• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENERIMAAN PENGUNJUNG TERHADAP PENGAMEN

B. Macam-Macam Pengamen

Pengamen ada di mana-mana mulai di perempatan jalan raya, di dalam bis kota, di rumah makan, di ruko, di perumahan, di kampung, di pasar, dan lain sebagainya. Penampilan pengamen pun macam-macam juga mulai dari tampilan yang biasa saja sampai penampilan banci / bencong, anak punk, preman, pakaian

pengemis dan pakaian seksi nan minim. Pengamen terkadang sangat mengganggu ketenangan kita akan tetapi mau bagaimana lagi. Jika mereka tidak mengamen mereka mau makan apa dan dari pada mereka melakukan kejahatan. lebih baik mengamen secara baik-baik walaupun mengganggu, Berikut ini adalah macam- macam pengamen :

a) Pengamen Baik

Pengamen yang baik adalah pengamen profesional yang memiliki kemampuan musikalitas yang mampu menghibur sebagian besar pendengarnya.

Para pendengar pun merasa terhibur dengan ngamenan pengamen yang baik sehingga mereka tidak sungkan untuk memberi uang receh maupun uang besar untuk pengamen jenis ini. Pengamen ini pun sopan dan tidak memaksa dalam meminta uang.

b) Pengamen Tidak Baik

Pengamen yang tidak baik yaitu merupakan pengamen yang permainan musiknya tidak enak di dengar oleh para pendengarnya namun pengamen ini umumnya sopan dan tidak memaksa para pendengar untuk memberikan sejumlah uang. Tetapi ada juga yang menyindir atau mengeluh langsung ke pendengarnya jika tidak mendapatkan uang seperti yang diharapkan.

c. ) Pengamen Pengemis

Pengamen ini tidak memiliki musikalitas sama sekali dan permainan musik maupun vokal pun sesuka hatinya/ seenak hatinya. Setelah mengamen mereka tetap menarik uang receh dari para pendengarnya. Dibanding mengamen mereka lebih mirip pengemis karena hanya bermodal dengan nekat saja dalam

mengam en serta hanya berbekal belas kasihan dari orang lain dalam mencari uang.

d). Pengamen Pemalak / Penebar Teror

Pengamen yang satu ini adalah pengamen yang lebih suka melakukan teror kepada para pendengarnya sehingga para pendengar merasa lebih memberikan uang receh daripada mereka diapa-apakan oleh pengamen tukang palak tersebut.

Mereka tidak hanya menyanyi tetapi kadang hanya membacakan puisi-puisi yang menebar teror dengan pembawaan yang meneror kepada para pendengar.

Pengamen jenis ini biasanya akan memaksa diberi uang dari tiap pendengar dengan modal teror. Pengamen ini layak dilaporkan ke polisi dengan perbuatan tidak menyenangkan di depan umum.

Pengamen yang penjahat adalah pengamen yang tidak hanya mengamen tetapi juga melakukan tindakan kejahatan seperti sambil mencopet, sambil nodong, menganiaya orang lain, melecehkan orang lain, dan lain sebagainya.

Kalau menemukan pengamen jenis ini jangan ragu untuk melaporkan mereka ke polisi agar modus mereka tidak ditiru orang lain.

f). Pengamen Cilik / Anak-Anak

Pengamen jenis ini ada yang bagus tetapi ada juga yang sangat tidak enak untuk didengar. Yang tidak enak didengar inilah yang lebih condong mengemis daripada mengamen. Akan tetapi bagaimanapun juga mereka hanya anak-anak bocah cilik yang menjadi korban situasi dari orang-orang jahat dan tidak kreatif di sekitarnya. Pengamen anak ini bisa dipaksa menjadi pengamen oleh orang tua, oleh preman, dsb namun juga ada yang atas kemauan sendiri dengan berbagai

motif. Sebaiknya jangan diberi uang agar tidak ada anak-anak yang menjadi pengamen. Mereka seharusnya tidak berada di jalanan (Media Indonesia Online.

com).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak jalanan terbagi di beberapa kategori, yaitu anak jalanan yang hidup dan tumbuh di jalanan, anak jalanan yang hidup dan menggelandang di jalanan tetapi secara periodik pulang dan anak jalanan yang berada di jalanan hanya untuk mencari nafkah. Sedangkan Pengamen itu sendiri adalah bagian dari anak jalanan yang terbagi menjadi enam yaitu : pengamen baik, pengamen tidak baik, pengamen pengemis, pengamen pemalak, pengamen penjahat dan pengamen cilik.

