihan. Disiplin berasal dari Bahasa Inggris yaitu “disciple” yang berarti pengikut atau murid. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Perkataan disiplin mempunyai arti latihan dan ketaatan kepada aturan.

Dengan melaksanakan disiplin, berarti semua pihak dapat menjamin kelangsungan hidup dan kelancaran kegiatan belajar, bekerja, dan berusaha. Kemauan kerja keras yang kita peroleh dari disiplin, akan melahirkan mental yang kuat dan tidak mudah menyerah walaupun dalam keadaan sulit.

Macam-macam kedisiplinan, antara lain:

1) Disiplin dalam menggunakan waktu 2) Disiplin dalam beribadah

3) Disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara b. Al-Alyfah

Hidup dalam masyarakat yang heterogen memang tidak mudah, sebab anggota masyarakat terdiri dari berbagai macam sifat, watak, kebiasaan, dan kegemaran yang berbeda-beda. Orang yang bijaksana adalah orang yang dapat menyelami segala analisir yang hidup di tengah masyarakat, menaruh perhatian

kepada segenap situasi dan senantiasa mengikuti setiap fakta dan keadaan yang penuh dengan aneka perubahan.

Orang yang selalu pandai mendudukkan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya, bijaksana dalam sikap, perkataan dan perbuatan, niscaya akan disenangi (al-alyfah) oleh anggota masyarakat, kawan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari.20 c. Manis Muka (aniesatun)

Tidak selamanya pergaulan dalam lingkungan sosial selalu menyenangkan. Dalam suatu pergaulan bisa saja seseorang bertemu kepada hal-hal yang tidak menyenangkan. Menghadapi orang yang menjemukan, mendengar berita-berita yang memfitnah, menjelek-jelekkan nama diri seseorang hendaknya disambut dengan manis muka yaitu tetap tersenyum.

Betapa banyak orang-orang pandai dan bijak menggunakan sikap ini dan banyak sekali di dunia diplomasi orang mencapai sukses dan mencapai kemenangan, hanya dengan keep smiling. Dengan muka yang manis, dengan senyum menghiasi bibir, orang-orang akan lebih senang dan selalu digemari dimanapun. Sikap inilah yang dalam Islam disebut aniesatun atau manis muka. 21

d. Menghormati Tamu (adh-Dhiyaafah)

Rasulullah Saw dalam satu sabda beliau menyebutkan:

ْنَع ِبَِأ ْ َةَرْ يَرُى ْ َيِضَر ْ َناَك ْنَم :َلاَق َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُللا ىَّلَص ِللا َلْوُسَر َّنَأ ُوْنَع ُللا

َ ف ِرِخلآا ِمْوَ يلْاَو ِللاِب ُنِمْؤُ ي َناَك ْنَمَو ،ْتُمْصَيِل ْوًأ ًاْيَْخ ْلُقَ يْلَ ف ِرِخلآا ِمْوَ يْلاَو ِللاِاب ُنِمْؤُ ي ْمِرْكُيْل

ِللاِب ُنِمْؤُ ي َناَك ْنَمَو ،ُهَراَج ُوَفْ يَض ْمِرْكُيْلَ ف ِرِخلآا ِمْوَ يْلاَو

( هاور ملسمو يراخبلا )

20 Barmawi Umary, Materi Akhlak, (Solo: Ramadhani, 1989), h. 44.

21 Damanhuri, Akhlak Tasawuf, h.186.

33

Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia menghormati tamunya; barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia menyambung silaturahmi; barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia berkata benar atau hendaklah ia diam saja”.

Tamu ialah orang yang datang ke rumah kita, baik datangnya dari jauh ataupun dari dekat. Dengan bertamu, bertambah rapatlah rasa persaudaraan, orang yang ingin menyambung silaturahmi, hendaklah disambut dengan gembira.

