BAB II KAJIAN TEORI
2. Madrasah Aliyah (MA)
3. Beban belajar di kelas XII pada semester ganjil paling sedikit 18 minggu dan paling banyak 20 minggu.
4. Beban belajar dalam satu tahun pelajaran paling sedikit 36 minggu dan paling banyak 40 minggu.
Setiap satuan pendidikan boleh menambah jam belajar perminggu berdasarkan pertimbangan kebutuhan belajar peserta didik dan atau kebutuhan akademik, sosial, budaya dan faktor lain yang dianggap penting.
melanjutkan ke perguruan tinggi umum, perguruan tinggi agama Islam atau langsung bekerja. MA sebagaimana SMA ada MA umum yang sering dinamakan MA dan MA Keagamaan disebut Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK).
Berikut Struktur Kurikulum Madrasah Aliyah, berdasarkan Permenag No. 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) mata pelajaran agama Islam dan bahasa Arab pada Madrasah.5
1. Kelas X
Komponen Kelas dan
Alokasi Waktu A. Mata Pelajaran Smt 1 Smt 2 1. Pendidikan Agama Islam
a. Al-Quran Hadits b. Akidah Akhlak c. Fikih
d. Sejarah Kebudayaan Islam
2 2 2 -
2 2 2 -
5Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabet, 2012), h. 67
2. Pendidikan
Kewarganegaraan 2 2
3. Bahasa Indonesia 4 4
4. Bahasa Arab 2 2
5. Bahasa Inggris 4 4
6. Matematika 4 4
7. Fisika 2 2
8. Biologi 2 2
9. Kimia 2 2
10. Sejarah 1 1
11. Geografi 1 1
12. Ekonomi 2 2
13. Sosiologi 2 2
14. Seni Budaya 2 2
15. Pendidikan Jasmani Olah raga dan Kesehatan
2 2
16. Kererampilan/Bahasa
Asing 2 2
B. Muatan Lokal 2 2
C. Pengembangan Diri 2 2
Jumlah 46 46
2. Kelas XI-XII (Program IPA)
Komponen
Kelas dan Alokasi Waktu
A. Mata Pelajaran
Kelas XI
Kelas XII 1. Pendidikan Agama Islam
a. Al-Quran Hadits b. Akidah Akhlak c. Fikih
d. Sejarah Kebudayaan Islam
2 2 2 -
2 2 2 -
2 - 2 2
2 - 2 2 2. Pendidikan
Kewarganegaraan
2 2 2 2
3. Bahasa Indonesia 4 4 4 4
4. Bahasa Arab 2 2 2 2
5. Bahasa Inggris 4 4 4 4
6. Matematika 4 4 4 4
7. Fisika 4 4 4 4
8. Biologi 4 4 4 4
9. Kimia 4 4 4 4
10. Sejarah 1 1 1 1
11. Seni Budaya 2 2 2 2
12. Pendidikan Jasmani Olah
raga dan Kesehatan 2 2 2 2 13. Kererampilan/Bahasa
Asing 2 2 2 2
B. Muatan Lokal 2 2 2 2 C. Pengembangan Diri 2 2 2 2
Jumlah 45 45 45 45
Keterangan:
1. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah yang ditentukan oleh satuan pendidikan (madrasah).
2. Pengembangan diri bukan mata pelajaran tetapi harus diasah oleh guru dengan tujuan memberikan kesempatan peserta didik untuk mengembangkan diri sesuai kebutuha, bakat, minat dan kondisi satuan pendidikan (madrasah).
Pada dasarnya kurikulum SMA dan kurikulum MA adalah sama, namun pada MA terdapat porsi lebih banyak mata pelajaran agama, seperti mata pelajaran Al-Quran Hadist, Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab.
B. PRESTASI BELAJAR 1. Definisi Prestasi Belajar
Proses belajar merupakan serangkaian aktifitas yang dilakukan setiap pelajar, begitu juga dengan mahasiswa. Kegiatan ini merupakan hal penting karena bisa menjadi cermin dari kemampuan setiap mahasiswa dalam melaksanakan suatu perkuliahan. Untuk itu sebelum mengemukakan definisi prestasi belajar secara langsung, berikut ini akan diuraikan terlebih dahulu masing-masing pengertian dari prestasi dan belajar.
Prestasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu prestasi dan belajar. Kata prestasi sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu pretatie yang kemudian dalam bahasa Indonesia berubah menjadi prestasi yang artinya hasil dari usaha.6
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer disebutkan bahwa prestasi yaitu “hasil yang diperoleh
6Zainal Arifin, Evaluasi Intruksional Prinsip, Teknik dan Prosedur, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 2-3
dari sesuatu yang dilakukan,7 atau dengan kata lain
“hasil yang telah dicapai (dilakukan atau dikerjakan)”.8 Menurut Zainal Arifin prestasi adalah kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.9
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil yang diperoleh seseorang dari usaha yang telah dilakukannya dengan segenap kemampuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya.
Sebagaimana Allah SWT telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an Surah An-Najm [53]:39-40, yang berbunyi:
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya)”. (QS. An-Najm [53]:39-40)
7Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 2002), h. 1190
8Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balaik Pustaka, 2005), cet. Ke-3, h. 895
9Zainal Arifin, Evaluasi Intruksional Prinsip, Teknik dan Prosedur, h. 3
Dari ayat tersebut dapat kita ambil hikmah bahwa sesuatu yang kita perjuangkan tidak akan ada yang sia- sia. Dan keberhasilan disesuaikan dengan usaha yang kita lakukan. Termasuk usaha yaitu belajar, bekerja serta berdo’a, karena hasil dari semua usaha akan Allah SWT tunjukkan kepada kita.
Selanjutnya pengertian belajar. Secara bahasa belajar berarti “berusaha memperoleh suatu kepandaian atau ilmu”.10 Berasal dari kata dasar ajar yang menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer diartikan sebagai “usaha memperoleh suatu ilmu pengetahuan atau keterampilan”.11
Belajar dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Hal tersebut sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
َﺣ ﱠﺪ َﺛ ِھﺎ َﻨ ُمﺎ َﺸ ْﺑ ُﻦ َﻤ َﻋ رﺎ لﺎﻗ َﺣ : ﱠﺪ َﺛ َﺣﺎ َﻨ ُﺺ ْﻔ ْﺑ ُﺳ ُﻦ َﻠ ْﯿ َﻤ نﺎ لﺎﻗ :
10Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balaik Pustaka, 2008), cet. Ke-4, h. 23
11Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 2002), h. 25
َﺣ ﱠﺪ َﺛ َﻨ ِﺜ َﻛﺎ ْﺑﺮﯿ ِﻦ ِﺷ ِﻈ ْﻨ ْﯿ ﺮ َﻋ , ُﻣ ْﻦ ﱠﻤ َﺤ ِﺪ ِﻦ ْﺑ ِﺳ ِﺮ ْﯿ َﻦﯾ َﻋ , ْﻦ َا َﻧ ْﺑ ﺲ ِﻦ
َﻣ ِﻟﺎ ِﻚ لﺎﻗ لﺎﻗ : َر ُﺳ ُل ْﻮ ِﷲ َﺻ ﱠﻠ ُﷲ ﻰ َﻋ َﻠ ْﯿ َو ِﮫ َﺳ ﱠﻠﻢ ُﺐَﻠَط : ِﻢْﻠِﻌْﻟا
ِﻠ ِﮫ ْھ ِﺮ َا ْﯿ َﻏ ْﻨ َﺪ ِﻋ ِﻢ ِﻌ ْﻠ ْﻟا ُﻊ ِﺿا َو َو , ِﻠﻢ ْﺴ ُﻣ ﱢﻞ ُﻛ ﻲ َﻠ َﻋ ٌﺔَﻀْﯾِﺮَﻓ ُﻤ َﻘ َﻛ ﱢﻠ ِﺪ ْﻟا َﺨ ِزﺎ َﻨ ْﻟاﺮﯾ َﺠ ْﻮ َﺮ َھ َوا ّﻟﻠ ُﻟﺆ َو َﺆ ﱠﺬﻟا َھ ﺐ
﴿ هور ﻦﺑا ﮫﺠﻣ
﴾
“Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada kami Katsir bin Syinzhir dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik, ia berkata:
Rasulullah SAW. Bersabda, menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya seperti orang yang menngalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi”. (HR. Ibnu Majah)12
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar semata- mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Ada pula yang beranggapan belajar sebagai latihan belaka seperti tampak pada latihan membaca dan menulis.
12Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah Ar-Raba’i Al- Qazwini, Sunan Ibnu Majah, Jilid 1, (Beirut: Jami’ Al-Huquq Mahfudzot Lidaaril Jil, 1998), Cet. Ke-1, Bab Fathlul ‘Ulama Wal Hatstsu’ Ala Tholibil ‘Ilmi, h. 214
Padahal jika direnungkan belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenjang pendidikan. Hal ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika berada di sekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarga.13
Berikut pengertian belajar menurut para ahli diantaranya menurut Slameto, belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.14
W.S. Winkel merumuskan belajar merupakan suatu aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan sikap.15
13Abdul Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Prespektif Islam, (Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2009), Cet. Ke- 4, h. 206
14Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2013), cet. Ke-6, h. 2
15W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Media Abadi, 2009), cet. Ke-10, h. 59
Menurut Sarlito Wirawan, belajar merupakan proses dimana suatu tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi dan situasi yang terjadi. Belajar juga merupakan proses mengubah dan memperbaiki tingkah laku melalui latihan, pengalaman dan kontak dengan lingkungan.16
Begitu juga pendapat Mohammad Uzer Usman, belajar yaitu perubahan tingkah laku pada diri seseorang karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.17
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan sarana perbaikan tingkah laku individu melalui latihan, bisa dengan membaca, menulis dan mendengar ataupun melalui pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu belajar merupakan kebutuhan pokok dengan harapan dapat mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik.
16Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta:
Bulan Bintang, 2000), h. 45
17Mohammad Uzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), h.2
Sebagaimana Allah SWT telah menjanjikan derajat yang lebih tinggi kepada setiap umat-Nya yang berilmu pengetahuan. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadalah [58]:11, yang berbunyi:
...
“... Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan”. (QS.
Al-Mujadalah [58]:11) 18
Setelah menguraikan satu persatu pengertian dari prestasi dan belajar, selanjutnya akan dijelaskan pengertian dari prestasi belajar itu sendiri.
Prestasi belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “hasil dari penguasaan, pengetahuan yang lazimnya ditunjukkan dengan tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”.19
18Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaamil Qur’an, 2009), h. 543
19Tim Penyusun Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 700
Menurut WS Winkel prestasi belajar adalah keberhasilan usaha yang dicapai seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu.20
Omar Hamalik berpendapat bahwa prestasi belajar adalah perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu.21
Sedangkan Menurut Muhibbin Syah, prestasi belajar adalah taraf keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes (evaluasi) mengenai pelajaran tertentu.22
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat didefinisikan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha belajar yang menunjukkan ukuran perubahan pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan penguasaan terhadap materi pelajaran yang diperoleh melalui evaluasi yang dinyatakan dalam bentuk skor dengan menggunakan simbol, baik berupa angka, huruf ataupun
20W.S. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta:
PT Gramedia, 1983), cer. Ke-1, h. 102
21Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, h. 30
22Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h. 91
ucapan guru kepada siswa sebagai indikasi sejauhmana siswa telah mencapai kompetensi sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan.
Prestasi belajar dalam Al-Qur’an pun dijelaskan meskipun tidak secara terang-terangan. Hal ini dapat dipahami dalam surat Al-Baqarah [2]:31-33, yang berbunyi:
31. Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada Para Malaikat, seraya berfirman: "Sebutkan kepada- Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!"
32. Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah
Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
33. Dia (Allah) berfirman: "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu." Maka setelah dia (Adam) menyebutkan kepada mereka nama- namanya, Allah berfirman: "Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”23 (QS.
Al-Baqarah [2]:31-33)
Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah [2]:31-33 ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, Allah SWT dalam ayat tersebut bertindak sebagai guru yaitu memberikan pengajaran kepada Nabi Adam AS. Kedua, Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Adam AS untuk mendemonstrasikan ajaran yang diterima di hadapan para Malaikat. Saat Nabi Adam AS mengajarkan kepada Malaikat nama-nama (benda) yang telah Allah SWT ajarkan kepadanya, hal itu merupakan salah satu bentuk prestasi belajar.
2. Faktor-Faktor yang M empengaruhi Prestasi Belajar Mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan merupakan impian dan cita-cita setiap
23Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaamil Qur’an, 2009), h. 6
pelajar bahkan orang tua. Untuk mencapainya diperlukan perhatian kepada beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya faktor yang terdapat dalam diri peserta didik (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik (faktor eksternal).
Faktor internal seperti intelegensi, bakat, motivasi dalam diri serta minat. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor keluarga, sekolah dan masyarakat.24
Hal senada juga dikemukakan oleh Ngalim Purwanto, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar meliputi faktor internal (aspek fisiologis dan aspek psikologis) dan faktor eksternal meliputi lingkungan alam, lingkungan sosial, instrumentasi yang berupa kurikulum, guru atau pengajar, sarana dan fasilitas serta administrasi.25
Berikut ini akan dijelaskan masing-masing dari beberapa aspek yang mempengaruhi yang terdapat pada faktor internal dan eksternal:
24Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, h. 54
25Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), cet. Ke-V, h. 270
a. Faktor Internal, meliputi:
1. Intelegensi
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.26 Baharuddin menjelaskan intelegensi adalah suatu kemampuan atau kesangguapan untuk melaksanakan pekerjaan dengan cepat, mudah dan tepat.27
Intelegensi seseorang sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Dalam sistuasi yang sama, peserta didik yang mempunyai intelegensi lebih tinggi akan lebih cepat berhasil dari peserta didik yang mempunyai intelegensi rendah atau lamban.