Salah satu permasalahan sosial yang ada di Indonesia yaitu semakin meningkatnya jumlah masyarakat miskin di Negara ini. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya jumlah pengamen jalanan.

Pengamen jalanan adalah lukisan yang ada dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, bahkan sudah sejak dahulu kala mereka ada. Pro kontra kehadiran mereka dalam tataran sosial sering mengintimidasi kaum pengamen. Terkadang pandangan negatif masyarakat yang disematkan kepada pengamen jalanan menjadikan mereka seolah olah penjahat yang siap untuk membahayakan. Salah satu pemilik lesehan berpendapat,

Pengamen Jalanan memang terkadang penampilan yang seperti preman membuat mereka dipandang urakan, berandal atau sebutan lainnya namun kenyataannya jauh dari sebuta-sebutan seperti itu. Meskipun ada berbagai jenis pengamen jalanan, entah itu pengamen jalanan yang baik, suka malak atau menebar teror, atau bahkan pengamen penjahat sekalipun. Sekolompok yang saya temui adalah pengamen yang baik, mereka memilih jalan kehidupan dengan mengamen, buka meminta karena mereka manjual suara, dan menikmatinya.

Faktor pendidikan yang rendah, sempitnya lapangan pekerjaan dan desakan kebutuhan hidup menjadikan mereka memilih pekerjaan ini. Hasil yang didapatkanpun tidak sebesar hasil korupsi pejabat. Seperti hasil wawancara yang diungkapkan salah satu pengunjung.

Hal-hal macam diataslah yang membuat citra pengamen tak lebih dari semacam pengemis atau penodong. Cuma wajah dan caranya yang beda, lebih halus, lebih kreatif. Akhirnya, para pengamen menjadi bagian dari warga kota yang termarjinalkan. Bagian dari masyarakat bawah tanah yang diciptakan oleh sistem sosial bangsa yang carut-marut ini. Mereka ada, tapi sengaja dikeluarkan dari lingkaran sosial masyarakat umum. Sebuah pertaruhan akan kebudayaan.

Akan tetapi tidak semua pandangan-pandangan negatif masyarakat tersebut benar, karena pada realita dewasa ini masa banyak “musisi jalanan” yang mana mereka benar-benar menjual kreatifitas dan kualtas suara yang mereka miliki sebagai modal. Sekarang keberadaan mereka tidak dianggap sebagai benalu yang merugikan orang lain, justru mumusi jalanan menjadi daya tarik tersendiri dengan segala kreatifitas lewat alunan musik yang ditampilkan. Menjadikan mereka

sebuah pusat hiburan wisatawan. Selain kelompok mereka, masih banyak pengamen-pengamen yang meiliki kreatifitas dan kualitas suara yang bisa dikatakan layak sebagai penyanyi sebagai kelompok pengamen yang ada di Kota Makassar.

Para pengamen yang sadar akan persepsi masyarakat yang keliru menggenaralisir citra mereka, berusa melawannya. Mereka dengan idealismenya sendiri sendiri menentang persepsi tersebut dengan menampilkan citra mereka sesungguhnya. Dengan susah payah mereka mendobrak konotasi negatif tentang mereka. Sebagian dari mereka bahkan menampilkan diri dalam macam-macam komunitas pengamen. Salah satunya adalah kelompok pengamen Makassar (KPM) dalam komunitas ini mereka berusaha menyatukan suara dan sikap terhadap keberadaan mereka. Katakanlah semacam deklarasi pendek atau proklamasi singkat mengenai kemerdekaan para pengamen sesungguhnya.

Di komunitas inilah rupanya mereka melakukan perlawanan persepsi masyarakat dengan menyeragamkan sikap. Dari menyeragamkan perilaku ketikan membawakan lagu, ketika meminta baiaya jasa, sampai mengarang lagu yang mewakili keberadaan mereka. Tak jarang lirik di nyanyikan berisi sindaran kepada pengunjung lesehan atau pejabat pemerintah.