Menghormati tamu adalah suatu ciri orang yang benar- benar beriman kepada Allah SWT. Termasuk dalam arti menghormati tamu ialah menyediakan makan-minum dan tempat tidurnya jika ia bermalam di rumah kita selama tiga hari tiga malam.22

e. An-Nadzafah (menjaga kebersihan)

Kesehatan, keindahan dan kesegaran, baik rohani maupun jasmani ialah rahmat Allah yang setinggi-tingginya, yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Harta benda dan jabatan tidak ada gunanya, apabila jasmani dan rohaninya tidak sehat. Badan dan rohani yang sehat ialah segala pangkal kebahagiaan dan kesenangan.

Menurut ilmu kesehatan, untuk menjaga diri dan menolak suatu penyakit terlebih dahulu harus diikhtiarkan kebersihan dalam segala hal. Bukan hanya kebersihan badan atau lebih tegas kebersihan kulit saja yang diajarkan oleh Islam, tetapi Islam menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam lima bagian yaitu:23 1) Kebersihan dan kesucian rumah dan pekarangan

22 Damanhuri, Akhlak Tasawuf, h. 187-188.

23 Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Mesir, Pustaka Al-Azhar, 1986), h.300-302.

2) Kebersihan dan kesucian badan 3) Kebersihan dan kesucian pakaian 4) Kebersihan dan kesucian makanan 5) Kebersihan dan kesucian ruh dan hati f. Ar-Rahmah

Pada dasarnya sifat kasih sayang adalah fitrah yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua manusia. Pada hewan misalnya dapat dilihat bahwa begitu kasihnya induk kepada anaknya, sehingga rela berkorban jika anaknya diganggu. Naluri ini pun ada pada manusia, dimulai dari kasih sayang orang tua kepada anaknya sampai dalam lingkungan yang lebih luas yaitu kasih sayang antar sesama manusia.

Islam menganjurkan agar kasih sayang dan sifat belas kasih dikembangkan secara wajar, sejak kasih sayang dalam lingkungan keluarga sampai kasih saying yang lebih luas dalam bentuk kemanusiaan. Juga lebih luas lagi yaitu kasih sayang kepada binatang.

Jika diperinci maka ruang lingkup ar-Rahmah ini dapat diutarakan dalam beberapa tingkatan yaitu:24

1) Kasih sayang dalam lingkungan keluarga: kasihnya orang tua kepada anak, kasihnya suami istri, kasihnya antara saudara baik yang besar maupun yang kecil.

2) Kasih sayang dalam lingkungan tetangga dan masyarakat:

suatu pertalian kasih sayang yang timbul dan tumbuh karena hidup bersama dalam satu lingkungan.

24 Hamzah Ya‟qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqul Karimah (suatu pengantar), (Bandung: Diponegoro, 1993), h.123-124.

35 3) Kasih sayang dalam lingkungan bangsa: perasaan kasih dan simpati yang timbul akibat persamaan rumpun, suku bangsa, rasa senasib dan seperjuangan yang menyangkut kenegaraan.

4) Kasih sayang dalam lingkungan keagamaan: mencintai dan mengasihi sesama orang yang seagama karena memandang saudara dalam akidah dan keyakinan.

5) Kasih sayang dalam bentuk perikemanusiaan: mencintai manusia atas dasar pengertian bahwa manusia adalah sama- sama berasal dari satu keturunan.

6) Kasih sayang kepada sesama makhluk: misalnya mengasihi hewan dan tumbuh-tumbuhan.

g. As-Sakha‟u

Pemurah ialah memberikan harta sebagai tambahan dari yang wajib dan ini adalah sifat yang baik, perangai yang terpuji. Ia berikan sesuatu kepada orang-orang yang menghajatkan tanpa mengharapkan balasan kembali. Rezeki seseorang sebenarnya tiada lebih adalah terbatas pada apa yang melalui kerongkongan nya dan apa yang dipakainya sahaja, lebih dari pada itu adalah rezeki orang lain yang melalui dirinya. Jadi, dengan pemurah, orang lain memperoleh manfaat dan faedah dari pemberian itu sedangkan diri sendiri akan memperoleh pahala dari Allah SWT.