Sebagaimana Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an surat As-Sajdah [32]:9, yang berbunyi:
26Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Tangerang: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001), cet. Ke- III, h. 133
27Baharuddin, Psikologi Pendidikan: Refleksi Teoritis Terhadap Fenomena, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2010), cet. Ke-III, h. 127
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupka roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuhnya) dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS.
As-Sajdah [32]:9)28
Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa manusia terlahir dengan dibekali intelegensi, yaitu intelegensi spiritual, intelektual, emosional, sosial dan intelegensi fisik.29
Sehingga dapat disimpulkan intelegensi merupakan bagaimana cara individu bertingkah laku dalam menghadapi masalah, bukan merupakan persoalan kualitas otak saja melainkan juga kualitas organ tubuh lainnya.
28Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaamil Qur’an, 2009), h. 415
29Usman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi, (Jakarta:
Penerbit Hikmah, 2004), h. 10
2. Bakat
Bakat adalah kemampuan individu dalam melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya belajar atau pendidikan dan latihan.30
Al-Qur’an menjelaskan dalam surat Al-Isro’
[17]:84, yang berbunyi:
“Katakanlah (Muhammad), Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan- Nya.”(QS. Al-Isro’: 17]:84)31
Sangat jelas bahwa setiap individu terlahir dengan kemampuan masing-masing. Artinya Jika materi pelajaran yang dipelajari sesuai dengan bakat, maka hasil belajarnya pun akan jauh lebih baik. Peserta didik akan merasa senang dan selanjutnya mampu belajar lebih giat.
30Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 136
31Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaamil Qur’an, 2009), h.290
Sehingga bakat sangat berpengaruh dalam proses belajar dan tentunya berpengaruh juga terhadap keberhasilan seseorang.
3. Minat
Minat adalah memusatkan perhatian lebih banyak.32 Menurut Slameto, minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.33
Sehingga minat berarti kecenderungan atau kegairahan yang tinggi atau ketertarikan yang kuat terhadap sesuatu.
4. Motivasi dalam diri
Motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.34 Menurut Oemar, motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan
32Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 136
33Slameto, Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya, h. 56
34Abd. Rahman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tria Wacana Yogya, 1993), cet. Ke-IV, h. 66
timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.35
Pribadi yang mempunyai motivasi memiliki respon-respon lebih fokus ke arah tujuan, karena setiap respon yang dimiliki merupakan langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Allah SWT memberikan motivasi dalam Al- Qur’an surat Al-Anfal [8]:53, yang berbunyi:
“Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al- Anfal [8]:53)36
35Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, h. 158
36Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaamil Qur’an, 2009), h. 184
b. Faktor Eksternal, meliputi:
1. Faktor Keluarga
Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemicu semangat bagi seseorang. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan mendorong anak untuk lebih belajar secara aktif, karena komunikasi merupakan salah satu kekuatan yang mampu memberikan dorongan dari luar untuk menambah motivasi dalam belajar.
Komunikasi yang baik dijelaskan dalam Al- Qur’an surat Al-Baqarah [2]:263 yang berbunyi:
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari pada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]:263)37
Menurut Alex Sobur dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Orang Tua dan Anak,
37Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaamil Qur’an, 2009), h. 44
mejelaskan bahwa komunikasi yang baik yaitu komunikasi yang bersifat hubungan baik dalam kebersamaan, keterbukaan, sikap demokrasi, saling mendengarkan dan rasa tanggung jawab.38 2. Sekolah
Muhibbin Syah menjelaskan dalam bukunya bahwa keadaan sekolah tempat belajar, kualitas guru, metode mengajarnya, kurikulum serta keadaan ruangan, jumlah siswa, tata tertib dan sebagainya turut memberikan pengaruh terhadap tingkat keberhasilan belajar.39
3. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat diartikan sebagai kelompok- kelompok manusia yang saling terkait oleh sistem, adat istiadat dan hukum-hukum yang berlaku.
Apabila disekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri atas orang-orang berpendidikan, terutama sebagian besar anak-anak mengenyam pendidikan tinggi dan bermoral baik,
38Alex Sobur, Komunikasi Orang Tua dan Anak, (Bandung:
Angkasa, 1986), h. 7-9
39Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 138
maka keadaan tersebut akan mendorong anak lebih giat belajar.40
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa baik faktor intern maupun ekstern dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, untuk itu perlu diperhatikan agar mendapatkan prestasi belajar seperti yang diharapkan.