Di sisi lain, pengamen yang tergabung atau tidak dalam sebuah komunitas, melakukan perlawanan persepsi dengan caranya masing-masing. Ada yang mengedepankan kualitas ferpomance ada yang berusaha menghibur, dan lain-lain.

Pada sisi ini, dengan jalannya sendiri, pengamen ini menolak anggapan bahwa

mereka hanyalah pengganggu. Karena dengan kemampuan bermusiknya yang serius, mereka dapat menghibu, menciptakana suasana.

Inilah lukisan sosial yang menghiasa luasnya kompas nusantara, memberika nilai seni kehidupan, menghancurkan kerasnya perjuangan, dan melawan sadisnya kehidupan jalan. Mencari sesuap nasi dan seteguk air putih demi hidup datu hari siapakah yang pantas disalahkan ? dan siapakah yang harus bertanggung jawab ? pemerintah kah yang bertanggung jawab meskipun dala UUD pasal 34 dicantumkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, kenyataannya pemerintah tidak mampu mengaplikasikannya.

Berbagai masalah sosial yang ada di Indonesia adalah masalah kita bersama.

Jangan pernah memandang orang kecil yang tidak mempunya harta, tetapi pandanglah kecil orang yang tidak mempunyai hati.

D. Interpretasi Hasil Penelitian

Tabel 5.1

Interpretasi Hasil Penelitian Penerimaan Pengunjung Lesehan Terhadap Pengamen Jalanan

NO Konsep Hasil Interpretasi Teori

1 Menerima dengan baik

Menerima dengan baik ketika mereka sopan dan ramah, menyanyikan lagu yang menghibur dan pengunjung merasa terhibur dan

Seorang

pengamen harus bersikap sopan

dan ramah

kepada para pengunjung dan berinterksi

Interaksi simbolik

mendengarka lagu yang di nyanyikan sampai selesai dan tidak boleh memaksa pengunjung untuk memberikan uang.

“wawancara

Darnianti 10 agustus 2017”

dengan dengan agar pengunjung merasa tenang

dan tidak

terganggu serta menyajika lagi-

lagu yang

menarik yang mampu

menghibur para pengunjung 2 Menerima

dengan tidak Baik

Banyak pengamen yang hanya jual jasa

dengan amat

alakadarnya, ada yang hanya bertepuk tangan sambil mengeluarkan suara yang sumbang, ada juga yang membawa imitasi lamboring yang terbuat dari botol plastik bekas yang disisi dengan pasir atau beras atau pengamen yang membawa gitar yang senarnya tidak pernah lengkap dan penalarannya tidak tertata.

“wawancara

Syamsuryadi 10 agustus 2017

Pengamen yang berperilaku seperti ini harusnya diberi pembinnan agar mereka mampu meningkatkan bakatnya dalam bernyanyi dan pengunjung juga dapat

menerimanya dengan baik dan tidak dipandang negatif pada saat menampilkan diri di hadapan mereka.

Interaksi Simbolik

BAB VI

PERILAKU SOSIAL PENGAMEN TERHADAP PENGUNJUNG Hasil penelitian ini didasarkan pada seluruh data yang berhasil dihimpun pada saat penulis melakukan penelitian di lapangan. Data yang dimaksud dalam hal ini merupakan data primer yang bersumber dari jawaban para informan dengan menggunakan pedoman wawancara atau wawancara secara langsung sebagai media pengumpula data atau instrumen yang dipakai untuk keperluan tersebut.

Dari data ini diperoleh beberapa jawaban menyangkut respon sosial pengunjung lesehan terhadap pengamen jalanan di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar, adapun jumlah informan dalam penelitian berjumlah 6 orang yang terdiri dari 3 orang pengamen, yang masing-masing berusia 15 hingga 20 tahun dan sudah menjalankan profesinya sebagai pengamen selama kurang lebih satu tahun, 2 orang pengunjung lesehan dan 1 satu orang pemilih warung leseha A. Identitas Informan

1. Informan Randi

Randi merupakan salah satu dari sekian banyak pengamen yang seringmengamen di warung lesehan di sekitar anjungan Pantai Losari. Randi merupakan penduduk asli makassar yang tinggal di Jl. Rajawali. Usia Randi 19 tahun dan ia hanya tamat sekolah dasar (SD), faktor ekonomi yang menjadi alasan sehinggal melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Randi merupakan anak pertama dari 3 bersaudara.