Orang pemurah dikagumi, disenangi orang dan menimbulkan sympathie serta pengaruh dari masyarakat; pengaruh yang datangnya dari sebab sifat pemurah, sukar sekali orang menentangnya.25

h. Khusyu‟ dan Tadarru‟, yaitu tekun, tidak lalai, dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Sikap ini seringkali dikhususkan

25 Damanhuri, Akhlak Tasawuf, h.194-195.

dalam shalat atau ibadah mahdhah lainnya. Di waktu shalat hendaknya ada konsentrasi pikiran yang terpadu dengan apa yang diucapkan dan dirasakan dalam hati sehingga seseorang tidak lalai dan melamun. Sewaktu shalat, seseorang hendaknya tidak tergesa-gesa melainkan tuma‟ninah, khususnya ketika bersujud dan berdoa. Allah Swt berfirman dalam surah al-Mu‟minun [23]

ayat 2,

﴾۲﴿ َنْوُعِشاَخ ْمِِتِ وٰلَص ِْفِ ْمُى َنْيِذَّلا

Artinya:”Orang-orang yang khusyu‟ dalam shalatnya”. Juga dalam surah Al-A‟raf [7] ayat 55.

﴾۵۵﴿ ْ َ َنْيِدَتْعُمْلا ُّبُِيُ َلَ ْ َ وَّنِا ْ َ ًةَيْفُخَّو اًعُّرَضَت ْمُكَّبَر اْوُعْدُا

Artinya:”Bermohonlah kepada Tuhan dengan merendahkan diri dan suara berbisik (lembut)”.

i. Sifat malu (haya‟u). Menurut bahasa al-haya‟u berarti malu.

Sedangkan menurut etika Islam sifat malu mempunyai dua sudut pandang yaitu secara horizontal dan secara vertikal. Secara horizontal sifat malu dipahami sebagai perasaan malu kepada diri sendiri dalam kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya, sedang secara vertikal sifat malu lebih condong kepada malu terhadap Allah dikala melanggar larangan-larangan-Nya.26 Akhlak ini sesuai dengan tuntutan Allah Swt dalam surat An- Nisa‟ [4] ayat 108:

ىٰضْرَ ي َلَ اَم َنْوُ تِّيَ بُ ي ْذِا ْمُهَع َم َوُىَو ِوّٰللا َنِم َنْوُفْخَتْسَي َلََو ِساَّنلا َنِم َنْوُفْخَتْسَّي

﴾۸۰۱﴿ اًطْيُِمُ َنْوُلَمْعَ ي اَِبِ ُوّٰللا َناَكَو ْ َ ِلْوَقْلا َنِم

26 Sudarsono, Etika Islam tentang Kenakalan Ramaja, (Jakarta: Bina aksara, 1989), cet.1, h.50.

37 Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

j. Al-Ikhwan dan Al-Islah, yaitu persaudaraan atau perdamaian.

Khususnya persaudaraan dan perdamaian antara orang yang beriman. Allah Swt berfirman dalam surat al-Hujurat [49] ayat 10:

ࣖ َنْوَُحمْرُ ت ْمُكَّلَعَل َوّٰللا اوُقَّ تاَو ْمُكْيَوَخَا َْيَْ ب اْوُحِلْصَاَف ٌةَوْخِا َنْوُ نِمْؤُمْلا اََّنَِّا

﴾۸۰﴿

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Damaikanlah saudara-saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu semua mendapat rahmat”.

k. Al-Shalihat, yaitu berbuat baik atau beramal saleh. Seseorang dikatakan beramal saleh jika mengerjakan sesuatu yang diperbolehkan oleh syara‟ disertai ilmunya dengan niat yang ikhlas. Jika seseorang mengerjakan hal yang baik, tetapi berniat buruk, maka apa yang dilakukan tidak termasuk amal saleh.