4. Pengukuran Prestasi Belajar
Pengukuran (measurement) menurut Winkel merupakan suatu deskripsi kuantitatif tentang keadaan suatu hal sebagaimana adanya, misalnya tentang perilaku yang nampak pada seseorang atau tentang prestasi yang diberikan oleh siswa.41
Menurut Wina pengukuran adalah proses pengumpulan data yang diperlukan dalam rangka memberikan judgment, yakni berupa keputusan terhadap sesuatu.42
40Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), cet. Ke-III, h. 101
41W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 534
42Wina Sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran Teori Dan Praktek Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta:
Kencana, 2008), cet. Ke-I, h. 337
Sehingga dapat disimpulkan pengukuran adalah suatu kegiatan pengumpulan data untuk menentukan kuantitas sesuatu dan tidak mempertimbangkan baik buruknya dalam artian mendeskripsikan sebagaimana adanya.
Dalam pengukuran biasanya digunakan bentuk ukuran tertentu dan angka-angka, misalnya ukuran baku untuk mengukur panjang dan tinggi adalah meter, ukuran baku yang digunakan untuk menentukan berat sesuatu adala gram. Ukuran yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan perilaku seorang siswa misalnya, dengan mengambil ukuran “setiap pertanyaan dalam tes obyektif yang dijawab betul diberi skor satu dan setiap pertanyaan yang dijawab salah diberi skor nol, kemudian dihitung jumlah pertanyaan yang dijawab betul dan yang dijawab salah untuk menentukan skor total.43
Untuk melakukan pengukuran diperlukan suatu alat yang biasa disebut dengan penilaian. Alat penilaian belajar pada umumnya menggunakan tes.
Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan,
43W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 534
pengetahuan, kecerdasan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok.44
Senada dengan Zurinal Z dan Wahdi Sayuti, Anas Sudijono juga menjelaskan tes adalah cara atau prosedur dalam rangka mengukur dan menilai dibidang pendidikan yang berbentuk pemberian tugas berupa pertanyaan-pertanyaan atau perintah oleh guru sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi siswa.45
Sehingga dapat disimpulkan tes adalah sebuah cara atau alat untuk mengetahui atau mengukur sejauh mana kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang biasanya berbentuk latihan atau pertanyaan-pertanyaan.
Tes yang digunakan dalam pembelajaran khususnya untuk mengukur ketercapaian kompetensi, digunakan tes sebagai berikut:
a. Tes awal, tes ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana materi atau bahan
44Zurinal Z dan Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan: Pengantar Dan Dasar-Dasar Pelaksanaan Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 141-142
45Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), cet. Ke- XII, h. 66
pelajaran yang akan diajarkan telah dikuasai oleh peserta didik.
b. Tes Akhir, tes ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran dapat dikuasai dengan baik oleh peserta didik.
c. Tes diagnostik, tes ini dilakukan setelah penyajian suatu pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian yang belum dikuasai. Menitik beratkan pada bahasan tertentu yang dipandang membuat siswa merasa kesulitan.46
Sehingga tes diagnostik ini penting dilaksanakan untuk mengetahui secara tepat kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu dan menetapkan cara mengatasinya.
d. Tes formatif, yaitu tes-tes yang dilakukan selama proses belajar mengajar masih berlangsung untuk memantau kemajuan belajar peserta didik sehingga pendidik dan peserta didik dapat mengetahui pada
46Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 180
bagian mana perlu dijelaskan kembali agar dapat menguasai pelajaran lebih baik.47
e. Tes sumatif, ialah penggunaan tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa unit pelajaran atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan mungkin pada saat suatu bidang studi telah selesai dipelajari.48
Tujuannya untuk mengukur daya serap peserta didik terhadap pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau satu tahun bahkan dua tahun pelajaran. Dan menetapkan tingkat keberhasilan belajar dalam suatu periode belajar tertentu seperti kenaikan kelas atau penyaluran ke program studi tertentu.49
Dalam praktiknya tes yang digunakan untuk mengukur tercapai atau tidaknya kompetensi yang telah ditetapkan, digunakan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) yang
47Pupuh Fathurrahman dan M. Sobari Sutikno, Strategi Belajar Melalui Penanaman Konsep Umum Dan Islami, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), h. 78
48W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, h. 533-534
49Syaiful Bahri Dhjamarah Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), h. 106-107