Randi memilih menjadi seorang pengamen untuk membantu ekonomi keluarganya, karena pendapatan orang tuanya kadang tidak cukup untuk menghidupi keluarganya dan adiknya yang sementara sekolah, ayahnya bekerja sebagai tukang parkir di salah satu warung di Makassar sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai IRT. Dulu ia pernah mengamen di dalam Anjung pantai Losari tetapi sekarang ia memilih keluar dan pindah ke warung lesehan yang ada di sekitar Pantai Losari dikarenakan banyak rasiah-rasiah pengamen yang di lakukan oleh satpol PP.

Randi memulai mengamen pada sore hari yaitu sekitar jam pukul17.00Wita sampai Pukul 23.00 Wita . Ia tidak pernah mengamen di pagi hari karena kalau pagi kurang penghasilannya karena kurang pengunjung, seperti yang dikatakan sebagai berikut.

“...Kalau pagi iyya tidak pernahka karena kurang orang, siang”pi biasa baru banyak orang, tapi kalau siang ada juga temanku yang biasa ngamen di sini jadi saya malampi ganti-gantianka...”. (Wawancara dengan informan Randi, 10 Agustus 2017).

Uang hasil mengamen yang dihasilkan Randi yang diberikan atau disetorkan kepada koordinator pengamen, seperti yang dikatakan berikut ini:

“iya kak ada yang kontrolki uang hasil mengamen disetorki ke dia, baru dia tonkpa lagi yang kasiki, karena kalau tidak begituki tidak bisa maki megamen di sini, boska yang bagi” tempat mengamenta di sini, ada juga temanku yang disuruh di tempat lain dan ada juga jadwalnya, kalau selesai maki mengamen dikasih kumpul maki semua baru di setormi uang hasil mengamenta”

Uang yang dihasilkan Rendi dalam sehari berbeda-beda tergantung berapa orang yang ikhlas memberikannya uang , terkadang ada juga orang yang baik hati, ada juga yang jengkel, seperti yang dikatakan berikut ini

“... Tergantungji kak berapa orang yang kasihki kalau banyak yang kasihki uang banyk tonk, biasa juga ada orang yang langsungk na kasih, biasatonk ada orang belum paki menyanyi na suruh mki pergi, biasa tonk ada orang yang tidak suka, merasa di ganggui kalau menamenki....”. (Wawancara dengan informan Rendi 2 Agustus 2017”

Kehadiran para pengamen di warung lesehan mendapatkan respon yang bervariatif, ada yang senang di hibur oleh pengamen, ada yang merasa terganggu dengan kehadiran pengamen dan lain sebagainya. Pengunjung merespon dan melihat karakteristik atau sifat-sifat yang menonjol dari pengamen jalanan, di antaranya adalah: (!) kelihatan kumuh dan kotor, baik kotor tubuh, maupun kotor pakaian, (2) memandang orang lain yang tidak hidup dijalanan sebagai orang yang dapat dimintai uang, (3) mandiri, artinya anak-anak tidak terlalu menggantungkan hidup, terutama dalam hal tempat tidur atau makan, (4) mimik wajah yang selalu memelas, terutama ketika berhubungan dengan orang yang bukan dari jalanan, (5) anak-anak tidak memiliki rasa takut untuk berinteraksi baik berbicara dengan siapapun selama dijalanan, (6) malas untuk melakukan kegiatan anak “rumahan” misalnya jadwal tidur selalu tidak beraturan, mandi, membersihkan badan, gosok gigi, menyisir rambut, mencuci pakaian atau menyimpan pakaian. (Abdulsyani, 1987:32).

2. Informan Yuli

Yuli merupakan pengamen perempuan yang sering pengamen di warung lesehan ... yang berlokasi di sekitar Anjungan Pantai Losari.Yuli tinggal di Daerah maccini Gusung, orang tuanya bernama ibu Ati berasal dari selayar dan bapaknya bernama Rizal berasal dari bone, sehari-hari ibunya bekerja pedagang kue dan juga sebagai kader posyandu dan Ayahnya Bekerja disalah satu perusahaan di Kota Makassar. Tingkat pendidikanYuli hanya tamat SLTP, ia tidak melanjutkan sekolahnya ke SMA dengan alasan kurang perhatian dari orang tuanya, dia lebih memilih mengamen untuk menghasilakan uang dan berkumpul dengan teman-tamannya apalagi dia hobinya menyanyi dan menghibur, seperti yang dikatakan berikut ini:

“ ... Tidak sekolahka saya karena tidak di jampangi juga sama mama’ku, sibuk dudui menjual baru biasa juga pergi mendata jadi saya tonkji itu uruski diriku, dari pada begitu mending pergiki sama teman-temanku mengamen dapatka lagi uang tidak mintama uang sama mamakku ka kalau mintaki uang na pammoro moroi jaki jadi mendig cari sendirika uang, pergika mengamen apalagi saya ku sukaji menyanyi mengibur orang lain...”. (Wawancara Yuli 2 Agustus 2017)

Yuli mulai mengamen dengan teman-temannya mulai pukul 19.00 Wita sampai Pukul 23.00 Wita, di pagi hari ia membantu mamanya berjualan sampai sore hari terkadang iya bekerja sebagai tukang parkir di pasar dekat rumahnya mulai daril pukul 08.00Wita sampai pukul 16.00 Wita. Seperti yang dikatakan berikut.

“...Malampi saya baru mengamenka karena kalau pagi ku bantui mamaku jualan kue di pasar sampaina sore biasaka juga jadi tukang parkir, jam 4pi abru pulangka sudah itu istrahatka dulu jam 7 pi baru pergikan lagi mengamen sama teman-temanku...”( Wawancara dengan informanYuli2 Agustus 2017)

Yuli merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, usiaYuli 18 tahun ia sudah 2 tahun berprofesi sebagai pengamen. Yuli lebih memilih menjadi pengamen dengan alasan agar dia mandiri dan tidak bergantung lagi sama orang tuanya.

3. Informan Adi

Adi merupakan salah satu pengamen yang sering menjalankan profesinya di sekitar anjungan pantai Losari, ia berasal dari Kabupaten Jeneponto. Dulu ia pernah bekerja sebagai sopir mobil kampas di salah satu perusahaan di Kima, namun sekarang ia sudah berhenti karena di keluarkan. Di makassar ia tinggal kost di daerah Cendrawasih bersama dengan temannya yang berprofesi sebagai tukang bentor, ayah dan ibunya tinggal di Kabupaten Jeneponto.

Adi merupakan tamatan SLTP di Jeneponto, ia hijrah ke Makassar dengan alasan untuk mendapatkan penghasilan, ia merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara usianya 22 tahun. Adi menjalankan profesinya sebagai pengamen disore hari sekitar pukul 17.00 samapai pukul 23.00” dan terkadang juga sampai subuh, dipagi hari kadang ia berprofesi sebagai tukang bentor kadang juga sebagai sopir angkot. Dalam menjalankan profesinya sebagai pengamen terkadang dikucilkan oleh orang-oang sekitar termasuk pengunjung lesehan, tetapi kadang juga ada yang berbaik hati memberinya upah yang memuaskan

seperti yang ia katakan sebagai berikut.

“Sorepi saya baru mengamenka’ karena kalu pagi biasaka bawaka bentor, kalau tidak na pakeji bentornya temanku saya lagi yag kasi jalanki, biasaka juga jadi sopir angkot, biasa jam 5pi baru mengamenka sampai jam 11 biasa tapi juga sampai subuhka tergantungji kalau tidak adami pengunjung pulangma juga, kalau mengamenka biasa juga ada yang tidak merespon, ada merasa terganggu tapi

adaji juga yang baik langsungki na kasih uang, tapi mau di apa tidak bisa juga dipaksa orang...”. (Wawancara informan Adi 2 Agusutus 2017.)

Uang dari hasil mengamen yang didapatkan Adi, ia pakai untuk bertahan hidup di Kota Makassar, terkadang kalau penghasilannya lebih ia kirim ke kampung untuk baiaya sekolah adik-adiknya. Adi tetap menjalankan profesinya sebagai pengamen untuk bertahan hidup, walaupun kadang dikucilkan tetapi ia tetap sabar demi mendapatkan rupiah.