Bahkan dia mungkin penipu atau munafik. Allah Swt berfirman dalam surat an-Nisa‟ [4] ayat 124:

َنْوُمَلْظُي َلََو َةَّنَْلْا َنْوُل ُخْدَي َكِٕىٰٰۤلوُاَف ٌنِمْؤُم َوُىَو ىٰثْ نُا ْوَا ٍرَكَذ ْنِم ِتٰحِلّٰصلا َنِم ْلَمْعَّ ي ْنَمَو

﴾۸۲۱﴿ اًرْ يِقَن

Artinya:“Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun”.

l. Al-Shabru, yaitu sabar. Khususnya sabar dalam tiga macam hal. Pertama, sabar dalam beribadah dan beramal. Kedua, sabar untuk tidak melakukan maksiat, juga sabar melawan

godaan duniawi yang tidak diperbolehkan oleh agama. Dan ketiga, sabar ketika tertimpa musibah dan malapetaka. Suatu musibah dan malapetaka mungkin merupakan siksaan bagi orang yang berdosa, peringatan bagi orang Mukmin yang lalai, dan ujian bagi orang yang saleh. Allah Swt berfirman dalam surat al-Baqarah [2] ayat 153:

﴾۸۵۱﴿َنْيِِبِّٰصلا َعَم َوّٰللا َّنِا ْ َ ِةوٰلَّصلاَو ِْبَِّصلاِب اْوُ نْ يِعَتْسا اوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّ يَا ْ َ ا ٰي

Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”.27 2. Akhlak Mazmumah

Akhlak mazmumah adalah akhlak yang seharusnya dijauhi oleh setiap muslim. Dalam Islam ada sejumlah sifat tercela yang merupakan lawan dari sifat-sifat terpuji di atas. Orang yang memiliki sifat-sifat tercela ini termasuk dalam kelompok orang yang tidak sempurna imannya.28

a. Al-Ghazali membagi tingkatan akhlak tercela menjadi empat macam, yaitu:29

1) Akhlak tercela yang timbul karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan nafsunya.

2) Akhlak tercela yang diketahui keburukannya, tetapi ia tidak bisa meninggalkannya, karena nafsunya telah menguasai dirinya.

27 M. Solihin dan M. Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf: Manusia, Etika, dan Makna Hidup” h.113.

28 Damanhuri, Akhlak Tasawuf, (Banda Aceh: Yayasan Pena Banda Aceh, 2010), h.

202-203.

29 Agus Susanti, Penanaman Nilai-nilai Tasawuf Dalam Pembinaan Akhlak, dalam Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 07 No. 1 November 2016, h. 280.

39 3) Akhlak tercela yang dilakukan oleh seseorang karena pengertian baik baginya telah menjadi kabur, sehingga perbuatan buruk lah yang dianggapnya baik.

4) Akhlak tercela atau perbuatan buruk yang sangat berbahaya terhadap masyarakat pada umumnya, di mana pada pelakunya tidak terdapat sama sekali tanda-tanda kesadaran, kecuali kekhawatiran yang akan menimbulkan pengorbanannya yang lebih besar lagi.

Menurut Al-Ghazali, tingkatan akhlak tercela pertama, kedua, dan ketiga masih bisa diperbaiki (bisa dididik) menjadi baik, sedangkan yang keempat tidak bisa dipulihkan sama sekali.

Karena itu agama Islam membolehkannya untuk memberikan hukuman mati bagi pelakunya, agar tidak meresahkan masyarakat umum. Sebab kalau dibiarkan hidup, besar kemungkinan dia akan melakukan lagi hal-hal yang mengorbankan orang banyak.

Banyak sekali petunjuk dalam agama yang dapat dijadikan sarana untuk memperbaiki akhlak manusia, antara lain dianjurkan untuk selalu bertobat, bersabar, bersyukur, bertawakal, mencintai orang lain, mengasihi serta menolongnya. Semua anjuran itu sering terdapat dalam ayat-ayat mengenai akhlak, sebagai nasehat bagi orang-orang yang sering melakukan perbuatan buruk, kecuali tingkatan akhlak tercela atau perbuatan buruk yang keempat. Karena itu Al-Ghazali mengatakan : seandainya akhlak tidak bisa dirubah/diperbaiki, maka pasti tidak ada manfaatnya memberikan pesan-pesan, nasehat-nasehat, dan didikan.30

30 Agus Susanti, Penanaman Nilai-nilai Tasawuf Dalam Pembinaan Akhlak, dalam Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 07 No. 1 November 2016, h. 281.

b. Contoh-contoh Akhlak Mazmumah

1) Egois (al-nani‟ahi). Yaitu sikap mau menang sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Larangan Allah terhadap sikap ini termuat dalam surat al-Isra‟ [17] ayat 29:

﴾۲۲﴿ اًرْوُسَّْمُ اًمْوُلَم َدُعْقَ تَ ف ِطْسَبْلا َّلُك اَهْطُسْبَ ت َلََو َكِقُنُع ٰلِٰا ًةَلْوُلْغَم َكَدَي ْلَعَْتَ َلََو

Artinya:“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu mengeluarkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

2) Kikir (al-bukhl). Larangan Allah Swt ini terdapat dalam surat al-Lail [92] ayat 8-10:

ْ َ ىٰرْسُعْلِل ْ َ هُرِّسَيُ نَسَف ﴾۲﴿ ْ َ ٰنْٰسُْلحاِب َبَّذَكَو ﴾۱﴿ ْ َ ٰنْٰغَ تْساَو َلَِبَ ْ َ ْنَم اَّمَاَو

﴾۸۰﴿

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakannya pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.

3) Suka berdusta (al-buhtan). Al-Qur‟an mengecam orang-orang yang suka berdusta dalam surat an-Nisa‟ ayat 112:

31

﴾۸۸۲﴿ ࣖ اًنْ يِبُّم اًْثِْاَّو اًناَتْهُ ب َلَمَتْحا ِدَقَ ف اً ْٰۤيِرَب ْ َ وِب ِمْرَ ي َُّثُ اًْثِْا ْوَا ًةَ ْٰۤيِطَخ ْبِسْكَّي ْنَمَو

Artinya:“Dan Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah. Maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

4) Tidak menepati janji (khianat). Larangan ini termuat dalam surat an-Nisa‟ ayat 107:

31 Nasrul HS, “Akhlak Tasawuf”, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), cet.2, h.

43.

41

اًناَّوَخ َناَك ْنَم ُّبُِيُ َلَ َوّٰللا َّنِا ْ َ ْمُهَسُفْ نَا َنْوُ ناَتَْيَ َنْيِذَّلا ِنَع ْلِداَُتَ َلََو

﴾۸۰۱﴿ ْ َ اًمْيِثَا

Artinya:“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.

5) Pengecut (al-jubn). Termuat dalam surat an-Nisa‟ ayat 72:

ْنُكَا َْلَ ْذِا َّيَلَع ُوّٰللا َمَعْ نَا ْدَق َلاَق ٌةَبْيِصُّم ْمُكْتَ باَصَا ْنِاَف ْ َ َّنَئِّطَبُيَّل ْنَمَل ْمُكْنِم َّنِاَو

﴾۱۲﴿ اًدْيِه َش ْمُهَعَّم

Artinya: “dan Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).

Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata:

“Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.

6) Menggunjing dan mengumpat (ghibah). Larangan-Nya ditemukan dalam surat al-Hujurat ayat 12:

ْبَتْغَ ي َلََو اْوُسَّسََتَ َلََّو ٌْثُِا ِّنَّظلا َضْعَ ب َّنِا ْ َ ِّنَّظلا َنِّم اًرْ يِثَك اْوُ بِنَتْجا اوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّ يَا ْ َ ٰي َّنِا ْ َ َوّٰللا اوُقَّ تاَو ْ َ ُهْوُمُتْىِرَكَفاًتْيَم ِوْيِخَا َمَْلح َلُكْأَّي ْنَا ْمُكُدَحَا ُّبُِيَُا ْ َ اًضْعَ ب ْمُكُضْعَّ ب

32

﴾۸۲﴿ ٌمْيِحَّر ٌباَّوَ ت َوّٰللا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

32 Nasrul HS, “Akhlak Tasawuf”, h. 44.

7) Dengki (hasad) yang dilarang dalam surat al-Falaq ayat 1-5:

ْ َ َبَقَو اَذِا ٍقِساَغ ِّرَش ْنِمَو ﴾۲﴿ ْ َ َقَلَخ اَم ِّرَش ْنِم ﴾۸﴿ ْ َ ِقَلَفْلا ِّبَرِب ُذْوُعَا ْلُق

﴾۵﴿ ࣖ َدَسَح اَذِا ٍدِساَح ِّرَش ْنِمَو ﴾۱﴿ ْ َ ِدَقُعْلا ِفِ ِتٰثّٰفَّ نلا ِّرَش ْنِمَو ﴾۱﴿

Artinya: “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,33 dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.