Secara umum anak-anak jalanan seperti pengamen jalanan yang biasa terdapat disekitar perkotaan memiliki kesamaan ciri-ciri, antara lain: (1) berada ditempat umum (jalanan, warung, pasar, pertokoan dan tempat-tempat hiburan) selama 3 (tiga) sampai dengan 24 jam sehari; (2) berpendidikan rendah (kebanyakan sudah putus sekolah, dan sedikit sekali yang berpendidikan tamat SD; (3) berasal dari keluarga tidak mampu (kebanyakan dari kaum urban, dan beberapa di antaranya tidak jelasw keluarganya); (4) melakukan aktivitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada sektor informal). (Andari, Soetji, 2007)

B. Relasi Sosial Pengamen Terhadap Keluarga /Orang Tua

Dalam kehidupan bermasyarakat, baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial selalu memerlukan manusia lain untuk berinteraksi dan saling memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak dapat dipenuhinya sendiri serta dilandasi aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut diciptakan dan disepakati bersama untuk mencapai ketenteraman dan kenyamanan hidup bersama dengan orang lain.

Aturan-aturan itu dipakai sebagai ukuran, patokan, anggapan serta keyakinan

tentang sesuatu yang baik, buruk, pantas, asing, dan seterusnya oleh karena itu penulis mencoba meneusuri bagaimana kondisi perasaan responden selama menjadi pengamen hubungan responden terhadap keluarga dan orang tua mereka masing-masing sangat baik kecenderungan mereka turun di jalan dan bekerja sebagai pengamen memiliki hubungan yang sangat baik terhadap keluarganya dan dapat di golongkan sebagai Children On The Street.

C. Cara dan Tindakan Informan Saat Mengamen

Perilaku anak jalanan adalah unik, walaupun banyak diantara mereka yang beresiko, tetapi ada juga hal positif dari mereka, yaitu : pandai membaca peluang, tahan bekerja keras, memiliki solidaritas yang tinggi dengan sesama teman, mudah membuat keterampilan, bersikap terbuka dan saling percaya. Bahkan pada umumnya anak jalanan mempunyai harapan untuk: menyelesaikan sekolah, memperoleh pekerjaan tetap dan uang cukup, bersatu kembali dengan keluarga, memulai hidup baru (Sudrajat, 1995, dalam Werdiastuti, 1998).

Peranan sanak keluarga, teman maupun kerabat yang ada di sekitarnya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengamen untuk bekerja.

Mulanya hanya mendapatkan informasi tentang cerita-cerita anak jalanan, kemudian diajak untuk mencoba dan melihat langsung keadaan yang sebenarnya, sehingga pada akhirnya mereka memutuskan sendiri. besarnya peranan sanak keluarga dan teman-teman dalam memberi informasi bagi para anak jalanan, juga dalam mengajak dan menemani responden untuk pertama kalinya bekerja sebagai pengamen.

Adapun cara responden mengamen sangat bervariasi beberapa anak jalanan di sekitar kawasan pantai losari menggantungkan hidupnya dengan cara berprofesi sebagai pengamen mulai dari mendengar cerita-cerita dari teman- teman, ikut-ikutan, sampai menjadi pengamen jalanan, dan selalu mengharapkan belas kasihan dari pengujung lesehan. Mereka ada yang menyanyi tanpa dengan alat musik, ada yang, menyanyi dengan alat musik, ikut sama teman-teman menyani dan ada yang seorang diri.

Pengamen atau sering disebut pula sebagai penyanyi jalanan (street singers), sementara musik-musik yang dimainkan umumnya disebut sebagai Musik Jalanan. Pengertian antara musik jalanan dengan penyanyi jalanan secara terminologi tidaklah sederhana, karena musik jalanan dan penyanyi jalanan masing-masing mempunyai disiplin dan pengertian yang spesifik bahkan dapat dikatakan suatu bentuk dari sebuah warna musik yang berkembang di dunia kesenian.

Anak jalanan tumbuh dengan berbagai latar belakang sosial, seperti anak broken home, anak yatim yang terbuang, anak-anak yang kelahirannya tidak dikehendaki, atau anak-anak yang harus membantu ekonomi orang tuanya maupun anak-anak yang lari dari berbagai problema keluarga maupun masyarakatnya. Selanjutnya dari kondisi dan situasi demikian mereka tumbuh dan mensosialisasikan dirinya ditengah-tengah budaya perkotaan yang keras dan penuh dengan kesibukan.

Dokumen terkait