8) Berbuat kerusakan. Allah SWT., melarang perbuatan ini sesuai dengan surat as-Syu‟ara ayat 151-152:

َلََو ِضْرَْلَا ِفِ َنْوُدِسْفُ ي َنْيِذَّلا ﴾۸۵۸﴿ ْ َ َْيِْفِرْسُمْلا َرْمَا ا ْ َ ْوُعْ يِطُت َلََو ﴾۸۵۲﴿ َنْوُحِلْصُي

Artinya: “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang- orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”.

9) Berlebih-lebihan (al-israf). Sesuai dengan larangan Allah Swt dalam surat al-A‟raf ayat 31:

ْ َ اْوُ فِرْسُت َلََو اْوُ بَرْشاَو اْوُلُكَّو ٍدِجْسَم ِّلُك َدْنِع ْمُكَتَنْ يِز اْوُذُخ َمَدٰا ْ َ ِْنَبٰ ي

﴾۱۸﴿ ࣖ َْيِْفِرْسُمْلا ُّبُِيُ َلَ ْ َ وَّنِا

Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

33 Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.

43 10) Berbuat zalim (al-zulm).orang yang berbuat zalim dilarang

oleh Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 59:

ِءٰۤاَمَّسلا َنِّم اًزْجِر اْوُمَلَظ َنْيِذَّلا ىَلَع اَنْلَزْ نَاَف ْمَُلَ َلْيِق ْيِذَّلا َرْ يَغ ًلَْوَ ق اْوُمَلَظ َنْيِذَّلا َلَّدَبَ ف

﴾۵۲﴿ ࣖ َنْوُقُسْفَ ي اْوُ ناَك اَِبِ

Artinya: “Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang- orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik”.

11) Berbuat dosa besar (al-fawahisy). Akhlak ini dilarang Allah Swt sebagaimana terdapat dalam surat al-An‟am ayat 51:

َلََّو ٌِّلَِو ْ َ وِنْوُد ْنِّم ْمَُلَ َسْيَل ْمِِّبَِّر ٰلِٰا ا ْ َ ْوُرَشُّْيُ ْنَا َنْوُ فاََيَ َنْيِذَّلا ِوِب ْرِذْنَاَو

﴾۵۸﴿ َنْوُقَّ تَ ي ْمُهَّلَعَّل ٌعْيِفَش

Artinya: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami (nya).

12) Ujub dan takabur. Ujub merupakan sikap heran karena melihat dirinya lebih hebat dan istimewa, yang kemudian berubah menjadi sifat takabur, sesuai dengan sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Asy-Sekh:

ِسَنَا ْنَع ِّيِبَّنلا ِنَع، ٍكِلاَم ِنْب

ٌث َلاَث ٌتاَكِلْهُم حُش

ٌعاَطُم ىًوَهَو ٌعَبَّتُم

ُباَجْعِإَو ِءْرَمْلا

ِه ِسْفَ نِب ِبَضَغْلاَو اَضِّرلا ىِف ُلْدَعْلا ٌتاَيِجْنُم ٌثَلاَثَو ِءَلاَيُخْلا َنِم

ُدْصَقْلاَو ِةَيِنَلاَعْلاَو ِّرِّسلا ىِف ِللها ُةَفاَخُمَو ِةَقاَفْلاَو ىَنِغْلا ىِف

34

Artinya: “Dari Annas bin Malik, Dari Nabi Muhammad Saw: Ada tiga hal yang akan merusak (akhlak, jiwa dan agama) bagi barangsiapa yang melakukannya, yaitu kikir yang diikut, hawa nafsu yang dituruti dan kehenaran (ujub) seseorang pada dirinya sendiri”.

Dalam dokumen PERSPEKTIF IMAM AL GHAZALI (Halaman 50-64)

Dokumen terkait